BAB II LANDASAN TEORI PENELITIAN
B. Silabus
5. Cara Pengembangan Silabus
Pengembangan silabus sebaiknya dilakukan dengan melibatkan para ahli atau instansi yang relevan didaerah setempat, seperti tokoh masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta termasuk perusahaan dan industri, serta perguruan tinggi. Jika sekolah atau satuan pendidikan memerlukan bantuan
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN SILABUS Perencanaan Pelaksanaan Perbaikan Pemantapan PENGEMBANGA RPP
DRAFT SILABUS DAN PENGEMBANGAN UJI COBA ANALISIS REVISI PENGEMBANGAN SILABUS DAN PENGEMBANGAN
dan bimbingan teknis untuk penyusunan silabus, dapat mengajukan permohonan kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Pusat Pengembangan Kurikulum (Puskur), atau ke Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta.
Dalam prosesnya, pengembangan silabus harus melibatkan berbagai pihak, seperti dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kota dan kabupaten, departemen agama serta sekolah yang akan mengimplementasikan kurikulum, sesuai dengan kapasitas dan proporsinya masing-masing. Namun demikian, bagi sekolah yang belum mampu atau belum memenuhi kriteria sebagaimana dikemukakan di atas, diperbolehkan untuk menggunakan model silabus yang dikembangkan oleh BSNP, atau bisa juga memfotokopi silabus dari sekolah lain yang telah mampu mengembangkannya, dengan ijin tentunya. Dengan demikian, pengembangan silabus KTSP dapat dilakukan melalui tiga cara berikut:
a. Mengembangkan silabus sendiri, bagi sekolah yang sudah mampu
mengembangkannya, dan didukung oleh sumber daya, sumber dana, serta fasilitas dan lingkungan yang memadai.
b. Menggunakan model silabus yang dikembangkan oleh BSNP, bagi
sekolah yang belum mampu mengembangkannya secara mandiri.
c. Menggunakan atau memfotokopi silabus dari sekolah lain, bagi sekolah
6. Langkah-langkah Penyusunan Silabus dan Sistem Penilaian
Langkah-langkah dalam penyusunan silabus dan sistem penilaian meliputi tahap-tahap yaitu, identifikasi mata pelajaran, perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar, penentuan materi pokok, pemilihan pengalaman belajar, penentuan indikator, penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen, perkiraan waktu yang dibutuhkan, dan pemilihan sumber atau bahan atau alat. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca uraian berikut:
a. Identifikasi. Pada setiap silabus perlu identifikasi yang meliputi identitas
sekolah, identitas mata pelajaran, kelas atau program, dan semester.
b. Penguruan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Standar
kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Ekonomi atau Akuntansi dirumuskan berdasarkan struktur keilmuan Ekonomi atau Akuntansi dsn tuntutan kompetensi lulusan. Selanjutnya standar kompetensi dan kompetensi dasar diurutkan dan disebarkan secara sistematis.
c. Penentuan Materi Pokok dan Uraian Materi Pokok. Materi pokok dan
uraian materi pokok adalah butir-butir pelajaran yang dibutuhkan siswa untuk mencapai suatu kompetensi dasar. Pengurutan materi pokok dapat menggunakan pendekatan procedural, hirarkis, konkret ke abstrak, dan pendekatan tematik. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan materi pokok dan uraian materi pokok adalah:
1) Prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian anatara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
2) Prinsip konsistensi, yaitu adanya keajegan antara materi pokok dengan kompetensi dasar dan standar kompetensi.
3) Prinsip adekuasi, yaitu adanya kecukupan materi pelajaran yang
diberikan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Materi pokok inipun telah ditentukan oleh Depdiknas.
d. Pemilihan Pengalaman Belajar. Proses pencapaian kompetensi dasar
dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar dilakukan oleh siswa untuk menguasai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Baik pembelajaran tatap muka maupun pengalaman belajar, dapat dilakukan di dalam maupun diluar kelas. Untuk itu, pembelajarannya dilakukan dengan metode yang bervariasi.
e. Penjabaran Kompetensi Dasar menjadi Indikator. Indikator merupakan
kompetensi dasar secara spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui ketercapaian hasil pembelajaran. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang bisa diukur dan dibuat instrument penilaiannya. Seperti halnya standar kompetensi dan kompetensi dasar, sebagian dari indikator telah pula ditentukan oleh Depdiknas.
f. Penjabaran Indikator ke dalam Instrumen Penilaian. Indikator dijabarkan lebih lanjut ke dalam instrument penilaian yang meliputi jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen. Setiap indikator dapat dikembangkan menjadi 3 instrumen atau lebih penilaian yang meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan afektif.
Jenis tagihan yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut:
1) Kuis. Bentuknya berupa isian singkat dan menanyakan hal-hal yang
prinsip. Biasanya dilakukan sebelum pelajaran dimulai, kurang lebih 5-10 menit. Kuis dilakukan untuk mengetahui penguasaan pelajaran oleh siswa. Tingkat berfikiryang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman.
2) Pertanyaan Lisan. Materi yang ditanyakan berupa pemahaman
terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Tingkat berfikir yang terlibat adalah pengetahuan dan pemahaman.
3) Ulangan Harian. Ulangan harian dilakukan secara periodik di akhir
pembelajaran satu atau dua kompetensi dasar. Tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya mencakup pemahaman, aplikasi, dan analisis.
4) Ulangan Blok. Ulangan Blok adalah ujian yang dilakukan dengan
cara menggabungkan beberapa kompetensi dasar dalam satu waktu. Tingkat berfikir yang terlibat mulai dari pemahaman sampai dengan evaluasi.
5) Tugas Individu. Tugas individu dapat diberikan pada waktu-waktu tertentu dalam bentuk pembuatan klipping, makalah, dan yang sejenisnya. Tingkat berfikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, sampai sintesis dan evaluasi.
6) Tugas Kelompok. Tugas kelompok digunakan untuk menilai
kompetensi kerja kelompok. Bentuk instrumen yang digunakan salah satunya adalah uraian bebas dengan tingkat berfikir tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi.
7) Responsi atau Ujian Praktik. Bentuk ini dipakai untuk mata
pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya. Ujian responsi bisa dilakukan di awal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian yang dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium atau tempat lain, sedangkan ujian yang dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang telah dicapai peserta didik dan yang belum.
8) Laporan Kerja Praktik. Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran
yang ada kegiatan prajtikumnya. Peserta didik bisa diminta untuk mengamati suatu gejala dan melaporkannya.
Bentuk Instrumen dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes dan nontes. Bentuk instrumen tes meliputi, pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif, jawaban singkat, menjodohkan, benar salah, unjuk kerja
(performans) dan portofolio, sedangkan bentuk instrumen nontes meliputi, wawancara, inventori, dan pengamatan. Para guru diharapkan menggunakan instrumen yang bervariasi agar diperoleh data tentang pencapaian belajar siswa yang akurat dalam semua ranah. Beberapa bentuk instrumen tes yang dapat digunakan, antara lain sebgagai berikut:
1) Pilihan Ganda. Bentuk ini bisa mencakup banyak materi pelajaran,
penskorannya objektif, dan bisa dikoreksi dengan mudah.
2) Uraian Objektif. Jawaban uraian objektif sudah pasti. Uraian
objektif lebih tepat digunakan untuk bidang matematika dan sain, namun dalam ekonomi bentuk ini juga dapat digunakan. Agar hasil penskorannya objektif, diperlukan pedoman penskoran. Hasil penilaian terhadap suatu lembar jawaban akan sama walaupun diperiksa oleh orang yang berbeda.
3) Uraian Non objektif atau Uraian Bebas. Uraian bebas dicirikan
dengan adanya jawaban yang bebas. Namun demikian, sebaiknya dibuatkan kriteria penskoran yang jelas agar penilaiannya objektif.
4) Jawaban Singkat atau Isian Singkat. Bentuk ini digunakan untuk
mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman siswa. Materi yang diuji bisa banyak.
5) Menjodohkan. Bentuk ini cocok untuk mengetahui pemahaman atas
6) Performans. Bentuk ini cocok untuk mengukur kompetensi siswa dalam melakukan tugas tertentu, seperti praktik ibadah atau perilaku yang lain.
7) Portofolio. Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan
unjuk kerja siswa, dengan menilai kumpulan karya-karya dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa. Karya-karya ini dipilih dan kemudian dinilai, sehingga dapat dilihat perkembangan kemampuan siswa.
g. Menentukan Alokasi Waktu. Alokasi waktu adalah perkiraan berapa
lama siswa mempelajari suatu materi pelajaran. Untuk menentukan alokasi waktu, prinsip yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik di dalam maupun di luar kelas, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari.
h. Sumber atau Bahan atau Alat. Istilah sumber yang digunakan di sini
berarti buku-buku rujukan, referensi atau literature, baik untuk menyusun silabus maupun mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan dan alat adalah bahan-bahan dan alat-alat yang diperlukan dalam praktikum atau proses pembelajaran lainnya. Bahan dan alat di sini dapat bervariasi sesuai dengan karakteristik mata pelajarannya.