Catatan Sipil (BS/Burgerlijk Stand) adalah:
Suatu lembaga yang mencatat kejadian-kejadian penting seseorang seperti: kelahiran, pengakuan, perkawinan, perceraian dan kematian. Sedangkan tugas Catatan Sipil adalah memberikan informasi kepada pihak ke III tentang kejadian-kejadian penting seseorang tersebut.
Berdasarkan Pasal 80 KUHPerdata menyatakan bahwa perkawinan hanya dapat dilangsungkan:
Dihadapan Pegawai Catatan Sipil dan dengan dihadiri saksi-saksi, kedua calon suami dan isteri harus menerangkan, yang satu, menerima yang
suaminya, pula bahwa mereka dengan ketulusan hati akan menunaikan segala kewajiban demi undang-undang ditugaskan kepada mereka sebagai suami isteri.
Pasal 81 KUHPerdata menyatakan:
Tiada suatu upacara keagamaan boleh dilakukan, sebelum kedua belah pihak pejabatn agama mereka membuktikan bahwa perkawinan dihadapan Pegawai Catatan Sipil telah berlangsung.
Kalau kita baca kedua pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan itu sah apabila dilakukan dihadapan Pegawai Catatan Sipil dan dicatat di Kantor Catatan Sipil.
Perkawinan secara agama tidak boleh dilakukan sebelum perkawinan itu dilakukan dan dicatat di Catatan Sipil. Dulu dikenal adanya kawin BS. Perkawinan secara agama tidak menentukan sahnya suatu perkawinan. Hal ini tidak berlaku lagi setelah berlakunya UU Perkawinan No. I Tahun 1974.
Perkawinan sah menurut UU No. I/1974, apabila dilakukan berdasarkan masing-masing agama dan kepercayaannya itu baru didaftarkan menurut perundang-undangan yang berlaku.
Pegawai Catatan Sipil dulu boleh/dapat mengawinkan.
Setelah berlakunya Keputusan Presiden No. 12 tahun 1983 tentang Penyelenggaraan Catatan Sipil, Catatan Sipil tidak boleh mengawinkan lagi.
Fungsi Catatan Sipil berdasarkan Keppres tersebut adalah: Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Kelahiran.
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Perkawinan. Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Percerain.
Pencatatan dan Penerbitan kutipan akta Pengakuan dan Pengesahan Anak.
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Kematian.
Penyimpanan dan pemeliharaan akta kelahiran, akta perkawinan, akta perceraian, akta pengakuan dan pengesahan anak, harta kematian.
Penyediaan bahan dalam rangka perumusan kebijaksanaan di bidang kependudukan/kewarganegaraan.
Organisasi Catatan Sipil ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri yang mendapat persetujuan tertulis dari menteri yang bertanggung jawab di bidang penertiban dan penyempurnaan aparatur Negara.
Gubernur Kepala Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan Catatan Sipil.
Penyelenggaraan Catatan Sipil dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya yang menunjuk Camat selaku Pegawai Pencatatan Sipil di wilayah Kecamatan.
BAB IV
HUKUM BENDA
Tujuan Instruksional Umum / TIU
Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan Hukum Benda diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami tentang kebendaan yang diatur dalam Undang-undang.
Sub Pokok Bahasan:
A. Sistematikan Hukum Perdata
B. Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya UUPA No. 5/1960) C. Sistem Buku II
D. Pengertian Benda
E. Pembedaan Macam-macam Benda F. Pengertian Hak Kebendaan
H. Pembedaan Hak Kebendaan I. Asas-asas Umum Hak Kebendaan J. Kedudukan Berkuasa/Bezit K. Hak Eigendom/Hak Milik
L. Hak Milik Menurut Hukum Islam Tujuan Instruksional Khusus / TIK
Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat:
A. Menyebutkan Sistematikan Hukum Perdata
B. Menjelaskan Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya UUPA No. 5/1960)
C. Menjelaskan Sistem Buku II
D. Menyebut dan menjelaskan Pengertian Benda
E. Menyebut dan menjelaskan Pembedaan Macam-macam Benda F. Menjelaskan arti Hak Kebendaan
G. Menyebutkan Ciri-ciri Hak Kebendaan H. Menyebutkan Pembedaan Hak Kebendaan
I. Menjelaskan dan memberikan contoh Asas-asas Umum Hak Kebendaan
J. Menjelaskan pengertian Kedudukan Berkuasa/Bezit
K. Menjelaskan pengertian Hak Eigendom/Hak Milik Menurut Pasal 570 KUHPerdata.
L. Menjelaskan Hak Milik Menurut Hukum Islam
Pendahuluan : Mengulang kembali pokok bahasan sebelumnya,
melakukan tanya jawab, kemudian menjelaskan sub bahasan yang baru Penyajian : lihat buku
Evaluasi : Tes tertulis secara keseluruhan, untuk menentukan nilai akhir dari mata kuliah perdata.
BAB IV
A. Sistematika Hukum Perdata
Kita mengenal dua macam sistematika Hukum Perdata yaitu: 1. Sistematika menurut Ilmu Hukum
2. Sistematika menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (B.W.) Ad. 1. Sistematika menurut Ilmu Hukum
Ilmu Hukum membagi Hukum Perdata menjadi empat bagian yaitu: Hukum tentang diri seseorang yang memuat peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.
Hukum Kekeluargaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan, seperti hubungan antara orang tua dan anak, perwalian, curatele, perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri.
Hukum Kekayaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang dapat dinilai dengan uang.
Apabila kita berbicara tentang kekayaan seseorang bearti membicarakan jumlah segala hak dan kewajiban orang tersebut yang dapat dinilai dengan uang.
Hak dan kewajiban yang demikian itu biasanya dapat dipindahkan kepada orang lain.
Hak-hak kekayaan tersebut ada dua macam, yaitu:
a. Hak kekayaan yang bersifat absolut/mutlak yaitu hak yang memberikan kekuasaan secara langsung dan dapat dipertahankan terhadap setiap orang.
Hak ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
a.1 Hak mutlak yang berupa kebendaan, yang biasa disebut dengan hak kebendaan saja, misalnya hak milik, hak opstal, hak erfpacht, hak gadai, hak hipotik.
Semua hak tersebut diatur diluar Kitab Undang-undang Hukum Perdata. b. Hak kekayaan yang bersifat relative/hak perseorangan yaitu hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu saja, misalnya: Si A mempunyai utang kepada B, maka disini hanya si B yang berhak menagih utang tersebut kepada si A dan bukan orang lain.
4. Hukum Warisan, mengatur hal ikhwal tentang benda atau kekayaan seseorang jika seseorang tersebut meninggal dunia.
Dapat jiga dikatakan bahwa Hukum Warisan itu mengatur akibat hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.
Ad.2. Sistematika Hukum Perdata menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata/B.W.
Menurut sistematika ini Hukum Perdata dibagi ke dalam 4 (empat) buku, yaitu:
Buku I : Perihal Orang / Van Personen Buku II : Perihal Benda / Van Zaken
Buku III : Perihal Perikatan / Van Verbintennisen
Buku IV : Perihal Pembuktian dan Lewat Waktu (Daluwarsa) / Van Bewijs en Verjaring
Apabila sistematika yang pertama kita masukan kedalam sistematika yang kedua maka akan didapat seperti berikut:
· Hukum tentang diri seseorang termasuk ke dalam Buku I · Hukum tentang kekeluargaan termasuk Buku I
· Hukum Kekayaan termasuk dalam Buku II dan Buku III, seperti telah dijelaskan harta kekayaan itu ada yang bersifat absolut (diatur dalam Buku II) dan ada juga yang bersifat relative (diatur dalam Buku III) · Mengenai warisan dimasukan ke dalam Buku II, dengan
pertimbangan bahwa hukum waris itu adalah hukum yang mengatur tentang harta benda dari orang yang sudah meninggal (merupakan hak kebendaan dari orang yang sudah meninggal dunia). Selain dari pada itu pewarisan merupakan salah satu cara untuk memperoleh hak milik yang diatur dalam Pasal 584 B.W. dalam Buku II.
Sedangkan sistematika yang sekarang lazim dipergunakan adalah sistematika yang kedua yaitu sistematika berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
B. Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya Undang-undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960)
Dengan berlakunya/diundangkannya Undang-undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960 (UUPA) yang mulai berlaku pada tanggal 24 September 1960, Buku II tentang benda mengalami perubahan besar.
Perubahan tersebut dapat kita lihat dalam dictum Undang-undang Pokok Agraria, yang menyatakan sebagai berikut:
Buku )) Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang yang
mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang masih berlaku pada mulai berlakunya undang-undang ini .
Apabila kita telaah isi dictum tersebut maka dapat dikatakan bahwa Buku II sepanjang mengenai bumi, air, seta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dicabut dengan berlakunya UUPA No. 5 tahun 1960, kecuali mengenai ketentuan-ketentuan hipotik.
Jadi ketentuan mengenai hipotik masih berlaku ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Buku II B.W. karena UUPA belum mengaturnya.
Perubahan ini disebabkan karena dulu di negara Indonesia berlaku dualisme hukum dalam tanah, yaitu Hukum Barat dan Hukum Adat. Sekarang diganti dengan Undang-undang Pokok Agraria. Dengan
demikian UUPA tersebut menciptakan unifikasi Hukum Tanah Indonesia. Selanjutnya dengan adanya UUPA tersebut maka
ketentuan-ketentuan/Pasal-pasal dalam Buku II KUHPerdata dapat diperinci sebagai berikut:
Ada Pasal-pasal yang masih berlaku penuh, karena tidak mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Ada pasal-pasal yang tak berlaku lagi, sepanjang mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Hal ini diatur dalam Undang-undang Pokok Agraria.
Ada pasal-pasal yang masih berlaku tapi tidak secara penuh yang berarti untuk bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya tidak berlaku lagi, tapi untuk benda-benda yang lainnya masih tetap berlaku. Ad.a. Pasal-pasal yang masih berlaku penuh adalah:
Tentang benda bergerak pasal 505, 509 - 518 KUHPerdata Tentang penyerahan benda bergerak pasal 612, 613 KUHPerdata Tentang bewoning khusus mengenai rumah pasal 826, 827 KUHPerdata Tentang Hukum Waris pasal 830 – 1130 KUHperdata, walaupun ada beberapa pasal mengenai tanah diwarisi menurut hukum yang berlaku bagi si pewaris
Tentang piutang yang diistimewakan (Prenilegie) pasal 1131 – 1149 KUHPerdata
Tentang gadai, karena gadai merupakan jaminan terhadap benda bergerak saja, pasal 1150 – 1160 KUHPerdata
Tentang hipotik karena hipotik belum diatur dalam UUPA. Walaupun begitu ketentuan-ketentuan mengenai segi formil/acara yaitu mengenai pembebanan/pemberian hipotik dan pendaftaran hipotik harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA, PP 10 tahun 1961, PMA 15 tahun 1961, beserta peraturan-peraturan pelaksana lainnya.
Ad.b. pasal-pasal yang tidak berlaku lagi adalah:
Tentang benda tak bergerak yang melulu berhubungan dengan hak-hak mengenai tanah
Tentang cara memperoleh hak milik mengenai tanah Tentang penyerahan benda-benda tak bergerak tentang kerja Rodi pasal 673 KUHPerdata
Tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga pasal 625 –
672 KUHPerdata
Tentang pengabdian pekarangan (erfdienstbaarheid) pasal 674 – 710 KUHPerdata
Tentang hak opstal pasal 711 – 719 KUHPerdata Tentang hak erfpacht pasal 720 – 736 KUHPerdata
Tentang bunga tanah dan hasil persepuluh pasal 737 – 755
Ad.c. pasal-pasal yang masih berlaku tapi tidak sepenuhnya, adalah: Tentang benda pada umumnya
Tentang cara membedakan benda pasal 503 - 505 KUIHPerdata Tentang benda sepanjang mengenai tanah
Tentang hak milik sepanjang tidak mengenai tanah
Tentang hak memungut hasil sepanjang tidak mengenai tanah, pasal 756 KUHPerdata
Tentang hak pakai sepanjang tidak mengenai tanah pasal 818 KUHPerdata.
Selain itu ada beberapa pasal yang walaupun tidak secara tegas
dinyatakan dicabut yang terdapat di luar Buku II, dianggap tidak berlaku lagi. Pasal-pasal tersebut misalnya pasal 1955. pasal 1963 yaitu yang mengatur tentang syarat-syarat untuk dapat memperoleh hak eigendom melalui lembaga Verjaring.
C. Sistem dari pada Buku II / Hukum Perdata
Sistem yang dianut dalam Buku II/Hukum Benda adalah system tertutup. System tertutup artinya orang tidak dapat mengadakan/membuat hak-hak kebendaan yang baru selain yang sudah ditetapkan dalam undang-undang. Jadi hak-hak kebendaan yang diakui itu hanya hak-hak
kebendaan yang sudah diatur oleh undang-undang.
Kita tidak boleh misalnya mengadakan hak milik baru yang tidak sama dengan hak milik yang sudah diatur oleh undang-undang.
Berbeda dengan system yang dianut oleh hukum perikatan dalam buku III, yaitu system terbuka.
System terbuka artinya setiap orang dapat bebas membuat perjanjian apa saja selain apa yang telah ditetapkan oleh undang-undang, asal tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.
Sistem terbuka ini merupakan cerminan dari isi pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut:
Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang
-undang bagi mereka yang membuatnya .
Jadi Buku III/Hukum Perikatan menganut asas kebebasan berkontrak. D. Pengertian Benda
Pengertian benda secara hukum dapat kita lihat dalam pasal 499 KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut:
Menurut paham undang-undang yang dinamakan kebendaan ialah
tiap-tiap barang dan tiap-tiap-tiap-tiap hak-hak yang dapat dikuasai oleh hak milik .
Di dalam KUHPerdata kita temukan dua istilah yaitu benda (zaak) dan barang (goed).
Pada umumnya yang artinya dengan benda baik itu berupa benda yang berwujud, bagian kekayaan, ataupun yang berupa hak ialah segala sesuatu yang dapat dikuasai manusia dan dapat dijadikan obyek hukum.
Kata dapat dalam definisi tersebut mengandung arti/mempunyai arti
yang penting karena membuka berbagai kemungkinan yaitu pada saat-saat yang tertentu sesuatu itu belum berstatus sebagai obyek hukum namun pada saat-saat yang lain merupakan obyek hukum seperti aliran listrik.
Jadi untuk dapat menjadi obyek hukum ada syarat yang harus dipenuhi yaitu penguasaan manusia dan mempunyai nilai ekonomi dan karena itu dapat dijadikan sebagai obyek hukum.
Terlihat disini adanya proses yang terikat pada waktu.
Misalnya: jika seorang membuka hutan dan mengolahnya, maka lahir penguasaaannya terhadap tanah tersebut. Penguasaan itu menjadi pasti setelah pohon-pohon yang ditanami pembuka hutan itu tumbuh berbuah
sehingga hutan yang dibuka tadi bukan lagi res nullius akan tetapi
sudah ada pemiliknya.
Selain daripada itu di dalam KUHPerdata terdapat istilah Zaak yang tidak berarti benda tetapi dipakai untuk arti yang lain, yaitu misalnya:
Pasal 1792 KUHPerdata : Lastgeving ialah suatu perjanjian yang di situ seseorang memberikan kuasa kepada seorang lain dan orang ini menerimanya untuk melakukan suatu zaak buat lastgever itu. Zaak disini berarti perbuatan hukum.
Pasal 1354 KUHPerdata : Apabila seseorang dengan sukarela tanpa mendapat pesanan untuk itu untuk menyelengarakan zaak seorang lain
dengan atau tanpa diketahui orang lain … dan sebagainya.
Zaak disini berarti kepentingan.
Pasal 1263 KUHPerdata : Perutangan dengan syarat menunda ialah perutangan yang tergantung daripada suatu kejadian yang akan dating dan tidak pasti atau daripada suatu zaak yang sudah terjadi tetapi belum diketahui oleh para pihak.
Zaak disini mempunyai arti kenyataan hukum. E. Pembedaan macam-macam benda
Menurut KUHPerdata benda itu dapat dibedakan sebagai berikut: Benda berwujud dan tidak berwujud – lihamelijk, onlichamelijk. Benda bergerak dan tidak bergerak.
Benda yang dapat dipakai habis dan benda yang tidak habis.
Benda yang dapat dipakai habis/vebruikbaar dan benda yang tidak dapat dipakai habis/onverbruikbaar.
Benda yang sudah ada/tegenwoordige zaken dan benda yang masih akan ada/toekkomstige zaken.
a. yang absolut ialah barang-barang yang pada suatu saat sama sekali belum ada, misalnya: hasil panen yang akan dating.
b. yang relative ialah barang-barang yang pada saat itu sudah ada tapi bagi orang-orang tertentu belum ada, misalnya barang-barang yang sudah dibeli tapi belum diserahkan.
Benda dalam perdagangan/zaken in de handel dan benda di luar perdagangan/zaken buiten de handel.
Dalam hukum Adat tidak membedakan benda seperti apa yang terdapat dalam KUHPerdata tapi hanya mengenal pembedaan benda atas tanah dan bukan tanah.
Juga dalam Undang-undang Pokok Agraria tidak mengenal pembedaan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak.
Sedangkan di Nederland cenderung untuk mengakui pembedaan antara benda atas nama dan tidak atas nama atau benda yang
terdaftar/registergoederen dan benda yang tidak terdaftar/en andere goederen untuk benda yang bergerak dan benda tidak bergerak. Benda yang terdaftar adalah benda-benda dimana pemindahan dan
pembebanannya diisyaratkan harus didaftarkan dalam register yang bersangkutan.
Pembedaan yang terpenting dan biasa/sering digunakan adalah pembedaan mengenai benda bergerak dan benda tidak bergerak. Benda bergerak dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Benda bergerak karena sifatnya/pasal 509 KUHPerdata: a.1. yang dapat dipindahkan
a.2. yang dapat pindah sendiri
b. Benda bergerak karena undang-undang. Benda tidak bergerak dibagi tiga, yaitu:
a. Benda tidak bergerak karena sifatnya: tanah beserta segal apa yang terdapat di dalam dan di atas dan segala apa yang dibangun di atas tanah itu secara tetap apa yang ditanam serta buah-buahan di pohon yang belum diambil.
Di sini dianut asas vertical lawannya adalah asas horizontal.
b. Benda tidak bergerak karena tujuannya: ke dalam benda semacam ini termasuk benda bergerak yang dipakai dalam benda pokok harus sedemikian rupa kontruksinya sehingga keduanya sesuai dan terikat untuk dipakai tetap. Benda pokoknya harus merupakan benda tidak bergerak.
Ada empat hal yang penting untuk membedakan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak, yaitu:
1. Mengenai bezitnya
Terhadap benda bergerak berlaku asas yang tercantum dalam pasal 1977 ayat 1 KUHPerdata yaitu bezitter dari benda bergerak adalah
sebagai eigenaar dari barang tersebaut (Bezit berlaku sebagai titel yang sempurna/Bezit geldt als volkomen titel).
Sedang benda tidak bergerak tidak demikian. 2. Mengenai leveringnya/penyerahannya
Penyerahan benda bergerak dapat dilakukan dengan penyerahan secara nyata sedangkan penyerahan benda tidak bergerak harus dengan balik nama.
Dulu penyerahan benda tidak bergerak berdasarkan Over schrijvings Ordonnantie S. 1834 No. 27.
Sekarang menurut UUPA penyerahan benda tidak bergerak harus dilakukan dan ditandatangani sihadapan PPAT/Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam sertifikat.
3. Mengenai verjaring/kadaluwarsa/lewat waktu
Terhadap benda bergerak tidak mengenal kadaluwarsa sebab berlaku asas yang tercantum dalam pasal 1977 ayat 1 seperti telah dijelaskan dalam no. 1 di atas.
Benda tidak bergerak mengenal adanya kadaluwarsa yaitu 20 tahun dengan alas an hak yang sah dan 30 tahun tanpa alas an hak yang sah. 4. Mengenai bezwaring/pembebanannya
Pembebanan terhadap benda bergerak harus dengan pand/gadai sedang pembebanan terhadap benda tidak bergerak dengan hipotik.
F. Pengertian Hak Kebendaan
Sebelum memberikan defines tentang hak kebendaan kita lihat dulu pembagian daripada hak Perdata.
a. Hak kepribadian misalnya: hak atas namanya, kehormatannya, hidup, kemerdekaan.
b. Hak yang terletak dalam hukum keluarga yaitu hak yang timbul karena adanya hubungan antara suami isteri, hubungan antara orang tua dan anak.
c. Hak mutlak atas sesuatu benda yang biasa disebut dengan hak kebendaan.
Hak relative/hak nisbi/hak persoonlijk yaitu suatu hak yang memberikan suatu tuntutan/penagihan terhadap seseorang dan hak itu hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu saja.
Hak kebendaan adalah hak mutlak atas sesuatu benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas benda tersebut dan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga.
Jadi dengan demikain apa perbedaan antara hak kebendaan dan hak perorangan itu?
Perbedaannya adalah :
1. Hak mutlak dapat dipertahankan terhadap siapapun juga yang melanggarnya.
Hak perorangan hanya dipertahankan terhadap orang tertentu saja. 2. Hak kebendaan memberikan kekuasaan mutlak atas seuatu benda.
Hak perorangan memberikan suatu tuntutan/penagihan terhadap seseorang.
3. Hak kebendaaan mempunyai zaaksgevolg/droit de suit, yaitu hak kebendaan tersebut selalui mengikuti terus dimanapun benda itu berada atau di tangan siapapun benda itu berada.
Hak perorangan tidak mempunyai droit de suit karena hak tersebut hanya dapat dilakukan terhadap seorang tertentu saja. Dengan adanya pemindahan barang tersebut maka hak perorangan lenyap karena hak penagihan lenyap.
Tapi dalam praktek pembedaan tersebut sangat sumier tidak mutlak lagi karena ada hak perorangan yang mempunyai sifat yang mutlak/absolut mempunyai droit de suit dan mempunyai sifat prioritas yaitu :
Hak penyewa dilindungi berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata, ia dapat mempertahankan barang yang disewakan terhadap setiap gangguan dari pihak ketiga (adanya sifat absolut).
Hak sewa senantiasa mengikuti bendanya walaupun barang yang
disewanya berpindah tangan/dijual oleh pemiliknya/adanya sifat droit de suit.
Pembeli/penyewa yang lebih dahulu mempunyai sifat prioritas/lebih didahulukan daripada pembeli/penyewa yang kemudian.
Tapi walaupun demikian sebagai pedoman dapat disimpulkan bahwa hak kebendaan tersebut mempunyai ciri-ciri/sifat-sifat secara umum apabila kita ingin membedakan dengan hak perorangan.
G. Ciri-ciri/Sifat-sifat Hak Kebendaan
Hak kebendaan merupakan hak yang bersifat mutlak yaitu dapat dipertahankan terhadap siapapun juga.
Hak kebendaan mempunyai zaaksgevolg/droit de suit yaitu hak it uterus mengikuti bendanya dimanapun berada atau di tangan siapapun berada. Hak kebendaan yang lebih dulu terjadi mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripada hak terjadi kemudian.
Hak kebendaan mempunyai sifat droit de preference yaitu hak yang lebih didahulukan.
Gugatan hak kebendaan disebut gugat kebendaan.
Apabila haknya ada yang menggangu maka ia dapat melakukan bermacam-macam gugat/actiemisalnya: penuntutan kembali. Penggantian kerugian, pemulihan keadaan semula.
Dalam hak perorangan gugatan hanya dapat dilakukan terhadap pihak lawannya saja/wederpartij.
Seperti telah dijelaskan bahwa hak perdata itu dibagi menjadi dua yaitu: hak mutlak dan hak nisbi.
Hak mutlak dibagi lagi menjadi tiga: hak kepribadian
hak yang terletak dalam hukum keluarga hak kebendaan
Hak kebendaan dapat dibedakan:
1. Hak kebendaan yang memberikan kenikmatan baik atas bendanya sendiri maupun benda milik orang lain/zakelij genotsrecht, misalnya: