BAB I PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
2.6.3 Cara Pemanfaatan
Banyak cara yang dapat ditempuh oleh sebuah perpustakaan untuk menambah koleksi media selain buku dan bahan cetak, baik dengan cara memproduksi sendiri atau membeli dari produsen lain
Sehubungan dengan hal di atas Pribadi (1996, 23) mengemukakan bahwa: Medium Audio mudah digunakan untuk menyampaikan pesan informasi yang bersifat verbal. Pada jenis media audio seperti pita suara pengguna dapat merekam dan menghapus informasi yang ada didalam media pita suara. Untuk merekam dan menghapus informasi pada pita suara, pengguna memerlukan peralatan tambahan yaitu alat perekam kaset pada suara (Audio tape recorder).
Sedangkan pemanfaatan media visual menurut Pribadi (1996, 119):
Pemanfaataannya tidak memerlukan peralatan tambahan seperti halnya peralatan tanbahan yang dibutuhkan pengguna dalam menggunakan media audio dan audiovisual. Hal ini merupakan salah satu keuntungan yang utama dari media visual mudah diperoleh dan digunakan.
Selanjutnya Pribadi (1996, 95)mengemukakan bahwa:
Penggunaan medium Audiovisual diperpustakaan merupakan fasilitas yang memungkinkan pengguna perpustakaan dapat memperoleh pesan dan
informasi yang diperlukan secara efektif. Fasilitas yang diperlukan dalam memanfaatkan koleksi Audiovisual adalah sebagai berikut:
1. Monitor (televisi)
2. Video casette player yang sesuai untuk berbagai format pita video 3. Headphone untuk keperluan pemakaian secara individual.
4. Books atau kotak penyimpanan monitor. 5. Rak untuk kaset Video
Semua peralatan ini harus diletakan ditempat tertentu. Agar peralatan dan program video yang merupakan koleksi perpustakaan tidak rusak dan sebaiknya menggunakan pendingan ruangan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa cara pemanfaatan dan peralatan yang dibutuhkan pengguna dalam memanfaatkan koleksi Audiovisual berbeda-beda tergantung dari jenis koleksi audiovisual yang akan digunakan oleh pengguna.
2.6.4 Pemanfaatan Koleksi Audio-Visual
Pemanfaatan koleksi adalah mendayagunakan sumber informasi yang terdapat di perpustakaan dan jasa informasi yang tersedia. Pemanfaatan koleksi perpustakaan adalah proses, cara dan perbuatan memanfaatkan koleksi perpustakaan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, (2000, 626) dinyatakan bahwa“pemanfaatan adalah proses, cara dan perbuatan memanfaatkan”
Pembinaan koleksi perpustakaan merupakan salah satu dari kegiatan kerja pelayanan teknis yang harus dilakukan perpustakaan dalam usahanya untuk memberikan pelayanan informasi kepada para pemakai perpustakaan demi tercapainya tujuan perpustakaan yaitu menyajikan jenis informasi dalam menambah ilmu pengetahuan yang digunakan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan atau penelitian yang sedang dilakukan oleh pengguna. Menurut Jerold E. Kemp yang dikutip oleh Pribadi (1996, 10) Tujuan dari media Audiovisual adalah:
1. Memotivasi (to motivate)
2. Menyampaikan informasi (to inform) 3. Maksud Pengajaran (to instruct)
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pemanfaatan koleksi Audiovisual adalah pendayagunaan sumber informasi audiovisual yang terdapat pada
perpustakaan dan jasa informasi Audiovisual yang tersedia yang bertujuan untuk memotivasi dan menyampaikan informasi dengan maksud pengajaran kepada pengguna.
2.7 Sarana Pemanfaatan
Dalam memanfaatkan koleksi Audio-Visual memerlukan sarana pendukung, karena pemanfaatan koleksi audio-visual berbeda dengan pemanfaatan jenis koleksi perpustakaan lainnya.
Menurut Surachman (2005, 12) mengemukakan bahwa:
Layanan multimedia/audio-visual yang dulu lebih dikenal sebagai layanan “non book material” adalah layanan yang secara langsung bersentuhan dengan TI. Pada layanan ini pengguna dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk Kaset Video, Kaset Audio, MicroFilm, MicroFische, Compact Disk, Laser Disk, DVD, Home Movie, Home Theatre, dll. Layanan ini juga memungkinkan adanya media interaktif yang dapat dimanfaatkan pengguna untuk melakukan pembelajaran, dsbnya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam layanan perpustakaan adalah pengguna yang mempunyai keterbatasan, seperti penglihatan yang kurang, buta, pendengaran yang kurang dan ketidakmampuan lainnya. Dalam VISI PUSTAKA Volume 3 Nomor 2-Desember (2001, 2) Adapun peralatan standard yang perlu disediakan perpustakaan dalam penggunaan koleksi Audio-visual adalah sebagai berikut:
1. Pemutar videocassette (3/4- dan 1/2-inch VHS, PAL dan SECAM) 2. Pemutar videodisc (baik stand-alone maupun dengan
komputer-interactive);
3. Pemutar DVD (Digital Versatile Disc); 4. Slide/tape synchronized viewers; 5. Pemutar audiocassette;
6. Pemutar audio compact disc (CD);
7. Komputer Macintosh dan IBM dengan CD-ROM drives.
8. Akan lebih baik dan lengkap lagi jika terdapat sambungan Internet (termasuk di dalamnya web browsers dengan fasilitas plug-in/play untuk mengakomodasi banyaknya situs multimedia saat ini).
Sedangkan dalam website Perpustakaan UT mengemukakan bahwa:
Layanan Audio Visual adalah bagian yang melayani pengguna untuk memanfaatkan koleksi Audio Visual seperti CD-ROM, kaset video maupun audio, disertai dengan sarana pelengkap seperti komputer multimedia, televisi, video player [dalam format beta, vhs, VCD, maupun DVD], perangkat audio, dan infokus.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa Layanan Audio-visual merupakan salah satu layanan yang disediakan perpustakaan. Sedangkan pemanfaatan Koleksi Audio-visual dapat dimanfaatatkan melalui sarana atau alat bantu yang disediakan perpustakaan.
2.8 Pengguna Perpustakaan
Pada sebuah perpustakaan pengguna merupakan faktor yang mempengaruhi perpustakaan tersebut berhasil atau tidak, karena perpustakaan yang banyak dikunjungi dan dimanfaatkan seluruh fasilitas dan layanannya dapat dikatakan perpustakaan yang berhasil.
Menurut Reitz (2004, 527) mengemukakan bahwa “User is any person who the resources and sevices of library.” Yang artinya pengguna perpustakaan adalah setiap orang yang menggunakan fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan.
Sedangkan menurut Yusuf (1996, 156) “pengguna atau pemakai jasa perpustakaan adalah semua pengunjung perpustakaan yang bertujuan menggunakan fasilitas perpustakaan untuk mencari informasi dalam rangka memperoleh bahan pustaka atau pengetahuan.”
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pengguna perpustakaan merupakaan semua orang yang menggunakan fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan pengguna sebagai pengetahuan.
2.9 PeranPustakawan
Pengguna sering kali masih memerlukan bantuan untuk memanfaatkan layanan koleksi termasuk referensi. Hal ini dikarenakan pengguna kurang memahami sistem yang ada pada perpustakaan. Oleh karena itu, pustakawan diharapkan dapat memberikan bantuan kepada pengguna untuk memanfaatkan koleksi.
Menurut Sulistyo-basuki (1993, 8) pustakawan adalah:
Orang yang memberikan dan melaksanakan kegiatan perpustakaan dalam usaha memberikan layanan kepada masyarakat sesuai dengan misi yang
diemban oleh badan induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang diperolehnya melalui pendidikan.
Dalam Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal. 1 ayat 8 dinyatakan bahwa:“pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolahan dan pelayanan perpustakaan.”
Sedangkan Muntashir (2005, 17) menyimpulkan:
“Peranan pustakawan adalah kewajiban atau tugas pustakawan dalam memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan dimana salah satu tugasnya adalah memberikan informasi, bimbingan dan bekerjasama dengan pengguna dalam memilih sumber yang diperlukan serta cara mencari dan memanfaatkan informasi tersebut.”
Berdasarkan urain di atas dapat di dikemukakan bahwa peran pustakawan adalah memberikan pelayanan informasi dan bimbingan kepada pengguna dalam memilih sumber informasi yang diperlukan dengan kompetensi yang dimiliki dari pendidikan dan pelatihan.