HUKUM PERSELISIHAN MATERI 11
“ Tinjauan atas perumusan hukum waris, Pengertian Wasiat dan Pengertian Dasar”
Disusun Oleh :
Rose Amadya Berlian (2102010061)
A. Tinjauan Perumusan Hukum Waris
Hukum waris perdata barat yang diatur dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), yang merupakan adaptasi dari Burgerlijk Wetboek lama Belanda, diterapkan di Indonesia untuk golongan Eropa dan mereka yang dianggap setara dengan golongan Eropa sesuai dengan Pasal 131 Indische Staatsregeling. Meskipun merupakan produk hukum dari pemerintahan kolonial Belanda, hukum waris ini tetap berlaku hingga saat ini. Keberlakuan hukum waris dalam Burgerlijk Wetboek ini didasarkan pada ketentuan peralihan dalam Pasal II dan Pasal IV Undang Undang Dasar 1945. Penyertaan ketentuan peralihan ini dalam Undang Undang Dasar 1945 bertujuan untuk menjamin keberlakuan tetap peraturan hukum yang ada pada saat pembentukan Undang Undang Dasar tersebut, sehingga kekosongan hukum dalam masyarakat dapat dihindari. Pasal II Undang Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa segala badan negara dan peraturan yang sudah ada tetap berlaku sampai ada peraturan baru sesuai dengan Undang Undang Dasar ini. Sementara Pasal IV Undang Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa sebelum terbentuknya Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung sesuai Undang Undang Dasar ini, semua kekuasaan akan dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional Indonesia Pusat. Berdasarkan kedua Pasal aturan peralihan Undang Undang Dasar 1945 tersebut, pada tanggal 10 Oktober 1945, Presiden mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 1945.1
1 Wirjono Prodjodikuro, Hukum Perkawinan Di Indonesia, cet. Vlll (Bandung Sumur 1984), hal 12.
1. Kedudukan dan Anak (Keturunan)
Kedudukan
Kedudukan mengacu pada status hukum seseorang dalam hukum, khususnya mengenai status anak yang lahir di luar perkawinan baik dalam konteks keluarga maupun pewarisan.
Anak (Keturunan)
Keturunan (afstamming) berarti hubungan darah antara anak dan orang tuanya.2 Anak-anak dapat dikategorikan menjadi dua golongan:
a. Anak sah adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah. Menurut Pasal 250 KUHPerdata,
"Setiap anak yang dilahirkan atau dikandung selama perkawinan, memperoleh suami sebagai ayahnya." Ini berarti hubungan antara anak dan ayah dianggap sah secara hukum. Meskipun pembuktian bahwa seorang anak lahir dari ibunya relatif mudah, membuktikan bahwa seorang anak adalah anak seorang ayah bisa sulit, karena mungkin saja orang yang menghamili bukan suami ibunya. Oleh karena itu, Pasal 250 KUHPerdata memberikan kepastian hukum mengenai hubungan ini.
b. Anak tidak sah atau anak luar kawin adalah anak yang lahir di luar perkawinan yang sah menurut hukum yang berlaku. Anak luar kawin terbagi menjadi dua kategori:
Anak luar kawin dalam arti luas mencakup semua anak yang lahir tanpa perkawinan orang tuanya.
Anak luar kawin dalam arti sempit mencakup semua anak luar kawin dalam arti luas kecuali anak hasil perzinahan (overspelige) dan anak hasil hubungan sumbang (bloed schennis/incest). Anak perzinahan adalah anak yang lahir dari hubungan antara pria dan wanita yang bukan suami istri, di mana salah satu pihak sudah menikah dengan orang lain. Anak hasil hubungan sumbang adalah anak yang lahir dari hubungan seksual antara dua individu yang memiliki hubungan darah yang dilarang menikah oleh undang-undang.3
Sistem Pewarisan dalam Hukum Waris Perdata, Ada dua cara pembagian warisan, yaitu:
2 R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Hukum orang dan keluarga, Bandung : Alumni, 1986, hal 132
3 Afandi, Ali, Hukum Waris, Hukum Keluarga, dan Hukum Pembuktian. Cetakan keempat,. Jakarta: Rineke Cipta, 2004, hal 147
a) Ahli waris yang mewaris berdasarkan ketentuan undang-undang (ab-intestato), yaitu mereka yang secara otomatis menjadi ahli waris menurut undang-undang. Mereka adalah anggota keluarga pewaris, mulai dari yang paling dekat hubungannya (hubungan darah) hingga yang terjauh, asalkan ada ikatan keluarga atau hubungan darah dengan pewaris.
Orang-orang ini disebut mewaris tanpa wasiat atau mewaris secara ab-intestato (Pasal 832 KUHPerdata);
b) Orang-orang yang menerima bagian warisan berdasarkan pesan terakhir atau wasiat (testament) dari pewaris. Dalam hal ini, penerima warisan mungkin tidak memiliki hubungan darah atau ikatan keluarga dengan pewaris (Pasal 899 KUHPerdata).
2. Sifat Hukum Waris Perdata (Effendi Perangin, 2008:4) menganut:
a. Sistem Individual
Dalam sistem ini, ahli waris adalah individu-individu (secara pribadi) dan bukan kelompok ahli waris atau kelompok klan, suku, atau keluarga. Hal ini tercermin dalam ketentuan Pasal 852 jo.
852a KUHPerdata yang mengatur pewarisan untuk keluarga sedarah yang sah serta suami atau istri yang masih hidup. Pasal 852 KUHPerdata menyatakan bahwa anak-anak atau keturunan mereka, meskipun dari perkawinan yang berbeda, mewarisi dari kedua orang tua, kakek, nenek, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas tanpa membedakan jenis kelamin atau urutan kelahiran.
Mereka mewaris secara individual jika mereka adalah keluarga dalam derajat pertama dan memiliki hak atas diri sendiri, atau secara kelompok jika mereka bertindak sebagai pengganti.
b. Sistem Bilateral
Sistem ini berarti seseorang bisa mewarisi dari garis ayah dan ibu. Ini berlaku pula untuk saudara laki-laki dan perempuan, yang dapat mewarisi dari kedua belah pihak. Sistem ini diatur dalam Pasal 850, 853, dan 856 KUHPerdata, yang menetapkan bahwa jika tidak ada anak, keturunan, atau suami atau istri yang masih hidup, maka harta peninggalan diwarisi oleh orang tua serta saudara laki-laki dan perempuan.
c. Sistem Perderajatan
Dalam sistem ini, ahli waris dengan derajat yang lebih dekat kepada pewaris menutup hak waris dari mereka yang derajatnya lebih jauh. Derajat hubungan keluarga digunakan untuk menentukan
urutan ahli waris, di mana angka derajat yang lebih kecil menunjukkan hubungan keluarga yang lebih dekat, sementara angka derajat yang lebih besar menunjukkan hubungan yang lebih jauh.
Menurut Abdulkadir Muhammad, ahli waris adalah setiap orang yang berhak atas harta peninggalan pewaris dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan hutang-hutangnya.4 Hak dan kewajiban ini muncul setelah pewaris meninggal dunia. Hak waris ini didasarkan pada hubungan perkawinan, hubungan darah, dan surat wasiat yang diberikan kepada legataris, yang diatur dalam undang-undang. Meskipun legataris memiliki hak atas harta peninggalan pewaris, mereka tidak dianggap sebagai ahli waris karena hak mereka terbatas pada benda tertentu tanpa kewajiban. Asas Hukum Waris menurut KUHPerdata menyatakan bahwa keluarga sedarah yang lebih dekat menutup hak waris keluarga yang lebih jauh. Penerapan prinsip ini dijelaskan dalam Buku II Titel ke XII yang berjudul "Pewarisan para keluarga sedarah yang sah, dan suami atau istri yang hidup terlama."
Menurut KUHPerdata, keluarga sedarah disusun dalam kelompok yang disebut "golongan ahli waris," yang terdiri dari golongan I hingga golongan IV, berdasarkan kedekatan hubungan darah dengan pewaris. Golongan yang lebih dekat menutup hak waris golongan yang lebih jauh.
Anak luar kawin yang diakui secara sah tidak termasuk dalam salah satu golongan tersebut, melainkan merupakan kelompok tersendiri. Prinsipnya, jika ada ahli waris dari golongan yang lebih dekat, maka golongan yang lebih jauh tidak berhak mewaris. Golongan yang lebih jauh baru dapat mewaris jika semua ahli waris dari golongan yang lebih dekat telah meninggal dunia.
Dalam masing-masing golongan, ahli waris yang memiliki hubungan lebih dekat dengan pewaris menutup mereka yang lebih jauh, dengan memperhatikan asas penggantian tempat.
Ketentuan ini tidak berlaku antar golongan, karena golongan yang lebih jauh baru muncul jika golongan yang lebih dekat telah meninggal semua. Misalnya, meskipun seorang cicit berada dalam derajat ketiga dan saudara berada dalam derajat kedua, cicit tetap berada dalam golongan pertama sementara saudara berada dalam golongan kedua. Oleh karena itu, saudara tidak bisa menyingkirkan cicit dan mereka tidak dapat mewaris bersama. Cicit akan menutup kesempatan saudara untuk menjadi ahli waris.
Lihat skema dibawah ini:
4 Abdulkadir Muhammad, 2000, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya. Bakti, Bandung, hal 282
Bagan 2.1
Asas penggantian tempat akibat golongan yang lebih rendah telah meninggal dunia :