BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Carpal Tunnel Syndrome
2.3.1 Definisi
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) atau disebut juga Sindrom Terowongan
Karpal (STK) adalah kumpulan gejala akibat terjadi penekanan pada saraf nervus
medianus ketika melalui terowongan karpal di pergelangan tangan. Manifestasi
klinis dari sindroma ini adalah rasa nyeri dan kesemutan (paraesthesia) (Sidharta,
CTS merupakan entrapment neuropathy yang terjadi akibat adanya penekanan
nervus medianus pada saat melalui terowongan karpal di pergelangan tangan
tepatnya di bawah fleksor retinaculum (Rambe, 2004).
Terowongan karpal berada di bagian sentral dari pergelangan tangan di
mana berbagai komponen tulang dan ligamen membentuk suatu terowongan
sempit yang dilalui oleh beberapa tendon dan nervus medianus (Samuel, 1999).
Tulang-tulang karpalia membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan
kaku sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal
ligament dan palmar carpal ligament) yang kuat dan melengkung di atas
tulang-tulang karpalia tersebut. Setiap perubahan yang mempersempit terowongan ini
akan menyebabkan tekanan pada nervus medianus.
2.3.2 Anatomi dan Biomekanika
Pergelangan tangan disusun oleh 3 tulang yaitu tulang radius, ulna dan
karpal. Dimana terowongan karpal terletak di pergelangan tangan yang
kerangkanya di bentuk oleh 8 tulang carpal yang tersusun atas 2 bagian. Bagian
proximal terdiri dari lateral dan medial yaitu tulang navicular, lunatum,
triquertum, dan pisiformis.
Bagian distal yaitu tulang trapezium, trapezoideum, capitatum dan
hamatum. Tulang-tulang karpal tangan susunannya membusur dengan bagian
konkaf menghadap ke arah telapak tangan. Ruangan ini tertutup oleh ligamentum
karpi transversum sehingga terbentuk suatu terusan yang sempit yang disebut
Gambar 2.2 Anatomi Nervus Medianus
Sumber: Netter, Frank H. Atlas of Human Anatomy. Fourth edition. Saunders: Elsevier (2006)
Terowongan karpal tersusun secara rapat Musculi antebrachium palmares
superficial (m. pronator teres, m. flexor carpi radialis, m. palmaris longus, m. flexor carpi ulnaris, m. flexor digitorum superficialis), Musculi antebrachium palmares profunda (m. flexor digitorum profunda, m. flexor digitorum longus, m. pronator quadratus), Flexor digitorum longus dan nervus medianus (Wichaksana,
dkk., 2002)
Nervus medianus terbentuk dari fasikulus lateralis asal radiks C5, C6, C7
dan fasikulus medialis C8 dan T1. Saraf medianus di atas siku tidak mempunyai
cabang-cabang artikuler menuju sendi siku cabang muskuler mempersarafi
pollicis longus, pronator quadratus. Setelah memberi cabang pada otot-otot lengan
bawah untuk berbagai gerakan lengan dan jari-jari tangan di bawah ligamentum
carpi transversal syaraf medianus bercabang dua, yang lateral (motorik)
brevis, otot oponen pollicis dan otot adductor pollicis. Percabangan medial
(sensorik) mempersyarafi otot antara ossa metacarpalia yaitu lumbricales,
interossei palmaris dan interossei dorsalis bagian polar jari-jari 1, 2, 3 dan ½ jari
ke 4 (sisi lateral) serta bagian tengah sampai sisi radial juga dipersyarafi oleh n.
Medianus (Sloane, 1994).
2.3.3 Klasifikasi
Menurut Katz, dkk (2002), kriteria diagnostik dibuat berdasarkan
pengalaman klinis para peneliti, banyak gejala pasien ditemukan pada perbatasan
dari kelas klasifikasi yang satu dengan yang lainnya. Pada derajat 0 atau disebut
juga dengan derajat Asimtomatik yaitu tidak ada gejala dan tanda CTS, namun
apabila dilakukan pemeriksaan konduksi saraf sensorik dan motorik mungkin
ditemukan kelainan pada sekitar 20% populasi. Pada kondisi ini tidak perlu
dilakukan terapi.
Derajat 1 atau disebut juga derajat Simtomatik Intermiten terdapat
parastesia tangan (kesemutan) intermiten, namun tidak terdapat defisit neurologis.
Apabila dilakukan tes provokasi dan pemeriksaan konduksi saraf sensorik dan
motorik mungkin ditemukan kelainan. Pada derajat 1 sudah dapat dilakukan terapi
konservatif.
Pada CTS derajat 2 atau disebut juga dengan Simtomatik Persisten
terdapat defisit neurologis sesuai dengan distribusi saraf medianus dan bila
dilakukan tes provokasi akan didapatkan hasil yang positif serta pada pemeriksaan
konduksi saraf sensorik dan motorik tidak normal. Penanganan yang dapat
Derajat tertinggi yaitu derajat 3 disebut juga dengan derajat Berat. Kondisi CTS
derajat berat adalah terdapat atrofi otot thenaris. Apabila dilakukan pemeriksaan
dengan elektromiografis terdapat fibrilasi atau neuropati unit motorik. Tindakan
yang dapat dilakukan pada derajat ini dengan melakukan terapi operatif.
Komplikasi yang mungkin timbul pada CTS oleh karena kompresi antara
lain atrofi otot thenaris, gangguan sensorik yang mengenai bagian radial telapak
tangan dan sisi palmar dari tiga jari tangan yang pertama, serta terdapat deformitas
“ape hand”, tidak mampu memfleksikan jari tangan, gengggaman tangan melemah, terutama ibu jari dan telunjuk, dan jari-jari ini cenderung mengadakan
hiperekstensi dan ibu jari abduksi.
2.3.4 Patofisiologi
CTS terjadi apabila saraf nervus medianus mengalami tekanan dalam
struktur anatomis terowongan karpal. Tekanan dapat disebabkan oleh
meningkatnya volume dalam terowongan karpal, pembesaran saraf medianus, atau
berkurangnya area cross-sectional dalam terowongan karpal. Dari ketiga
penyebab ini, yang menjadi penyebab terbanyak adalah meningkatnya volume
terowongan karpal.
Meningkatnya volume terowongan karpal dipengaruhi oleh gerakan yang
berulang dengan kontraksi sangat kuat, tekanan mekanis, sikap kerja kaku dan
aneh, getaran setempat dan penggunaan sarung tangan sempit dingin. Hal ini akan
menyebabkan peradangan tendon pada sendi dan bursa yang akan menekan N.
Medianus dan menimbulkan manifestasi klinis seperti nyeri, terdapat kelemahan
Teori getaran gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari penggunaan
jangka panjang alat yang bergetar pada saraf median di terowongan karpal.
Menurut Lunborg dalam Tana (2004) mencatat edema epineural pada saraf nervus
medianus dalam beberapa hari terkena paparan alat getar genggam. Edema
epineural diakibatkan adanya peningkatan tekanan intrafasikuler yang
menyebabkan aliran darah vena melambat sehingga endotel menjadi rusak dan
kebocoran protein. Selanjutnya, terjadi perubahan serupa mengikuti mekanik,
iskemik, dan trauma kimia.
Getaran ini merangsang kontraksi tendon, mengurangi kelenturan,
mencederai saraf perifer, menyebabkan mati rasa jari-jari atau mengurangi sensasi
tangan sebagai akibat konstriksi vaskuler atau vasospasme mikrosirkulasi ke saraf
perifer. Cedera mikroskopik, mikrosirkulasi, arteriosklerosis lokal yang
menyebabkan pembengkakan lokal berisi cairan dan fibrin yang menekan nervus
medianus.
2.3.5 Etiologi
Terowongan karpal yang sempit selain dilalaui oleh nervus medianus juga
dilalui oleh beberapa tendon fleksor. Setiap kondisi yang mengakibatkan semakin
padatnya terowongan ini dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada nervus
medianus sehingga menimbulkan STK. Beberapa penyebab (etiologi) dan
faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS)
1. Herediter : Neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure plays,
misalnya HMSN (hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III
2. Trauma : Dislokasi, fraktur atau hematon pada lengan bawah, pergelangan
tangan dan tangan, trauma langsung terhadapa pergelangan tangan.
3. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
yang berulang-ulang dan pengagangkat beban berat.
4. Inveksi : tenosinovitis, tuberkulosis, sarkoidosis.
5. Metabolik : amiloidosis, gout, hipotiroid-neuropati fokal taken, khususnya
syndrome carpal tunnel juga terjadi karena penebalan ligamen, dan tendon dari
simpanan zat yang disebut mukopolisakarida.
6. Endokrin : akromegali, terapi estrogen atau ansdrogen, diabetes mellitus,
hipotiroidi dan kehamilan.
7. Neoplasma : kista ganglion, lipoma, infiltrasinmetatase, mieloma.
8. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumathoid, polimialgia reumatika,
skleroderma, lupus eritematosus sistemik.
9. Degeneratif : osteoartritis.
10. Iatrogenik : punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk dialisis,
hematoma, komplikasi dari terapi anti koagulan.
11. Faktror Stress.
12. Inflamasi : infklamasi dari membran mukosa yang mengelilingi tendon
menyebabkan nervus medianus tertekan dan menyebabkan carpal tunnel
2.3.6 Faktor - Faktor yang dapat mempengaruhi Carpal Tunnel Syndrome (CTS)
1. Jenis Kelamin
National Women’s Health Information Centre (2008) dalam Tirsa Iriani (2010) menyebutkan bahwa tulang pergelangan tangan pada wanita secara alami
lebih kecil, sehingga menciptakan ruang yang lebih ketat untuk dilalui saraf dan
tendon. Wanita juga menghadapi perubahan hormonal yang kuat selama
kehamilan dan menopause yang membuat wanita lebih mungkin untuk menderita
carpal tunnel syndrome. Secara umum, wanita lebih berisiko terhadap Carpal
Tunnel Syndrome (CTS) antara usia 45 – 54 tahun.
2. Umur
Pertambahan usia dapat memperbesar risiko terjadinya carpal tunnel
syndrome (CTS), dimana usia terjadinya penyakit ini berkisar antara 29 - 62
tahun. Dengan bertambahnya umur dapat dipastikan bahwa paparan dengan alat
kerja tangan makin lama pula karena penggunaan tiap hari pada waktu kerja dan
kemampuan elastisitas tulang, otot ataupun urat semakin berkurang sebagai
peredam dari getaran yang dirambatkan ke tubuh (Syaiful Saanin, 2009).
3. Masa kerja
Gangguan yang disebabkan oleh getaran dapat muncul dalam waktu yang
berbeda-beda sejak pertama terpapar, tetapi kadang-kadang gejala ini timbul
dalam beberapa bulan setelah paparan berat. Perubahan rangka biasanya timbul
tidak lebih awal dari 10 tahun atau lebih. Dengan masa kerja yang lama maka
pekerja terkena Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dimana efek yang ditimbulkan
getaran dalam jangka waktu lama (Syaiful Saanin, 2009).
4. Riwayat Pekerjaan
Penyakit Carpal Tunnel Syndrome (CTS) erat kaitannya dengan ketiga
faktor penyebab utama yaitu :
1. Kompresi berulang yang menyebabkan iskemia, pembentukan edema
pada ruang subendoneurial dan sinovium yang akhirnya menjadi
fibrosis.
2. Perlekatan saraf yang disebabkan oleh jaringan parut berakibat pada
menurunnya hantaran saraf dan iskemia.
3. Tekanan mekanis setempat dari struktur-struktur seperti misalnya FR
yang menyebabkan kerusakan saraf setempat. Teori ini dapat
tumpang-tindih, contohnya suatu peningkatan tekanan ekstra neurial dapat
mendorong saraf melawan jaringan yang kaku dan menyebabkan suatu
cedera setempat disebabkan karena tekanan mekanis (PT Kalbe Farma,
2003).
5. Penyakit-Penyakit Degeneratif.
Menurut Ronald E. Pakasi (2007), carpal tunnel syndrom dapat terjadi
akibat adanya penyakit lain yang memicunya. Berbagai penyakit degeneratif dapat
menyebabkan munculnya carpal tunnel syndrome sebagai salah satu bentuk
Kondisi-kondisi medis penyebab carpal tunnel syndrome diantaranya :
1. Arthritis Reumatoid
Gejala di terowongan carpal ini juga umum terjadi pada lansia penderita
reumatik. Dalam hal ini, saraf terjepit bukan akibat pembesaran otot melainkan
sendi di pergelangan tangan berubah bentuk. Reumatik juga menimbulkan
kesemutan, biasanya gejala terjadi pada pagi hari dan menghilang pada siang hari.
Gejala kesemutan karena reumatik hilang sendiri bila reumatiknya sembuh (Lily
Wibisono, 2007).
2. Fraktur/Dislokasi
Keadaan lokal lainnya seperti inflamasi sinovial serta fibrosis (seperti pada
tenosinivitis), fraktur tulang carpal, dan cedera termal pada tangan atau lengan
bawah bisa berhubungan dengan Carpal Tunnel Syndrome (Syaiful Saanin, 2009).
3. Diabetus Mellitus
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) ini juga sering terjadi berkaitan dengan
kelainan yang menimbulkan demielinasi atau kelainan saraf iskemik seperti
diabetes mellitus (Syaiful Saanin, 2009). Timbulnya neuropati pada penderita
diabetes tidak tergantung pada kadar gula darah, tetapi pada lamanya si penderita
mengidap diabetes. Semakin lama menderita diabetes maka semakin tinggi pula
rasa kesemutan itu muncul. Jadi bisa saja seorang penderita merasakan kesemutan
meskipun diabetesnya sendiri terkontrol dengan baik, yang dirasakan biasanya
kesemutan pada ujung jari terus-menerus, kemudian disertai rasa nyeri yang
menikam seperti tertusuk-tusuk diujung telapak kaki atau tangan terutama pada
4. Hipertensi
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) juga dapat terjadi akibat penyakit lain
sebagai salah satu bentuk komplikasi. Orang yang tidak teratur olahraga juga
terancam penyakit ini karena tubuh yang kurang terlatih menyebabkan sirkulasi
darah dan otot kurang bisa bertoleransi dengan stress, serta kebiasaan merokok
dan mengkonsumsi kopi memicu timbulnya hipertensi sebagai faktor resiko
terjadinya penyakit carpal tunnel syndrome (Daryono Soemitro, 1992).
5. Tumor
Semua lessi masa didalam terowongan karpal mungkin mengganggu saraf
median seperti neurofibroma, ganglion, dan tumor jinak lainnya. Ada pula
kesemutan yang tidak bisa hilang sendiri, gejala awal yaitu kesemutan di telapak
kaki, lambat laun telapak kaki terasa tebal. Rasa tebal itu manjalar ke betis lalu ke
lutut. Setelah beberapa waktu kaki yang terasa terganggu mulai lemah dan sukar
berjalan. Gejala di perparah dengan sakit kepala yang hebat dan saat batuk pun
kepalanya terasa sakit. Lambat laun, kedua kakinya terasa lumpuh dan
penglihatan jadi kabur. Ternyata hal tersebut di karenakan ada tumor pada bagian
kepala depan otak. Sebuah penyakit serius dengan gejala awal sepele (Lily
Wibisono, 2007).
6. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung diri yang cocok untuk getaran yang dirambatkan melalui
alat kerja tangan adalah sarung tangan dengan bahan busa dan pemberian damping
atau peredam dari karet pada alat yang berhubungan langsung dengan tangan
hingga dibawah nilai ambang batas yang ditetapkan yaitu 4 m/s2 (Tarwaka, 2008).
2.3.7 Gejala Klinis
Gejala awal biasanya berupa parestesia yang terjadi dalam distribusi saraf
medianus tangan, tiap malam pasien terbangun pada jam-jam awal dengan rasa
nyeri yang panas membakar, perasaan geli, dan mati rasa (Bahrudin, 2011).
Gejala-gejala Carpal Tunnel Syndrome (CTS) sebagai berikut:
1. Sakit tangan dan mati rasa, terutama pada waktu malam hari.
2. Nyeri, kesemutan, mati rasa pada jari-jari tangan, terutama ibu jari,
telunjuk dan jari tengah.
3. Waktu pagi atau siang hari perasaan pembengkakan terasa ketika
menggerakkan tangan dengan cepat.
4. Rasa sakit menjalar ke atas hingga lengan atas sampai dengan pundak.
5. Terkadang tangan terasa lemas dan hilang keseimbangan terutama di pagi
hari.
Kelemahan pada tangan juga sering dinyatakan dengan keluhan adanya
kesulitan yang penderita sewaktu menggenggam. Pada tahap lanjut dapat dijumpai
atrofi otot thenar (oppones pollicis dan abductor pollicis brevis). dan
otot-otot lainya yang diinervasi oleh nervus medianus (Bahrudin, 2011).
2.3.8 Faktor Resiko
Faktor resiko dari Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terdiri dari okupasi dan
non okupasi faktor yang berhubungan dengan gejala CTS pada pekerja industri.
Faktor risiko okupasi yaitu bekerja dengan cepat, gerakan berulang, pekerjaan
okupasi yaitu jenis kelamin, umur, indeks massa tubuh, merokok, status
kehamilan (Maghsoudipour, 2008).
2.3.9 Dignosis
Diagnosis CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala-gejala klinis seperti
di atas dan perkuat dengan pemeriksaan yaitu:
1) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita
dengan perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom tangan.
Menurut Katz, dkk (2002) beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat
membantu menegakkan diagnosis CTS adalah:
a) Phalen test : Penderita diminta melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila
dalam waktu 60 detik timbul nyeri, tes positif CTS. Sensitivitas dan
spesifisitas tes Phalen dalam mendiagnosis CTS secara berurutan adalah 82%
dan 100% (Widodo, 2014).
b) Torniquet test : Pada pemeriksaan ini dilakukan pemasangan torniquet dengan
menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di atas tekanan
sistolik. Bila dalam 1 menit timbul gejala seperti CTS, tes ini menyokong
diagnosis.
c) Tinel sign : Tes ini mendukung diagnosis bila timbul parestesia atau nyeri
pada daerah distribusi nervus medianus jika dilakukan perkusi pada
terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi.
Gambar 2.4 Tinel’s Sign
Sumber: Sawaya, Raja A. Journal of Clinical Neurophysiology (2009)
d) Flick's sign : Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau
menggerak-gerakkan jari-jarinya. Bila keluhan berkurang atau menghilang akan
menyokong diagnosis CTS. Harus diingat bahwa tanda ini juga dapat dijumpai
pada penyakit Raynaud.
e) Thenar wasting : Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan adanya atrofi
otot-otot thenar.
f) Menilai kekuatan dan keterampilan serta kekuatan otot secara manual maupun
g) Wrist extension test : Penderita diminta melakukan ekstensi tangan secara
maksimal, sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan sehingga dapat
dibandingkan. Bila dalam 60 detik timbul gejala-gejala seperti CTS, maka tes
ini menyokong diagnosis CTS.
h) Pressure test : Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan
menggunakan ibu jari. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul gejala
seperti CTS, tes ini menyokong diagnosis.
i) Luthy's sign (bottle's sign) : Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari
telunjuknya pada botol atau gelas. Bila kulit tangan penderita tidak dapat
menyentuh dindingnya dengan rapat, tes dinyatakan positif dan mendukung
diagnosis CTS.
j) Pemeriksaan sensibilitas : Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik
(two-point discrimination) pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus
medianus, tes dianggap positif dan menyokong diagnosis.
k) Pemeriksaan Fungsi Otonom : Pada penderita diperhatikan apakah ada
perbedaan keringat, kulit yang kering atau licin yang terbatas pada daerah
inervasi nervus medianus. Bila ada akan mendukung diagnosis CTS.
Dari pemeriksaan provokasi diatas Phalen test dan Tinel sign adalah tes
yang tepat untuk CTS (Tana, dkk., 2004).
2) Pemeriksaan Neurofisiologi (Elektrodiagnostik)
Pemeriksaan elektromiografi (EMG) dapat menunjukkan adanya fibrilasi,
otot-otot thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot-otot-otot
lumbrikal. EMG bisa normal pada 31% kasus CTS.
Kecepatan Hantar Saraf (KHS) pada 15-25% kasus, bisa normal. Pada
yang lainnya KHS akan menurun dan masa laten distal (distal latency)
memanjang, menunjukkan adanya gangguan pada konduksi saraf di
pergelangan tangan. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik
(Sidharta, 2004).
3) Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan tangan dapat membantu
melihat apakah ada penyebab lain seperti fraktur atau artritis. Foto polos leher
berguna untuk menyingkirkan adanya penyakit lain pada vertebra. USG,
CT-scan dan MRI dilakukan pada kasus yang selektif terutama yang akan
dioperasi. USG dilakukan untuk mengukur luas penampang dari saraf median
di carpal tunnel proksimal yang sensitif dan spesifik untuk carpal tunnel
syndrome (Wilkinson, 2001).
4) Pemeriksaan Laboratorium
Bila etiologi CTS belum jelas, misalnya pada penderita usia muda tanpa
adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan
seperti kadar gula darah , kadar hormon tiroid ataupun darah lengkap (Rambe,
2004).
2.3.10 Pencegahan
Berbagai pekerjaan yang banyak menggunakan tangan dalam jangka
dimaksud umumnya menggunakan kombinasi antara kekuatan dan pengulangan
gerakan yang sama pada jari-jari dan tangan, selama periode waktu yang lama.
Sindroma terowongan karpal dapat pula tercetus akibat paparan terhadap
getaran atau vibration (misalnya pekerjaan pengeboran), atau akibat kesalahan
posisi tangan yang tidak ergonomis (misalnya pekerjaan dengan komputer), yang
terjadi dalam jangka waktu lama (Astaqaulia, 2010).
Panduan yang telah dibuat Silverstein, dkk (2000) mengenai pencegahan
untuk mengendalikan risiko penyebab CTS akibat gerakan berulang (repetitive)
adalah dengan mengurangi penggunaan gerakan tangan berulang dengan bantuan
mesin otomatis dan lakukan rotasi pekerjaan dengan gerakan yang berbeda.
Gerakan yang sangat kuat (forceful) dapat dicegah dengan pengurangan berat atau
ukuran perkakas yang digunakan disesuaikan dengan kekuatan normal tangan.
Pada sikap tubuh yang kaku atau tidak ergonomis dapat dicegah dengan
menyesuaikan jenis pekerjaan dengan pekerja dan usahakan posisi pergelangan
tangan harus selalu netral dengan membuat pekerjaan lebih mudah dijangkau.
Tekanan mekanis dapat dicegah dengan memberi bantalan pada pegangan
perkakas yang digunakan atau dengan penggunaan sarung tangan. Untuk
mengendalikan efek getaran dapat menggunakan isolator (alat peredam) vibrator
dan hindari penggunaan perkakas pemutar yang kuat (Silverstein, dkk., 1987).
Menurut NIOSH (1997), pencegahan ergonomi yang terpenting untuk
mengindari CTS adalah dengan pengendalian sikap tubuh dengan memelihara
meredam getaran dan melakukan rotasi pekerja untuk meningkatkan kewaspadaan
pekerja.
2.4 Pekerja 2.4.1 Definisi Pekerja
Pekerja adalah penduduk yang melakukan kegiatan bekerja. Penduduk
dibagi menjadi 3 yaitu penduduk usia kerja, penduduk yang termasuk angkatan
kerja dan penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja. Penduduk yang
termasuk angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (≤ 15 tahun) yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan
maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan,
paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut
termasuk pola kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha
atau kegiatan ekonomi (BPS, 2000).
2.4.2 Pekerja Las
Pekerja las merupakan pekerja yang bekerja di lapangan usaha bidang
konstruksi. Pekerjaan yang dilakukan berupa kegiatan memotong, meratakan,
menghaluskan, mengkilatkan, membelah benda kerja, dan membentuk benda
kerja seperti merapikan hasil pemotongan (Candra, 2016). Ketika melakukan
pekerjaan las, pekerja melakukan pekerjaan dengan posisi tidak ergonomis,
seperti mengelas dengan membungkuk, berjongkok, dan posisi kepala mendongak
ke atas. Keadaan seperti itu dapat mempengaruhi posisi kerja tangan saat
Menggerinda adalah bagian dari pekerjaan pengelasan yang menggunakan
mesin gerinda (Fatmawati, dkk. 2009). Posisi tangan saat menggunakan mesin
gerinda yang tidak sesuai juga akan berisiko menyebabkan terjadinya Penyakit
Akibat Kerja (PAK) yaitu Carpal Tunnel Syndrome (CTS).
Berdasarkan penelitian Pangestusi, dkk., (2014), posisi kerja tangan
responden saat menggunakan mesin gerinda sebagian besar dengan lateral pinch.
Sedangkan menurut Vienza (2011), posisi lateral pinch merupakan posisi yang
tidak normal dan tidak ergonomis karena jari-jari tangan tidak menggenggam
sempurna sehingga berpotensi menyebabkan cedera pada tangan.
2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.5 Kerangka Konsep
Intensitas Getaran
Gejala Carpal Tunnel