KATA PENGANTAR
Keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pencapaian pembangunan ekonomi semata, tetapi dilihat juga dari peningkatan kualitas hidup manusianya. Pencapaian pembangunan kapabilitas manusia secara umum dilihat pada bidang kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Keberhasilan pembangunan manusia yang berkaitan dengan masalah Gender antara lain dapat dilihat dari aspek pemerataan yang dapat dilihat dari adanya kesetaraan gender dalam setiap proses pembangunan.
Publikasi ini berisikan tentang informasi mengenai kondisi sosial demografi perempuan dan laki-laki dan indikator pembangunan yang sudah dicapai melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) tahun 2014.
Data-data yang disajikan dalam publikasi ini diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Serang dan data-data dari dinas/instansi yang ada di Pemerintah Kabupaten Serang.
Kami sangat berterima kasih pada semua pihak yang telah membantu penerbitan publikasi ini dan
berharap semoga bermanfaat bagi perencanaan pembangunan dalam mengemban misi terwujudnya kesetaraan gender di Kabupaten Serang.
Serang, Desember 2015 KEPALA BAPPEDA KABUPATEN SERANG
Drs. Ismanto Ismail, M.Si. NIP. 19560319 198001 1 002
DAFTAR ISI
ISI Hal.
Kata Pengantar ……….. i
Daftar Isi ………. iii
Daftar Tabel ……… v
Daftar Grafik ………. vii
Daftar Gambar ……… viii
BAB I PENDAHULUAN ……….. 1
Latar Belakang ………. 1
Maksud Dan Tujuan ………. 4
Sistematika Penulisan ………. 4
Sumber Data ……… 5
Istilah-istilah Gender ………... 6
BAB II KONSEP DAN METODOLOGI ……… 9
Bagaimana Metode Baru? …………... 10
Penyusunan Indeks Komposit ... 12
Perubahan Interpretasi ………. 14
BAB III GAMBARAN UMUM ………... 17
Keadaan Geografis ……… 17
Ekonomi ……….. 23
Penduduk Miskin ……… 24
Pendidikan ………... 24
Kesehatan ……….. 36
Politik dan Keamanan ……….. 41
PNS ……….. 42
Sosial Lainnya ……… 45
BAB IV CAPAIAN PEMBANGUNAN GENDER KABUPATEN SERANG ……….. 49
BAB V KESIMPULAN ………... 63
DAFTAR TABEL
Judul Tabel Hal
Tabel 2.1 Batas Minimum dan Maksimum Indikator IPG ……… 12 Tabel 3.1 Keadaan Geografi Kabupaten Serang Tahun 2014 ……….. 19 Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Serang Tahun 2014 ……….. 21 Tabel 3.3 Rasio Ketergantungan Kabupaten Serang Tahun 2014 … 23 Tabel 3.4 Persentase Penduduk 15 tahun keatas yang tidak dapat
membaca dan menulis di Kabupaten Serang Tahun
2014 ……… 25
Tabel 3.5 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Serang Tahun 2014 ………. 27 Tabel 3.6 Angka Partisipasi Sekolah Murni (APM) Berdasarkan
Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014 …. 28 Tabel 3.7 Angka Partisipasi Sekolah Kasar (APK) Berdasarkan
Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014 …. 29 Tabel 3.8 Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Berdasarkan
Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Dimiliki di
Kabaupaten Serang Tahun 2014 ……….. 30
Tabel 3.9 Jumlah Siswa Berdasarkan Jenjang Pendidikan di
Kabupaten Serang Tahun 2014 ………. 32
Tabel 3.10 Jumlah Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan di
Tabel 3.11 Jumlah Kepala Sekolah Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabaupaten Serang Tahun 2014 ……….. 35 Tabel 3.12 Persentase Anak 2-4 tahun yang pernah disusui dan
Lamanya Disusui di Kabupaten Serang Tahun 2014 ……… 37 Tabel 3.13 Persentase Anak Berumur 1-4 tahun Yang Pernah
Diberi Imunisasi di Kabupaten Serang Tahun 2014 ………… 37 Tabel 3.14 Jumlah Kasus Ibu Hamil di Kab Serang Tahun2014 ……….. 38 Tabel 3.15 Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Profesi diRSUD
dan Puskesmas Kabupaten Serang Tahun 2014 ………. 40 Tabel 3.16 Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Serang Menurut
Fraksi Periode 2014-2019 ……….. 42
Tabel 3.17 Jumlah dan Persentase Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Serang Menurut Jabatan Eselon
Tahun 2014 ………. 43
Tabel 3.18 Jumlah Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Serang Menurut Jabatan Eselon Tahun 2014 ……….. 45 Tabel 3.19 Jumlah Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga di
Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015 ………. 46 Tabel 3.20 Jumlah Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga di
Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015 ………. 47 Tabel 3.21 Jumlah Dokumen Kependudukan Yang Diterbitkan di
Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015 ……… 48
Tabel 4.1 Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Metode Lama dan Metode Baru ………. 52
Tabel 4.2 Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Di Kabupaten Serang Tahun 2014 ………. 54
Tabel 4.3 Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
DAFTAR GRAFIK
JudulGrafik Hal
Grafik 3.1 Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas diKabupaten
Serang Tahun 2014 ……….. 31
Grafik 3.2 Jumlah Guru berdasarkan jenjang pendidikandan jenis
DAFTAR GAMBAR
JudulGambar Hal
Gambar 3.1 Peta Kabupaten Serang ……… 18
Gambar 3.2 Piramida Penduduk Kabupaten Serang Tahun2014 . 22 Gambar 4.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode
Baru Di Kabupaten Serang Tahun 2010 – 2014 ………… 53
Gambar 4.2 Komponen Indeks Pembangunan Gender (IPG)
Di Kabupaten Serang Tahun 2014 ……… 58
Gambar 4.3 Indeks Pembangunan Gender (IPG)
Kabupaten Serang dan Provinsi Banten Tahun
I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam publikasinya Human Development Report
tahun 1995, UNDP mengangkat tema gender. Dalam publikasi ini pertama kali diperkenalkan suatu indeks untuk mengukur pembangunan gender suatu wilayah
yaitu Gender Development Index/GDI (Indeks
Pembangunan Gender/IPG). Dalam publikasi tersebut terdapat kalimat yang artinya sebagai berikut:”...apabila mengabaikan aspek gender maka akan menghambat suatu wilayah dalam pembangunan.”
Perpres No. 2/2015tentang RPJMN 2015-2019 berisi sasaran pokok kesetaraan gender yaitu meningkatnya kesetaraan gender dan mengingkatnya tumbuh kembang, kesejahteraan dan perlindungan anak.
Sedangkan dalam Instruksi Presiden No 9/2000 tentang Pengarusustamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional menerangkan bahwa PUG
bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam pembangunan yaitu pembangunan yang lebih adil dan merata bagi seluruh penduduk Indonesia baik laki-laki maupun perempuan.
Dalam Quick Wins Presiden tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, salah satunya memuat program melakukan review, koreksi dan harmonisasi terhadap Undang-undang sampai Peraturan Daerah (Perda) agar berspektif gender (keadilan dan kesetaran gender).
Visi Kabupaten Serang adalah Terwujudnya Masyarakat yang Berkualitas menuju Kabupaten Serang yang Agamis, Adil dan Sejahtera, serta salah satu misinya adalah Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berakhlaqulkarimah dan berbudaya. Meskipun demikian, untuk dapat menciptakan kondisi tersebut ada beberapa permasalahan yang dihadapi, antara lain masih adanya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki serta masih rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka telah ditetapkan sasaran pembangunan yang salah satu diantaranya adalah menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki, yang
diukur oleh angka Gender-related Development Index
(GDI) dan Gender Empowerment Mesurement (GEM). Untuk mengevaluasi sejauh mana peraturan-peraturan perundangan sudah responsif gender dan mendukung pengarustamaan gender dapat dilihat dari data-data terpilah. Indikator-indikator yang menunjukkan capaian-capaian pembangunan berbasis gender akan
memberikan gambaran yang nyata tentang
pengarustamaan gender di Indonesia. Diharapkan publikasi ini dapat digunakan sebagai pembuka wawasan tentang pembangunan manusia yang berbasis gender.
Ketersediaan data statistik yang dirinci menurut jenis kelamin sangat penting dalam perencanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan yang responsif gender. Dengan menggunakan statistik gender, pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan diharapkan dapat tepat sasaran dan tepat guna sehingga memberikan dampak yang setara bagi perempuan dan laki-laki.
Dalam era otonomi daerah sekarang ini, sebagian besar proses pembangunan berada di tangan pemerintah daerah. Oleh sebab itu, pemahaman tentang kondisi daerah setempat sangatlah diperlukan, khususnya dalam upaya pembangunan pemberdayaan perempuan, melalui
penyediaan data terpilah menurut jenis kelamin di berbagai bidang untuk tingkat kecamatan di Kabupaten Serang. Statistik gender dapat pula menggambarkan isu gender yang selama ini masih terabaikan atau belum digarap secara optimal.
Tujuan
Publikasi ini disusun untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan manusia serta pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki di berbagai bidang yang direpresentasikan dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) metode baru.Disamping itu, disajikan pula analisis mengenai angka IPG pada level Kabupaten.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penyusunan publikasi ini adalah:
a. Bab I Pendahuluan berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, sistematika penulisan, dan Istilah dan Konsep Gender
b. Bab IIMetodologiberisi penjelasan mengenai metodogi penghitunganIPGmetode baru.
c. Bab III Gambaran Umum Gender berisi tentang analisis data terpilah laki-laki dan perempuan di berbagai bidang.
d. Bab IV Capaian Pembangunan Gender Kabupaten
Serang berisi penjelasan mengenai capaian
pembangunan gender di Kabupaten Serang dan
perbandingan capaian pembangunan Gender
Kab/Kota di Provinsi Banten.
e. Kesimpulan dan Saran berisi penjelasan mengenai kesimpulan dan saran dari penulisan publikasi ini.
Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penghitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah Sensus Penduduk 2010(SP2010), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) sebagai dataprimer dan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) sebagaidata sekunder.
Data Sensus Penduduk 2010 digunakan untuk menghitung angka harapan hidup.Sedangkan data SUSENASsendiri digunakan untuk menghitung angka harapan lamasekolah, angka rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran perkapita yang disesuaikan.
Sementara data SAKERNAS digunakanuntuk mendapatkan angka upah serta jumlah angkatan kerjasebagai penunjang penghitungan pendapatan per kapita yang disesuaikan.
Istilah-istilah Gender
Gender diartikan sebagai perbedaan fungsi dan peran
sosial antara laki-laki dan perempuan yang
dikonstruksikan oleh masyarakat
Kesetaraan Gender (gender equity)adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia dalam berperan dan berpartisipasi di segala bidang.
Keadilan Gender (gender equality)merupakan proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki sehingga dalam menjalankan kehidupan bernegara dan bermasyarakat, tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki
Kesetaraan dan Keadlian Gender(KKG)ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan
laki-laki dalam memperoleh akses, kesempatan
berpartisippasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
Disparitas/ Kesenjangan/ Ketimpangan GenderadalahSuatu kondisi yang menunjukkan ketidakseimbangan dalam hubungan antara laki- laki dan
perempuan.Ketidakseimbangan ini terjadi dalam
pekerjaan, pendapatan, kesempatan, dan penghargaan.
Pengarusutamaan Gender (PUG)merupakan Usaha agar kebijakan apapun yang dikeluarkan pejabat pemerintah dan swasta (baik dalam bentuk kebijakan, undang-undang, peraturan, maupun kebijakan yang bersifat teknis) harus selalu mempertimbangkan kesetaraan dan keadilan Gender.Kebijakan ini harus diterapkan mulai dari tahap perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan sampai pada tahap evaluasi.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup melalui pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak.
Indeks Pembangunan Gender (IPG)adalah ukuran pembangunan manusia yang merupakan komposit dari empat indikator (sama dengan IPM), yang lebih menekankan status gender, khususnya dalam mengukur kemampuan dasar.
Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)adalah Indeks Komposit yang merupakan gabungan dari Indeks keanggotaan DPR (parlemen), Indeks pengambilan keputusan dan Indeks distribusi pendapatan.
II
KONSEP DAN METODOLOGI
Indeks Pembangunan Gender (IPG) diperkenalkan pertama kali oleh UNDP pada tahun 1995, lima tahun setelah UNDP memperkenalkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). UNDP menggunakan metode yang sama hingga tahun 2009. Pada metode lama tersebut, IPG tidak mengukur langsung ketimpangan antar gender yang terjadi, namun hanya disparitas dari masing-masing komponen IPM untuk setiap gender.Selain itu, angka IPG metode ini tidak bisa diinterpretasikan terpisah dari IPM.
Penghitungan IPG berhenti dilakukan oleh UNDP mulai tahun 2010 hingga 2013.Pada tahun 2014, UNDP
kembali melakukan penghitungan IPG dengan
menggunakan metode baru.Perubahan metode ini merupakan penyesuaian dengan perubahan yang terjadi pada penghitungan IPM.Selain sebagai penyempurnaan dari metode sebelumnya, IPG metode baru ini merupakan pengukuran langsung terhadap ketimpangan antar gender dalam pencapaian IPM.Pada metode baru ini digunakan rasio IPM perempuan dengan IPM laki-laki, sehingga bisa
terlihatpencapaian pembangunan manusia antara perempuan dengan laki-laki.
Bagaimana Metode Baru?
IPG pada tahun 2014 mengalami perubahan padaindikator yang digunakan dan juga metodologi penghitungannya.Dalam metode baru ini, dimensi yang digunakan masih sama seperti yang disampaikan sebelumnya, yaitu:
1) Umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life)
2) Pengetahuan (knowledge); dan
3) Standar hidup layak (decent standard of living). Menurut UNDP, ketiga dimensi tersebut digunakan sebagaipendekatan dalam mengukur kualitas hidup,
dimana hakikatnyaadalah mengukur capaian
pembangunan manusia. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor.
Pada tahun 2014, UNDP mengganti beberapa indikator untuk menyempurnakan metodologi yang
digunakan.Pada dimensi pengetahuan dengan
menggunakan angka harapan lama sekolahdan angka
mengukurdimensi standar hidup layak digunakan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita.
BPS mengukur dimensi umur panjang dan hidup sehat dengan menggunakan angka harapan hidup saat lahir yang didapatkandari data Sensus Penduduk 2010 (SP2010).Kemudian mengukur dimensi pengetahuan dengan menggunakan angka harapanlama sekolah dan angka rata-rata lama sekolah yang didapatkandari data SUSENAS.Selanjutnya untuk mengukur dimensi standar hidup layak tidak menggunakan PNB per kapita, karena tidak terdapat angka PNB per kapita hingga
kabupaten/kota.Untuk dimensi ini, dilakukan
pendekatan/proksi dengan menggunakan pengeluaran per kapita yang disesuaikan yang didapatkan dari SUSENAS.
Pada penghitungan IPG, keseluruhan indikator diatas dihitungberdasarkan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Pada indikator angka harapan lama sekolah, batas usia yang digunakan adalah 7 tahun keatas. Ini merupakan indikator yang mengukur input dari dimensi pengetahuan. Sedangkan angka rata-rata lama sekolah memiliki batas usia yaitu 25 tahun keatas. Indikator ini digunakansebagai tolok ukur output dari dimensi pengetahuan. Sehingga pada dimensi ini, sudah mencakup baik indikator input maupun indikator output.
Penyusunan Indeks Komposit
Penyusunan indeks komposit dimulai dengan membangunindeks untuk masing-masing komponen. Indeks untuk masing-masing komponen dihitung sama seperti pada metode lama. Perbedaannya hanya pada batasan untuk masing-masing komponen.
Berikut adalah nilai minimum dan maksimum
untukmasing-masing komponen.
Tabel 2.1.
Batas Minimum dan Maksimum Indikator IPG
Indikator Satuan Maksimum Minimum Laki-laki Perem-puan Laki-laki Perem-puan
Angka Harapan Hidup
saat Lahir (AHH) Tahun 85,5 87,5 22,5 27,5 Harapan Lama Sekolah
(HLS) Tahun 18 18 0 0
Rata-rata Lama Sekolah
(RLS) Tahun 15 15 0 0
Pengeluaran per Kapita
Penyusunan indeks masing-masing indikator, digunakan rumussebagai berikut. =
min) ( ) ( min , i maks i i j i X X X X dimana ) , (i jX : indeks komponen ke-i
min) (i
X : nilai minimum komponen
) (i maks
X : nilai maksimum komponen
Setelah masing-masing komponen memiliki indeks,
dilakukanpenghitungan untuk indeks pendidikan.
Penghitungan indekspendidikan menggunakan rata-rata aritmatik yaitu:
2
2 1 p p PendidikanX
X
X
Metode agregasi yang dilakukan guna mendapatkan angka IPM laki-laki dan perempuan sama seperti metode agregasi yang dilakukan ketika ingin mendapatkan angka IPM. Metode agregasi yang digunakan adalah rata-rata geometrik dengan rumus sebagai berikut.
) , (i j X Indeks
3
tanl pendikanl pengeluaranl keseha
L X X X
IPM
3
tanp pendikanp pengeluaranp keseha
P X X X
IPM
Dimana
L
IPM
= Indeks Pembangunan Manusia Laki-lakiP
IPM
= Indeks Pembangunan Manusia PerempuanPenggunaan rata-rata geometrik ini sangat beralasan, yaitu rata-rata geometrik ini cenderung sensitif
terhadap ketimpangan.Tidak seperti rata-rata
aritmatikyang dapat menutupi ketimpangan yang terjadi
antardimensi, rata-rata geometrik menuntut
keseimbangan antar dimensi.
Pada metode baru, penghitungan angka
indekspembangunan gender tidak lagi
denganmembandingkannya dengan angka IPM, namun dengan menggunakan rasio sebagai berikut.
L P IPM IPM
IPG
Angka ini menunjukkan rasio antara pembangunan perempuan dan pembangunan laki-laki.Ketika angka indeks pembangunangender makin mendekati 100, maka
merata.Namun semakin menjauhi 100, maka pembangunan gender makin timpang antar jenis kelamin.
Perubahan Interpretasi
Akibat perubahan metodologi, terjadi pula perubahan interpretasi dari angka IPG.Pada metode lama, angka IPG yang dihasilkan harus dibandingkan dengan angka IPM.Semakin kecil selisih angka IPG dengan angka IPM, maka semakin kecil ketimpangan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan.
Pada metode baru, interpretasi dari angka IPG berubah.Interpretasi angka IPG tidak perlu dibandingkan lagi dengan angka IPM.Semakin kecil jarak angka IPG dengan nilai 100, maka semakin setara pembangunan antara laki-laki dengan perempuan.Namun semakin besar jarak angka IPG dengan nilai 100, maka semakin terjadi ketimpangan pembangunan antara laki-laki dengan
perempuan.Angka 100 dijadikan patokan untuk
menginterpretasikan angka IPG karena angka tersebut merupakan nilai rasio paling sempurna.
III
GAMBARAN UMUM
Keadaan Geografis
Secara Geografis wilayah Serang terletak pada koordinat 50° 50´ - 60° 21´ Lintang Selatan dan 105° 0´ - 106° 22´ Bujur Timur. Jarak terpanjang menurut garis lurus dari utara ke selatan adalah sekitar 60 Km dan jarak terpanjang dari barat ke timur sekitar 90 Km, dengan luas wilayah 1.467,35 km². Secara administratif, Kabupaten Serang terdiri atas 29 Kecamatan dan 326 Desa.
Kedudukan batas administratif wilayah Kabupaten Serang adalah sebagai berikut:
Utara, berbatasan dengan Laut Jawa
Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang
Barat, berbatasan dengan Kota Cilegon dan Selat Sunda
Gambar 3.1. Peta Kabupaten Serang
Sumber: Pemerintah Kab. Serang
Pembentukan Kota Serang dengan Undang Undang nomor 32 tahun 2007 telah melepas 6 wilayah kecamatan dari wilayah Kabupaten Serang. Secara letak geografis Kota Serang berada di tengah Kabupaten Serang, sehingga pusat pemerintahan Kabupaten secara bertahap akan pindah dari wilayah Kota Serang.
Secara fisik, Kabupaten Serang merupakan daerah yang sangat potensial dan amat diuntungkan. Posisi
geografis dalam aksesibilitas keluar wilayah Kabupaten Serang cukup strategis, karena dilalui oleh Jalan Tol Jakarta-Merak yang merupakan akses utama menuju Sumatera melalui Pelabuhan penyeberangan Merak, dan sebagai daerah penyangga (hinterland) Ibukota Negara, mengingat jaraknya jika diukur melalui jalan Tol Jakarta – Merak hanya 70 Km.
Tabel 3.1. Keadaan Geografi Kabupaten Serang Tahun 2014
Keadaan Geografis Satuan Nilai
Luas Wilayah km2 1467.35
Jumlah Pulau Kecil buah 17
Sungai Terpanjang (Ciujung) km 56.625
Danau/Waduk/Rawa Terluas ( Situ Rawa Danau)
ha 1300
Suhu rata-rata °C 27.8
Kelembaban maksimal % 86
Hari hujan Hari 171
Curah hujan mm 77
Sumber: Kab. Serang Dalam Angka 2014
Untuk menunjang keberhasilan pembangunan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan masyarakat, pembangunan dan
perkembangan kependudukan harus diarahkan pada pengendalian kuantitas, pengembangan kualitas sumber daya manusia, serta pengerahan mobilitas, sehingga
mempunyai ciri dan karakteristik yang menguntungkan pembangunan di Kabupaten Serang.
Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Serang pada Tahun 2014 sebanyak 1.463.094 jiwa dengan komposisi laki-laki 50,73 persen dan perempuan sedikit lebih rendah, 49,27 persen. Perbandingan antara jumlah laki-laki dan perempuan pada 29 kecamatan lebih banyak laki-laki sedangkan pada Kecamatan kibin, jumlah perempuan jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki.Hal ini disebabkan karena di Kecamatan Kibin terdapat satu perusahaan industry yang memiliki jumlah karyawan kurang lebih 78 ribu dan sebagian besar adalah wanita yang juga bertempat tinggal di sekitar perusahaan tersebut.
Tabel 3.2.Jumlah Penduduk Kabupaten Serang Tahun 2014
Kecamatan Laki-laki Perem-puan Jumlah Sex Rasio
(1) (2) (3) (4) (5) Cinangka 28.895 26.710 55.605 108 Padarincang 32.867 31.121 63.988 106 Ciomas 19.940 18.752 38.692 106 Pabuaran 20.507 19.125 39.632 107 Gunung Sari 10.475 9.713 20.188 108 Baros 27.962 25.526 53.488 110 Petir 26.300 25.987 52.287 101 Tunjung Teja 20.577 20.027 40.604 103 Cikeusal 33.914 33.744 67.658 101 Pamarayan 25.797 25.117 50.914 103 Bandung 16.225 15.625 31.850 104 Jawilan 28.103 26.593 54.696 106 Kopo 25.761 24.487 50.248 105 Cikande 48.822 46.951 95.773 104 Kibin 28.744 41.371 70.115 69 Kragilan 38.948 37.342 76.290 104 Waringin Kurung 22.074 20.987 43.061 105 Mancak 23.391 21.738 45.129 108 Anyar 27.272 26.043 53.315 105 Bojonegara 22.144 21.160 43.304 105 Pulo Ampel 18.252 17.307 35.559 105 Kramatwatu 46.707 44.362 91.069 105 Ciruas 37.735 36.517 74.252 103 Pontang 21.013 19.230 40.243 109 Lebak Wangi 19.781 18.698 38.479 106 Carenang 17.753 16.375 34.1280 108 Binuang 17.546 17.015 34.561 103 Tirtayasa 14.323 14.210 28.533 101 Tanara 20.470 18.963 39.433 108 Kab. Serang 742.298 720.796 1.463.094 103
Struktur umur penduduk masih didominasi oleh penduduk usia muda, 0-14 tahun, dan usia-usia berkisar antara 15-34 tahun. Tingkat kelahiran yang tinggi serta banyaknya pendatang usia kerja turut menyumbang bentuk piramida tersebut.
Gambar 3.2.
Piramida Penduduk Kabupaten Serang Tahun 2014
Sumber: BPS Kabupaten Serang
-80,000 -30,000 20,000 70,000 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69 70-74 75+ Perempuan Laki-laki
Struktur umur penduduk bisa dilihat dengan menggunakan grafik Piramida Penduduk seperti yang ditampilkan pada gambar di atas. Selain itu, struktur umur penduduk juga dapat digunakan untuk menghitung rasio ketergantungan penduduk usiabelum/tidak produktif terhadap penduduk usia produktif.
Tabel 3.3.
Rasio Ketergantungan Kabupaten SerangTahun 2014
Kelompok Umur L P L+P (1) (2) (3) (4) 0-14 30.89 30.68 61.57 15-64 66.33 65.52 69.11 65+ 2.77 3.79 0.00 Rasio Ketergantungan 50.75 52.61 51.66
Sumber: BPS Kabupaten Serang
Ekonomi
PDRB atau Pendapatan Domestik Regional Bruto adalah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam satu wilayah, atau merupakan nilai barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Secara nominal, nilai tambah yang dihasilkan oleh pelaku
ekonomi di Kabupaten Serang pada tahun 2014 adalah sebesar Rp. 52.264.710 (juta rupiah), naik dibandingkan tahun 2013 yang hanya sebesar Rp. 46.157.640 (juta rupiah). Secara riil, ekonomi Kabupaten Serang tahun 2014 tumbuh sebesar 6,73 persen dan mengalami percepatan dibandingkan tahun 2013 yang hanya 6,33 persen.
Jika dilihat berdasarkan pengelompokan sektor, tahun 2014 yang memiliki kontribusi besar terhadap PDRB Kabupaten Serang adalah sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 49,08 persen diikuti oleh pertanian 9,98 persen, lalu konstruksi dan perdagangan.
Penduduk Miskin
Jumlah atau persentase penduduk miskin dihitung berdasarkan pengeluaran atau konsumsi rumah tangga yang diperoleh dari Survei Sosial ekonomi nasional (Susenas). Tahun 2014, persentase penduduk miskin Kabupaten Serang menurun dari 5,78 persen pada tahun 2013 menjadi 4,73 persen pada tahun 2014.
Pendidikan
Buta Huruf
Di Indonesia, buta huruf masih menjadi
permasalahan di dalam dunia pendidikan. Angka buta huruf merupakan satu indikator yang menjadi keberhasilan suatu daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Tabel 3.4.
Persentase Penduduk 15 tahun keatas yang tidak dapat membaca dan menulis di Kabupaten Serang, Tahun 2014
Kelompok Umur L P L+P (1) (3) (4) (5) 15-24 - 0.09 0.04 25-44 0.24 0.50 0.37 45-59 0.71 1.97 1.33 60 + 0.32 0.98 0.65 Jumlah 1.27 3.54 2.39 Sumber: BPS, Susenas 2014
Persentase usia 15-24 tahun yang masih belum bisa membaca dan menulis masih terdapat 0,04 persen dan seluruhnya adalah perempuan. Untuk seluruh usia 15 tahun keatas masih ada 2,39 persen yang buta huruf dan terbesar adalah perempuan yang masih 3,54 persen.
Partisipasi Sekolah
Angka Partisipasi Sekolah (APS) hanya
menggambarkan partisipasi sekolah penduduk tanpa melihat jenjang pendidikannya tapi khusus untuk usia 5-6 tahun, terdapat 20,62 persen anak 5-6 tahun yang hanya sedang bersekolah di SD. APS usia 7-12 sebesar 99,89 persen artinya terdapat 99,89 persen usia 7-12 tahun yang sedang bersekolah baik di SD maupun di SMP. Untuk usia 13-15 tahun yang masih bersekolah 95,36 persen, sementara penduduk usia 16-18 tahun yang masih bersekolah hanya 64,92 persen.
Keterbandingan gender dalam partisipasi sekolah pada setiap kelompok usia tidak terlalu berbeda, hanya pada usia 5-6 tahun saja kesenjangan terlihat, APS laki-laki 24,61 persen dan perempuan 14,61 persen. APS usia 7-12, 13-15 dan 16-18 tahun rasio APS laki-laki dan perempuan mendekati 100 artinya partisipasi sekolahnya hampir sama antara laki-laki dan perempuan.
Tabel 3.5.
Angka Partisipasi Sekolah (APS)Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Serang Tahun 2014
Sumber: BPS, Susenas 2014
Partisipasi sekolah tahun 2014 sudah semakin baik dibandingkan tahun sebelumnya. Partisipasi sekolah usia 7-12, 13-15, dan 16-18 tahun mengalami peningkatan sedangkan persentase yang bersekolah usia 5-6 tahun turun dari 22,53 persen menjadi 20,62 persen.
APM DAN APK
Umumnya terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Keduanya mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Perbedaan diantara keduanya adalah penggunaan
Kelompok Umur 2013 2014 L P L+P (1) (2) (3) (4) (5) 5-6 22,53 24,61 14,61 20,62 7-12 98,96 99,78 100,00 99,89 13-15 90,84 96,61 94,01 95,36 16-18 58,25 64,87 64,97 64,92 19-24 19,04 15,94 23,59 19,60
kelompok usia standar di setiap jenjang pendidikan. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan.
APM mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu, yang dibagi dalam tiga kelompok jenjang pendidikan yaitu SD untuk penduduk usia 7-12 tahun, SLTP untuk penduduk usia 13-15 tahun, dan SLTA untuk penduduk usia 16-18 tahun.
Tabel 3.6.
Angka Partisipasi Sekolah Murni (APM) berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014
Jenjang Pendidikan 2013 2014 L P L+P (1) (2) (3) (4) (5) SD 97,56 98,01 97,96 97,99 SLTP 80,94 83,67 79,50 81,67 SLTA 50,10 53,94 58,71 56,18 Sumber: BPS, Susenas 2014
APM laki-laki dan perempuan untuk SD, persentase laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan.Tapi untuk jenjang SLTP dan SLTA partisipasi murni perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Angka partisipasi Kasar (APK) menggambarkan keikutsertaan penduduk pada setiap jenjang pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah pada
masing-masing jenjangpendidikan. Keikutsertaan
pendidikan pada proses pendidikan ini tidak terbatas pada kelompok usia normatif untuk setiap jenjang pendidikan.
Tabel 3.7.
Angka Partisipasi Sekolah Kasar (APK) Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014
Jenjang Pendidikan 2013 2014 L P L+P (1) (2) (3) (4) (5) SD 107,41 113.55 105.1 109,22 SLTP 91,82 94.65 87.06 91,00 SLTA 54,46 60.18 75.95 67,56 Sumber: BPS, Susenas 2014
Hampir sejalan dengan APM SLTA, APK SLTA tahun 2014 meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, artinya partisipasi penduduk pada jenjang ini semakin baik.
Ijasah Tertinggi Yang Dimiliki
Selain indikator Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah, gambaran kualitas SDM Serang dapat dilihat juga dari pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk itu sendiri.
Tabel 3.8.
Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Dimiliki di Kabaupaten Serang
Tahun 2014
Jenjang Pendidikan L P L+P
(1) (2) (3) (4)
Tidak punya ijasah 18,65 29,98 24,24
SD/MI 33,93 27,98 31,00 SLTP/MTs. 22,88 23,46 23,17 SMU/MA 15,43 13,34 14,40 SMK 6,39 2,25 4,35 D1/2/3/PT 2,72 2,98 2,85 Jumlah 100 100 100
Sumber: BPS Kabupaten Serang
Masih cukup banyak juga penduduk 15 tahun keatas di Kabupaten Serang yang memiliki pendidikan rendah, yaitu SD kebawah.Terdapat sekitar 55 persen penduduk 15 tahun keatas yang hanya menamatkan SD
dan tidak tamat SD/atau tidak sekolah. Sementara itu, persentase yang menamatkan SLTA dan perguruan tingga untuk laki-laki 24,54 persen dan perempuan hanya 18,57 persen.
Grafik 3.1.
Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas di Kabupaten Serang Tahun 2014
Sumber: BPS Kabupaten Serang
Jumlah Siswa
Perbandingan jumlah siswa laki-laki dan
perempuan pada masing-masing jenjang pendidikan memang tidak mengindikasikan sesuatu tetapi sekolah
0 5 10 15 20 25 30 35 Tidak punya ijasah SD/MI SLTP/MTs. SMU/MA SMK D1/2/3/PT L P
kejuruan seperti SMK dapat menunjukkan keberpihakan karena beberapa jurusan di SMK didominasi oleh jenis kelamin tertentu.
Tabel 3.9.
Jumlah Siswa Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014
Jenjang Pendidikan L P L+P (1) (2) (3) (4) PAUD 9.210 10.483 19.693 TK 2.286 2.326 4.612 SD 84.710 80.432 165.142 MI 10.413 10.111 20.524 SMP 28.169 28.702 56.871 MTs 17.979 18.588 36.567 SMA 8.431 10.400 18.831 SMK 12.025 7.323 19.348 MA 6.019 7.014 13.033 Total 179.242 175.379 354.621
Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Kabupaten Serang
Jumlah siswa perempuan untuk PAUD, TK, SMP, MTs dan SMA serta MA lebih banyak daripada laki-laki sedangkan SD dan SMK jumlah siswa laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Untuk SMK, diperlukan kebijakan yang menambah jumlah SMK dengan jurusan
keterampilan untuk perempuan seperti tata busana, tata boga, tata kecantikan, garmen dan perhotelan.
Jumlah Guru dan Kepala Sekolah
Perbandingan jumlah guru laki-laki dan
perempuan dapat dilihat pada grafik 3.2. Guru perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki untuk jenjang pendidikan SD baik negeri maupun swasta, MI, serta jenjang SMP. Selain ketiga jenjang pendidikan tersebut jumlah guru laki-laki lebih banyak dari perempuan.
Tabel 3.10.Jumlah Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Serang Tahun 2014
Jenjang Pendidikan L P L+P (1) (2) (3) (4) SD 3.508 4.912 8.420 MI 473 727 1200 SMP 1.580 1.637 3.217 MTs 1.407 1.164 2.571 SMA 889 863 1.752 SMK 968 763 1.731 MA 489 305 794 Total 9.314 10.371 19.685
Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Kabupaten Serang
Grafik 3.2.
Jumlah Guru berdasarkan jenjang pendidikan dan jenis kelamin di Kabupaten Serang Tahun 2014
Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Kabupaten Serang
Secara total jumlah tenaga pengajar antara laki-laki dan perempuan yang terbesar adalah guru perempuan, yaitu 10.371 orang sedangkan laki-laki hanya 9.314 orang. Jumlah guru perempuan terbanyak terdapat pada jenjang SD, SMP dan MTs. Sementara itu, pada jenjang pendidikan SMA, SMK dan MA, Jumlah guru perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki.
0 2,000 4,000 6,000 SD MI SMP MTs SMA SMK MA P L
Tabel 3.11.
Jumlah Kepala Sekolah Berdasarkan Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin di Kabaupaten Serang Tahun 2014
Jenjang Pendidikan L P L+P (1) (2) (3) (4) SD 465 264 729 MI 77 42 119 SMP 164 23 187 MTs 145 37 182 SMA 69 6 75 SMK 72 12 84 MA 65 8 73 Jumlah 1.057 392 1.449
Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Kabupaten Serang
Jumlah Kepala Sekolah yang terbesar adalah kepala sekolah laki-laki yaitu 1.057 orang (72,95 persen) sedangkan kepala sekolah perempuan sebanyak 392 orang (27,05 persen).Jika dilihat berdasarkan jenis pendidikan yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (SD, SMP, SMA dan SMK) serta Kementerian Agama Kabupaten Serang(MI, MTs dan MA) terlihat proporsi yang hampir
sama yaitu didominasi oleh Kepala Sekolah Laki-laki, masing-masing sebesar 770 orang (71,63 persen) dan 287 orang (76,74 persen).
KESEHATAN
ASI dan Imunisasi
Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi yang paling penting bagi pertumbuhan dan kesehatan bayi karena selain mengandung nilai gizi yang cukup tinggi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit, untuk itu perlu adanya peningkatan kesadaran penduduk khususnya kaum ibu akan pentingnya ASI bagi seorang bayi yang tidak bisa digantikan dengan susu formula apapun. Selain pemenuhan ASI dan cakupan imunisasi, bayi diharapkan memperoleh asupan gizi yang cukup.
Persentase terbesar lamanya diberi ASI adalah 24 bulan mencapai 38,17 dan persentase anak perempuan untuk yang lebih dari 18 bulan lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. Masih ada 10,63 persen anak usia 2-4 tahun yang mendapatkan ASI kurang dari 1 tahun.
Tabel 3.12.
Persentase Anak 2-4 tahun yang pernah disusui dan Lamanya Disusui di Kabupaten Serang Tahun 2014
Lamanya diberi ASI L P L+P
(1) (2) (3) (4)
Kurang dari 6 bulan 6,53 2,73 4,60
6 – 11 6,73 5,35 6,03 12 - 17 22,78 20,38 21,56 18 – 23 27,75 31,45 29,63 24+ 36,21 40,08 38,17 Jumlah 100 100 100 Sumber: BPS, Susenas 2014 Tabel 3.13
Persentase Anak Berumur 1-4 tahun Yang Pernah Diberi Imunisasi di Kabupaten Serang Tahun 2014
Kelengkapan Imunisasi L P L+P (1) (2) (3) (4) Lengkap 52,31 36,39 44,49 Tidak Lengkap 47,69 63,61 55,51 Jumlah 100 100 100 Sumber: BPS, Susenas 2014
Imunisasi merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit.
Persentase anak balita perempuan yang pernah diimunisasi untuk seluruh jenis imunisasi dasar lebih rendah dibandingkan laki-laki dan yang terendah.Ternyata dari seluruh anak usia 1-4 tahun yang telah diimunisasi lengkap baru mencspsi 44,49 persen dimana perempuan hanya 36,39 persen dan laki-laki 52,31 persen.
Kesehatan Ibu Hamil
Penanganan serius pada ibu hamil adalah salah satu cara yang efektif untuk mengurangi angka kematian bayi maupun angka kematian ibu.
Tabel 3.14 Jumlah Kasus Ibu Hamil di KabSerang Tahun2014
Kejadian/kasus Jumlah
(1) (2)
Kunjungan ibu hamil K4 46,4 %
Ibu hamil gizi buruk 213
Komplikasi kebidanan yang ditangani 65,1 %
Penolong persalinan oleh Bidan 53 %
Kunjungan ibu hamil pada trimester III dalam rangka persiapan persalinan merupakan hal yang harus dilakukan agar proses persalinan berjalan lancar dan menghindari resiko kematian pada ibu maupun bayi. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan bahwa Kunjungan ibu hamil K4 hanya mencapai 46,4 persen saja.
Ibu hamil harus mendapat nutrisi yang baik agar calon bayi dapat lahir dengan berat badan diatas 2500 gr atau tidak ada komplikasi pada janin. Tahun2014 terdapat ibu hamil dengan status gizi buruk sebanyak 213 orang.
Komplikasi pada ibu hamil akan mempersulit proses persalinan sehingga dapat berakibat buruk pada bayi maupun ibu hamil. Dari seluruh komplikasi yang terjadi hanya 65,1 persen saja yang ditangani oleh bidan.
Hal penting lain adalah proses persalinan yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan dimana salah satunya adalah oleh bidan. Tahun 2014 hanya terdapat kurang lebih 53 persen saja ibu hamil di Kabupaten Serang proses persalinannya ditangani oleh bidan.
Tenaga Kesehatan
Ketersedian tenaga kesehatan yang memadai sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan yang
dibutuhkan tidak hanya dari sisi kualitas namun jumlah atau rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk juga penting untuk diperhatikan.
Tabel 3.15
Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Profesi di RSUD dan Puskesmas Kabupaten Serang Tahun 2014
Tenaga Kesehatan L P L+P
(1) (2) (3) (4)
Dokter Spesialis 26 15 41
Dokter Gigi 5 30 35
Dokter Umum 32 60 92
Bidan dan Bidan Desa 0 531 531
Perawat 206 383 589
Lainnya*) 23 40 63
Jumlah 292 1.059 1.351
*) Tenaga teknis kefarmasian, Apoteker, Kesehatan masy/Kesehatan lingk, dan tenaga gizi.
POLITIK DAN KEAMANAN
Kondisi politik dan keamanan di suatu wilayah dapat ditunjukkan dengan baik oleh tingkat kerawanan dan potensi konflik di wilayah yang bersangkutan. Perkembangan kondisi politik khususnya sejak reformasi sangat pesat perkembangannya, dan berdampak pada ketahanan sosial.
DPRD
Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan organisasi perempuan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen, tetapi hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Proporsi anggota legislatif perempuan yang terpilih gagal mencapai affirmative action 30 persen pada Pemilu 2014. Capaian ini juga sama untuk keterwakilan perempuan di lembaga legislative DPRD Kabupaten Serang pada hasil Pemilu Tahun 2014.
Tabel 3.16
Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Serang Menurut Fraksi Periode 2014-2019
Fraksi L P L+P (1) (2) (3) (4) Partai Golkar 8 1 9 PDIP 3 2 5 PPP 4 0 4 PKS 5 0 5 Partai Madani 3 1 4 Partai Demokrat 2 2 4 Partai Hanura 4 0 4 Partai Gerindra 5 1 6 Partai PAN 4 1 5 PKB 4 0 4 Jumlah 42 8 50
Sumber : DPRD Kabupaten Serang
Dibanding hasil pemilu yang lalu keterwakilan perempuan di DPRD Kabupaten Serang periode 2014-2019 sudah lebih baik.Pada tahun 2009-2014 anggtota DPRD yang berjenis kelamin perempuan hanya berjumlah 5 orang sedangkan berdasarkan hasil Pemilu 2014 terdapat 8 orang perempuan yang lolos menjadi anggota DPRD kabupaten Serang untuk 5 tahun mendatang atau terdapat 16 persen
PNS
Keberhasilan suatu pemerintahan baik sebagai
keseluruhan maupun berbagai kelompok dalam
pemerintahan daerah, sangat tergantung pada kualitas kepemimpinan yang terdapat dalam pemerintahan yang bersangkutan. Persoalan gender akhir-akhir ini sedang menjadi wacana publik yang hangat dibicarakan oleh banyak kalangan. Proporsi perempuan dan laki-laki dalam kepemimpinan di daerah sering terdapat kesenjangan, seperti sedikitnya jumlah wanita yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam instansi pemerintah daerah
.
Tabel 3.17.
Jumlah dan Persentase Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Serang Menurut Jabatan Eselon
Tahun 2014 Jenis Jabatan L % P % L+P % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Eselon II 34 87.18 5 12.82 39 100 Eselon III 164 84.54 30 15.46 194 100 Eselon IV 593 74.59 202 25.41 795 100 Eselon V 26 78.79 7 21.21 33 100 Jumlah 817 77 244 23 1061 100
Persentase perempuan yang menduduki jabatan struktural di Pemerintahan Kabupaten Serang sudah semakin tinggi. Tahun 2014 terdapat 23 persen perempuan yang menduduki jabatan structural. Pada Tabel 3.17 diatas terlihat semakin tinggi jabatan (eselonering) maka semakin kecil proporsi perempuan yang menduduki jabatan tersebut.
Kalau dilihat dari jumlah PNS tampak bahwa
jumlah PNS perempuan dan laki-laki hampir
berimbang.Terdapat 54,7 persen PNS laki-laki dan perempuan 45,3 persen . Dan pendidikan PNS perempuan juga sudah cukup baik, yaitu 67,5 persen PNS perempuan yang berpendidikan D4/S1 serta S2/S3, sementara itu PNS laki-laki yang berpendidikan sama hanya 61,8 persen.
Tabel 3.18.
Jumlah Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kabupaten Serang Menurut Jabatan Eselon Tahun 2014
Jenis Jabatan L P L+P (1) (2) (3) (4) SLTP kebawah 340 18 358 SLTA 1.381 667 2.048 D1/2/3 346 394 740 D4/S1 3.312 3.280 6.592 S2/S3 576 241 817 Jumlah 6.296 5.220 11.515
Sumber: BKD Kabupaten Serang
SOSIAL LAINNYA
KDRT
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah kekerasan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami maupun oleh istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan
secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Jenis Kekerasan yang terjadi pada periode Januari-Juli 2015 adalah kekerasan fisik 27 kasus, seksual 6 kasus dan penelantaran 3 kasus. Perempuan menjadi korban lebih banyak dibandingkan laki-laki. Selain itu, dari 36 kasus terdapat 17 kasus atau 47,2 persen terjadi pada anak-anak, 11 kasus usia 18-24 dan 8 kasus lainnya usia 25-59 tahun.
Tabel 3.19.
Jumlah Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015
Usia Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) 0-17 9 8 17 18-24 6 5 11 25-59 0 8 8 60+ 0 0 0 Jumlah 15 21 36
Tabel 3.20.
Jumlah Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015
Usia Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) 0-17 3 0 3 18-24 10 1 11 25-59 19 3 22 60+ 0 0 0 Jumlah 32 4 36
Sumber: BKBPMP Kabupaten Serang
Kalau korban kejahatan dominan adalah perempuan sedangkan pelaku kejahatan mayoritas adalah laki-laki dan umur pelaku berkisar antara 18-24 dan 25-59 tahun.
Dokumen Kependudukan
Warga Negara yang baik adalah yang mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku di suatu wilayah.Salah satu yang harus dimiliki oleh setiap warga Negara adalah beberapa dokumen ataupun catatan
kependudukan yang diterbitkan oleh beberapa
diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pada semester satu tahun 2015 adalah sebagai berikut:
Tidak terdapat perbedaan kesempatan
perempuan dan Laki-laki dalam memperoleh layanan Dokumen kependudukan.
Tabel 3.21.
Jumlah Dokumen Kependudukan Yang Diterbitkan di Kabupaten Serang, Januari-Juli 2015
Usia Laki-laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) Kartu Keluarga 375.159 64.864 440.023 KTP 560.095 502.756 1.062.962 Akta Kelahiran 6.809 6.651 13.460 Akta Kematian 15 5 20 Akta Perceraian - - 2
Akta pengakuan dan
pengesahan anak 6 11 17
Akta Perubahan 123 101 224
IV
CAPAIAN PEMBANGUNAN
GENDER KABUPATEN SERANG
Pencapaian pembangunan umumnya tergambar denganadanya perubahan menuju kondisi yang lebih
baikdibandingkan kondisi sebelumnya. Perubahan
padakonteks ini mencakup peningkatan/penurunan kualitashidup manusia secara fisik maupun non fisik
sebagaidampak berbagai program pembangunan,
sepertikesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat
pencapaian pembangunan di suatu wilayah diperlukan ukuran yang mampu memberikan gambaran menyeluruh dari capaian pembangunan. Dalam mengukur pencapaian pembangunan dapat digunakan tiga indeks yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), Indeks Pembangunan Gender (IPG) atau Gender Related Development Index (GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) atau Gender Empowerment Measurement (GEM).
Dibeberapa daerah di Indonesia masih memiliki budaya patriarki, perbedaan tersebut cukup jelas terjadi dimasyarakat. Pada prakteknya, perbedaan tersebut sering menimbulkan ketidakadilan, terutama terhadap kaum perempuan baik di lingkungan rumah tangga,
pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, maupun
bernegara.
Diskriminasi terhadap perempuan dalam
kehidupan melalui praktik-praktik nilai-nilai budaya, sosial dan nilai-nilai kehidupan lainnya tidak dapat dihindari. Perbedaan peran gender seperti itu, akhirnya menimbulkan terjadinya ketidakadilan gender dalam
pembangunan, kenyataan dapat dilihat dari
kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang belum memberikan porsi yang semestinya kepada perempuan dalam akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dalam pembangunan disegala bidang.
Sesuai Konstitusi, UUD1945 Pasal 28 (2) menyatakan bahwa “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Hal ini menunjukkan bahwa secara hukum dan filosofis, Indonesia telah menjamin dan melindungi tiap warga negaranya dari
sikap atau tindakan diskriminatif dalam semua hal, termasuk jenis kelamin. Oleh sebab itu, untuk menghilangkan ketidakadilan terkait gender, diperlukan adanya kesetaraan dan keadilan gender dalam proses bermasyarakat dan bernegara.
Untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan Gender harus dihilangkan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Dengan demikian, perempuan akan memiliki peluang dan kesempatan dalam menggunakan sumberdaya dan mempunyai akses untuk mengambil keputusan untuk mengunakan sumber daya tersebut.
Secara umum, pembangunan manusia secara kuantitatif dapat digambarkan dari angka IPM. U nt u k menjelaskan perbedaan capaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan digambarkan dari angka IPG. IPG pertama kali diperkenalkan oleh United Nations
Development Programs (UNDP) dalam Laporan
pembangunan Manusia tahun 1995. IPG merupakan ukuran pembangunan manusia yang merupakan komposit dari empat indikator, yang lebih menekankan
kemampuan dasar. Dari angka IPG diharapkan mampu memberikan perkembangan capaian pembangunan yang sudah mengakomodasi kesetaraan dan keadilan gender.
Tabel 4.1. Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode Lamadan Metode Baru
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pada tahun 2014 UNDP mengganti beberapa indikator IPM untuk menyempurnakan metodologi yang digunakan sebagai berikut : Angka Melek Huruf (AMH) pada metode lama diganti dengan angka Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita diganti dengan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita. Metode penghitungan : metode agregasi diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik.
Gambar 4.1.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode BaruDi Kabupaten Serang Tahun 2010 – 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Fluktuasi capaian pembangunan di Kabupaten Serang tahun 2010–2014 yang diinterprestasikan dengan angka IPM (Metode baru) cenderung mengalami kenaikan. Pada tahun 2010 angka IPM sebesar 60,97 naik pada tahun 2011 menjadi 61,97 dan terus bergerak naik pada tahun-tahun berikutnya hingga tahun 2013 sebesar 63,57 dan tahun 2014 sebesar 63,97. Kenaikan pada tahun 2013 ke tahun 2014 cendrung lebih sedikit bila dibandingkan kenaikan pada tahun-tahun sebelumnya.
Tabel 4.2.
Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Kabupaten Serang Tahun 2014
Komponen IPM
Nilai
(1) (2)
Angka Harapan Hidup (tahun) 63,09
Harapan Lama Sekolah (tahun) 12,35
Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 6,69
Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (Rp) 9.885.910
I P M 63,97
Sumber: Badan Pusat Statistik
Tabel 4.3.
Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Provinsi Banten Tahun 2014
Komponen IPG
2014
(1) (2)
Angka Harapan Hidup (tahun) 69,13
Harapan Lama Sekolah (tahun) 12,31
Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 8,19
Pengeluaran Perkapita Disesuaikan (Rp) 11.150.000
Pengukuran pembangunan di bidang kesehatan dapat menggunakan indikator harapan hidup, dimana angka harapan hidup mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. Angka Harapan Hidup saat Lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. Angka Harapan Hidup tahun 2014 sebesar 63,09 tahun mempunyai arti bahwa rata-rata bayi lahir di Kabupaten Serang pada tahun 2014 diharapkan dapat hidup sampai usia sekitar 63,09 tahun. Bila dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Provinsi Banten pada tahun 2014 sebesar 69,13 tahun maka Angka Harapan Hidup penduduk Kabupaten Serang masih relatif rendah sehingga perlu upaya dari Pemerintah Daerah untuk meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan.
Indikator pembangunan dalam bidang pendidikan digambarkan dengan Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah. Dua indikator ini digunakan dalam penghitungan IPM sebagai indikator derajat pendidikan masyarakat. Harapan Lama Sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Harapan Lama Sekolah dapat digunakan
untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang.
Harapan lama sekolah di Kabupaten Serang tahun 2014 sebesar 12,35 tahun mempunyai arti bahwa rata-rata lama sekolah yang diharapkan oleh seorang anak dimasa mendatang selama 12,35 tahun.Dibandingkan dengan Harapan Lama Sekolah Provinsi Banten sebesar 12,31 tahun, dapat dikatakan setara.
Rata-rata Lama Sekolah didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Cakupan penduduk yang dihitung adalah penduduk berusia 25 tahun keatas. Rata-rata lama sekolah di Kabupaten Serang sebesar 6,69 tahun masih terpaut jauh dibandingkan angka Provinsi Banten sebesar 8,19 tahun. Indeks rata-rata lama sekolah Kabupaten Serang sebesar 44,60 persen menggambarkan kualitas pendidikan yang masih rendah.
Pengukuran komponen daya beli didekati dengan besarnya konsumsi per kapita yang telah disesuaikan. Pemakaian variabel konsumsi riil dimaksudkan untuk mengeliminir perbedaan dan perubahan harga (inflasi) yang terjadi sehingga angka yang dihasilkan dapat dibandingkan antar daerah dan antar waktu.
Konsumsi riil per kapita penduduk Kabupaten Serang Tahun 2014 sebesar 9885910 rupiah. Dibandingkan dengan Provinsi Banten sebesar 11150 000 rupiah maka pengeluaran perkapita penduduk Kabupaten Serang masih cenderung rendah. Rendahnya daya beli masyarakat terkait dengan masih banyaknya masyarakat yang tinggal di perdesaan yang dominan bekerja di sektor pertanian yang biasanya nilai tambah sektor ini rendah sehingga mempengaruhi tingkat pendapatan.
IPG mengukur pencapaian dimensi dan
variabel yang sama seperti IPM, tetapi
mengungkapkan ketidakadilan dalam pencapaian antara laki-laki dan perempuan. IPG adalah rasio dari IPM Perempuan dengan IPM Laki-laki.
Semakin besar perbedaan gender dalam
pembangunan manusia, semakin rendah IPG dibandingkan dengan nilai IPM-nya.
Gambar 4.2.
Komponen Indeks Pembangunan Gender (IPG) Di Kabupaten Serang Tahun 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Dari Komponen IPG Kabupaten Serang tahun 2014 terlihat Angka harapan hidup perempuan64,86 tahunlebih tinggi dibandingkan laki-laki61,21 tahun. Tetapi dari segi pendidikan dan kontribusi terhadap ekonomi, perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini tergambar dari rata-rata lama sekolah 5,99 tahun dan kontribusi pengeluaran perkapita sebesar 39,80
Gambar 4.3.
Indeks Pembangunan Gender (IPG) Kabupaten Serang dan Provinsi Banten Tahun 2010-2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Nilai IPG Kabupaten Serang tahun 2014 sebesar 91,78 dengan nilai IPM Perempuan sebesar 62,44 dan IPM Laki-laki sebesar 68,03. Nilai IPG sebesar 91,79 mencerminkan bahwa jarak (gap) secara nyata dalam pencapaian kemampuan dasar laki-laki dan perempuan sudah semakin kecil, hal
ini mengidentifikasi bahwa peningkatan
kapabilitas dasar perempuan sudah memberikan hasil positif.
Nilai IPG Kabupaten Serang pada tahun 2010-2013 lebih kecil dibandingkan IPG Provinsi
Banten tetapi terjadi perubahan pada tahun 2014 dimana IPG Kabupaten Serang sebesar 91,78 lebih besar dari IPG Provinsi Banten sebesar 90,99. Ha l ini secara umum berarti kesetaraan dan keadilan gender di Kabupaten Serang sudah lebih baik.
Grafik 4.1.
Perkembangan IPM dan IPG Kabupaten Serang, Tahun 2010 – 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pada grafik 4.1. nilai IPM dan IPG untuk tahun 2010-2014 berdasarkan metodelogi yang sama yaitu penghitungan dengan metode baru. Nilai IPM yang cenderung mengalami kenaikan
mencerminkan adanya peningkatan dalam
55.00 60.00 65.00 70.00 75.00 80.00 85.00 90.00 95.00 2010 2011 2012 2013 2014
93.90 93.13 91.78 91.29 91.11 86.75 85.84 77.86 90.99 75.87 79.17 63.97 70.26 69.57 71.57 62.06 61.64 69.89 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 IPG IPM
pembangunan meliputi aspek kesehatan,
pendidikan dan perekonomian. Nilai IPG
mengalami kenaikan yang cukup signifikan,
mengidentifikasi bahwa ketimpangan gender
semakin mengecil atau dengan kata lain kesetaraan dankeadilangender dalam capaian pembangunansudah semakin baik.
Grafik 4.2.
IPM dan IPG Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, Tahun 2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Pada grafik 4.2. dapat terlihat
perbandingan nilai IPM dan IPG Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. Kabupaten Serang menempati urutan ketiga setelah Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Nilai IPG Kabupaten Serang
sebesar 91,78 lebih tinggi dibandingkan Provinsi Banten sebesar 90,99. Hal ini merupakan prestasi yang harus dipertahankan. Sedangkan nilai IPM menempati urutan ke-enam, lebih baik dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Nilai IPM Kabupaten Serang sebesar 63,97 lebih kecil dibandingkan Provinsi banten sebesar 69,89. Hal ini
mengisyaratkan bahwa perlu ditingkatkan
pembangunan manusia dalam program yang mencakup pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan kemudahan akses ekonomi dan sosial.
V
KESIMPULAN
a. Dari sisi pendidikan, perempuan Kabupaten Serang telah mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka kesenjangan antara laki-laki dan perempuan sudah mulai berkurang, yang tercermin dari persentase ijazah terakhir, rasio APMnya, dan rata-rata lama sekolah serta angka Harapan Lama Sekolah.
b. Partisipasi perempuan dalam pemerintahan
meningkat, yang tercermin dari angka persentase jumlah PNS perempuan yang meningkat. Begitu pula pada lembaga legislatif, keterwakilan perempuan meningkat pada periode 2014-1019 dibanding periode 2009-2014.
c. Pembangunan manusia Kab. Serang terus meningkat, diikuti dengan peningkatan kesetaraan gender dan peningkatan pemberdayaan perempuan
d. Ketimpangan pembangunan gender lebih disebabkan oleh ketimpangan sumbangan pendapatan (dimensi standar hidup layak).
e. Disparitas capaian pembangunan gender masih merupakan masalah di sebagian Kab./Kota
f. Nilai IPG Kabupaten Serang pada tahun 2010 -2013 lebih kecil dibandingkan IPG Provinsi Banten tetapi terjadi perubahan pada tahun
2014 dimana IPG Kabupaten Serang sebesar 91,78 lebih besar dari IPG Provinsi Banten sebesar 90,99.
g. Capaian pembangunan perempuan di Kabupaten
Serang sudah di atas Banten, namun perannya dalam pembangunan masih rendah. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mendorong perempuan agar lebih berperan aktif.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2014. Indeks Pembangunan Gender 2014. Jakarta: BPS BPS. 2013. Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2013.
Jakarta: BPS
BPS. 2014. Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2014. Jakarta: BPS
BPS. 2015. Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS
BPS. Rasio Jenis Kelamin. Diakses pada 29 November 2015.http://sirusa.bps.go.id/index.php?r=indikator/view &i=87
BPS. Rasio Ketergantungan. Diakses pada 29 November 2015.http://sirusa.bps.go.id/index.php?r=indikator/view &id=95
BPS Kabupaten Serang. 2015. PDRB Kabupaten Serang 2010-2014 Menurut Lapangan Usaha.Serang: BPS Kab. Serang
Republik Indonesia. 2010. Keputusan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Sekretariat