• Tidak ada hasil yang ditemukan

CAPAIAN PEMBANGUNAN GENDER KABUPATEN SERANG

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar (Halaman 57-74)

Pencapaian pembangunan umumnya tergambar denganadanya perubahan menuju kondisi yang lebih baikdibandingkan kondisi sebelumnya. Perubahan padakonteks ini mencakup peningkatan/penurunan kualitashidup manusia secara fisik maupun non fisik sebagaidampak berbagai program pembangunan, sepertikesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian pembangunan di suatu wilayah diperlukan ukuran yang mampu memberikan gambaran menyeluruh dari capaian pembangunan. Dalam mengukur pencapaian pembangunan dapat digunakan tiga indeks yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender Related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM).

Dibeberapa daerah di Indonesia masih memiliki budaya patriarki, perbedaan tersebut cukup jelas terjadi dimasyarakat. Pada prakteknya, perbedaan tersebut sering menimbulkan ketidakadilan, terutama terhadap kaum perempuan baik di lingkungan rumah tangga, pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, maupun bernegara.

Diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan melalui praktik-praktik nilai-nilai budaya, sosial dan nilai-nilai kehidupan lainnya tidak dapat dihindari. Perbedaan peran gender seperti itu, akhirnya menimbulkan terjadinya ketidakadilan gender dalam pembangunan, kenyataan dapat dilihat dari kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang belum memberikan porsi yang semestinya kepada perempuan dalam akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam pembangunan disegala bidang.

Sesuai Konstitusi, UUD1945 Pasal 28 (2) menyatakan bahwa “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Hal ini menunjukkan bahwa secara hukum dan filosofis, Indonesia telah menjamin dan melindungi tiap warga negaranya dari

sikap atau tindakan diskriminatif dalam semua hal, termasuk jenis kelamin. Oleh sebab itu, untuk menghilangkan ketidakadilan terkait gender, diperlukan adanya kesetaraan dan keadilan gender dalam proses bermasyarakat dan bernegara.

Untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender harus dihilangkan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Dengan demikian, perempuan akan memiliki peluang dan kesempatan dalam menggunakan sumberdaya dan mempunyai akses untuk mengambil keputusan untuk mengunakan sumber daya tersebut.

Secara umum, pembangunan manusia secara kuantitatif dapat digambarkan dari angka IPM. U nt u k menjelaskan perbedaan capaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan digambarkan dari angka IPG. IPG pertama kali diperkenalkan oleh United Nations Development Programs (UNDP) dalam Laporan pembangunan Manusia tahun 1995. IPG merupakan ukuran pembangunan manusia yang merupakan komposit dari empat indikator, yang lebih menekankan status perempuan, khususnya dalam mengukur

kemampuan dasar. Dari angka IPG diharapkan mampu memberikan perkembangan capaian pembangunan yang sudah mengakomodasi kesetaraan dan keadilan gender.

Tabel 4.1. Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode Lamadan Metode Baru

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pada tahun 2014 UNDP mengganti beberapa indikator IPM untuk menyempurnakan metodologi yang digunakan sebagai berikut : Angka Melek Huruf (AMH) pada metode lama diganti dengan angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita diganti dengan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita. Metode penghitungan : metode agregasi diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.

Gambar 4.1.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode BaruDi Kabupaten Serang Tahun 2010 – 2014

Sumber: Badan Pusat Statistik

Fluktuasi capaian pembangunan di Kabupaten Serang tahun 2010–2014 yang diinterprestasikan dengan angka IPM (Metode baru) cenderung mengalami kenaikan. Pada tahun 2010 angka IPM sebesar 60,97 naik pada tahun 2011 menjadi 61,97 dan terus bergerak naik pada tahun-tahun berikutnya hingga tahun 2013 sebesar 63,57 dan tahun 2014 sebesar 63,97. Kenaikan pada tahun 2013 ke tahun 2014 cendrung lebih sedikit bila dibandingkan kenaikan pada tahun-tahun sebelumnya.

Tabel 4.2.

Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kabupaten Serang Tahun 2014

Komponen IPM

Nilai

(1) (2)

Angka Harapan Hidup (tahun) 63,09

Harapan Lama Sekolah (tahun) 12,35 Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 6,69 Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (Rp) 9.885.910

I P M 63,97

Sumber: Badan Pusat Statistik

Tabel 4.3.

Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Provinsi Banten Tahun 2014

Komponen IPG

2014

(1) (2)

Angka Harapan Hidup (tahun) 69,13

Harapan Lama Sekolah (tahun) 12,31 Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 8,19 Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (Rp) 11.150.000

Pengukuran pembangunan di bidang kesehatan dapat menggunakan indikator harapan hidup, dimana angka harapan hidup mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. Angka Harapan Hidup saat Lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. Angka Harapan Hidup tahun 2014 sebesar 63,09 tahun mempunyai arti bahwa rata-rata bayi lahir di Kabupaten Serang pada tahun 2014 diharapkan dapat hidup sampai usia sekitar 63,09 tahun. Bila dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Provinsi Banten pada tahun 2014 sebesar 69,13 tahun maka Angka Harapan Hidup penduduk Kabupaten Serang masih relatif rendah sehingga perlu upaya dari Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan.

Indikator pembangunan dalam bidang pendidikan digambarkan dengan Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah. Dua indikator ini digunakan dalam penghitungan IPM sebagai indikator derajat pendidikan masyarakat. Harapan Lama Sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Harapan Lama Sekolah dapat digunakan

untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang.

Harapan lama sekolah di Kabupaten Serang tahun 2014 sebesar 12,35 tahun mempunyai arti bahwa rata-rata lama sekolah yang diharapkan oleh seorang anak dimasa mendatang selama 12,35 tahun.Dibandingkan dengan Harapan Lama Sekolah Provinsi Banten sebesar 12,31 tahun, dapat dikatakan setara.

Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Cakupan penduduk yang dihitung adalah penduduk berusia 25 tahun keatas. Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Serang sebesar 6,69 tahun masih terpaut jauh dibandingkan angka Provinsi Banten sebesar 8,19 tahun. Indeks rata-rata lama sekolah Kabupaten Serang sebesar 44,60 persen menggambarkan kualitas pendidikan yang masih rendah.

Pengukuran komponen daya beli didekati dengan besarnya konsumsi per kapita yang telah disesuaikan. Pemakaian variabel konsumsi riil dimaksudkan untuk mengeliminir perbedaan dan perubahan harga (inflasi) yang terjadi sehingga angka yang dihasilkan dapat dibandingkan antar daerah dan antar waktu.

Konsumsi riil per kapita penduduk Kabupaten Serang Tahun 2014 sebesar 9885910 rupiah. Dibandingkan dengan Provinsi Banten sebesar 11150 000 rupiah maka pengeluaran perkapita penduduk Kabupaten Serang masih cenderung rendah. Rendahnya daya beli masyarakat terkait dengan masih banyaknya masyarakat yang tinggal di perdesaan yang dominan bekerja di sektor pertanian yang biasanya nilai tambah sektor ini rendah sehingga mempengaruhi tingkat pendapatan.

IPG mengukur pencapaian dimensi dan variabel yang sama seperti IPM, tetapi mengungkapkan ketidakadilan dalam pencapaian antara laki-laki dan perempuan. IPG adalah rasio dari IPM Perempuan dengan IPM Laki-laki. Semakin besar perbedaan gender dalam pembangunan manusia, semakin rendah IPG dibandingkan dengan nilai IPM-nya.

Gambar 4.2.

Komponen Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kabupaten Serang Tahun 2014

Sumber: Badan Pusat Statistik

Dari Komponen IPG Kabupaten Serang tahun 2014 terlihat Angka harapan hidup perempuan64,86 tahunlebih tinggi dibandingkan laki-laki61,21 tahun. Tetapi dari segi pendidikan dan kontribusi terhadap ekonomi, perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini tergambar dari rata-rata lama sekolah 5,99 tahun dan kontribusi pengeluaran perkapita sebesar 39,80

Gambar 4.3.

Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Serang dan Provinsi Banten Tahun 2010-2014

Sumber: Badan Pusat Statistik

Nilai IPG Kabupaten Serang tahun 2014 sebesar 91,78 dengan nilai IPM Perempuan sebesar 62,44 dan IPM Laki-laki sebesar 68,03. Nilai IPG sebesar 91,79 mencerminkan bahwa jarak (gap) secara nyata dalam pencapaian kemampuan dasar laki-laki dan perempuan sudah semakin kecil, hal ini mengidentifikasi bahwa peningkatan kapabilitas dasar perempuan sudah memberikan hasil positif.

Nilai IPG Kabupaten Serang pada tahun 2010-2013 lebih kecil dibandingkan IPG Provinsi

Banten tetapi terjadi perubahan pada tahun 2014 dimana IPG Kabupaten Serang sebesar 91,78 lebih besar dari IPG Provinsi Banten sebesar 90,99. Ha l ini secara umum berarti kesetaraan dan keadilan gender di Kabupaten Serang sudah lebih baik.

Grafik 4.1.

Perkembangan IPM dan IPG Kabupaten Serang, Tahun 2010 – 2014

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pada grafik 4.1. nilai IPM dan IPG untuk tahun 2010-2014 berdasarkan metodelogi yang sama yaitu penghitungan dengan metode baru. Nilai IPM yang cenderung mengalami kenaikan mencerminkan adanya peningkatan dalam

55.00 60.00 65.00 70.00 75.00 80.00 85.00 90.00 95.00 2010 2011 2012 2013 2014

93.90 93.13 91.78 91.29 91.11 86.75 85.84 77.86 90.99 75.87 79.17 63.97 70.26 69.57 71.57 62.06 61.64 69.89 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 IPG IPM

pembangunan meliputi aspek kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Nilai IPG mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mengidentifikasi bahwa ketimpangan gender semakin mengecil atau dengan kata lain kesetaraan dankeadilangender dalam capaian pembangunansudah semakin baik.

Grafik 4.2.

IPM dan IPG Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun 2014

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pada grafik 4.2. dapat terlihat perbandingan nilai IPM dan IPG Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. Kabupaten Serang menempati urutan ketiga setelah Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Nilai IPG Kabupaten Serang

sebesar 91,78 lebih tinggi dibandingkan Provinsi Banten sebesar 90,99. Hal ini merupakan prestasi yang harus dipertahankan. Sedangkan nilai IPM menempati urutan ke-enam, lebih baik dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Nilai IPM Kabupaten Serang sebesar 63,97 lebih kecil dibandingkan Provinsi banten sebesar 69,89. Hal ini mengisyaratkan bahwa perlu ditingkatkan pembangunan manusia dalam program yang mencakup pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan kemudahan akses ekonomi dan sosial.

V

KESIMPULAN

a. Dari sisi pendidikan, perempuan Kabupaten Serang telah mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka kesenjangan antara laki-laki dan perempuan sudah mulai berkurang, yang tercermin dari persentase ijazah terakhir, rasio APMnya, dan rata-rata lama sekolah serta angka Harapan Lama Sekolah.

b. Partisipasi perempuan dalam pemerintahan meningkat, yang tercermin dari angka persentase jumlah PNS perempuan yang meningkat. Begitu pula pada lembaga legislatif, keterwakilan perempuan meningkat pada periode 2014-1019 dibanding periode 2009-2014.

c. Pembangunan manusia Kab. Serang terus meningkat, diikuti dengan peningkatan kesetaraan gender dan peningkatan pemberdayaan perempuan

d. Ketimpangan pembangunan gender lebih disebabkan oleh ketimpangan sumbangan pendapatan (dimensi standar hidup layak).

e. Disparitas capaian pembangunan gender masih merupakan masalah di sebagian Kab./Kota

f. Nilai IPG Kabupaten Serang pada tahun 2010 -2013 lebih kecil dibandingkan IPG Provinsi Banten tetapi terjadi perubahan pada tahun

2014 dimana IPG Kabupaten Serang sebesar 91,78 lebih besar dari IPG Provinsi Banten sebesar 90,99.

g. Capaian pembangunan perempuan di Kabupaten Serang sudah di atas Banten, namun perannya dalam pembangunan masih rendah. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mendorong perempuan agar lebih berperan aktif.

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar (Halaman 57-74)

Dokumen terkait