BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 61 8.1 Kesimpulan
Lampiran 4. Catatan Harian Hari/ tanggal : Jumat/5 Juni
Jumat/19 Juni 2009 Pukul : 14.00-15.00 WIB Responden : Bapak Nsr
Wawancara ini pertama kali dilakukan pada hari Jumat, tanggal 5 Juni 2009, bertempat di kediaman Bapak Nsr. Kediaman beliau tidak jauh dari Pasar Cipulir. Rumah beliau terdiri dari dua lantai, dimana beliau dan keluarga menetap hanya pada lantai atas saja dan lantai bawah digunakan untuk memproduksi jins anak-anak, mulai dari proses pembuatan pola sampai dengan barang jadi. Wawancara ini berlangsung di lantai atas di tempat kediaman beliau tinggal.
Pada awalnya beliau dapat mengikuti program SMEP ini karena sebelum program ini datang, beliau telah menjadi anggota koperasi di Cipulir. Melalui koperasi tersebut beliau mendapatkan pengenalan mengenai program SMEP ini. Tepat pada tahun 2007, banjir besar melanda Cipulir dan membuat usaha Pak Nsr menjadi kacau, banyak alat-alat mesin yang hanyut terbawa banjir. Setelah banjir selesai, Swisscontact memberikan program penggantian mesin-meisn jahit kepada para pelaku usaha kecil, termasuk Pak Nsr. Mulai dari program awal ini, Pak Nsr menjadi terikat pada program Swisscontact selanjutnya yang dinamakan SMEP.
Langkah awal dari program ini adalah, Pak Nsr mengikuti rapat yang dihadiri oleh Pak Ad, Bu Mr, dan dihadiri oleh orang-orang dari Koperasi. Pada rapat ini Pak Nsr, mengaku suasana rapat sangat kondusif, dimana para peserta diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat mengenai masalah-masalah yang mereka hadapi sepanjang menjalankan usaha jins ini. Pak Nsr mengaku mengikuti semua kegiatan yang dilaksanakan oleh Swisscontact mulai dari awal hingga akhir, kecuali kegiatan pelatihan yang diadakan oleh PT. Bali Nirwana.
Pelatihan pertama yang diikuti oleh Pak Nsr adalah pelatihan yang diadakan oleh IGTC. Beliau mengaku puas pada pelatihan ini, karena pada
pelatihan ini beliau diberikan pengetahuan mengenai bagaimana pelaku usaha garmen, khususnya jins mengelola manajemen kerjanya. Pada pelatihan ini beliau juga mengadakan kunjungan ke industri garmen beskala besar yang terletak di Cibinong. Pelatihan kedua yang diikuti oleh beliau adalah dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Universitas Bina Nusantara. Pada pelatihan ini, beliau mengaku diajarkan bagaimana cara mengelola pembukuan arus kas yang jelas. Namun pada akhirnya beliau mengakui bahwa sistem pembukuan yang diajarkan masih terasa sulit untuk diterapkan pada usaha beliau.
Pada wawancara yang kedua, yaitu pada Jumat tanggal 19 Juni 2009, wawancara masih bertempat di kediaman beliau yang letaknya tidak jauh dari Pasar Cipulir. Ketika saya datang, beliau sedang sibuk bolak-balik untuk membeli kebutuhan produksi, seperti kancing, resleting, dan sebagainya. Menurut pengakuan beliau, hal ini dikarenakan permintaan yang naik karena Hari Raya Idul Fitri sebentar lagi akan tiba.
Wawancara yang kedua saya lebih menanyakan mengenai manfaat yang didapat dari Pak Nsr setelah menikuti program SMEP ini. Perubahan yang terjadi pada usaha Bapak Nsr, yang pertama adalah meningkatnya tingkat produktivitas dari produksi celana jins per harinya. Pada awalnya usaha beliau dapat menghasilkan 150 sampai 200 potong celana jins per minggu per orang, namun setelah adanya program SMEP tingkat produktivitasnya bertambah hingga 300 sampai 350 potong celana jins per minggu per orang. Dengan meningkatnya jumlah produktivitas, maka pekerja juga mengalami penambahan dari 10 orang menjadi 20 orang. Namun, pada usaha beliau semua pekerja merupakan pekerja lepas. Alasan beliau memakai pekerja lepas adalah, jika terjadi situasi penurunan permintaan, beliau dapat melepas para pegawainya. Pegawai yang bekerja pada beliau semuanya berasal dari daerah yang sama yaitu suku Padang. Pegawai yang bekerja didominasi oleh laki-laki, perempuan hanya bekerja pada proses pengepakan barang jadi saja. Perubahan yang lain adalah beliau sekarang sudah mempunyai produk baru selain jins, yatu celana panjang berbahan katun untuk anak-anak. Seiring dengan pendapatan usaha yang terus meningkat, beliau sekarang sudah mempunyai kendaraan bermotor berupa mobil
dan motor yang diakuina didapat berkat hasil usaha yang beliau jalankan selama ini. Menurut pengakuannya, beliau mempunyai rencana untuk menjadikan lantai atas rumahnya untuk dijadikan tempat usaha juga dan menyewa rumah satu lagi untuk beliau tempati.
Hari/ tanggal : Jumat/5 Juni 2009 Jumat/19 Juni 2009 Pukul : 15.00-17.00 WIB Responden : Bapak Mht
Hampir sama dengan Pak Nsr, wawancara saya dengan Pak Mht juga berlansung dirumah beliau dimana beliau tinggal di lantai atas sedangkan lantai bawah dipergunakan untuk keperluan usahanya. Rumah dari Pak Mht terletak tidak jauh dari rumah Pak Nsr. Sama seperti yang dialami oleh Pak Nsr, Pak Mht mendapatkan program SMEP yang dilaksanakan oleh Swisscontact, karena beliau juga menjadi anggota koperasi di Cipulir. Ketika saya datang, beliau sedang sibuk memasukkan data tentang uang masuk dan keluar di komputernya. Kegiatan yang dilakukan oleh Pak Mht pertama kali adalah dengan mengikuti rapat yang diadakan oleh Swisscontact. Pada rapat ini beliau mengeluhkan tentang pemasaran yang buruk yang dialami oleh usahanya dan juga beliau menanyakan tentang bagaimana caranya mengembangkan usaha jins agar menjadi berkembang.
Pada pelatihan yang dilaksanakan oleh Universitas Bina Nusantara mengenai bagaimana mengelola pembukuan arus kas yang benar, beliau sangat senang dengan pelatihan ini karena menurutnya kelemahan para pelaku usaha kecil di Cipulir adalah mengenai pembukuan. Setelah pelatihan selesai, hanya Pak Mht yang masih menerapkan sistem pembukuan arus kas yang jelas. Beliau sudah membeli komputer dan sudah menggunakan program Microsoft Excel dalam melakukan sistem pembukuannya. Dengan sistem pembukuan yang sudah jelas, selain mendapatkan pinjaman dari Bank Rakyta Indonesia (salah satu mitra dalam program SMEP), beliau juga mendapatkan pinjaman modal usaha dari Bank Nasional Indonesia (BNI)
Wawancara yang kedua dilakukan pada hari Jumat tanggal 19 Juni 2009. Sama seperti Pak Nsr, pada wawancara kali ini saya lebih menanyakan apa saja manfaat yang didapat dari program SMEP ini. Perubahan terjadi pada tingkat produktivitas usaha beliau yang mengalami peningkatan dari 70 lusin per minggu menjadi kurang lebih 250 lusin per minggunya. Penambahan jumlah pekerja juga terjadi, dengan jumlah awal enam orang pekerja saja menjadi 30 orang pekerja. Namun ada perbedaan antara sistem pekerja yang dipakai oleh Pak Mht dengan Pak Nsr. Para pekerja yang bekerja oleh Pak Mht semuanya merupakan pekerja tetap, dengan gaji yang tetap tiap bulannya. Perubahan ini terjadi karena adanya pelatihan yang diberikan oleh IGTC tentang bagaimanaa mengatur manajemen kerja dalan berusaha di bidang garmen khususnya untuk produksi jins anak-anak.
Hari/ tanggal : Jumat/12 Juni 2009 Jumat/26 Juni 2009 Pukul : 14.00-16.00 WIB Responden : Bapak Asm
Wawancara berlangsung di rumah beliau, pada hari Jumat tanggal 12 Juni 2009. Rumah beliau terletak agak berjauhan dari kediaman kedua pelaku usaha yang lain. Berbeda dengan kedua pelaku usaha yang lain, Pak Asm bukan merupakan anggota koperasi yang ada di Cipulir namun pertama kali beliau terlibat dalam program ini karena adanya program penggatian mesin yang dilakukan oleh Swisscontact setelah banjir melanda Jakarta pada tahun 2007. Beliau mengikuti program ini karena beliau merupakan ketua perkumpulan pedagang dari Karawang, dan diajak oleh koperasi untuk ikut dalam program. Setelah mengikuti program ini, beliau terus mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Swisscontact dalam rangka mengembangkan usaha yang ia jalani. Kegiatan yang pertama dilakukan adalah dengan mengikuti rapat yang diadakan oleh Swisscontact. Pada rapat ini beliau memberikan keluhan- keluhannya tentang usaha yang beliau jalankan, seputar pemasaran dan juga pembukuan.
Pada pelatihan yang dilaksanakan oleh PT Bali Nirwana. Pak Asm mengirimkan 15 orang pegawainya untuk dilatih disana tentang bagaiman cara menjahit dengan satndar kualitas yang lebih bagus. Pelatihan ini hanya diikuti oleh Pak Asm saja, karena adanya perbedaan karateristik dari tiap-tiap pelaku usaha yang lain.
Wawancara yang kedua dilaksanakan pada haru Jumat tanggal 26 Juni 2009. Pada wawancara ini, saya menanyakan tentang manfaat yang dialami oleh Pak Asm setelah mengikuti program SMEP yang dilaksanakan oleh Swisscontact. Pada usaha yang dijalankan oleh Pak Asm, tingkat produktivitas bertambah dari 75 lusin per minggu menjadi 200 lusing per minggu. Bertambahnya tingkat produktivitas juga diikuti dengan bertambahnya jumlah pekerja yang bekerja pada beliau. Awalnya beliau hanya mempunyai delapan orang pekerja tetap dan empat orang pekerja lepas, menjadi 25 orang pekerja tetap dan lima orang pekerja lepas. Perbedaan perubahan antara Pak Asm dengan pelaku usaha yang lain adalah adanya penambahan jaringan pasar baru pada Pak Asm. Beliau tidak hanya mendapatkan pasar baru di daerah Mangga Dua tetapi beliau juga memsasarkan produknya ke daerah Jatinegara. Hal ini disebabkan selain adanya pengaruh dari hasil pelatihan yang diberikan oleh IGTC, beliau mengikuti pelatihan tambahan mengenai teknis proses menjahit mulai dari proses awal hingga proses akhir yang diberikan oleh PT Bali Nirwana. Dimana pelatihan ini tidak diikuti oleh pelaku usaha kecil yang lain.
Lampiran 5. Dokumentasi