• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capital Adequacy Ratio (CAR)

Dalam dokumen PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN (Halaman 37-127)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.2. Konsep Analisis Fundamental

2.1.2.4 Capital Adequacy Ratio (CAR)

Capital Adequacy Ratio merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modalnya dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi dan mengontrol risiko-risiko yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank.

Angka rasio CAR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah minimal 8%, jika rasio CAR sebuah bank berada dibawah 8% maka bank tersebut tidak mempunyai

peluang untuk memberikan kredit. Dengan CAR yang cukup atau memenuhi kententuan, bank tersebut dapat beroperasi sehingga terciptalah laba. Dengan kata lain semakin tinggi CAR semakin baik kinerja suatu bank.

Besar kecilnya modal yang dimiliki sebuah bank dapat digunakan untuk memprediksi apakah bank tersebut akan mengalami kebangkrutan atau tidak pada masa yang akan datang. Jadi dapat disusun sebuah logika bahwa dengan tercukupinya permodalan bank, maka bank tersebut dapat menjalankan operasinya dengan efisien. Saat bank dikatakan efisien dalam menjalankan operasinya, maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut mempunyai kinerja yang bagus, sehingga potensi untuk mengalami kerugian dapat diminimalisir. Dengan semakin kecil kerugian yang dialami, maka dapat dipastikan laba yang diperoleh bank tersebut semakin meningkat, sehingga dengan semakin tinggi laba yang dapat dihasilkan maka pada akhirnya akan meningkatkan return saham yang akan diterima oleh investor.

Capital Adequacy Ratio dapat diperoleh dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

Modal

CAR = X100% .... (Rivai, 2013:472)

Aktiva Tertimbang Menurut Resiko

2.1.2.5.Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio ini untuk mengukur rata-rata biaya operasional dan biaya non operasional yang dikeluarkan bank untuk memperoleh pendapatan. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Apabila rasio ini semakin meningkat hal ini mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan

biaya operasional yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya. Sebaliknya, semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan.

Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga mendekati angka 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya. Jika rasio BOPO berada pada kondisi efisien atau dibawah 90%, laba yang akan diperoleh semakin besar karena biaya operasi yang ditanggung oleh bank semakin kecil. Dengan meningkatnya laba maka dapat dipastikan bahwa ROA akan meningkat. Seiring dengan adanya peningkatan ROA maka reputasi bank juga akan meningkat. Peningkatan reputasi bank pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan harga saham perusahaan dan selanjutnya peningkatan harga saham ini akan berpengaruh pada meningkatnya return saham yang dapat diperoleh investor.

Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional dapat diperoleh dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

Biaya Operasional

BOPO = X100% ... (Rivai, 2013:482)

Pendapatan Operasional

2.1.2.6.Ukuran Perusahaan (Firm Size)

Ukuran perusahaan menunjukkan besar atau kecilnya kekayaan (asset) yang dimiliki suatu perusahaan, dimana besar kecilnya kekayaan (asset) suatu perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Ukuran perusahaan biasanya diukur menggunakan total aktiva, penjualan atau modal perusahaan. Semakin besar total aktiva maka akan semakin mampu perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin besar perusahaan menghasilkan laba, maka semakin besar deviden yang akan dibagikan. Selain itu, jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat. Dengan adanya kenaikan harga saham maka pada akhirnya akan meningkatkan return saham yang dapat diterima oleh investor. Hal ini berarti ukuran perusahaan mempunyai hubungan positif dengan return saham.

Dalam penelitian ini ukuran perusahaan di-proxy dengan nilai logaritma dari total aset, diformulasikan sebagai berikut :

π‘Ίπ’Šπ’›π’†=π‘³π’π’ˆ (𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍𝑨𝒔𝒆𝒕) ... (Jogiyanto, 2013:392)

2.1.3. Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan bank mencerminkan kemampuan operasional bank baik dalam bidang penghimpun dana maupun dalam penyaluran dana. Kinerja bank juga dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu bank. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan bank, maka dapat dilakukan strategi untuk mengembangkan kekuatan bank tersebut dan juga dapat dilakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi dan meminimalisir kelemahan bank tersebut sebagai kegiatan perbaikan di masa mendatang. Penilaian terhadap kinerja bank biasanya dilihat dari laporan keuangannya.

Kinerja keuangan dapat diukur dengan profitabilitas. Menurut Syofyan (2003), profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah Return Of Equity (ROE) untuk perusahaan pada umumnya dan Return On Asset (ROA) pada

industri perbankan. Return on Asset (ROA) memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan, sedangkan Return on Equity (ROE) hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Kuncoro, 2002), sehingga dalam penelitian ini Return on Asset (ROA) digunakan sebagai ukuran kinerja keuangan perbankan.

Return on Asset (ROA) sangat penting bagi bank karena digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini merupakan indikator utama untuk melihat managerial efficiency yang mengindikasikan seberapa mampu manajemen bank dalam menggunakan kekayaan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan bersih. Pengukuran ROA yakni dengan cara membandingkan antara laba setelah pajak terhadap total aktiva. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar.

Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan keuntungan (return) yang dapat diperoleh para pemegang saham.

Return On Assets dapat diperoleh dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

Net Profit After Tax

ROA = X100% ... (Rivai, 2013:490) Total Assets

2.1.4. Keterkaitan Faktor Fundamental dengan Return on Asset (ROA) dan Return Saham

Faktor fundamental perusahaan secara umum dapat diartikan sebagai faktor internal perusahaan yang dianggap mampu menggambarkan struktur keuangan perusahaan dan mengidentifikasi prospek perusahaan untuk dapat memperkirakan return saham di masa yang akan datang. Penilaian aspek fundamental mengenai kondisi keuangan perusahaan dapat dilakukan berdasarkan analisis rasio keuangan perusahaan dalam satu periode dimana tercermin dalam kinerja keuangan perusahaan yang dituangkan dalam bentuk laporan keuangan.

Sangat penting bagi suatu bank untuk selalu menjaga kinerjanya dengan baik, terutama menjaga tingkat profitabilitas yang tinggi, prospek usaha yang selalu berkembang dan pada akhirnya mampu membagikan deviden dengan baik kepada investor.

Kinerja keuangan bank mencerminkan kemampuan operasional bank baik dalam bidang penghimpun dana maupun dalam penyaluran dana. Kinerja bank juga dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu bank. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan bank, maka dapat dilakukan strategi untuk mengembangkan kekuatan bank tersebut dan juga dapat dilakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi dan meminimalisir kelemahan bank tersebut sebagai kegiatan perbaikan di masa mendatang.

Kinerja keuangan dapat diukur dengan profitabilitas. Menurut Syofyan (2003), profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah Return Of Equity (ROE) untuk perusahaan pada umumnya dan Return On Asset (ROA) pada

industri perbankan. Return on Asset memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan, sedangkan Return on Equity hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut, sehingga dalam penelitian ini Return on Asset digunakan sebagai ukuran kinerja keuangan perbankan. Return on Asset sangat penting bagi bank karena digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Pengukuran Return on Asset yakni dengan cara membandingkan antara laba setelah pajak terhadap total aktiva. Apabila Return on Asset meningkat, menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik dan berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan keuntungan (return) yang dapat diperoleh para pemegang saham.

Penilaian terhadap kinerja bank biasanya dilihat dari laporan keuangannya.

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari perusahaan tersebut. Dari laporan keuangan yang diterbitkan maka akan dianalisis rasio keuangan yang berguna untuk mengungkapkan kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan, serta untuk menunjukkan apakah posisi keuangan membaik atau memburuk selama waktu tertentu. Hal ini akan membantu investor di dalam mengukur dan menilai ketidakpastian penerimaan return yang akan diperoleh.

Selain itu, dari rasio keuangan yang diperoleh, maka manajemen perusahaan yang bersangkutan maupun para investor akan dapat memutuskan untuk melakukan tindakan yang akan diambil dan melakukan penilaian terhadap nilai saham

perusahaan yakni setelah menilai kinerja perusahaan yang dilihat dari rasio keuangan tersebut. Dengan adanya penilaian terhadap harga saham maka investor akan dapat mengetahui berapa keuntungan yang diperolehnya.

Selain faktor fundamental, faktor lain yang perlu diperhatikan dalam penerimaan return saham adalah Ukuran Perusahaan (Firm Size). Kuncoro (2002:414) menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan akan mencerminkan pula semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dananya (kesempatan investasi) pada masa yang akan datang.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa ukuran perusahaan dapat memberikan pengaruh positif bagi investasi, karena semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin besar laba yang akan dihasikan. Dengan meningkatnya laba yang dihasilkan, maka harga saham perusahaan juga cenderung meningkat dan pada akhirnya akan berakibat pada peningkatan return saham.

2.2. Review Peneliti Terdahulu

Berikut review penelitian terdahulu yaitu sebagai berikut:

1. Asna (2006) melakukan penelitian dengan judul Analisa Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Return Saham Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Metode analisis data yang digunakan yaitu regresi linear berganda. Dari hasil penelitiannya membuktikan variabel Independen yakni Loan to Deposit Ratio dan Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional berpengaruh signifikan terhadap tingkat keuntungan saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, sedangkan Capital Adequacy Ratio dan Return On Asset tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat keuntungan saham.

2. Elleuch (2009) melakukan penelitian dengan judul Fundamental Analysis Strategy and The Prediction of Stock Returns. Metode analisis data yang digunakan yaitu multiple regression analysis. Penelitiannya membuktikan bahwa analisis fundamental memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kinerja laba dimasa depan.

3. Khaddafi (2011) melakukan penelitian dengan judul Hubungan rasio CAMEL dengan Return saham pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisa regresi linear berganda. Dari hasil penelitiannya membuktikan bahwa Capital Adequacy Ratio, Return On Equity, Loan to Deposit Ratio dan Net Interest Margin berpengaruh signifikan terhadap Return Saham.

4. Wijaya dan Solikhin (2012) melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh rasio CAMEL terhadap return saham pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisa regresi linear berganda. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa variabel independen Capital Adequacy Ratio, Return On Asset, Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional, dan Earning Per Share berpengaruh terhadap Return.

5. Fajar (2013) melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor Internal

& Eksternal Bank yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Umum di Indonesia. Dengan menggunakan metode regresi linear berganda.

Penelitiannya membuktikan bahwa Non Performing Loan, Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional dan Loan to Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset, sedangkan Capital

Adequacy Ratio, nilai tukar, tingkat suku bunga dan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset.

6. Hutagalung (2013) melakukan penelitian berjudul Analisa Rasio Keuangan terhadap Kinerja Bank Umum di Indonesia. Metode Analisis data yang digunakan yaitu regresi linear berganda. Penelitiannya membuktikan bahwa NPL, NIM, dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA, sedangkan CAR dan LDR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.

7. Ganerse dan Suarjaya (2013) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas dan Ukuran Perusahaan terhadap Return Saham Perusahaan F&B. Metode Analisis data yang digunakan yaitu analisa regresi linear berganda. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa Profitabilitas (ROA), Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Return, sedangkan Likuiditas (Current Ratio) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return.

8. Azhar L (2013) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh CAR, BOPO, dan LDR terhadap Return Saham Industri Perbankan. Dengan menggunakan metode analisa regresi linear berganda. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa BOPO berpengaruh signifikan terhadap Return, sedangkan CAR dan LDR tidak berpengaruh signifikan terhadap Return.

9. Prasanjaya dan Ramantha (2013) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Rasio CAR, BOPO, LDR dan Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas Bank yang terdaftar di BEI. Dengan menggunakan metode analisa regresi linear berganda. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa LDR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA, sedangkan variabel lain tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.

10. Absari (2013) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan dan Resiko Sistematis Terhadap Return Saham. Metode Analisis data yang digunakan yaitu analisa regresi linear berganda. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa EPS dan Resiko Sistematis berpengaruh signifikan terhadap Return, sedangkan variabel independen lainnya tidak berpengaruh signifikan terhadap Return.

11. Muhammad (2014) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh CAR, NPL, dan BOPO terhadap Profitabilitas dan Return Saham pada bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode Analisis data yang digunakan yaitu analisa jalur (path analysis). Hasil penelitiannya membuktikan bahwa CAR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA. Selain itu penelitian ini menunjukkan bahwa NPL, BOPO dan ROA berpengaruh signifikan terhadap Return Saham.

Secara ringkas review atas penelitian terdahulu dapat dilihat dalam Tabel 2.1 sebagai berikut ini:

Tabel 2.1

Review Penelitian Terdahulu

Nama Judul Penelitian Variabel Penelitian

Hutagalun

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep dibangun untuk menunjukkan hubungan pengaruh antar masing-masing variabel dalam suatu penelitian. Adapun Kerangka konsep pemikiran teoritis dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Loan Deposit Ratio

(LDR) (X1) Return On Equity

(ROE) (X2)

Non Performing Loan (NPL) (X3)

Ukuran Perusahaan (SIZE) (X6)

Return Saham (RS) (Y2)

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

(BOPO) (X5)

Return On Asset (ROA) (Y1)

Capital Adequacy Ratio (CAR) (X4)

3.1.1. Pengaruh Loan To Deposit Ratio terhadap Return Saham melalui Return On Asset

Loan to deposit ratio (LDR) merupakan rasio yang dipergunakan untuk melihat kemampuan bank dalam memenuhi tingkat kredit yang diminta dengan menggunakan dana pihak ketiga yang tertanam di bank tersebut. Calon investor cenderung menyukai perusahaan yang memiliki LDR yang tinggi, karena selain menunjukkan kemampuan bank tersebut dalam memberikan kredit kepada debitur dengan dana deposan yang ada, juga menunjukkan kemampuan bank untuk membayar kewajibannya. Peningkatan LDR berarti penyaluran dana ke pinjaman semakin besar sehingga laba akan meningkat. Peningkatan laba tersebut mengakibatkan kinerja bank yang diukur dengan return on asset (ROA) semakin tinggi.

Menurut SE BI No. 13/24/DPNP/ tanggal 25 Oktober 2011 standar LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah 85% sampai dengan 110%. Jika angka rasio LDR suatu bank berada pada angka dibawah 85% (misalkan 60%), maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut hanya dapat menyalurkan sebesar 60% dari seluruh dana yang berhasil dihimpun. Karena fungsi utama dari bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasio LDR 60% berarti 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkan kepada pihak yang membutuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa bank tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Kemudian jika rasio LDR bank mencapai lebih dari 110%, berarti total kredit yang diberikan bank tersebut melebihi dana yang dihimpun atau dengan kata lain dana yang dihimpun dari masyarakat lebih sedikit dibandingkan

dengan dana yang disalurkan kepada masyarakat yakni dalam bentuk kredit.

Semakin tinggi LDR menunjukkan semakin riskan kondisi likuiditas bank, sebaliknya semakin rendah LDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan kredit. Jika rasio LDR bank berada pada standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka laba yang diperoleh oleh bank tersebut akan meningkat (dengan asumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan efektif). Dengan meningkatnya laba, maka ROA juga akan meningkat, karena laba merupakan komponen yang membentuk ROA. Jika dihubungkan dengan return saham, kecendrungan yang terjadi adalah semakin tinggi LDR suatu bank maka akan semakin tinggi pula ROA dan pada akhirnya semakin tinggi pula return saham bank tersebut.

Penelitian yang berhubungan dengan kinerja keuangan perbankan dilakukan oleh Fadjar (2013) di mana penelitiannya membuktikan bahwa Loan Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Prasanjaya, A.A Yogi dan I Wayan Ramantha (2013) di mana penelitiannya membuktikan bahwa Loan Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset. Penelitian yang berkaitan antara Loan Deposit Ratio dengan Return Saham dilakukan oleh Khaddafi (2011) dimana hasil penelitiannya membuktikan bahwa Loan to Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap Return.

3.1.2. Pengaruh Return on Equity terhadap Return Saham melalui Return On Asset

Return On Equity merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan modal yang tersedia bagi pemegang saham suatu perusahaan (Fakhruddin dan Hadianto, 2001:65).

Perusahaan yang memperoleh profitabilitas tinggi menunjukkan perusahaan mampu menjaga stabilitas finansialnya untuk selalu berada dalam kondisi yang stabil dan profit. Rasio ini sangat penting untuk diperhatikan para pemegang saham, sebab akan berdampak pada harga saham serta dividen yang akan diterima (Fakhruddin dan Hadianto, 2001:64). Nilai Return On Equity yang semakin tinggi akan menunjukkan bahwa suatu perusahaan semakin efisien dalam menggunakan modal sendiri untuk dapat menghasilkan laba. Jika laba yang dihasilkan oleh perusahaan meningkat maka harga sahamnya akan naik. Harga saham sangat akan mempengaruhi return, dengan kata lain naiknya harga saham juga akan meningkatkan return saham yang di terima investor.

Penelitian yang berkaitan antara Return On Equity (ROE) dengan Return Saham dilakukan oleh Khaddafi (2011) dimana hasil penelitiannya membuktikan bahwa Return On Equity (ROE) berpengaruh signifikan terhadap Return.

3.1.3. Pengaruh Non Performing Loan terhadap Return Saham melalui Return On Asset

Non Performing Loan merupakan perbandingan antara total kredit bermasalah dengan total kredit yang diberikan kepada debitur. Suatu bank dikatakan mempunyai Non Performing Loan yang tinggi apabila banyaknya kredit yang bermasalah lebih besar daripada jumlah total seluruh kredit yang

diberikan kepada debitur. Non Performing Loan yang tinggi akan memperbesar biaya yakni biaya pencadangan penghapusan aktiva produktif, sehingga akan berpotensi terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin buruknya kualitas kredit bank tersebut dimana jumlah kredit yang bermasalah semakin besar sehingga bank harus menanggung kerugian dalam kegiatan operasionalnya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada laba yang akan diperoleh bank tersebut. Dengan demikin kenaikan Non Performing Loan mengakibatkan laba menurun, dengan menurunnya laba perusahaan maka akan berakibat pada menurunnya kinerja bank dan begitu pula sebaliknya.

Penelitian yang berhubungan dengan kinerja keuangan perbankan dilakukan oleh Hutagalung (2013) di mana penelitiannya membuktikan bahwa Non Performing Loan (NPL) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Penelitian yang berkaitan antara Non Performing Loan (NPL) dengan Return Saham dilakukan oleh Muhammad (2014) melakukan penelitian dimana hasil penelitiannya membuktikan bahwa Non Performing Loan (NPL) berpengaruh signifikan terhadap Return.

3.1.4. Pengaruh Capital Adequcy Ratio terhadap Return Saham melalui Return On Asset

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi dan mengontrol risiko-risiko yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank. Angka rasio CAR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah minimal 8%, jika rasio CAR sebuah bank berada dibawah 8% maka bank tersebut tidak mempunyai peluang

untuk memberikan kredit. Dengan CAR yang cukup atau memenuhi kententuan, bank tersebut dapat beroperasi sehingga terciptalah laba. Dengan kata lain semakin tinggi CAR semakin baik kinerja suatu bank. Besar kecilnya modal yang dimiliki sebuah bank dapat digunakan untuk memprediksi apakah bank tersebut akan mengalami kebangkrutan atau tidak pada masa yang akan datang. Jadi dapat disusun sebuah logika bahwa dengan tercukupinya permodalan bank, maka bank tersebut dapat menjalankan operasinya dengan efisien. Saat bank dikatakan efisien dalam menjalankan operasinya, maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut mempunyai kinerja yang bagus, sehingga potensi untuk mengalami kerugian dapat diminimalisir. Dengan semakin kecil kerugian yang dialami, maka dapat dipastikan laba yang diperoleh bank tersebut semakin meningkat, sehingga dengan semakin tinggi laba yang dapat dihasilkan maka pada akhirnya akan meningkatkan return saham yang akan diterima oleh investor.

Penelitian yang berhubungan dengan kinerja keuangan perbankan dilakukan oleh Muhammad (2014) di mana penelitiannya membuktikan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Penelitian yang berkaitan antara Capital Adecuacy Ratio (CAR) dengan Return Saham dilakukan oleh Wijaya (2012) melakukan penelitian dimana hasil penelitiannya membuktikan bahwa Capital Adecuacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan terhadap Return. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Khaddafi (2011) di mana penelitiannya membuktikan bahwa Capital Adecuacy Ratio (CAR) berpengaruh signifikan terhadap Return Saham.

3.1.5. Pengaruh Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return Saham melalui Return On Asset

Rasio ini untuk mengukur rata-rata biaya operasional dan biaya non operasional yang dikeluarkan bank untuk memperoleh pendapatan. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Dengan pengelolaan aktivitas

Rasio ini untuk mengukur rata-rata biaya operasional dan biaya non operasional yang dikeluarkan bank untuk memperoleh pendapatan. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Dengan pengelolaan aktivitas

Dalam dokumen PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN (Halaman 37-127)

Dokumen terkait