1. IMIGRASI KELAS I KHUSUS SOEKARNO HATTA 237 138 375 152 10 6 18
2. IMIGRASI KELAS I KHUSUS JAKARTA SELATAN 13884 8555 22439 860 6206 3965 2081
3. IMIGRASI KELAS I KHUSUS JAKARTA BARAT 2988 1793 4781 2361 158 300 184
4. IMIGRASI KELAS I JAKARTA TIMUR 1090 526 1616 260 75 282 133
5. IMIGRASI KELAS I JAKARTA PUSAT 5400 2685 8085 1729 1471 349 1580
6. IMIGRASI KELAS I JAKARTA UTARA 6007 2836 8843 4491 199 1185 913
7. IMIGRASI KELAS TANJUNG PRIOK 215 2 217 126 0 0 30
29821 16525 46356 9979 8119 6087 4939
Negara Asal terbanyak : 1. China
2. Jepang 3. Korsel 4. India
Jumlah WNA di DI Jakarta yang mempunyai Dokumen Keimigrasian : 46.356 Laki – laki = 29.821
“Imigrasi hanya memberikan Izin Tinggal saja, sedangkan Izin Kerja merupakan kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan”, pernyataan ini kerap diucapkan oleh Pejabat Imigrasi yang berdinas ketika ditanya persepsinya mengenai Izin Kerja bagi Orang Asing. Hal ini memicu ketertarikan kami untuk menelaah secara singkat dengan analisa logika yang mudah untuk mencoba mengkritisi pendapat sebagian besar Pejabat Imigrasi tersebut.
Pertama, Melirik Perizinan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi dan Kementerian Ketenagakerjaan terkait Perizinan bagi Orang Asing yang bekerja di Indonesia / Tenaga Kerja Asing (TKA) sebagai berikut:
1. Direktorat Jenderal Imigrasi, menerbitkan VISA DENGAN MAKSUD BEKERJA;
2. Kementerian Ketenagakerjaan, menerbitkan IZIN MEMPEKERJAKAN TENAGA KERJA ASING (IMTA).
Berdasarkan nomenklatur perizinan tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada istilah Izin Kerja Bagi Orang Asing di Indonesia.
Lebih lanjut, Petugas Imigrasi di lapangan kadangkali meminta Orang Asing untuk menunjukkan IMTA-nya dengan perkataan sebagai berikut: “Excuse me Sir, Do you have your IMTA?” yang dari sisi bahasa dapat diartikan sebagai “Apakah anda memiliki IMTA?” yang mana jika singkatan tersebut dilengkapi, kalimatnya menjadi “Apakah anda memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing?”. Disini menurut kami terdapat kejanggalan dari sisi bahasa, bagaimana mungkin Seorang Asing memiliki Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing? Karena dari sisi bahasa saja kita bisa menilai bahwa IMTA merupakan perizinan yang diperuntukkan bagi Pemberi Kerja Tenaga Kerja Asing di Indonesia, bukan perizinan bagi Orang Asing untuk bekerja.
Memandang IMTA dari sisi peraturan perundangan, sebagaimana tercantum pada Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 42 menyatakan Pemberi Kerja yang menggunakan TKA wajib memiliki izin tertulis dari Menteri Ketenagakerjaan, subjek dalam hal ini adalah Pemberi Kerja yang diwajibkan memiliki IMTA tersebut, bukan Tenaga Kerja Asingnya.
Dari sudut pandang lain ketika kita melihat dari sisi Orang Asing yang akan bekerja, perizinan yang wajib dimiliki Orang Asing tersebut adalah Visa / Izin Tinggal dengan maksud bekerja yang sesuai dengan peruntukannya. Beberapa jenis visa yang diperuntukkan untuk bekerja sebagai berikut:
a. Visa Tinggal Terbatas untuk bekerja dengan indeks visa C312
b. Visa Tinggal Terbatas Penyatuan Keluarga dengan indeks visa C317 bagi Orang Asing yang kawin secara sah dengan WNI dan anak dari Orang Asing yang kawin sah dengan WNI (Boleh bekerja berdasarkan Pasal 61 UU No. 6 Tahun 2011)
c. Visa Tinggal Terbatas Kemudahan Bekerja Sambil Berlibur dengan indeks visa C320 dengan Visa / Izin Tinggal sebagaimana tersebut diatas Orang Asing dapat melakukan kegiatan bekerja di Indonesia.
ATURAN PIDANA TERKAIT TENAGA KERJA ASING
Melirik ketentuan pidana terkait Tenaga Kerja Asing (TKA), Keimigrasian dan Ketenagakerjaan memiliki perannya masing-masing sesuai dengan kewenangannya.
UU No. 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian Mengatur = Orang Asing yang bekerja Perizinan = Visa dengan maksud bekerja Ketentuan Pidana menjerat :
o Orang Asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai maksud dan tujuan pemberian izin tinggal terhadapnya
o Penjamin yang memberi kesempatan Orang Asing menyalahgunakan izin tinggal
UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Mengatur = Pemberi Kerja
Perizinan = Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing Ketentuan Pidana menjerat :
Pengguna TKA yang tidak memiliki Izin dari Menteri Ketenagakerjaan (IMTA)
CONTOH KASUS 1 :
a. Penjamin Orang Asing / Pemberi Kerja suatu perusahaan bernama “PT. A” telah mendapatkan IMTA untuk mempekerjakan seorang asing yang bernama “Mr. X”
b. Karena suatu hal yang mendesak, “Mr.X” tidak dapat melakukan pengajuan visa di Kedutaan Indonesia, dan memasuki Indonesia dengan Visa On Arrival;
c. Setibanya di Indonesia, “Mr.X” melakukan kegiatan bekerja di “PT. A”.
Perspektif Keimigrasian
Pada contoh kasus sebagaimana diatas, jelas dalam hal ini walaupun sang pemberi kerja dari “Mr. X” yaitu “PT. A” memiliki IMTA, namun mereka melanggar ketentuan pada UU keimigrasian, yaitu Pasal 122 huruf a ditujukan kepada “Mr.X” dan Pasal 122 huruf b kepada “PT. A”, karena “Mr.X” tidak menggunakan Visa dengan maksud bekerja untuk melakukan kegiatan bekerja di Indonesia.
Perspektif Ketenagakerjaan
sedangkan dari perspektif ketenagakerjaan, tidak ada pelanggaran dalam hal ini, karena “PT. A” sudah memiliki IMTA, dan ketentuan pidana peraturan ketenagakerjaan tidak menjangkau TKA.
kesimpulan dari kasus ini, keberadaan IMTA tidak serta merta menyebabkan Orang Asing di Indonesia boleh bekerja, IMTA tersebut mengizinkan pemberi kerja untuk menggunakan TKA, sedangkan Orang Asingnya boleh bekerja ketika ia menggunakan Visa/Izin Tinggal dengan maksud bekerja
CONTOH KASUS 2 :
a. “Mr.X” merupakan seorang asing yang menikah dengan WNI dan merupakan pemegang Izin Tinggal Terbatas;
b. “Mr.X” bekerja di “PT. A”
c. “PT. A” tidak memiliki IMTA untuk mempekerjakan “Mr.X”
Perspektif Keimigrasian
Pada contoh kasus sebagaimana diatas, “Mr. X” sebagaimana ketentuan Pasal 61 UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, menggunakan Visa/Izin Tinggal yang dapat untuk melakukan kegiatan bekerja dan atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Sehingga keberadaan “Mr.X” yang bekerja pada “PT.A.” telah sah secara hukum keimigrasian karena telah tepat jenis visa/izin tinggal yang digunakan yaitu izin tinggal terbatas penyatuan keluarga yang secara khusus diperbolehkan untuk bekerja.
Perspektif Ketenagakerjaan
sedangkan dari perspektif ketenagakerjaan, “PT. A” yang tidak memiliki IMTA untuk mempekerjakan “Mr.X” melanggar ketentuan Pasal 185 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Atas pelanggaran tersebut, pemberi kerja dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 400 juta Ini merupakan tindak pidana kejahatan dan ketentuan pidana peraturan ketenagakerjaan tidak menjangkau TKA.
kesimpulan dari kasus ini, dengan visa yang tepat, Orang Asing dapat melakukan pekerjaan, sedangkan pemberi kerja yang tidak memiliki IMTA tersebut untuk ditindak dengan ketentuan yang berlaku yaitu ketentuan Ketenagakerjaan
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Tantangan dan kendala yang dihadapi dalam perizinan tenaga kerja asing di Indonesia adalah dalam hal kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi persaingan dengan tenaga kerja asing. Tantangan dan kendala tersebut antara lain tingkat pendidikan, tingkat ketrampilan, pembatasan kesempatan kerja, image bahwa tenaga kerja asing lebih berkualitas dari pada pekerja lokal, perbedaan penghargaan terhadap tenaga kerja Indonesia dengan Tenaga kerja Asing, dan kelengkapan pekerja dengan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan formasi. Berdasarakan permasalahan, tantangan dan kendala tersebut, maka pemerintah dan masyarakat Indonesia mutlak
harus meningkatkan kualitas tenaga kerjanya agar mampu bersaing dengan tenaga kerja Asing. Peningkatan kualitas tenaga kerja dapat dilakukan melalui jalur formal, seperti sekolah umum, sekolah kejuruan dan kursus-kursus dan jalur non formal, yaitu melalui latihan kerja, magang, meningkatkan kualitas mental dan spiritual tenaga kerja, meningkatkan pemberian gizi dan kualitas kesehatan, dan meningkatkan pengadaan seminar, workshop yang berkaitan dengan pekerjaan tertentu.
Disamping kendala tersebut diatas, permasalahan TKA illegal yang banyak beredar di Indonesia ini juga merupakan masalah yang sangat serius yang harus dapat cepat diselesaikan bersama-sama tidak bisa hanya mengandalkan satu lembaga atau instansi saja. Peran masyarakat juga sangat diperlukan sebagai bentuk tindak pengawas awal di tempat atau daerah yang mana menjadi wilayah kerja tenaga kerja asing illegal tersebut,
Melihat beragam masalah dalam konteks tersebut, maka kita perlu mengembalikan fungsi imigrasi yang sebenarnya. Pengawasan dan penegakan hukum dalam menjaga kedaulatan negara perlu dikedepankan, cara berpikir kita soal fungsi Imigrasi perlu diluruskan kembali. Kembalikanlah fungsi Imigrasi kepada ruh-nya. Jangan karena pelayanan memberikan sumbangsih kepada pendapatan negara, lalu kita terlena kepada fungsi utama yaitu Pengawasan dan penegakan hukum dalam menjaga kedaulatan negara perlu dikedepankan.
B. Rekomendasi
Berdasarkan pada kesimpulan diatas, maka Tim Kegiatan Peta Permasalahan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, memberikan rekomendasi untuk masalah penegakan hukum keimigrasian terhadap tenaga kerja asing sebagai berikut : 1. Pemerintah Negara Indonesia, khususnya Kementerian Tenaga Kerja
dan Instansi-instansi terkait dalam hal tenagakerja, harus mengutamakan pengupayaan dalam mencari cara untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerjanya agar mampu bersaing dengan tenaga kerja asing baik itu mengenai pendidikan dan pelatihan tenaga kerja maupun dalam hal regulasi atau peraturannya.
2. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam hal ini Direktorat Jenderal Imigrasi, harus mengutamakan masalah ini lebih serius lagi dalam program kerjanya kedepan dengan lebih mengutamakan peningkatkan pengawasan maupun penegakan hukum keimigrasian sebagai salah satu fungsi utama Direktorat Jenderal Imigrasi.
3. Pemerintah Indonesia juga harus lebih lagi meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengawasan tanga kerja asing ini sebagai pengawas permulaan atau ujung tombak diwilayah mereka tinggal.
Demikian Rekomendasi yang dapat diberikan oleh Tim Kegiatan Peta Permasalahan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta semoga dapat digunakan untuk mengatasi masalah Penegakan Hukum Keimigrasian terhadap Tenaga Kerja Asing di Wilayah Provinsi DKI Jakarta pada khususnya dan bermanfaat bagi perkembangan hukum di Negara Indonesia pada Umumnya.