oleh Fadjar Sutardi
Bupati Sragen, Agus Fathurrahman, SH.MH., saat membaca Serat Centhini; Empat Puluh Malam Satunya Hujan, di serambi Sukowati, Sragen (foto: Fadjar Sutardi)
...dalam perspektif Centhini lho ya, didalam diri kita itu ya amongraga / Ya tambangraras ya ceboleng ya centhini ya kemuliaan ya naluri primitif seksualitas / ….kata Mangkunegara IV ketika ditanya ayahnya paku buwana IV tentang Serat centhini dia bilang: kebinalan ini mengantarkan pada jalan kebatinan…
(kiriman SMS Bupati Sragen, Agus FathurrahmanSH, MH, 16 Maret 2013, jam 08.58.22)
SIAPAPUN yang memegang pemerintahan khususnya di tanah Jawa, entah raja, sultan, bupati atau sekadar tumenggung dapat disebut memerintah dengan alim atau lalim oleh rakyatnya, setidaknya ada tiga hal yang mempengaruhinya, yakni ketika ia memandang dan menafsir tentang kedudukan atau tahtanya, hartanya dan saat ketika menafsir peran dan fungsi wanita diukur menurut akal atau nafsunya.
Dalam khasanah Jawa godaan para raja tersebut sering dikatakan ”Tiga Ta”, yakni tahta, harta dan wanita.
Penghambaan atau pengabdian manusia atas dasar akal atau nafsunya barangkali menjadi catatan besar dan sekaligus menjadi kegelisahan Agus Fathurrahman, seorang bupati Jawa, yang kebetulan saat ini mengemban amanat mulia di wilayah Sragen. Kegelisahan itu muncul kemungkinan ada dua hal, pertama karena adanya rasa keprihatinan atas perilaku sebagian teman-temannya yang sama-sama menjabat bupati yang merugikan rakyat dan bangsanya atau kemungkinan lainnya karena kegelisahan bupati, saat dirinya merasa menjadi manusia biasa yang hari-hari ini kemungkinan mengalami pencapaian ekstase dalam memaknai sensual-sensual kehidupan yang bersifat sensasi-sensasi spiritual yang menggetarkan jiwa religiusitasnya dan barangkali perlu dikabarkan pada para punggawa dan rakyatnya. Sensasi-sensasi itu hadir di setiap ruang dan waktunya, sensualitas-sensualitas itu menarikan hasratnya, hasrat itu mengalami puncaknya saat Agus membaca saduran kitab tafsir Centhini, karangan Elizabeth D. Inandiak dua tahun yang lalu. Dua tahun untuk kemudian kegelisahan akan kedahsyatan Centhini dikomunikasikan ulang dengan menyelenggarakan gelaran wungon dalam kemasan Apresiasi Serat Centhini bersama Elizabeth D. Inandiak di Serambi Sukowati, Sragen pada malam Jum’at yang berkah, 17 Maret 2013 kemarin dengan menghadirkan para pejabat dijajaran Pemkab Sragen, seniman, guru dan masyarakat sekitar.
Acara Apresiasi Serat Centhini, dibuka dengan pembacaan bagian serat Centhini Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan oleh Agus Fathurrahman sendiri, juga selaku pengasuh Serambi Sukowati dengan
menampilkan pupuh-pupuh puitis tentang pertemuan cinta Amongraga dengan seorang perempuan cantik bernama Tembangraras (atau Ken Tembangraras) putri seorang Kyai pesantren bernama Ki Panurta di suatu tempat bernama pondok Wanamarta dengan ekspresi teaterikal yang mendalam. Di tempat ini, kata Agus Amongraga banyak bersemedi dan mendekatkan diri pada Tuhan.
Setelah Amongraga menikah dengan Tembangraras, yang dijaga, dirawat oleh emban pembantu setianya yang bernama Centhini. Amongraga sebagai penganten baru, ia memilih untuk mengenal istrinya dengan pendekatan rohaniah selama empat puluh malam lebih dan menyiraminya dengan hujan kata-kata rohani bagi peningkatan diri sang istri dan juga kebersamaan yang romantis. Amongraga tidak menyentuh secara ragawi istrinya tetapi dengan nurani dan akal pikirannya yang terangkum dalam tembang-tembang cinta yang berisikan filosofi hidup yang penuh interpretasi mendalam.
Saking mendalamnya tembang-tembang puitis Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, banyak orang yang bilang dapat disandingkan dengan The Prophet miliknya Khalil Gibran. Dari tembang 71 sampai 111, penuh dengan filosofi kehidupan yang begitu dalam dan bagaimana memandang hidup dengan berbeda.
Mengapa Amongraga melakukan ini kepada sang istri? Amongraga, yang diperankan Agus dengan baik, di puncak teaterikal pembacaan puisinya ia menggumam:
“Namun hatimu sudah dalam hatiku dan hatiku dalam hatimu. Kau dengarkah keduanya berdebar-debar gugup karena asmara? Padahal kegugupan adalah halangan sanggama.”
Bait ini dirasakan begitu menyentuh, ketika sepasang kekasih yang gelisah menanti malam pertama, harus menahan diri dari luapan gairah dan seluruh reaksi kimiawi dirinya untuk merasakan tubuh satu sama lain layaknya pengantin baru. Suatu ujian atas nafsu birahi dan pengakuan terhadap penghormatan
akan satu sama lain. Amongraga merasakan bahwa mencintai dan mengenali pasangan bukan hanya dari persetubuhan tetapi dari suatu hal yang lebih mendalam.
Dari realitas teks, memang Serat Centhini telah membuktikan bahwa makna cinta pada zaman dahulu memiliki arti yang sarat makna yang mendalam, bukan hanya kebersamaan fisik dan gairah asmara.
Lanjutnya Amongraga juga berseru:
Jika kau tidak keberatan Dinda, dan dengan rahmat Allah, mulai malam ini berdua kita akan berlayar dalam diam, menentramkan nafas satu dalam lainnya, dan agar kau jadi buritan dan aku haluan.
Awalnya pelayaran ini akan terasa kejam penuh larangan sebab ancaman karam sangat besar, kita akan dibawa selama empat puluh malam mengarungi tujuh lautan, silih berganti.Kata-kata Amongraga yang bijak tentang kebersamaan sepasang suami istri, untuk saling memahami dan saling mengerti atau sepakat dalam kata, belajar bersama melewati berbagai badai yang akan dirasakan dan juga mencoba berdamai satu sama lain selama 40 hari masa perkenalannya.
Usai narasi pembacaan Empat Puluh Malam Satunya Hujan, Elizabeth D. Inandiak kemudian tampil dengan blouse warna ungu dan celana panjang warna putih, menganggukkan kepada para undangan, kemudian dengan pelan-pelan Elizabeth mengatakan, bahwa pada awalnya ia mengenali Serat Centhini, ketika Prof.Dr. HM Rasyidi mengulas tentang kehebatan Centhini kepadanya, secara kebetulan HM Rasyidi tengah mempertahankan dan kemudian memperoleh gelar doktor dari Universitas Sorbonne Prancis dengan disertasinya dengan judul “Considerations Critique du Livre de Centhini” (Pertimbangan Kritis tentang Centhini). Melalui H.M. Rasjidi-lah Elizabeth D. Inandiak kemudian jatuh cinta tanpa batas kepada Serat Centhini dan mempelajarinya selama bertahun-tahun. Elizabeth D. Inandiak kemudian menyadur Serat Centhini dengan cara mensyarah, menafsir, meringkas, dan menjadikan buku baru Centhini dengan judul Centhini: Kekasih yang Tersembunyi abad ke 21. Dalam acara tersebut, Elizabeth sempat membaca beberapa baris karya puitisnya kepada penonton.
Selanjutnya disajikan musik etnis dari Makassar dengan nama Kelompok La Here bersama tarian tubuh Suprapto Suryodarmo dan murid-muridnya dari Padepokan Lemah Putih Mojosongo, Karanganyar.
Beberapa tembang yang diambil dari Centhini, juga dilantunkan oleh Waluyo, S.Kar., M.Hum dosen ISI Surakarta.
Apa tujuan diselenggarakannya gelaran serat Centhini bagi jajaran Pemda Sragen dan masyarakat sekitarnya? Dalam diskusi yang dimoderatori Pine Wiyatno tergambarkan bahwa tujuan gelaran Centhini dimaksudkan, pertama, menggugah masyarakat untuk bersama-sama menggali ulang nilai-nilai budaya Jawa yang agung yang dalam hal ini dahulu telah dilakoni oleh Amongraga dan saudara-saudaranya dalam serat Centhini, sebagai bahan renungan, refleksi dan hikmah yang terkandung didalamnya, sebagai spirit bagi masyarakat yang semakin tidak mengerti tentang keagungan karya besarkarya besar berbahasa Jawa tersebut. Kedua, membangun kesadaran dan penyadaran bersama dalam situasi dan kondisi zaman yang berubah. Agar masyarakat tidak hanyut dalam imperium global, yang dianggap banyak orang menjadi sesuatu yang membahagiakan. Masyarakat dipelbagai level, terperangkap ke dalam globalitas semu yang menyesatkan. Ketiga, membangkitkan masyarakat dilingkungan pinggiran global untuk agar selalu berbagi dalam hal apa saja dan kepada siapa saja, tanpa pandang bulu. Dengan
kandungan maksud, agar masyarakat semakin tahu makna dan arti mana yang hitam dan mana yang putih, mana yang benar mana yang salah, mana yang atas dan mana yang bawah. Sementara
masyarakat pinggiran global dewasa ini, tidak mengerti atau tidak mau tahu tentang makna-makna masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Dari sini, masyarakat akhirnya terjauhkan dari kearifan-kearifan agung karya besar masa lalu yang masih sangat relevan, dengan persoalan-persoalan sekarang. Ketiga hal di atas, tampaknya menjadi kegelisahan besar pribadi Agus Fathurrahman, di saat masyarakat hanya memerlukan sesuatu yang bersifat nominal dan bukan memerlukan value.
Daya tarik diskusi Apresiasi Serat Centhini yang juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk
Tambangraras-Amongraga ini, justru dari sisi-sisi lain yang belum pernah diangkat dalam forum-forum diskusi seperti malam tersebut. Biasanya hanya dilihat dari sisi sensual cintanya Amongraga saja.
Suparjo, dosen sastra Jawa UNS memaparkan bahwa Serat Centhini merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis tembangnya. Serat Centhini, bisa jadi sebagai ensiklopedi Jawa terbesar pada saat ini.
Lebih lanjut dikatakan oleh Suparjo, yang senada juga dalam kamus versi Wikipedia Indonesia, bahwa Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga atau Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti. Jayengresmi, dengan diikuti oleh dua santri bernama Gathak dan Gathuk, melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, hutan Bagor, Gambirlaya, Gunung Padham, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung
Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang.
Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami "pendewasaan spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya
kemudian dikenal dengan sebutan Seh (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Ken Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya.
Sedangkan Jayengsari dan Rancangkapti diiringi santri bernama Buras, berkelana ke Sidacerma, Pasuruan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singhasari, Sanggariti,
Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Bromo, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argopuro, Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma
Banyumas. Dalam perjalanan itu mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawa, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan wudhu, salat, pengetahuan dzat Allah, sifat dan asma-Nya (sifat dua puluh), Hadist Markum, perhitungan slametan orang meninggal, serta
perwatakan Pandawa dan Kurawa. Setelah melalui perkelanaan yang memakan waktu bertahun-tahun, akhirnya ketiga keturunan Sunan Giri tersebut dapat bertemu kembali dan berkumpul bersama para keluarga dan kawulanya, meskipun hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena Syekh Amongraga (Jayengresmi) kemudian melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju tingkat yang lebih tinggi lagi, yaitu berpulang keharibaan sang Pencipta Sejati.
Diskusi semakin malam mendalam dan mengasyikkan, ketika yang hadir diajak Elizabeth untuk bersama-bersama menajamkan mata hati dengan cinta. Meletakkan nafsu pada jalan Allah, dan melaksanakan takdir dengan qanaah. Di akhir diskusi peserta, masing-masing mendapatkan kenang-kenangan buku Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi, karya Elizabeth D. Inandiak atas uluran tangan dan kebaikan bupati Sragen, Agus Fathurrahman. Diskusi akhirnya melarut sampai pukul 00.45 WIB dan ditutup dengan do’a bersama. ***
*) Perupa, tinggal di Sumberlawang, Sragen.