• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cermin Masyarakat dalam Novel Wesel Pos (2018)

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai masalah sosial masyarakat rumah susun di Jakarta yang terdapat di dalam tes novel Wesel Pos (2018), latar belakang sosial pengarang, dan ideologi Ratih Kumala maka dapat ditarik kepada pembahasan mengenai cermin masyarakat yang direfleksikan oleh novel tersebut. Novel ini memiliki latar penceritaan pada zaman modern dimana penyebutan teknologi pada zaman tersebut sudah sampai pada telepon genggam yang mempunyai layar sentuh. Novel Wesel Pos (2018) terbit pada tahun 2018. Novel tersebut memaparkan kondisi masyarakat Jakarta yang sudah modern sesuai dengan tahun dimana novel tersebut terbit. Meskipun memiliki judul wesel pos, sebagaimana diketahui bahwa wesel pos merupakan sarana untuk mengirim uang pada zaman dahulu, novel tersebut tetap memiliki latar Jakarta yang sudah modern. Penggunaan judul wesel pos tidak memiliki keterkaitan yang erat mengenai zaman dimana masih digunakannya sarana wesel pos untuk keperluan bertransaksi.

Pemaparan mengenai wesel pos hanya digunakan sebagai pembanding antara orang yang menggunakan wesel pos sebagai orang dari luar Jakarta dengan orang Jakarta yang bahkan sudah asing dengan wesel pos. Pengarang hendak memberikan penekanannya mengenai modernnya kota Jakarta yang dilihat oleh orang pedesaan yang berasal dari luar Jakarta melalui penggunaan

wesel pos. Hal tersebut direpresentasikan oleh tokoh utama dalam novel. Akan tetapi, di balik modernnya kota Jakarta ada suatu permasalahan sosial di baliknya. Jakarta digambarkan sebagai kota yang keras untuk para pendatang khususnya orang-orang biasa yang terpinggirkan.

Di dalam novel Wesel Pos (2018) nasib orang-orang yang terpinggirkan berada di rumah susun. Rumah susun menjadi tempat terkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang yang sama-sama hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari kemewahan. Di dalam rumah susun hidup berbagai macam anggota masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda. Di lingkungan yang heterogen tersebut tidak semua orang menjalankan hidupnya sesuai dengan norma sosial yang telah ada. Masalah-masalah sosial dapat muncul di tengah kehidupan mereka. Novel Wesel Pos (2018) menggambarkan bagaimana masyarakat rumah susun di Jakarta bertahan hidup di tengah kerasnya kota.

Novel Wesel Pos (2018) merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat yang masih berumur muda di Jakarta dan masyarakat rumah susun.

Hal ini dapat dikaitkan dengan Ratih Kumala yang dapat mewakili kelompok sosial masyarakat kota Jakarta khususnya pemuda. Ia memiliki ideologi yang bebas dalam mengungkapkan pandangannya mengenai masalah sosial yang ada di dalam masyarakat rumah susun di Jakarta. Refleksi tersebut dipaparkan melalui permasalahan sosial yang terdapat di masyarakat. Cerminan mengenai permasalahan sosial di dalam novel seperti pencurian, pengedaran narkoba, peselingkuhan, dan kerusakan moral. Masalah-masalah sosial tersebut masih

dapat dijumpai di masyarakat hingga saat ini. Sebagai cermin masyarakat tahun 2018 sampai sekarang permasalahan sosial yang digambarkan oleh pengarang masih relevan dengan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

Ratih Kumala memiliki pandangan dan tanggapan mengenai masalah sosial yang terjadi di Jakarta. Ratih Kumala menanggapi permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat Jakarta yang tinggal di rumah-rumah susun.

Masalah-masalah sosial tersebut diantaranya berkaitan dengan bagaimana mereka bisa bertahan hidup. Orang-orang yang hidup di rumah susun digambarkan sebagai orang yang terpinggirkan oleh hiduk pikuk kota Jakarta.

Mereka menjalani kehidupannya di lingkungan sempit rumah susun.

Di tengah-tengah terhimpitnya perekonomian seringkali membuat seseorang menempuh jalan pintas untuk bisa mencukupi kebutuhannnya. Di dalam novel Wesel Pos (2018) kondisi perekonomian yang semakin terhimpit menyebabkan seseorang dapat mengambil jalan pintas tersebut dengan mengerjakan pekerjaan yang dapat menyeretnya ke ranah kriminal. Karena faktor ekonomi menyebabkan seseorang terpaksa mengerjakan perbuatan kriminal. Perbuatan kriminal yang dikerjakan menyebabkan permasalahan sosial. Persoalan tersebut dilihat oleh Ratih Kumala dan dibingkai sedemikian rupa dalam fiksi yang dituliskannya. Sebagai pengarang muda yang terbuka dengan hal-hal di sekitarnya, kota Jakarta menjadi perhatiannya dalam mengungkapkan pandangannya mengenai masalah sosial yang ada di balik kota Jakarta yang penuh dengan kemajuan di berbagai sektor.

Masalah-masalah sosial yang digambarkan di dalam novel merepresentasikan kondisi masyarakat yang menunjukkan penurunan moral dan mulai ditinggalkannya norma dan aturan-aturan agama yang mengatur di tengah-tengah masyarakat. Perbuatan-perbuatan yang menunjukkan penurunan moral di masyarakat yakni maraknya perselingkuhan dan perzinahan yang mewarnai kehidupan masyarakat Jakarta yang tinggal di rumah-rumah susun.

Novel Wesel Pos (2018) hadir sebagai tanggapan Ratih yang merupakan wakil dari masyarakat Jakarta yang menuangkan pemikirannya secara apa adanya dan penuh kebebasan. Ia mengungkapkan pemikirannya mengenai Jakarta sebagai kota yang keras dan terdapat permasalahan sosial di dalamnya. Kehidupan sosial masyarakat Jakarta diungkapkannya dengan tetap memposisikan dirinya sebagai seorang perempuan dan pemuda. Ia menggambarkan bagaimana para pemuda menyikapi masalah sosial yang hadir di sekitarnya.

Apabila dilihat dari latar Ratih Kumala yang masih berusia muda, ia menggambarkan bagaimana menjadi seorang pemuda yang harus kuat menghadapi masalah-masalah yang hadir di Kota Jakarta sebagai lingkungan tempat ia tinggal. Novel Wesel Pos (2018) mengangkat tokoh bernama Elisa yang merupakan seorang gadis muda dari daerah Purwodadi. Tokoh Elisa diceritakan baru pertama kali datang ke Jakarta. Tokoh Elisa merupakan representasi dari seorang gadis muda yang mengalami serangkaian peristiwa yang membuatnya terheran-heran dengan kondisi sosial masyarakat Jakarta.

Lingkungan sosial di Jakarta tidak seperti yang dibayangkan oleh para

pendatang dari luar Jakarta. Tokoh Elisa diceritakan menjadi korban pencurian dan terlibat dengan seorang pemuda bernama Fahri yang ternyata adalah seorang kurir narkoba. Kedua tokoh tersebut diceritakan sebagai orang yang berusaha untuk hidup di tengah lingkungan rumah susun di Jakarta.

Lingkungan rumah susun di Jakarta juga bukan lingkungan yang sehat. Banyak permasalahan sosial hadir di tengah-tengah lingkungan tersebut. Melalui sudut pandang anak muda, pengarang menggambarkan bagaimana mereka bisa bertahan di lingkungan tersebut.

Ratih Kumala yang memiliki latar sosial sebagai penulis muda yang akrab dengan dunia muda dan modernisasi masyarakat perkotaan. Sebagai pemuda yang hidup di lingkungan perkotaan pola penulisannya menggunakan bahasa yang apa adanya dan menggunakan bahasa yang gaul. Ratih menggunakan novel sebagai sarananya untuk menyampaikan kepada masyarakat pembacanya bahwa kota Jakarta bukan seperti apa yang biasanya terpikirkan oleh kebanyakan orang. Kota Jakarta yang memiliki segala yang diperlukan untuk hidup adalah kota Jakarta yang dibayangkan oleh orang-orang awam yang belum mengetahui Jakarta secara mendalam. Melalui novel Wesel Pos (2018) Ratih menuliskan pandangannya bahwa Jakarta adalah kota

yang tidak ramah bagi siapa saja yang tidak memiliki kekuatan untuk bertahan hidup.

Pandangan Ratih Kumala mengenai kondisi sosial masyarakat Jakarta dipengaruhi juga oleh latar belakang sosialnya sebagai bagian dari masyarakat Jakarta yang mempunyai pandangan lain terhadap kota tersebut. Ia merupakan

pengarang yang mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan memaparkan apa adanya permasalahan sosial yang ada ke dalam novelnya.

Sebagai seorang perempuan dan seorang pemuda, Ratih Kumala juga mengangkat figur perempuan yang kuat dalam menghadapi kerasnya Kota Jakarta. Ratih ingin memaparkan bagaimana seorang pemuda harus hidup di tengah-tengah kota yang penuh dengan kerusakan moral dan kriminalitas.

Kriminalitas dan kebebasan yang direfleksikan di dalam novel Wesel Pos (2018) merujuk pada ditinggalkannya aturan-aturan yang megikat di

masyarakat. Hal tersebut dipaparkan dengan jelas dan apa adanya oleh Ratih Kumala. Sebagai seorang pengarang yang masih muda, Ratih Kumala memandang kehidupan yang penuh kebebasan di Jakarta sebagaimana yang direpresentasikan di dalam novelnya sebagai fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya.

Refleksi yang ditampilkan di dalam novel Wesel Pos (2018) adalah penggambaran-penggambaran tentang permasalahan sosial berupa tindak kriminalitas pencurian dan pengedaran narkoba. Ratih menggunakan tokoh Elisa sebagai seseorang yang membongkar masalah-masalah sosial yang terjadi di Jakarta. Tokoh Elisa diceritakan sebagai seorang gadis yang berasal dari salah satu desa di Purwodadi. Sebagai seseorang yang berasal dari pedesaan di luar Jakarta, Elisa melihat Jakarta sebagai kota yang maju. Namun, di balik kemajuan kota Jakarta tersimpan permasalahan soial di dalamnya. Tokoh Elisa yang baru pertama kali pergi ke Jakarta menjadi korban dari tindakan kriminal

dan menemui tindakan tersebut di sekitarnya. Sebagai orang yang berasal dari luar Jakarta hal tersebut membuatnya terkejut.

Novel Wesel Pos (2018) menunjukkan beberapa fakta yang memaparkan permasalahan sosial dan kehidupan masyarakat rumah susun di Jakarta seperti yang telah dipaparkan pada kutipan novel. Latar waktu yang digunakan di dalam novel adalah pada tahun 2018-an sebagaimana tahun terbitnya novel tersebut. Secara umum Wesel Pos (2018) memaparkan cermin kehidupan rumah susun di Jakarta yang didapati permasalahan sosial yang hadir di tengah-tengahnya. Permasalahan tersebut meliputi tindak kriminal seperti pencurian, peredaran narkoba, dan efek buruk dari narkoba tersebut yakni kehilangan pengendalian terhadap diri sendiri. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan pecandunya melakukan perbuatan yang melanggar norma di masyarakat.

Novel Wesel Pos (2018) merupakan tanggapan yang diungkapkan oleh Ratih Kumala mengenai Jakarta yang dianggapnya sebagai kota yang keras.

Hanya orang-orang yang memiliki ketahanan dan ‘kesaktian’ yang dapat bertahan di sana. Ratih hadir sebagai perwakilan dari pemuda yang lahir dan tumbuh di Jakarta dengan latar belakang sebagai penulis. Ia mengungkapkan pendapat dan kegelisahannya mengenai lingkungan di sekitarnya dengan novel yang ditulisnya. Novel yang keseluruhan latarnya di Jakarta yang utamanya berada di rumah susun cukup menjadi perwakilan bagaimana permasalahan yang muncul di kota Jakarta dan bagaimana kehidupan masyarakat rumah susun di sana.

Dokumen terkait