20
BAB IV
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Sosial Pengarang
Ratih Kumala merupakan penulis yang lahir di Jakarta tanggal 4 Juni 1980. Ratih Kumala mulai tertarik ke dunia kepenulisan sejak dia berada di bangku SMP. Kegemarannya akan dunia sastra sudah ada sejak ia masih SD. Hal tersebut dikarenakan hobinya dalam membaca buku-buku seperti majalah Bobo yang di dalamnya berisi berbagai bacaan sastra untuk anak-anak dan beragam informasi lainnya. Sedari masih kanak-kanak Ratih Kumala menggemari karya- karya sastra terjemahan seperti karya Enid Blyton yang merupakan sastrawan berkebangsaan Inggris. Enid Blyton sendiri adalah seorang penulis buku cerita anak-anak. Beranjak usia remaja Ratih Kumala mulai menggemari karya-karya Hilman. Kegiatan kepenulisannya sempat berhenti saat memasuki SMA.
Kebanyakan buku-buku yang dibaca oleh Ratih Kumala merupakan novel.
Saat mulai beranjak dewasa tepatnya saat memasuki perkuliahan, bacaan yang digemari oleh Ratih bergerak menuju ke tingkat yang lebih berat. Beberapa bacaan tersebut ada yang berbahasa inggris dan berbahasa Indonesia. Salah satu karya yang menarik perhatian ratih adalah Catatan Pinggir karya Goenawan Mohammad. Beberapa sastrawan yang dikagumi oleh ratih diantaranya Remy Sylado dengan gaya bertuturnya dan J. K. Rowling dengan daya khayalnya. Ratih Kumala juga merupakan penikmat karya Ayu Utami dan Oka Rusmini.
Sebagai penulis yang lahir di Jakarta karya-karyanya tak lepas dari bahasan mengenai Jakarta dan segala problematikanya. Ratih Kumala mulai terjun menjadi penulis sejak tahun 2013. Sebagai seorang penulis Ratih Kumala sudah menunjukkan kualitas tulisannya di surat-surat kabar dan sayembara-sayembara kepenulisan yang pernah diadakan. Ia mulai menulis novel pertamanya berjudul Tabula Rasa yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2004. Novel tersebut
meraih juara 3 di Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Ratih Kumala juga tetap aktif menulis novel setelah memenangi kompetisi tersebut.
Beberapa novel yang merupakan karya Ratih Kumala diantaranya Tabula Rasa (2004), Genesis (2005), Larutan Senja (2006), Kronik Betawi (2009), Gadis Kretek (2012), dan Wesel Pos (2018).
Selain menulis novel, beberapa cerpen Ratih Kumala dimuat koran dan antologi bersama (Machine Sex and Love, Metamorfosa Cicak di Atas Peta). Ia pernah menjadi semifinalis lomba puisi berbahasa Inggris di International Open Poetry Contest pada tahun 2001. Salah satu cerpennya yang berjudul Nach Westen terpilih jadi salah satu cerpen terbaik di Sayembara Cerpen Horison 2004. Ratih Kumala juga melanjutkan kegemarannya akan sastra dengan belajar sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Sebagai seorang pengarang Ratih Kumala suka bergabung dan berdiskusi dengan orang-orang di komunitas rumah baca Bumimanusia, Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Sketsa Kata. Kegemarannya dalam menulis novel dan cerpen didukung juga dengan lingkungan sosial sekitarnya yang dekat dengan dunia sastra. Ia menempatkan dirinya sebagai penulis yang aktif di komunitas-
komunitas sastra dan bersosialisasi dengan masyarakat yang sama-sama memiliki ketertarikan dengan sastra. Setelah terjun di dunia kesusastraan sebagai seorang pengarang Ratih Kumala juga terus memantapkan jalannya untuk berada di dunia sastra dengan produktivitasnya dalam menulis novel dan karya sastra lainnya. Ia juga seorang yang menggemari pertunjukan teater dan tari, sesuatu yang juga dekat dengan dunia sastra.
Sebagai seorang pengarang yang sudah cukup terpandang di kalangan penikmat sastra, Ratih Kumala terkadang diminta membabacakan puisi, monolog cerpen atau jadi pembicara di forum-forum diskusi sastra. Ia juga kerap menghadiri kegiatan-kegiatan sastra jika ada yang mengundangnya untuk hadir.
Hal tersebut menandakan posisinya di dalam masyarakat sebagai seorang pengarang sudah cukup terpandang dan mampu menjadi seorang narasumber dalam sebuah diskusi. Posisi tersebut dikarenakan prestasinya dalam dunia kepengarangan sudah cukup baik sehingga ia dapat dinilai sebagai pengarang novel yang sudah cukup mumpuni.
Ratih Kumala menjadikan kegiatan menulis sebagai pekerjaannya namun bukan sebagai pekerjaan tetap. Selain menjadi pengarang, Ratih juga menjadi pernah research assistant yang membantu dosennya yang sedang melakukan penelitian. Hal tersebut dikarenakan profesi pengarang memang belum sepenuhnya menjanjikan kesejahteraan. Di saat kebanyakan orang menganggap profesi pengarang hanya bias menjadi pekerjaan sampingan yang dikerjakan bila ada waktu yang senggang, Ratih Kumala sangat menyayangkan masalah tersebut.
Profesi kepengarangan di Indonesia menurut Ratih belum bias menghidupi
pengarang secara penuh. Dalam salah satu wawancara, Ratih Kumala memiliki harapan bahwa profesi penulis di Indonesia agar menjadi profesi yang menghidupi. Harapannya tersebut didasarkan pada kondisi di Indonesia di mana profesi pengarang masih belum bisa menjadi profesi yang dapat sepenuhnya menghidupi.
Ratih Kumala menjadi pengarang karena kegemarannya sejak kecil dengan dinia kepenulisan. Hal tersebut berlanjut sampai dewasa sehingga ia menjadi pengarang novel yang masih produktif dalam menulis. Di lingkungan terdekatnya sendiri, Ratih Kumala mempunyai suami seorang novelis yang cukup terkenal yaitu Eka Kurniawan. Keberdaan orang terdekatnya yang seorang novelis membuatnya berada di lingkungan yang mendukungnya untuk menjadi seorang sastrawan. Sejak usia kanak-kanak sampai usia dewasa Ratih Kumala hidup di lingkungan yang dekat dengan sastra dan dunia kepengarangan.
Latar belakang sosial pengarang memberi indikator keberadaan karya sastra sebagai bagian dari dokumen budaya bagi masyarakat yang melingkupinya (Sujarwa, 2019 : 24). Pengarang yang memiliki peran mewakili masyarakat dalam menyampaikan kegelisahan yang dipersoalkan masyarakat ke dalam karyanya menjadikan pengarang sebagai pencatat dokumen masyarakat.
Pengarang menuliskan ide-ide pada zamannya dengan karya sastranya.
Sebagaimana pengarang yang lain, Ratih Kumala menuliskan pandangan- pandangan yang sesuai dengan zamannya ke dalam karyanya. Fenomena- fenomena yang ditulisnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang menjadi dokumen sosial yang sesuai dengan zamannya.
B. Ideologi Pengarang
Setiap manusia memiliki cara pandang atau ideologi yang ia gunakan untuk menjalani kehidupannya. Ideologi dapat dimaknai sebagai cerminan gagasan atau cara berpikir seseorang atau kelompok masyarakat yang menuntunnya menuju sesuatu yang dicita-citakan. Ideologi berkaitan erat dengan karya sastra yang diciptakan oleh pengarang. Seluruh ide yang dituangkan oleh pengarang hingga menjadi sebuah karya dipengaruhi oleh cara berpikir pengarang yang terbentuk melalui lingkungan sosial di sekitarnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengarang dalam membentuk proses kreatifnya. Faktor-faktor sosial yang dapat memberi pengaruh pada pengarang dalam pembuatan karya yakni tipe dan taraf ekonomi masyarakat tempatnya membuat karya, kelompok sosial yang mempunyai hubungan langsung atau tak langsung dengan pengarang, sistem sponsor, sifat-sifat yang dimiliki pembacanya, tradisi sastra, dan keadaan kejiwaan pengarang. Hal tersebut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana ideologi yang dimiliki pengarang dituangkan ke dalam sebuah karya.
Ratih Kumala tumbuh dan berkembang di lingkungan Jakarta sebelum ia memutuskan untuk berkuliah di daerah Surakarta. Kesukaan dan kecenderungan Ratih terhadap kepenulisan sudah nampak saat usianya masih sangat muda.
Berdasarkan latar belakangnya, bakat menulisnya didukung penuh oleh lingkungan sekitarnya sehingga Ratih dapat mengembangkan dan meneruskan minatnya sampai dewasa. Setelah beranjak dewasa pun Ratih Kumala berada di lingkungan yang sangat dekat dengan sastra. Ratih masuk ke berbagai
perkumpulan seperti Rumah Baca Bumimanusia, Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Sketsa Kata. Keberadaan perkumpulan sastra dan elemen-elemen yang bergerak di bidang sastra di sekitar Ratih Kumala mempengaruhinya dalam memandang hak-hak pengarang di Indonesia. Menurut Ratih, sastra masih belum bisa menghidupi seseorang yang berprofesi di bidangnya. Ratih Kumala menjadi pengarang yang mempunyai harapan agar sastrawan bisa hidup dengan tulisannya.
Hal tersebut dimungkinkan karena komunitas-komunitas dan lingkungan sosial yang bergerak di bidang sastra di sekitar Ratih. Komunitas dan lingkungan sosial tersebut juga memperjuangkan kehidupan pengarang menjadi lebih baik dengan opini-opinya.
Berbicara mengenai ideologi Ratih Kumala mungkin tidak akan sama seperti bila membicarakan ideologi Pramoedya Ananta Toer atau Buya Hamka.
Ratih tidak menonjolkan sisi keagamaan atau kelompok sosial yang kuat. Dalam salah satu wawancara Ratih Kumala hanya menunjukkan pembelaannya terhadap pengarang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai mata pencahariannya. Ratih mempunyai harapan bahwa suatu saat di Indonesia profesi pengarang dapat menghidupi. Hal tersebut diasumsikan juga terpengaruh oleh kelompok sosial terdekat Ratih yang juga merupakan komunitas sastra yang memperjuangkan nilai-nilai tersebut.
Ratih menunjukkan pembelaannya terhadap profesi kepengarangan khususnya di Indonesia. Pembelaanya dikarenakan ia juga merupakan pengarang yang telah menjadikan sastra sebagai profesi yang menghidupinya. Pemikiran tersebut juga sejalan dengan suaminya yakni Eka Kurniawan yang merupakan
pengarang besar dengan karya-karyanya telah menembus pasar tidak hanya nasional namun juga internasional. Hal tersebut juga dapat diasumsikan bahwa Ratih Kumala mendapat pengaruh dari Eka Kurniawan. Ratih dan suaminya menjadi sastrawan yang membawa karyanya hingga sampai ke luar negeri. Bagi Ratih yang menganggap profesi kepengarangan untuk mata pencahariannya dirasa sudah wajar karena ia dan suaminya yang sama-sama berprofesi sebagai pengarang yang fokus dalam berkarya. Pandangannya tersebut juga dipengaruhi oleh kegelisahannya mengenai nasib pengarang di Indonesia yang belum bisa hidup dari menulis.
Pekerjaan atau profesi sebagai pengarang merupakan sesuatu yang nyata dilakukan oleh Ratih Kumala dan Eka Kurniawan karena prestasinya dan produktivitasnya sebagai pengarang novel. Ratih menjadi pengarang yang memiliki pemikiran yang luas dan terbuka juga dipengaruhi oleh banyaknya relasi terhadap kelompok-kelompok sosial yang ada di sekitarnya. Hal itu cukup dibuktikan dengan tulisannya tentang Jakarta dalam novel Wesel Pos (2018).
Ratih dengan bebas mengungkapkan pandangannya mengenai Jakarta dengan menggunakan Bahasa yang vulgar dan apa adanya. Kebebasan dengan tidak terikat pakem sastra harus berisi keindahan sudah dipegang oleh Ratih.
Hidup di lingkungan yang dekat dengan sastra sekaligus daerah perkotaan membuat Ratih Kumala banyak mengangkat sisi perkotaan khususnya Jakarta di dalam novelnya. Sebagai pengarang yang lebih banyak menulis prosa, Ratih Kumala mengangkat kehidupan masyarakat Kota Jakarta yang merupakan objek yang ada di sekitarnya sendiri dalam beberapa karyanya. Ia merupakan pengarang
yang lahir dan tumbuh di lingkungan perkotaan Jakarta. Jakarta merupakan kota yang dihuni oleh mayoritas masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi mempunyai budaya dan ideologinya sendiri. Wawasan serta pemikiran masyarakat Betawi menjadi ide-ide yang diungkapkan Ratih dalam beberapa novelnya. Salah satu karya sastra yang pernah ditulis oleh Ratih Kumala yang mengangkat persoalan masyarakat Betawi yakni Kronik Betawi (2009).
Umumnya, orang Betawi sangat kuat dalam memegang ajaran agama Islam. Mereka melaksanakan ajaran Islam dalam kesehariannya. Dalam novel Wesel Pos (2018) Ratih tidak terlalu menonjolkan penceritaannya tentang orang
Betawi yang agamis. Ratih hanya mencantumkan beberapa tokoh di dalam novel Wesel Pos (2018) yang memiliki peran sebagai seorang yang religius di tengah-
tengah masyarakat. Novel Wesel Pos (2018) tidak terlalu mencerminkan ideologi masyarakat Betawi yang agamis. Meskipun Ratih Kumala sebelumnya menulis novel yang menceritakan tentang masyarakat Betawi, ia tidak menonjolkan pemikiran tersebut ke dalam novel Wesel Pos (2018). Di dalam novel Wesel Pos (2018) Ratih lebih menonjolkan pemikirannya pada kehidupan masyarakat Jakarta yang bermasalah dari segi kehidupan sosialnya. Melihat karya-karya yang pernah ditulis dan genre sastra seorang pengarang dapat menjadi sebuah jalan yang dapat ditempuh untuk melihat ideologi yang melatarbelakangi pengarang dalam menulis karyanya. Dalam kasus ini, Ratih Kumala merupakan orang Jakarta Betawi yang tidak terlalu menonjolkan sisi Betawinya dalam berkarya. Ia lebih bebas dalam mengekspresikan karyanya dan lebih mengedepankan kepekaanya terhadap fenomena sosial di sekitarnya.
Ratih merupakan pengarang yang lebih banyak menulis novel dengan latar lingkungan di sekitarnya. Lingkungan perkotaan Jakarta menjadi latar yang banyak digunakan dalam karyanya. Ratih juga mempunyai gagasan sebagai orang kota yang terbuka terhadap polemik yang terjadi di masyarakat tercermin melalui novel yang Ratih tulis, yakni di dalam novel Wesel Pos (2018). Di dalam novel tersebut ratih mengungkapkan pendapatnya mengenai masyarakat yang terpinggirkan oleh kerasnya kota Jakarta. Ratih mengungkapkannya dengan apa adanya tanpa menggunakan bahasa yang sengaja diperindah. Saat menulis karyanya Ratih memasukkan kebebasan-kebebasan berpendapat yang diwujudkannya dengan memasukkan kata-kata yang sebelumnya dianggap tabu.
Kata-kata yang dianggap tabu diungkapkannya secara apa adanya tanpa mempedulikan aspek-aspek keindahan bahasa dalam menulis novel. Hal tersebut sudah wajar terjadi karena Ratih merupakan sastrawan era modern yang sudah lama meninggalkan trend atau tradisi tersebut. Apa yang di hadirkan Ratih dalam tulisannya merupakan pengaruh tradisi sastra pada zamannya. Kebebasan berpendapat sudah banyak digaungkan di kalangan sastrawan modern. Hal tersebut memungkinkan juga pertemuan antar ideologi lebih mudah terjadi sehingga pemikiran-pemikiran yang ada sedikit banyak mempengaruhi Ratih dan pengarang lainnya.
Cara pandang sebagai sastrawan yang tergolong masih muda juga menjadi nilai yang diberikan Ratih pada setiap karyanya. Selain sebagai pemuda Ratih banyak menulis prosa dengan sudut pandang perempuan dalam penceritaanya.
Akan tetapi, sebagai pengarang Ratih tidak terlalu menonjolkan atau mengarahkan
tulisannya kepada pemikiran feminis. Ratih lebih bebas dalam menulis karya- karyanya. Tulisan-tulisann Ratih umumnya membahas masalah-masalah di sekitarnya. Masalah-masalah kehidupan bersosial di dalam masyarakat lebih banyak menjadi perhatiannya. Ia lebih banyak menulis yang hubungannya dengan manusia dan lingkungan sosialnya serta permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Beberapa karya Ratih Kumala menceritakan Jakarta dan masyarakat kota sebagai latar penceritaannya. Novel Wesel Pos (2018) sendiri ditulis Ratih sebagai ungkapannya akan Jakarta yang keras dan penuh permasalahan sosial. Hal ini secara jelas dipaparkan sendiri oleh Ratih Kumala dalam novel Wesel Pos (2018).
Sebagai bagian dari masyarakat Jakarta yang dekat dengan kehidupan kota dan anak muda, Ratih memiliki perannya dalam mewakili kelompok sosialnya untuk mengutarakan pendapatnya mengenai persoalan yang dianggapnya bermasalah di Jakarta. Kumpulan permasalahan sosial di Jakarta di tulisnya dengan pandangannya sebagai kaum muda yang punya pengetahuan dan kemampuan untuk memahami permasalahan di lingkungan sekitarnya.
C. Kondisi Sosial Masyarakat Rumah Susun di Jakarta dalam Novel Wesel Pos (2018)
Ratih Kumala menulis novel Wesel Pos (2018) sebagai novel yang pendek. Ratih tidak menulis cerita yang panjang sebagaimana novel-novel pada umumnya. Cerita tersebut ditulis Ratih sebagai pandangannya secara singkat mengenai kota Jakarta yang penuh permasalahan sosial. Masalah-masalah sosial
tersebut menjadi pandangan Ratih mengenai Jakarta sebagai kota yang keras.
Ratih yang memiliki latar belakang sebagai orang kota membawa penceritaanya tentang masyarakat Jakarta yang tergolong sebagai masyarakat pinggiran kota atau lebih spesifiknya novel ini menceritakan kehidupan masyarakat rumah susun yang ada di Jakarta. Masyarakat yang direpresentasikan oleh Ratih Kumala di dalam novelnya merupakan gambaran dari masyarakat perkotaan yang tinggal di tengah padatnya penduduk. Di tengah kepadatan penduduk perkotaan yang tinggal di lingkungan rumah susun, masalah sosial juga hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.
Rumah susun merupakan hunian yang ditujukan untuk masyarakat perkotaan yang sudah mengalami kepadatan penduduk. Rumah susun menjadi solusi kepadatan penduduk yang dialami masyarakat perkotaan. Rumah susun menjadi tempat tinggal yang dapat dijangkau baik masyarakat dari kelas sosial yang menengah ke atas maupun masyarakat yang mempunyai kelas sosial menengah ke bawah. Ratih memaparkan kehidupan masyarakat rumah susun yang dihuni oleh masyarakat menengah ke bawah.
Novel Wesel Pos (2018) menceritakan tentang tokoh yang bernama Elisa.
Tokoh Elisa bukan berasal dari Jakarta. Ia merupakan warga Purwodadi yang sebelumnya tinggal di Jawa Tengah. Kehadiran tokoh Elisa yang bukan orang asli Jakarta namun menjadi tokoh utama dalam penceritaan novel ini juga merupakan bentuk penekanan yang dilakukan oleh Ratih Kumala terhadap apa yang hendak ia sampaikan mengenai kerasnya kondisi kota Jakarta. Tokoh Elisa dibuat terheran-heran dan kaget dengan Jakarta yang benar-benar berbeda kondisinya
dengan desa tempatnya berasal. Ratih hendak memaparkan pandangannya mengenai Jakarta sebagai kota yang keras untuk orang-orang yang baru mengenalnya dan juga Jakarta bukan tempat yang aman untuk orang yang tidak punya ‘kesaktian’ atau kemampuan bertahan hidup di sana.
Pada bab ini penulis akan memaparkan bagaimana kondisi sosial masyarakat rumah susun di Jakarta yang digambarkan sebagai tempat yang mempunyai masalah-masalah sosial sebagaimana yang digambarkan oleh Ratih Kumala dalam novel Wesel Pos (2018). Penulis akan memaparkan gagasan pengarang mengenai kondisi masyarakat Jakarta khususnya masyarakat rumah susun dengan permasalahan sosial yang hadir di tengahnya. Permasalahan sosial masyarakat rumah susun yang direpresentasikan oleh novel Wesel Pos (2018) dipaparkan Ratih secara gamblang dengan menunjukkan penekanannya mengenai Jakarta sebagai kota yang keras.
Sebagaimana yang telah disebutkan pada landasan teori penelitian ini bahwa sosiologi dan sastra berpijak pada satu kesamaan yaitu sama-sama berurusan dengan manusia dalam masyarakat. Pendekatan tersebut mempertimbangkan aspek-aspek di dalam masyarakat secara objektif. Sosiologi sastra Ian Watt digunakan dalam penelitian ini untuk menghubungkan permasalahan yang nyata dengan struktur masyarakat yang direpresentasikan di dalam novel Wesel Pos. Novel Wesel Pos (2018) menjadi karya sastra yang dapat mencerminkan kondisi masyarakat rumah susun di Jakarta dengan berbagai permasalahan sosial yang ada sesuai denga pandangan pengarang. Permasalahan sosial yang diangkat di dalam novel Wesel Pos (2018) mengkhususkan
pembahasannya mengenai kondisi masyarakat rumah susun dan masyarakat yang berada di kota secara umum yang disinggung oleh pengarang menurut pandangan yang dipengaruhi oleh latar belakang sosialnya.
Untuk melihat lebih jauh bagaimana permasalahan sosial di masyarakat Jakarta sebagaimana yang digambarkan di dalam novel Wesel Pos (2018) penulis akan menggunakan sosiologi sastra sebagai landasan teori. Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya mengenai landasan teori, sosiologi sastra berusaha mengembalikan sastra sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan memiliki fungsi yang sama dengan aspek-aspek budaya yang lain. Sebagai bagian masyarakat yang tak terpisahkan sastra memiliki peran juga di dalam masyarakat. Dalam penelitian ini penulis akan memaparkan permasalahan- permasalahan sosial yang digambarkan di dalam novel Wesel Pos.
Dengan berpegang juga pada pendapat bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat, penelitian ini akan melihat bagaimana karya sastra mencerminkan masalah-masalah sosial pada masyarakat Jakarta yang diepresentasikan oleh novel Wesel Pos. Potret masalah-masalah sosial yang terdapat di Jakarta tampak digambarkan dengan jelas di dalam novel tersebut.
Sebagai sebuah cermin masyarakat, novel tersebut merekan berbagai fenomena sosial yang sesuai dengan apa yang terjadi pada zamannya. Fenomena sosial tersebut terjadi di masyarakat kota pada tahun 2018-an sebagaimana tahun terbitnya novel. Secara umum, novel ini menggambarkan masalah-masalah sosial masyarakat urban dimana di kota Jakarta sudah mencapai tingkat modernitas yang cukup tinggi.
Pembahasan mengenai masalah-masalah sosial masyarakat Jakarta yang terdapat di dalam novel Wesel Pos (2018) dimaksudkan untuk memaparkan adanya permasalahan sosial di masyarakat Jakarta yang hidup di rumah-rumah susun yang direpresentasikan oleh novel Wesel Pos (2018). Gagasan pengarang mengenai masalah sosial di masyarakat Jakarta yang sesuai dengan masa saat novel tersebut ditulis cukup menggambarkan bagaimana kondisi sosial masyarakat Jakarta yang didapati berbagai permasalahan sosial. Permasalahan sosial tersebut seolah-olah sangat erat dan menjadi rahasia umum pada masyararakat Jakarta. Masalah-masalah tersebut merupakan problem yang belum pernah terselesaikan dengan tuntas seperti meningkatnya kriminalitas dan kemerosotan moral pada masyarakat.
Novel yang merepresentasikan permasalahan sosial dan kesesuaiannya dalam menggambarkan masalah sosial yang terjadi di masyarakat merupakan sebuah respon dari pengarang dalam menanggapi keadaan masyarakat sekitarnya.
Sebagai pengarang novel yang menceritakan tentang Jakarta, Ratih Kumala dengan pengalamannya yang pernah tinggal di Jakarta mencoba membuat pembaca memahami bahwa Jakarta merupakan kota yang keras untuk orang-orang yang hidup di sana. Jakarta juga tidak seperti yang diharapkan orang-orang sebagai kota yang modern dan tempat yang ramah bagi yang akan mewujudkan impiannya dengan bekerja di sana.
Sebagai pengarang kelahiran Jakarta Ratih memiliki pandangan tersendiri terhadap Jakarta sebagai kota yang bukan hanya kota maju yang menjadi ibu kota dan icon Indonesia. Di balik semua itu, Ratih Kumala menggambarkan realita lain
terhadap kota kelahirannya. Jakarta adalah kota yang digambarkan oleh pengarang sebagai kota yang keras karena untuk hidup di sana memerlukan ketahanan terhadap segala polemik yang ada di kota tersebut. Pembahasan mengenai Jakarta dipaparkan oleh Ratih yang merupakan bagian dari masyarakat kota Jakarta yang mempunyai lingkungan keras untuk sebagian orang.
Pembahasan ini akan memaparkan bagaimana permasalahan sosial masyarakat Jakarta yang direpresentasikan di dalam novel sehingga pendapat mengenai karya sastra sebagai cerminan masyarakat dapat didukung dengan pembahasan ini. Novel Wesel Pos (2018) mengangkat sudut pandang mengenai orang biasa yang mencoba hidup di Jakarta yang dikatakan ole pengarang sebagai kota yang keras. Di dalam novel akan ditemui penggambaran kerasnya kota Jakarta dengan segenap permasalahan sosial yang menjadi polemik.
Novel Wesel Pos (2018) yang menyinggung masalah sosial masyarakat Jakarta dilihat dari sudut pandang seorang penulis muda yang memiliki pandangan sebagai seorang yang pernah tinggal di Jakarta dan menjadi bagian dari masyarakat Jakarta. Berdasarkan realitas fakta-fakta yang terjadi dan dapat dilihat pada media massa atau secara langsung masalah sosial yang tercermin di novel Wesel Pos (2018) tak berbeda dari kebanyakan masalah sosial yang terjadi di realitanya.
Di lingkungan rumah susun merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda. Beberapa yang tinggal di lingkunan rumah susun memiliki permasalahan tersendiri yang kadang berdampak pada masyarakat di sekitarnya. Masalah-masalah sosial seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh
orang yang mempunyai jabatan, tempat hidup orang-orang yang terpinggirkan dan dianggap sebagai penyakit sosial, sampai masalah narkotika yang tidak ada habisnya digambarkan terjadi di lingkungan rumah susun oleh pengarang.
Masalah-masalah sosial di dalam novel tersebut menjadi persoalan di lingkungan rumah susun di Jakarta. Analisis berikut ini akan menjabarkan beberapa permasalahan sosial yang tercermin dalam novel Wesel Pos (2018).
D. Permasalahan Sosial Masyarakat Rumah Susun di Jakarta
Permasalahan sosial yang terjadi di Jakarta digambarkan oleh Ratih dengan tidak menyebutkan secara spesifik masyarakat daerah mana yang ia maksudkan. Ratih menggeneralisir pendapatnya mengenai permasalahan sosial yang terjadi di Jakarta menurut pandangannya. Masyarakat kota Jakarta yang tinggal di rumah susun menjadi perhatian Ratih dalam membahas permasalahan sosial menurut pandangannya sebagai bagian dari masyarakat Jakarta.
Menurutnya, Jakarta tidak seperti yang kebanyakan orang bayangkan seperti anggapan bahwa Jakarta adalah kota yang dapat memenuhi kehidupan seseorang di perantauan.
Dalam pembahasannya Ratih juga membuat tokoh utama di dalam novelnya sebagai orang yang berasal dari luar Jakarta. Tokoh utama perempuan yang dihadirkan Ratih merupakan orang dari luar Jakarta. Hal tersebut memberikan penekanan terhadap Jakarta keras kepada orang-orang yang masuk ke dalamnya. Ratih sengaja menggunakan tokoh dari luar Jakarta untuk lebih
menekankan pada penceritaannya mengenai kondisi kota Jakarta yang tidak banyak dimengerti orang dari luar Jakarta.
1. Permasalahan Kriminalitas
Untuk hidup di Kota Jakarta, menurut pandangan Ratih Kumala dan apa yang telah digambarkan di dalam novel Wesel Pos (2018) seseorang harus kuat dan tahan banting menghadapi kerasnya kota dengan tingkat kriminalitasnya yang tinggi dan berbagai permasalahan sosial lainnya. Pengarang memiliki pandangan tersendiri dalam menggambarkan Jakarta. Ratih Kumala sebagai pengarang tidak melihat Jakarta sebagai kota yang penuh harapan dan bisa menjadi peluang untuk memperbaiki nasib sebagaimana banyak diantara orang-orang yang memiliki impian untuk merubah nasibnya di Kota Jakarta dengan mencari nafkah di sana. Ratih mengangkat realita yang menggambarkan Jakarta sebagai kota yang keras dan membutuhkan ‘kesaktian’
untuk dapat tinggal di kota yang penuh kriminalitas, kekerasan, dan berbagai macam problem sosial lainnya. salah satu masalah yang menonjol, yang diangkat oleh ratih adalah masalah kriminalitas yang banyak ia singgung di dalam novelnya yang mencerminkan kerasnya kota Jakarta.
Sebuah karya sastra setidaknya memuat suatu fakta yang benar-benar terjadi di masyarakat. Potret-potret kejadian yang merangkum berbagai fenomena-fenomena sosial dapat dilihat di dalam sebuah karya sastra dikarenakan pengarang juga bukan seseorang yang kosong budaya. Muatan- muatan mengenai problematika masyarakat tersebut di bingkai di dalam karya sastra sehingga menjadi dokumen-dokumen mengenai kondisi sosial yang
terdapat di dalam masyarakat dan tercermin di dalam novel . Salah satu fenomena sosial yang diangkat oleh Ratih ke dalam karyanya adalah problem kriminalitas. Kriminalitas yang digambarkan di dalam novel ini memiliki kesesuaian terhadap fakta yang terdapat di masyarakat rumah susun di Jakarta.
Tindakan melanggar hukum atau melakukan kejahatan dapat dipahami sebagai tindak kriminalitas. Orang-orang yang melakukan tindak kriminalitas akan mendapat sebutan sebagai kriminal. Kriminalitas merupakan permasalahan yang muncul di tiap lapisan masyarakat. Baik di daerah pedesaan maupun perkotaan dapat dijumpai bentuk-bentuk kriminalitas yang beragam.
Merebaknya tindak kriminalitas dapat menyebabkan kerugian terhadap orang lain atau suatu lembaga. Kriminlitas juga menjadi problem yang tak pernah usai karena pelakunya akan terus ada walau pengendalian-pengendalian terhadap tindakan kriminal selalu dilakukan.
Novel Wesel Pos (2018) banyak mengangkat problem kriminalitas yang terjadi di Kota Jakarta. Novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang baru saja datang ke Jakarta dan mendapati dirinya menjadi korban pencurian dan harus menghadapi kerasnya kehidupan kota Jakarta. Sebagai kota besar yang memiliki dinamika sosial, ekonomi, dam politik yang terus berkembang menyebabkan krisis, ketegangan dan berbagai perubahan di lingkup sosial masyarakat. Novel Wesel Pos (2018) yang mencerminkan Jakarta sebagai kota yang keras dan mengilustrasikan bagaimana tiap-tiap tokoh di dalam novel berperan sebagai kriminal dan korban dari kriminalitas di Jakarta.
Salah satu bentuk tindak kriminal yang dapat dijumpai di kota-kota besar seperti Jakarta adalah pencurian. Pencurian merupakan bentuk kejahatan terhadap orang lain berupa mengambil barang milik orang lain tanpa seizin orang yang mempunyai barang tersebut. Dalam novel ini ditemui beberapa tindakan kriminal yang termasuk ke dalam permasalahan sosial masyarakat Jakarta yang tercermin melalui tata naratif teks yang merupakan pandangan pengarang mengenai kondisi Jakarta. Permasalahan sosial yang tercermin di dalam novel ini berupa tindak kriminal pencurian yang menjadi problem di Jakarta. Hal ini ditunjukkan pada kutipan berikut.
“Elisa segera balik ke warung. Tapi ia tak menemukan ibu penjual kopi keliling tadi. Hanya ada sisa coffemix miliknya. Tasnya ikut raib (Kumala Ratih, 2018:8)
Diceritakan bahwa tokoh Elisa merupakan seorang gadis yang berasal dari daerah Purwodadi. Ia tidak tahu sama sekali bahwa di Jakarta tindakan criminal seperti pencurian merupakan hal yang biasa terjadi apalagi di tempat- tempat umum seperti terminal bus. Ia baru saja tiba di Jakarta dan langsung menitipkan tasnya pada orang yang tidak dikenalnya kemudian tasnya dicuri oleh orang tersebut. Tindakan kriminal berupa pencurian dengan modus-modus seperti yang telah disebutkan pada kutipan di atas banyak ditemui apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tindak kriminal pencurian dapat dilakukan oleh siapa saja asal ada kesempatan yang mendukungnya. Pada kutipan novel di atas mencerminkan bagaimana kondisi masyarakat di Jakarta yang dapat dengan
mudahnya ditemui tindakan kriminal dilakukan seorang pelaku pencurian pada saat korbannya lengah.
Bentuk tindakan kriminal pencurian seperti yang telah ditunjukkan pada kutipan di atas merupakan salah satu contoh masalah sosial yang dapat disebabkan oleh faktor ekonomi. Ketidakmerataan pendapatan dan ketimpangan ekonomi mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kriminal pencurian untuk memenuhi kebutuhannya. Tindakan pencurian umum terjadi di kota-kota besar karena banyak penduduk yang belum merasakan meratanya kesejahteraan dan banyak pula penduduk di kota yang tingkat ekonominya berada di bawah garis kemiskinan.
Menurut pandangan pengarang yang memandang kota Jakarta sebagai kota yang keras, perbuatan pencurian seperti yang telah ia tuangkan di dalam novelnya merupakan tindakan yang biasa di temui di tempat-tempat umum di Jakarta karena untuk terhindar dari kekalahan dalam menghadapi kerasnya Jakarta seseorang akan melakukan apa saja untuk bisa hidup. Tokoh Elisa yang digambarkan sebagai tokoh yang tinggal jauh dari kota besar diceritakan sebagai gadis yang polos dan terlalu mempercayai orang yang ia temui. Hal tersebut menyebabkan ia menitipkan barang pribadinya ke orang yang bahkan tidak dikenalnya karena menganggap semua orang baik seperti di daerahnya.
Novel Wesel Pos (2018) menunjukkan kritik sekaligus pandangan pengarang yang memandang Jakarta sebagai kota yang dipenuhi kriminalitas dan masalah-masalah sosial yang sudah menjadi rahasia umum untuk diketahui. Tokoh Elisa tidak mempunyai ilmu untuk bertahan dari kondisi
tersebut. Ia bukan orang sakti yang mempunyai ilmu untuk bertahan hidup di sana. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Kota Jakarta juga bukan tujuan yang ideal bagi orang-orang tanpa persiapan yang hendak mengadu nasib di Jakarta. Mereka akan menjadi orang-orang yang tidak siap dalam menghadapi kerasnya kota Jakarta sehingga mereka akan terpinggirkan oleh lingkungan yang memaksa mereka untuk menyingkir.
Jakarta juga direpresentasikan sebagai kota yang tidak aman karena maraknya kriminalitas yang terjadi di sana. Penggambaran Jakarta yang tidak aman dipaparkan dengan jelas dan berbeda sekali dengan pandangan tokoh Elisa yang berasal dari daerah desa. Pandangan tersebut adalah setiap orang adalah orang yang baik dan dapat dipercaya untuk sekadar menitipkan barang kepada orang lain. Kenyataannya adalah tidak semua orang yang ditemui oleh tokoh Elisa sebagai orang yang benar-benar baik. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Hilangnya di mana?”
“Di terminal, dicolong pas saya titipin orang.” Elisa menjelaskan.
“Pak Polisi berhenti mengetik, pandangannya beralih dari kertas ke Elisa. “Kamu ini gimana sih?! Di terminal kok bisa-bisanya nitipin task e orang?”
“Orangnya kayaknya baik, pak. Ibu-ibu. Dia nyuruh saya hati-hati.”
“Kamu lugu atau naif? Penjahat itu enggak melulu harus laki-laki, enggak nelulu harus preman. Ibu-ibu penjahat juga banyak (Ratih Kumala, 2018 : 10-11).
Di Jakarta semua orang bisa jadi pencuri. Hal tersebut merupakan pandangan pengarang mengenai kondisi masyarakat Jakarta yang dituangkan oleh pengarang di dalam novelnya. Sebagai orang yang berasal dari daerah di
luar Jakarta pandangan mengenai penjahat seperti yang direpresentasikan oleh tokoh Elisa. Penjahat biasanya akan diasosiasikan dengan orang yang punya penampilan seperti preman. Berdasarkan kutipan di atas ratih Kumala mempunyai pandangan bahwa di Jakarta sendiri para pelaku kejahatan tidak selalu bertampang preman akan tetapi banyak macamnya pelaku kriminal yang merupakan ibu-ibu yang berlagak baik. Hal tersebut menggambarkan mengenai kriminalitas yang sudah menyatu dengan masyarakat Jakarta. Banyaknya pelaku kriminalitas sudah tidak memandang jenis kelamin dan profesi lagi.
Tindakan kriminal yang dapat di temukan di Jakarta berdasarkan apa yang direpresentasikan di dalam novel Wesel Pos (2018) selanjutnya adalah maraknya peredaran obat-obatan terlarang seperti sabu-sabu dan jenis narkotika lainnya. Di Indonesia sendiri penggunaan dan peredaran narkoba dilarang oleh hukum. Hal tersebut diatur oleh undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Sebagai negara hokum yang melarang peredaran narkoba ke ranah konsumsi publik hal-hal yang berkaitan dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba termasuk tindakan kriminal.
Meskipun tergolong sebagai barang yang dilarang oleh hukum peredarannya akan tetapi masih ada segelintir orang yang menyalahgunakan narkoba dan mengkonsumsinya. Efek candu dari narkoba membuat orang- orang tidak peduli lagi akan bahaya dari barang terlarang tersebut sehingga permintaan akan narkotika terus ada. Hal tersebut membuat bisnis narkoba menjadi terus hidup dan menjadikan orang-orang yang menginginkan jalan pintas dalam mencari uang masuk dalam lingkaran bisnis haram tersebut.
Masalah sosial tersebut dihadirkan kembali oleh Ratih Kumala dalam novelnya dikarenakan belum rampungnya penanganan narkoba dan terus menerus terjadi kasus penyalahgunaan narkoba. Di Jakarta kasus penyalahgunaan narkoba marak terjadi baik di lingkungan masyarakat kelas rendah maupun di lingkup orang berkecukupan. Setidaknya hal tersebut adalah pandangan Ratih Kuma dalam melihat Jakarta seabagi kota besar di dalamnya banyak ditemui masalah sosial yang serius. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan novel berikut.
“Satu per satu orang datang menemuinya untuk membeli barang haram yang dijualnya. Seorang perempuan terlihat memohon-mohon di kakinya sambil menahan sakaw.
“Utang lo yang kemarin aja belom lo bayar!”
Ujar laki-laki itu kasar. Perempuan itu memohon lagi mencoba membuka bajunya.
“Badan lo kagak laku, kagak enak!” ujarnya (Ratih Kumala, 2018 : 58).
Keadaan yang direpresentasikan sesuai dengan kutipan novel di atas merupakan suatu gambaran mengenai masalah penyalahgunaan narkoba dan pengedarannya. Sebagai pengarang yang memandang Kota Jakarta sebagai kota yang keras Ratih Kumala menggambarkan kondisi sosial yang mengalami kerusakan akibat adanya pengaruh narkoba. Selain itu karena efek kecanduan yang diakibatkan oleh narkoba orang akan rela memberikan apapun demi memuaskan keinginannya. Sebagai gambaran dari kota yang keras orang-orang bahkan berjuang mati-matian untuk mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun itu adalah narkoba. Narkoba menjadi salah satu penyebab
permasalahan sosial yang menjangkiti masyarakat Jakarta dan menjadi sebab kerusakan masyarakat karena efek candu yang ditimbulkannya.
Narkoba digambarkan sebagai barang yang peredarannya masih bisa ditemui di kalangan masyarakat Jakarta secara ilegal. Hal tersebut menjadikan narkoba sebagai barang yang diperjualbelikan oleh para pelaku kriminal.
Masalah peredaran narkoba tidak pernah selesai karena para pengedarnya terus menerus ada meskipun banyak pula dari mereka yang sudah ditangkap. Pada kutipan di atas peredaran narkoba di kalangan masyarakat dengan tigkat ekonomi rendah menyebabkan masalah sosial yang cukup serius.
Digambarkan pada kutipan sebelumnya seorang perempuan sampai rela memberikan tubuhnya kepada bandar narkoba karena ia tidak punya uang sama sekali untuk membeli narkoba. Orang-orang yang telah terpengaruh oleh obat- obatan terlarang tersebut telah kehilangan kemampuan berpikir secara rasionalnya dikarenakan efek candu yang membuat mereka tersiksa sehingga harus dipuaskan. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan suplai narkoba untuk mereka konsumsi sebagai pemuas rasa candu yang dirasakan.
Hal tersebut menyebabkan masyarakat tidak produktif dan dapat menghambat kemajuan masyarakat.
Penggunaan narkoba yang secara sengaja disalahgunakan sebagaimana yang direpresentasikan di dalam oleh Ratih Kumala di dalam novel Wesel Pos (2018) realitanya merupakan perbuatan yang dapat merusak penggunanya.
Menurut data BNN pada tahun 2018 provinsi DKI Jakarta menempati peringkat 4 dalam tingkat prevalensi pemakaian narkoba. Masalah narkoba di
Jakarta menjadi masalah sosial yang cukup serius dan sudah banyak ditemui.
Masalah tersebut sudah tidak jarang ditemui lagi sehingga tidak luput dari perhatian pengarang seperti Ratih Kumala dalam mengangkat persoalan tersebut ke dalam karya sastra.
Penyalahgunaan zat narkotika secara illegal dapat menyebabkan efek yang berbahaya bagi tubuh manusia. Beberapa efek buruk bagi tubuh manusia saat menyalahgunakan narkoba diantaranya timbul euphoria yang tinggi hingga halusinasi, nafsu makan menghilang, dan depresi berkepanjangan. Selain itu zat adiktif yang terkandung di dalanya membuat penggunanya menjadi kecanduan.
Narkoba yang menyebabkan kecanduan membuat orang yang menjadi pecandunya mulai menginginkannya secara terus menerus. Efek candu menyebabkan narkoba menjadi kebutuhan primer bagi pecandunya. Hal tersebut menjadi masalah sosial yang cukup parah karena para pecandu tersebut merupakan orang dengan tingkat ekonomi yang rendah. Untuk mencukupi kebutuhan ekonominya akan membutuhkan usaha yang berat, akan tetapi mereka malah menggunakan uang yang mereka punya untuk mengkonsumsi narkoba.
Maraknya masyarakat yang mengkonsumsi narkoba menyebabkan terciptanya lingkungan yang banyak ditemui kemerosotan moral dan tentu saja perbuatan kriminal yang marak ditemui. Lingkungan yang terbentuk karena masyarakatnya telah mengalami kerusakan karena narkoba juga akan menyebabkan munculnya kawasan-kawasan kumuh di pinggiran-pinggiran
kota besar. Kawasan-kawasan kumuh tersebut biasanya juga digunakan untuk bertransaksi dan melakukan perbuatan-perbuatan kriminal lainnya.
Di dalam novel Wesel Pos (2018) narkoba disebarkan oleh para pengedar baik di kawasan kumuh yang dekat dengan kemiskinan sampai daerah perkantoran elit. Beberapa pecandu narkoba seringkali bukan berasal dari kalangan ekonomi yang mapan. Para pecandu tersebut tinggal di daerah yang terpinggirkan dan kumuh karena mereka berasal dari golongan ekonomi yang menengah ke bawah. Hal tersebut juga menjadi permasalahan di dalam masyarakat khususnya masyarakat Jakarta karena tempat-tempat terpusatnya peredaran narkoba tersebut menjadi basis kriminal yang menjadi masalah sosial di masyarakat.
Di dalam novel Wesel Pos, Ratih Kumala juga mencoba mengangkat kehidupan seorang bandar narkoba yang melakukan pekerjaannya karena dorongan ekonomi. Beberapa orang yang terlibat ke dalam bisnisnarkoba tidak semuanya merupakan pemakai atau pecandu. Beberapa dari mereka bertugas hanya sebagai kurir yang mengantarkan narkoba dari bandar ke pelanggan atau konsumen. Seringkali orang yang berprofesi sebagai bandar merupakan orang yang terpaksa melakukan pekerjaan illegal tersebut dikarenakan dorongan ekonomi. Seseorang menjadi pengedar narkoba bisa jadi dikarenakan adanya kekurangan-kekurangan dan ketidakmampuan seseorang tersebut dalam mencukupi kekurangan ekonominya, akhirnya ia terpaksa mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang secara singkat tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya.
Di dalam novel Wesel Pos (2018) Ratih Kumala juga menaruh perhatiannya pada gambaran kehidupan kurir narkoba yang terpaksa menlakukan pekerjaan tersebut karena dorongan faktor ekonomi yang belum bisa terpenuhi. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Faktanya, dia tak punya cukup uang untuk mengirimi Elisa sekaligus untuk biaya operasi caesar kakak iparnya. Hari itu, Fahri mengirimkan nyaris seluruh uang gajinya ke kakaknya. Itu pun, masih belum bisa menutupi biaya operasi Caesar. Belum lagi, dia masih harus mengirimi Elisa dan ibunya. Sudah lama dia tahu, dari sopir-sopir pribadi lainnya, bahwa gampang sekali menjadi kurir obat-obatan terlarang. Fahri kemudian ke alamat yang diberikan oleh salah seorang sopir, yang kemudian membawanya pada si Bang. Fahri meminta pinjaman uang, dan dia akan menggantinya dengan bekerja sebagai kurir sekaligus marketing (Kumala Ratih, 2018 : 68).
Dorongan ekonomi menyebabkan tokoh Fahri mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang secara cepat dan lebih banyak dengan menjalani pekerjaan sebagai kurir narkoba. Pekerjaan sebagai kurir narkoba dilakukannya sebagai pekerjaan sampingan. Berdasarkan kutipan di atas Ratih Kumala mencoba mengaitkan problematika yang menyangkut massalah sosial dan ekonomi di Jakarta. Di Jakarta yang merupakan kota metropolitan orang-orang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya. Terpenuhinya kebutuhan ekonomi menjadi hal yang sulit bagi sebagian masyarakat Jakarta sehingga beberapa pekerjaan yang illegal ditempuhnya sebagai jalan keluar atas masalah ekonomi yang dialami.
Problem mengenai narkoba dan kriminalitas seperti yang direpresentasikan di dalam novel Wesel Pos (2018) menjadi cerminan mengenai kehidupan yang keras yang dialami oleh masyarakat Jakarta
sehingga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sampai mempertaruhkan nyawanya dengan mengambil pekerjaan sebagai kurir narkoba. Pekerjaan ilegal seperti kurir narkoba menjadi jalan keluar yang sebenarnya bukan merupakan solusi atas masalah ekonomi yang dialami oleh orang-orang yang masih berkekurangan. Menjadi kurir narkoba merupakan pekerjaan yang penuh resiko dan dapat terjerat hukum.
Selain pekerjaan ilegal, profesi menjadi kurir narkoba juga merupakan pekerjaan yang mengikat pekerjanya secara paksa dan tidak sehat. Menjadi kurir narkoba akan berhadapan dengan hidup dan mati. Beberapa orang yang sudah dalam keadaan terdesak akan melakukan perbuatan tersebut. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Bang berdiri, mendekati Fahri dengan pandangan siap menghunus.
“Cuma satu caranya o keluar dari sini. Lo mati atau gue matiin?! Pilih!
Fahri bergidik. Tiba-tiba di belakang Fahri sudah ada dua anak buah yang tadi mengusir perempuan sakaw. Mereka menahan Fahri, menghimpitnya ke dinding gang yang pesing. Bang maju dan memukul sekali, dua kali, tiga kali (Kumala Ratih : 2018 : 59).
Kekerasan dan penganiayaan menjadi resiko yang dihadapi kurir narkoba apabila memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Keluarnya kurir narkoba dikhawatirkan akan membocorkan rahasia bisnis illegal tersebut.
Untuk mencegah terbongkarnya bisnis bandar narkoba dilakukan pencegahan dengan membunuh atau mengancam kurir yang akan keluar. Sekali terjun ke dalam bisnis narkoba maka kehidupan yang dipertaruhkan.
2. Masalah Terhadap Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan merupakan aturan di dalam masyarakat yang berasal dari hati nurani. Norma tersebut menghasilkan akhlak dan budi pekerti.
Masyarakat membutuhkan norma kesusilaan untuk membedakan perilaku yang baik dan kurang baik. Nilai kebudayaan menjadi tempat bersandarnya norma kesusilaan. Pelanggaran atas norma-norma tersebut akan menyebabkan pengucilan oleh masyarakat yang masih memegang norma tersebut (Kusumantoro, 2019). Penyimpangan norma yang sudah berlaku di masyarakat dapat ditemui di kota Jakarta. Meskipun pelanggatran-pelanggaran terhadap norma juga banyak didapati di daerah lain, Jakarta menjadi kota yang cukup parah dalam kasus pelanggaran terhadap norma kesusilaan. Setidaknya hal tersebut menjadi perhatian Ratih kumala yang menuangkan kegelisahannya ke dalam novel Wesel Pos. Jakarta sebagai tempat penuh dengan problematika sosial.
Di dalam kehidupan bermasyarakat norma kesusilaan menjadi control sosial yang masih dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat masih menganggap tabu pelanggaran-pelanggaran terhadap norma tersebut. Bahkan, hukuman sosial akan dijatuhkan kepada pelanggar norma apabila ia telah terbukti melakukan pelanggaran. Akan tetapi di beberapa tempat, norma tersebut telah dilupakan dan sekelompok masyarakat melakukan pelanggaran terhadap norma tersebut dan pelanggaran-pelanggaran tersebut menjadi hal yang dinormalisasi di lingkungan tersebut. Khususnya di Jakarta, norma sosial masih dipegang oleh sekelompok masyarakat di sana. Akan tetapi beberapa
kelompok masyarakat telah melakukan pelanggaran secara terang-terangan di lingkungan mereka. Hal tersebut telah direpresentasikan di dalam novel Wesel Pos (2018) oleh Ratih Kumala.
Di dalam novel Wesel Pos (2018), Ratih Kumala menggambarkan bagaimana tempat-tempat para pecandu narkoba di pinggiran kota Jakarta. Para pecandu tersebut tidak hanya mengkonsumsi narkoba akan tetapi mereka didapati melakukan perbuatan yang memperlihatkan kerusakan moral sekaligus pelanggaran terhadap norma yang berlaku sebelumnya di masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Perlahan, dia melewati gang itu. Aroma kencing, keringat, vagina, pejuh, muntah, dan sakaw bercampur begitu memasuki gang. Di sisi- sisi gang yang gelap tergeletak beberapa orang yang sedang teler. Ada juga yang sedang bersetubuh (Kumala Ratih, 2018 : 58).
Pada kutipan di atas diceritakan bahwa tokoh Fahri sedang berada di tempat bandar narkoba biasa mengatur bisnisnya. Tempat bandar narkoba tersebut digambarkan sebagai tempat yang terpencil dan terpinggirkan sehingga harus melewati gang yang kumuh. Kerusakan moral nampak terjadi karena secara terang-terangan orang-orang yang berada di gang tersebut melakukan perbuatan yang melanggar norma di masyarakat. Pelanggaran atas perbuatan yang tabu di masyarakat yaitu bersetubuh di tempat umum tersebut merupakan efek dari konsumsi narkoba yang menyebabkan para pecandunya sudah tidak bisa memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ratih Kumala menggambarkan realitas gelap yang terjadi di Jakarta yang merupakan ibu kota dengan berbagai geliat kemegahannya. Di balik kota
yang besar dan megah, terdapat realita yang bertolak belakang dengan apa yang terlihat di Jakarta. Digambarkan di dalam novel Wesel Pos (2018), di lingkungan pinggiran tepatnya di rumah-rumah susun dapat ditemui perbuatan- perbuatan yang merusak moral justru tumbuh subur. Tempat-tempat kumuh tersebut penuh dengan para pecandu yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Perbuatan bersetubuh yang merupakan perbuatan yang dianggap sebagai perbuatan yang sakral dan tabu oleh norma uyang berlaku di masyarakat dilakukan secara terang-terangan oleh orang yang mengkonsumsi narkoba yang berakhir menjadi pecandu.
Perbuatan berhubungan badan yang apabila menurut norma merupakan perbuatan yang dilakukan secara tertutup dan dilakukan setelah menjalin ikatan yang disebut pernikanan dilakukan secara terang-terangan dan tanpa diikat oleh pernikahan. Perbuatan tersebut selain melanggar norma kesusilaan, kesopanan, dan bahkan norma agama. Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang tak punya ikatan apapun dan dengan bebas melakukan hubungan layaknya suami istri di bawah pengaruh candu dari narkoba. Perbuatan bersenggama di tempat umum juga memiliki dampak yang buruk di dalam kehidupan bermasyarakat.hal tersebut memungkinkan untuk menyebabkan terbiasanya masyarakat dengan perbuatan tersebut. Jika hal tersebut terjadi maka akan menyebabkan beberapa dampak buruk dari perbuatan zina dan pergaulan bebas.
Sebagai kota metropolitan yang dengan cepat menerima berbagai budaya dari luar, Jakarta menjadi kota yang penuh dengan budaya kebebasan.
Seperti yang telah disebutkan pada bahasan di atas, perbuatan zina menjadi perbuatan yang bahkan dilakukan di tempat umum secara terang-terangan oleh sebagian masyarakat. Ratih Kumala menggambarkan kondisi di mana Tidak ada penegak hukum atau yang berfungsi menjaga tegaknya norma di masyarakat yang menertibkan perbuatan tersebut karena lingkungan masyarakat yang sudah terbiasa dengan perilaku tersebut. Masyarakat yang terbiasa oleh perbuatan zina di tempat umum tersebut juga rusak pemikirannya karena narkoba yang mereka konsumsi. Beberapa dampak buruk dari pergaulan bebas yang mengarah ke perbuatan zina bagi masyarakat diantaranya menurut Mabruroh (2020) adalah.
1. Silsilah keturunan menjadi kacau
2. Merusak nama baik keluarga dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat 3. Kehamilan yang tidak diinginkan
4. Maraknya tindakan aborsi
5. Menyebabkan putus sekolah bagi pelajar yang melakukannya
Perbuatan hubungan badan di tempat umum akan membuat lingkungan yang ditempati menjadi lingkungan yang tidak nyaman. Beberapa efek buruk dari perbuatan zina seperti yang telah dipaparkan di atas merupakan dampak buruknya terhadap masyarakat. Tatanan norma menjadi rusak akibat perbuatan tersebut. Di dalam novel Wesel Pos (2018) Ratih Kumala hendak menggambarkan sisi gelap Jakarta yang tidak bermoral dan jauh dari ajaran agama maupun norma yang berlaku di masyarakat.
Perbuatan zina yang dilakukan di tempat umum sangat dimungkinkan apabila pelakunya adalah orang yang sudah kehilangan pengendalian terhadap dirinya sendiri dan sudah dikuasai oleh nafsu. Berdasarkan apa yang direpresentasikan di dalam novel perbuatan tersebut dilakukan karena pengaruh dari narkoba. Orang-orang yang terpengaruh obat-obatan terlarang itu sudah tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya sendiri. Selain merusak dirinya sendiri mereka juga membuat lingkungan sekitarnya menjadi ikut tercemar karena dengan terang-terangan melakukan perbuatan zina, mengkonsumsi narkoba, dan kekerasan.
Apabila dampak-dampak perbuatan zina sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya terjadi, maka permasalahan sosial akan meluas dan akan dimungkinkan sulit dikendalikan lagi. Maka dalam hal ini, pengarang mengemukakan pandangannya bahwa akar dari permasalahan tersebut adalah narkoba yang mempengaruhi kesadaran seseorang sehingga pecandunya tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masalah narkoba menjadi masalah yang tidak bisa ditolerir lagi karena dampaknya yang langsung merusak seseorang yang mengkonsumsinya.
Ketika moral yang ada di dalam masyarakat telah perlahan hilang sehingga muncul pelanggaran-pelanggaran terhadap norma kesusilaan maka kerusakan akan makin tak terkendali. Ratih Kumala dalam hal ini berperan sebagai masyarakat Jakarta yang memaparkan realita lain dari gemerlapnya kota Jakarta. Realitas yang gelap di balik Jakarta yang metropolitan dan maju membuat Ratih mengeluarkan kegelisahan terhadap kota kelahirannya tersebut
sebagai kota yang penuh problem sosial. Novel Wesel Pos (2018) yang ditulisnya sebagai gambaran dari realita gelap yang terjadi di Jakarta mencerminkan polemik yang menjadi masalah bersama untuk bahan evaluasi bahwa di Jakarta tak seindah kenyataannya. Masyarakat yang mulai tidak mempedulikan lagi nilai-nilai yang berasal dari nurani manusia telah menyebabkan Jakarta tercemar oleh perbuatan-perbuatan yang merusak moral masyarakat. Masalah-masalah sosial yang direfleksikan oleh Ratih Kumala di dalam novelnya dapat dijadikan sebagai cerminan mengenai kondisi sosial masyarakat Jakarta terdapat persoalan kriminalitas dan masalah terhadap norma kesusilaan yang menyebabkan moral di masyarakat mengalami penurunan. Persoalan-persoalan yang diangkat tersebut dapat menjadikan novel Wesel Pos (2018) sebagai cermin masyarakat Jakarta menurut pandangan
seorang pengarang muda yang memiliki kebebasan dalam berkarya.
Penggambaran Jakarta yang dipaparkan oleh Ratih Kumala adalah sebagai kota yang banyak ditemui pelanggaran-pelanggaran terhadap norma kesusilaan. Adanya kerusakan moral tersebut merupakan akibat dari peredaran narkoba yang marak. Secara terang-terangan Ratih Kumala memaparkan kerusakan moral yang dilakukan oleh masyarakat Jakarta. Sebagai seorang penulis muda dan akrab dengan dunia perkotaan, Ratih Kumala tidak memposisikan dirinya sebagai hakim yang memutuskan benar salahnya pelanggaran terhadap norma kesusilaan. Ia hanya memaparkan realitas lain dari Jakarta yang ditulisnya ke dalam novelnya. Hal tersebut juga dapat
membuktikan bahwa ia juga bukan berideologi agamis yang menghakimi perbuatan-perbuatan yang dianggap buruk oleh norma dan agama.
E. Cermin Masyarakat dalam Novel Wesel Pos (2018)
Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai masalah sosial masyarakat rumah susun di Jakarta yang terdapat di dalam tes novel Wesel Pos (2018), latar belakang sosial pengarang, dan ideologi Ratih Kumala maka dapat ditarik kepada pembahasan mengenai cermin masyarakat yang direfleksikan oleh novel tersebut. Novel ini memiliki latar penceritaan pada zaman modern dimana penyebutan teknologi pada zaman tersebut sudah sampai pada telepon genggam yang mempunyai layar sentuh. Novel Wesel Pos (2018) terbit pada tahun 2018. Novel tersebut memaparkan kondisi masyarakat Jakarta yang sudah modern sesuai dengan tahun dimana novel tersebut terbit. Meskipun memiliki judul wesel pos, sebagaimana diketahui bahwa wesel pos merupakan sarana untuk mengirim uang pada zaman dahulu, novel tersebut tetap memiliki latar Jakarta yang sudah modern. Penggunaan judul wesel pos tidak memiliki keterkaitan yang erat mengenai zaman dimana masih digunakannya sarana wesel pos untuk keperluan bertransaksi.
Pemaparan mengenai wesel pos hanya digunakan sebagai pembanding antara orang yang menggunakan wesel pos sebagai orang dari luar Jakarta dengan orang Jakarta yang bahkan sudah asing dengan wesel pos. Pengarang hendak memberikan penekanannya mengenai modernnya kota Jakarta yang dilihat oleh orang pedesaan yang berasal dari luar Jakarta melalui penggunaan