• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TAHFIZ, LIVING QUR’AN,

A. Tahfiz Al-Qur‘an

8. faktor-faktor yang Mempengaruhi kualitas Hafalan

44

45

mengamalkannya. Dengan adanya tekad yang besar, kuat, dan terus berusaha untuk menghafalkan Al-Qur‘an, maka semua ujian-ujian yang biasanya menjadi penghalang bagi penghafal Al-Qur‘an, dengan izin Allah akan bisa dilalui dengan penuh rasa sabar dan tekun

Hadirnya dorongan individu bagi penghafal Al-Qur‘an ini sebenarnya bisa diusahakan, salah satunya dengan banyak membaca dan menghafal Al-Qur‘an atau mendengar motivasi dari mereka yang telah berhasil menempuh jalannya sebagai penghafal Al-Qur‘an.

b. Kecerdasan atau kekuatan ingatan

Menghafal Al-Qur‘an memerlukan kecerdasan dan ingatan yang kuat, kecerdasan dan ingatan yang kuat biasanya bergantung pada faktor-faktor genetik yang diwariskan dari orangtua, namun ia juga dapat diupayakan melalui perbaikan kecerdasan dan ingatan. Di sampig itu, kecerdasan ini juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar, pola kehidupan, kondisi keluarga, dan lain sebagainya.

Meski demikin, bukan berarti kecerdasan yang tinggi satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan seseorang dalam menghafal Al-Qur‘an. Banyak orang yang memiliki kecerdasan rata-rata tapi mampu menghafal Al-Qur‘an dengan baik, hal ini di antaranya karena adanya hal-hal berikut:

1) Dorongan motivasi yang tinggi 2) Niat yang sungguh-sungguh

3) Tekun dan gigih dalam setiap keadaan

4) Optimis dan merespon baik segala hal yang dapat meningkatkan kesungguhan

46

5) Berusaha keras memusatkan pikiran dari hal-hal yang tidak penting

6) Berpindah dari lingkungan yang dapat melemahkan semangat

7) Keinginan untuk mendapatkan kehidupan akhirat dan menjadikan sebagai satu-satunya tujuan

8) Banyak mengingat kematian

9) Berteman dengan orang yang memiliki kesungguhan tinggi, menimba ilmu dari pengalaman mereka

10) Meminta nasihat pada orang shaleh

11) Banyak berdoa kepada Allah semoga berkenan meningkatkan kesungguhan dan tidak menyimpang dari tujuan menghafalkan Al-Qur‘an selama-lamanya

Sekali lagi menghafal Al-Qur‘an itu memang membutuhkan kecerdasan dan ingatan yang kuat, namun di sisi lain, menghafal Al-Qur‘an juga menjadi sebuah latihan dalam mengasah kecerdasan dan intelektual seseorang.

c. Target Hafalan

Target di sini sebenarnya bukan menjadi aturan yang mesti dipaksakan, namun hanya sebuah kerangka yang dibuat sesuai dengan kemampuan dan alokasi waktu yang tersedia bagi para penghafal Al-Qur‘an, paling tidak dengan membuat target, seorang penghafal Al-Qur‘an dapat merancang dan mengejar target yang dia buat, sehingga menghafal Al-Qur‘an akan lebih semangat dan giat.

Adanya target ini diharapkan dapat menunjang keajekan hafalan tiap harinya, sehingga hafalan lebih terkontrol baik untuk menambah hafalan baru maupun mengulang hafalan. Meski

47

demikian cepat lambatnya menyelesaikan program ini sangat tergantung kepada penghafal itu sendiri, sesuai dengan kapasitas waktu dan kemampuan penghafal, karena setiap penghafal memiliki kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu penghafal Al-Qur‘an, yang meliputi:

a. Metode yang digunakan

Penerapan metode yang tepat sangat mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar, dalam hal ini menghafal Al-Qur‘an. Prinsip pengajaran Al-Qur‘an pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam-macam metode. Penggunaan metode yang variatif dapat membangkitkan motivasi belajar anak didik (penghafal Al-Qur‘an). Di antara metode tersebut yang paling popular adalah sebagai berikut:

1) Guru membaca terlebih dahulu, kemudian di susul santrinya

2) Santri membaca langsung di depan guru, sedangkan gurunya menyimak

Dari kedua metode tersebut, yang digunakan pada pondok pesantren tahfiz Al-Qur‘an adalah metode yang kedua. Karena dalam metode yang kedua lebih akrab disebut sorogan di atas terdapat sisi positif yaitu lebih aktifnya santri disbanding dengan gurunya, yang dilakukan

48

pada saat membacakan hafalan, baik ketika setoran hafalan baru maupun ketika muraja‘ah hafalan.

b. Manajemen waktu

Seorang yang menghafal Al-Qur‘an harus dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya demi terciptanya konsentrasi dalam menghafal Al-Qur‘an. Pada dasarnya setiap waktu, baik malam maupun siang adalah baik untuk menghafal Al-Qur‘an. Namun, memang ada waktu-waktu tertentu yang mempermudah untuk kegiatan hafalan, atau lebih baik bila dilihat dari sisi kejernihan pikiran dan kemampuan otak untuk merenungkan ayat-ayat Al-Qur‘an pada waktu tersebut, misalnya saat sahur, di pagi hari atau sebelum tidur.

Waktu-waktu yang dianggap sesuai dan baik untuk menghafal Al-Qur‘an di antaranya sebagai berikut:

1) Waktu sebelum terbit fajara

2) Setelah fajar sehingga terbit matahari 3) Setelah bangun dari tidur siang 4) Setelah shalat

5) Waktu di antara maghrib dan ‗Isya

Disisni dapat dilihat bahwa waktu yang dianggap baik adalah waktu-waktu ketika posisi pikiran tenang dan tidak lelah, seperti halnya waktu-waktu saat bangun dari tidur atau waktu setelah shalat. Namun tidak berarti waktu selain yang tersebut di atas tidak baik untuk menghafal Al-Qur‘an. Karena pada kenyataannnya Kenyamanan dan ketepatan dalam memanfaatkan waktu lebih relative dan bersifat subjektif, sesuai dengan kondisi psikologis masing-masing penghafal Al-Qur‘an yang variatif. Bisa saja waktu tertentu lebih cocok bagi

49

seseorang namun pada saat yang sama orang lain justru tidak menganggapnya cocok karena satu dan lain hal.

Intinya, penggunaan waktu dalam kegiatan menghafal Al-Qur‘an menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan hafalan, termasuk kualitasnya. Semakin pandai seorang penghafal Al-Qur‘an dalam mengatur waktunya untuk Al-Qur‘an, ia akan menemukan kenyamanan dengan hafalan yang dimilikinya.

c. Manajemen tempat

Selain harus pandai-pandai mengelola waktu, memilih situasi dan kondisi tempat menghafal yang tepat juga sangat mendukung tercapainya program menghafal Al-Qur‘an. Dan tempat menghafal itu tidak selalu harus di pesantren, rumah atau tempat kerja pun dapat menjadi tempat favorit untuk menghafal jika saja di sana benar-benar tercipta kenyamanan.

Banyak orang yang mengeluh tidak dapat mencapai cita-citanya untuk menghafal Al-Qur‘an hanya dengan alasan tidak punya kesempatan untuk masuk pesantren tahfiz. Padahal, sesungguhnya di dalam rumah pun ia tetap bisa menghafal jika ia mau.

Umumnya, kebanyakan mereka yang menghafal Al-Qur‘an lebih suka memilih tempat-tempat yang tenang, sepi dari keramaian, sejuk dan tidak panas. Dan beberapa hal tersebut lebih sering ditemukan di masjid, baik dalam maupun di pelatarannya. Mereka yang telah berhasil menghafal Al-Qur‘an dengan sempurna biasanya masing-masing mempunyai

50

kenangan tersendiri di mana tempat yang biasa digunakannya untuk menghafal.

Dapat dipahami, bahwa pemilihan tempat yang tepat untuk menghafal Al-Qur‘an sangat penting dan menunjang dalam keberhasilan menghafal Al-Qur‘an. Tempat yang ideal dan mendukung para penghafal Al-Qur‘an untuk berkonsentrasi adalah tempat-tempat yang nyaman, baik dari sisi penglihatan maupun pendengaran, sehingga tidak memecah konsentrasi dalam menghafal.

Dokumen terkait