• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

H. Sampel penelitian

I. Cara Pengambilan Sampel

Sampel yang diambil sebagai subjek adalah yang memenuhi kriteria di atas. Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dimana setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Tekhnik pengambilan secara acak dengan menggunakan table random sampling.14,15

66

2 Deskriptif – analitik Analitik

3 Skala Pengukuran ? Kategorik kategorik Tingkat Kesimpulan dari analitis korelatif Menggunakan rumus: 15

{

67

Jadi besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebesar 51 sampel.

K. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan, yaitu data primer berupa kuesioner yang diisi langsung oleh ibu hamil dan data sekunder berupa buku KIA di Puskesmas Maradekaya Makassar pada bulan desember 2011-januari 2012.

L. Cara Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer primer berupa kuesioner yang diisi langsung oleh ibu hamil dan data sekunder pada KMS ibu hamil di Puskesmas Maradekaya Makassar pada bulan desember 2011-januari 2012.

Adapun prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah:

a. Peneliti mengajukan izin kepada kepala puskesmas

b. Setelah mendapat izin, peneliti melakukan wawancara langsung dengan memberikan kepada responden kuesioner untuk mendapatkan data yang diperlukan.

c. Hasil dari kuesioner tersebut yang telah diisi oleh responden dikelompokkan sesuai dengan data yang dibutuhkan.

M. Definisi Operasional

68

69

Analisis univariat untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi atau besarnya proporsi menurut berbagai karakteristik variabel yang diteliti baik untuk variabel bebas maupun variabel terikat.

2. Analisis Bivariat

Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan tes kemaknaan berupa uji korelasi. Pemilihan uji hipotesis ini dapat dibuktikan dengan uraian sebagai berikut:16

a. Desain penelitian : cross sectional b. Jenis hipotesis : korelatif

c. Variabel independent : tingkat pengetahuan Skala pengukuran independent : kategorik ordinal

d. Variabel dependent : Frekuensi kunjungan ANC Skala pengukuran : kategorik ordinal

e. Rencana analisis yang sesuai : uji pearson

Apabila data yang dikumpulkan berdistribusi normal maka digunakan uji Pearson tetapi apabila data yang dikumpulkan tidak berdistribusi normal maka digunakan uji spearman. 16

Untuk jenis penelitian cross sectional hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care, apabila hasil statistik menunjukkan nilai signifikansi (nilai p) lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Artinya, terdapat

70

Terdapat korelasi tingkat pengetahuan Ibu hamil dengan frekuensi pemeriksaan ANC. Apabila hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi (nilai p) lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka hipotesis nol diterima. Artinya, tidak terdapat korelasi tingkat pengetahuan Ibu hamil dengan frekuensi pemeriksaan ANC.16

Pada penelititan ini menggunakan uji hipotesis korelatif dimana interpretasi hasil uji korelasi didasarkan pada nilai p, kekuatan korelasi serta arah korelasinya. 16

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

Puskesmas Maradekaya berlokasi di jalan Sungai Saddang baru Lotong V nomor 27, kecamatan Maradekaya kota Madya Makassar.Batas-batas wilayah kerja dari puskesmas Maradekaya adalah sebagai berikut:17

- Sebelah utara : kelurahan Lariang Bangia - Sebelah barat : kecamatan Ujung Pandang - Sebelah timur : kelurahan Tamalate - Sebelah selatan : keluarahan Rappocini

Jumlah Penduduk ada 28050 dimana jumlah RW/RT ada 28, Jumlah kepala keluarga ada 4788 KK, jumlahkunjungan bumil baru/lama 608/1260,

71

jumlah kunjungan bumil ulangan K1 608 , K4 655, jumlah kunjungan bumil beresiko tinggi 221, jumlah akseptor KB baru sebanyak 559.

B. KARAKTERISTIK SAMPEL PENELITIAN

Penelitian ini berlangsung selama 1 bulan mulai tanggal 21 desember 2011 sampai 21 januari Januari 2012 tentang korelasi tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan pelayanan antenatal.

Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan usia kehamilan 0 bulan- 9 bulan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner yang diisi sendiri oleh subjek.

Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabulasi silang sesuai dengan tujuan penelitian dan disertai narasi sebagai penjelasan tabel.

C. ANALISIS UNIVARIAT

1. Distribusi Frekuensi Ibu Berdasarkan Umur

Tabel 5.1. distibusi frekuensi ibu hamil berdasarkan umur di puskesmas Maradekaya Makassar

Kelompok umur n %

< 20 Tahun 11 13,6

20-35 tahun 60 74,1

> 35 10 12,3

72

Total 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Pada tabel 5.1 diatas diketahui distibusi umur ibu hamil paling banyak berkisar 20-35 tahun yaitu sebesar 60 orang dengan presentase 74,1% . ini menggambarkan bahwa ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya berada dalam masa produktif.

2. Distirbusi Frekuensi Ibu Hamil Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 5.2. distirbusi frekuensi ibu hamil berdasarkan tingkat pendidikan di puskesmas Maradekaya Makassar

Tingkat Pendidikan n %

SD 14 17,3

SMP 18 22,2

SMA 42 51,9

Perguruan tinggi 7 8,6

Jumlah 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Dari tabel 5.2. diatas dapat dilihat sebaran ibu hamil menurut tingkat pendidikan terbanyak pada tingkat pendidikan SMA sebesar 42 orang dengan presentase 51,9%.

3. Distribusi Frekuensi Ibu hamil Berdasarkan Usia Kehamilan

Tabel 5.3. Distribusi frekuensi ibu hamil berdasarkan usia kehamilan di puskesmas Maradekaya Makassar

73

Usia kehamilan n %

0-3 bulan 6 7,4

4-6 bulan 34 42,0

7-9 bulan 41 50,6

Total 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Dari tabel 5.3 di atas dapat dilihat distribusi usia kehamilan di puskesmas maradekaya paling banyak dikunjungi oleh ibu hamil dengan usia kehamilan 7-9 bulan sebanyak 41 orang dengan presentase 50,6%.

4. Distribusi Frekuensi Ibu Hamil Berdasarkan Pekerjaan Tabel 5.4 Distribusi frekuensi ibu hamil berdasarkan pekerjaan dipuskesmas Maradekaya Makassar

Pekerjaan n %

Tidak bekerja (IRT) 76 93,8

Bekerja 5 6,2

Total 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Dari tabel 5.4 di atas dapat dilihat distribusi pekerjaan ibu hamil di puskesmas maradekaya paling banyak ibu hamil yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga sebanyak 76 orang dengan presentase 93,8% dan yang bekerja hanya 5 orang dengan presentae sebesar 6,2 %.

74

5. Distribusi Frekuensi Ibu Hamil Berdasarkan Paritas

Tabel 5.5 distribusi frekuensi ibu hamil paritas di puskesmas Maradekaya Makassar

Paritas n %

Primipara 59 72,8

Multipara 21 25,9

Grande multipara 1 1,2

Total 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Dari tabel 5.5 di atas dapat dilihat distribusi paritas di puskesmas maradekaya paling banyak ibu hamil dengan primipara yaitu sebanyak 59 orang dengan presentase 72,8%. Artinya paling banyak mengunjungi pelayanan antenatal yaitu ibu hamil dengan kehamilan pertama dan kedua

6. Distribusi Frekuensi Ibu hamil berdasarkan Tingkat Pengetahuan

Tabel 5.6 Distribusi tingkat pengetahuan ibu hamil di puskesmas Maradekaya Makassar

Tingkat pengetahuan n %

Sangat baik 28 34,6

Baik 32 39,5

Cukup 21 25,9

Kurang 0 0,0

75

Tidak tahu sama sekali 0 0,0

Jumlah 81 100,0

Sumber: Data primer Desember 2011-Januari 2012

Dari hasil tabel 5.6 diatas menunjukkan tingkat pengetahuan ibu hamil yang paling banyak yaitu memiliki tingkat pengetahuan baik sebesar 32 orang dengan presentase 39,5% tidak berbeda jauh jumlah nya dengan tingkat pengetahuan sangat baik yaitu sebesar 28 orang dengan presentase sebesar 34,6

%.

7. Distribusi Frekuensi Ibu hamil Berdasarkan Kunjungan Antenatal Care.

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Ibu hamil Berdasarkan Kunjungan Antenatal Care di Puskesmas Maradekaya

Frekuensi kunjungan n %

ANC lengkap 66 81,5

ANC tidak lengkap 15 18,5

Jumlah 81 100,0

Sumber: Data buku KIA Desember 2011-Januari 2012

Dari hasil tabel 5.7 diatas menunjukkan frekuensi kunjungan pelayanan antenatal di puskesmas maradekayya dengan frekuensi kunjungan dengan ANC lengkap mulai dari kunjungan 1 sampai kunjungan k4 sebesar 66 orang dengan presentase 81,5% dan frekuensi kunjungan dengan ANC tidak lengkap sebesar 15 orang dengan presentase 18,5%.

76 D. ANALISIS BIVARIAT

Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap frekurnsi kunjungan Antenatal Care di Puskesmas maradekaya makassar. Pengujian data menggunakan program SPSS 16.0 for windows. 16

Tabel 5.8 Langkah-langkah untuk menentukan uji hipotesis yang sesuai dengan panduan tabel uji hipotesis dan diagram alur

Langkah Jawaban

2 Menentukan jenis hipotesis Korelatif 3 Menentukan masalah skala

variable

Kategorik Kesimpulan:

Uji yang digunakann adalah uji korelasi pearson (uji parametrik),jika data berdistribusi normal. Jika tidak berdistribusi normal, maka digunakan uji spearman (uji non parametrik)

Pada uji normalitas didapatkan hasil sebagai berikut:

77 menunjukkan bahwa data yang dianalisis berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, digunakan uji Spearman.16

Tabel 5.10 hasil uji korelasi tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap frekuensi kunjunhan ANC

Variabel independen Spearman correlation

Sig (2-tailed) n

Tingkat pengetahuan 0,23 0,03 81

Sumber : data primer desember 2011- januari 2012

Hasil penelitian menunjukkan kekuatan korelasi (r) 0,23 dengan arah yang positif. , nilai p< 0,05 . variabel tingkat pengetahuan berhubungan dengan variabel frekuensi kunjungan pelayanan antenatal dimana dari hasil uji korelasi spearman diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil berhungan dengan frekuensi kunjungan pelayanan antenatal dengan nilai p=0,03 < 0,05.

78

Dimana didapatkan nilai dari kekuatan korelasi menunjukkan arah korelasi positif yang mengartikan bahwa semakin baik pengetahuan ibu hamil maka dipastikan frekuensi kunjungan pelayanan antenatal sesuai dengan jadwal kunjungan. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0.03 (p < 0.05) maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima ini berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

Tingkat pengetahuan

Frekuensi kunjungan r 0,23

p < 0,05

n 81

Uji korelasi Spearman.

Adapun analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi spearman dari variabel- variabel independen lainnya seperti umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, paritas dan usia kehamilan.

Tabel 5.12 hasil uji korelasi umur terhadap frekuensi kunjungan ANC

Variabel independen r p n

Umur 0,23 0,03 81

Sumber : data primer desember 2011- januari 2012

79

Hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan kekuatan korelasi (r) 0,23 dengan arah yang positif. , nilai p< 0,05 . variabel umur berhubungan dengan variabel frekuensi kunjungan pelayanan antenatal . Dimana didapatkan nilai dari kekuatan korelasi menunjukkan arah korelasi positif yang mengartikan bahwa semakin matang umur ibu maka dipastikan frekuensi kunjungan pelayanan antenatal sesuai dengan jadwal kunjungan. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0.03 (p < 0.05) maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima ini berarti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

Tabel 5.13 hasil uji korelasi tingkat pendidikan terhadap frekuensi kunjungan ANC

Variabel independen r p n

Tingkat pendidikan 0,02 0,82 81

Sumber : data primer desember 2011- januari 2012

Hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan kekuatan korelasi (r) 0,02 dengan arah yang positif. , nilai p > 0,05 Dari hasil uji statistik maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak ini berarti bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

Tabel 5.14 hasil uji korelasi pekerjaan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan ANC

80

Variabel independen r p n

Pekerjaan 0,12 0,27 81

Hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan kekuatan korelasi (r) 0,12 dengan arah yang positif, nilai p > 0,05.

Dari hasil uji statistik maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak ini berarti bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara pekerjaan ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

Tabel 5.15 hasil uji korelasi paritas terhadap frekuensi kunjungan ANC

Variabel independen r p n

Paritas 0,07 0,48 81

Sumber : data primer desember 2011- januari 2012

Hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan kekuatan korelasi (r) 0,07 dengan arah yang positif, nilai p > 0,05.

Dari hasil uji statistik maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak ini berarti bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara paritas ibu hamil terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

Tabel 5.16 hasil uji korelasi usia kehamilan terhadap frekuensi kunjungan ANC

Variabel independen r p n

Usia kehamilan -0,057 0,62 81

Sumber : data primer desember 2011- januari 2012

81

Hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan kekuatan korelasi (r) -0,057 dengan arah yang negatif artinya berlawanan arah , nilai p > 0,05. Dari hasil uji statistik maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak ini berarti bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara usia kehamilan terhadap frekuensi kunjungan antenatal care.

82

BAB VI PEMBAHASAN

A. Distribusi Variabel Berdasarkan Karakteristik Demografi 1. Umur

Penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang datang memeriksakan kehamilannya sebagian besar berumur 20-35 tahun dengan presentase sebesar 71%. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki usia yang ideal untuk hamil dan mempunyai anak. Karena dengan usia yang ideal diharapkan responden tersebut juga telah memiliki pengetahuan yang cukup tentang kehamilan itu sendiri. Dengan demikian kesiapan mental seseorang lebih baik terutama dalam menghadapi kehamilannya. Karena dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga mengetahui akan pentingnya Antenatal Care.

Umur mempunyai pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan ibu. Usia yang kemungkinan bukan resiko tinggi pada saat kehamilan dan persalinan yaitu umur 20-35 tahun, karena pada usia tersebut rahim sudah siap menerima kehamilan, mental sudah matang dan sudah mampu merawat bayi dan dirinya.

Sedangkan umur < 20 tahun dan > 35 tahun merupakan umur yang resiko tinggi

83

terhadap kehamilan dan persalinan. Dengan demikian diketahui bahwa umur ibu pada saat melahirkan turut berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas ibu maupun anak yang dilahirkan.

Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun rahim dan bagian tubuh lainnya belum siap untuk menerima kehamilan dan cenderung kurang perhatian terhadap kehamilannya termasuk untuk rutin mengunjungi pelayanan antenatal,perlu dukungan dari keluarga dan pengetahuan yang cukup untuk umur <20 tahun untuk rutin mengunjungi pelayanan antenatal dan merawatkehamilannya agar tetap sehat.

Pada Ibu yang berumur 20-35 tahun rahim dan bagian tubuh lainnya sudah siap untuk menerima dan diharapkan untuk memerhatikan kehamilannya termasuk untuk merawat kehamilannya dan rutin mengunjungi pelayanan antenatal untuk menjaga kehamilannya. Pada usia ini Mereka sudah sampai pada tahap kematangan kognitif, emosional, maupun aspek-aspek kepribadian lainnya. Ibu yang berumur lebih dari 35 tahun rahim dan bagian tubuh lainnya fungsinya sudah menurun dan kesehatan tubuh ibu tidak sebaik saat berumur 20-35 tahun. Dalam kurun waktu reproduksi dikenal bahwa usia aman kehamilan atau persalinan adalah umur 20-30 tahun.6 Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan lebih baik pengetahuan untuk mencegah terjadinya kesakitan dan kematian.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ari Mugiarti di Kecamatan Batealit Jepara tahun 2008, terdapat hubungan antara umur dengan pemeriksaan kehamilan (p=0,02).18 Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh

84

Hendro.M pada tahun 2006 di medan menunjukkan ibu hamil dengan anemia paling besar terdapat pada kelompok umur lebih dari 25 tahun dan dimana diketahui bahwa anemia merupakan faktor resiko tinggi dalam kehamilan.

Sedangkan umur yang lebih muda dibawah dari 17 tahun memiliki resiko tinggi mengalami perdarahan beratsaat melahirkan,anak lahir dengan berat badan rendah dan proses kelahiran sulit. Dan untuk menghindari resiko tinggi kehamilan tersebut maka diharapkan ibu hamil harus rutin melakukan pemeriksaan antenatal.19 Pada salah satu penelitian di India dengan sampel sebesar 300 ibu hamil menyatakan terdapat hubungan antara umur ibu hamil,pendidikan dan faktor sosial terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal.20

Jika ditinjau dari penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan variabel umur dan kunjungan pelayanan antenatal memang terdapat hubungan antara umur ibu hamil dan kunjungan pelayanan antenatal, dari hasil uji statistik didapatakan p> 0,05. Dimana pada umur dewasa muda 20-35 tahun lebih banyak berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan misalnya pelayanan antenatal untuk memeriksakan kehamilannya dan memiliki tingkat kunjungan pelayanan antenatal yang baik ini karena pada masa usia seperti ini secara kepribadian seorang wanita sudah siap secara kognitif, perkembangan intelegensia dan pola pikirnya sudah matang, sehingga bisa menjaga kesehatan diri dan kesehatan kehamilannya.

2. Pendidikan ibu hamil

85

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan menengah ke atas ≥ SMA berjumlah 42 responden dengan presentase sebesar 51,9% . Oleh karena itu tingkat pengetahuan responden diharapkan baik pula. Pendidikan penting karena dengan pendidikan merupakan dasar dari mengertinya seseorang dalam menerima informasi. Pada penelitian ini pendidikan ibu hamil sebagian besar sudah termasuk baik yaitu pendidikan SMA sebesar 51,9% kemudian pendidikan SMP 22,2%, SD 17,3% dan perguruan tinggi 8,6.

Pendidikan dapat mendukung pengetahuan bagi ibu, pendidikan kesehatan dapat menunjang program-program kesehatan lainnya termasuk pelayanan antenatal dan kepatuhan dalam memeriksakan kehamilan. Pendidikan adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar.21 Pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.22 Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan semakin tinggi pendidikan maka intensitas pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan semakin tinggi.23 Dalam dunia kesehatan, pendidikan seseorang akan sangat mempengaruhi derajat kesehatannya dikemudian hari baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain yang ada disekitarnya, sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain

86

menuju ke arah suatu cita-cita tertentu, pendidikan yang cukup merupakan dasar dalam pengembangan wawasan sarana yang memudahkan untuk di motivasi serta turut menentukan cara berpikir seseorang dalam menerima pengetahuan,sikap dan perilaku masayarakat .24

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jean-claude Berthelemy di Paris menyatakan bahwa akses pelayanan kesehatan termasuk kunjungan pelayanan antenatal secara signifikan tergantung pada sosial ekonomi rumah tangga, termasuk tingkat pendidikan ibu. Pada penelitian mengharapkan peran serta pemerintah untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan ibu hamil dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.25

Penelitian yang dilakukan oleh Galuh ajeng pada tahun 2006 menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan ibu hamil terhadap kunjungan pelayanan antenatal, dimana p=0,000 < 0,05.2 Pada penelitian yang dilakukan oleh Murniati pada tahun 2008 di kabupaten Aceh tenggara menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pedidikan Ibu hamil terhadap kunjungan pelayanan antenatal dimana dari hasil uji statistik nilai p=0,0516 > 0,05.20 Penelitian yang dilakukan oleh Dora destria menyatakan bahwa tidak ada hubungan yangsignifikan antara tingkat pendidikan dengan pemahaman pelayanan antenatal, hal tersebut dapat di artikan bahwa baik ibu hamil dengan tingkat pendidikan SD, SMP, maupun SMA sama-sama memiliki pemahaman antenatal care. 26

3. Usia kehamilan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang datang memeriksakan kehamilannya sebagian besar umur kehamilan 7-9 bulan dengan presentase

87

sebesar 50,6%. Hal ini menunjukkan bahwa ibu hamil dengan trimester ke 3 lebihbanyak memeriksakan kehamilannya kemudian trimester ke 2 sebanyak 34 responden (42%) dan trimester 1 sebanyak 6 responden (7,4%).

4. Pekerjaan ibu hamil

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga hampir seluruh responden sebagai irbu rumah tangga yaitu 79 orang dan hanya 5 responden yang bekerja Hal tersebut menunjukkan bahwa ibu hamil berperan lebih banyak sebagai ibu rumah tangga, dibandingkan harus bekerja di luar rumah.

Bila seorang ibu ikut membantu penghasilan dalam rumah tangga maka pada saat hamil mereka lebih banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran maka efeknya dapat berpengaruh pada pemeriksaan kehamilan. Pekerjaan sangat menentukan terhadap seseorang untuk berbuat sesuatu kegiatan. Pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan ibu. Dengan banyak kesibukan maka ibu kadang-kadang lupa untuk melakukan pemeriksaan kehamilan tepat waktu. Namun pekerjaan bukanlah penghambat dalam bertindak, bila ada kemauan ataupun ibu memiliki pengetahuanyang baik terhadap kesehatan maka ia akan berusaha untuk melakukan tindakan dalam hal ini memeriksakan kehamilannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Galuh ajeng pada tahun 2006 menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pekerjaan ibu hamil terhadap kunjungan pelayanan antenatal, dimana p=0,000 < 0,05.20 Pada penelitian Ari mugiarti menyatakan terdapat hubungan antara pekerjaan ibu terhadap kunjungan pemeriksaan kehamilan dengan nilai p=0,02 < 0,05.18 Penelitian oleh Endang Ratriasworo menyatakan terdapat hubungan anatara pekerjaan ibu terhadap kunjungan

88

pelayanan antenatal dimana dari hasil uji statistik p=0,04 < 0,05 .Sedangkan dalam penelitian Ari.P dengan responden sebanyak 50 orang dengan variabel bebas adalah pekerjaan, dan variabel terikat kunjungan ulang antenatal tidak terdapat hubungan.

Artinya walaupun ibu hamil memiliki pekerjaan ataupun hanya sebagai ibu rumah tangga tetap melaksanakan kunjungan pelayanan antenatal.

Penelitian yang dilakukan oleh Jean-claude Berthelemy di Paris menyatakan bahwa akses pelayanan kesehatan termasuk kunjungan pelayanan antenatal secara signifikan tergantung pada pekerjaan ibu hamil.25 artinya terdapat hubungan antara pekerjaan ibu terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam hal ini pelayanan antenatal.

Penelitian yang dilakukan di Madagaskar oleh Ayako Honda yang berjudul “Affordability of emergency obstetric and neonatal care at Public madagascar” dengan data yang dikumpulkan sebanyak 107 ibu hamil , menyatakan ibu hamil yang tidak bekerja dan didukung dengan sosial ekonomi yang rendah maka akan sulit mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk untuk pelayanan antenatal ditambah lagi keterjangkauan daerah tempat pelayanan kesehatan berada.10

Pekerjaan berpengaruh terhadap kunjungan pelayanan antenatal, dimana ibu hamil yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga memiliki banyak waktu untuk memerhatikan kesehatan diri dan kehamilannya dibandingkan ibu hamil yang memiliki pekerjaan dan kesibukan lainnya. Adapun penelitian yang menyatakan bahwa walaupun ibu hamil tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga pemanfaatan pelayanan kesehatan kurang ini disebabkan oleh karena jarak antara rumah tinggal dan fasilitas pelayanan kesehatan jauh.

89 5. Status kehamilan (paritas)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang