• Tidak ada hasil yang ditemukan

Change Management

Dalam dokumen Serba-serbi, Berita dan Pendapat Penelaah (Halaman 42-47)

Change Management sebagai Upaya

Peningkatan Integritas Pegawai dan Pelayanan DJA”. Demikian tema Rapat Kerja yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) di Auditorium Dhanapala, Jakarta pada 31 Mei 2011. Acara ini dipimpin oleh Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo dan diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan DJA.

Dalam arahannya, Dirjen Anggaran mengatakan bahwa terdapat dua hal penting yang perlu mendapat perhatian dari DJA . Pertama, DJA akan memasuki tahap pekerjaan yg sangat vital dan

krusial dalam rangka pengelolaan APBN yaitu pembicaraan dan pendahuluan APBN 2012, Laporan semester I dan APBN-P 2011, Penyusunan RAPBN 2012, dan Penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2010.

Kedua, dalam proses reformasi birokrasi Kementerian Keuangan, untuk reformasi penganggaran sesuai dengan amanat UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara, reformasi dengan penyusunan anggaran yang mengacu kepada kerangka pengeluaran jangka menengah, anggaran berbasis kinerja dan anggaran terpadu. Proses reformasi tersebut dilaksanakan dengan pengembangan sistem terpadu yaitu membentuk Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).

Pemaparan mengenai SPAN disampaikan oleh Kepala Subdirektorat T r a n s f o r m a s i Teknologi Informasi, Direktorat Jenderal Perbendaharaan. SPAN merupakan sistem informasi manajemen keuangan negara yang

m e n g i n t e g r a s i k a n seluruh proses penganggaran, dimulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan. Untuk suksesnya program tersebut dan terciptanya sinergi yang baik di antara Setjen, Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Anggaran maka dibentuklah Tim Reformasi Penganggaran dan Perbendaharaan Negara.

Dalam kesempatan ini pula, Dirjen Anggaran ikut menyaksikan penandatangan Pakta Integritas oleh para pejabat dan pegawai DJA. Pakta Integritas secara umum memuat pernyataan untuk selalu menjaga citra baik dan kredibilitas. Para pegawai dalam melaksanakan tugasnya harus menjunjung nilai-nilai integritas dan profesionalisme.

BERITA

Crack yang berarti celah, patahan, letusan atau retak terjadi akibat tumbukan atau tabrakan dari dua lempeng besar dan timbulah letusan. Ada sekelompok orang yang mampu melihat kesempatan itu, memanfaatkannya dan berhasil menerobos celah itu. Namun sebagian besar lainnya, yang menganut asas wait and see, tidak melihat celah itu sehingga tetap berada di zona yang lama.

Perubahan telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia di abad 21 ini, namun sebagian besar orang menyangkalnya karena bagi kita perubahan membawa dampak yang merisaukan, menakutkan dan capek. Capek akibat tuntutan harus bekerja lebih keras, lebih panjang dan lebih cerdas. Perubahan ini membuat sebagian besar dari kita tidak siap dan diramalkan 90% dari perusahaan-perusahaan yang sekarang eksis akan hilang dalam 10 tahun ke depan. Medan yang dilewati penuh jebakan: cracking. Terputus-putus, membentuk jurang-jurang yang dalam.

Hasil pemikiran dan penelitian berjudul Craking Zone ini merupakan buku ke-19 yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali Ph.D. Beliau menunjukkan kepada kita beberapa fakta yang cukup membuat terkejut mengenai kondisi positif yang akan terjadi dalam masyarakat Indonesia, yaitu: terjadinya perekonomian Indonesia Baru dengan income/capita US$ 3.000 pada akhir 2010 dan dikelilingi oleh kelas menengah baru Asia yang tumbuh progresif. Menurut ADB (2010), antara tahun 2002- 2008, terdapat 102 juta orang Indonesia (46% dari jumlah penduduk) berhasil naik

kelas, bergabung menjadi kelas menengah dengan pengeluaran per-hari US$2 s/d US$8 hanya untuk konsumsi.

Cracking zone membawa budaya birokratis menjadi lebih humanis, efektif, dan efisien. Pada era ini, kecepatan (speed) menjadi kata kunci sehingga proses yang bertele- tele sudah tidak zamannya lagi. Sebuah berita sekecil apapun bisa tersebar dengan cepat melalui internet, apalagi berita besar atau kontroversial yang menarik perhatian publik. Masyarakat sudah menjadi peliput berita yang dikenal dengan istilah citizen journalism yang secara perlahan-lahan “mengambil alih pekerjaan wartawan”.

Saat ini teknologi digital dipercaya membawa dampak yang cukup signifikan dalam menciptakan perubahan dan membentuk generasi C yang menurut penelitinya, Dan Pankraz, bisa berarti content, connected, digital creative, cocreation, customize, curiousity, cyborg dan chameleon (bunglon). Gen C dengan kisaran umur 7-35 tahun, dapat menjadi bunglon yang cepat berubah akibat terekspos terus menerus oleh jaringan informasi sehingga saat rambut seseorang dicat berwarna coklat, maka ia pun berbaju coklat, sepatu coklat, tas coklat. Persis seperti bunglon.

Ada tiga karakter buku ini yang terasa sekali saat dibaca. Pertama, buku ini bukan hanya buku biasa tentang sebuah ide yang tercetus di kepala penulisnya. Buku ini juga lahir dari riset mendalam yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh sebuah tim— bukan hanya Rhenald Kasali seorang. Teknik penulisan buku ini sama seperti teknik yang

digunakan oleh Jim Collins dalam buku

klasik manajemen, Good to Great.

Kedua, buku ini kaya dengan data dan informasi yang spesifik. Pembaca akan menemukan bahwa buku ini dapat

dibaca lebih dari satu kali dan tetap saja memberikan sesuatu yang baru saat dibaca kembali. Terdapat banyak tabel, grafik, foto,

serta image untuk memberikan gambaran

jelas mengenai apa yang sedang dibahas. Ketiga, buku ini menyajikan banyak sekali pengalaman para cracker leader. Sebuah

aksi cracker leadership dibahas dalam

berbagai sudut pandang yang memberikan kekayaan referensi tentang crackership bagi para pembacanya. Membaca buku ini, pembaca bukan hanya seperti membaca sebuah buku konseptual, tetapi seolah-olah dibawa untuk mengalami langsung saat-saat dimana para cracker leader itu melakukan aksinya. Dengan demikian, pembaca dapat melihat terobosan cracker leadership itu dari berbagai sudut pandang—mulai dari sudut pandang seorang CEO, seorang pengamat, seorang karyawan perusahaan, dan seorang konsumen. Cara belajar yang menarik, bukan?

Selamat membaca dan terinspirasi

menjadi seorang Cracker!

Note : Telah tersedia di Perpustakaan Direktorat Jenderal Anggaran

Judul : Cracking Zone

Penulis : Rhenald Kasali

Ukuran : 18 x 24 cm Tebal : 356 Halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka utama

CrackingZone

When you think about it, it’s rather curious that ghosts only come out at night. You can check out any folklore in the world and you will find that visually unpleasant entities like vampires, werewolves, and genderuwos only show up after dark. What’s the deal with that?

One explanation contends that it has something to do with our need to safeguard the continuity of our species. You see, the human’s main sensory equipment, our vision, is not so darkness-friendly. We tend to trip and stumble in the dark while our man- eating adversaries like lions and tigers watch with glee.

So, the theory goes, early humans decided to come up with folklores about terrifying creatures of the dark

to keep us indoors at night. As if the actual predatorsare not scary enough. Our evolutionary instinct tells us to stay in a well-lighted place after dark or risk being eaten by god-knows-what. It’s not that we’re scared of monsters. Our folklores are rich with tales of man conquering beasts with two heads or more. Ask the Greeks. We’re just scared of monsters we can’t see. What I have written so far can be summed up in the words of HP Lovecraft: the oldest and strongest emotion of mankind is fear, and the oldest and strongest kind of fear is fear of the unknown. In the presence of something that they don’t know, mankind’s first reaction is to fear it. Now, the reason I bring this up on this fine morning is this:according to

a recent Change Readiness Survey, a significant majorityof DJA employees feel that they don’t have what it takes to run SPAN. I’ll let that sink for a moment.

SPAN, short for State Budgeting and Treasury System, is a system that enables the integration of budget planning and budget execution processes. It links our business processes with those of our Treasury brethrens’. Technologically speaking,it involves an integration of both of our IT systems.At face value, it’s brand new application system the need to be mastered.

It may sound quite demanding. However, let’s look at the fact that DJA has a plethora of applications of its own. We have applications for anything from mailing system to RKAKL, the

Fear of the Unknown

ENGLISH CORNER

backbone of our system. To carry out our simplest task, i.e. typing, we use Microsoft Word. In general, most of our 800 plus employees know their way around computer and various application. So why is it that we feel inadequate when it comes to SPAN? One possible answer is ‘fear of the unknown’. We don’t know enough about SPAN to feel comfortable with it. From the scant information that we get, we visually picture SPAN as a highly complicated maze of applications that are prone to crashes and security breaches when, really, it’s not. It’s just another set of application designed for better quality budget planning and execution.

So how do we fix this? How do we get rid of this fear. According to a popular psychology site, mastering your fear begins with admitting that you are, in fact, afraid. In the context of SPAN, we must accept that we DO worry about SPAN. Not because we don’t have what it takes to run it. Rather, because we don’t know enough about it. There are many, many ways to rectify that situation. You can go to SPAN’s website and satisfy your curiousity. Or browse through SPAN newsletter: Kabar SPAN. Alternately, you can also attend SPAN’s workshops and socializations. Like the great general Sun Tzu said: the more you know about your enemy, the easier it is to kill it. The more you know about SPAN, the less fear you have about it. Hence, you’ll get more comfortable with it.

Next, you have to recognize the root cause of your fear. Why is it that your fear vampires? Well, probably because vampires don’t go out at night to make friends or do their laundry. They’re out to suck your blood dry. By now we have

enough scientific evidence to support the hypothesis that human minus blood equals death. And nobody particularly enjoy dying. So there you have it. That’s why we’re afraid of vampires.

In the case of SPAN, according to observation the root cause of employees’ fears is that they may became redundant. An employe of a certain KPPN revealed that SPAN would eliminate the only job that he knows: filing, sorting, and copying Satker’s proposal. If SPAN is implementated, he would lose his job. Recognizing your fear allows you to see how to conquer it. If you know that the root cause of your fear is because you don’t have the skill to do things other than what you do now, your alternative would be to upgrade your self. Learn new skills, and aim for a new position. SPAN implementation recognizes this requirements. Prior to the roll out, there will be a series of trainings to help employees run SPAN. There is absolutely no reason why you should be redundant when SPAN is implemented.

So there you are. The vampire is out in the open. In your hands you have a bunch of onion and a wooden stake. Now go out there and kill it!

1. Recognize your fears. By realizing that you’re fearful, you’re more likely to get to the bottom of what the fear is. • You may also have a fear of facing

your fears. The best way to conquer this fear is to accept the truth behind what’s causing you to experience limited happiness in life.

• You might come to understand

that you’re afraid of failing or taking chances. You may even be fearful because you simply don’t have confidence in yourself.

• Regardless of the issue at hand, it’s important that you recognize your fear and attempt to define what it is that makes you terrified of the unknown. The key here is not to dwell on your fear, but rather to understand precisely what it is you’re worried about.

2. Determine the underlying root of your fears. How can you identify the cause of your fears? An insightful look at your life might reveal the answer. By recognizing what causes your fears, it’s likely you can overcome them with great success!

3. Face your fears. Once you’ve

accepted your fear and identified the root cause, you’re ready to conquer it! The best method to do this is to face it head on.

• Make a decision to purposely tackle your fears by indulging yourself in activities that push you outside of your comfort zone. For example, put yourself in a place where you’re safe, yet uncomfortable, or respectfully confront someone from your past. In the end, you’ll find that you can successfully overcome your fears, one by one!

Overcoming your fear of the unknown is a difficult undertaking. However, if you take the time to engage in these three steps, you’ll discover a renewed peace and happiness within your heart! As you work to unlock the chains that bind you to your fears, you’ll enjoy a freedom that you’ve never felt before.

Senyummu membuat dunia tersenyum. Pernahkah kau menyadari betapa pentingnya senyummu buat kedamaian dunia. Mungkin ini berlebihan. Tapi sungguh begitulah adanya. Betapa senyum dari bibir merahmu yang memamerkan gigi cantikmu membuat semua orang menjadi tenang hatinya. Mencipta suasana gairah untuk bekerja melebihi kata-kata motivasi dari Mario Teguh. Jangan pernah menyepelekan hal kecil, seperti memberi senyum. Senyum bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Tidak perlu modal. Hanya hati ikhlas akan melahirkan senyum tulus.

Senyum kepada orang lain hakekatnya adalah senyum kepada diri kita sendiri. Bukankah orang yang menerima senyum akan membalas dengan senyum pula? Begitulah perbuatan baik, akan kembali kepada pelakunya. Untuk itulah kita dianjurkan selalu berbuat baik, dengan menolong orang lain dan membuat orang lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi.

Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang hingga terdengar percikan air dan terlihat lingkaran- lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.

Demikian pula dalam kehidupan di kantor seperti pemberian pelayanan kepada stakeholder DJA, harus ada kebaikan dan kesempurnaan di dalamnya. Pemberian pelayanan bukanlah semata menjalankan kewajiban sebagai pegawai, pemberian pelayanan bukanlah semata melakukan SOP. Tetapi ada profesionalisme dengan cita rasa humanisme. Sehingga pelayanan tidak garing dan basa-basi yang tidak perlu. Tetapi orang merasa nyaman ketika datang ke kantor DJA. Betapa kita merasa senang diperlakukan baik dan diorangkan. Bukankah kita akan merasa tidak nyaman ketika antri menunggu pelayanan tanpa tegur sapa? Bukankah kita merasa jengah menunggu pelayanan ditempat yang tidak nyaman, tanpa hiburan dan konsumsi?

Perubahan dalam mengelola dan mengorganisasi pelayanan DJA perlu dilakukan. Untuk mengimbangi perubahan peraturan dan perkembangan teknologi informasi. Sejak diberlakukan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan yang diikuti dengan pemberian remunerasi kepada para pegawai telah menyebabkan peningkatan ekspektasi publik kepada Kementerian Keuangan terkait dengan profesionalisme pelayanan yang diberikan.

Harapan tersebut tentulah wajar. Publik ingin tahu efektivitas dan efisiensi keberhasilan reformasi birokrasi yang telah dijalankan Kementerian Keuangan. Mereka ingin tahu apa yang telah dikerjakan dan bagaimana hasil dari semua itu. Apakah ada perubahan dalam sikap dan perilaku pegawai? Dan bagaimana dampak terhadap pelayanan yang diberikan kepada publik?

Untuk mewujudkan harapan tersebut, DJA harus bekerja dengan kreatif agar bisa memberikan pelayanan terbaiknya dalam pengelolaan anggaran dan PNBP. Salah satu ide kreatif untuk mewujudkan

profesionalisme pelayanan anggaran adalah dengan membentuk Pusat Layanan DJA. Gagasan cemerlang ini tentulah harus segera direalisasikan untuk mewujudkan kesempurnaan layanan DJA. Konsep Pusat Layanan DJA berarti seluruh layanan DJA terkait dengan layanan perencanaan anggaran dan PNBP akan terpusat. Untuk memberikan layanan terpusat perlu sinergi antar direktorat yang terlibat dalam layanan tersebut seperti Direktorat Anggaran I, Direktorat Anggaran II, Direktorat Anggaran III, Direktorat PNBP dan Sekretariat Ditjen.

Pusat Layanan DJA harus menawarkan layanan yang berbeda dengan yang sebelumnya dan mampu memberikan solusi atas permasalahan perencanaan anggaran dan PNBP yang dihadapi oleh stakeholder DJA. Untuk itu Pusat Layanan DJA harus didesain sedemikian rupa agar stakeholder DJA dapat memperoleh layanan yang paripurna. Desain Pusat Layanan DJA harus meliputi tata ruang, SOP, dan SDM. Front desk sebagai muka DJA dalam berhubungan dengan pihak lain bukan hanya menampilkan wajah yang rupawan, luwes, namun harus memiliki

integritas tinggi dalam menjaga norma

dan aturan yang berlaku.

Layanan excellent tentu akan memudahkan dan menyenangkan stakeholder DJA, bukankah salah satu kebaikan dari hasil puasa ramadhan adalah memudahkan dan menyenangkan urusan orang lain? Selamat hari raya Idul Fitri 1432.

Memberi Arti Lebih

Dalam Pelayanan

RENUNGAN

Dalam dokumen Serba-serbi, Berita dan Pendapat Penelaah (Halaman 42-47)

Dokumen terkait