KAJIAN PUSTAKA 2.1 Investasi
2.4 Capital Asset Pricing Model (CAPM)
2.4.1 Capital Market Line (CML)
maupun asset riil (emas, real estate). Kenyataannya hal ini sulit dilakukan karena jumlahnya yang banyak sekali dan tidak mungkin diamati satu persatu. Proksi ini bisa diwakili oleh nilai indeks pasar berupa Indeks Pasar Gabungan (IHSG) ataupun LQ 45 (harga satuan sekuritas yang paling aktif) untuk kasus di Indonesia. Indeks pasar inilah yang digunakan sebagai portofolio pasar. Portofolio tersebut merupakan portofolio yang terdiri dari asset berisiko dan risiko portofolio akan diukur dengan
menggunakan nilai standar deviasi pasar (σm).
Menurut teori CAPM tingkat pendapatan yang diharapkan dari sekuritas dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Ks = Rf + β (E(Rm) – Rf)………(2.5) Keterangan :
Ks = tingkat pendapatan yang diharapkan dari suatu sekuritas yang mengandung risiko (required rate of return)
Rf = tingkat pendapatan bebas risiko
β = tolak ukur risiko yang tidak bisa terdiversifikasi dari surat berharga
E (Rm) = tingkat pendapatan yang diharapkan dari portofolio pasar (expected return)
E (Rm) – Rf = premi risiko
2.4.1 Capital Market Line (CML)
Tandelilin (2010 : 190) menyatakan bahwa garis pasar modal atau sering disebut CML (Capital Market Line) adalah garis yang menggambarkan hubungan antara return harapan dengan risiko total dari portofolio efisien pada pasar seimbang .
27
CML adalah garis yang menunjukkan semua kemungkinan kombinasi portofolio efisien yang terdiri dari aktiva-aktiva berisiko dan aktiva bebas risiko. Berdasarkan asumsi bahwa diversifikasi dapat mengurangi risiko, maka semakin banyak sekuritas dalam portofolio semakin kecil risiko dan oleh karena masing-masing sekuritas dalam portofolio tidak mungkin mempunyai koefisien korelasi negatif sempurna (-1), maka risiko tidak dapat dihilangkan.
Gambar 2.1 Grafik Capital Market Line
Portofolio yang hanya berisi aktiva tidak berisiko, maka risiko portofolio akan
sama dengan nol ( σp = 0) dengan ekspektasi return sebesar Rf dan jika portofolio terdiri dari aktiva berisiko dan aktiva tidak berisiko maka risiko portofolio adalah
sebesar σm dengan ekspektasi return sebesar E (Rm). Selisih antara Rf dengan E(Rm) merupakan premium risiko yaitu tambahan ekspektasi return portofolio atau
28
menanggung risiko yang lebih besar yaitu sebesar σm. Kemiringan atau slope dari CML adalah harga pasar dari risiko :
Slope CML = {E(Rm)- Rf}/ σm………(2.6)
Tambahan return portofolio yang mempunyai risiko sebesar σp adalah :
Tambahan E(Rp) = [{E(Rm)-Rf}/σm].σp………..(2.7) Total ekspektasi return portofolio (E(Rp)) adalah tambahan ekspektasi return portofolio ditambah dengan return bebas risiko (Rf), dapat ditulis sebagai berikut : E (Rp) = CML = Rf + [{E(Rm)-Rf}/σm].σp………..…(2.8) Berdasarkan asumsi bahwa diversifikasi dapat menurunkan risiko dan bahwa pasar adalah kumpulan semua sekuritas yang ada, maka diyakini bahwa portofolio pasar adalah portofolio yang paling efisien sehingga semua investor akan berinvestasi di portofolio pasar, karena asumsi harapan yang seragam.
2.4.2Garis Pasar Sekuritas (Security Market Line)
Tandeilin (2010:194) menyatakan bahwa garis pasar sekuritas atau sering disebut SML (Security Market Line) adalah garis yang menghubungkan antara tingkat return harapan dari suatu sekuritas dengan risiko sistematis (beta). SML digunakan untuk menilai sekuritas secara individual pada kondisi pasar yang seimbang, yaitu menilai tingkat return yang diharapkan dari suatu portofolio yang efisien, pada suatu tingkat risiko portofolio yang efisien tertentu (σp).
29
Jika CML menggambarkan trade-off antara risiko dan ekspektasi return untuk portofolio efisien, maka garis lain yang menunjukkan trade-off antara risiko dan ekspektasi return untuk sekuritas individual disebut Garis Pasar Sekuritas atau sering disebut dengan Security Market Line (SML). Pada CML tambahan ekspektasi return portofolio terjadi akibat adanya tambahan risiko dari portofolio yang bersangkutan, pada SML tambahan risiko individual diukur dengan beta (β).
Gambar 2.2 Grafik Security Market Line
Beta menentukan tambahan ekspektasi return untuk sekuritas individual dengan alasan bahwa untuk portofolio yang didiversifikasikan dengan sempurna, risiko tidak sistematis cenderung hilang dan risiko yang relevan hanyalah risiko yang sistematis yang diukur dengan beta. Beta merupakan ukuran risiko sistematis suatu sekuritas yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Beta juga menunjukkan sensitivitas return sekuritas terhadap perubahan pasar.
30
Penelitian yang dilakukan oleh Susrama (2011) berjudul ”Studi Komparatif Kinerja Portofolio Saham dengan Kinerja Reksadana Saham di Pasar Modal Indonesia” membandingkan kinerja antara portofolio saham undervalued dan portofolio saham overvalued periode pembentukan serta membandingkannya dengan kinerja reksa dana pilihan menunjukkan bahwa portofolio saham undervalued menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kinerja portofolio saham overvalued. Kinerja portofolio saham undervalued juga sedikit lebih baik dengan kinerja reksa dana saham pilihan.
Penelitian dari Knox (2011) yang berjudul “Examining CAPM in Today’s Market” menyimpulkan bahwa CAPM bekerja dengan baik karena memiliki perbedaan nilai mean dan median yang kecil dan konsisten antara garis yang dimunculkan oleh CAPM dan garis sesungguhnya pada portofolio hipotesis yang dibuat. CAPM juga akan dapat digunakan selama portofolio yan dibentuk terdiversifikasi dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Raza et al (2011) pada Karachi Stock Exchange juga memaparkan bahwa CAPM merupakan model prediktor yang akurat bagi expected return. Choudhary and Choudhary (2010) yang meneliti Indian Equity Market menyatakan bahwa beta CAPM bukan faktor tunggal yang dapat menjelaskan excess return portofolio. Penolakan penggunaan CAPM juga dinyatakan oleh Ushad (2011) bahwa CAPM tidak dapat digunakan sebagai prediktor expected return pada Stock Exchange Mauritius.
31
Penelitian yang dilakukan oleh Dede dan Umi (2008) untuk menguji kemampuan model Fama dan French tiga faktor dalam menjelaskan return portofolio dibandingkan CAPM dengan menggunakan emiten yang terdaftar dalam LQ-45 dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAPM lebih mampu menjelaskan return portofolio dibandingkan model Fama dan French tiga faktor.
Penelitian lain yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara risiko dan return menggunakan CAPM adalah penelitian yang dilakukan oleh Theriou et al (2010) yang berjudul “Testing the relation between beta and returns in the Athens Stock Exchange” . Berdasarkan penelitian tersebut di Bursa Efek Athena tidak terdapat hubungan yang sesuai dengan teori CAPM mengenai risiko dan return.