diberikan perusahaan, sementara untuk makanan dan rokok biasanya diberi bon, artinya pekerja harus membayar pada perusahaan.
Pada prinsipnya, pekerjaan “kasar” yang disebutkan di atas merupakan pekerjaan yang disubkontrakkan kepada tenaga subkontraktor. Para subkontraktor ini merupakan pekerja “lepas” yang hak-hak ketenagakerjaannya tidak dijamin oleh perusahaan pemegang HPH.
Beberapa jenis pekerjaan yang dianggap lebih “tinggi” antara lain sebagai berikut.
1. Pengemudi (operator) traktor
Pengemudi traktor merupakan kelas pekerja yang lebih tinggi daripada penebang dan pengupas. Mereka digaji Rp15.000 per delapan jam kerja dan dibayar lebih bila bekerja lebih lama dari yang ditentukan (overtime). Setiap jam kelebihan dibayar Rp1.000. Jumlah jam kerja maksimun 10 jam per hari. Pekerja ini biasanya digilir dengan yang lainnya. Operator traktor dibantu oleh seorang helper yang digaji Rp5.000-7.000 per hari. Pengemudi traktor ini kebanyakan berasal dari Jawa atau Samarinda. Mereka mendapat fasilitas makan siang, tunjangan kesehatan bila sakit, dan fasilitas antar-jemput. Status mereka biasanya pekerja bulanan bahkan pekerja tetap.
2.
Pengemudi truk loggingPengemudi ini diupah per hari (delapan jam kerja) Rp5.000 dan overtime dibayar Rp1.000. Pengemudi ini termasuk kelas yang lebih baik daripada penebang dan pengupas tetapi lebih rendah dari operator traktor. Pengemudi ini mendapat fasilitas makan siang dan fasilitas kesehatan. Mobil truk yang dibawa biasanya berkapasitas 45 m3. Seperti operator traktor, pengemudi truk ini kebanyakan orang luar. Namun
182
mendapat kesempatan menjadi pengemudi truk.
Seperti telah disebutkan di muka, pekerjaan yang ditawarkan kepada penduduk setempat biasanya terbatas. Menurut informasi dari kepada desa di Lambing, hanya sekitar 23 orang penduduk asli Lambing yang saat ini -- saat penelitian dilakukan -- tercatat sebagai buruh di perusahaan HPH atau perusahaan yang dikontrak oleh perusahaan tersebut. Mereka bekerja sebagai buruh kasar. Umumnya adalah anak-anak muda berumur 20-30 tahun dan belum berkeluarga. Sementara itu, di Benung tidak ada penduduk yang bekerja di perusahaan HPH, karena saat ini tidak ada perusahaan yang aktif di sekitar perkampungan mereka. Menurut keterangan kepala adat dan kepada desa, banyak pekerja yang sakit bahkan ada yang meninggal sekembalinya dari hutan. Mereka yang meninggal dan sakit ketika pulang dari hutan dipercaya mendapat “hukuman” karena masuk ke daerah keramat yang terlarang untuk dibuka. Tersebar pula cerita bahwa mereka yang melihat, menemui, dan membuka tempelaq Koko atau kotak tempat mayat/bangkai anjing di hutan keramat tidak akan berumur panjang dan akan mati ketika sampai di kampung.123 Tidak ada hasil yang dibawa/diperoleh mereka dari hutan selain sakit dan kematian. Mereka tidak membawa uang hasil kerja di hutan karena uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di hutan. Tidak jarang juga uang dihabiskan di arena judi.
Secara rasional peristiwa ini bisa dijelaskan bahwa hutan yang akan dibuka kebanyakan merupakan HHT yang masih asli.
123 Legenda anjing kesayangan yang mati dibunuh tidak sengaja oleh istri pemilik karena anjing itu dikira membunuh tuannya/suaminya. Bangkai anjing itu kemudian diupacarai dan dikuburkan sebagaimana layaknya manusia. Semenjak itu selalu melegenda bahwa bila ada orang yang menemukan atau menjumpak tempelaq itu pasti akan mendapat musibah, minimal sakit bahkan bisa mati.
183
binatang kecil lain yang potensial menjadi perantara penyebaran penyakit. Hutan kawasan tropis terkenal sebagai daerah sarang nyamuk malaria. Apabila kita lihat kondisi alam dan beban kerja yang berat, tanpa diimbangi dengan masukan makanan yang sehat tentunya dapat menurunkan tingkat kebugaran. Dalam kondisi yang demikian, tubuh menjadi lemah sehingga serangan serangga pembawa penyakit menjadi lebih berbahaya, bisa membuat sakit, bahkan dapat mematikan.
Selain peluang kerja yang ditawarkan cukup terbatas, keberadaan perusahaan pun sedikit membuka peluang kerja dan kegiatan ekonomi lain (multiplier effects). Peluang bekerja yang muncul adalah kegiatan warungan yang menyediakan makanan dan kebutuhan para pekerja, jasa angkutan sungai, dan jasa penginapan.124
Perubahan Sosial Budaya
Perubahan budaya yang terjadi ditandai dengan menghilangnya bangunan (secara fisik) rumah panjang. Selain sebagai tempat tinggal, rumah panjang ini sekaligus menjadi institusi sosial. Rumah panjang merupakan salah satu faktor perekat sosial budaya yang juga berfungsi ekonomi, politis, dan religi. Rumah panjang sekarang banyak digantikan oleh rumah-rumah tunggal yang terpencar-pencar. Rumah panjang mulai banyak ditinggalkan oleh anggota-anggotanya karena kegiatan mereka di hutan semakin sedikit. Cukup banyak anggota keluarga dari satu rumah panjang yang terpaksa melakukan migrasi ke kota-kota besar, menjalankan beberapa kegiatan ekonomi informal.
124 Aktivitas prostitusi tampaknya terjadi secara diam-diam. Kepala desa dan kepala adat selalu mengatakan tidak ada kegiatan prostitusi, apalagi yang melibatkan perempuan lokal di daerahnya. Namun dari pembicaraan umum sering terdengar cerita seperti itu.
184
sedikit kohesi sosial pun menghilang dan semakin jarang mereka menyelenggarakan upacara bersama-sama. Hal ini pun diperkuat lagi dengan mulai menyebarnya agama Katholik dan Protestan pada orang-orang Dayak. Kedua agama Kristen itu melarang ritus-ritus yang memuja nenek moyang karena bertentangan dengan nilai-nilai Nasrani.125 Akibatnya terjadi juga degradasi pengaruh dari kepala-kepala adat yang juga pemuka agama asli beralih kepada para pemuka agama Katholik dan Protestan. Setidaknya dengan masuknya unsur kepemimpinan agama-agama baru, terjadi dualisme kepemimpinan dalam masyarakat -- kepemimpinan tradisional (para kepala adat) dan kepemimpinan agama (para pastor dan pendeta).
Gejala lain ditunjukkan dengan berkembangnya berbagai fenomena perjudian, perkelahian, pembunuhan, dan pelacuran. Interaksi antara pendatang dan penduduk lokal, perkembangan ekonomi secara enclave, dan masuknya budaya konsumerisme secara bersamaan telah mengundang dan mengekspos dampak ikutan. Hal-hal ini dipandang sebagai ancaman terhadap nilai-nilai religius dan budaya asli. Para pemuka adat mengatakan bahwa sekarang ini pemuda lebih mementingkan diri sendiri dan senang berfoya-foya dengan uang hasil bekerja di perusahaan. Mereka sulit diminta bantuannya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan bersama dan adat. Mereka tidak mau mendengar apa yang dikatakan orang tua dan kepala adat berkaitan dengan daerah-daerah keramat yang seharusnya dipelihara, bukan dirambah untuk diambil sumber daya kayunya.
Banyak keluarga lokal yang lebih melihat kekayaan (uang) seseorang ketika akan mengawinkan anak mereka. Pertimbangan
125 Untuk masalah ini lihat juga artikel yang ditulis oleh Stepanus Djuweng dalam The Jakarta Post 27-3-95, yang mengatakan bahwa agama-agama
“baru”, dalam hal ini agama Katholik dan Protestan memberi sumbangan
185
memilih calon menantu. Kondisi seperti itu telah mendorong terjadinya beberapa bentuk perkawinan kontrak antara pendatang dan gadis-gadis setempat. Semua fenomena itu terjadi setelah ada sistem ekonomi uang yang dibawa oleh orang luar melalui perusahaan. Norma hubungan laki-laki dan perempuan pun menjadi lemah. Pelanggaran susila sering terjadi terutama antara penduduk perempuan setempat dengan laki-laki pendatang yang bekerja di perusahaan.126 Melemahnya pegangan nilai dan norma pada keluarga-keluarga muda ditandai dengan seringnya terjadi peristiwa “mengumpankan” istri-istri mereka kepada laki-laki pendatang dengan harapan mendapat ganti rugi dalam bentuk denda adat. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan (kekayaan material) yang lebar antara penduduk asli (terutama keluarga muda) dan para pendatang. Di satu sisi penduduk setempat ingin juga menikmati apa yang dimiliki para pendatang namun mereka tidak mempunyai kemampuan,
pendidikan, dan keterampilan yang cukup untuk
mendapatkannya. Perbedaan ini akhirnya membuat mereka mencari jalan pintas untuk dapat menikmati materi tersebut. Pelanggaran terhadap hukum adat setempat cenderung meningkat rata-rata empat kali per tahun dibandingkan dengan pelanggaran yang terjadi sebelum hadirnya perusahaan HPH dan perkebunan, dengan 45% pelanggaran dilakukan oleh pendatang. Pemuka masyarakat melihat ancaman terhadap nilai-nilai budaya ini tidak berjalan sendiri tetapi dianggap memiliki jaringan
126 Seorang kepala adat di Benggeris menceritakan bahwa dia pernah mengadili secara adat pelanggaran susila antara seorang perempuan lokal dan seorang oknum polisi yang bertugas di daerahnya. Berbagai kesaksian dan keterangan lain dikemukakan oleh banyak penduduk di Tempedas, Benggeris, Lambing yang melihat sendiri bagaimana transaksi seksual antara perempuan setempat dan para pekerja di perusahaan terjadi di hutan, di dalam kendaraan pengangkut kayu, di bedeng tempat tinggal pekerja, dan tempat-tempat lain. Umumnya mereka tidak bisa menerima kenyataan ini namun tidak bisa berbuat apa-apa karena semua dilakukan dengan kesepakatan (jual beli) di antara para pelaku.
186
pejabat militer atau sipil setempat pada tingkat kecamatan dan desa.127
Bagi masyarakat Benuaq, hutan sangat berkaitan dengan kehidupan budaya. Hilangnya hutan berarti ancaman terhadap budaya lokal akan semakin besar. Demikian juga hilangnya budaya lokal berarti hilang pula identitas masyarakat Benuaq itu sendiri. Seperti telah dikemukakan bahwa Desa Lambing saat ini tidak memiliki areal hutan, sementara Desa Benung saat ini masih memiliki areal hutan yang cukup luas. Perbedaan ini telah menimbulkan pergeseran budaya yang berbeda di antara kedua desa tersebut.
127 Penelitian Alqadrie (1994) mengatakan bahwa dampak negatif dari adanya perusahaan HPH, PTP, Perkebunan Besar Swasta Nasional terhadap kehidupan penduduk setempat ternyata lebih besar dibanding dengan dampak positif yang diciptakannya. Hal ini terwujud dalam reaksi penduduk setempat berupa keresahan, perubahan persepsi, dan oposisi bukan disebabkan oleh nilai budaya atau sikap mental mereka, tetapi lebih merupakan reaksi terhadap dampak negatif tersebut.