• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Karakter melalui Pengalaman Hidup

BAB II PERLUNYA PEMBINAAN KARAKTER

C. Pembinaan Karakter melalui Pengalaman Hidup

C. Pembinaan Karakter melalui Pengalaman Hidup

Salah satu strategi yang dianggap cukup efektif dalam pembinaan karakter adalah pelibatan peserta didik dalam suatu kegiatan. Melalui pelibatan dalam suatu kegiatan tersebut diharapkan membuahkan pengalaman bagi peserta didik, yang selanjutnya mendukung kemampuan refleksi diri peserta didik guna memahami keberadaan dirinya.

Pemahaman tentang diri sendiri merupakan salah satu aspek penting untuk mendukung pada evaluasi agar menjadi individu yang berkarakter. Hal ini akan terjadi jika individu menyadari perlunya refleksi diri. Melalui refleksi diri tersebut dharapkan seseorang mampu melihat keberadaan dirinya yakni kelebihan maupun kekurangan, dan memahami bahwa dirinya perlu suatu perubahan sikap maupun perilakunya.

Upaya perubahan sikap dan perlaku diri tersebut sesuai dengan pandangan Baswardono (2010) yang mengatakan bahwa suatu hal yang perlu Anda ingat saat mempelajari daftar karakter: Tuhan tidak pernah berhenti mencintai kita, walau barang sejenak, karena “setiap orang berdosa memiliki masa lalunya, dan setiap orang suci memiliki masa depannya”. Dengan kata lain, jika Anda atau anak-anak memiliki sifat karakter yang Anda anggap buruk, menjengkelkan, bahkan tidak saleh, ingat bahwa karakter itu selalu mungkin untuk berubah. Kesadaran untuk mau melakukan perubahan sikap dan perilaku itulah merupakan langkah awal menuju manusia yang berkarakter.

Perlu dipahami bahwa karakter yang dimiliki oleh seseorang dapat berubah ketika mengalami suatu kejadian atau menyelami (memahami makna) suatu kejadian di waktu yang lain. Kesadaran diri seseorang untuk berubah terkadang harus melalui suatu pengalaman. Oleh karena itu, pembinaan karakter tidak akan efektif jika hanya melalui tutorial tanpa ada pelibatan peserta didik melalui pengalaman. Perubahan sikap dan perilaku akan dapat terjadi secara intensif jika individu dilibatkan secara aktif dalam suatu kegiatan sehingga mendapatkan pengalaman.

Dalam dunia pendidikan kita mengenal suatu motto bahwa belajar yang paling efektif adalah melalui pengalaman.

Pandangan ini sudah dikenalkan oleh Piaget sejak lama dalam

teori kognitifnya. Melalui pengalaman atau keterlibatan secara langsung dalam situasi atau kegiatan belajar, maka seseorang dapat menemukan makna dari kegiatan belajarnya. Makna yang dimaksud bukan hanya mengenai tentang memahami konsep suatu materi belajar belaka, tetapi juga terkait tentang memahami pentingnya mengalami suatu perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupannya.

Terkait hal tersebut, menurut Baswardono, (2010), sekolah kehidupan – dalam hal ini pengalaman hidup - memaksa kita untuk menjadi lebih penuh kasih, membimbing kita untuk menuju daftar karakter yang baik. Begitulah, daftar pribadi sifat karakter kita juga berubah. Oleh karena itu, pelajaran pendidikan karakter terbaik ya hidup itu sendiri, bukan pembelajaran intelektual tetapi dengan ‘mencemplungkan’ anak-anak ke dalam kehidupan nyata yang selama ini mungkin selalu mereka hindari atau, lebih sering lagi, sengaja dijauhkan oleh orangtua mereka dengan alasan “demi keamanan dan kesejahteraan anak-anak kami”

Pembinaan karakter peserta didik melalui pengalaman tersebut dapat dilakukan dimanapun, di rumah, di sekolah, di kantor atau bahkan di lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Pembinaan karakter dilakukan oleh orang yang lebih dewasa kepada orang lain yang lebih muda. Di bawah ini diulas beragam pembinaan karakter berdasar lokasinya, khususnya kepada peserta didik.

1. Pembinaan Karakter di Sekolah

Pendidikan memiliki peran sangat penting dalam pembangunan bangsa. Diharapkan melalui pendidikan, individu mampu mengembangkan potensinya sehingga bisa dikontribusikan bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, seluruh

lapisan masyarakat wajib menempuh pendidikan 12 tahun; jika mampu diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Dalam latar belakang dokumen Kurikulum 2013 juga disebutkan bahwa agar peserta didik menjadi manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri maka diperlukan pengembangan kurikulum yang berbasis pada kompetensi. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berkaitan dengan hal tersebut, lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam pengembangan karakter peserta didiknya.

Pembinaaan karakter sangat diperlukan bagi semua peserta didik, tidak terkecuali, apalagi bagi peserta didik yang memiliki persoalan dalam berperilaku, dan juga bagi peserta didik yang memiliki potensi untuk nantinya menjadi generasi penerus bangsa. Upaya pembinaan karakter peserta didik di sekolah dapat dilakukan melalui berbagai cara yakni dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstra sekolah, kegiatan wisata maupun out door.

Guru sebagai pendidik di sekolah bukan hanya bertugas untuk melakukan kegiatan pembelajaran semata, atau bahkan menyampaikan materi belaka, tetapi yang terlebih penting selama pembelajaran adalah juga membina sikap dan perilaku serta didiknya agar peserta didik menjadi insan yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Dalam upaya tersebut, maka guru dapat menggunakan beragam metode

pembelajaran yang menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif. Beberapa metode pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik secara aktif dan bersifat kelompok misalnya metode discovery, metode penugasan kelompok, metode pembuatan proyek bersama, metode diskusi kelompok, metode permainan, dan masih banyak metode yang dapat diimplementasikan guru. Melalui penerapan beragam metode di atas secara bergantian, maka diharapkan peserta didik bukan hanya mendukung pada mudahnya pemahaman terhadap suatu konsep materi belajar tetapi juga mendukung pada pengembangan karakter peserta didik. Penerapan metode pembelajaran yang mendukung belajar secara bersama di atas setidak-tidaknya dapat mengembangkan karakter peserta didik seperti Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab.

Di pihak lain, pemberian keteladanan oleh guru juga penting dalam upaya pembinaan karakter. Guru diharapkan bukan hanya pintar dalam omongan belaka, tetapi harus dapat memberi contoh dan teladan bagi peserta didiknya. Dalam pembinaan karakter, memberikan keteladanan sebagai cerminan sebagai warga yang berkarakter, tentu akan lebih efektif dari pada hanya pemberian teori atau pembelajaran di kelas tentang pendidikan karakter. Dalam hal ini terdapat pepatah Jawa yang berbunyi “Guru iku iso digugu lan ditiru”, artinya guru itu bisa dianut dan diteladani (dicontoh) sikap dan perilakunya.

2. Pembinaan Karakter di Rumah

Seperti yang diljelaskan di atas bahwa selain di sekolah, pembinaan karakter juga perlu dilakukan dimanapun peserta

didik berada. Sebaiknya pendidikan karakter bukan hanya dilakukan di sekolah saja tetapi juga perlu dilakukan oleh orang tuanya di rumah, bahkan dilakukan setiap hari sehingga menjadi suatu pembiasaan yang membenuk karakter peserta didik di rumah. Oleh karena itu, pendidikan karakter di rumah perlu dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten, misalnya saat anak bangun tidur diberi tanggung jawab untuk membersihkan tepat tidurnya sendiri; saat anak habis bermain diberi tanggung jawab untuk mengembalikan alat permainannya sendiri; saat anak pulang sekolah diberi tanggung jawab untuk menempatkan pakaian sekolah dan tas sekolahnya di tempatnya.

Selain pembiasaan untuk dirinya sendiri, anak juga perlu diberi tanggung jawab untuk membantu orang tua di rumah.

Pemberian tanggung jawab ini perlu dilakukan sejak dini, misalnya anak dilibatkan dalam menyapu halaman rumah, menyuci piring, bahkan jika bisa diberi tanggung jawab untuk memasak atau mencuci pakaiannya. Tentu ke semua tanggung jawab tersebut perlu diajarkan terlebih dahulu, dan disesuaikan dengan kondisi serta tahap perkembangan anak.

Dalam hal perkembangan kemampuan sosial, anak juga perlu diajarkan untuk mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain, baik pada temannya sendiri maupun dengan orang yang lebih tua. Setiap pendidik, yakni guru maupun orang tua, perlu memahami bahwa kemampuan sosial juga merupakan hasil dari belajar. Anak juga perlu diajarkan tentang bagaimana berperilaku sopan santun, saling menghargai, mengembangkan rasa empati, dan saling bekerjasama saat si anak berada di rumah. Jika pembiasaan tersebut - sebagai hasil dari proses belajar – dilakukan secara berkesinambungan dan konsisten maka akan melekat pada diri si anak dimanapun, dan kapanpun

pentingnya dan bagaimana caranya pendidikan karakter di rumah.

Sebaiknya pendidikan karakter di rumah dengan di sekolah tidak saling bertentangan, tetapi sebaliknya selaras. Oleh karena itu rang tua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah sehingga ada keselarasan antara pendidikan karakter di sekolah dengan di rumah. Dengan demikian, pendidikan karakter bagi anak dapat berjalan efektif dan lancar,

Orang tua juga perlu menyadari bahwa pendidikan karakter bukan persoalan memberi penjelasan atau bahkan memberi perintah kepada anak saat di rumah. Pendidikan karakter juga perlu membangun komitmen anak, dan yang terlebih penting adalah memberi keteladanan kepada anak.

Tanpa ada keteladanan dari orang tua, maka pendidikan yang diberikan oleh orang tua akan menjadi ‘angin lalu’ saja, tidak terjadi personalisasi pada diri anak. Anak merasa percuma melakukan apa yang diajarkan oleh orang tuanya jika ternyata orang tuanya sendiri tidak mau menerapkannya.

‘Bermain Transportasi bersama’

(Pretend Play di SD Lab Satya Wacana)

Foto : Setyorini, 2020

BAB III

MASALAH PERILAKU PROSOSIAL PESERTA DIDIK

Guru sebaiknya bukan hanya terfokus perhatiannya pada kemampuan akademik atau prestasi peserta didik semata. Dalam pendidikan, guru hendaknya juga berperhatian pada pembinaan karakter peserta didiknya. Salah satu karakter yang diharapkan melalui pendidikan adalah kemampuan prososial. Kemampuan prososial ini juga terkait dengan karakter yang lainnya, misalnya Toleransi, Demokratis, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab. Selain itu, rendahnya kemampuan prososial juga dapat mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik karena kegiatan belajar di sekolah pada umumnya dilakukan melalui metode yang melibatkan banyak peserta didik.

A. Pengertian Perilaku Prososial

Penyesuaian sosial merupakan salah satu aspek psikologis yang sangat perlu dikembangkan dalam kehidupan peserta didik, yang mencakup penyesuaian diri dengan individu lain, baik di keluarga maupun di sekolah. Penyesuaian sosial dapat dicapai dengan mempelajari pola tingkah laku yang diperlukan dalam berinteraksi di kelompoknya, sehingga tingkah laku tersebut cocok bagi kelompok di lingkungannya.

Perilaku prososial merupakan perwujudan dari kemampuan individu dalam berinteraksi dengan kelompoknya.

Dalam istilah lain, perilaku sosial ini disebut sebagai ketrampilan

sosial. Mappiare (dalam Tulak, 2010) mengartikan keterampilan sosial sebagai kemampuan individu dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat di lingkungannya dalam rangka memenuhi kebutuhannya untuk dapat diterima oleh teman sebayanya baik sejenis kelamin atau lawan jenis agar ia memperoleh rasa dibutuhkan dan rasa dihargai. Senada dengan pandangan tersebut Michelson dkk (dalam Tulak, 2010) menyatakan bahwa ketrampilan sosial merupakan suatu keterampilan yang diperoleh individu melalui proses belajar, mengenai cara-cara mengatasi atau melakukan hubungan sosial dengan tepat dan baik.

Keterampilan sosial juga sebagai bekal individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Menurut Schloss dan Smith (1994) keterampilan sosial sangat penting dalam penyesuaian sosial. Pada individu yang memiliki keterampilan sosial yang baik akan memiliki penyesuaian diri yang baik pula.

Sebaliknya, individu yang memiliki penyesuaian diri yang kurang baik akan memiliki keterampilan sosial yang kurang baik pula.

Berdasarkan berbagai pendapat dan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial merupakan perwujudan dari kemampuan individu dalam berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial, yang dapat diterima oleh masyarakat, individu, dan lingkungan yang bermanfaat bagi sesama. Dalam hal ini perilaku prososial yang dimaksud adalah perilaku peserta didik, yang dibentuk dari proses belajar dengan individu lain di lingkungan sekolahnya maupun di rumahnya.

B. Indikator Perilaku Prososial

Perilaku prososial merupakan konstruk psikologis yang bersifat multidimensional. Dalam hal ini, menurut Gresham (dalam Victoria, 2001) perilaku prososial terdiri dari aspek tingkah laku interpersonal, tingkah laku yang berhubungan dengan diri sendiri dan tingkah laku yang berkaitan dengan tugas. Secara rinci Gresham (dalam Victoria, 2001) mendeskripsikan bahwa perilaku prososial merupakan serangkaian tingkah laku interpersonal yang bersifat kompleks karena terdiri dari tingkah laku interpersonal (keterampilan berbicara/percakapan, bekerjasama, menolong orang lain), tingkah laku yang berhubungan dengan diri sendiri (mengekspresikan perasaan, perilaku, moral, bersikap positif terhadap diri sendiri) serta tingkah laku yang berkaitan dengan tugas (mengikuti instruksi atau petunjuk, kerja mandiri dan sebagainya).

Sedangkan menurut Marlowe (1986) keterampilan sosial merupakan subkonstruk dari kecerdasan sosial. Ada 4 subkonstruk dari kecerdasan sosial yaitu minat sosial (social interest), kemauan individu untuk berperilaku sosial (social self-efficacy), empati dan keterampilan sosial (social skill). Sosial interest berhubungan dengan minat atau kemauan individu untuk menaruh perhatian (concern) pada orang lain. Social self-efficacy berkaitan dengan kemauan individu untuk berperilaku sosial sebagaimana diharapkan. Empathy skill berkaitan dengan kemampuan individu untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain. Social skill mengacu pada kemampuan individu untuk menunjukkan perilaku-perilaku sosialnya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati.

Aspek beserta jabaran indikator di atas mewujudkan perilaku prososial secara umum. Adapun indikator lingkup perkembangan perilaku prososial peserta didik pada usia anak usia dini sudah terdeskripsikan secara jelas yakni terdapat dalam Permendikbud on 137 tahun 2014.

Berdasar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, no 137 tahun 2014, tentang Standar Nasional PAUD Standar Isi tentang Tingkat Pencapaian Perkembangan Peserta didik, indikator lingkup perkembangan perilaku prososial peserta didik pada usia anak usia dini, sebagai berikut:

1. Bermain dengan teman sebaya

2. Mengetahui perasaan temannya dan merespon secara wajar

3. Berbagi dengan orang lain

4. Menghargai hak/pendapat/karya orang lain 5. Menggunakan cara yang diterima secara sosial

dalam menyelesaikan masalah (menggunakan fikiran untuk menyelesaikan masalah)

6. Bersikap kooperatif dengan teman 7. Menunjukkan sikap toleran

8. Mengekspresikan emosi yang sesuai dengan kondisi yang ada (senang-sedih-antusias dsb) 9. Mengenal tata krama dan sopan santun sesuai

dengan nilai sosial budaya setempat.

Indikator tentang perilaku prososial dalam Permendikbud di atas sering kali digunakan guru PAUD dalam mengevaluasi kondisi kemampuan sosial peserta didiknya. Beberapa penelitian

tentang kemampuan prososial bagi peserta didik di PAUD juga menggunakan indikator dari Permendikbud di atas.

C. Peningkatan Kemampuan Prososial

Seperti yang dijelaskan pada bab 1 di atas bahwa bahwa keberlangsungan pendidikan di Indonesia bukan hanya untuk menjadikan para peserta didik yang cerdas tetapi agar peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dengan demikian, tugas guru bukan hanya menciptakan kegiatan pembelajaran di sekolah; pembinaan karakter juga merupakan salah satu tugas para pendidik di sekolah. Begitu pula upaya untuk meningkatkan kemampuan prososial juga sebagai tugas guru di sekolah.

Setiap pendidik memahami bahwa salah satu faktor yang mendukung pada kegiatan belajar peserta didik adalah lingkungan sosial yang tercipta di sekolah. Jika kondisi sosial lingkungan sosial di sekolah tidak memberikan rasa aman dan nyaman maka membuat peserta didik tidak betah di sekolah sehingga peserta didik tidak memiliki motivasi untuk giat belajar di sekolah.

Di pihak lain, setiap peserta didik diharapkan memiliki kemampuan prososial yang baik sehingga juga mendukung pada pada gairah belajar di sekolahnya. Sebaliknya, jika peserta didik berkemampuan prososial rendah maka dapat menghambat gairah belajarnya di sekolah. Oleh karena itu, salah satu tugas guru adalah menciptakan kondisi lingkungan sosial di sekolah

secara kondusif, dengan memperhatikan dan membantu peningkatan prososial peserta didiknya.

Peningkatan kemampuan prososial dapat diupayakan guru melalui penerapan pembelajaran di kelas yakni menggunakan suatu metode yang melibatkan kelompok, misalnya diskusi dan kerja kelompok, pembuatan proyek secara kelompok, metode inquiry dan discovery secara kelompok, maupun pembelajaran dengan menggunakan permainan.

Pembiasaan dengan melakukan kegiatan belajar secara bersama akan mendukung peningkatan kemampuan prososial peserta didik. Melalui kegiatan belajar secara bersama tersebut bukan hanya mendukung untuk saling berinteraksi di antara peserta didik, tetapi juga terjadi peningkatan untuk saling perhatian, saling peduli, saling toleransi, dan adanya kerja sama.

Namun, perlu dipahami bahwa peningkatan prososial peserta didik bukan hanya dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di kelas. Kegiatan untuk meningkatkan prososial peserta didik juga dapat dilakukan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya saat jam istirahat, saat ada kegiatan kemah di sekolah, saat ada kegiatan ekstra di sekolah atau saat kegiatan sosial sekolah.

Selain itu, yang juga perlu dipahami adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan prososial bukan merupakan kegiatan yang bersifat dadakan, tanpa terancang. Kegiatan tersebut harus terprogram, terancang dan bahkan berkesinambungan, artinya kegiatan tersebut tidak dapat hanya sekali jadi tetapi dilakukan secara berturutan.

BAB IV

PENINGKATAN KEMAMPUAN PROSOSIAL MELALUI METODE BERMAIN

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa hendaknya guru juga memperhatikan perkembangan prososial peserta didiknya; bukan hanya memperhatikan kemampuan prestasi atau akademiknya semata. Ada cukup banyak metode pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam upaya meningkatkan kemampuan prososial peserta didiknya. Pada umumnya metode tersebut bersifat kerja kelompok, misalnya tugas dan diskusi kelompok, membuat projek kelompok, melakukan role play maupun sosiodrama.

Pada bab ini, diuraikan tentang role play dan sosiodrama dalam upaya peningkatan kemampuan prososial peserta didik.

Namun pembahasan dibatasan pada pengertian, tujuan dan tahap pelaksanaannya.

A. Role Play untuk Peningkatan Kemampuan Prososial 1. Pengertian Role Play

Role play atau sering disebut bermain peran merupakan suatu kegiatan yang digunakan dengan memainkan suatu peran sesuai alur sebuah cerita, baik menjadi seorang idola atau tokoh yang terkenal maupun cerita lain sesuai naskah. Menurut Riadi, (2019) pada umumnya bermain peran atau role playing adalah metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat perilaku berpura-pura (berakting) dari peserta didik sesuai dengan peran

yang telah ditentukan, dimana peserta didik menirukan situasi dari tokoh-tokoh sedemikian rupa dengan tujuan mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia.

Metode bermain peran yang diterapkan dalam suatu pembelajaran dapat menimbulkan pengalaman belajar dan memiliki dampak terhadap perkembangan prososial peserta didik, seperti kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya. Selain itu, pada saat bermain peran secara bersama-sama para peserta didik tersebut dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah.

Keterlibatan emosional peserta didik sangat diharapkan dalam menerapkan model pembelajaran bermain peran. Dalam memainkan peran tersebut, peserta didik melibatkan keseluruhan aspek kemampuan prososialnya sesuai alur cerita yang diikuti. Dengan demikian, peserta didik menjadi subjek pembelajaran, yang secara aktif melakukan interaksi sosial, melakukan percakapan bersama teman-temannya sesuai situasi yang dikondisikan dalam alur suatu cerita.

Senada dengan hal tersebut, Wahab (2009) menyatakan bahwa bermain peran adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu. Ditambahkan oleh Wahab bahwa bermain peran dapat menciptakan situasi belajar yang berdasarkan pada pengalaman

dan menekankan dimensi tempat dan waktu sebagai bagian dari materi pelajaran.

2. Tujuan Bermain Peran

Secara umum metode bermain peran dalam proses pembelajaran bertujuan agar peserta didik dapat memperagakan tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik dan wajah seseorang yang diperankan dalam suatu hubungan sosial. Metode bermain peran dalam pembelajaran bertujuan agar peserta didik mampu menghayati peranan apa yang dimainkan, mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain yang dikehendaki guru. Hal ini sesuai dengan pandangan Santosa (2011), yang menyatakan tujuan bermain peran adalah agar peserta didik mampu:

1. Memahami perasaan orang lain.

2. Menempatkan diri dari situasi orang lain.

3. Mengerti dan menghargai perbedaan pendapat

Beberapa butir tujuan bermain peran dalam suatu pembelajaran menurut Santosa di atas lebih menekankan pada pengembangan kemampuan prososial peserta didik. Jika guru menerapkan metode bermain peran dalam pembelajaran secara berkelanjutan maka kemampuan prososial peserta didik akan terlatih dengan baik.

Sedangkan Saefuddin dan Berdiati (2014) merumuskan tujuan metode pembelajaran bukan hanya terkait dengan pengembangan kemampuan prososial peserta didik, tetapi juga bertujuan untuk pemahaman terhadap materi yang dipelajari, serta mendorong untuk semakin termotivasi dalam belajar.

Adapun tujuan bermain peran secara rinci menurut Saefuddin dan Berdiati (2014) seperti berikut:

1. Memberikan pengalaman konkret dari apa yang telah dipelajari.

2. Mengilustrasikan prinsip-prinsip dari materi pembelajaran.

3. Menumbuhkan kepekaan terhadap masalah-masalah hubungan sosial.

4. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar peserta didik.

5. Menyediakan sarana untuk mengekspresikan perasaan yang tersembunyi dibalik suatu keinginan.

Beragamnya tujuan pembelajaran melalui bermain peran yang disampaikan oleh Saefuddin dan Berdiati (2014), tentu bukan hal yang mudah dilakonkan oleh peserta didik karena menyangkut pemeranan bukan hanya aktivitas sosial belaka, tetapi juga ada kaitannya dengan upaya untuk mampu memahami materi pembelajarannya. Begitu pula jika ditinjau dari penyusun naskah; bukan hal yang mudah untuk menyusun naskah bermain peran sesuai rincian tujuan yang dikemukakan oleh Saefuddin dan Berdiati tersebut. Guru selaku penyusun naskah bermain peran, juga harus mampu berpikir dan berimajinasi secara kompleks reintegrasi tentang alur cerita,

Beragamnya tujuan pembelajaran melalui bermain peran yang disampaikan oleh Saefuddin dan Berdiati (2014), tentu bukan hal yang mudah dilakonkan oleh peserta didik karena menyangkut pemeranan bukan hanya aktivitas sosial belaka, tetapi juga ada kaitannya dengan upaya untuk mampu memahami materi pembelajarannya. Begitu pula jika ditinjau dari penyusun naskah; bukan hal yang mudah untuk menyusun naskah bermain peran sesuai rincian tujuan yang dikemukakan oleh Saefuddin dan Berdiati tersebut. Guru selaku penyusun naskah bermain peran, juga harus mampu berpikir dan berimajinasi secara kompleks reintegrasi tentang alur cerita,