BAB 6 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN
C. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, karena larutan elektrolit itu terurai mejadi partikel-partikel yang berupa ion-ion. Coba kalian perhatikan data percobaan tentang penurunan titik beku beberapa contoh larutan pada Tabel 6.2 di bawah ini. Kesimpulan apa yang dapat Saudara sampaikan?
Tabel 6.2 Data Percobaan tentang Penurunan Titik Beku
No. Larutan Molalitas ∆Tf (oC)
1. 2. 3. 4. Urea Urea Garam dapur Garam dapur 1 2 1 2 1,86 3,72 3,73 7,44
Dari data percobaan di atas, dapat diamati bahwa:
• Pada percobaan 1 dan 3, molalitas ke 2 larutan sama, akan tetapi nilai ∆Tf NaCl lebih
besar 2 x nilai ∆Tf urea. Mengapa? Hal ini disebabkan oleh karena NaCl dapat terurai menjadi 2 ion (2 partikel) yaitu Na+ dan Cl-.
• NaCl adalah elektrolit, sementara urea adalah non elektrolit sehingga tidak dapat terionisasi. Urea tetap sebagai molekul.
• Itulah sebabnya∆TfNaCl lebih besar daripada ∆Tf urea pada konsentrasi yang sama. Sekarang coba Anda amati data percobaan 2 dan 4. Kesimpulan apa yang dapat Anda sampaikan? Sifat koligatif suatu larutan elektrolit lebih besar dari sifat koligatif larutan non elektrolit apabila kedua larutan itu mempunyai konsentrasi yang sama. Van’t
Hoff menggunakan faktor i yang dikenal sebagai Faktor van’t Hoff, faktor ini adalah perbandingan sifat koligatif suatu elektrolit dengan konsentrasi yang sama.
164
o
bb
o
Tf o
o T T T P P i (6.30)
(∆P)o, (∆Tb)o, (∆Tf)o, dan (∆)oadalah penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik untuk larutan nonelektrolit, sedangkan pada pembilang pada persamaan di atas untuk suatu elektrolit dengan konsentrasi yang sama. Dengan demikian, misalnya untuk ∆Tf:
T
felektrolit i.K
f.m (3.31)
Faktor van’t Hoff, i , mencapai nilai limit pada pengenceran tak terhingga. Dalam hal ini untuk NaCl sebesari = 2, MgCl2 sebesar i =3, MgSO4sebesar i = 2, dan K4(FeCN)6sebesar i = 5.
Tabel 6.3Beberapa Nilai Faktor van’t Hoff
Kemolalan NaCl MgSO4 Pb(NO3)2 K3Fe(CN)6
(pengenceran tak terhingga) 2,00 2,00 3,00 4,00 0,001 1,97 1,82 2,89 3,82 0,01 1,94 1,53 2,63 3,36 0,1 1,87 1,21 2,13 2,85 1,0 1,81 1,09 1,13 -
1. Disosiasi (ionisasi)
Jika kita mempunyai m molal elektrolit AxBy, dan adalah derajat disosiasi (ionisasi), maka:
AxBy (aq)→ x Az+ + y Bz+ m (1-) x my m
Jumlah mol yang dihasilkan m mol zat terlarut sebesar:
m total = m (1-) + x m + y m
m total = m {1 + (x + y – 1)} Jumlah mol ion yang dihasilkan oleh satu mol zat terlarut, v = x+y, Sehingga: mtotal = m {1 + (v – 1)} (3.32) ∆Tf = Kf x mt (3.33) ∆Tf = Kf x m {1 + (v – 1)} (3.34) ∆Tf = i x Kf x m = Kf x m {1 + (v – 1)} (3.35) Dengan:
165 i = 1 + (v – 1) 1 1 v i
2. Asosiasi
Jika sifat koligatif yang diamati lebih kecil dari sifat koligatif menurut perhitungan menunjukkan bahwa molekul zat terlarut mengalami asosiasi, misalnya n molekul X berasosiasi membentuk Xn dan derajat asosiasi α, maka:
Jumlah partikel= 1- + /n= 1 –
mol n
n1
Jadi: sifat koligatif (pengamatan)
sifat koligatif (perhitungan = 𝑖 = 1 − (𝑛−1)𝛼𝑛 Jika X mengalami dimerisasi, n = 2 maka i = 1- /2 Jadi, untuk asosiasi :
n n i1 1
(3.36)
3. Cara Menghitung Mol Elektrolit Sesudah Ionisasi
Menghitung mol elektrolit sesudah ionisasi:
Jika a mol elektrolit A terurai jadi n ion (n = jumlah ion (+) dan (-)) derajat ionisasinya =
, maka:
A ⇄ n ion
Mula-mula a mol Terionisasi a mol
n a mol Setelah ionisasi (a - a) mol na mol
Jumlah mol zat sesudah ionisasi = A sisa + jumlah ion yang terbentuk = (a - a) + (n a) mol = a - a + n a
= a {1 + (n - 1) } Jika jumlah mol sebelum ionisasi = a mol
Sesudah ionisasi = a {1 + (n - 1) }
Maka jumlah mol sesudah ionisasi adalah: {1 + (n - 1) } lebih besar dari nilai semula. n X ⇄ Xn
166 Harga {1 + (n - 1) } disebut dengan Faktor van’t Hoff, yang disimbolkan dengan i.
Jadi:
i = {1 + (n - 1) } (3.37) Karena sifat koligatif larutan ditentukan oleh jumlah partikel zat terlarut, maka untuk larutan elektrolit berlaku rumus sifat koligatif sebagai berikut ini:
∆Tf = m . Kf . i (3.38) ∆Tb = m . Kb . i (3.39) π= M . R . T . i (3.40) ∆P = Po x n terlarut . i n terlarut . i + n pelarut (3.41) Contoh soal:
1) Sebanyak 5,85 gram NaCl (Mr = 58,5) dilarutkan ke dalam 500 gram air, jika diketahui nilai Kf air sebesar 1,86 dan derajat ionisasi NaCl = 0,80, berapakah titik beku larutan itu? Jawab: M NaCl = 5,85 58,5𝑚𝑜𝑙 0,5 𝐾𝑔 ⁄ = 0,2 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑙 Karena NaCl adalah elektrolit:
Maka ∆Tf = m . Kf . i
= m . Kf . {1 + (n-1) ) = 0,2 x 1,86 (1 + (2-1)0,80} = 0,6695
Titik beku larutan = 0 – 0,6696 = -0,6696oC
Jika terdapat lebih dari satu jenis zat terlarut dalam suatu larutan, maka hitunglah jumlah partikel semua zat terlarut tersebut, setelah itu baru hitung sifat koligatifnya. Contoh Soal:
2) Sebanyak 6 gram urea (Mr = 60) dilarutkan dalam 100 gram air dicampur dengan 10,4 gram BaCl2 (Mr = 208) yang dilarutkan terlebih dahulu dalam 100 gram air dan ditambahkan 5,85 gram NaCl (Mr = 58,5) yang juga telah dilarutkan lebih dahulu dalam 300 gram air.
Jika diketahui Kb air sebesar 0,52; berapakah kenaikan titik didih larutan! Jawab:
167 6 gram urea = 6 60= 0,1 mol 10,4 gram BaCl2 =10,4 208 × {1 + (3 − 1) × 1} = 0,15 𝑚𝑜𝑙 5,85 gram NaCl =5,85 58,5 × {1 + (2 − 1) × 1} = 0,20 𝑚𝑜𝑙 Jumlah mol partikel = 0,45 mol
Jumlah pelarut = (100 + 100 + 300) gram = 0,15 mol
∆Tb = M . Kb
= 6
60 × 0,52 = 0,468𝑜𝐶
UJI KOMPETENSI
SOAL PILIHAN GANDA1. Sebanyak 10 gram dari masing-masing zat dibawah ini dilarutkan dalam 100 g air. Penurunan titik beku yang paling besar berlaku untuk larutan,
A. C12H24O12 D. C3H6O3
A. C6H17O6 E. C2H6O2
B. C3H8O3
2. Sebanyak 11,1 gram CaCl2 (Ar Ca = 40, Cl = 35,5) dilarutkan ke dalam 72 gram air (Mr = 18). Jika pada suhu tertentu tekanan uap air sebesar 86 mmHg, maka penurunan tekanan uap januh larutan adalah ...
A. 2 mmHg D. 84 mmHg
B. 6 mmHg E. 86 mmHg
C. 80 mmHg
3. Sebanyak 5,95 gram KBr (Ar K = 39, Br = 80), dilarutkan ke dalam 36 gram air. Jika pada suhu tertentu, tekanan uap jenuh air sebesar 42 cmHg, maka penurunan tekanan uap jenuh larutan adalah ...
A. 1,02 cmHg B. 1,10 cmHg C. 1,50 cmHg D. 2,00 cmHg E. 2,02 cmHg
168 4. Sebanyak 30 gram MgSO4 (Ar Mg = 24, S = 32, O = 16) dilarutkan ke dalam
200 gram air dan dicampur dengan 15 gram zat dalam 300 gram air. Jika Kf air = 1,8oC/molal dan titik beku larutan = -2,7oC, maka nilai Mr zat X adalah ...
A. 30 B. 60 C. 80 D. 120 E. 180
5. Zat A sebanyak 3,42 gram dilarutkan dalam 300 gram air. Penurunan titik beku larutan ini ternyata 3 kali lebih kecil dari penurunan titik beku suatu larutan ureum (Mr=60) yang mengandung 1,5 gram ureum dalam 250 gram air. Berat molekul zat A ialah
A. 38 B. 180 C. 342 D. 186 E. 90
6. Tetapan ebulioskopik benzena adalah 2,7oC. Suatu larutan yang mengandung 6 gram zat terlarut dalam 200 gram benzena, menyebabkan kenaikan titik didih sebesar 0,54oC. Hitung massa molekul relatif zat terlarut
A. 15000 B. 1500 C. 1000 D. 150 E. 15
7. Suatu larutan yang mengandung 25 gram suatu zat dalam 180 air mempunyyai tekanan uap 741 mmHg pada suhu 100oC. Berat molekul zat tersebut adalah
A. 83,4 B. 97,5 C. 97,0 D. 20,2 E. 85,3
169 8. Larutan suatu protein (berat molekul 34300) mempunai tekanan osmotik 99
mmHg pada suhu 25oC. Berat protein yyang terdapat dalam 100 mL larutan protein tersebut. A. 36,564 g B. 18,228 g C. 12,828 g D. 18,272 g E. 18,258 g
9. Suatu larutan 1,625 gram hidrokarbon padat dalam 20 gram benzena mulai membeku pada 2,969oC. Titik beku benena murni 5,533oC, dan tetapan titik beku molal benzena adalah 5,128oC. Berat satu mol hidrokarbon tersebut adalah ...
A. 162,50 gram B. 138,00 gram C. 51,00 gram D. 3,25 gram E. 2,464 gram
10. Larutan 24,00 gram zat bukan elektrolit dalam 200 gram air mempunyai titik didih sebesar 100,34oC pada tekanan 1 atm. Bila diketahui bahwa tetapan penaikan titik didih molal dari air ialah 0,5, berat molekul zat tersebut adalah ...
A. 36 B. 632 C. 90 D. 72
E.
17SOAL ESAI
1. Sukrosa adalah suatu zat non atsiri yang dapat melarut dalam air tanpa proses ionisasi. Tentukan penurunan tekanan uap pada 25oC dari 1,25 m larutan suksrosa. Diasumsikan larutan yang terbentuk bersifat ideal. Tekanan uap untuk air murni pada 25oC adalah 23,8 torr.
2. Tekanan uap heptana murni pada suhu 40oC adalah 92 torr dan tekanan uap murni untuk oktana adalah 31 torr. Jika di dalam larutan terdapat 1,00 mol heptana dan 4,00 mol oktana, cobalah kamu hitung tekanan uap dari masing-masing komponen,
170 tekanan uap total dalam larutan, serta fraksi mol dari masing-masing komponen dalam kesetimbangan larutan.
3. Hitunglah titik beku, titik didih, dan tekanan osmosis (suhu 50oc) larutan berair berikut ini!
a) Larutan magnesium nitrat 0,1 M b) Larutan natrium nitrat 0,1 M c) Larutan sukrosa 0,1 M
4. Hitunglah penurunan tekanan uap ∆P pada saat gliserol (C3H8O3) ditambahkan ke dalam 500 mL air pada suhu 50oC. Pada suhu ini tekanan uap air murni sebesar 92,5 torr, berat jenis 0,988 g/mL, dan berat jenis gliserol 1,26 g/mL!
5. Berapakah penurunan tekanan uap larutan aspirin sebanyak 2 gram (Mr = 180,15 g/mol) di dalam metanol pada suhu 21,2oC. Diketahui metanol murni memiliki tekanan uap sebesar 101 torr pada suhu ini?
6. Pada suhu 25oC tekanan uap benzena murni sebesar 0,1252 atm. Andaikan 6,40 gr naftalena (C10H8) dengan massa molar 128,17 g/mol dilarutkan ke dalam 78,0 gr benzena (C6H6) dengan massa molar 78,0 g/mol. Hitunglah tekanan uap benzena larutan tersebut dengan asumsi perilakunya bersifat ideal!
7. Jika kamu menambahkan 1 kg senyawa antibeku etilen glikol (C2H6O2) ke dalam radiator mobil yang berisi 4.450 gr air, berapakah titik didih dan titik beku air radiator?
8. Larutan 0,30 M sukrosa pada 37oC memiliki tekanan osmotik hampir sama dengan tekanan darah, cobalah kamu hitung tekanan osmotik sukrosa tersebut!
9. Suatu sirup mengandung gula sukrosa (Mr= 342) mendidih pada suhu 105oC, konstanta didih molal air sebesar 0,5. Periksalah pernyataan berikut ini yang manakah yang salah dan benar serta jelaskan!
a) Kadar gula sukrosa dalam sirup 77,37 %
b) Untuk menaikkan kadarnya menjadi 80 % massa gula yang harus ditambahkan sebanyak 580 gram.
c) Penambahan guka menyebabkan titik didih larutan turun 15oC.
d) Titik didih larutan sukrosa tersebut sama dengan titik didih larutan glukosa 10 m.
e) Tekanan uap larutan sukrosa tersebut adalah 0,847 atm, bila tekanan uap jenuh air pada suhu normal 1 atm.
171 10. Hitung tekanan uap larutan urea CO(NH2)215% pada 25˚C, jika uap air murni pada
temperatur tersebut 23,76 mmHg.
11. Tekanan uap air pada 40˚C 55,32 mmHg. Berapa gram sukrosa. (Mr= 342,3) harus dilarutkan dalam 200,0 gram H2O pada 80˚C untuk menurunkan tekanna uap menjadi 55,00 mmHg.
12. Hitung titik didih pada 1 atm dari suatu larutan yang dibuat dengan cara melarutkan 120 gram urea CO(NH2)2 dalam 500 gram air.
13. Hitung titik didih suau larutan 0,1 mol zat terlarut yang sukar menguap dalam 200
gram klorofrom. Kloroform mendidih pada 61,3˚C pada 1 atm dan Kb=4,70. 14. Suatu larutan 54 gram zat nonelektrolit dalam 400 gram air membeku pada -2,79˚C.
Hitung berat molekul zat terlarut.
15. Suatu larutan 20 gram A dalam 200 gram air mendidih pada 100,78˚C pada tekanan 1 atm. Hitung berat molekul zat A, jika zat ini adalah zat nonelektrolit yang tidak menguap.
16. Hitung berat molekul gliserol dari data berikut. Suatu larutan 2% gliserol
mempunyai tekanan osmotik 5,30 atm pada 25˚C.
17. Suatu larutan urea, CO(NH2)2 mengandung 1,754 gram L-1 adalah isotonik pada suhu yang sama dengan suatu larutan 10 g gula dalam satu liter larutan. Hitung berat molekul gula.
18. Berapa gram fenol, C6H5OH yang terlarut dalam 20 mL larutan yang mempunyai
tekanan osmotik satu atm pada 21˚C.
19. Hitung titik beku pada 1 atm dari suatu larutan ang mengandung 2 gram urea (Mr=60) dalam 75 gram air (Kb=1,86).
20. Hitung massa molekul relatif suatu senyawa jika 1,286 gram senyawa ini sebanyak
654 gram asam asetat, menghasilkan larutan membeku pada 16,62˚C.
21. Suatu larutan dalam air membentuk pada -0,010˚C. Hitung tekanan osmotik pada
suhu ini (anggap kerapatan air 1,00 g mL-1).
22. Suatu larutan yang mengandung 20 gram suatu zat dalam 5 g benzena membeku
pada 3,74˚C. Jika titik beku benzena murni 5,48˚C dan harga Kf 5,12˚C, hitung
massa molekul relatif (Mr) zat tersebut.
23. Belerang sebanyak 2,832 gram dilarutkan dalam 50 mL CS2, menghasilkan larutan
172 didih CS2 murni 46,13˚C dan harga Kb= 2,34, bagaimana rumus molekul belerang tersebut.
24. Pada suhu 100oC tekanan normal air 760 mmHg , larutan 6% urea dalam air mempunyai tekanan uap berapa ? Bila Mr urea = 60 Pada suhu berapa larutan urea tersebut mendidih dan pada suhu berapa larutan urea membeku, bila konstanta didih molal air dan konstanta beku air berturut turut 0,52 dan 1,86?
25. Tekanan uap jenuh air pada suatu suhu adalah 43 cmHg. Larutan glukosa 0,1 m pada suhu itu memiliki tekanan uap berapa?
26. Tekanan uap larutan urea pada suhu 60oC adalah 38,6 cmHg dan tekanan uap air pada suhu yang sama 38,8 cm hg, tentukan :
a) Fraksimol urea b) Kemolalan larutan urea
c) Titik didih larutan urea bila Kb air = 0,52
27. Berapa gram sukrosa (Mr = 342) yang terlarut dalam 200 gram air agar titik bekunya lebih tinggi dari 9 gram glukosa (Mr= 180) dalam 200 gram air?
28. Berapa gram glikol (Mr= 62) harus ditambahkan dalam 500 gram air agar diperoleh larutan glikol dengan tekanan uap 4 mmHg lebih rendah dari tekanan air jenuh pada suhu 25oC bila tekanan air pada suhu itu 24 mmHg?
29. 210 gram larutan glukosa dalam air mendidih pada suhu 100,14oC, bila ke dalam larutan glukosa tersebut ditambah 300 gram air, Pada suhu berapa larutan tersebut akan mendidih (Kb air = 0,52)?
30. Suatu sirup mengandung gula sukrosa (Mr= 342) mendidih pada suhu 105oC, konstanta didih molal air 0,5. Periksa pernyataan berikut, manakah yang salah?
a) Kadar gula sukrosa dalam sirup 77,37 %
b) Untuk menaikkan kadarnya menjadi 80 % massa gula yang harus ditambahkan sebanyak 580 gram.
c) Penambahan guka menyebabkan titik didih larutan turun 150C
d) Titik didih larutan sukrosa tersebut sama dengan titik didih larutan glukosa 10 m
e)
Tekanan uap larutan sukrosa tersebut adalah 0,847 atm, bila tekanan uap jenuh air pada suhu normal 1 atm.173
DAFTAR PUSTAKA
Atkins. 1990. Physical Chemistry. Edisi ke-4. Oxford : Oxford University Press.
Atkinson, John dan Carol Hibbert. 2000. Advanced Level Chemistry. Oxford: Heinemann. Ebbing, Darrel D. 1984. General Chemistry. Wilmingon: Houghton Miffling Comp. Fessenden, Ralph J. dan Joan S. Fessenden. 1997.Dasar-dasar Kimia Organik. Jakarta :
Binarupa Aksara.
Goenawan O,. 1999. Kimia 2A. Jakarta: Grasindo.
ll, Graham C., et. al. 1995. Chemistry in Context. Ontario : Nelson. Keenan, C. W., et. al. 1980. General College Chemistry. New Jersey: Harper & Row Publisher.
Omay Sumarna, dkk. 2004. Kimia untuk SMA Kelas X. Bogor.
Petrucci, Ralph H. 1995. General Chemistry, Principles and Modern Application. New Jersey : Collier-McMillan.
Priscilla Retnowati. 1999. Seribu Pena Kimia SMU Kelas 2. Jakarta: Erlangga Ralph H, Petaruci. 1999. Kimia Dasar Jilid 2, Jakarta : Erlangga
Susilowati, Endang. 2012. Kimia Untuk Kelas X SMA dan MA. Solo: Tiga Serangkai. Unggul Sudarmo. 2004. Kimia untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Sumber Internet:
http://mundoeducacao.bol.uol.com.br/quimica/solubilidade-saturacao.htm- diambil pada 29 Agustus 2016
https://www.slideshare.net/TitienYuliasti/asam-basa-12029936- diambil pada 29 Agustus 2016
https://www.slideshare.net/evyns/ppt-asam-dan-basa- diambil pada 29 Agustus 2016 http://ilmugeografi.com/fenomena-alam/hujan-asam- diambil pada 29 Agustus 2016
https://sites.google.com/site/endah21zuraidah/materi-pembelajaran/kelas-xi/bab-vi-
stoikiometri-larutan/pendahuluan/materi?tmpl=%2Fsystem%2Fapp%2Ftemplates%2Fprint%2F &showPrintDialog=1- diambil pada 29 Agustus 2016
http://www.kompasiana.com/kikik/derajat-keasaman-ph_55003ddca333111e7351026a- diambil pada 29 Agustus 2016
http://www.pusatbahankimia.com/blog/indikator-asam-basa/- diambil pada 29 Agustus 2016
174 http://www.matadunia.id/2016/01/kesetimbangan-kimia.html?m=0- diambil pada 29
Agustus 2016
http://www.matadunia.id/2016/01/kesetimbangan-kimia.html - diambil pada 29 Agustus 2016
http://dosenbiologi.com/hewan/sistem-peredaran-darah-reptil - diambil pada 29 Agustus 2016
175
GLOSARIUM
Abu: Sisa yang tinggal setelah suatu barang mengalami pembakaran lengkap
Aditif: Zat yang dicampur dengan zat yang lain untuk memberikan sifat, warna, rasa dan sebagainya tanpa membawa pengaruh terhadap susunan fisik dan kimiawinya yang pokok
Aldehida: Senyawa yang mengandung gugus karbonil (C=O) yang terikat pada sebuah atau dua buah unsur hidrogen
Amoniak: Gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen (NH3), mudah sekali larut dalam air; senyawaannya banyak dipakai dalam pupuk, obat-obatan dan sebagainya
Asam Asetat: Asam berupa zat cair yang jernih berbau sengit (sangat penting dalam teknik industri, antara lain sebagai bahan untuk pembuatan aseton dan selulosa asetat); H3COOH
Atom: Unsur kimia yang terkecil yang dapat berdiri sendiri dan dapat bersenyawa dengan yang lain
Atom C: Unsur kimia yang terkecil dari karbon
Basa: Senyawa yang menghasilkan ion OH- jika dilarutkan dalam air
Bobot molekul: Jumlah bobot dari atom-atom yang ditunjukkan dalam rumusnya Cairan ionik: Suatu cairan yang terdiri dari ion positif dan ion negatif
Degradasi: Penguraian atau perubahan menjadi senyawa yang lebih sederhana secara bertahap
Dehidrasi: Membuang kandungan air dalam campuran etanol
Depolimerisasi: Proses pemutusan atau pendegradasian polimer dengan cara menghilangkan kesatuan monomer secara bertahap dalam reaksi
Difusi: Peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah
Disakarida: Gula yg diturunkan dari monosakarida, dengan penyingkiran satu molekul air dari dua monosakarida
Distilasi: Metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan menguap (volatilitas) bahan
Emisi: Gas buang sisa hasil pembakaran bahan bakar
Enzim: Protein yang kompleks yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan dapat menimbulkan biokimia dalam suhu badan
176 Etanol: Senyawa organik golongan alkohol primer yang berwujud cair dalam suhu kamar,
tidak berwarna, mudah menguap, mudah terbakar, mudah larut dalam air dan tembus cahaya
Fenol: Senyawa hidroksil aromatik
Furan: Sejenis senyawa kimia heterosiklik, umumnya diturunkan dari dekomposisi termal bahan-bahan yang mengandung pentosa
Furfural: Minyak semut buatan atau minyak kulit padi, larut dalam alkohol, eter, benzena digunakan sebagai penyelera makan
Galaktosa: Gula sederhana, karbohidrat yang kadangkala terdapat secara alamiah, ditemukan dalam susu, otak dan dalam tumbuhan
Glukan: Polisakarida yang tersusun dari monomer glukosa
Gugus hidroksil: Gugus fungsional -OH yang digunakan sebagai subsituen pada sebuah senyawa organik
Gula: Bahan makanan yang manis rasanya yang dibuat dari air beberapa tumbuhan atau buah (seperti tebu, aren, nyiur)
Gula pereduksi: golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi senyawa senyawa penerima elektron
Heksosa: Gula beratom enam (misal glukosa, fruktosa), banyak terdapat pada tumbuhan dan hewan
Hidrogenasi: Penggabungan hidrogen dengan zat lain, digunakan untuk mengubah minyak (lemak cair) menjadi padat
Hidrokarbon: Senyawa yang terbentuk dari karbon dan hidrogen saja
Hidrolisis: Penguraian senyawa kimia yang disebabkan oleh reaksi dengan air Ikatan kimia: Gaya tarik menarik yang kuat antara atom-atom tertentu bergabung
membentuk molekul atau gabungan ion-ion sehingga keadaannya menjadi lebih stabil
Ikatan kovalen: Ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan
Indeks bias: Perbandingan antara kecepatan cahaya dalam ruang hampa udara dengan cepat rambat cahaya pada suatu medium
Kadar: Ukuran isi suatu zat
Karbon dioksida: Unsur gas rumah kaca utama yang merupakan salah satu komposisi alami dalam atmosfer; CO2
177 Katalis: Suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa
mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri Keasaman: Konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam pelarut air
Kinetika: Studi tentang laju reaksi, perubahan konsentrasi reaktan (atau produk) sebagai fungsi dari waktu
Kinetika reaksi: Cabang ilmu kimia yang mempelajari berlangsungnya suatu reaksi Koefisien stoikiometri: Koefisien yang ditulis di sebelah kiri rumus kimia sebuah zat
dalam persamaan reaksi
Konsentrasi: Persentase kandungan bahan di dalam suatu larutan
Manosa: Gula aldehida yang dihasilkan dari oksidasi manitol dan memiliki sifat-sifat umum yang serupa dengan glukosa
Metana: Gas yang terbentuk pada pelapukan zat organik dalam rawa dan paya yang merupakan komponen utama gas alam dan gas tambang
Metanol: Zat cair yang tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah terbakar dan bersifat racun; alkohol CH3OH
Molekul: Bagian terkecil suatu senyawa yang terbentuk dari kumpulan atom yang terikat secara kimia
Monomer: Senyawa kimia yang molekulnya dapat digabungkan untuk membentuk molekul lebih besar yang dinamakan polimer
Monosakarida: Gula yang paling sederhana yang apabila mengalami perubahan akan kehilangan sifatnya sebagai gula
Neraca massa: Ilmu yang mempelajari kesetimbangan massa dalam sebuah sistem Nitrogen: Gas tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau dan tidak beracun, bebas di udara
(dilambangkan dengan N)
Oksida: Bijih logam yang mengandung oksigen
Oksidasi: Reaksi penambahan/penaikan bilangan oksidasi Oktana: Senyawa hidrokarbon jenis alkana dengan rumus C8H18
Orde reaksi: Jumlah eksponen faktor konsentrasi yang terdapat dalam hokum laju reaksi Perpindahan massa: Perpindahan suatu komponen dari campuran yang terjadi karena
adanya perubahan dalam keseimbangan sistemnya yang disebabkan karena adanya perbedaan konsentrasi
Persamaan Arrhenius: Persamaan yang memberikan nilai dasar dari hubungan antara energi aktivasi dengan rate proses reaksi
178 pH: Skala logaritma untuk menyatakan keasaman atau kebasaan suatu larutan
Polimer: Makromolekul (molekul raksasa) yang tersusun dari satuan-satuan kimia sederhana yang disebut monomer
Polimerisasi: Proses bereaksi molekul monomer bersama dalam reaksi kimia untuk membentuk tiga dimensi jaringan atau rantai polimer
Polisakarida: Karbohidrat di mana molekulnya apabila dihidrolisis menghasilkan banyak sekali monosakarida
Reaksi: Perubahan dan sebagainya yang terjadi karena bekerjanya suatu unsur
Reaksi heterogen: Reaksi yang berlangsung dalam suatu sistem yang heterogen, yaitu di dalamnya terdapat dua fasa atau lebih
Reaksi homogen: Reaksi yang berlangsung dalam suatu sistem yang homogen, yaitu di dalamnya hanya satu fasa atau diasumsi perpindahan massa antar fasa sangat cepat, sehingga seolah-olah hanya satu fasa
Reaksi ireversibel: Reaksi yang berlangsung searah atau reaksi yang tidak dapat balik Reaksi katalitik: Penambahan katalis pada suatu reaksi yang mengakibatkan
bertambahnya laju reaksi
Reaksi kimia: Perubahan materi yang menyangkut struktur dalam molekul suatu zat Reaktor: Alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung
Rumus molekul: Rumus senyawa kimia yang mengandung lambang atom-atom atau radikal yang ada, yang diikuti dengan angka bawah yang menyatakan jumlah setiap jenis atom atau radikal dalam molekul
179
INDEKS
Abu, 226 Aditif, 226 Aldehida, 226, 231 Amoniak, 55, 226 Asam Asetat, 226, 231 Atom, xiv, 9, 166, 226, 231Basa, viii, ix, xii, xiv, 16, 17, 18, 19, 25, 27, 28, 31, 32, 33, 35, 40, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 54, 55, 56, 59, 62, 63, 65, 69, 70, 226, 231 Bobot molekul, 226, 231 Cairan ionik, 226 Degradasi, 226, 231 Dehidrasi, 226, 231 Depolimerisasi, 227 Difusi, 227 Disakarida, 227 Distilasi, 227 Emisi, 227 Enzim, 227 Etanol, 74, 202, 227 Fenol, 54, 70, 227 Furan, 227 Furfural, 227 Galaktosa, 227 Glukan, 227 Gugus hidroksil, 227 Gula, 4, 42, 74, 227, 228, 229 Gula pereduksi, 228 Heksosa, 228 Hidrogenasi, 228 Hidrokarbon, 228 Hidrolisis, viii, 30, 228 Ikatan kimia, 228 Ikatan kovalen, 228 Indeks bias, 228 Kadar, 217, 220, 228 Karbon dioksida, 228 Katalis, xii, 121, 127, 128, 228 Keasaman, viii, 20, 228 Kinetika, 228, 229 Kinetika reaksi, 229 Koefisien stoikiometri, 229
Konsentrasi, viii, xii, 11, 39, 62, 66, 83, 86, 87, 94, 120, 121, 124, 125, 135, 141, 142, 144, 211, 228, 229 Manosa, 229 Metana, 155, 229 Metanol, 155, 229 Molekul, 171, 193, 206, 229 Monomer, 229 Monosakarida, 229 Neraca massa, 229 Nitrogen, 100, 106, 124, 229 Oksida, xiv, 18, 19, 28, 229 Oksidasi, 229 Oktana, 229 Orde reaksi, 131, 136, 140, 229 Perpindahan massa, 230 Persamaan Arrhenius, 127, 230
pH, viii, ix, xii, xiv, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 31, 32, 33, 34, 35, 38, 39, 40, 52, 56,
180 57, 58, 59, 60, 61, 62, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 75, 76, 108, 109, 127, 230 Polimer, 230 Polimerisasi, 230 Polisakarida, 227, 230
Reaksi, viii, ix, x, xii, xiv, 27, 28, 29, 30, 45, 46, 48, 49, 50, 51, 52, 67, 78, 79, 80, 81, 82, 85, 89, 90, 91, 94, 95, 97, 103, 105, 106, 107, 109, 110, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 123, 124, 126, 127, 128, 131, 133, 134, 135, 137, 138, 139, 141, 142, 144, 147, 148, 151, 152, 154, 156, 157, 158, 161, 165, 166, 168, 173, 174, 175, 229, 230 Reaksi heterogen, 230 Reaksi homogen, 230 Reaksi ireversibel, 230 Reaksi katalitik, 230 Reaksi kimia, 79, 111, 124, 128, 147, 166, 168, 174, 175, 230 Reaktor, 230 Rumus molekul, 231
Senyawa, ix, xiv, 4, 5, 19, 42, 47, 48, 51, 67, 164, 166, 226, 227, 228, 229, 231
181
BIODATA PENULIS
Astrilia Damayanti, S.T., M.T., lahir di Semarang pada tahun 1973. Memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro tahun 1997 serta Magister Teknik Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung tahun 2005. Penulis sedang menempuh program Doktor di Teknik Kimia UGM sejak tahun 2013. Sejak tahun 2007 hingga saat ini merupakan stafpengajar di Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.