II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2.2 Cara Mengembangkan Kesadaran
Sunny dan Hor (2008:46) menyatakan bahwa mengembangkan kesadaran diri dapat dilakukan dengan cara menganalisis diri, yang dilakukan dengan cara merefleksikan diri (pikiran dan perasaan), yang meliputi :
1. Perilaku
Yakni motivasi, pola berpikir, pola tindakan dan pola interaksi dalam relasi dengan orang lain.
2. Kepribadian
Yakni kondisi karakter atau temperamen diri yang relatif stabil sebagai hasil bentukan faktor sosial, budaya dan lingkungan sosial.
3. Sikap
Yakni cara respon seseorang terhadap stimulus objek luar tertentu (menyenangkan atau tidak menyenangkan).
4. Persepsi
Yakni suatu proses ketika seseorang menyerap informasi dengan panca indera kemudian memberikan pemaknaan atau penilaian.
2.3 Persepsi
Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern. Menurut Schiffman dan Kanuk (2000:146)persepsi merupakan suatu proses yang membuat seseorang untuk memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan rangsangan - rangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran yang berarti dan lengkap tentang dunianya.
Sedangkan Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Setiap individu mempunyai kecenderungan dalam melihat objek yang sama dengan cara yang berbeda – beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandang (Wardi, 2006: 118).
Sumarwan (2003:70) menyebutkan tahap pemaparan, perhatian dan pemahaman sebagai persepsi, dimana persepsi ini bersama dengan memori akan mempengaruhi pengolahan informasi. Persepsi setiap individu terhadap suatu obyek akan berbeda – beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat yang
subyektif yang sangat dipengaruhi oleh pikiran seseorang dan lingkungan yang membentuknya.
Setiadi (2003:161-166) menjelaskan bahwa proses pembentukan persepsi diantaranya sebagai berikut :
1. Seleksi Persepsi
Seleksi persepsi terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan psychological (berbagai informasi yang ada di dalam memori) yang dimiliki oleh konsumen. Stimulus akan diterima oleh indera penerima konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, stimulus harus mendapatkan perhatian dari konsumen terlebih dahulu.
Tidak semua stimulus yang dipaparkan dan diterima konsumen akan memperoleh perhatian konsumen dikarenakan konsumen memiliki keterbatasan sumber daya pemikiran untuk mengolah semua informasi yang diperolehnya. Oleh karena itu konsumen melakukan seleksi terhadap setiap informasi dan stimulus yang diterimanya.
2. Pengorganisasian Persepsi
Pengorganisasian persepsi berarti proses ketika konsumen mengelompokkan informasi dari berbagai sumber kedalam pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan bertindak atas sebuah pemahaman. Pengorganisasian ini akan mempermudah untuk memproses informasi dan memberikan pengertian yang terintegrasi serta evaluasi terhadap stimulus.
3. Interpretasi Persepsi
Proses terakhir dari pembentukan persepsi adalah memberikan interprestasi atas stimulus yang diterima konsumen. Setiap stimulus yang diterima oleh konsumen baik disadari ataupun tidak disadari akan diinterpretasikan oleh konsumen. Interpretasi tersebut didasarkan pada pengalaman penggunaan suatu produk pada masa lalu, dimana pengalaman tersebut tersimpan dalam memori jangka panjang konsumen.
Pada proses ini konsumen membuka kembali berbagai informasi dalam memori jangka panjangnya (long term memory) yang akan membantu konsumen melakukan evaluasi atas berbagai stimulus. Tahap inilah yang disebut persepsi konsumen terhadap obyek atau citra produk (product images) sebagai output dari penerimaan konsumen terhadap stimulus. Proses pembentukan persepsi secara terperinci dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini.
Gambar 4 Proses Pembentukan Persepsi
Sumber : Setiadi (2003:161-166)
Setiap individu akan memandang pada satu objek yang sama tetapi akan mempersepsikannya secara berbeda. Sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang menurut Robbin (1996:124-128) yaitu pelaku persepsi, target
Stimulus (Penglihatan, bau, rasa)
Indra Penerima Seleksi Pengorganisasian Persepsi Interpretasi Persepsi
dan situasi. Faktor – faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang secara terperinci dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Sumber : Robbin (1996:124-128)
a. Pelaku Persepsi
Setiap individu sebagai pelaku persepsi dalam proses pembentukan persepsi akan dilatar belakangi oleh kemampuan individu untuk mempelajari
Motif Pengalaman
Harapan Hal yang baru
Suara Ukuran Latar belakang Kesamaan Kedekatan Waktu Objek Kebiasaan Pelaku Persepsi Target Situasi Persepsi
sesuatu (attitude). Jika pelaku persepsi memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, maka penafsiran itu dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik pribadi yang mempengaruhi yaitu motif individu terhadap sesuatu yang akan dipersepsikan, pengalaman individu dalam menyusun persepsi serta harapan individu dalam menentukan persepsi tersebut. b. Target
Karakteristik dalam target yang diamati seseorang akan dapat mempengaruhi apa yang akan dipersepsikan. Karakteristik target yang dapat mempengaruhi yaitu objek yang akan dipersepsikan merupakan perihal yang baru (novelty), adanya gambaran hidup yang mempengaruhi dalam membentuk persepsi (motion), suara – suara yang timbul pada saat membentuk persepsi (sound), ukuran dari persepsi (size), latar belakang pembentukan persepsi (background), kedekatan persepsi dengan objek lain yang dapat membentuk persepsi yang hampir sama (proximity), serta kesamaan dari persepsi dengan persepsi lain (similarity).
c. Situasi
Situasi merupakan konteks yang penting untung melihat suatu obyek atau peristiwa, sehingga unsur – unsur dalam lingkungan sekitar akan mempengaruhi persepsi seseorang. Situasi dalam membentuk persepsi seseorang dipengaruhi oleh momen waktu yang tepat, struktur dari objek yang dipersepsikan, serta kebiasaan yang berlaku dalam sosial masyarakat untuk merumuskan persepsi.
2.4 Preferensi
Menurut Simamora (2003:87), bahwa preferensi merupakan konsep abstrak yang menggambarkan peta peningkatan kepuasan yang diperoleh dari kombinasi barang dan jasa sebagai cerminan dari selera pribadi seseorang. Dengan kata lain preferensi konsumen merupakan gambaran tentang kombinasi barang dan jasa yang lebih disukai konsumen apabila ia memiliki kesempatan untuk memperolehnya.
Sedangkan menurut Kotler (2005:49) preferensi diartikan sebagai derajat kesukaan seseorang terhadap suatu jenis produk. Preferensi dapat terbentuk melalui pola pikir konsumen yang didasari oleh beberapa alasan, antara lain :
a) Pengalaman yang diperoleh sebelumnya.
Konsumen merasakan kepuasaan dalam membeli produk ini dan merasakan kecocokan dalam mengkonsumsi produk yang dibelinya. Maka konsumen akan terus menerus memakai atau menggunakan merek produk tersebut, sehingga konsumen mengambil keputusan untuk membeli.
b) Kepercayaan turun – temurun.
Dikarenakan kebiasaan keluarga menggunakan produk tersebut, maka konsumen merasa puas untuk mengulangi membeli produk tersebut.
Menurut Lilien, Kotler, dan Moriarthy dalam Simamora (2003:88) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen yaitu atribut, kepentingan, kepercayaan dan kepuasan. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen secara terperinci dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini.
Gambar 6 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Preferensi
Sumber : Lilien, Kotler, dan Moriarthy dalam Simamora (2003:88)
1. Atribut
Konsumen diasumsikan untuk melihat produk sebagai sekumpulan atribut, karena tiap konsumen memiliki persepsi yang berbeda mengenai atribut yang relevan dengan kepentingan masing – masing.
2. Kepentingan
Tingkat kepentingan atribut berbeda – beda sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masing – masing, karena konsumen memiliki penekanan yang berbeda – beda dalam menilai atribut yang memiliki tingkat kepentingan tertinggi.
3. Kepercayaan
Konsumen akan mengembangkan sejumlah kepercayaan mengenai letak produk pada setiap atribut, yang biasa disebut brand image.
4. Kepuasan
Tingkat kepuasan konsumen akan beragam sesuai dengan perbedaan atribut yang ditampilkan suatu produk.
Pengalaman Kepercayaan Atribut Kepentingan Kepuasan Preferensi
2.5 Konsumsi
Konsumsi berasal dari bahasa Inggris yaitu Consumption yang berarti pembelanjaan atas barang - barang dan jasa - jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Barang - barang yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi (Dumairy, 2004:114).
Adapun konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi oleh seseorang dengan tujuan tertentu pada waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan individu secara biologi, psikologi, maupun sosial. Hal ini terkait dengan fungsi makanan yaitu sebagai gastronomik, identitas, budaya, serta status ekonomi seseorang. Oleh karena itu ekspresi setiap individu dalam memilih makanan akan berbeda satu dengan yang lain. Ekspresi tersebut akan membentuk pola perilaku makan yang disebut dengan kebiasaan makan (Baliwati, 2004:69).
Pola konsumsi pangan atau kebiasaan makan adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan rata - rata per orang per hari yang umum dikonsumsi/dimakan penduduk dalam jangka waktu tertentu. Pangan atau makanan yang dikonsumsi pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kehidupan manusia yaitu sebagai sumber energi dan pertumbuhan serta mengganti jaringan atau sel tubuh yang rusak.
Menurut Sediaoetama (1999:87), tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan. Kualitas makanan menunjukkan
perbandingannya terhadap satu dan lainnya, selain itu kualitas makanan yang dipenuhi seseorang dapat mempengaruhi status gizi tubuhnya, sedangkan kuantitas makanan menunjukkan jumlah masing - masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Kebutuhan pangan yang dikonsumsi oleh manusia, secara kuantitatif dapat diperkirakan dari nilai energi (kal) yang dikandungnya, dimana energi diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein yang ada di dalam bahan makanan (Almatsier, 2003:77).
2.6 Buah Lokal
Menurut Zulkarnain (2009:69), secara botani, buah dapat didefinisikan sebagai ovari matang dari suatu bunga dengan segala isinya serta bagian - bagian yang terkait erat dari bunga tersebut. Oleh karena itu, buah terdiri atas bagian - bagian seperti dindng ovari atau pericarp (yang berdiferensiasi mejadi eksocarp, endocarp, dan mesocarp), biji, jaringan plasenta, partisi, reseptakel, dan sumbu tangkai bunga.
Buah merupakan bahan makanan yang kaya akan vitamin, mineral, lemak, dan bentuk yang mengandung nilai - nilai estetis. Buah - buahan dewasa ini semakin mendapatkan perhatian dari masyarakat, baik sebagai bagian menu makanan maupun sebagai komoditas ekonomi yang menguntungkan (Widodo, 1996:99).
Selama lima tahun terakhir permintaan buah – buahan meningkat di dalam negeri. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya konsumsi buah di masyarakat. Pada tahun 2007 pengeluaran per kapita untuk konsumsi buah –
buahan sebesar Rp. 9.005/bl yang kemudian pada tahun 2011 meningkat sebesar Rp. 12.759/bl. Pengeluaran per kapita untuk konsumsi buah – buahan yang meningkat disebabkan karena meningkatnya pendapatan masyarakat serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga hidup sehat (Susenas, 2011:15). Adapun peningkatan pengeluaran per kapita untuk konsumsi buah dapat dilihat secara terperinci pada Gambar 7 di bawah ini.
Gambar 7 Rata – rata Pengeluaran per Kapita untuk Buah – buahan
Sumber : Susenas (2011:15)
Berdasarkan Gambar 7 di atas diketahui bahwa pada tahun 2007 – 2008 terjadi penurunan pengeluaran per kapita untuk buah per bulan sebesar 2,57% dan peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2009 – 2010 sebesar 28,48%. Namun berdasarkan data Kementerian Pertanian (2012:2), besarnya peningkatan pengeluaran per kapita masyarakat untuk buah – buahan tidak sebanding dengan peningkatan produksi buah lokal. Pada tahun 2006 – 2009, produksi buah lokal hanya meningkat dalam jumlah yang kecil hingga terjadi penurunan produksi
2007 2008 2009 2010 2011 9005 8779 8821 12335 12759
pada tahun 2010. Perkembangan produksi buah lokal dapat dilihat secara terperinci pada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4 Produksi Buah – buahan di Indonesia Tahun 2006 – 2010
Buah Jumlah (Ton)
2006 2007 2008 2009 2010 Jeruk 2.256.543 2.625.884 2.467.632 2.131.768 2.028.904 Mangga 1.621.997 1.818.619 2.105.085 2.243.440 1.287.287 Pisang 5.037.472 5.454.226 6.004.615 6.373.533 5.755.073 Nanas 1.427.781 1.395.566 1.433.133 1.558.196 1.406.445 Salak 862 806 862 829 75 Pepaya 634 622 718 773 676
Sumber : Kementerian Pertanian (2010:3)
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa produksi buah terbesar yaitu buah pisang yang mencapai angka > 5.000.000 ton/ tahun. Dari keenam jenis buah mengalami produksi yang fluktuatif naik dan turun. Hal itu disebabkan karena semakin terbatasnya faktor produksi meliputi minimnya lahan untuk budidaya karena alih fungsi lahan pertanian, mahalnya pembiayaan untuk saprotan, bahkan perubahan alih profesi petani untuk bekerja diluar bidang pertanian dengan harapan peningkatan taraf hidup yang lebih baik.
2.7 Penelitian Terdahulu
Tarigan, Hadi dan Sayamar (2013:4) melakukan penelitian berjudul Analisis Perilaku Konsumen dalam Pembelian Buah Lokal di Pasar Tradisional Arengka Kota Pekanbaru. Pengambilan sampel konsumen dalam penelitian ini menggunakan teknik Accidental Random Sampling yaitu responden yang bertemu
langsung dan kebetulan membeli buah - buahan lokal di Pasar Tradisional Arengka dengan sampel sebanyak 40 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teknik analisis dalam teori reasoned action, yaitu model yang dikembangkan oleh Fishbein.
Penelitian ini menggunakan model Sikap (AB), model Norma Subjektif (SN), dan model Perilaku menggunakan teori Reasoned Action (BI). Model Fishbein menekankan bahwa sikap konsumen terhadap atribut suatu produk terbentuk karena adanya keyakinan terhadap atribut produk yang relevan dengan keinginan konsumen serta hasil evaluasi terhadap atribut tersebut. Berdasarkan variabel keyakinan terhadap atribut buah lokal, kemudahan memperoleh merupakan atribut yang paling diyakini konsumen terbukti dengan skor tertinggi yaitu 1,175.
Evaluasi (ei) adalah analisis pernyataan tentang penilaian yang timbul dari dalam diri konsumen akibat membeli buah tanpa dipengaruhi faktor – faktor eksternal. Atribut harga menjadi artibut yang paling penting dalam memilih buah dengan skor sebesar 1,600. Konsumen merasa bahwa atribut harga sebagai atribut penting yang menjadi evaluasi konsumen dalam pembelian buah. Buah yang harganya murah dan terjangkau akan menarik minat konsumen untuk membelinya secara konsisten.
Sehingga berdasarkan penelitian diperoleh bahwa sikap konsumen terhadap pembelian buah lokal di Pasar Tradisional Arengka Kota Pekanbaru bernilai positif dengan skor 5,619 yang secara keseluruhan nilai ini menunjukkan sikap konsumen terhadap buah lokal di Pasar Tradisional Arengka Kota
Pekanbaru berada di skala baik, dan perilaku konsumen dalam membeli buah lokal di Pasar Tradisional Arengka Kota Pekanbaru menunjukkan hasil yang positif dengan nilai 297,12 yang berarti bahwa perilaku pembelian konsumen terhadap buah lokal adalah baik.
Azizah (2008) melakukan penelitian berjudul Analisis Pengaruh Persepsi dan Preferensi Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Buah Lokal dengan Studi Kasus Pada Lailai Market Buah Malang. Penelitian ini memiliki 96 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Penelitian ini menggunakan skala Likert untuk proses pengukuran data dan analisis regresi linear berganda, uji F, uji t serta uji Asumsi Klasik untuk menganalisis data.
Penelitian ini menggunakan tujuh variabel bebas yaitu pelaku persepsi (X1), target (X2), situasi (X3), kebudayaan (X4), sosial (X5), kepribadian (X6), kejiwaan (X7) dan variabel terikat keputusan pembelian buah lokal (Y). Berdasarkan pengolahan data diperoleh Fhitung sebesar 46.987 dengan signifikansi 0,000. Koefisien determinasi diperoleh sebesar 0,789 yang berarti besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 78,9% sedangkan sisanya 21,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukan dalam persamaan. Sedangkan berdasarkan uji t menunjukkan semua variabel bebas berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat keputusan membeli buah lokal dengan signifikansi lebih kecil dari 0,05.
Muzdalifah (2012) melakukan penelitian yang berjudul Kajian Preferensi Konsumen terhadap Buah – buahan Lokal di Kota Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Tujuan penelitian deskriptif adalah
untuk mengkaji preferensi terhadap atribut buah serta mengkaji daya saing buah lokal dengan buah impor. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survey dengan menggunakan instrument penelitian. Sedangkan jenis buah lokal yang dijadikan acuan adalah buah jeruk, pisang dan pepaya dengan pertimbangan buah – buahan tersebut selalu tersedia setiap waktu dan dapat dijumpai dengan mudah baik di pasar tradisional maupun pasar modern dengan jumlah responden sebanyak 40 orang.
Untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap buah - buahan lokal penelitian ini menggunakan analisis atribut sikap Model Fishbein. Atribut buah-buahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: (1) harga, (2) rasa, (3) warna, (4) kesegaran, (5) aroma, (6) ukuran dan (7) kandungan vitamin. Sehingga berdasarkan penelitian diperoleh bahwa konsumen percaya bahwa atribut harga, rasa, warna, kesegaran, aroma, ukuran dan kandungan vitamin merupakan salah satu faktor yang menjadi preferensi konsumen dalam memilih dan mengkonsumsi buah lokal. Kemudian didapatkan hasil urutan tingkat kepentingan konsumen terhadap atribut buah lokal yang dinilai konsumen adalah rasa yang manis, kesegaran buah, kandungan vitamin yang tinggi, ukuran yang besar,harga yang murah, aroma yang harum dan warna. Secara umum menurut konsumen buah impor memiliki daya saing yang lebih unggul dibandingkan produk buah lokal, dari segi rasa, warna, aroma, ukuran dan kandungan vitamin, sedangkan produk buah lokal unggul dari segi harga dan kesegaran.
Sudiyarto dan Hanani (2007:6) melakukan penelitian yang berjudul Kajian Faktor - faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Membeli dan
Mengkonsumsi Buah Lokal (Studi Kasus Kota Surabaya). Penelitian ini merupakan bagian studi perilaku konsumen buah - buahan sekaligus untuk menganalisis daya saing buah (lokal terhadap impor) atas dasar nilai sikap kepercayaan konsumen terhadap berbagai macam buah misalnya (apel; jeruk dan anggur), sehingga lokasi penelitian ditentukan secara sengaja.
Jumlah responden sebanyak 140 orang, ditentukan secara accidental yaitu konsumen buah dengan kriteria : (1) penggemar (senang) makan buah - buahan; (2) pembeli rutin buah minimal satu bulan sekali; (3) mewakili keluarga; (4) keluarga memiliki penghasilan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan instrumen penelitian yang kemudian dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan piranti lunak (soft ware) AMOS.
Berdasarkan hasil uji hipotesis pengaruh budaya terhadap sikap konsumen memperlihatkan bahwa nilai critical ratio (CR) 7,274 lebih besar dari 1,96, sehingga dapat dikatakan berpengaruh positif signifikan. Besarnya nilai pengaruh budaya terhadap sikap kepercayaan konsumen pada atribut buah lokal adalah sebesar 0,544 atau 54,40%. Hasil analisis untuk uji hipotesis pengaruh lingkungan sosial terhadap sikap kepercayaan konsumen menunjukkan bahwa nilai critical ratio (CR) -1,171 lebih kecil dari -1,96, sehingga tidak signifikan. Besarnya nilai pengaruh lingkungan sosial konsumen terhadap sikap kepercayaan konsumen pada atribut buah lokal adalah sebesar 0,211 atau 21,10%.
Faktor karakteristik Individu konsumen yang tidak signifikan terhadap sikap konsumen menunjukkan bahwa semakin tinggi perkembangan individu
konsumen yang terdiri dari: (1) usia; (2) pendidikan; (3) pekerjaan; (4) pendapatan (income) dan (5) gaya hidup konsumen maka tidak berpengaruh nyata terhadap sikap dalam membeli atau mengkonsumsi buah lokal. Hasil uji hipotesis pengaruh psikologis terhadap sikap konsumen memiliki nilai critical ratio (CR) 3,412 lebih besar dari 1,96 sehingga berpengaruh positif signifikan. Besarnya nilai pengaruh psikologis konsumen terhadap sikap kepercayaan konsumen pada atribut buah lokal adalah sebesar 0,439 atau 43,90%. Hasil uji hipotesis pengaruh strategi pemasaran terhadap sikap kepercayaan ternyata menunjukkan bahwa nilai critical ratio (CR) 1,690 lebih kecil dari 1,96, sehingga tidak signifikan. Besarnya nilai pengaruh strategi pemasaran terhadap sikap kepercayaan konsumen pada atribut buah lokal adalah sebesar 0,225 atau 22,50%.
2.8 Kerangka Pemikiran
Seiring berjalannya waktu kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi buah – buahan semakin meningkat. Buah merupakan salah satu sumber pangan nabati yang kaya akan nutrisi dan vitamin yang baik untuk memenuhi gizi tubuh. Tenaga kerja yang bekerja di kawasan industri di Jakarta Utara diasumsikan memiliki perilaku konsumen yang berbeda – beda terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi buah lokal.
Dalam penelitian ini perilaku konsumen yang akan dilihat yaitu kesadaran, persepsi dan preferensi seseorang terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi buah lokal di kawasan industri di Jakarta Utara. Peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui karakteristik
responden dan perhitungan kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda untuk menganalisis seberapa besar pengaruh kesadaran, persepsi dan preferensi konsumen terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi buah lokal pada kawasan industri di Jakarta Utara.
Gambar 8 Kerangka Pemikiran Jakarta Utara
Konsumen Buah Lokal (Tenaga Kerja Industri)
Perilaku Konsumen Kawasan Industri
Perilaku Konsumen dalam Mengkonsumsi Buah Lokal Kesadaran Konsumen Persepsi Konsumen Preferensi Konsumen Analisis Deskriptif Kualitatif dan Analisis Regresi Berganda
BAB III
METODE PENELITIAN