• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Pokok Hukum Perdata

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Materi Pokok Hukum Perdata"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM PERDATA

HUKUM PERDATA

MATERI POKOK

MATERI POKOK

Oleh :

JANUARSE H. DJAMI RIWU

NIM. 1202011076

(2)
(3)

Berikut saya akan bagikan materi kuliah hukum perdata, yang saya ringkas materinya dari buku karangan

Prof. Subketi. S.H. yaitu buku "Pokok-Pokok Materi Hukum Perdata.

I. KEADAAN HUKUM PERDATA DI INDONESIA

Perkataan "Hukum Perdata" dalam arti yang luas meliputi semua hukum "privat materiil", yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan. Perkataan "perdata" juga lazim dipakai sebagai lawan dari "pidana".

Ada juga orang memakai perkataan "hukum sipil" untuk hukum privat materiil itu, tetapi karena perkataan "sipil" itu juga lazim dipakai sebagai lawan dari "militer," maka lebih baik kita memakai istilah "hukum perdata" untuk segenap peraturan hukum privat materiil.

Perkataan "Hukum Perdata", adakalanya dipakai dalam arti yang sempit, sebagai lawan "hukum dagang," seperti dalam pasal 102 Undang-undang Dasar Sementara, yang menitahkan pembukuan (kodifikasi) hukum di negara kita ini terhadap Hukum Perdata dan Hukum Dagang, Hukum Pidana Sipil maupun Hukum Pidana Militer, Hukum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana, dan susunan serta kekuasaan pengadilan.

II. SISTEMATIK HUKUM PERDATA

Adanya Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Wetboek vanKoophandel, disingkat W.v.K.) di samping Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, disingkat B.W.) sekarang dianggap tidak pada tempatnya, karena Hukum Dagang sebenarnya tidaklah lain dari Hukum Perdata. Perkataan "dagang" bukanlah suatu pengertian hukum,

(4)

Memang, adanya pemisahan Hukum Dagang dari Hukum Perdata dalam perundang-undangan kita sekarang ini, hanya terbawa oleh sejarah saja, yaitu karena di dalam hukum Rumawi — yang merupakan sumber terpenting dari Hukum Perdata di Eropah Barat — belumlah terkenal Hukum Dagang sebagaimana yang ter-

letak dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang kita sekarang, sebab memang perdagangan internasional juga dapat dikatakan baru mulai berkembang dalam Abad Pertengahan.

Hukum Perdata menurut ilmu hukum sekarang ini, lazim dibagi dalam empat bagian, yaitu :

1. Hukum tentang diri seseorang, 2. Hukum Kekeluargaan,

3. Hukum Kekayaan dan 4. Hukum warisan.

Hukum tentang diri seseorang , memuat peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.

Hukum Keluarga, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan, yaitu : perkawinan beserta hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri, hubungan antara orang tua dan anak, perwalian dan curatele.

(5)

kekayaan, terbagi lagi atas hak-hak yang berlaku terhadap tiap orang dan karenanya dinamakan hak mutlak dan hak-hak yang hanya berlaku terhadap seorang atau suatu fihak yang tertentu saja dan karenanya dinamakan hak perseorangan. Hak mutlak yang memberikan kekuasaan atas suatu benda yang dapat terlihat dinamakan hak kebendaan. Hak mutlak yang tidak memberikan kekuasaan atas suatu benda yang dapat terlihat, misalnya hak seorang pengarang atas karangannya, hak seorang atas suatu pendapat dalam lapangan ilmu

pengetahuan atau hak seorang pedagang untuk memakai sebuah merk, dinamakan hak mutlak saja.

Hukum Waris, mengatur hal ikhwal tentang benda atau kekayaan seorang jikalau ia meninggal. Juga dapat dikatakan, Hukum Waris itu mengatur akibat-akibat hubungan' keluarga terhadap harta peninggalan seseorang. Berhubung dengan sifatnya yang setengah-setengah ini, Hukum Waris lazimnya ditempatkan tersendiri.

Bagaimanakah sistematik yang dipakai oleh Kitab Undang-undang Hukum Perdata?

B.W. itu terdiri atas empat buku, yaitu :

Buku I, yang berkepala "Perihal Orang", memuat hukum tentang diri seseorang dan Hukum Keluarga;

Buku II yang berkepala "Perihal Benda", memuat hukum perbendaan serta Hukum Waris;

Buku III yang berkepala "Perihal Perikatan", memuat hukum kekayaan yang mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak yang tertentu;

Buku IV yang berkepala "Perihal Pembuktian dan Lewat

waktu(Daluwarsa), memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.

(6)

untuk memiliki hak serta kecakapannya untuk mempergunakan hak-haknya itu. Hukum Waris, dimasukkan dalam bagian tentang hukum perbendaan, karena dianggap Hukum Waris itu mengatur cara-cara untuk memperoleh hak atas benda-benda, yaitu benda-benda yang ditinggalkan seseorang. Perihal pembuktian dan lewat waktu (daluwarsa) sebenarnya adalah soal hukum acara, sehingga kurang tepat dimasukkan dalam B.W. yang pada asasnya mengatur hukum perdata materiil. Tetapi pernah ada suatu pendapat, bahwa hukum acara itu dapat dibagi dalam bagian materiil dan bagian formil. Soal-soal yang mengenai alat-alat pembuktian terhitung bagian yang termasuk hukum acara materiil yang dapat diatur juga dalam suatu undang-undang tentang hukum perdata materiil.

III. PERIHAL ORANG DALAM HUKUM

Dalam hukum, perkataan orang (persoon) berarti pembawa hak atau subyek di dalam hukum. Sekarang ini boleh dikatakan, bahwa tiap manusia itu pembawa hak, tetapi belum begitu lama berselang masih ada budak belian yang menurut hukum tidak lebih dari suatu barang saja. Peradaban kita sekarang sudah sedemikian majunya, hingga suatu perikatan pekerjaan yang dapat dipaksakan tidak diperbolehkan lagi di dalam hukum. Seorang yang tidak suka melakukan suatu pekerjaan yang ia harus lakukan menurut perjanjian, tidak dapat secara langsung dipaksa untuk melakukan pekerjaan itu. Paling banyak ia hanya dapat dihukum untuk membayar kerugian yang berupa uang yang untuk itu harta bendanya dapat disita. Karena memang sudah menjadi suatu asas dalam Hukum Perdata, bahwa semua kekayaan seseorang menjadi tanggungan untuk segala kewajibannya. Juga yang dinamakan "kematian perdata", yaitu suatu hukuman yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memiliki sesuatu hak lagi — tidak terdapat dalam hukum sekarang ini (pasal 3 B.W.). Hanya-

(7)

hak-anaknya, kekuasaannya sebagai wali, haknya untuk bekerja pada angkatan bersenjata dan sebagainya.

Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak, mulai dari saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat ia meninggal. Malahan, jika perlu untuk

kepentingannya, dapat dihitung surut hingga mulai orang itu berada di dalam kandungan, asal saja kemudian ia dilahirkan hidup, hal mana penting sekali berhubung dengan waris-an-warisan yang terbuka pada suatu waktu, di mana orang itu masih berada di dalam kandungan. Meskipun menurut hukum sekarang ini, tiap orang tiada yang terkecuali dapat memiliki hak-hak, akan tetapi di dalam hukum tidak semua orang diperbolehkan bertindak sendiri dalam melaksanakan hak-haknya itu. Berbagai golongan orang, oleh undang-undang telah dinyatakan "tidak cakap," atau "kurang cakap" untuk melakukan sendiri perbuatan-perbuatan hukum. Yang dimaksudkan di sini, ialah orang-orang yang belum dewasa atau masih kurang umur dan orang-orang yang telah ditaruh di bawah pengawasan (curatele), yang selalu harus diwakili oleh orang tuanya, walinya atau kuratornya.

IV. HUKUM PERKAWINAN

1. Arti dan syarat-syarat untuk perkawinan

Perkawinan, ialah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang perkawinan hanya dari hubungan keperdataan, demikian

pasal 26 Burgerlijk Wetboek.

(8)

Syarat-syarat untuk dapat sahnya perkawinan, ialah : a. kedua pihak harus telah mencapai umur yang ditetap- kan dalam undang-undang, yaitu untuk seorang lelaki 18 tahun dan untuk seorang perempuan 15 tahun;

b. harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak;

c. untuk seorang perempuan yang sudah pernah kawin harus lewat 300 hari dahulu sesudahnya putusan per- kawinan pertama;

d. tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua pihak;

e. untuk pihak yang masih di bawah umur, harus ada izin dari orang tua atau walinya. *)

Tentang hal larangan untk kawin dapat diterangkan, bahwa seorang tidak diperbolehkan kawin dengan saudaranya, meskipun saudara tiri; seorang tidak diperbolehkan kawin dengan iparnya; seorang paman dilarang kawin dengan keponakannya dan sebagainya.

2. Hak dan kewajiban suami-isteri

Suami-isteri harus setia satu sama lain, bantu-membantu, berdiam bersama-sama, saling memberikan nafkah dan bersama-sama mendidik anak-anak.

Perkawinan oleh undang-undang dipandang sebagai suatu

(9)

seorang suami di dalam perkawinan itu dinamakan "maritale macht" (dari bahasa Perancis mari =suami).

3. Percampuran kekayaan

Sejak mulai perkawinan terjadi, suatu percampuran antara kekayaan suami dan kekayaan isteri (algehele gemeenschap van goederen), jikalau tidak diadakan perjanjian apa-apa Keadaan yang demikian itu

berlangsung seterusnya dan tak dapat diubah lagi selama

perkawinan. *) Jikalau orang ingin menyimpang dari peraturan umum itu, ia harus meletakkan keinginannya itu dalam suatu "perjanjian

perkawinan" (huwelijksvoorwaarden). Perjanjian yang demikian ini, harus diadakan sebelumnya pernikahan

4. Perjanjian perkawinan

Jika seorang yang hendak kawin mempunyai benda-benda yang berharga atau mengharapkan akan memperoleh kekayaan, misalnya suatu warisan, maka adakalanya diadakan perjanjian

perkawinan(huwelijksvoorwaarden). Perjanjian yang demikian ini menurut Undang-undang harus diadakan sebelumnya pernikahan dilangsungkan dan harus diletakkan dalam suatu akte notaris.

Mengenai bentuk dan isi perjanjian tersebut, sebagaimana halnya dengan perjanjian-perjanjian lain pada umumnya, kepada kedua belah pihak diberikan kemerdekaan seluas-luasnya, kecuali satu dua larangan yang termuat dalam undang-undang dan asal saja mereka itu tidak melanggar ketertiban umum atau kesusilaan.

Suatu perjanjian perkawinan misalnya, hanya dapat menyingkirkan suatu benda saja (misalnya satu rumah) dari percampuran kekayaan, tetapi dapat juga menyingkirkan segala percampuran. Undang-undang hanya menyebutkan dua contoh perjanjian yang banyak terpakai, yaitu perjanjian "percampuran laba rugi" ("gemeenschap van winst en verlies") dan perjanjian "percampuran

(10)

Pada umumnya seorang yang masih di bawah umum, yaitu belum mencapai usia 21 tahun, tidak diperbolehkan bertindak sen-

diri dan harus diwakili oleh orang tuanya atau walinya. Tetapi untuk membuat suatu perjanjian perkawinan, oleh undang-undang diadakan peraturan pengecualian. Seorang yang belum dewasa di sini,

diperbolehkan bertindak sendiri tetapi ia harus "dibantu" ("bijgestaan") oleh orang tua atau orang-orang yang diharuskan memberi izin

kepadanya untuk kawin. Apabila pada waktu membuat perjanjian itu salah satu pihak ternyata belum mencapai usia yang diharuskan oleh undang-undang, maka perjanjian itu tidak sah, meskipun mungkin perkawinannya sendiri — yang baru kemudian dilangsungkan — sah. Selanjutnya diperingatkan, apabila di dalam waktu antara pembuatan perjanjian dan penutupan pernikahan orang tua atau wali yang

membantu terjadinya perjanjian itu meninggal, maka perjanjian itu batal dan pembuatan perjanjian itu harus diulangi di depan notaris, sebab orang yang nanti harus memberi izin untuk melangsungkan perkawinan sudah berganti. Karena itu sebaiknya orang membuat perjanjian perka-winan, apabila hari pernikahan sudah dekat.

5. Perceraian

Perkawinan hapus, jikalau satu pihak meninggal. Selanjutnya ia hapus juga, jikalau satu pihak kawin lagi setelah mendapat izin hakim, bilamana pihak yang lainnya meninggalkan tempat tinggalnya hingga sepuluh tahun lamanya dengan tiada ketentuan nasibnya. Akhirnya perkawinan dapat dihapuskan dengan perceraian.

Perceraian ialah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu.

(11)

a) zina (overspel);

b) ditinggalkan dengan sengaja (kwaadwillige verlating); c) penghukuman yang melebihi 5 tahun karena dipersalahkan melakukan suatu kejahatan dan

d) penganiayaan berat atau membahayakan jiwa (pasal 209B.W.). Undang-undang Perkawinan menambahkan dua alasan, u. salah satu pihak mendapat cacad badan/penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri; I). antara suami isteri terus-menerus terjadi perselisihan/pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga (pasal 19 PP 9/1975). Tuntutan untuk mendapat perceraian diajukan kepada hakim secara gugat biasa dalam perkara perdata, tetapi harus didahului dengan meminta izin pada Ketua Pengadilan Negeri untuk menggugat. Sebelum izin ini diberikan, hakim harus lebih dahulu mengadakan percobaan untuk mendamaikan kedua belah pihak (verzoeningscomparitie).

Selama perkara bergantung, Ketua Pengadilan Negeri dapat memberikan ketetapan-ketetapan sementara, misalnya dengan memberikan izin pada si isteri untuk bertempat tinggal sendiri terpisah dari suaminya,

memerintahkan supaya si suami memberikan nafkah tiap-tiap kali pada isterinya serta anak-anaknya yang turut pada isterinya itu dan

sebagainya. Juga hakim dapat memerintahkan supaya kekayaan suami atau kekayaan bersama disita agar jangan dihabiskan oleh suami selama perkara masih bergantung.

Larangan untuk bercerai atas permufakatan, sekarang ini sudah lazim diselundupi dengan cara mendakwa si suami telah berbuat zina.

(12)

perjanjian perkawinan, pembagian ini harus dilakukan menurut perjanjian tersebut.

6. Pemisahan kekayaan

Untuk melindungi si isteri terhadap kekuasaan si suami yang sangat luas itu atas kekayaan bersama serta kekayaan pribadi si isteri, undang-undang memberikan pada si isteri suatu hak untuk meminta pada hakim supaya diadakan pemisahan kekayaan dengan tetap berlangsungnya perkawinan.

Pemisahan kekayaan itu dapat diminta oleh si isteri :

a) apabila si suami dengan kelakuan yang nyata-nyata tidak baik, mengorbankan kekayaan bersama dan membahayakan keselamatan keluarga;

b) apabila si suami melakukan pengurusan yang buruk terhadap kekayaan si isteri, hingga ada kekhawatiran kekayaan ini akan menjadi habis;

c) apabila si suami mengobralkan kekayaan sendiri, hingga si isteri akan kehilangan tanggungan yang oleh Undang-undang diberikan padanya atas kekayaan tersebut karena pengurusan yang dilakukan oleh si suami terhadap kekayaan isterinya.

Gugatan untuk mendapatkan pemisahan kekayaan, harus diumumkan dahulu sebelum diperiksa dan diputuskan oleh hakim, sedangkan putusan hakim ini pun harus diumumkan. Ini untuk menjaga

kepentingan-kepentingan pihak ketiga, terutama orang-orang yang mempunyai piutang terhadap si suami. Mereka itu dapat mengajukan perlawanan terhadap diadakannya pemisahan kekayaan.

(13)

BAB I

PENGERTIAN HUKUM PERDATA SECARA UMUM Tujuan Instruksional Umum / TIU

Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan dan memahaminya.

Sub Pokok Bahasan:

A. Pengertian Hukum Perdata dan Hukum Publik

B. Pengertian Hukum Perdata Dalam Arti Luas dan Dalam Arti Sempit C. Pengertian Hukum Perdata Materiil dan Hukum Perdata Formil D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia

E. Sistematika Hukum Perdata Tujuan Instruksional Khusus / TIK

Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat menjelasakn dan menyebutkan pengertian: A. Hukum Perdata dan Hukum Publik

B. Hukum Perdata Dalam Arti Luas dan Arti Sempit C. Hukum Perdata Materiil dan Formil

D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia E. Sistematika Hukum Perdata

Pendahuluan : Pengantar tentang mata kuliah Perdata menjelaskan pengertian-

pengertian dan memberikan contoh-contoh. Penyajian : lihat buku

Evaluasi : Mahasiswa disuruh merangkum apa yang sudah dikuliahkan.

Penutup : Bab I menjelaskan pengertian secara umum mengenai Hukum Perdata dan Bab II menjelasakn apa yang termasuk ruang lingkup Hukum Perdata diantaranya Hukum Perorangan.

BAB I

(14)

Penyajian :

A. Pengertian Hukum Perdata dan Hukum Publik

Ada beberapa sarjana yang memberikan pengertian tentang Hukum Perdata, diantaranya :

1. Subekti

Hukum Perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan.

2. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan

Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan antara warga negara perseorangan yang ada dengan warga negara perseorangan yang lain.

3. Wirjono Prodjodikoro

Hukum Perdata adalah suatu rangkaian hukum antara orang-orang atau badan hukum satu sama lain tentang hak dan kewajiban.

4. Sudikno Mertokusumo

Hukum Perdata adalah hukum antar perorangan yang mengatur hak dan kewajiban perorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan keluarga dan di dalam pergaulan masyarakat. Pelaksanaannya diserahkan masing-masing pihak.

5. Asis Safioedin

Hukum Perdata adalah hukum yang memuat peraturan dan ketentuan hukum yang meliputi hubungan hukum antara orang yang satu dengan yang lain (antara subyek hukum yang satu dengan subyek hukum yang lain) di dalam masyarakat dengan menitik beratkan kepada kepentingan perorangan.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Hukum Perdata itu adalah hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang/badan hukum yang satu dengan orang/badan hukum yang lain di dalam masyarakat dengan menitikberatkan kepentingan

(15)

Sedangkan Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur

kepentingan umum/masyarakat. Oleh karena itu Sudikno Mertokusumo menyebutkan perbedaan antara Hukum Perdata dan Hukum Publik itu (menurut pembagian klasik) adalah sebagai berikut:

1. Dalam Hukum Publik salah satu pihak adalah penguasa, sedangkan dalam Hukum Perdata kedua belah pihak adalah perorangan tanpa menutup kemungkinan bahwa dalam Hukum Perdatapun penguasa dapat menjadi pihak juga.

2. Sifat Hukum Publik adalah memaksa, sedangkan Hukum Perdata pada umumnya bersifat melengkapi meskipun ada juga yang memaksa. 3. Tujuan Hukum Publik adalah melindungi kepentingan umum, sedangkan Hukum Perdata melindungi kepentingan

individu/perorangan.

4. Hukum Publik mengatur hubungan hukum antara negara dengan individu, sedangkan Hukum Perdata mengatur hubungan hukum antara individu.

Perbedaan-perbedaan tersebut, sekarang tidak bersifat mutlak lagi, karena sudah mengalami perkembangan. Oleh karena itu Abdulwahab Bakri menyebutkan bahwa Hukum Perdata adalah hukum yang

mempunyai kedudukan yang sederajat, sedangkan Hukum Publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua subyek hukum atau lebih yang kedudukannya tidak sederajat. Jadi dalam Hukum Publik ada atasan dan ada bawahan.

B. Pengertian Hukum Perdata Dalam Arti Luas Dan Dalam Arti Sempit Hukum Perdata dalam arti luas adalah bahan hukum sebagaimana tertera dalam KItab Undang Hukum Perdata (BW), Kitab

Undang-Undang Hukum Dagang (WVK) beserta sejumlah undang-undang yang disebut undang-undang tambahan lainnya.

(16)

Subekti mengatakan Hukum Perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan perseorangan.

Hukum Perdata adakalanya dipaki dalam arti sempit sebagai lawan Hukum Dagang.

Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan Hukum Perdata yang diatur dalam KUHPerdata disebut Hukum Perdata dalam arti sempit. Sedangkan Hukum Perdata dalam arti luas termasuk didalamnya Hukum Dagang. Antara KUHPerdata dengan KUHDagang mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dilihat dari isi Pasal 1 KUHDagang, yang isinya sebagai berikut:

Adagium mengenai hubungan tersebut adalah specialist derogat legi generali artinya hukum yang khusus: KUHDagang mengesampingkan hukum yang umum: KUHPerdata.

C. Pengertian Hukum Perdata Materil Dan Hukum Perdata Formal Hukum Perdata dilihat dari fungsinya ada dua macam, yaitu:

1. Hukum Perdata materil yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata, yaitu mengatur kepentingan-kepentingan perdata setiap subyek hukum.

2. Hukum Perdata formal yaitu hukum yang mengatur bagaimana cara mempertahankan hukum perdata materil.

Bagaimana tata cara seseorang menuntut haknya apabila diinginkan oleh orang lain, Hukum Perdata formal biasa juga disebut Hukum Acara Perdata.

D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia

Sistem Hukum Perdata di Indonesia bersifat pluralisme (beraneka ragam). Keanekaragamannya ini sudah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda.

(17)

Pada Pasal 163 IS disebutkan bahwa golongan penduduk di Indonesia dibagi 3, yaitu:

Golongan Eropah Golongan Timur Asing Golongan Bumi Putera

Pasal 131 IS mengatur mengenai hukum yang berlaku bagi golongan penduduk tersebut.

Untuk golongan Eropah berlaku Hukum Perdata Eropah (BW)

Untuk golongan Timur Asing Tionghoa berlaku seluruh Hukum Perdata Eropah dengan beberapa pengecualian dan tambahan. Untuk golongan Timur Asing bukan Tionghoa berlaku Hukum Perdata Eropah dan hukum adatnya masing-masing.

Untuk golongan Bumi Putera berlaku hukum adatnya masing-masing, kecuali yang mengadakan perundukkan secara sukarela berdasarkan S. 1917 No. 12, yaitu:

a) tunduk pada seluruh Hukum Perdata Eropah b) tunduk pada sebagian Hukum Perdata Eropah c) tunduk pada perbuatan tertentu

d) tunduk secara diam-diam

Hukum Perdata/BW mulai berlaku di Indonesia pada tanggal 1 Mei 1848 dengan berlakunya asas konhordansi/asas persamaan.

E. SISTEMATIKA HUKUM PERDATA

Sistematikan Hukum Perdata itu ada 2, yaitu sebagai berikut: 1. Menurut Ilmu Hukum/Ilmu Pengetahuan

2. Menurut Undang-Undang/Hukum Perdata

Sistematika Menurut Ilmu Hukum/Ilmu Pengetahuan terdiri dari:

a) Hukum tentang orang/hukum perorangan/badan pribadi (Personen Recht)

(18)

c) Hukum tentang harta kekayaan/hukum harta kekayaan/hukum harta benda (Vermogen Recht)

d) Hukum waris/Erfrecht

Sistematika Hukum Perdata menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Buku I tentang orang/van personen Buku II tentang benda/van zaken

Buku III tentang perikatan/van verbintenissen

Buku IV tentang pembuktian dan daluarsa/van bewijs en verjaring Apabila kita gabungkan sistematika menurut ilmu pengetahuan ke dalam sistematika menurut KUHPerdata maka:

Hukum perorangan termasuk Buku I Hukum Keluarga termasuk Buku I

Hukum harta kekayaan termasuk Buku II sepanjang yang

bersifat absolut dan termasuk Buku III sepanjang yang bersifat relatif. Hukum waris termasuk Buku II karena Buku II mengatur tentang benda sedangkan hukum waris juga mengatur benda dari pewaris.

Selain itu hukum waris dimasukkan dalam Buku II pewarisan merupakan salah satu cara untuk memperoleh hak milik yang diatur dalam Pasal 584 KUHPerdata (terdapat dalam Buku II).

BAB II

HUKUM PERORANGAN

Tujuan Instruksional Umum / TIU

Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan mengenai Hukum Perorangan.

Sub Pokok Bahasan:

(19)

E. Domisili

F. Keadaan Tidak Hadir (Afwezeigheid) Tujuan Instruksional Khusus / TIK

Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat:

A. Menjelasakn Pengertian Subyek Hukum B. Menjelaskan Manusia sebagai Subyek Hukum C. Menjelaskan Badan Hukum sebagai Subyek Hukum D. Menjelaskan Nama dan Kewarganegaraan

E. Menjelaskan dan menyebutkan macam-macam Domisili F. Menjelaskan Keadaan Tidak Hadir (Afwezeigheid)

Pendahuluan : Menjelaskan secara garis besar dan mengadakan Tanya jawab dua arah.

Penyajian : lihat buku

Evaluasi : Memberikan soal-soal yang dijawab di rumah, terus dikumpulkan.

Penutup : Bab II ada kaitannya dengan Bab III karena manusia dalam kehidupannya mengalami peristiwa-peristiwa penting di

antaranya melakukan perkawinan, juga termasuk hokum perdata. BAB II

HUKUM PERORANGAN Penyajian:

A. Pengertian Subyek Hukum

Menurut Subekti Subyek (ukum adalah pembawa hak atau subyek di

dalam hukum, yaituorang .

Mertokusumo mengatakan bahwa Subyek (ukum adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum . (anya manusia

yang dapat jadi Subyek Hukum.

Syahran mengatakan Subyek (ukum adalah pendukung hak dan

(20)

Dari pendapat para sarjana tersebut dapat disimpulkan bahwa Subyek

(ukum itu adalah segala sesuatu yang dapat menjadi pendukung hak dan kewajiban .

Segala sesuatu yang dimaksud di sini menunjuk pada manusia dan badan hukum.

B. Manusia Sebagai Subyek Hukum

Kapan mulai dan berakhirnya seseorang sebagai Subyek Hukum?

Seseorang mulai sebagai Subyek Hukum atau sebagai pendukung hak dan kewajiban sejak dilahirkan sampai dengan meninggal dunia dengan mengingat Pasal 2 KUHPerdata.

Pasal 2 KUHPerdata menyatakan:

1. Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan, dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana juga kepentingan si anak

menghendakinya.

2. Mati sewaktu dilahirkannya, dianggaplah ia tidak pernah telah ada. Kalau kita lihat Pasal 2 ayat (1) di atas dapat dismpulkan bahwa anak yang masih di dalam kandangan seorang wanita juga sudah dianggap sebagai Subyek Hukum atau pembawa hak dan kewajiban apabila kepentingan si anak menghendakinya.

Hal ini erat hubungannya dengan Pasal 836 dan Pasal 899 KUHPerdata Pasal 836 KUHPerdata adalah sebagai berikut:

Dengan mengingat akan ketentuan dalam Pasal 2 Kitab ini, supaya dapat bertindak sebagai waris, seorang harus telah ada, pada saat warisan jatuh meluang.

Pasal-pasal 899 KUHPerdata adalah sebagai berikut:

(21)

Terhadap Pasal 2 KUHPerdata ini ada para sarjana yang menyebut rechts fictie, yaitu anggapan hukum. Anak yang berada dalam kandungan seorang wanita sudah dianggap ada pada waktu kepentingannya memerlukan, jadi yang belum ada dianggap ada (fictie).

Selain itu ada para sarjana yang mengatakan bahwa Pasal 2 KUHPerdata merupakan suatu norma sehingga disebut fixatie (penetapan hukum). Pembuat undang-undang menetapkan bahwa anak yang ada dalam kandungan seorang wanita adalah Subyek hukum apabila kepentingan si anak itu menghendaki/memerlukan. Hal ini demi adanya keadilan disamping kepastian hukum.

C. Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

Selain manusia juga badan hukum termasuk sebagai Subyek Hukum. Badan hukum menurut pendapat Wirjono Prodjodikoro adalah sebagai berikut:

Suatu badan yang di samping manusia perorangan juga dapat bertindak dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak, kewajiban-kewajiban dan kepentingan-kepentingan hukum terhadap orang lain atau badan lain. Sarjana lain mengatakan:

Badan hukum adalah kumpulan dari orang-orang yang bersama-sama mendidrikan suatu badan (perhimpunan) dan kumpulan harta kekayaan, yang ditersendirikan untuk tujuan tertentu (yayasan).

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan:

Baik perhimpunan maupun Yayasan kedua-duanya berstatus sebagai badan hukum, jadi merupakan person pendukung hak dan kewajiban. Kalau kita lihat dari pendapat tersebut badan hukum dapat dikategorikan sebagai Subyek Hukum sama dengan manusia disebabkan karena:

1. Badan hukum itu mempunyai kekayaan sendiri 2. Sebagai pendukung hak dan kewajiban

3. Dapat menggugat dan digugat di muka pengadilan 4. Ikut serta dalam lalu lintas hukum.

(22)

Badan hukum (rechts/person) biasa juga disebut pribadi hukum (Soerjono Soekamto), pusara hukum (Oetarid Sadino), awak hukum (malikul Adil).

Ada beberapa teori tentang hakikat badan hukum, yaitu: 1. Teori Fiksi dari Freidrich Carl Von Savigny

Hanya manusialah yang menjadi Subyek Hukum, sedangkan badan hukum dikatakan sebagai Subyek Hukum hanyalah fiksi, yaitu sesuatu yang sebenarnya tidak ada tetapi orang menghidupkannya dalam bayangannya Badan hukum itu ciptaan negara/pemerintah yang wujudnya tidak nyata.

Untuk menerangkan sesuatu hal. 2. Teori Organ dari Otto Von Gierke

Badan hukum adalah organ seperti halnya manusia yang menjelma dalam pergaulan hukum yang dapat menyatakan kehendak melalui alat-alat yang ada padanya (pengurus, anggota) seperti halnya manusia. Badan hukum itu nyata adanya.

3. Teori Harta Kekayaan Bertujuan dari Brinz

Badan hukum merupakan kakayaan yang bukan kekayaan perorangan, tapi serikat pada tujuan tertentu.

Badan hukum itu mempunyai pengurus yang berhak dan berkehendak. 4. Teori Kekayaan Bersama dari Molengraaft

Apa yang merupakan hak dan kewajiban badan hukum pada hakekatnya merupakan hak dan kewajiban para anggota bersama-sama.

Kekayaan badan hukum juga merupakan kekayaan bersama seluruh anggotanya.

5. Teori Kenyataan Yuridis dari Paul Scholter

Badan hukum itu merupakan kenyataan yuridis. Badan hukum sama dengan manusia hanya sebatas pada bidang hukum saja.

(23)

Mempunyai tujuan tertentu Mempunyai kepentingan sendiri Adanya organisasi yang teratur

Syarat formalnya harus memenuhi syarat yang ada hubungannya dengan permohonan untuk mendapatkan status sebagai badan hukum (diatur dalam KUHD).

Menurut Pasal 1653 KUHPerdata badan hukum dibedakan menjadi: Badan hukum yang didirikan oleh pemerintah: propinsi, bank-bank pemerintah

Badan hukum yang diakui pemerintah; perseroan, gereja Badan hukum yang didirikan untuk maksud tertentu; PT Badan hukum berdasarkan sifatnya:

Badan Hukum Publik: propinsi, kabupaten Badan Hukum Keperdataan: Yayasan, firma D. NAMA DAN KEWARGANEGARAAN a. Nama

Nama bagi seseorang adalah sangat penting. Nama selain untuk

membedakan orang yang satu dengan yang lain, juga untuk mengetahui apa hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang.

Selain itu juga nama merupakan tanda diri atau identifikasi seseorang sebagai subyek hukum. Nama penting juga untuk mengetahui seseorang itu keturunan siapa, penting untuk urusan pembagian harta warisan dan soal-soal yang ada hubungannya dengan kekeluargaan.

Mengenai nama ini di Indonesia diatur dalam UU No. 4 tahun 1961. b. Kewarganegaraan

Seperti halnya nama, kewarganegaraan seseorang juga sangat penting. Kewarganegaraan seseorang merupakan satu factor yang mempengaruhi kewenangan berhak seseorang.

(24)

Jadi tersimpul dari pasal tersebut di atas, warga negara asing tidak diperbolehkan memiliki hak milik atas tanah.

UU Kewarganegaraan yang berlaku di Indonesia adalah UU No. 62 tahun 1958. Dalam undang-undang tersebut jelas dibedakan siapa yang warga negara, siapa yang bukan, cara memperoleh kewarganegaraan, hapusnya kewarganegaraan, dan apa hak dan kewajiban seorang warganegara. E. Domisili/Tempat Tinggal

1. Pengertian Domisili

Domisili adalah terjemahan dari Domicili atau Woonplaats yang artinya tempat tinggal.

Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan domisili atau tempat kediaman itu adalah:

Tempat dimana seseorang dianggap selalu hadir mengenai hal melakukan hak-haknya dan memenuhi kewajibannya juga meskipun kenyataannya dia tidak di situ.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tempat kediaman itu seringkali ialah rumahnya, kadang-kadang kotanya.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa setiap orang dianggap selalu mempunyai tempat tinggal dimana ia sehari-harinya melakukan kegiatannya atau dimana ia berkediaman pokok.

Kadang-kadang menetapkan tempat kediaman seseorang itu sulit, karena selalu berpindah-pindah (banyak rumahnya). Untuk memudahkan hal tersebut dibedakan antara tempat kediaman hukum (secara yuridis) dan tempat kediaman yang sesungguhnya.

Tempat kediaman hukum adalah:

Tempat dimana seseorang dianggap selalu hadir berhubungan dengan hal melakukan hak-haknya serta kewajiban-kewajibannya, meskipun

sesungguhnya mungkin ia bertempat tinggal di lain tempat.

Menurut Pasal 77, Pasal 1393; 2 KUHPerdata tempat tinggal itu adalah

(25)

Bagi orang yang tidak mempunyai tempat kediaman tertentu, maka tempat tinggal dianggap dimana ia sungguh-sungguh berada. 2. Macam-macam Domisili

a. Tempat tinggal sesungguhnya yaitu tempat yang bertalian dengan hak-hak melakukan wewenang perdata seumumnya.

Tempat tinggal sesungguhnya dibedakan antara:

§ Tempat tinggal sukarela/bebas yang tidak terikat/tergantung hubungannya dengan orang lain.

§ Tempat tinggal yang wajib/tidak bebas yaitu yang ditentukan oleh hubungan yang ada antara seseorang dengan orang lain.

Misalnya: tempat tinggal suami isteri, tempat tinggal anak yang belum dewasa di rumah orang tuanya, orang di bawah pengampuan di tempat curatornya.

b. Tempat tinggal yang dipilih, yaitu tempat tinggal yang berhubungan dengan hal-hal melakukan perbuatan hukum tertentu saja.

Tempat tinggal yang dipilih ini untuk memudahkan pihak lain atau untuk kepentingan pihak yang memilih tempat tinggal tersebut.

Tempat tinggal yang dipilih ada dua macam yaitu:

§ Tempat kediaman yang dipilih atas dasar undang-undang misalnya dalam hukum acara dalam menentukan waktu eksekusi dari vonis. § Tempat kediman yang dipilih secara bebas misalnya dalam melakukan pembayaran memilih Kantor Notaris (menurut Sri Soedewi M. Sofwan).

Menurut Subekti ada juga yang disebut rumah kematian atau domisili penghabisan , yaitu rumah dimana seseorang meninggal dunia.

Rumah penghabisan ini mempunyai arti penting untuk: Menentukan hukum waris yang harus diterapkan

Untuk menentukan kewenangan mengadili kalau ada gugatan

Tempat kediaman untuk Badan Hukum disebut tempat kedudukan badan hukum ialah tenpat dimana pengurusnya menetap.

(26)

a. Tempat tinggal sukarela atau bebas

Pasal 17 KUHPerdata menyatakan bahwa setiap orang dianggap

mempunyai tempat tinggal dimana ia menempatkan kediaman utamanya. Dalam hal seseorang tidak mempunyai tempat kediaman utama maka tempat tinggal dimana ia benar-benar berdiam adalah tempat tinggalnya. b. Tempat tinggal yang tergantung pada orang lain, misalnya:

§ Wanita bersuami mengikuti suaminya

§ Anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal orangtuanya/walinya § Orang dewasa yang ada di bawah pengampuan mengikuti curatornya § Pekerja/buruh mengikuti tempat tinggal majikannya

II. Tempat tinggal khusus atau yang dipilih menurut Pasal 24 KUHPerdata ada dua macam, yaitu:

a. Tempat tinggal yang terpaksa dipilih ditentukan undang-undang (Pasal 106 : 2 KUHPerdata)

b. Tempat tinggal yang dipilih secara sukarela harus dilakukan secara tertulis artinya harus dengan akta (Pasal 24 : 1 KUHPerdata), bila ia pindah maka untuk tindakan hukum yang dilakukannya ia tetap bertempat tinggal di tempat yang lama.

3. Arti Pentingnya Domisili Untuk Seseorang

Domisili itu penting untuk seseorang dalam hal sebagai berikut: Untuk menentukan atau menunjukan suatu tempat dimana berbagai perbuatan hukum harus dilakukan, misalnya mengajukan gugatan, pengadilan mana yang berwenang mengadili (menurut Sri Soedewi M. Sofwan).

Untuk mengetahui dengan siapakan seseorang itu melakukan hubungan hukum serta apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing (Ridwan Syahrani).

(27)

Kadang-kadang terjadi seseorang meninggalkan tempat tinggalnya selama waktu tertentu(lama dan seterusnya) untuk suatu

keperluan/suatu kepentingan atau suatu peristiwa tanpa memberi kuasa terlebih dulu pada seseorang untuk mengurus kepentingannya.

Dalam hal demikian maka dikatakan ia sedang tidak ada di tempat atau tidak hadir, sehingga akan menimbulkan kesulitan bagi pihak lain yang ada hubungan dengan orang tersebut.

Keadaan tidak hadir seseorang itu tidaklah menghentikan status sebagai subyek hukum. Oleh karena itu demi adanya kepastian hukum harus ada pengaturannya.

Dalam Pasal 463 KUHPerdata disebutkan bahwa:

Seorang tidak hadir jika ia meninggalkan tempat tinggalnya tanpa membuat suatu surat kuasa untuk mewakilinya dalam usahanya serta kepentingannya atau dalam mengurus hartanya serta kepentingannya atau jika kuasa yang diberikan tidak berlaku lagi.

Dapat simpulkan bahwa jika seorang meninggalkan tempat tinggalnya sedang ia tidak atau tidak sempurna mewakilkan kepentingannya pada seseorang.

Dalam KUHPerdata dikenal ada 3 masa (3 tingkatan) keadaan tidak hadir seseorang, yaitu:

1. Pengambilan Tindakan Sementara

Masa ini diambil jika ada alasan-alasan yang mendesak untuk mengurus seluruh atau sebagian harta kekayaannya.

Tindakan sementara ini dimintakan kepada Pengadilan Negeri oleh orang yang mempunyai kepentingan terhadap harta kekayaannya.

Misalnya istrinya, para kreditur, sesame pemegang saham dan lain-lain, juga jaksa dapat memohon tindakan sementara tersebut.

Dalam tindakan sementara ini hakim memerintahkan BPH (Balai Harta peninggalan) untuk mengurus seluruh harta kekayaan serta kepentingan dari orang tak hadir.

Adapun kewajiban BHP adalah:

(28)

2. Membuat daftar pencatatan harta, surat-surat lain uang kontan, kertas berharga dibawa ke kantor BHP

3. Memperhatikan segala ketentuan untuk seseorang wali mengenai pengurusan harta seorang anak (Pasal 464 KUHPerdata)

4. Tiap tahun memberi pertanggung jawaban pada jaksa dengan memperlihatkan surat-surat pengurusan dan efek-efek (Pasal 465 KUHPerdata)

BHP berhak atas upah yang besarnya sama dengan seorang wali (Pasal 411 KUHPerdata).

2. Masa Adanya Kemungkinan Sudah Meninggal

Seseorang dapat diputuskan kemungkinan sudah meninggal jika:

Tidak hadir 5 tahun, bila tidak meninggalkan surat kuasa (Pasal 467 KUHPerdata), di mulai pada hari ia pergi tidak ada kabar yang diterima dari orang tersebut atau sejak kabar terakhir diterima.

Tidak hadir 10 tahun, bila surat kuasa ada tetapi sudah habis berlakunya (Pasal 470 KUHPerdata), di mulai pada hari ia pergi tidak ada kabar yang diterima dari orang tersebut atau sejak kabar terakhir diterima.

Tidak hadir 1 tahun, bila orangnya termasuk awak atau penumpang kapal laut atau pesawat udara ( S. 1922 No. 455), di mulai sejak adanya kabar terakhir dan jika tidak ada kabar sejak hari berangkatnya.

Tidak hadir 1 tahun, jika orangnya hilang pada suatu peristiwa fatal yang menimpa sebuah kapal laut atau pesawat udara (S. 1922 No. 455), di mulai sejak tanggal terjadinya peristiwa.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 9/1975, dikatakan bahwa apabila salah satu pihak meninggalkannya 2 tahun berturut-turut, pihak yang

ditinggalkan boleh mengajukan perceraian.

Akibat-akibat dari masa kemungkinan sudah meninggal bagi para ahli waris dan penerima hibah wasiat/legataris adalah:

(29)

2. Mengambil (menerima) harta orang yang tak hadir dengan kewajiban membuat pencatatan harta yang diambil serta memberi jaminan yang harus disetujui oleh hakim (Pasal 472 KUHPerdata) 3. Meminta pertanggung jawab oleh BHP bila BHP dahulu mengurusnya

4. Mengoper segala kewajiban dan gugatan orang tak hadir (asal 488 KUHPerdata). Para ahli waris yang diperkirakan demi hukum menerima harta warisan secara terbatas (Pasal 277 KUHPerdata)

5. Pada umumnya merka bertindak sebagai orang yang mempunyai hak pakai hasul (Pasal 474 KUHPerdata)

6. Berhak mengadakan pemisahan dan pembagian dengan ketentuan harta tetap tidak dapat dijual kecuali dengan ijin hakim (Pasal 478 dan 481 KUHPerdata)

Keadaan mungkin suadh meninggal berakhir:

1. JIka orang yang tidak hadir kembali atau ada kabar baru tentang hidupnya

2. Jika si tak hadir meninggal dunia

3. Jika masa pewarisan definitive termaksud dalam Pasal KUHPerdata di mulai .

3. Masa Pewarisan Definitif

Masa ini terjadi apabila setelah lewat 30 tahun sejak tanggal tentang

mungkin sudah meninggal atas keputusan hakim, atau setelah lewat

100 tahun setelah lahirnya si tak hadir.

Akibat-akibat pemulaan masa pewarisan definitive: 1. Semua jaminan dibebaskan

2. Para ahli waris dapat mempertahankan pembagian harta warisan sebagaimana telah dilakukan atau membuat pemisahan dan pembagian definitive.

(30)

Seandainya orang yang tidak hadir kembali setelah masa pewarisan definitive, ia ada hak untuk meminta kembali hartanya dalam keadaan sebagaimana adanya berikut harga dari harta yang tidak

dipindatangankan, semuanya tanpa hasil dan pendapatannya (Pasal 486 KUHPerdata).

Akibat-akibat keadaan tidak hadir terhadap isteri adalah:

1. Jika suami atau isteri tak hadir 10 tahun tanpa ada kabar tentang hidupnya, maka isteri/suami yang ditinggal dapat menikah lagi dengan ijin Pengadilan Negeri (Pasal 493 KUHPerdata).

Sebelumnya pengadilan harus mengadakan dulu pemanggilan 3x berturut-turut.

2. Waktu 10 tahun dapat diperpendek jadi satu tahun dalam masa

mungkin sudah meninggal S. No. .

3. Dalam PP No. 9/1975 boleh kawin lagi apabila ditinggal 2 tahun berturut-turut.

4. Jika ijin pengadilan sudah diberikan tanpa perkawinan baru belum dilangsungkan sedang orang yang tak hadir kembali atau memberi kabar masih hidup, ijin untuk menikah dari pengadilan gugur demi hukum. 5. setelah suami/isteri yang ditinggal menikah lagi dan kemudian orang yang tak hadir kembali, maka orang yang tak hadir boleh menikah lagi dengan orang lain.

Akibat keadaan tak hadir bagi anak:

Untuk anak yang masih di bawah umur berlaku Pasal 300 : 2, Pasal 359 : 3, dan Pasal 374 KUHPerdata.

BAB III

PERKAWINAN MENURUT UU NO. I/1974 Tujuan Instruksional Umum / TIU

(31)

Sub Pokok Bahasan:

A. Arti dan Tujuan Perkawinan B. Sahnya Perkawinan

C. Asas Perkawinan

D. Syarat-syarat Perkawinan

E. Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan F. Perjanjian Perkawinan

G. Akibat Hukum Perkawinan H. Perkawinan Campuran I. Putusnya Perkawinan

J. Perkawinan Menurut Hukum Islam K. Catatan Sipil

Tujuan Instruksional Khusus / TIK

Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa dapat:

A. Menjelaskan Arti dan Tujuan Perkawinan B. Menjelaskan Sahnya Perkawinan

C. Menjelaskan Asas Perkawinan

D. Menjelaskan Syarat-syarat Perkawinan

E. Membedakan antara Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan F. Menjelaskan Perjanjian Perkawinan

G. Menjelaskan Akibat Hukum Perkawinan H. Menjelaskan Perkawinan Campuran

I. Menyebutkan Sebab-sebab Putusnya Perkawinan J. Menjelaskan Perkawinan Menurut Hukum Islam

K. Membedakan Catatan Sipil yang dulu dengan Catatan Sipil yang sekarang berlaku

Pendahuluan : Menjelaskan dan memberikan contoh yang terjadi dalam masyarakat

Penyajian : lihat buku

(32)

Penutup : Bab III ada kaitannya dengan Bab IV karena manusia / orang yang sudah melakukan perkawinan memerlukan harta untuk kelangsungan kehidupannya, oleh karena itu hokum benda perlu juga dipelajari.

BAB III

PERKAWINAN MENURUT UU NO. I/1974

Sebelum berlakunya UU No. I Tahun 1974 tentang Perkawinan, peraturan perkawinan di Indonesia banyak macamnya seperti: Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen, S. 1933 No. 74, Peraturan Perkawinan Campuran (RGHS S. 1898 No. 158) dan peraturan-peraturan lainnya.

Setelah diberlakukannya UU No. I Tahun 1974, peraturan-peraturan yang ada dinyatakan tidak berlaku lagi sepanjang telah diatur dalam UU tersebut.

UU No. I Tahun 1974 merupakan undang-undang yang bersifat nasional yang berlaku bagi seluruh warga Negara Indonesia baik yang di luar negeri maupun dalam negeri.

UU No. I Tahun 1974 juga berlaku bagi semua pemeluk agama yang diakui di Indonesia.

A. Arti Dan Tujuan Perkawinan Pasal 1 menyatakan bahwa:

Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

(33)

Ikatan lahir tanpa ikatan bathin akan menjadi rapuh. Ikatan lahir bathin menjadi asar utama pembentukan dan pembinaan keluarga bahagia dan kekal.

Kekal artinya perkawinan itu hanya dilakukan satu kali seumur hidup, kecuali ada hal yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Perkawinan itu harus didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa artinya perkawinan itu harus berdasarkan atas agama.

Ali Afandi menyatakan bahwa:

Perkawinan adalah suatu persetujuan kekeluargaan.

Persetujuan kekeluargaan yang dimaksud bukanlah seperti persetujuan biasa, tetapi mempunyai cirri-ciri tertentu.

Subekti mengatakan:

Perkawinan adalah hubungan hukum antara seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama dengan kekal, yang diakui oleh Negara. B. Sahnya Perkawinan

Menurut Pasal 2 UU No. I/1974 sahnya perkawinan apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu (Pasal 2 ayat 1).

Ayat 2 mengatakan:

Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kalau kita lihat Pasal 1 dan 2 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan di Indonesia itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai

keagamaan.

Perkawinan itu dinyatakan sah apabila menurut agama, baru setelah itu dicatata berdasarkan peraturan yang berlaku.

(34)

Perkawinan menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata itu sebaiknya yaitu dilakukan dulu pencatatan di Kantor Catatan Sipil, baru dilakukan secara agama kalau mau.

Menurut Pasal 26 KUHPerdata perkawinan itu hanya dipandang dalam hubungan-hubungan perdata; artinya undang-undang menyatakan bahwa suatu perkawinan itu sah, apabila memenuhi syarat-syarat yang

ditentukan dalam KUHPerdata sedang syarat-syarat serta peraturan agama tidaklah diperhatikan/dikesampingkan.

C. Asas Perkawinan

UU No. I/1974 menganut aas monogami tidak mutlak. Hal tersebut dapat kita lihat dari isi Pasal 3 sebagai berikut:

(1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Sedang seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

(2) Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Ijin pengadilan diberikan kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari satu orang apabila memenuhi syarat fakultatif dan syarat kumulatif. Syarat fakultatif adalah syarat yang terdapat dalam Pasal 4 ayat 2, yaitu: a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri.

b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.

c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.

Jadi seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang harus memenuhi salah satu syarat fakultatif dan semua syarat kumulatif yang telah

ditentukan oleh undang-undang.

(35)

Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 27 dan 28 KUHPerdata yang menyatakan bahwa asas perkawinan adalah monogami serta menganut adanya asas kebebasan kata sepakat diantara para calon suami isteri, melarang adanya poligami.

D. Syarat-Syarat Perkawinan

Syarat-syarat perkawinan diatur mulai Pasal 6 sampai Pasal 12.

Pasal 6 s/d Pasal 11 memuat mengenai syarat perkawinan yang bersifat materiil, sedang Pasal 12 mengatur mengenai syarat perkawinan yang bersifat formil.

Syarat perkawinan yang bersifat materiil dapat disimpulkan dari Pasal 6 s/d 11, yaitu:

Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin kedua orang tuanya/salah satu orang tuanya, apabila salah satunya telah meninggal dunia/walinya apabila kedua orang tuanya telah meninggal dunia.

Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Kalu ada penyimpangan harus ada ijin dari Pengadilan atau Pejabat yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.

seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali memenuhi Pasal 3 ayat 2 dan Pasal 4.

Apabila suami dan isteri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya.

bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu.

Dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 waktu tunggu itu adalah sebagai berikut:

1. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130 hari, dihitung sejak kematian suami.

(36)

sekurang-kurangnya 90 hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 hari, yang dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

3. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

4. Bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda dan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin tidak ada waktu tunggu.

Pasal 8 Undang-undang No. I/1974 menyatakan bahwa perkawinan dilarang antara dua orang yang:

1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah maupun ke atas/incest.

2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan suadara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya/kewangsaan.

3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri/periparan.

4. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan.

5. Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dai isteri dalam hal seseorang suami beristeri lebih dari seorang.

6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku dilarang kawin.

Syarat perkawinan secara formal menurut Pasal 12 UU No. I/1974 direalisasikan dalam Pasal 3 s/d Pasal 13 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pemberiahuan dari yang akan melangsungkan perkawinan. Penelitian dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan. Pengumuman.

(37)

E. PENCEGAHAN DAN PEMBATALAN PERKAWINAN a. Pencegahan Perkawinan

Berdasarkan Pasal 13 UU Perkawinan No. I Tahun 1974 suatu

perkawinan dapat dicegah berlangsungnya apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.

Syarat-syarat perkawinan yang dapat dijadikan alas an untuk adanya pencegahan perkawinan disebutkan dalam Pasal 20 UU Perkawinan No. I Tahun 1974, yaitu:

Pelanggaran terhadap Pasal 7 ayat (1) yaitu mengenai batasan umur untuk dapat melangsungkan perkawinan.

Apabila calon mempelai tidak (belum) memenuhi umur yang ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) tersebut, maka perkawinan itu dapat dicegah untuk dilaksanakan.

Jadi perkawinan ditangguhkan pelaksanaannya sampai umur calon mempelai memenuhi umur yang ditetapkan undang-undang. Melanggar Pasal 8, yaitu mengenai larangan perkawinan.

Misalnya saja antara kedua calon mempelai tersebut satu sama lain mempunyai hubungan darah dalam satu garis keturunan baik ke bawah, ke samping, ke atas berhubungan darah semenda, satu susuan ataupun oleh agama yang dianutnya dilarang untuk melangsungkan perkawinan. Dalam hal ini perkawinan dapat ditangguhkan pelaksanaannya bahkan dapat dicegahkan pelaksanaannya untuk selama-lamanya misalnya perkawinan yang akan dilakukan oleh kakak adik, bapak dengan anak kandung dan lain-lain.

Pelanggaran terhadap Pasal 9 yaitu mengenai seseorang yang masih terikat perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali apabila memenuhi Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 tentang syarat-syarat untuk seorang suami yang diperbolehkan berpoligami.

(38)

Pelanggaran terhadap Pasal 12 yaitu melanggar syarat formal untuk melaksanakan perkawinan yaitu tidak melalui prosedur yang telah ditetapkan yaitu dimulai dengan pemberitahuan, penelitian dan pengumuman (lihat Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975). Sedangkan yang boleh melakukan pencegahan berlangsungnya suatu perkawinan adalah:

1. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah 2. Saudara

3. Wali nikah 4. Wali

5. Pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Berdasarkan Pasal 20 UU Perkawinan No. I Tahun 1974 pegawai pencatat perkawinan tidak boleh melangsungkan atau membantu melangsungkan perkawinan apabila dia mengetahui adanya pelanggaran terhadap Pasal 7 ayat (1), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 12 Undang-undang ini. Bahkan pegawai pencatat perkawinan berhak dan berkewajiban untuk menolak melangsungkan suatu perkawinan apabila benar-benar adanya pelanggaran terhadap Undang-undang ini (Pasal 21 ayat (1)).

Jadi pencegahan perkawinan itu dilakukan sebelum perkawinan dilangsungkan.

Akibat hukum dari pencegahan perkawinan ini adalah adanya

penangguhan pelaksanaan perkawinan bahkan menolak untuk selama-lamanya suatu perkainan dilangsungkan.

b. Pembatalan Perkawinan

Seperti halnya pencegahan, pembatalan perkawinan juga terjadi apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan

perkawinan (Pasal 22).

(39)

2. Dilakukan oleh wali nikah yang tidak sah. 3. Tidak dihadiri oleh dua orang saksi.

Ketentuan Pasal 26 ayat (1) tersebut di atas dapat digugurkan pembatalannya apabila suami/isteri yang mengajukan pembatalan tersebut sudah hidup bersama sebagai suami isteri dan dapat

memperlihatkan akta perkawinan yang cacat hukum tersebut supaya perkawinan itu dapat diperbaharui sehingga menjadi sah.

Berdasarkan Pasal 23, pembatalan perkawinan dapat diajukan oleh: 1. Para keluarga dalam garis keturunan harus ke atas dari suami/isteri. 2. Suami atau isteri.

3. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan.

4. Pejabat berdasarkan Pasal 16 ayat (2).

5. Setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut asal perkawinan itu telah putus.

Seorang suami/isteri dapat juga mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila:

1. Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum.

2. Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri.

Pembatalan suatu perkawinan dimulai setelah adanya Keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.

Pembatalan perkawinan terjadi setelah perkawinan dilangsungkan sedang akibat hukum dari adanya pembatalan perkawinan adalah: 1. Perkawinan itu dapat dibatalkan.

(40)

Akibat hukum pembatalan perkawinan terhadap anak, suami atau isteri dan pihak ketiga tidak berlaku surut:

1. Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tetap merupakan anak yang sah.

2. Suami atau isteri yang bertindak dengan itikad baik, kecuali terhadap harta bersama bila pembatalan perkawinan didasarkan atas adanya perkawinan lain yang lebih dahulu.

3. Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam point 1+2 sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan itikad baik sebelum keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap. F. PERJANJIAN PERKAWINAN

Perjanjian perkawinan diatur dalam Pasal 29 UU Perkawinan No. I Tahun 1974.

Perjanjian Perkawinan adalah:

Perjanjian yang dilakukan oleh calon suami/isteri mengenai kedudukan harta setelah mereka melangsungkan pernikahan.

Menurut KUHPerdata dengan adanya perkawinan, maka sejak itu harta kekayaan baik harta asal maupun harta bersama suami dan isteri bersatu, kecuali ada perjanjian perkawinan.

UU Perkawinan No. I Tahun 1974 mengenai 2 (dua) macam harta perkawinan, yaitu:

Harta asal/harta bawaan Harta bersama (Pasal 35)

Harta asal adalah harta yang dibawa masing-masing suami/isteri ke dalam perkawinan, dimana pengurusannya diserahkan pada maisng-masing pihak.

Harta bersama adalah harta yang dibentuk selama perkainan.

(41)

Dengan adanya perjanjian perkawinan, maka harta asal suami isteri tetap terpisah dan tidak terbentuk harta bersama, suami isteri memisahkan harta yang didapat masing-masing selama perkawinan.

Dalam penjelasan Pasal disebutkan bahwa tak’lik-talak tidak termasuk

dalam perjanjian perkawinan.

Perjanjian perkawinan itu dibuat pada waktu atau sebelum perkawinan berlangsung.

Perjanjian perkawinan itu harus dibuat secara tertulis atas persetujuan kedua belah pihak yang disahkan Pegawai Pencatat Perkawinan.

Apabila telah disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan, maka isinya mengikat para pihak dan juga pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersebut tersangkut.

Perjanjian perkawinan itu mulai berlaku sejak perkawinan berlangsung dan tidak boleh dirubah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak dengan syarat tidak merugikan pihak ketiga yang tersangkut. G. AKIBAT HUKUM PERKAWINAN

Dengan adanya perkawinan akan menimbulkan akibat baik terhadap suami isteri, harta kekayaan maupun anak yang dilahirkan dalam perkawinan.

a. Akibat Perkawinan Terhadap Suami Isteri

1. Suami isteri memikul tanggung jawab yang luhur untuk menegakan rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 30).

2. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan

kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan hidup bersama dalam masyarakat (Pasal 31 ayat (1)).

3. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum (ayat 2).

(42)

5. Suami isteri menentukan tempat kediaman mereka.

6. Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, saling setia.

7. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

8. Isteri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya. b. Akibat Perkawinan Terhadap Harta Kekayaan

1. Timbul harta bawaan dan harta bersama.

2. Suami atau isteri masing-masing mempunyai hak sepenuhnya terhadap harta bawaan untuk melakukan perbuatan hukum apapun. 3. Suami atau isteri harus selalu ada persetujuan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap harta bersama (Pasal 35 dan 36).

c. Akibat Perkawinan Terhadap Suami Isteri 1. Kedudukan anak

a. Anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak yang sah (Pasal 42).

b. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan ibunya saja.

2. Hak dan kewajiban antara orang tua dan anak

a. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya sampai anak-anak tersebut kawin dan dapat berdiri sendiri (Pasal 45). b. Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendaknya yang baik.

c. Anak yang dewasa wajib memelihara orang tua dan keluarga dalam garis keturunan ke atas sesuai kemampuannya, apabila memerlukan bantuan anaknya (Pasal 46).

3. Kekuasaan orang tua

(43)

b. Orang tua dapat mewakili segala perbuatan hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan.

c. Orang tua tidak boleh memindahkan hak atau menggadaikan

barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin.

d. Kekuasaan orang tua bisa dicabut oleh pengadilan apabila: § Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anak.

§ Ia berkelakuan buruk sekali.

e. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anaknya.

Sedang yang dimaksud dengan kekuasaan orang tua adalah:

Kekuasaan yang dilakukan oleh ayah dan ibu terhadap anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan. Isi kekuasaan orang tua adalah:

1. Kewenangan atas anak-anak baik mengenai pribadi maupun harta kekayaannya.

2. Kewenangan untuk mewakili anak terhadap segala perbuatan hukum di dalam maupun di luar pengadilan.

Kekuasaan orang tua itu berlaku sejak kelahiran anak atau sejak hari pengesahannya.

Kekuasaan orang tua berakhir apabila: a. Anak itu dewasa.

b. Anak itu kawin.

c. Kekuasaan orang tua dicabut. H. PERKAWINAN CAMPURAN

a. Pengertian Perkawinan Campuran

Perkawinan campuran yang diatur dalam UU No. I/1974 berbeda dengan perkawinan campuran yang terdapat dalam S. 1898/158.

(44)

Perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

Apabila melihat isi pasal tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perkawinan campuran yang sekarang berlaku di Indonesia unsurnya adalah sebagai berikut:

1. Perkawinan itu dilakukan oleh seorang pria dan seorang wanita. 2. Dilakukan di Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan. 3. Di antara keduanya berbeda kewarganegaraan.

4. Salah satu pihaknya berkewarganegaraan Indonesia.

Contoh : Seorang wanita Warga Negara Indonesia kawin dengan seorang laki-laki Warga Negara Asing atau sebaliknya.

Sedangkan perkawinan campuran menurut S. 1898/158 Pasal I nya menyebutkan:

Perkawinan campuran adalah perkawinan antara orang-orang di Indonesia tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan.

Contohnya: Seorang wanita Warga Negara Indonesia kawin dengan seorang laki-laki Warga Negara Asing atau sebaliknya atau seorang wanita beragama Islam kawin dengan seorang laki-laki beragama selain Islam.

Kalau dibandingkan perkawinan campuran menurut Pasal 57 UU No. I/1974 dengan perkawinan campuran menurut S. 1898/158 adalah sebagai berikut:

Perkawinan campuran menurut Pasal 57 UU No. I/1974 ruang lingkupnya lebih sempit karena hanya berbeda kewarganegaraan dan hanya berbeda kewarganegaraaan dan salah satu pihaknya harus Warga Negara

Indonesia.

Perkawinan campuran menurut S. 1898/158 ruang lingkupnya lebih luas karena selain berbeda kewarganegaraan juga perkawinan dapat

(45)

b. Syarat-syarat Perkawinan Campuran

Sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku menurut hukum masing-masing pihak (Pasal 60 ayat 1 UU No. I/1974).

Sahnya perkawinan harus berdasarkan Pasal 2 UU No. I/1974 yang menyebutkan:

(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perkawinan campuran yang dilakukan oleh para pihak yang kedua-duanya beragama Islam dicatat di Kantor Urusan Agama sedangkan yang berbeda agama di Kantor Catatan Sipil.

c. Akibat Perkawinan Campuran

Menurut Pasal 58 UU No. I/1974 akibat dari perkawinan campuran yang berlainan kewarganegaraan dapat memperoleh kewarganegaraan dari suami/isterinya dan dapat pula kehilangan kewarganegaraannya menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam Undang-undang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku.

Pasal 59 ayat (1) UU No. I/1974 menyebutkan:

Kewarganegaraan yang diperoleh sebagai akibat perkawinan atau putusnya perkawinan menentukan hukum yang berlaku baik mengenai hukum public maupun mengenai hukum perdata.

Kedudukan anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin akan mengikuti kewarganegaraan ayah atau ibunya dengan siapa ia

mempunyai hubungan hukum keluarga. I. PUTUSNYA PERKAWINAN

(46)

Kematian Perceraian

Atas keputusan pengadilan

Mengenai kematian tidak akan dibahas di sini, karena akibatnya timbul pewarisan. Hukum Waris dibahas dalam mata kuliah Waris dan

Perorangan.

Perceraian biasa disebut cerai talak dan atas keputusan pengadilan disebut cerai gugat .

Cerai talak adalah perceraian yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya yang perkawinannya dilaksankan menurut agama Islam (Pasal 14 PP No. 9/1975).

Cerai gugat adalah perceraian yang dilakukan oleh seorang isteri yang melakukan perkawinan menurut agama Islam dan oleh seorang suami atau seorang isteri yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaaan itu selain agama Islam (Penjelasan Pasal 20 ayat (1) PP No. 9/1975).

Cerai talak dan cerai gugat hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan (Pasal 39 ayat (1) PP No. 9/1975).

b. Alasan-alasan Perceraian

Cerai talak dan cerai gugat hanya dapat dilaksanakan apabila memenuhi salah satu syarat di bawah ini, yaitu:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa ijin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

(47)

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri.

f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi pertengkaran dan perselisihan dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga (Pasal 19 PP No. 9/1975).

c. Akibat Perceraian

Seperti halnya perkawinan, perceraian juga membawa akibat kepada: Anak dan Isteri

Harta kekayaan Status para pihak

Ad.a. Akibat perceraian pada anak dan isteri

1. Bapak dan ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak Pengadilan memberi keputusannya.

2. Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut,

Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut. 3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memeberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu keajiban bagi bekas isteri (Pasal 41 UU No. I.1974).

Ad.b. Akibat perceraian terhadap harta kekayaan

Apabila terjadi perceraian, harta bawaan masing-masing tetap dikuasai dan menjadi hak masing-masing.

Harta bersama apabila terjadi perceraian diatur menurut hukumnya masing-masing (Pasal 37 UU No. I/1974).

(48)

1. Kedua belah pihak tidak terikat lagi dalam tali perkawinan dengan status duda atau janda.

2. Keduanya boleh melakukan perkawinan dengan pihak lain. Khusus untuk isteri berlaku waktu tunggu (Pasal 39 PP 9/1975).

3. Keduanya boleh melakukan perkawinan lagi sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang atau agama yang mereka anut. J. PERKAWINAN MENURUT HUKUM ISLAM

a. Perkawinan

Perkawinan menurut UU No. I/1974 banyak persamaanya dengan perkawinan menurut hukum Islam, oleh karena itu yang akan dibahas dalam diktat ini hanyalah perbedaan-perbedaannya.

Pengertian-pengertian yang perlu diketahui antara lain:

1. Akad nikah adalah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan Kabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh dua orang saksi.

2. Taklil talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang.

3. Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya. 4. Muf’ah adalah pemberian bekas suami kepada isteri yang dijatuhi talak berupa benda atau uang dan lainnya.

Perkawinan adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiiddan untuk mentaati perintah Allah dan

melaksanakannya merupakan ibadah. (Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam yang selanjutnya disebut KHI).

(49)

Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat Pegawai Pencatat Nikah, kalau tidak ada dapat mengajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama (Pasal 7 KHI). Istbat nikah yang diajukan hanya ternatas mengenai:

a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian. b. Hilangnya akta nikah.

c. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan.

d. Perkawinan sebelum berlakunya UU No. I/1974.

e. Perkawinan yang dilakukan tidak mempunyai halangan perkawinan menurut UU No. I/1974.

Mereka yang boleh mengajukan itsbat nikah: suami/isteri

anak-anak wali nikah

pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu Rukun dan syarat perkawinan

Untuk melaksanakan perkawina harus ada: calon suami

calon isteri wali nikah dua orang saksi

Ijab dan Kabul (semua termasuk rukun) (Pasal 14 KHI).

Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya. Syarat wali harus seorang laki-laki, akil dan baligh, yang terdiri dari : wali nasab dan wali hakim (Pasal 19, 20 KHI).

Perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi yang memenuhi syarat:

Laki-laki muslim Adil

(50)

Tidak terganggu ingatannya Tidak tuna rungu/tuli

Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah dan menandatangani akta nikah pada waktu dan di tempat akad nikah dilangsungkan (Pasal 24, 25 KHI).

Ijab Kabul dilakukan oleh wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak berselang waktu dan harus dilaksanakan sendiri secara pribadi oleh wali nikah atau dapat diwakilkan kepada orang lain (Pasal 27, 28 KHI).

b. Larangan Perkawinan

Seperti dalam Pasal 8 UU No. I/1974, larangan perkawinan dalam hukum juga sama ditambah:

Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain. Seorang wanita yang tidak beragam Islam.

Seorang pria dilarang kawin dengan bekas isterinya setelah ditalak tiga kecuali diselang dulu kawin dengan orang lain.

Seorang pria dilarang kawin dengan bekas isterinya yang dili’an Pasal

40, 43 KHI).

Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam (Pasal 44 KHI).

Di dalam Hukum Islam dikenal dua macam perjanjian perkawinan, yaitu: Talik talak

Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan Hukum Islam (Pasal 45 KHI).

Suami yang mempunyai isteri lebih dari satu diperbolehkan, syarat utamanya harus dapat berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya dan harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengadilan Agama (Pasal 55, 56 KHI).

Referensi

Dokumen terkait

Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata , Hal.. 2) Di dalam akta perkawinan, yakni pengakuan dengan cara melaksanakan perkawinan yang sah antara

Demikian menurut pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dua syarat yang pertama, dinamakan syarat-syarat subyektif, karena mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang

Kitab Undang- Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek): dengan tambahan Undang-Undang Pokok Agraria dan undang- Undang Perkawinan.. 155 dimaksudkan adalah barang yang

Cara pembagian masing-masing ahli waris sama dengan ketentuan yang telah ditentukan dalam Pasal 863 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Pasal 857 Kitab

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ditemukan adanya ketentuan atau pasal khusus yang mengatur

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata ( Burgerlijk Wetboek ) Buku II Bab 20 Pasal 1150 sampai dengan Pasal 1161 disebutkan pengertian gadai adalah suatu hak yang

Penulisan tesis yang berjudul “ PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIBUAT SETELAH PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DITINJAU DARI KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA” ini merupakan salah

Penulisan tesis yang berjudul “PERJANJIAN PERKAWINAN YANG DIBUAT SETELAH PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DITINJAU DARI KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA” ini merupakan salah