• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TAHFIZ, LIVING QUR’AN,

A. Tahfiz Al-Qur‘an

7. Cara Menjaga Hafalan Al-Qur‘an

39

40

dalam melafalkan serta mendengarkan bacaan sendiri. Ia pun akan bertambah semangat dan terus berupaya melakukan pembenaran-pembenaran ketika terjadi salah pengucapan. Fungsi lain dari strategi mengulang dengan mengucapkan secara jahr atau keras yaitu agar jika orang lain mendengar hafalan kita ada yang salah baik dari segi makhraj atau tajwidnya, maka mereka dapat membenarkan kesalahan kita.

Selanjutnya, dilihat dari segi strateginya, metode muraja‘ah terbagi menjadi dua bagian:

1) Muraja‘ah dengan melihat mushaf.

Cara ini tidak memerlukan konsentrasi yang menguras kerja otak.

Oleh karena itu kompensasinya adalah harus siap membaca sebanyak-banyaknya . keuntungan muraja‘ah seperti ini dapat membuat otak kita merekam letak-letak setiap ayat yang kit abaca, ayat ini di sebelah kanan halaman, ayat yang itu terletak di sebelah kiri halaman, atau lain semisalnya, sehingga memudahkan dalam mengingat. Selain itu, juga bermanfaat untuk membentuk keluwesan lidah dalam membaca sehingga terbentuk suatu kemampuan spontanitas pengucapan.

2) Muraja‘ah tanpa melihat mushaf

Cara ini cukup menguras kerja otak, sehingga cepat lelah. Oleh karena itu, wajar jika hanya dapat dilakukan sepekan sekali atau tiap hari dengan jumlah juz yang sedikit. Dapat dilakukan dengan membaca sendiri di dalam dan di luar shalat, atau bersama dengan teman. Keuntungan muraja‘ah tanpa melihat mushaf ini yaitu guna melatih kebiasaaan pandangan kita, jika terus menerus kita melihat mushaf, maka untuk apa kita susah payah menghafal Al-Qur‘an.

41

Mengulang atau memuraja‘ah ayat-ayat yang sudah dihafal ini memang membutuhkan ketekunan dan kerja keras, terkadang harus menghafal lagi ayat-ayatnya karena lupa, walaupun mungkin tidak sesulit menghafal materi baru. Di samping itu, fungsi dari mengulang-ulang hafalan yang sudah disetorkan kepada guru adalah untuk menguatkan hafalan itu sendiri dalam hati penghafal, karena semakin sering dan banyak penghafal mengulang hafalan, maka semakin kuat hafalan-hafalan para penghafal. Mengulang atau membaca hafalan di depan orang lain ataupun guru, akan meninggalkan bekas hafalan dalam hati yang jauh lebih baik melebihi membaca atau mengulang hafalan sendirian hingga berkali lipat.

Seorang penghafal Al-Qur‘an yang telah benar-benar menyatu dengan nilai-nilai ayat yang dihafalnya tidak hanya mengangagap kegiatan mengulang atau memuraja‘ah hafalan sebagai kewajiban demi kelestarian hafalannya, melainkan juga menjadikannya sebagai kebutuhan dan hidangan lezat yang ditunggu-tunggu. Seperti halnya kebutuhan makan demi menunjang kesehatan fisik, dan Al-Qur‘an adalah selezat-lezatnya hidangan yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya. Hanya orang yang sedang sakit yang tidak mau makan meski tubuhnya tetap saja memerlukannya. Penghafal Al-Qur‘an yang tidak mau memuraja‘ah hafalannya sejatinya hatinya sedang sakit, padahal Al-Qur‘anlah yang sebenarnya menjadi obat untuk segala penyakit dihatinya.

Beberapa hal berikut ini setidaknya membantu agar kita dapat menggapai nikmatnya menjaga hafalan yang dimiliki, agar hafalan

Al-42

Qur‘an tetap terjaga sepanjang masa dan dapat kita pertahankan hingga menghadap Allah kelak, di antaranya:18

1. Menjadi guru mengaji dan guru tahfiz Al-Qur‘an, karena posisi seperti ini menuntut seorang penghafal Al-Qur‘an untuk menjaga hafalannya sebaik mungkin di samping kegiatan menyimak hafalan murid sendiri sangat membantu menguatkan hafalan.

2. Mengikuti kegiatan-kegiatan tahfiz yang diadakan dalam perkumpulan-perkumpulan tertentu di mana di sana terjadi kegiatan yang dapat membantu menguat hafalan, seperti saling menyimak bacaan antar sesame penghafal Al-Qur‘an saling mengetes bacaan, dan lain sebagainya

3. Membaca hafalan di dalam shalat-shalat sunnah, seperti shalat tahajjud, dhuha, shalat rawatib, dan lain semisalnya

4. Mengulang hafalan Al-Qur‘an dengan dua cara membaca sekaligus, yakni sekali dengan bacaan cepat dan di kali lain membaca dengan perlahan

5. Istiqamah mengulang hafalan dan meningkatkan kualitas hafalan yang ada, seperti dengan memahami terjemah dan tafsir ayat-ayat yang telah dihafalkan

Memang, umumnya bagian dari kegiatan menghafal Al-Qur‘an yang dirasa paling menjenuhkan dan terkadang membuat bosan adalah memuraja‘ah hafalan Al-Qur‘an, terutama untuk mereka yang belum benar-benar mantap tekadnya menjadi penghafal Al-Qur‘an sejati.

Berbeda dengan saat pertama kali menghafalkannya di mana ketika itu dorongan begitu kuaty, memuraja‘ah hafalan seringkali diliputi rasa malas. Selain perlu banyak latihan, penghafal Al-Qur‘an harus

18 A, Muhaimin Zen, Tata cara/Problematika Menghafal Al-Qur‟an dan Petunjuk-petunjuknya, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1985), h. 267.

43

benar dapat mengelola hati dan memantapkannya untuk tetap teguh pada pendiriannya hingga benar-benar ditemukan kelezatan dalam menjalani posisinya sebagai pengemban amanah-Nya.

Berikut setidaknya hal-hal yang dapat menciptakan suasana kenikmatan ketika memuraja‘ah hafalan Al-Qur‘an:19

1. Menghilangkan pikiran bahwa muraja‘ah adalah sebuah kewajiban yang memberatkan, tapi yakinlah bahwa muraja‘ah merupakan puncak kenikmatan dari hasil jerih payah menghafal yang telah dijalani

2. Tidak terfokus pada hasil menghafal dan memuraja‘ah berupa lancarnya hafalan, tetapi istiqamahlah mengulang-ulangnya baik lancer maupun tidak hafalan yang dikuasai

3. Menjadikan surat al-Fatihah sebagai standar maksimal hafalan yang tetap terjaga karena selalu diulang-ulang bacaannya

4. Tanamkanlah keyakinan bahwa muraja‘ah adalah ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan Al-Qur‘an, adapun hafalan yang lancar dan kuat adalah hasil. Maka, ketika penghafal Al-Qur‘an belum bisa menikmati hasil tersebut, ia telah menikmati ibadah dan dzikir dengan Al-Qur‘an. Dan sesungguhnya di antara indikasi keikhlasan adalah ketika ia lebih menikmati kebersamaan dengan Allah dari pada hasil muraja‘ah itu sendiri. Sehingga hasil yang belum ideal tidak akan melemahkannya dalam ibadah dan berdzikir dengan Al-Qur‘an

19 Cece Abdulwaly, Ramzuttikrar Kunci Nikmatnya Menjaga Hafalan Al-Qur‟an, h. 74.

44

Dokumen terkait