• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosiodrama untuk Peningkatan Kemampuan Prososial

BAB IV PENINGKATAN KEMAMPUAN PROSOSIAL MELALUI METODE

B. Sosiodrama untuk Peningkatan Kemampuan Prososial

Selain metode bermain peran, dalam metode pembelajaran juga ada istilah metode sosiodrama. Baik metode bermain peran maupun sosiodrama sebenarnya sebagai suatu metode pembelajaran yang memiliki makna, persiapan dan pelaksanaan yang sama. Tujuan dan manfaat yang diperoleh dari metode bermain peran dan sosiodrama juga tidak jauh berbeda.

Istilah sosiodrama berasal dari kata sosio atau sosial, dan drama. Sosio menunjukkan bahwa metode tersebut dilakukan oleh beberapa orang (peserta didik) yang saling berinteraksi dalam melakonkan suatu drama. Sedangkan kata drama menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dalam kehidupan manusia. Pada umumnya isi cerita drama mengisahkan tentang suatu konflik sosial, pergolakan, perselisihan atau kesalahpahaman antara dua orang atau lebih.

Seperti yang dijelaskan pada sub bab sebelumnya bahwa bermain peran (role play) juga menggambarkan adanya suatu cerita yang dilakonkan oleh beberapa orang (peserta didik).

Dalam role play lebih menekankan pada peran dan ekspresinya, yakni untuk menggambarkan sikap perilaku orang yang dimainkannya, misalnya berperan sebagai guru, orang tua, anak

yang sombong, anak yang baik hati, atau peran tentang profesi-profesi pekerjaan.

Begitu pula tentang sosiodrama, merupakan suatu metode pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan memainkan peran tentang suatu fenomena sosial. Tentu saja fenomena sosial yang ‘diangkat’ oleh guru menjadi sebuah cerita, terkait dengan kondisi atau kemampuan sosial peserta didiknya. Melalui metode sosiodrama tersebut guru ingin mengajarkan cara-cara bertingkah laku sesuai alur cerita dan masalah yang diungkapkan. Sosiodrama lebih menekankan khususnya pada tujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena atau persoalan sosial, yang menyangkut hubungan antara manusia. Masalah sosial yang sering ‘diangkat’ dalam sosiodrama misalnya tentang kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, masalah perselisihan keluarga, atau perselisihan antar teman di sekolah.

Metode Sosiodrama merupakan suatu metode pembelajaran bermain peran yang juga bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial. Sosiodrama berguna pula untuk menanamkan kemampuan menganalisis situasi sosial tertentu. Dalam sosiodrama guru mempersiapkan sebuah cerita yang diangkat dari kehidupan sosial.

Dalam sosiodrama peserta didik diharapkan terlibat aktif dan berpartisipasi dengan memainkan peran-peran sesuai isi cerita dalam sebuah drama. Peserta didik juga diajak guru untuk menganalisis situasi sosial, melakukan refleksi terhadap masing-masing peran. Melalui refleksi tersebut, peserta didik diharapkan mampu memahami perlunya perubahan perilaku khususnya

dalam hubungannya dengan kelompok temannya atau lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa sosiodrama merupakan suatu metode pembelajaran dengan cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial.

Dalam sosiodrama, peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi dan problem sosial agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari situasi sosial tersebut. Oleh karena itu, sosiodrama sangat membantu dalam memberikan pemahaman dan penghayatan tentang suatu masalah sosial serta pemecahannya pada peserta didik. Selain itu, sosiodrama dapat digunakan juga untuk mengembangkan kemampuan prososial peserta didik.

2. Tujuan Metode Sosiodrama

Beberapa ahli pendidikan sudah merumuskan secara rinci tentang tujuan sosiodrama. Rincian tujuan tersebut sebenarnya merupakan perwujudan indikator dari kemampuan prososial peserta didik. Sebagai contoh tujuan sosiodrama yang dikemukakan oleh Nana Sudjana (2009) sebagai berikut:

1) Dapat belajar bertanggung jawab

2) Peserta didik dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain

3) Dapat mengambil keputusan

4) Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah.

Selain bertujuan seperti di atas, Ahmad Munjih Nasih (2009) juga menambahkan secara rinci tujuan sosiodrama, seperti sebagai berikut :

1) Supaya peserta didik mendapatkan keterampilan sosial.

2) Menghilangkan perasaan malu dan rendah diri yang tidak pada tempatnya

3) Mendidik dan mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan pendapat.

4) Membiasakan diri untuk sanggup menerima dan menghargai orang lain.

5) Sosiodrama ini akan lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sikap kepribadian.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metode sosiodrama dapat menumbuhkan sikap positif, khususnya untuk mengembangkan kemampuan prososial peserta didik. Selain itu, sosiodrama juga bertujuan untuk memberi pemahaman pada peserta didik tentang suatu masalah sosial, dan menanamkan kemampuan menganalisis situasi sosial beserta pemecahannya.

3. Langkah-Langkah Penerapan Metode Sosiodrama

Penerapan sosiodrama sebagai suatu metode pembelajaran tentu membutuhkan persiapan dan langkah-langkah yang cukup panjang. Hal ini tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah penerapan metode bermain peran, yang membutuhkan persiapan dan tindakan yang cukup panjang juga.

Menurut Sanjaya, (2013), langkah-langkah penerapan metode sosiodrama yang harus dilaksanakan oleh seorang guru –

khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia - adalah sebagai berikut:

1) Guru menetapkan topik atau masalah yang nanti akan diperankan.

2) Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan diperankan.

3) Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peran yang harus dimainkan oleh para pemain serta waktu yang disediakan untuk memainkan perannya.

4) Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya terkait dengan perannya dalam simulasi.

5) Peserta didik yang bertugas sebagai kelompok pemeran, mulai mensimulasikan dramanya. Para peserta didik lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.

6) Guru memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan

7) Simulasi dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong peserta didik berpikir dalam menyelesaikan masalah yang disimulasikan.

8) Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan. Guru harus mendorong peserta didik agar dapat memberikan kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.

9) Menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut.

Jika dikaji, nampaknya pandangan Sanjaya mengenai langkah-langkah penerapan metode sosiodrama menggambarkan bahwa pertama, sosiodrama lebih ditekankan

pada pembelajaran bahasa Indonesia. Kedua, keseluruhan peserta didik harus aktif dalam pembelajaran yang menggunakan sosiodrama, yakni ada yang berperan, dan ada pula yang aktif memperhatikan. Ketiga, guru selalu mengkoordinasikan sejak persiapan hingga pasca sosiodrama diterapkan. Keempat, dalam sosiodrama terdapat masa tenggang (berhenti sejenak) untuk memberi kesempatan pada peserta didik agar berpikir dalam menyelesaikan masalah yang didramakan.

Meskipun demikian, menurut hemat penulis, sosiodrama dapat digunakan untuk semua mata pelajaran, bukan hanya untuk mata pelajaran bahasa Indonesia saja. Namun, guru harus pintar-pintar memilih pokok bahasan atau materi yang akan dikaji melalui metode sosiodrama tersebut karena tujuan utama penerapan sosiodrama lebih menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mengembangkan sikap dan perilaku prososialnya.

BAB V

PRETEND PLAY DAN TEORY OF MIND

Dalam upaya meningkatkan kemampuan prososial peserta didik, guru pada umumnya banyak menerapkan metode sosiodrama dan bermain peran (role play). Selain kedua metode tersebut, sebaiknya guru juga perlu memahami pretend play sebagai salah satu metode pembelajaran yang berkiatan dengan upaya peningkatan kemampuan prososial peserta didik. Ketiga metode pembelajaran tersebut memiliki kesamaan yakni melibatkan peserta didik dalam suatu peran dan membutuhkan persiapan yang cukup panjang.

Pada bab 4 sudah diuraikan bahwa baik sosiodrama maupun role play sebagai suatu metode pembelajaran yang memiliki kesamaan, hanya penekanan pencapaian tujuannya yang berbeda. Dibanding ke dua metode tersebut, metode pretend play memiliki perbedaan baik pada aspek tujuannya maupun tahap pelaksanaannya. Oleh karena itu, pembahasan pretend play dijelaskan secara terpisah dengan kedua metode tersebut. Pada bab 5 ini menguraikan tentang pengertian pretend play, dan keterkaitan pretend play dengan suatu teori, khususnya dengan teory of mind.

A. Pengertian Pretend Play

Jika kita membahas pretend play, maka kita pasti juga membahas mengenai bermain, khususnya bagi anak-anak. Bagi anak-anak, dunia bermain merupakan suatu hal yang tidak

terpisahkan dari dirinya karena bermain merupakan bagian besar dari aktivitasnya. Bermain adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan dan penting bagi anak. Bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak untuk mencapai perkembangan yang utuh baik secara fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional. Oleh karena itu, dalam bermain anak mulai belajar tentang dunia sekitarnya dengan seluruh panca indera yang ia miliki.

Pretend Play merupakan suatu metode pembelajaran dengan cara bermain pura. Dalam bermain berpura-pura atau disebut pula bermain peran, anak berperan sesuai dengan isi cerita yang disiapkan.

Pretend play sebagai metode pembelajaran tepat dilakukan oleh anak-anak, khususnya mulai pada tahap pra operasional sampai tahap operasional yakni pada usia 2 tahun sampai usia 6-7 tahun. Piaget juga menjelaskan bahwa aktivitas pretend play mulai muncul pada anak usia 2 tahun atau pada tahun kedua kehidupan anak (Morelock, 2010). Hal ini didukung oleh penelitian Sheridan bahwa pretend play dengan simbolis terjadi pada tahap pra operasional sampai tahap operasional atau pada usia 2 sampai 7 tahun. Dalam bermain pretend play anak mengembangkan kemampuan seperti kemampuan kognitif, mandiri, sosial dan keterampilan dalam berbicara (Sheridan, Justine, & Alserson, 2011).

Menurut Purwandari (2003) bahwa pretend play adalah permaian aktif yang banyak dilakukan oleh anak-anak. Saat bermain, anak menggunakan imajinasinya, berkhayal atau berpura-pura dengan menggunakan media dan alat permainan.

Sedangkan Piaget (dalam Santrock, 2007) mengemukakan bahwa dalam pretend play anak belajar menyesuaikan dengan bermain

mengungkapkan pengalaman hidup dengan cara yang menyenangkan.

Sedangkan Suminar (2009) menambahkan bahwa pretend play berbeda dengan role play, karena role play lebih menekankan pada peran yang dimainkan sedangkan pretend play lebih menekankan pada peraturan permainan dan peralatan atau media yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan imajinasi anak saat bermain.

Pandangan Purwandari di atas senada dengan pendapat Parson (2013), yang menyatakan bahwa pretend play adalah bermain peran dengan cara berpura-pura yaitu anak berimajinasi memerankan sikap dan perilaku orang lain. Hal ini juga didukung hasil penelitian Fehr, Karla K. & Sandra W. Russ (2013) yang menjelaskan bahwa pretend play adalah bermain berpura-pura dengan menggunakan media dan alat permainan untuk mendukung munculnya imajinasi anak. Dengan demikian, permainan tersebut sangat merangsang perkembangan sosial, autonomy dan kecakapan bahasa anak.

Russ (dalam Fathrya & Lestari, 2014) juga menjelaskan bahwa pretend play adalah permainan drama sosial yang melibatkan penggunaan imajinasi dengan menggunakan simbolisasi atau media yang mendukung permainan.

Ditambahkan oleh Davis (2017) bahwa pada permainan pretend play anak-anak berimajinasi seolah menjadi seorang tokoh favoritnya yang dilengkapi dengan peralatan atau media yang mendukung permainan tersebut.

Berdasar berbagai penjelasan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pretend play adalah suatu metode pembelajaran dalam bentuk permainan yang dilakukan oleh anak-anak, dengan cara berpura-pura atau anak berkhayal atau

anak menggunakan imajinasinya. Dalam melakukan permainan pretend play, anak perlu disediakan objek, benda-benda, media atau peralatan yang sesuai cerita agar imajinasi anak berkembang.

B. Keterkaitan Theory of Mind dengan Pretend Play

Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa pembinaan atau pengembangan karakter peserta didik dikembangkan melalui proses pendidikan, sosialisasi serta melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan kelompok.

Keefektifan suatu pendidikan pada anak tentu akan dapat dicapai ketika para orang dewasa atau pendidik memahami kehidupan anak dan memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak-anak. Melalui keterlibatan secara langsung dalam kegiatan kelompok maka diharapkan peserta didik mengalami insight tentang perilakunya yang tepat bagi dirinya maupun terhadap keompoknya. Saat anak melangsungkan perannya dalam pretend play, maka anak melakukan aktivitas dan larut dalam aktivitas tersebut.

Pada era psikologi perkembangan terbaru mulai memperhitungkan perkembangan Theory of mind pada anak sebagai dasar dalam membangun karakter anak. Theory of mind bukanlah sebuah teori. Theory of Mind yang selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan TOM adalah kemampuan anak dalam memahami status mental diri dan orang lain. TOM adalah salah satu aspek perkembangan kognitif sosial yaitu tentang kemampuan anak dalam memahami pikiran, perasaan diri sendiri dan orang lain. Status mental ini akan berfungsi bagi anak untuk memahami, menerangkan atau memprediksi perilaku melalui

TOM adalah kemampuan anak dalam memahami status mental diri dan orang lain, yang pengembangannya dikaitkan dengan proses bermain pretend play. Ketika seorang anak mampu mengembangkan kecerdasan emosinya, yang terdiri dari pemahaman terhadap diri, disiplin diri, dorongan, pemahaman terhadap hubungan dengan orang lain dan kecakapan sosial, maka dapat dikatakan anak telah memahami diri sendiri dan orang lain.

Pemahaman terhadap diri adalah kemampuan anak dalam memahami emosi, keinginan dan keyakinan dirinya sendiri. Disiplin diri adalah kemampuan anak dalam menekan impuls-impuls negatif, sehingga anak mampu menekannya agar tidak muncul. Misalnya ketika anak merasa jengkel terhadap perilaku temannya ketika bermain, maka anak berusaha untuk tidak merusaknya karena kesadaran tentang reaksi temannya juga berakibat pada dirinya. Aspek dorongan nampak ketika anak bermain dengan semangat dan berkeinginan untuk bermain.

Pemahaman terhadap hubungan dengan orang lain adalah kemampuan anak dalam memahami tentang perilaku orang lain.

Sedangkan kecakapan sosial adalah kemampuan anak untuk merasa nyaman dalam berbagai situasi. Semakin lama anak bermain anak merasa nyaman dengan situasi yang ada.

Doherty (2009) menyatakan dengan memahami keyakinan dalam dirinya maka seorang anak akan mampu dalam (1). Memprediksi perilaku, artinya dengan TOM anak memiliki perilaku yang dapat diramalkan. Jika diketahui apa yang diinginkan dan diyakini, maka perilaku dapat dikenali. Hal ini karena perilaku dilakukan untuk memuaskan yang diinginkan dan juga karena adanya keyakinan kalau hal itu benar. Ketika anak berkembang TOMnya, maka dia akan mampu memprediksi perilaku yang dilakukan orang lain dan akan mampu

memperkirakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. (2).

Menerangkan perilaku, artinya ketika anak mampu berkembang TOM nya, maka anak akan mampu memaknai perilaku seseorang. Jika seseorang melakukan sesuatu yang berbahaya, aneh ataupun yang tidak biasanya, maka hal itu dapat ditelusuri dari apa keyakinan dan keinginannya. Anak yang terasah TOM nya akan mampu memaklumi sebuah perilaku, karena perilaku dilihat dari apa yang melatarbelakangi yaitu keyakinan dan keinginan dari orang tersebut. (3). Memanipulasi perilaku, artinya bahwa dengan TOM anak mampu membuat perilaku untuk meyakinkan orang lain agar berperilaku dan kemudian anak akan mampu mendeteksi bahwa perilaku yang dilakukan oleh orang lain hanya pura-pura dan tidak sungguh-sungguh.

Selain dari tiga alasan tersebut sebagai unsur penguat dari keyakinan, maka untuk memunculkan sebuah perilaku maka perlu didukung dari unsur keinginan. Keyakinan dan keinginan adalah dua unsur yang membuat perilaku dapat dianalisis dari fungsinya memprediksi perilaku, menerangkan perilaku dan memanipulasi perilaku. Anak yang berkembang TOM nya akan mampu mengembangkan status mentalnya dalam memprediksi, menerangkan dan memanipulasi perilaku baik dari sisi dirinya dan dalam memahami perilaku orang lain.

Dengan kata lain dalam TOM lebih melihat pada aspek yang melatar belakangi sebuah perilaku dan bukan pada perilaku itu sendiri. Dasar pemikiran utama dalam TOM adalah bahwa orang berperilaku untuk memenuhi keinginannya dan didasari oleh keyakinannya. Dengan demikian ketika menggunakan TOM untuk mengetahui tentang perilaku berarti adalah proses dalam memahami mengapa perilaku itu dilakukan dan dasar keyakinan apa yang mengantarkannya. Akibatnya dengan TOM anak

akhirnya berkembang ketrampilan dalam memaknai dan memahami perilaku orang lain.

Seperti diketahui kecerdasan emosi (EQ) diyakini cukup berperan pada keberhasilan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (IQ). Goleman (1999) menuliskan bahwa kecerdasan emosi sifatnya lebih lentur dibandingkan dengan kecerdasan intelektual, karena EQ dapat berkembang melalui proses belajar dan dari pengalaman diri seseorang. Unsur-unsur dalam kecerdasan emosi meliputi pemahaman terhadap diri sendiri (personal insight), disiplin diri (interpersonal insight), dan kecakapan sosial (social agility). Apabila dilihat secara garis besar akar kekuatan dalam kecerdasan emosi (EQ) adalah kemampuan anak dalam memahami dirinya sendiri dan bagaimana anak memahami orang lain. Dari unsur pemahaman terhadap diri dan orang lain inilah yang nantinya akan mengasah kecakapan sosialnya. Status mental yang mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman orang lain ini dapat dikembangkan dengan memperhatikan perkembangan theory of mind.

Hampir seluruh waktu anak dilakukan untuk bermain sehingga menjadi pembiasaan bagi anak. Pembiasaan tersebut, selanjutnya dapat menjadi bagian dari pribadi anak, mengingat kepribadian terbentuk dari kebiasaan. Bermain memberikan efek yang menyenangkan bagi anak yang bermain. Mc. Cune – Nicolich & Feuson (1984, dalam Lidz 2003) menyampaikan bahwa bermain memiliki kriteria antara lain mengejar kesenangan sendiri, lebih fokus pada arti atau proses daripada akhir, mengarah pada eksplorasi objek agar dapat melakukan sesuatu dengan objek, tidak dipertimbangkan sebagai sebuah usaha yang serius sebab tidak ada hasil realistik yang diharapkan, tidak diperintah oleh aturan-aturan dari luar, dan dikarakteristikkan dengan pemakaian waktu yang aktif dari

permain. Dengan demikian, karena bermain adalah aktivitas yang menyenangkan maka yang terjadi adalah muncul keinginan untuk mengulanginya. Peran aktif dari pemain memberikan efek pada penguatan aspek yang dirangsang dari bermain.

Melalui pretend play anak juga memahami mental representations. Dengan kemampuan ini anak akan memahami bagaimana reaksi orang lain dan apa yang harus dilakukan untuk mengimbangi reaksi orang lain. Curran (1999) menyebutkan bahwa dalam bermain pretend play anak akan melihat sebuah rangkaian perilaku yang akan dilakukan dan melaui rangkaian perilaku tersebutlah anak mengembangkan peran yang harus dimainkannya. Dalam hal ini nampak bahwa dengan adanya pergantian peran tersebut, seorang anak akan melakukan pergantian peran dari yang berkuasa menjadi anak yang tidak berkuasa dan perubahan posisi ini akan membantu anak dalam menghayati emosi yang ada. Contohnya ketika anak melakukan permainan dokter, saat tertentu anak menjadi seorang dokter dan saat yang lain ia akan menjadi yang sakit. Ekspresi yang dikeluarkan anak ketika memainkan hal tersebut membuktikan bahwa anak telah belajar emosi dan peran yang harus dimainkannya. Oleh karena itu dalam memainkan permainan pretend play ini akan menjadi lebih baik dilakukan dalam bermain bersama, bukannya sendirian (solitary pretend play).

Proses bagaimana theory of mind dalam bermain akan mampu membangun karakter anak dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1. Dinamika pretend play, theory of mind dan membangun karakter

Berdasarkan gambar 1 tersebut di atas, maka dapat dijelaskan bahwa dalam melakukan bermain pretend play secara berkelompok seorang anak melakukan rangkaian aktivitas bermain yang didalamnya mengandung unsur memprediksi, menerangkan dan memanipulasi sehingga anak mampu memahami diri dan juga memahami orang lain. Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan anak, sehingga memungkinkan dilakukan secara berulang-ulang. Kegiatan yang berulang-ulang ini membentuk kebiasaan anak dan akhirnya menguatkan pemahaman status mental diri dan orang lain. Terjadilah pengembangan theory of mind anak, yang memberikan dampak membangun karakter anak.

Karakter empati dan toleransi anak terbentuk dengan seringnya dalam proses bermain pretend play secara

Bermain Pretend

berkelompok. Anak tidak dapat memaksakan kehendaknya pada anak yang lain dan reaksi dalam memainkan peran dan alat mainan yang dilakukan disadari akan berdampak pada anak yang lain. Akibatnya pemahaman terhadap status mental diri dan orang lain ini mendasari terbentuknya toleransi dan empati anak.

Kreatif anak akan terarah dalam bermain pretend play secara berkelompok ketika anak lain melakukan aktivitas tertentu akan membangkitkan ide bagi anak untuk melakukan sesuatu. Kreatif ini juga muncul ketika anak melakukan proses simbolisasi. Semakin sering simbolisasi dilakukan dalam bermain pretend play secara berkelompok akan merangsang anak tentang pemahaman perilaku orang lain khususnya aspek manipulasi perilaku dalam theory of mind. Bermain pretend play secara berkelompok ini akan merangsang anak dalam melakukan komunikasi dengan anak yang lain. Komunikasi yang dilakukan dan pergantian peran, dimana satu saat anak sebagai orang yang memimpin saat yang lain sebagai anak yang dipimpin oleh temannya, menjadikan anak lebih percaya diri. Selain itu dengan ketrampilan dalam memahami emosi diri dan orang lain, akan menjadikan kecerdasan anak terasah.

Secara keseluruhan gambar 1 menjelaskan bahwa bermain pretend play secara berkelompok akan mengaktifkan perkembangan theory of mind anak sehingga anak mampu mengembangkan status mental dirinya dan orang lain. Sifat bermain yang terus menerus akan menguatkan dan menjadikan kebiasaan. Kebiasaan ini akan menjadi bagian dari pribadi anak.

Karakter anak semakin menguat, khususnya karakter yang menyangkut bagaimana sebaiknya berinteraksi dengan orang lain.

BAB VI

PELAKSANAAN PRETEND PLAY

Sama halnya dengan penerapan satu metode pembelajaran, dalam menerapkan metode pretend play guru juga harus mempersiapkan terlebih dahulu sehingga pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diharapkan, dan tujuan dapat tercapai pula. Ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh guru sebelum menerapkan pretend play sebagai suatu metode pembelajaran yakni tujuan, ciri-ciri dan aspek yang perlu diperhatikan, serta tahap-tahap pelaksanaannya. Bab 6 ini menguraikan hal-hal yang perlu dipahami oleh guru seperti di atas.

A. Tujuan Penerapam Pretend Play

Dalam isi teorinya Piaget menyatakan bahwa anak

Dalam isi teorinya Piaget menyatakan bahwa anak