PELANGGARAN PLAGIARISME BERKENAAN DENGAN CERITA PENDEK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG
NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA
Oleh
IKA RISTIA ANDINI PUTRI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2015
RIWAYAT HIDUP
Nama lengkap penulis adalah Ika Ristia Andini Putri. Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 10 April 1994, dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Salahudin S.T., M.Pd. dan Ibu Dra. Sartini.
Penulis mengawali pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK) Dharma Wanita Universitas Lampung pada tahun 1998, penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar di SD Al-Kautsar Bandar Lampung pada Tahun 1999 hingga tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 8 Bandar Lampung pada tahun 2005 sampai tahun 2008 dan Sekolah Menengah Atas di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2008 hingga tahun 2011. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2011. Pada tahun 2014 penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Labuhan Ratu Induk Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur.
PERSEMBAHAN
Atas Ridho Allah SWT dan dengan segala kerendahan hati kupersembahkan skripsiku ini kepada:
Kedua orangtuaku tercinta Salahudin S.T., M.Pd. dan Dra. Sartini. Yang selama ini telah banyak berkorban, selalu berdoa dan menantikan
keberhasilanku
Almamater tercinta Universitas Lampung
tempatku memperoleh ilmu dan merancang mimpi yang menjadi sebagian jejak langkahku menuju kesuksesan.
MOTO
“Hendaklah engkau jujur meski hal tersebut merugikanmu, namun kejujuran
sangat bermanfaat bagimu, dan jauhilah kebohongan meski ia menguntungkanmu,
namun sejatinya kebohongan merugikanmu.”
(Asy-Sya’bi)
“Bila hidup itu buruk, maka karya itu untuk hidup. Namun, bila hidup itu baik, maka karya itu untuk kedudukan, kehormatan dan sebagainya.”
SANWACANA
Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pelanggaran Plagiarisme Berkenaan Dengan Cerita Pendek Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung di bawah bimbingan dari dosen pembimbing serta atas bantuan dari berbagai pihak lain. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.
Penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung;
2. Bapak Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.Hum., Ketua Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung dan Pembimbing I atas kesabaran dan kesediaan meluangkan waktu disela-sela kesibukannya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;
3. Ibu Kasmawati, S.H., M.Hum., Pembimbing II yang telah bersedia untuk meluangkan waktunya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;
4. Ibu Lindati Dwiatin, S.H., M.Hum., Pembahas I yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini;
5. Ibu Siti Nurhasanah, S.H., M.H., Pembahas II yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini.
6. Bapak Dita Febrianto, S.H., M.H., selaku pembimbing akademik, yang telah membantu penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lampung;
7. Seluruh dosen dan karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan studi; 8. Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak yang
penulis banggakan dan Mama tercinta yang telah banyak memberikan dukungan dan pengorbanan baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. Terimakasih atas segalanya semoga kelak dapat membahagiakan, membanggakan, dan selalu bisa membuat kalian tersenyum dalam kebahagiaan;
9. Adik-adikku Adi Indra Jaya Saputra dan Ali Riska Triansyah atas semua dukungan moril, motivasi, kegembiraan, dan semangatnya;
10.Sahabat-sahabat terbaikku Arjuna Frans Sisko, Fera Lestari dan Iis Priyatun atas semangat dan motivasinya;
11.Teman-temanku yang selalu menemani Ines, Herra, Andi MS, Aminah, Citra, Ayu, Johanna, Aprilia RW, Kresna, Andika, Beni, Andri, Indra Budhi, Imam, Asadillah;
12.Teman-teman Hukum Keperdataan 2011 Clara, Bramantya, Gerri, Astari, Maya, Rae, Marullfa yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan dan kerjasamanya;
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas jasa dan budi baik yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.
Bandar Lampung, Oktober 2015 Penulis,
DAFTAR ISI
ABSTRAK... . i
HALAMAN JUDUL ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv HALAMAN PENGESAHAN... ... v RIWAYAT HIDUP... ... vi MOTO ... vii PERSEMBAHAN ... viii SANWACANA ... ix
DAFTAR ISI ... xii
I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup... . 6
C.Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA A.Perlindungan Hukum ... 8
B.Hak Kekayaan Intelektual ... 10
C.Hak Cipta ... 12
1. Pengertian Hak Cipta ... 12
2. Hak Ekonomi dan Hak Moral ... 14
3. Pencipta, Ciptaan dan Pemegang Hak Cipta ... 15
4. Pelanggaran Terhadap Hak Cipta ... 18
5. Pengaturan Hukum Hak Cipta ... 20
D.Plagiarisme ... 22
E. Cerita Pendek ... 23
III. METODE PENELITIAN
A.Pendekatan Masalah... 28
B.Jenis Penelitian... 28
C.Tipe Penelitian ... 29
D.Data dan Sumber Data ... 29
E. Metode Pengumpulan Data ... 30
F. Metode Pengolahan Data... .... 30
G.Analisis Data ... 31
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Bentuk Bentuk Pelanggaran Plagiarisme yang Dilakukan Penulis Dalam Membuat Cerita Pendek ... 32
B.Perlindungan Hukum Bagi Pemegang Hak Cipta Terhadap Tindakan Plagiarisme Dalam Cerita Pendek ... 42
C.Upaya Untuk Mencegah Terjadinya Tindakan Plagiarisme Cerita Pendek ... 53
V. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan ... 60
B. Saran ... 61
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan hasil dari intelektual manusia yang dijelmakan dalam suatu bentuk ciptaan atau penemuan.1 HKI merupakan suatu hak milik yang berada dalam ruang lingkup kehidupan teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Objek HKI bukan terhadap barangnya, melainkan terhadap hasil kemampuan intelektual manusianya, yaitu berupa benda tidak berwujud. HKI akan memiliki arti ekonomi apabila diwujudkan oleh pemiliknya dalam bentuk penemuan atau ciptaan untuk dapat dinikmati oleh konsumennya.
Salah satu rezim HKI adalah Hak Cipta. Pengertian Hak Cipta menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hak cipta timbul secara otomatis ketika suatu ciptaan lahir dari seorang pencipta, dengan demikian pendaftaran hak cipta bukanlah suatu keharusan, hanya saja mengenai hak cipta yang tidak didaftarkan akan sukar dan memakan waktu untuk pembuktian hak cipta daripada ciptaan yang telah didaftarkan.
1
Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 9.
Menciptakan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Hasil ciptaan bagaimana pun bentuknya, merupakan sesuatu yang perlu dihargai. Ciptaan tumbuh dari proses berfikir manusia yang kemudian dituangkan dalam bentuk ciptaan dan penemuan (invention). Pada prinsipnya ciptaan adalah membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kreatifitas untuk membuat ciptaan dapat timbul dari berbagai sumber, misalnya televisi, internet, majalah, koran, dan sebagainya. Ciptaan yang dihasilkan gunanya untuk memudahkan kehidupan manusia, seperti penemuan yang memudahkan manusia dalam memperoleh informasi, kemudahan dalam melakukan pekerjaan, maupun kemudahan dalam berkomunikasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Selaras dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi saat ini memudahkan manusia dalam memperoleh informasi dengan akurat, cepat dan berbiaya murah. Melalui media Interconnected computer networks atau lazim disebut dengan internet, manusia dapat mengakses informasi dan data dari seluruh belahan dunia dalam waktu singkat. Namun, di sisi lain kemudahan-kemudahan inilah yang membuat manusia menjadi malas dan memilih menggunakan cara cepat untuk menemukan gagasan/ide atau kreatifitas dalam melakukan suatu pekerjaan. Kemajuan teknologi tersebut tidak hanya membawa dampak yang baik namun juga dapat membawa dampak buruk bagi Hak Kekayaan Intelektual. Salah satu dampak buruknya, yaitu plagiarisme.
Plagiarisme berasal dari bahasa latin plagiarius yang berarti merampok atau membajak.2 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Plagiarisme ialah
2
Annisa Dwi Kusumawardani, Plagiarisme Merusak Moral Bangsa, <www.kompasiana.com>, diakses pada tanggal 06-07-2015, pukul 09.08 WIB
penjiplakan yang melanggar hak cipta. Sedangkan, plagiat adalah pengambilan karangan orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan sendiri.3 Orang yang melakukan tindakan plagiarisme disebut dengan plagiator. Plagiarisme atau yang sering juga disebut dengan plagiat adalah suatu tindakan/perbuatan mengambil, menyalin, maupun menduplikasi karya orang lain dan menjadikannya karya sendiri tanpa mencantumkan sumber atau tanpa izin sang pemiliknya.
Terkait dengan tindakan plagiarisme, Pemerintah Indonesia telah mengatur suatu mekanisme hukum untuk melindungi pemilik ciptaan, yaitu dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan undang-undang tentang hak kekayaan intelektual lainnya. Meskipun demikian, masih ada tindakan plagiarisme terutama dalam pembuatan karya tulis.
Plagiarisme saat ini terjadi pada hampir seluruh aspek hak cipta, antara lain seperti karya seni, musik dan sastra. Cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang kerap dijiplak oleh penulis. Cerita pendek atau yang sering disebut dengan cerpen, merupakan suatu karya tulis yang ditulis untuk mengekspresikan pemikiran dari penulisnya dalam bentuk cerita. Penulis cerpen bukan hanya dari kaum sastrawan saja tetapi juga sudah banyak anak-anak remaja maupun orang dewasa yang tertarik untuk menulis cerpen. Cerita-cerita yang ditulis mengangkat beragam tema yang menarik seperti cerpen yang bertemakan keluarga, persahabatan, percintaan bahkan keagamaan. Cerpen berbentuk cerita singkat yang panjang ceritanya hanya berkisar kurang lebih 10.000 kata sehingga tidak
3
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 459.
membuat bosan pembacanya, terutama bagi orang-orang yang tidak suka membaca berlama-lama.
Cerpen dapat dengan mudah kita temukan di berbagai media cetak maupun online
seperti dalam koran, majalah, maupun pada blog-blog penulis cerpen yang terdapat di internet. Pada saat ini menulis cerpen bukan hanya dilakukan sebagai hobi saja tetapi ada juga yang menulis cerpen untuk mendapatkan imbalan, misalnya mengirim cerpen ke media cetak seperti koran dan majalah. Semakin bagus cerpen yang ditulis maka semakin banyak tuntutan bagi penulis untuk menulis cerpen yang lebih baik lagi. Hal inilah yang membuat para penulis memeras otak guna mencari ide-ide untuk membuat cerita yang baru. Dengan adanya imbalan yang dihasilkan dari penulisan cerpen, maka para penulis berlomba-lomba untuk membuat cerpen bahkan tidak sedikit penulis yang melakukan plagiarisme terhadap cerpen yang terbaik.
Pelaku plagiarisme cerpen menjiplak karya orang lain dari dalam negeri ataupun dari luar negeri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Plagiarisme tidak hanya merugikan penulis cerita pendek sebagai pemilik hak cipta, tetapi juga merugikan para pembaca, akibat kebohongan yang dibuat oleh plagiator. Terdapat beberapa kasus plagiarisme cerita pendek di Indonesia salah satunya yaitu plagiarisme cerita pendek di koran yang dilakukan oleh Dadang Ari Murtono
dalam cerpennya yang berjudul “Perempuan Tua dalam Rashomon”. Cerpen
tersebut adalah hasil plagiat dari cerpen milik Akutagawa Ryunosuke seorang
cerpenis terbaik di Jepang yang berjudul “Rashomon”. Selain hasil dari tindak
plagiarisme cerpen tersebut telah diterbitkan di dua media cetak yang berbeda.
dimuat di Lampung Post, kemudian pada hari Minggu 30 Januari 2011, cerpen tersebut dimuat kembali di Koran Kompas.4
Plagiarisme atau pemanfaatan ciptaan yang di dalamnya mengandung hak cipta tanpa seizin maupun sepengetahuan pencipta/pemegang hak cipta, maka dapat menimbulkan sengketa hak cipta. Dalam ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai hak cipta, sengketa hak cipta dapat diselesaikan dengan dua cara penyelesaian, yaitu dengan hukum perdata atau pidana. Dalam hal sengketa perdata, maka mekanisme penyelesaian hak cipta dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan melalui proses penyelesaian sengketa alternatif atau gugatan ke Pengadilan Niaga. Sedangkan, dalam hal pidana, dapat diselesaikan melalui pengaduan kepada polisi untuk dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta dirasa masih sangat penting, mengingat perkembangan perlidungan hak cipta dan perlindungan hukum terhadap hak cipta bagi pencipta masih kurang. Masih banyak terdapat hambatan-hambatan yang timbul dalam penegakan hukum hak cipta, meskipun telah dilakukan upaya-upaya hukum oleh para pihak, serta dengan menerapkan sanksi-sanksi hukum terhadap para pelanggar hak cipta. Kurang tegasnya penegakan hukum hak cipta maka dapat memotifasi pelaku plagiarisme di Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mencari informasi lebih dalam melalui penelitian dan melakukan penulisan skripsi yang berjudul “Pelanggaran
4
Bamby, Surat Pembaca Untuk Kompas, <http://bambydanceritanya.blogspot.com>, diakses pada tanggal 30-03-2015, pukul 13.13 WIB.
Plagiarisme Berkenaan Dengan Cerita Pendek di Koran Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta”.
B. Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a. Bagaimanakah bentuk-bentuk pelanggaran plagiarisme yang dilakukan penulis dalam membuat cerita pendek?
b. Bagaimana perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta terhadap tindakan plagiarisme dalam cerita pendek?
c. Bagaimana upaya untuk mencegah terjadinya tindakan plagiarisme cerita pendek?
2. Ruang Lingkup
Penelitian ini terdiri dari dua ruang lingkup yaitu ruang lingkup keilmuan dan ruang lingkup objek kajian. Lingkup keilmuan dalam penelitian ini yaitu berkenaan dengan hukum kekayaan intelektuan khususnya dalam bidang hak cipta. Sedangkan, lingkup objek kajian dalam penelitian ini berupa kajian mengenai bentuk-bentuk plagiarisme serta perlindungan hukum hak cipta berkenaan dengan cerita pendek ditinjau dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini yaitu:
a. Mengetahui dan memahami mengenai bentuk-bentuk pelanggaran plagiarisme yang dilakukan penulis dalam membuat cerita pendek;
b. Mengetahui tentang perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta terhadap plagiarisme cerita pendek di koran berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta;
c. Mengetahui tentang cara pencegahan tindak plagiarisme cerita pendek.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menunjang pengembangan ilmu pengetahuan hukum keperdataan, khususnya dalam lingkup hukum kekayaan intelektual.
b. Kegunaan Praktis
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi para pembaca serta melengkapi informasi yang telah ada dengan temuan-temuan yang muncul dalam penelitian ini.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Perlindungan Hukum
Hukum dibuat oleh manusia dan untuk manusia itu sendiri. Perlindungan hukum berarti bahwa hukum itu melindungi sesuatu yang dapat berupa harta benda, kehormatan dan bahkan nyawa seseorang. Perlindungan hukum adalah upaya untuk melindungi kepentingan individu atas kedudukannya sebagai manusia yang mempunyai hak untuk menikmati martabatnya, dengan memberikan kewenangan padanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut.
Perlindungan hukum merupakan segala upaya yang dapat menjamin adanya kepastian hukum, sehingga dapat memberikan perlindungan hukum kepada pihak-pihak yang bersangkutan atau yang melakukan tindakan hukum.5 Salah satu sifat dan sekaligus merupakan tujuan dari hukum adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap masyarakat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk adanya kepastian hukum. Daniel S. Lev mengartikan kepastian hukum sebagai suatu kepastian tentang bagaimana warga masyarakat menyelesaikan masalah-masalah hukum, bagaimana
5
Hetty Hasanah, Perlindungan Konsumen dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen atas
Kendaraan Bermotor dengan Fidusia, <http//jurnal.unikom.ac.id/vol3/perlindungan.html>, hlm. 1,
peranan dan kegunaan lembaga-lembaga hukum, bagi masyarakat serta apakah hak dan kewajiban para warga masyarakat.6
Hukum dalam memberikan perlindungan dapat melalui cara-cara tertentu, antara lain yaitu dengan:7
1. Membuat peraturan (by giving regulation), bertujuan untuk: a. memberikan hak dan kewajiban;
b. menjamin hak-hak para subjek hukum;
2. Menegakan peraturan (by law enforcement) melalui:
a. hukum administrasi negara yang berfungsi untuk mencegah (preventive) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, dengan perijinan dan pengawasan;
b. hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) pelanggaran, dengan mengenakan sanksi pidana dan hukuman;
c. hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative; recovery; remedy), dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.
Cara dan langkah pertama yang dilakukan dalam perlindungan hukum adalah pembuatan peraturan perundang-undangan. Dikatakan sebagai perlindungan hukum karena tindakan-tindakannya harus didasarkan pada peraturan hukum. Tanpa peraturan, maka tindakan hukum belum dapat dilakukan. Peraturan dalam
6
Soerjono Soekanto dan Mustafa Abdulah, Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat (Jakarta: CV Rajawali, 1987), hlm.33.
7
Wahyu Sasongko, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2007), hlm.31.
hal ini merupakan hasil dari kesepakatan yang dibuat oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya di parlemen bersama-sama dengan pemerintah.8
B. Hak Kekayaan Intelektual
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan suatu hak milik dari hasil pemikiran, yang bersifat tetap dan eksklusif dan melekat pada pemiliknya. HKI pada dasarnya adalah hak hukum dimana dengan hak hukum tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hasil kreasi dan karya intelektual manusia dalam bidang industri, ilmu pengetahuan, literatur dan artistik.9 HKI terdiri dari beberapa cabang ilmu, yaitu Hak Cipta, Hak Merek, Hak Paten, Rahasia Dagang, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Perlindungan Varietas Tanaman.
HKI merupakan hak kekayaan intelektual yang dilindungi oleh hukum, oleh karena itu HKI tidak boleh digunakan oleh orang lain tanpa mendapat izin dari pemiliknya atau pemegang HKI. Dalam HKI terdapat dua sistem perlindungan yaitu sistem konstitutif yang melindungi pendaftar pertama (first to file system) bagi HKI dan sistem deklaratif yang mendasarkan pada pengguna pertama (first to use system). Dalam sistem konstitutif, untuk mendapatkan perlindungan hukum yang sah, pemilik HKI diwajibkan untuk mendaftarkan haknya tersebut. Setiap HKI yang telah didaftarkan akan sah dengan pembuktian berupa sertifikat pendaftaran. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pelanggaran maupun kecurangan-kecurangan terhadap HKI. Apabila terjadi pelanggaran HKI maka pemilik HKI dapat menuntut pelanggarnya secara hukum dan dapat dikenakan sanksi sesuai
8Ibid, hlm.31.
9
dengan hukum yang mengaturnya. Namun jika HKI tidak didaftarkan berarti tidak ada pengakuan hak yang sah dari pemiliknya, dengan demikian tidak ada perlindungan hukum terhadap haknya tersebut. Sedangkan dalam sistem deklaratif, perlindungan hukum diberikan kepada pengguna atau pemakai pertama HKI. Jadi apabila ada pihak lain yang mengaku sebagai pemilik dari HKI, maka ia harus membuktikan bahwa ia adalah pemilik pertama yang sah dari HKI tersebut. Dalam sistem deklaratif tidak diharuskan melakukan pendaftaran HKI, namun pendaftaran dianjurkan karena pendaftaran HKI memberikan kepastian hukum.
HKI dapat dialihkan kepada orang lain dengan cara pewarisan, wasiat, hibah, perjanjian, atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh undang-undang. Adanya pengalihan HKI dengan berbagai cara dikarenakan pemilik/pemegang HKI mengharapkan hak miliknya dapat memberikan manfaat ekonomi yang sebesar-besarnya, guna mendapatkan nilai ekonomis tersebut, maka hak tersebut mempunyai kesempatan untuk dapat dialihkan dan dimanfaatkan sesuai dengan kehendak pemilik atau pemegang hak tersebut.10 Sifat-sifat HKI menurut Abdulkadir Muhammad yaitu sebagai berikut:11
1. Benda bergerak tidak berwujud;
2. Dapat dibagi, artinya dapat dialihkan seluruhnya atau sebagian kepada pihak lain; dan
3. Tidak dapat disita.
10
Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual Sejarah, Teori dan
Prakteknya di Indonesia (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003), hlm.34.
11
C. Hak Cipta
1. Pengertian Hak Cipta
Hak cipta merupakan salah satu dari beberapa cabang hak kekayaan intelektual.
Hak cipta terdiri dari dua kata hak dan cipta, kata “hak” yang sering dikaitkan
dengan kewajiban adalah kewenangan yang diberikan kepada pihak tertentu yang
sifatnya bebas untuk digunakan atau tidak. Kata “cipta” tertuju kepada hasil kreasi
manusia dengan menggunakan sumber daya yang ada padanya berupa pikiran, perasaan, pengetahuan, dan pengalaman. Oleh karenanya, hak cipta berkaitan dengan intelektualitas manusia itu sendiri berupa hasil kerja otak.12 Hak cipta didefinisikan sebagai hak eksklusif bagi para pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberikan izin kepada pihak lain untuk melakukan hal yang sama dalam batasan hukum yang berlaku. 13
Menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak