• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

3.5 Metode Kato-Katz

3.5.2 Cara Kerja Penelitian

1. Cara membuat larutan kato

Yang dimaksud dengan Larutan Kato adalah cairan yang dipakai untuk merendam/memulas selofan (cellophane tape) dalam pemeriksaan tinja terhadap telur cacing.

a. Untuk membuat Larutan Kato diperlukan campuran dengan perbandingan: Aquadest 100 bagian, Glycerin 100 bagian dan Larutan malachite green 3% sebanyak 1 bagian.

b. Timbang malachite green sebanyak 3 gram, masukkan ke dalam botol/beker glass dan tambahkan aquadest 100 cc sedikit demi sedikit lalu aduk/kocok sehingga homogen, maka akan diperoleh larutan malchite green 3%.

c. Masukkan 100 cc aquadest ke dalam baskom plastik kecil, lalu tambahkan 100 cc glycerin sedikit demi sedikit dan tambahkan 1 cc larutan malachite green 3%, lalu aduk sampai homogen. Maka akan didapatkan Larutan Kato 201 cc.

2. Cara merendam / memulas selofan (cellophane tape)

a. Buatlah bingkai kayu segi empat sesuai dengan ukuran baskom plastik kecil.

b. Lilitkan selofan pada bingkai tersebut.

c. Rendamlah selama kurang lebih 18 jam dalam Larutan Kato.

d. Pada waktu akan dipakai, guntinglah selofan yang sudah direndam sepanjang 3 cm.

3. Cara pemeriksaan kualitatif

Hasil pemeriksaan tinja kualitatif berupa positif atau negatif cacingan. Prevalensi cacingan dapat berupa prevalensi seluruh jenis cacing atau per jenis cacing. Cara membuat preparat:

• Ambillah tinja dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakkan di atas gelas obyek.

• Tutup dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato, dan ratakan tinja di bawah selofan dengan tutup botol karet atau gelas obyek.

• Biarkan sediaan selama 20-30 menit.

• Periksa dengan pembesaran lemah 100 x (obyektif 10 x dan okuler 10 x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x (obyektif 40 x dan okuler 10 x).

• Hasil pemeriksaan tinja berupa positif atau negatif tiap jenis telur cacing.

3.6 METODE KONSENTRASI FORMOL ETER 3.6.1 Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang dibutuhkan adalah, sebagai berikut : a. Mikroskop

h. Aplikator yang terbuat dari kayu

i. Penyaring-kawat, terbuat dari kuningan, dengan 40 lubang (425 Ilm), diameter 7,2 cm (supaya tidak terlalu mahal, dapat juga digunakan saringan-kopi yang terbuat dari nilon)

j. Cawan atau gelas piala kecil, terbuat dari porselen atau logam tahan-karat

k. Pipet Pasteur

l. Larutan formalin 10% (100 ml larutan formaldehid 37% dalam 900 ml air suling)

m. Eter atau etil asetat.

3.6.2 Cara Kerja Penelitian Cara Kerja :

1. Dengan aplikator, ambil sedikit (kira-kira 0,5 g) feses pada permukaan dan bagian dalam spesimen feses.

5. Pindahkan filtrat ke dalam tabung reaksi besar. Tambahkan 3 ml eter (atau etil asetat).

6. Sumbat tabung dan kocok hingga isinya tercampur merata.

7. Pindahkan kembali hasil suspensi ke tabung centrifuge dan lakukan sentrifugasi pada 2000 g selama 1 menit.

8. Bersihkan gumpalan lemak menggunakan aplikator dan buang supernatan dengan cara membalik tabung secara cepat.

9. Biarkan cairan yang tersisa di dinding tabung mengalir memicu endapan. Selanjutnya, kocok hingga merata. Dengan pipet, pindahkan setetes cairan tersebut ke atas kaca objek dan tutup dengari penutup kaca objek.

10. Gunakan objektif x10 dan x40 untuk mengamati telur dan kista dalam keseluruhan lapangan pandang preparat pada penutup kaca objek tersebut.

3.7 KUESIONER

Pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner meliputi beberapa kategori berikut:

1) Kebiasaan mencuci tangan 2) Lokasi buang air besar 3) Kematangan air minum

4) Kebiasaan menggunting kuku 5) Kebiasaan menggigit kuku

6) Kebiasaan menggunakan alas kaki 7) Kebiasaan mandi

8) Kebersihan buah yang dimakan

Terdapat 10 pertanyaan dan dinilai berdasarkan skor. Skor jawaban selalu adalah 3, skor jawaban kadang-kadang adalah 2, dan skor jawaban tidak pernah adalah 1. Ada beberapa pertanyaan untuk jawaban tidak pernah skornya adalah 3 dan jawaban selalu skornya adalah 1. Maka penilaian higiene personal dikategorikan sebagai berikut (Pratomo, 1990):

a) Nilai baik, apabila responden mendapat nilai 76%-100% dari penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara;

2. Setelah mendapat surat izin dari komite etik, penulis membuat surat izin penelitian dan mengirimkannya kepada pihak sekolah;

3. Bertemu dengan kepala sekolah;

4. Meminta dan mendapat izin dari siswa dan orang tua siswa;

5. Mengumpulkan spesimen feses dan membagikan kuesioner untuk diisi langsung oleh siswa;

6. Mempersiapkan alat dan bahan untuk penelitian;

7. Membuat sediaan tinja;

8. Memeriksa sediaan tinja yang telah dibuat;

9. Melakukan analisis data;

10. Melakukan laporan analisis data.

3.9 METODE ANALISIS DATA

Data yang telah diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solution) dan disajikan dalam bentuk tabel dengan tujuan untuk mengetahui hubungan infeksi parasit usus dengan higiene personal.

Analisis data yang dimaksud adalah analisis bivariat. Analisa bivariat digunakan untuk menyatakan analisis terhadap dua variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Pada penelitian analisa bivariat ini, uji yang digunakan adalah uji korelasi chi square. Bivariat yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

1. Variabel dependen yang dimaksud adalah infeksi parasit usus.

2. Variabel independen yang dimaksud adalah higiene pribadi.

3.10 DEFINISI OPERASIONAL

Kuesioner Angket a. Nilai baik, apabila responden mendapat

2 Parasit Usus Parasit usus adalah parasit yang hidup di

3 STH (Telur):

SDN 060889, SDN 060894, dan SDN 060831. SDN 060831 terletak di Jl. Sei Batang Hari no. 42 Kecamatan Medan Sunggal, sedangkan SDN 060889 dan SDN 060894 terletak di Jl. Jamin Ginting no. 303 Kecamatan Medan Baru.

Responden dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 4, 5 dan 6 yang memenuhi kriteria inklusi yang berjumlah sebanyak 62 orang.

Dari keseluruhan responden yang ada, diperoleh data mengenai karakteristiknya meliputi asal sekolah dasar, jenis kelamin dan tingkatan kelas.

Berikut ini merupakan tabel karakteristik responden penelitian:

Tabel 4.1 Distribusi karakteristik responden.

No Karakteristik Responden Frekuensi (n) Persentase (%) 1 Sekolah Dasar

Dari tabel 4.1 di atas, dapat dilihat bahwa jumlah responden yang berasal dari SDN 060889 berjumlah 16 orang (25,80%), SDN 060894 berjumlah 23 orang (37,09%), dan SDN 060831 berjumlah 23 orang (37,09%). Dari total 62 siswa-siswi dalam penelitian ini, responden berjenis kelamin laki-laki 27 orang (43,55%) dan berjenis kelamin perempuan 35 orang (56,45%). Dan dari 62 responden penelitian, terdapat 26 orang (41,93%) siswa kelas 4, 22 orang (35,48%) siswa kelas 5, dan 14 orang (22,58%) siswa kelas 6.

Pada penelitian ini, dalam lembar kuesioner terdapat 10 pertanyaan mengenai higiene personal responden dalam kaitannya dengan infeksi parasit usus.

Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya sehingga pertanyaan tersebut dapat mewakili higiene personal responden berkaitan dengan infeksi parasit usus. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi jawaban kuesioner responden pada variabel higiene personal dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi jawaban higiene personal responden.

No Pertanyaan Selalu

Kadang-Kadang

Tidak Pernah

N % N % N %

1 Adik selalu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan

32 51,61 29 46,77 1 1,61

2 Adik menggunakan toilet/WC ketika buang air besar

54 87,09 8 12,90 0 0

3 Adik mencuci tangan menggunakan sabun setelah buang air besar

43 69,35 14 22,58 5 8,06

4 Adik meminum air minum yang telah dimasak terlebih dahulu

40 64,52 20 32,26 2 3,22

5 Adik menggunting kuku secara teratur

31 50 24 38,72 7 11,29

6 Adik suka menggigit kuku jari tangan 8 12,90 20 32,36 34 54,84 7 Adik menggunakan sandal/sepatu saat

keluar rumah

49 79,03 12 19,35 1 1,61

8 Adik mandi sebelum berangkat sekolah

48 77,42 12 19,35 2 3,22

9 Adik mencuci buah-buahan sebelum dimakan

41 66,13 18 29,03 3 4,84

10 Adik mencuci tangan setelah bermain dengan tanah

41 66,13 18 29,03 3 4,84

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa pertanyaan higiene personal yang paling banyak dijawab dengan “selalu” oleh responden adalah pertanyaan nomor 2 yaitu penggunaan toilet/WC ketika buang air besar, sebesar 87,09%. Pertanyaan higiene personal yang paling banyak dijawab dengan

“kadang-kadang” adalah pertanyaan nomor 1 mengenai mencuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan, yaitu sebesar 46,77%.

Sedangkan pertanyaan higiene personal yang paling banyak dijawab dengan

“tidak pernah” adalah pertanyaan nomor 6 tentang kebiasaan menggigit kuku jari tangan, yaitu sebesar 54,84%.

Dari tabel 4.2 juga dapat dilihat bahwa mayoritas responden selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan, setelah buang air besar, dan setelah bermain dengan tanah, yaitu masing-masing sejumlah 32 orang (51,61%), 43 orang (69,35%), dan 41 orang (66,13%). Mayoritas responden juga selalu menggunakan toilet/WC ketika buang air besar dan meminum air minum yang telah dimasak terlebih dahulu masing-masing sebanyak 54 orang (87,09%) dan 40 orang (64,52%). Mayoritas responden juga selalu menggunting kuku secara teratur dan tidak suka menggigit kuku jari tangan, masing-masing 31 orang (50%) dan 34 orang (54,84%). Selain itu mayoritas responden juga selalu menggunakan alas kaki saat keluar rumah, mandi sebelum berangkat sekolah, dan selalu mencuci buah-buahan sebelum di makan dengan jumlah masing-masing 49 orang (79.03%), 48 orang (77,42%), dan 41 orang (66,13%).

Penilaian higiene personal dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2, yaitu baik dan buruk. Seorang responden dikatakan memiliki higiene personal baik bila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 76,00% dari total nilai dan buruk jika memperoleh nilai kurang atau sama dengan 75,00%. Berdasarkan hal tersebut maka higiene personal responden penelitian dapat dikategorikan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi higiene personal responden berdasarkan asal sekolah.

Higiene Personal

Sekolah Dasar Total

SDN 060889 SDN 060894 SDN 060831

n % n % n % N %

Baik 13 20,97 16 25,81 17 27,42 46 74,19

Buruk 3 4,84 7 11,29 6 9,68 16 25,80

Total 16 25,81 23 37,10 23 37,10 62 100

Dari tabel 4.3 di atas, dapat dilihat bahwa mayoritas higiene personal responden dalam kategori baik dengan persentase 74,19% dan higiene personal yang dikategorikan buruk sebesar 25,80%. SD dengan angka higiene personal baik tertinggi terdapat pada SDN 060831 (27,42%) dan SD dengan angka higiene personal buruk tertinggi terdapat pada SDN 060894 (11,29%).

Pada penelitian ini juga dilakukan pemeriksaan feses responden untuk mengidentifikasi apakah responden terinfeksi parasit usus atau tidak. Data lengkap mengenai distribusi frekuensi infeksi parasit usus pada responden dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Prevalensi infeksi parasit usus pada responden berdasarkan asal sekolah.

Infeksi Parasit Usus

Sekolah Dasar Total

SDN 060889 SDN 060894 SDN 060831

N % n % n % N %

Positif 4 6,45 9 14,52 13 20,97 26 41,93

Negatif 12 19,35 14 22,58 10 16,13 36 58,06

Total 16 25,80 23 37,10 23 37,10 62 100

Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa responden yang positif terinfeksi parasit usus memiliki persentase sebesar 41,93% dan yang negatif terinfeksi parasit usus sebesar 58,06%. Angka prevalensi tertinggi terdapat pada SDN 060831. Ketiga SD pada penelitian ini sama-sama sudah memiliki lantai pada lapangan sekolahnya, akan tetapi pada SDN 060889 dan SDN 060894 di atas lantainya banyak ditutupi oleh tanah, sedangkan SDN 060831 tidak ditutupi oleh tanah, dimana diketahui tanah merupakan salah satu risiko penularan infeksi STH. Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus dan Sungkar (2012) terhadap anak sekolah dasar di Bantargebang, Bekasi, dari total 121 responden, terdapat 75 responden positif infeksi parasit usus (62%) dan sebanyak 46 responden yang negatif parasit usus (38%). Prevalensi kecacingan yang cukup tinggi juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Surbakti (2015) pada anak usia

sekolah dasar di Desa Bagan Kuala Pemkab. Serdang Bedagai yaitu sebesar 75%.

Hasil penelitian diatas menunjukkan persentase yang lebih tinggi daripada yang ditemukan di penelitian ini. Perbedaan nilai prevalensi pada penelitian di atas dikarenakan perbedaan faktor risiko pada setiap penelitian. Faktor risiko yang paling berhubungan adalah sanitasi lingkungan, tingkat higiene, dan tingkat pekerjaan orang tua (Daud, 2012) .

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi infeksi parasit usus pada responden berdasarkan jenis STH dan protozoa usus.

Jenis Infeksi Frekuensi (n) Persentase (%)

STH

Ascaris lumbricoides 10 38,46

Trichuris trichiura 3 11,54

Hookworm 3 11,54

Total 16 61,54

Protozoa

Giardia lamblia 0 0,00

Blastocystis hominis 2 7,69

Entamoeba coli 1 3,85

Entamoeba histolytica 0 0,00

Total 3 11,54

Campuran

Campuran: Ascaris lumbricoides + Hookworm 1 3,85

Campuran: Ascaris lumbricoides + Entamoeba coli 1 3,85 Campuran: Ascaris lumbricoides + Blastocystis

hominis

1 3,85

Campuran: Trichuris trichiura + Blastocystis hominis 1 3,85 Campuran: Trichuris trichiura + Giardia lamblia 1 3,85

Campuran: Trichuris trichiura + Entamoeba coli 1 3,85

Campuran: Ascaris lumbricoides + Hookworm + Entamoeba coli

1 3,85

Ttotal 7 26,92

Total 26 100

Dari tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa dari 26 orang (41,93%) responden yang positif terinfeksi parasit usus, mayoritas disebabkan oleh infeksi STH (61,54%), diikuti infeksi campuran STH dan protozoa usus (26,92%), dan infeksi tunggal protozoa usus sebesar 11,54%, dengan perincian 10 orang (38,46%) terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides, 3 orang (11,54%) terinfeksi cacing Trichuris trichiura, 3 orang (11,54%) terinfeksi cacing hookworm, 3 orang (11,45%) terinfeksi protozoa Blastocystis hominis, 2 orang (7,69%) terinfeksi

protozoa Entamoeba coli, 1 orang (3,85%) menderita infeksi campuran Ascaris lumbricoides dan hookworm, 1 orang (3,85%) menderita infeksi campuran Ascaris lumbricoides dan Blastocystis hominis, 1 orang (3,85%) menderita infeksi campuran Ascaris lumbricoides dan Entamoeba coli, 1 orang (3,85%) menderita infeksi Trichuris trichiura dan Giardia lamblia, 1 orang (3,85%) menderita infeksi campuran Trichuris trichiura dan Blastocystis hominis, 1 orang (3,85%) menderita infeksi campuran Trichuris trichiura dan Entamoeba coli, dan terdapat 1 orang (3,85%) yang menderita infeksi campuran Ascaris lumbricoides, hookworm, dan Entamoeba coli. Pada penenlitian ini tidak ditemukan responden yang terinfeksi protozoa Entamoeba histolytica. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Tangel et al. (2016) pada anak sekolah dasar di pesisir pantai Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan parasit usus (STH dan protozoa usus) yang dilakukan terhadap 129 responden, infeksi terbanyak disebabkan oleh cacing tambang yaitu sebanyak 4,7%, diikuti infeksi Entamoeba coli dan Giardia lamblia masing-masing sebesar 3,9%, dari total 20 sampel positif (15,5%). Hasil yang berbeda juga ditemukan dalam penelitian Simatupang et al. (2013) terhadap anak usia prasekolah di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya, dimana hasil yang didapat didominasi oleh temuan protozoa usus yaitu infeksi Balantidium coli sebesar 25,7%, Entamoeba coli sebesar 11,4% dan infeksi Giardia lamblia sebesar 2,9%, sedangkan cacing usus tidak ditemukan pada pemeriksaan tersebut.

Variabilitas temuan pada tiap penelitian ditentukan oleh banyak faktor, beberapa kemungkinan diantaranya adalah faktor geografis dan faktor cuaca/iklim yang sesuai untuk perkembangan parasit usus (STH).

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi infeksi parasit usus pada responden berdasarkan jenis kelamin.

Dari tabel 4.6 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas responden yang terinfeksi

parasit usus berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 18 responden dari total 26 responden yang positif terinfeksi parasit usus. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Firdaus dan Sungkar (2012) pada anak sekolah dasar di Bekasi, yang menemukan bahwa responden berjenis kelamin laki-laki lebih banyak terinfeksi parasit usus dibanding perempuan yaitu sebanyak 40 (53,3%) dari 75 responden.

Hal ini kemungkinan disebabkan responden perempuan lebih banyak dibandingkan responden laki-laki pada penelitian ini.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara higiene personal responden dengan kejadian infeksi parasit usus, kemudian data yang terkumpul diolah menggunakan uji Chi-Square yang dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 4.7 Hubungan higiene personal dengan kejadian infeksi parasit usus pada responden.

Higiene memiliki higiene personal baik, terdapat 12 orang (19,35%) positif infeksi parasit usus dan 34 orang (54,84%) negatif infeksi parasit usus. Sementara dari 16 responden yang memiliki higiene personal buruk, terdapat 14 orang (22,58%) positif infeksi parasit usus dan 2 orang (3,22%) negatif infeksi parasit usus. Dari hasil uji Chi-Square (X2) diperoleh p = 0,000 (p < 0,05) artinya terdapat hubungan signifikan antara higiene personal reponden dengan kejadian infeksi parasit usus pada penelitian ini.

Beberapa faktor yang diamati peneliti yang mungkin berperan dalam infeksi parasit usus pada penelitian ini, seperti keberadaan kawasan yang memiliki tanah di lapangan sekolah SDN 060889 dan SDN 060894. Siswa-siswi SD tersebut sering bermain di lapangan sewaktu jam istirahat yang menyebabkan kemungkinan terjadinya transmisi penyakit akan lebih besar. Kemudian faktor lain yang mungkin berpengaruh adalah siswa-siswi di SDN 060889 dan SDN

060894 diwajibkan untuk membersihkan sekolah dengan memungut beberapa sampah atau mencabut rumput yang terdapat di lingkungan sekolah mereka sebelum memasuki kelas, tanpa mencuci tangan setelahnya. Kondisi sanitasi di ketiga lingkungan sekolah juga terlihat tidak terkelola dengan baik. Sekolah-sekolah tersebut memiliki fasilitas yang memadai seperti toilet/WC, sehingga siswa-siswi memiliki tempat untuk buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB). Namun, kebersihan toilet tersebut tampaknya tidak terjaga dengan baik, kondisinya kotor serta banyak pintu toilet dalam kondisi rusak sehingga mengundang lalat ke dalam karena mencium bau dari dalam toilet. Kondisi tempat sampah yang tidak tertutup dan masih terdapat beberapa sampah disekitarnya. Kemudian banyak jajanan yang dijual di sekitaran sekolah tersebut dan dekat dengan tumpukan sampah. Disisi lain, kesadaran diri para siswa-siswi mengenai higiene personal masih bisa dikatakan cukup rendah, hal ini tampak dari pakaian yang kurang bersih, kuku yang panjang dan kotor, tidak mencuci tangan setelah bermain di tanah, dan membeli jajan sembarangan.

Hasil pada penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Simorangkir (2015) pada siswa SDN 060925 Kecamatan Medan Amplas dengan hasil analisi bivariat p = 0,008. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara higiene personal dengan kejadian infeksi parasit usus. Penelitian oleh Surbakti (2015) di Serdang Bedagai juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara higiene perorangan pada anak usia sekolah terhadap kejadian infeksi cacing STH, dimana cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan merupakan perilaku higiene yang paling berpengaruh. Hubungan yang signifikan antara higiene dengan infeksi parasit usus juga ditemukan pada penelitian Umra (2011) mengenai kejadian askariasis pada anak SD Negeri 068426 Belawan. Variabel higiene personal juga ditemukan sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya infeksi kecacingan pada penelitian yang dilakukan oleh Jalaluddin (2009) pada murid SD Negeri di Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Baharuddin (2011), menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan dengan kejadian

kecacingan pada Murid SD di Kecamatan Mereubo Kabupaten Aceh Barat, dengan variabel tindakan sebagai yang paling berpengaruh terhadap kejadian kecacingan pada Murid di SD tersebut. Hasil yang sama ditunjukkan pada penelitian Hardiyanti dan Umniyati (2017) pada anak sekolah dasar di tepi Sungai Batanghari Jambi, yaitu terdapat hubungan antara faktor risiko berupa tindakan anak tentang kebersihan yang kurang dengan kejadian infeksi parasit usus. Penelitian Yulianto (2007) menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara higiene personal yaitu kebiasaan mencuci tangan dan kebiasaan memotong kuku dengan kejadian penyakit kecacingan pada siswa Sekolah Dasar Negeri Rowosari 01 Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Putri (2017) terhadap siswa SDN 05 Ranomeeto Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan, ditemukan hubungan yang signifikan antara higiene perorangan dengan infeksi Ascaris lumbricoides pada siswa SD 5 Ranomeeto, khususnya pada aspek kebersihan kuku dan penggunaan alas kaki. Selain itu, pada penelitian Waqiah (2010) pada pemulung anak usia sekolah dasar di TPA Antang Makassar, juga ditemukan hubungan signifikan antara higiene perorangan dengan kejadian infeksi kecacingan. Penelitian Simatupang et al. (2013) menunjukkan faktor perilaku higiene personal yang berpengaruh pada infeksi parasit usus pada anak usia 3 - 6 tahun adalah tidak mencuci tangan sebelum makan, kebiasaan tidak memotong kuku 1 kali/minggu, kebiasaan menggigit kuku atau menghisap jari dan kebiasaan tidak menutup makanan yang disajikan. Pada penelitian Sipayung (2017) ditemukan adanya hubungan signifikan antara higiene personal dengan infeksi STH pada pengrajin batu bata di Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang. Hubungan yang signifikan antara higiene personal dengan infeksi STH juga ditemukan oleh Narulita (2018) pada penelitian terhadap petugas pengangkut sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari, Jumantono, Kab. Karanganyar. Penelitian Schmidlin et al. (2013) di Taabo, Côte d’Ivoire, Afrika Selatan, menemukan bahwa perilaku higiene dan sanitasi yang inadekuat berhubungan dengan infeksi STH dan protozoa intestinal. Sehingga dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa higiene personal merupakan suatu faktor yang berhubungan dengan

kejadian infeksi parasit usus, meskipun dalam rentang usia dan pekerjaan yang berbeda, serta daerah geografis yang berbeda.

Dari hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, yaitu:

1. Prevalensi infeksi parasit usus pada penelitian ini adalah sebesar 41,93%, dengan prevalensi infeksi STH sebesar 16%, prevalensi infeksi protozoa usus sebesar 3%, dan infeksi campuran STH + protozoa usus sebesar 7%.

2. Prevalensi infeksi STH yakni Ascaris lumbricoides sebesar 38,46%, Trichuris trichiura dan hookworm masing-masing sebesar 11,54%.

3. Prevalensi infeksi protozoa usus yakni Blastocystis hominis sebesar 7,69% dan Entamoeba coli sebesar 3,85%.

4. Prevalensi infeksi campuran STH dan protozoa usus (Ascaris lumbricoides + hookworm, Ascaris lumbricoides + Blastocystis hominis, Ascaris lumbricoides + Entamoeba coli, Trichuris trichiura + Giardia lamblia, Trichuris trichiura + Blastocystis hominis, Trichuris trichiura + Entamoeba coli, Ascaris lumbricoides + hookworm + Entamoeba coli) masing-masing sebesar 3,85%.

5. Terdapat 16 (25,80%) responden dengan higiene personal yang tergolong ke dalam kategori buruk dan 46 (74,19%) responden dengan higiene personal yang tergolong ke dalam kategori baik.

6. Terdapat hubungan bermakna antara higiene personal dengan kejadian infeksi parasit usus pada penelitian ini.

6.2 SARAN

1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan, perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang infeksi parasit usus untuk meningkatkan pengetahuan dalam upaya pencegahan penyakit infeksi parasit usus anak. Pemeriksaan kecacingan pada anak sejak dini serta pengolahan lingkungan hidup juga sangat penting untuk diperhatikan ke depannya. Selain itu, pemberian

obat cacing secara berkala sangat dibutuhkan dalam rangka pencegahan kecacingan pada anak. Dengan upaya tersebut diharapkan prevalensi kecacingan akan menurun sehingga kualitas, kecerdasan, dan produktivitas anak meningkat.

2. Bagi pihak sekolah, diharapkan mampu melakukan program pembinaan tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) untuk menghindari terjadinya infeksi kecacingan, selain itu sanitasi lingkungan sekolah dan fasilitas sekolah seperti toilet/WC agar lebih ditingkatkan kebersihannya.

3. Bagi orang tua, diharapkan turut berperan dalam mengajarkan pola hidup bersih yang sederhana kepada anak-anak, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah tempat anak tinggal.

DAFTAR PUSTAKA

Babady, E. & Pritt, B. S., 2018, Tietz Textbook of Clinical Chemistry and Molecular Diagnostics, ed. 6, Elsevier, United States of America.

Baharuddin, 2011, Pengaruh Perilaku Higiene terhadap Kejadian Kecacingan pada Murid Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Meurebo Kabupaten Aceh Barat, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Brooks, G. F., Carroll, K. C., Butel, J. S., Morse, S. A., & Mietzner, T. A., 2010, Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, & Adelberg, Ed. 25, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Carroll, K. C., Hobden, J. A., Miller, S. Morse, S. A., Mietzner, T. A., Detrick, B.

Mitchell, T. G., McKerrow, J. H., & Sakanari, J. A., 2016, Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology Twenty-Seventh Edition, McGraw-Hill Education E-books, United States of America.

Mitchell, T. G., McKerrow, J. H., & Sakanari, J. A., 2016, Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology Twenty-Seventh Edition, McGraw-Hill Education E-books, United States of America.

Dokumen terkait