• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian Outcome dan Kinerja Lainnya

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 91-97)

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

3.1.6. Capaian Outcome dan Kinerja Lainnya

Selama tahun 2017, Balitbangtan telah berpartisipasi aktif dan berkontribusi terhadap pembangunan pertanian. Melalui UK/UPT lingkup Balitbangtan, peran penting dan prestasi Balitbangtan baik secara institusi maupun personilnya semakin diakui oleh banyak pihak, baik internal maupun di luar lingkup Kementan. Beberapa capaian prestasi yang cukup membanggakan yang telah diterima Balitbangtan antara lain :

Outcome Balitbangtan

a. Benih sumber hortikultura telah terdistribusi ke 29 provinsi, 33 BPTP, dan 24 Pertanian Dinas Pertanian di seluruh Indonesia diantaranya Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Papua, dan Papua Barat. Diadopsinya

teknologi buah tropika yaitu pisang varietas Raja Kinalun (VUB yang dilepas Balitbu Tropika tahun 2009) dan pisang varietas Ayam (varietas pisang lokal yang hampir punah), merupakan kerjasama antara Balitbu Tropika dengan CV. Kiniko Kabupaten Tanah Datar dalam bentuk pengembangan pisang. Kerjasama ini merupakan lanjutan dari tahun 2015.

b. Mangga Garifta yang terdiri dari empat varietas yaitu Garifta Merah, Garifta Kuning, Garifta Gading, dan Garifta Oranye yang dilepas pada tahun 2008 mulai dikembangkan di sentra produksi Jawa Timur dan Indonesia Bagian Timur. Keempat varietas ini memiliki keunggulan kulit buah berwarna merah dan merupakan daya tarik yang tidak dimiliki varietas sebelumnya. Citarasa manis dan sedikit asam merupakan perpaduan citarasa yang sangat diminati oleh konsumen dalam dan luar negeri. Hal yang menarik yaitu budidaya Mangga Garifta sangat menguntungkan petani, karena peningkatan pendapatan sebesar 100%.

c. VUB Pepaya Merah Delima telah dilepas oleh Balitbangtan pada tahun 2011 dengan provitas tinggi yaitu mencapai 70-90 ton/ha/musim. Keunggulan lain dari pepaya ini yaitu daya simpan cukup lama hingga 10 hari, memiliki warna daging buah merah, dan rasa manis sehingga banyak petani tertarik untuk membudidayakan. Penyebaran papaya ini hampir di seluruh Indonesia, terdistribusi kurang lebih 30 Provinsi sehingga adopsi masyarakat terhadap pepaya ini dinilai cukup tinggi. Pepaya Merah Delima menjadi salah satu komoditas yang perlu ditanam di pekarangan pada program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL).

d. Varietas Krisan Puspita Nusantara telah diadopsi secara luas oleh petani di berbagai sentra produksi krisan di Indonesia. Penyebaran varietas Krisan Puspita Nusantara dilakukan dengan melibatkan petani dan perusahaan dengan skala masal yang mengikuti metode system diseminasi multi channel. Pengembangan varietas ini memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Pada tahun 2012, UPBS Balitbangtan telah mendistribusikan sebanyak 97.285 stek. Produsen dan petani yang mengembangkan varietas-varietas tanaman hias Balitbangtan tidak perlu lagi membayar royalty seperti halnya jika mengembangkan varietas impor.

e. BB Pascapanen telah berhasil mengembangkan produk olahan berbasis shorgum pada tahun 2017. Produk yang dikembangkan adalah tepung sorgum, mi sorgum, roti sorgum tanpa terigu, snack bar sorgum, dan sorgum pratanak. Selain itu juga dikenalkan produk berbasis sorgum untuk meningkatkan nilai tambah produk seperti brownies sorgum, krupuk sorgum, dan minuman mocca sorgum.

f. Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan bibit sumber sapi potong dan perbaikan kualitas genetik sapi di lapangan, pada tahun 2017 Loka Penelitian Sapi Potong melakukan penyebaran 69 ekor sapi PO terseleksi diantaranya di

kabupaten Tuban (20 ekor), di kabupaten Cirebon (20 ekor), di Jambi (15 ekor), di kabupaten Trenggalek (11 ekor) dan di DIY (3 ekor).

g. Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan bibit sumber Kambing Boerka dan perbaikan kualitas genetik kambing potong di lapangan, pada tahun 2017 Loka Penelitian Kambing Potong melakukan penyebaran 35 ekor kambing Boerka diantaranya tersebar di Aceh (9 ekor), Bengkulu (5 ekor) dan Riau (21 ekor).

h. Dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan bibit Ayam KUB-1 dan Sensi selama tahun 2017 telah dilakukan penyebaran bibit sebanyak 20.272 ekor Ayam KUB-1 dan 3.568 ekor Ayam Sensi ke beberapa wilayah diantaranya peternak di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara dan Aceh.

Penghargaan Lembaga

a. Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 791/Kpts/KP.590/11/2017 mengenai Unit Kerja Berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi dari Kementerian Pertanian, Balitbangtan menempati posisi ke-3 dari 11 Eselon II lingkup Kementan. Adapun UK/UPT lingkup Balitbangtan yang mendapatkan sertifikat tersebut terdiri dari 7 Eselon II (Puslitbang/Balai Besar) dan 8 Eselon III (Balit/Balai). b. Kemenristekdikti menetapkan beberapa Unit Kerja Balitbangtan sebagai Pusat

Unggulan Iptek (PUI), antara lain: Balitjestro, Balithi, BB Padi, Balitkabi, dan Balitsereal.

c. BB Pasca Panen mendapatkan Piagam Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik lingkup Kementan Tahun 2017 (Peringkat 4) Kategori Eselon II.

d. BB Padi mendapat penghargaan sebagai peringkat pertama dalam Kinerja Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran tahun 2017 dari KPPN Purwakarta. Sedangkan Balitkabi dan Lolit Tungro memperoleh penghargaan peringkat ketiga dari KPPN Malang dan Pare Pare.

Gambar 40. Penghargaan-penghargaan yang diterima oleh Balitbangtan e. Juara I Lomba Mobil Hias dalam Karnaval Florikultura Indonesia mewakili

Balitbangtan pada tanggal 30 Juli 2017 di Bogor dan mendapat Piagam Penghargaan dari Rektor IPB.

Peneliti Berprestasi

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menganugerahkan Agro Inovasi Award 2017 kepada Miskiyah, S.Pt, MP selaku peneliti berprestasi dari BB Pascapanen. Penghargaan tersebut diberikan kepada masyarakat petani/pemuda/peneliti yang berkontribusi dengan berbagai inovasi untuk mengembangkan dan memajukan pertanian di Indonesia. Peneliti dari BB pascapanen tersebut memperoleh agroinovasi award 2017 karena telah banyak menghasilkan produk penelitian pascapanen pertanian yang sudah diaplikasikan di masyarakat dan memperoleh lisensi dan paten, seperti: pengawet alami vinegar dari kulit pisang, vinegar air kelapa, starter kering yoghurt probiotik, serta gelatin halal dari kulit ayam dan sapi. Selain itu, pada tahun 2017 sedang diajukan paten untuk hasil penelitiannya berupa kit deteksi aflatoksin.

Kerjasama dan Lisensi

a. Kerja sama penelitian telah terjalin dengan lembaga penelitian internasional (IRRI, CYMMIT, dll) dan dalam negeri (perguruan tinggi, BATAN, LIPI), serta swasta. IRRI dan CYMMIT turut memberikan kontribusi dalam rangka pemanfaatan sumber daya genetik untuk merakit varietas unggul baru. Demikian pula kerja sama perguruan tinggi dengan IPB dan Universitas Jenderal Soedirman yang berkontribusi dalam konsorsium padi, telah melepas varietas unggul baru Inpago IPB dan Unsoed Parimas.

b. Kerjasama luar negeri dengan mitra The Australian Center For Internasional Agriculture Research (ACIAR) melalui judul kegiatan Increasing Produktivity of Alium and Solanaceaous vegetable crop in Indonesia and Subtropical Australia

dan memperoleh dana sebesar Rp.221.291.000,-.

c. Beberapa produk Puslitbang Tanaman Pangan telah diminati swasta/BUMN dan telah dilisensikan untuk tahun 2017, antara lain jagung hibrida varietas Bima 10, 14, 15 dan 20 sebanyak 1.347,5 ton oleh PT. Sang Hyang Seri dan dipasarkan ke seluruh wilayah Indonesia, diperkirakan potensi royalty dari produksi jegung hibrida tersebut sekitar Rp. 1.364.343.750,-. Selain hal tersebut PT. SHS direncanakan akan melisensi VUB padi HiPa 19 dan akan mengajukan produksi sebanyak 20 ha untuk tahun 2018. Kerjasama lisensi dengan pihak swasta lainnya yaitu padi HiPa 12, 14 SBU dan 18 dengan PT. Petrokimia, padi HiPa 8 dengan PT. Dupont Indonesia, Materian 10 WP dengan PT. Biosindo Mitra Jaya, Pupuk hayati Agrisoy dengan PT. Agro Indo Mandiri, Jagung Bima 3 dengan PT. GIS, Jagung Bima 16 dengan PT. Pusri, jagung Bima 14 Batara dengan CV. Agro Indo Seed dan UD Sari Bumi Indonesia, jagung Bima 16 dengan PT. TWIN, jagung Bima 20 URI dengan PT. Mulya Agro Sarana, jagung JH 27, dan Bima 15 dengan PT. Pertani, Jagung Bima 9 dan Bima 22 Agritan dengan PT. Srijaya, dan jagung Bima 19 Uri dan Bima 20 Uri dengan PT. Tani Solusi.

d. Teknologi produksi nanobiosilika dari sekam padi dan aplikasinya pada tanaman padi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing telah dirintis oleh BB Pascapanen sejak tahun 2015, dan tahun 2017 dihasilkan produk nanobiosilika dari sekam padi. Produk ini mempunyai peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah sekam padi. Untuk mendukung pengembangan produk biosilika, BB Pascapanen saat ini telah mendaftarkan teknologi produksi biosilika dan merk produk biosilika dengan nama “BioSINTA” di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Nanobiosilika dari sekam padi telah diaplikasikan pada tanaman padi sawah di Provinsi Lampung, Bali dan Aceh.

3.1.7. Keberhasilan, Kendala dan Langkah Antisipasi Keberhasilan

Capaian Balitbangtan tahun 2017 menunjukkan bahwa secara umum indikator sasaran hampir seluruhnya dapat tercapai dengan berhasil (lebih dari 100%). Tercapainya kinerja sasaran Balitbangtan dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun ekternal. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain: a. Diterapkannya monitoring dan evaluasi kegiatan secara periodik, mulai tahap

perencanaan hingga tahap akhir sehingga fungsi pengawasan pada setiap tahapan kegiatan berjalan dengan baik.

b. Sarana dan prasarana penelitian serta sumberdaya anggaran cukup memadai untuk mendukung kegiatan penelitian, seperti laboratorium, perpustakaan, pengolah data, jaringan internet, dan lain-lain.

c. Tata kelola yang selaras dengan standar manajemen ISO 9001:2008, SNI ISO/IEC 17025:2008, dan manajemen penelitian Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP).

d. Ketersediaan sumberdaya manusia, baik tenaga fungsional peneliti, teknisi litkayasa dan tenaga administrasi yang memadai;

Faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan penelitian diantaranya adalah telah terjalinnya komunikasi dan koordinasi dengan instansi terkait, baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun dengan kementerian lain serta Pemerintah Daerah. Hal ini memudahkan dalam pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian.

Kendala

Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pencapaian target kinerja adalah sebagai berikut :

a. Keterbatasan SDM terampil (profesional) dalam pengoperasian peralatan Laboratorium. Adanya dampak dari PP 11/2015 dimana SDM peneliti berkurang masa kerjanya.

b. Sarana dan prasarana baik di laboratorium maupun di lapangan yang berupa bahan baku dan alat laboratorium yang kurang memadai sehingga disaat dibutuhkan/panen memerlukan waktu yang panjang karena menunggu bahan baku atau alatnya siap dipakai.

c. Keterbatasan SDM karena SDM banyak terlibat dengan kegiatan seperti TSP, TTP, UPSUS, dan kegiatan on-top yang bersifat insidentil.

d. Penumpukan kegiatan pengolahan data penelitian pada waktu bersamaan, baik penelitian yang sumber dananya dari APBN/DIPA dan penelitian kerjasama lainnya, sementara SDM entri data dan pengolahan data relatif terbatas. e. Adanya revisi anggaran yang berulang-ulang menyebabkan kegiatan penelitian

menjadi terhambat dan perlu penyesuaian terhadap perubahan anggaran tersebut.

f. Pada tingkat organisasi, permasalahan yang masih ditemui dalam pelaksanaan kegiatan perumusan rekomendasi kebijakan adalah masih adanya kesenjangan kapasitas peneliti junior dengan senior karena jenjang pendidikan formal maupun pengalaman dalam kegiatan penelitian. Kesenjangan terutama mencakup kapasitas dalam membuat proposal penelitian yang baik, penguasaan metodologi penelitian, teknik pengumpulan dan pengolahan data, serta analisis hasil pengolahan data terutama dalam merumuskan rekomendasi kebijakan pertanian. Pada tingkat penelusuran data di lapang, permasalahan yang kerapkali ditemui dalam pelaksanaan di lapang antara lain adalah sebagian responden (misalnya produsen benih, pengusaha di bidang pertanian) tidak bersedia untuk mengisi kuesioner yang disiapkan, data sekunder tingkat kecamatan yang dibutuhkan sulit diperoleh, dokumen dan informasi serta data pendukung yang dibutuhkan di lapang tidak lengkap atau bahkan tidak tersedia di lapang. Di sisi lain, beberapa tim juga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk memperoleh database yang valid dan akurat. Tingkat validasi data kuesioner yang bervariasi, baik kurang akurat dalam pengisian kuesionernya atau kesalahan entri data (human error).

g. Sebagian kegiatan pengkajian dan diseminasi teknologi pertanian, tergantung dari kebijakan sub sektor lain terutama dalam hal penentuan lokasi dan calon petani koperator, sehingga diperlukan penyesuaian waktu pelaksanaan kegiatan di lapangan. Hal ini tercermin dalam kegiatan-kegiatan pendampingan seperti PTT, PKAH, kawasan peternakan dan lainnya. h. Beberapa kegiatan pengadaan bangunan gedung kantor dan sarana

prasarana lainnya terkendala oleh keterbatasan waktu pelaksanaan akibat adanya kendala dalam proses pengadaan dan adanya kurangnya komitmen sebagian dari pihak ketiga pelaksana kegiatan pembangunan gedung dan sarana prasarana lainnya sehingga tidak dapat maksimal menuntaskan pelaksanaan kegiatannya.

Langkah Antisipasi

Beberapa permasalahan tersebut dapat dicarikan solusinya anatra lain dengan : a. Merencanakan dan mempersiapkan pelaksanaan kegiatan secara cermat. b. Mempertimbangkan musim panen dan memprioritaskan pendanaan pada

kegiatan penelitian yang memiliki musim panen kritis (panen awal dan akhir tahun anggaran).

c. Meningkatkan kompetensi SDM peneliti dan teknisi dalam rangka pencapaian sasaran mutu yang diharapkan.

d. Menyusun analisis dan penanganan risiko secara cermat untuk mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin terjadi selama pelaksanaan kegiatan.

e. Melakukan padu padan pola kerjasama Balit Komoditas dengan BPTP agar terjadi transfer pengetahuan dari tenaga peneliti Balit ke peneliti yang ada di BPTP dan secara bertahap mengatasi permasalahan SDM yang belum memadai.

f. Perlunya inventarisasi teknologi atau komponen teknologi yang telah dihasilkan Balit Komoditas secara berkala untuk mendapatkan inovasi baru dan merakit teknologi yang mengikuti berkembangnya usahatani yang berwawasan agribisnis, bernilai tambah, serta berwawasan lingkungan.

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 91-97)

Dokumen terkait