BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Lampiran 4 Catatan Memo
Lampiran 4.1
Catatan Memo Partisipan II (Guru Kelas IV)
Guru kelas IV memiliki persepsi sendiri tentang anak hiperaktif. Beliau mengatakan:
“Anak hiperaktif itu anak yang e... setiap saat e... apa yaa melakukan tindakan entah itu berbicara, entah itu aktivitas apa, entah jalan-jalan itu dan untuk diam beberapa dalam beberapa saat susah, susah sekali. Walaupun untuk Abi itu tidak ada terapi, tapi dibanding anak-anak yang lain, Abi itu termasuk anak yang lebih aktif daripada anak lainnya. Sebelum, belum diajak, gurunya baru menerangkan saja, dia sudah ngomong-ngomong, nyambung apa-apa, terkadang ngomong e.. di luar apa materi, kadang iya seperti itu. Ya, anak yang pintar sebenarnya mbak kemudian dia banyak akal, banyak bergerak karna dia kan banyak akal sebenarnya dia ada saja yang dia lakukan, kemudian ya di kelas e... intensitas untuk diamnya itu lebih sedikit dibandingkan dengan geraknya yang aktif, lebih banyak aktivitas seperti itu.”
Berdasarkan pernyataan tersebut, guru kelas mempersepsikan anak hiperaktif sebagai anak yang setiap saat melakukan aktivitas tertentu, berbicara berlebihan, tidak bisa diam dalam waktu tertentu, dan terkadang menyela pembicaraan orang lain dengan memberikan komentar atau sanggahan. Guru kelas juga berpandangan bahwa anak hiperaktif itu sebenarnya adalah anak yang pandai dan memiliki banyak akal. Dalam menentukan apakah Abi termasuk anak hiperaktif atau tidak, guru berpedoman perilaku yang ditunjukkan Abi, pemahaman tentang hiperaktif, dan assesment- assesment sebelumnya baik dari sekolah maupun orang tua.
Guru kelas menceritakan bagaimana perilaku Abi selama pembelajaran, diantaranya sering menyela pembicaraan orang lain, berbicara berlebihan di luar materi, sering bernyanyi kapan saja tanpa melihat tempat, membutuhkan waktu lama dalam mengerjakan tugas, sering lupa membawa buku atau mengerjakan PR, dan tidak sabaran. Guru kelas memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan khusus yang berbeda-beda. Setiap anak juga memiliki karakteristik yang berbeda- beda seperti yang diungkapkan guru kelas:
“Anak yang e... membutuhkan perilaku yang lain dibanding anak yang lain. Anak yang memerlukan kebutuhan yang lebih khusus
dibandingkan anak yang pada umumnya dan itu memerlukan kebutuhan khusus itu anak satu dengan anak yang lain berbeda-beda.”
Ibu Endah mendeskripsikan Abi baik secara fisik, kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Secara fisik, beliau mengungkapkan bahwa anak memiliki ciri fisik yang sama seperti anak-anak lainnya. Abi memiliki anggota tubuh yang lengkap tanpa kekurangan satupun. Begitu pula secara kognitif, Abi memiliki kemampuan dalam menghafal yang bagus, terutama pada mata pelajaran yang berkaitan dengan pengetahuan, seperti yang diungkapan Ibu Endah berikut:
Kalo kognitif pengetahuan tertentu mbak. Ada bagian-bagian dia yang mampu mungkin pada saat dia mood atau pada saat dia tidak kecapekan, karena anak hiperaktif itu kan membutuhkan tenaga yang, tenaga yang besar ya mbak ya. Mungkin pada awal-awal gini dia mood atau bisa mengikuti pelajaran e... pelajaran tertentu untuk hafalan, dia termasuk lumayan ya. mau menghafal, hafalnya cepet juga, tapi kalo untuk matematika ya e... dia perlu benar-benar pendampingan, tapi untuk hafalan e.. apa matematika, IPS, e... Bahasa itu lumayan tidak terlalu di bawah KKM.
Berdasarkan pernyataan tersebut, guru kelas mengatakan bahwa kemampuan anak rata-rata. Namun, pada pelajaran Matematika Abi mengalami kesulitan, sehingga Abi masih membutuhkan pendampingan. Nilai akademik Abi hampir semua mata pelajaran di atas KKM, kecuali Matematika. Abi juga memiliki prestasi dalam bidang seni, yaitu menyanyi. Abi pernah mengikuti lomba tingkat Kabupaten untuk anak-anak bekebutuhan khusus. Secara afektif pun, Abi memiliki sosialisasi yang baik dengan teman-temannya. Namun, jika dilihat dari segi psikomotorik Abi masih kurang, terutama saat membuat prakarya. Meskipun demikian, Abi selalu semangat dalam mengikuti semua pelajaran di sekolah. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Ibu Endah berikut:
“Iya, motoriknyakan jelek berarti untuk prakarya kurang bagus, tapi dia tetep PD mbak, tetep PD bisa, saya bisa. Jadi, dia ada mata pelajaran apapun bersemangat.”
Ibu Endah memahami bagaimana kondisi Abi, sehingga beliau berusaha memberikan penanganan terhadap perilaku-perilaku yang ditunjukkan anak selama proses pembelajaran. Pertama, Ibu Endah melakukan pendekatan personal dengan selalu berkomunikasi, seperti menyapa setiap pagi atau menanyakan PR.
Kedua, ketika Abi mulai tidak fokus pada mata pelajaran, Ibu Endah memberikan motivasi, nasehat, dan selalu mengingatkan apa yang dia cita-cita selama ini. Salah satu kebiasaan Abi di kelas, yaitu Abi sering sekali menyanyi. Lagu-lagu yang sering Abi nyanyikan adalah lagu sekolah minggu atau Sarpo Jarwo. Berikut pernyataan Ibu Endah saat melakukan wawancara:
“Lagu apapun yang baru saja dia dapatkan. Contonhnya misalnya sekarang hari senin ya mbak, pastilah nanti lagunya lagu sekolah minggu karena dia kan agamanya bukan Islam. Lagu sekolah minggu mbak itu dinyanyekke “Tuhan Yesus” (Ibu Endah memperagakan Abi ketika menyanyi di kelas) pokoknya nyanyinya seperti itu, “Abi ini bukan pelajaran Agama.” Kalo nggak dia suka nyanyi Sarpo Jarwo “Limme, engkau idaman hatiku” (Ibu Endah memperagakan Abi ketika menyanyi di kelas) sukanya nyanyi itu. Delime kan anaknya Babacang yang terus dinyanyikan. Terus mbak ngikutin e... logat bahasanya orang Malaysia seperti itu.”
Penanganan yang Ibu Endah lakukan ketika Abi menyanyi di kelas adalah sama seperti penanganan-penanganan sebelumnya dengan memberikan nasehat, meskipun itu hanya berlaku sebentar dan selang beberapa menit kembali seperti itu lagi. Ibu Endah juga menceritakan bagaimana cara menangani Abi dan anak- anak lainnya dengan mengucapakan kata dengan keras, jelas, dan bersikap tegas.
Perilaku-perilaku yang ditunjukkan Abi tersebut dapat menghambat proses pembelajaran baik untuk Abi maupun anak-anak lainnya. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, Ibu Endah menggunakan metode pengajaran. Ibu Endah memiliki pandangan tentang metode pengajaran, seperti yang diungkapkan beliau sebagai berikut:
“Metode ya e... cara yang digunakan guru untuk e... memberikan materi kepada peserta didik.”
Beliau mengungkapkan bahwa metode pengajaran adalah cara yang digunakan guru untuk memberikan materi kepada peserta didik. Beberapa metode pengajaran yang pernah beliau terapkan di kelas, diantaranya kerja kelompok, Jigsaw, CTL, ceramah, dan lain-lain. Selain itu, Ibu Endah juga menggunakan berbagai media pembelajaran, seperti benda-benda konkrit, video, PPT, jembatan keledai, dan alat peraga. Ibu Endah mencoba menggunakan berbagai metode pengajaran tersebut dengan harapan anak, terutama Abi, mampu menerima materi yang diajarkan
dengan maksimal. Menurut Ibu Endah, metode pengajaran yang tepat untuk anak hiperaktif adalah perpaduan berbagai metode pelajaran yang dikemas dalam satu pembelajaran utuh, seperti pernyataan beliau berikut:
“Iya, itu campur mbak. Semua campur karena kalo apa kita menerangkan terus anaknya juga nanti apa namanya ngomong. Nah, nanti terus ada kegiatan apa yang mereka lakukan, campur-campur.” Ibu Endah mengungkapkan bahwa Abi pada pelajaran Matematika, pendamping lebih berperan, terutama pada materi yang membutuhkan langkah-langkah untuk mengetahui hasil jawabannya. Salah satu contonhnya pada materi KPK dan FPB, Abi harus didampingi. Kemudian untuk mengetahui tingkat pemahaman Abi, Ibu Endah memberikan soal evaluasi diakhir pembelajaran tanpa ada pendampingan.
Pedoman Ibu Endah dalam memilih metode pengajaran berdasarkan materi, kemampuan anak, dan alat peraga yang mendukung. Ibu Endah mengungkapkan bahwa jika pemilihan metode pengajaran tepat, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Tingkat keberhasilan penggunaan berbagai metode pengajaran dalam satu pembelajaran tergantung pada mood belajar Abi saat itu juga. Apabila Abi mood belajar, maka materi yang dapat diterima sekitar 80%, tetapi sebaliknya ketika Abi tidak mood belajar, maka materi yang diterima hanya sekitar 50% - 60%. Secara keseluruhan informasi tersebut peneliti dapatkan dari hasil wawancara dengan guru kelas IV.
Lampiran 4.2
Catatan Memo Partisipan IV (Guru Pendamping Khusus)
Partisipan IV merupakan guru pendamping khusus di SD Pelangi yang bernama Ibu Risti. Salah satu tugas Ibu Risti sebagai guru pendamping khusus adalah memberikan assesment pada semua anak berkebutuhan khusus, termasuk Abi. Sebelum melakukan assesment anak hiperaktif, Ibu Risti memiliki pandangan tentang karakteristik anak hiperaktif. Persepsi Ibu Risti tentang anak hiperaktif yang diungkapkan saat melakukan wawancara sebagai berikut ini:
“Anak hiperaktif itu anak yang mempunyai kelebihan gerak maupun verbal kayak gitu. Kalo kelebihan gerak itu misalnya kalo anak- anak yang lain itu e... dalam rentang waktu tertentu anak normal itu anak normal Cuma bergerak 2 sampai 3, nah kalo anak hiperaktif itu bisa lebih dari itu seperti itu sama verbal juga seperti itu dan tidak bisa menempatkan gitu, kalo misalkan verbal kan kalo di kelas anak seharus duduk atau diam atau sebagainya, tapi kalo anak hiperaktif karena dia tidak tau salah, jadi e... ngomong-ngomong terus, nggak bisa duduk, mondar-mandir kayak gitu.”
Berdasarkan pernyataan tersebut, Ibu Risti mempersepsikan anak hiperaktif sebagai anak yang mempunyai kelebihan gerak maupun verbal, misalnya dalam waktu tertentu anak lain bergerak 2-3, tetapi anak hiperaktif bisa lebih, bicara berlebihan, dan tidak bisa duduk tenang. Menurut Ibu Risti, karakteristik anak hiperaktif yang nampak pada anak ini, diantaranya anak sulit berkonsentrasi saat pembelajaran berlangsung, mengajukan banyak pertanyaan secara terus-menerus meskipun pertanyaan sebelumnya belum selesai dijawab, ketika marah anak tidak mau mengerjakan tugas, dia pandai dalam mencari alasan dan selalu menyalahkan orang lain, seperti pernyataan beliau berikut ini:
“Anak hiperaktif itu suka pengen taunya tapi pengen taunya itu suka kelewat dari anak yang lain. Itu apa, Bu? itu sudah, tapi kalo anak hiperaktif itu nanya “Ini apa, itu apa?” Nah terus setelah udah dijelasin kayak gitu kita ngasih tau, dia itu kayak pura-pura ngasih tau ke orang lain, nah kayak gitu lho (Ibu Risti sambil sedikit tertawa). Jadi modelnya membeo, membeo tapi e... ke orang lain ngasih taunya, kayak gitu.” Ibu Risti juga mendeskripsikan Abi baik secara fisik, kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Secara fisik, Ibu Risti mengungkapkan bahwa Abi terlihat seperti
anak lainnya yang memiliki fisik lengkap. Abi secara kognitif memiliki kelebihan dalam menghafal, khususnya pelajaran yang berkaitan dengan pengetahuan. Namun, dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan hitungan, yaitu Matematika, Abi mengalami kesulitan. Hal ini menyebabkan nilai Abi pada mata pelajaran Matematika lebih rendah dibanding nilai mata pelajaran lainnya. Dari segi afektif pun, Abi mampu bersosialisasi baik dengan teman-temannya. Begitu pula dari aspek psikomotorik pada diri anak ini sudah baik, seperti anak-anak lainnya.
Berdasarkan perilaku-perilaku yang ditunjukkan Abi selama pembelajaran, Ibu Risti melakukan berbagai penanganan dengan tujuan mengurangi perilaku hiperaktif pada anak. Beliau berpandangan bahwa penanganan untuk Abi dengan memberikan pengertian-pengertian atau nasehat yang lebih ke psikologis. Contoh penanganan yang telah beliau lakukan saat anak sudah berbicara yang berlebihan dengan memberikan pengertian-pengertian dan membuat kesepakatan, seperti pernyataan beliau berikut:
“Abi, ini waktunya Ibu yang berbicara, kalo Abi mau berbicara silakan tapi nanti pas pelajaran ini atau pas istirahat.” Kita kasih tau kalo misalnya anaknya nggak nggak bisa karna emang Abi kan pemahamannya sudah bagus ya, jadi kan cuman dikasih tau aja kayak gitu. Kalo misalnya nggak ada kita bikin kesepakatan lagi, “Jadi, gimana Abi kalo mau ngomong Ibu diam kalo Ibu yang ngomong Abinya yang diam.” Kalo misalnya anaknya nggak mau ya udah kalo gitu, “Sekarang Ibu mau bicara dulu, Abi silakan tunggu di luar.”
Selain memberikan pengertian, nasehat, atau membuat kesepakatan dengan anak, Ibu Risti juga menggunakan beberapa metode pengajaran ketika mengajar memberikan kelas fullout. Ibu Risti mempunyai pandangan tersendiri tentang metode pengajaran, seperti berikut:
“Metode pengajaran itu kan caranya, cara untuk memberikan pembelajaran agar anaknya itu lebih paham, lebih mengusai pembelajarannya kayak gitu. Jadi ya kita sebagai guru harus tau anaknya itu kayak gimana dan kita harus tau metode apa yang tepat untuk anaknya.”
Berdasarkan pernyataan tersebut, Ibu Risti mendefinisikan metode pengajaran sebagai cara untuk memberikan pelajaran agar anak dapat memahami dan menguasai materi yang diajarkan. Beberapa metode pengajaran yang pernah
beliau terapkan di kelas antara lain adalah TSTS, snowball throwing, ceramah, menggunakan video. Ibu Risti beranggapan jika guru tidak mengembangkan dan menggunakan metode pengajaran, anak-anak akan kesulitan dalam memahami materi. Dalam satu pembelajaran Ibu Risti tidak hanya menggunakan satu metode pengajaran, tetapi mengkombinasikan berbagai metode pengajaran yang dikemas dalam satu pembelajaran utuh, seperti yang beliau ungkapkan berikut ini:
“Tergantung dari materi pelajarannya sama e Abinya saat itu juga sih mbak. Misalnya Metode pelajaraan untuk matematika atau apa kayak itu iya tetep. Jadi nggak bisa hanya satu metode yang dilakukan, tetapi tetep ada combine. Jadi, antara metode konvensional sama yang aktif yang buat anak aktif tadi itu.”
Ibu Risti memberikan contoh pada lima menit pertama pembelajaran, beliau menggunakan metode ceramah, kemudian dilanjutnya dengan metode snowball throwing. Tingkat keberhasilan Ibu Risti menggunakan metode pengajaran tersebut, terutama bagi Abi sekitar 60% - 80%. Namun, Ibu Risti menambahkan tingkat keberhasilan tersebut bergantung dengan suasana hati Abi saat itu juga.
LAMPIRAN 5 BAGAN ANALISIS DATA
Lampiran 5.1 Bagan Analisis Data
Reduksi Data
Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti, baik dari hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Peneliti mentemakan atau mengkategorikan yang menjadi
temuan peneliti dari hasil pengumpulan data. Peneliti menemukan adanya persepsi guru tentang
metode pengajaran untuk anak hiperaktif.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa guru memahami bagaimana kondisi Abi. Hal ini menimbulkan persepsi guru terhadap anak hiperaktif.
Setiap guru memiliki persepsi yang berbeda terhadap anak hiperaktif. Namun, persepsi dari setiap guru yang mengampu di kelas IV SD Pelangi terhadap anak hiperaktif memiliki kesamaan dengan teori anak hiperaktif. Terkait dengan perilaku yang ditunjukkan Abi, hal yang dilakukan guru untuk mengurangi perilaku Abi yang
dapat menghambatnya dalam memahami materi dengan menggunakan metode pengajaran. Hal ini juga mengakibatkan munculnya persepsi guru terhadap metode
pengajaran untuk anak hiperaktif. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi guru terhadap metode pengajaran untuk anak hiperaktif adalah perpaduan dari berbagai metode pengajaran yang dikemas dalam satu pembelajaran utuh. Metode pengajaran
tersebut adalah perpaduan antara metode pengajaran yang berpusat pada siswa dan metode konvensional. Pedoman guru dalam pemilihan metode pengajaran adalah materi, karakteristik anak, kemampuan anak, dan media yang mendukung. Tingkat keberhasilan menggunakan metode pengajaran tersebut bergantung dengan suasana
hati anak saat itu. Catatan Lapangan
Peneliti mengadakan penelitian ini dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan teknik pengumpulan data tersebut peneliti menemukan adanya anak hiperaktif di
kelas IV SD Pelangi
Display Data
Hasil dari penelitian ini adalah munculnya persepsi guru terhadap anak hiperaktif yang sesuai dengan teori anak
hiperaktif dan persepsi guru terhadap metode pengajaran untuk anak hiperaktif. Pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa guru memahami problematika anak hiperaktif. Guru mempunyai persepsi bahwa metode pengajaran untuk anak hiperaktif, khususnya Abi adalah perpaduan dari berbagai metode pengajaran
yang dikemas dalam satu pembelajaran utuh. Guru berpandangan demikian karena guru sebelumnya tidak
dibekali tentang anak hiperaktif dan metode pengajarannya.
LAMPIRAN 6