• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : GAME SEBAGAI SALAH SATU KARYA CIPTA DIGITAL

A. Hak Cipta di Indonesia

Keaslian suatu karya, baik berupa karangan atau ciptaan merupaka suatu hal esensial dalam perlindungan hukum melalui hak cipta.Maksudnya, karya tersebut harus benar-benar merupakan hasil karya orang yang mengakui karya tersebut sebagai karangan atau ciptaanya.Demikian juga harus ada relevansi antara hasil karya dengan yurisdiksi apabila karya tersebut ingin dilindungi.

Istilah hak cipta sebenarnya berasal dari negara yang menganut common law, yakni copyright, sedangkan di Eropa, seperti Prancis dikenal droit d’autentur dan di Jerman sebagai urheberecht. Di Inggris, penggunaan istilah copyright dikembangkan untuk melindungi penerbit, bukan untuk melindungi pencipta.

Namun, dengan berkembangnya hukum dan teknologi, maka perlindungan diberikan kepada pencipta serta cakupan hak cipta diperluas tidak hanya mencakup bidang-bidang yang sudah sering seperti buku, musik dan film, tapi termasuk juga foto, lukisan, bahkan software atau perangkat lunak.

Perlindungan hukum melalui hak cipta dewasa ini melindungi karya atau kreasi dari pengerang, pencipta, artis, musisi, dramawan, programer dan lain-lainm yakni melindungi hak-hak pencipta dari perbuatan pihak lain yang tanpa izin mereproduksi atau meniru hasil karyanya.22

22Endang Purwaningsih, Op.cit.

Ada banyak undang-undang sebelumnya yang menyebutkan pengertian hak cipta. Seperti dalam Auteurswet 1912 pasal 1-nya menyebutkan hak cipta adalah hak tunggal daripada pencipta, atau hak dari yang mendapatkan hak tersebut atas hasil ciptaannya dalam lapangan kesusatraan, pengetahuan dan kesenian, untuk mengumumkan dan memperbanyak dengan mengingat pembatasan-pembatasan yang ditentukan oleh undang-undang.23

Kemudian Universal Copyright Convention dalam Pasal V menyatakan bahwa hak cipta meliputi hak tunggal si pencipta untuk membuat, menerbitkan dan memberi kuasa untuk membuat terjemahan dari karya yang dilindungi oleh perjanjian tersebut.24

Pencipta menurut undang-undang yang samadalam pasal 1 poin kedua adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi. Seseorang bisa disebutsebagai pencipta suatu ciptaan apabila namanya:

Hak cipta menurut Pasal 1 Butir 1 Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dari pengertian diatas, ada tiga hal yang bisa dijadikan pokok dari hak cipta tersebut.Yang pertama adalah Pencipta, Ciptaan dan Hak Ekslusif atau Hak Khusus.

23Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hlm.

1. disebut dalam Ciptaan;

2. dinyatakan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan;

3. disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan; dan/atau 4. tercantum dalam daftar umum Ciptaan sebagai Pencipta

5. juga orang yang melakukan ceramah yang tidak menggunakan bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa Pencipta ceramah tersebut dianggap sebagai Pencipta.25

e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi ciptaan, mutilasi ciptaan, modifikasi ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Dalam diri pencipta juga melekat dua hak, yaitu hak moral dan hak ekonomi terhadap suatu ciptaan. Hak Moral adalah hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta untuk:

a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan denganpemakaian ciptaannya untuk umum;

b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;

c. mengubah ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;

d. mengubah judul dan anak judul ciptaan; dan

26

e. pendistribusian ciptaan atau salinannya;

Hak Ekonomi adalah hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan. Pencipta mempunyai hak ekonomi untuk melakukan:

a. penerbitan ciptaan;

b. penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya;

c. penerjemahan ciptaan;

d. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan;

25 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Pasal 31.

26 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Pasal 5 Ayat (1).

f. pertunjukan ciptaan;

g. pengumuman ciptaan;

h. komunikasi ciptaan; dan i. penyewaan ciptaan.27

o. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;

Ciptaan merujuk kepada undang-undang yang sama adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata.Ciptaan yang dilindungi meliputi Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, terdiri atas:

a. buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;

b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan sejenis lainnya;

c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;

e. drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;

f. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;

g. karya seni terapan;

h. karya arsitektur;

i. peta;

j. karya seni batik atau seni motif lain;

k. karya fotografi;

l. Potret;

m. karya sinematografi;

n. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;

p. kompilasi Ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer maupun media lainnya;

q. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;

r. permainan video; dan s. Program Komputer.28

Hak Ekslusif atau Hak Khusus dalam konsep hak cipta, tersimpul 3 (tiga) jenis hak khusus yang dilindungi undang-undang.Ketiga hak khusus itu adalah hak untuk mengumumkan ciptaan, hak untuk memperbanyak ciptaan, hak untuk memberi izin untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaan, tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan hak cipta.29

28 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Pasal 40 Ayat (1).

29 Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi, Hukum Hak Cipta, (Bandung: PT.

Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 115.

Pada perkembangannya, Indonesia pernah memiliki beberapa peraturan perundang-undangan dari zaman kolonial sampai saat ini. Yaitu, Auteurswet 1921, Undang-Undang 1982 tentang Hak Cipta, Undang-Undang 1997 tentang Hak Cipta, Undang-Undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta dan yang terakhir adalah Undang-Undang Hak Cipta No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Pada Zaman Kolonial Belanda ketika Kerajaan Belanda mengundangkan Auteurswet 1921 di Indonesia, Belanda adalah sebagai dari negara Eropa Kontinental yang mengikuti jejak negara-negara lain yang mengikatkan diri kepada Konferensi Bern Tahun 1886.30

Setelah Zaman Kolonial Belanda, masuklah Indonesia ke Zaman Kolonial Jepang.Dimana, selama masa itu, Indonesia secara de facto tidak mengenal hubungan internasional.Hal ini menyebabkan tidak adanya tempar untuk memberlakukan hukum hak cipta, sehingga hak cipta berada dalam kedudukan

Auteurswet 1921 menetapkan bahwa masa berlaku hak cipta (dalam arti hak ekonomi) akan habis (bagi karya-karya yang dibuat setelah dan sebelum peraturan tersebut diundangkan) 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia, terhitung sejak tanggal 1 Januari pada tahun meninggalnya pencipta untuk segala ciptaanya.

Auteurswet 1921 hanya memisahkan pengaturan karya sinematografi di dalam ketentuan masa berlaku hak cipta. Sehingga ciptaan lain, akan habis masa berlaku hak ciptanya 70 tahun setelah tahun meninggalnya dari pencipta.

Auteurswet 1921 mengatur bahwa karya sinematografi habis masa berlaku hak ciptanya mengikuti tahun dari orang yang terlibat dalam pembuatan karya tersebut yang urutannya adalah: 1) Sutradara Utama; 2) Penulis Skenario; 3) Penulis Dialog; 4) dan Pembuat Aransemen Musik.

status-quo pada waktu itu.Artinya, sampai Indonesia mampu membuat UUHC sendiri, maka Auteurswet 1921 masih dipergunakan.31

Sejak tahun 1982, RI telah menyiapkan undang-undang hak cipta lain, yaitu UU No. 5 tahun 1986 yang kembali diubah dengan UU No. 7 tahun 1987 dan terakhir diubah lagi dengan UU No. 12 tahun 1997. Perubahan di tahun 1997 dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIP’s) yang merupakan lampiran dari Agreement Establishing the World TradeOrganization.

Namun dalam UU No. 6 tahun 1982 dan UU No. 7 tahun 1987 tidak mengatur sama sekali tentang hak moral dan hak ekonomi. Dari perumusan tentang apa itu hak cipta, jelas sekali bahwa kedua undang-undang itu lebih memaknai hak cipta sebagai “copyright” (hak memperbanyak) bukan “author’s rights” (hak pencipta).

Selama 70 tahun memakai Auteurswet 1921 dan setelah lepas dari belenggu penjajahan, Indonesia mengundangkan UUHC sendiri yaitu Undang-Undang nomor 6 Tahun 1982 yang merupakan produk hukum nasional pertama yang mengatur pelindungan hak cipta. Peraturan ini menerapkan masa berlaku hak cipta, dalam arti hak ekonomi, akan habis 25 tahun setela penciptanya meninggal dunia, dan 15 tahun setelah karyanya pertama kali dipublikasikan untuk karya fotografi dan sinematografi. Undang-Undang ini belum mengatur tentang hak moral pencipta.

32

Selanjutnya, UUHC kembali diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002.Empat kali perubahan undang-undang yang pernah dimiliki Indonesia

31Ibid, hlm. 81.

32Ibid, hlm. 82.

menunjukkan perubahan berarti dalam makna dan perumusannya.Undang-Undang ini adalah tonggak penting dalam pengakuan hak moral dan hak ekonomi dalan sejarah UUHC Indonesia, walau perumusannya masih kabur dan ambigu.33

Berbeda dengan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 yang merumuskan defenisi hak moral dan hak ekonomi pada begian penjelasan umum, Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 tahun 2014 sebagai pengganti undang-udang tersebut menyatakan dengan lebih ekplisit dalam rumusan norma pada batang tubuhnya (pasal 4 dan pasal 5).34

Perumusan undang-undang ini memiliki landasan filosofis yang lebihjelas dibandingkan dengan UU sebelumnya. Dengan dasar filosofis yang jelas, maka sebenarnya pembuat UUHC Indonesia harus bersikap bahwa hak moral adalah hak yang tidak bisa direduksi menjadi hak ekonomi, sebagaimana konsep hak moral yang menyatu dengan penciptanya, seperti di Prancis dan Kanada. Apalagi konsep hak moral yang jika ditelusuri berasal dari konsep droit morale (Prancis) menyatakan adanya kesatuan antara pencipta dan ciptaannya.35

Hal menonjol dalam undang-undang ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan sastra, sudah sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan dan jaminan kepastian hukum bagi pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait dan bahwa Indoensia telah menjadi anggota berbagai perjanjian internasional di bidang hak cipta dan hak terkait sehingga diperlukan implementasi lebih lanjut dalam sistem hukum

33Ibid, hlm. 83.

nasional agar para pencipta dan kreator nasional mampu berkompetisi secara internasional.

Peningkatan perlindungan dan jaminan kepastian hukum tersebut tercermin dalamm rumusan hak moral dan hak ekonomi yang lebih tegas dalam rumusan pasal-pasal UUHC 2014 tersebut.Dalam UUHC 2014 tersebut diatur lebih rinci bahwa hak cipta merupakan hak ekslusif yang tersdiri dari hak moral dan hak ekonomi.Jaminan perlindungan dan kepastian hukum tersebut diwujudkan dalam jangka waktu perlundugnan untuk hak moral dan hak ekonomi.

Dalam UUHC 2014, jangka waktu perlindungan bidang tertentu akan diperpanjang menjadi 70 (tujuh puluh) tahun setelah pencipta meninggal dunia.

Hal ini akan berdampak pada jaminan perlindungan hak ekonomi yakni pembayaran royalti dengan masa yang lebih panjang.36

Pada dasarnya, pelanggaran hak cipta terjadi apabila materi hak cipta tersebut digunakan tanpa izin dan harus ada kesamaan antara dua karya yang ada.

Si penuntut harus membuktikan bahwa karyanya ditiru atau dilanggar atau dijiplak, atau karya lain tersebut berasal dari karya ciptaannya. Hak cipta juga dilanggar bila seluruh atau bagian substansial dari ciptaan yang terlah dilindungi hak cipta telah disalin.Tugas pengadilanlah untuk menilai dan meneliti apakah bagian yang digunakan tersebut penting, memiliki unsur pembeda atau bagian yang mudah dikenali.Substansi yang dimaksud adalah bagian yang penting bukan bagian dalam jumlah besar.37

36Ibid, hlm. 120.

37 Endang Purwaningsih, Op.cit. hlm. 6.

Dokumen terkait