• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORITIS

B. Anak Autis

2. Ciri-Ciri Karakteristik Anak Autis

Ciri-ciri autisme yang paling menonjol adalah kesendirian yang amat sangat. Ciri ciri yang lain adalah mencakup bahasa, komunikasi, dan perilaku ritualistik atau stereotip. Anak dapat pula tidak bicara, atau bila terdapat keterampilan berbahasa, biasanya digunakan secara tidak lazim seperti dalam ekolalia (mengulang kembali apa yang didengar dengan nada suara tinggi dan menonton), penggunaan kata ganti orang secara terbalik (menggunakan “kamu”

atau “dia” bukan saya), menggunakan kata-kata yang hanya dimengerti artinya oleh mereka yang kenal dekat dengan sianak, dan kecenderungan meninggikan nada suara diakhir kalimat, sehingga anak autis lebih sering berbicara keras pada akhiran kalimat saat berbicara .

Anak autis ini tidak bisa menggunakan kontak mata dan menunjukkan ekspresi wajah. Mereka juga merespon secara lambat terhadap orang dewasa yang berusaha mendapatkan perhatian mereka itu juga bila mereka mau memperhatikan. Walaupun mereka tidak responsif kepada orang lain, para peneliti menemukan bahwa mereka dapat memperlihatkan emosi-emosi yang kuat, terutama emosi negatif seperti marah, sedih, dan takut.

Autis merupakan gangguan pervasive pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang

komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, intereaksi sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris. Masalah sosial yang dialami anak autis dapat terlihat dalam bentuk sifat dan sikap antara lain tidak memiliki rasa tanggung jawab, kasar, kurang mampu menyatakan empati, atau kontak mata yang buruk. Ikatan pertemanan, mengingat karakter temannya, atau mempertahankan hubungan adalah kegiatan yang asing bagi anak autis. Mereka juga kurang memiliki emosi sosial seperti persaingan dan rasa malu.

Masalah tersebut akan bertambah ketika anak memilih untuk menyendiri sebagai wujud ketidaknyamanan terhadap lingkungan. Tetapi diluar hal tersebut anak autis memiliki rasa yang sangat dalam dengan orang terdekatnya, dan perlu diperhatikan pula pada dasarnya anak autis mendambakan perhatian dan kasih sayang seperti orang lain. Banyak kasus dimana anak autis hanya mau berkomunikasi dengan seseorang saja dalam sebuah kelompok. Anak autis menganggap seseorang tersebut dapat memberikan rasa nyaman dan mungkin dia adalah satu-satunya orang yang mampu diajak masuk dalam dunia anak autis.46

Ciri utama dari autisme adalah gerakan stereotip yang berulang yang tidak memiliki tujuan berulang-ulang memutar benda, mengepakkan tangan, berayun kedepan dan kebelakang dengan lengan

46Tejo Sampurno, Seni,Melukis dan Anak Autis……h..2

memeluk kaki. Hal ini terlihat dari sikapnya yang tidak mampu berdiam diri dan sibuk.47

Menurut pendapat lain ciri-ciri autis adalah sebagai berikut:

a.) Tidak mandengarkan guru

b.) Terkesan tidak mengerti dengan apa yang terjadi didalam kelas c.) Cepat bosan

d.) Tidak bias konsentrasi pada hal-hal yang penting

e.) Pikirannya kacau dan susah atau tidak siap untuk pindah dari suatu materi kemateri lain.

f.) Bandel

g.) Tidak sabar untuk menunggu giliran dan lansung menjawab tanpa izin dari guru.48

Berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa anak autis merupakan anak yang mempunyai ciri-ciri berupa kecendrungan menyendiri, sering menghindari kontak mata dan kurang suka bersosialisasi karena gangguan keterlambatan berkomunikasi, gangguan dalam bermain, serta cara berbahasa sehingga hal ini menyebabkan anak autis sering merespon sangat lambat.

3. Pengelompokkan Anak Autis

47Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal, ( Jakarta : Erlangga, 2003 ), h. 146

48Mahmud Khaifah dan Usamah Quthub, Menjadi Guru yang Dirindu …., h.188-189

Kesulitan dalam bersosialisasi adalah salah satu masalah terbesar yang dimiliki anak autis. Mereka merasa tidak nyaman berada disekitar banyak orang. Rasa tidak nyaman anak autis disebabkan oleh ketidakmampuan mereka merasakan hubungan atau keintiman dengan lawan bicaranya. Sulitnya anak autis dalam menerima respon verbal dari lingkungannya menjadi alasan utama yang menyebabkan mereka kesulitan dalam hal intereaksi sosial.

Terdapat tiga pengelompokkan anak autis dalam intereaksi sosial menurut Yatim yaitu:

a) Anak Autis yang Suka Menyendiri

Anak ini dia terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya. Meskipun pada awal terlihat biasa dan nyaman bermain dengan teman sebayanya, tapi hal ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Setelah beberapa saat mengalami kontak fisik, beralih ke permainan lain karena tidak mampu menciptakan pergaulan akrab. Anak autis kelompok pertama ini bertendensi kurang menggunakan kata-kata, dan kadang-kadang sulit berubah meskipun usianya bertambah lanjut. Dan meskipun ada perubahan, mungkin hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata yang sderhana saja, selain itu mereka menghabiskan harinya berjam-jam untuk sendiri, dan jika melakukan suatu hal, maka anak autis melakukannya berulang-ulang. Mereka juga tergantung pada kegiatan sehari-hari yang rutin. Identifikasi kelompok menyendiri

adalah gangguan perilaku seperti mengeluarkan bunyi-bunyi aneh, gerakan tangan, mudah marah, melukai diri sendiri, menyerang teman bergaul, merusak dan menghancurkan mainan sendiri.

b) Anak Autis yang Pasif

Kelompok anak autis yang pasif dimana mereka lebih bisa bertahan pada kontak fisik dan seringkali mampu bermain dengan kelompok teman bergaul dan sebaya, tetapi jarang mencari teman sendiri. Mereka mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak meskipun masih agak terambat dalam berbicara dibandingkan dengan anak sebaya. Pada anak autis kelompok pasif masih bisa dibimbing jika dibandingkan dengan anak autis yang menyendiri dan yang aktif tetapi menurut kemauannya sendiri.

Jadi anak autis pasif lebih bisa diarahkan dan dibimbing saat proses pembelajaran berlansung namun itu semua bergantung pada teori dan pendekatan yang dilakukan guru saat belajar.

c) Anak autis yang Aktif

Autis kelompok aktif tetapi menggunakan cara sendiri di mana kelompok ini bertolak belakang dengan kelompok anak autis yang menyendiri karena lebih cepat berbicara dan memiliki banyak perbendaharaan kata. Meskipun bisa merangkai kata dengan baik, tetapi tetap saja terselip kata-kata yang aneh dan kurang dimengerti. Anak autis kelompok ini masih bisa ikut berbagi rasa dengan teman bermainnya. Senang terpaku pada salah

satu jenis barang tertentu, misalnya penaggalan dalam kalender, pembawaan seseorang, jenis kendaraan tertentu. Dalam berdialog sering mengajukan pertanyaan dengan topik yang menarik, dan marah bila jawaban tidak memuaskan atau pertanyaannya dipotong.49

Berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa dari segi cara berintereaksi sosial anak autis terbagi menjadi tiga kelompok yang mana pertama, anak autis yang suka menyendiri anak ini sering menghindari kontak fisik dengan lingkungannya, berbeda dengan yang kedua yaitu anak autis yang pasif dimana mereka bisa bertahan pada kontak fisik dan lebih sering bermain dan bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang ketiga anak autis yang aktif bertolak belakang dengan anak autis yang suka menyendiri yang mana anak ini cendrung dan lebih cepat berbicara sehingga memiliki perbendaharaan kata dan anak autis yang aktif ini lebih mampu merangkai kata.

4. Faktor Penyebab Anak Autis

Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku atau tanda-tanda yang menyerupai ciri-ciri penyakit autis diantaranya adalah :

a. Perlakuan buruk

b. Kurang mendapat perhatian

49Tejo Sampurno, Seni,Melukis dan Anak Autis……h. 16-17

c. Narkoba

d. Hak-haknya tidak dipenuhi

e. Lingkungan tertentu yang membuat anak tidak bisa belajar atau disiplin saat dirumah

f. Dan beberapa penyakit (kelainan) jiwa.

Ada beberapa pakar yang mengatakan penyebab terjadinya autisme dikarenakan saat mengandung, ibu terinfeksi virus tokso yang disebabkan oleh kotoran hewan tertentu. Ada pula yang mengatakan penyebabnya adalah faktor genetik, kromosom yang tidak cocok, dan sebagainya. Selain faktor medis yang telah disebutkan sebelumnya, saya mengindikasikan ada beberapa penyebab terjadinya autisme pada anak, yaitu perhatian dan kasih sayang.

Pada beberapa kasus, anak dilahirkan dengan sehat dan normal. Namun dalam masa bayinya, anak tidak diharapkan dan atau kurang mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya. Di zaman moderen bekerja kantoran adalah sebuah hal yang wajib bahkan untuk wanita. Ibu yang bekerja mungkin tidak memiliki waktu yang cukup untuk bayinya. Komunikasi dua arah antara bayi dan orang tua terutama ibu menjadi kurang dan otomatis kemampuan komunikasi anak mengalami keterlambatan. Sehingga secara tidak lansung anak tersebut menjadi kesulitan bahkan kehilangan kemampuan komunikasinya dan hidup dalam dunianya

sendiri. Sesuai dengan defenisi autisme di mana anak memiliki gangguan kompleks dalam komunikasi dan hidup dalam dunianya sendiri.

Meskipun penyebab autisme belum bisa dipastikan, ada beberapa teori mengenai penyebab autisme. Penyebab terjadinya autisme yang sering diutarakan adalah gangguan neurobiologis yang memengaruhi fungsi otak sehingga anak tidak mampu berintereaksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.

Gangguan genetik merupakan salah satu penyebab autisme yang dapat terjadi atas tidak normalnya genotip yang disebabkan oleh pewarisan gen autisme oleh salah satu atau kedua orang tuanya, atau mungkin terjadi dikarenakan mutasi genetik yang bersifat lebih acak dan hanya terjadi sekali saja. Maka dapat dikatakan bahwa autisme terjadi karena faktor genetik dari salah satu atau kedua orang tua anak, di mana salah satu gen pembawa autisme tersebut bergabung dengan gen lainnya yang berpotensi terjadinya ketidakcocokan sehingga dapat menyebabkan gejala autisme pada anak.50

Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa ada berbagai macam faktor yang dapat menimbulkan penyakit autisme pada anak yaitu karena anak mendapat perlakuan buruk, kurang mendapat perhatian dan ada juga karena faktor

50Tejo Sampurno, Seni,Melukis dan Anak Autis……h.17-19

genetik karena adanya pewarisan gen autisme dari salah satu atau kedua orang tuanya. Namun karena banyaknya latar belakang tersebut penyebab autisme yang sering diutarakan adalah karena gangguan neurobiologis dan faktor genetik, yang diakibatkan dari pewarisan gen dari salah satu atau kedua orang tuanya sianak.

5. Penanganan Anak Autis

Intervensi harus bersifat therapeutic,artinya pendidikan anak-anak ini harus ditangani dengan benar agar dengan demikian ciri-ciri autisme bisa berkurang. Selain itu dari sudut pandang pendidikan dan medis berbagai jenis makanan juga dibatasi. Makanan secara individual diseleksi, setelah diteliti ternyata ada beberapa makanan yang tidak boleh dikomsumsi, contohnya, ice cream, ayam fried chicken dan harus diganti dengan sagu dan susu tertentu.51Karena anak autis menunjukkan defisit perilaku, focus utama dari modifikasi perilaku adalah pengembangan perilaku baru. Perilaku-perilaku baru ini dipertahankan dengan adanya reinforcer, sehingga penting untuk mengajarkan kepada anak-anak ini yang sering berespon kepada orang lain seperti mereka yang berhadapan dengan benda mati untuk menerima orang lain.

Sekolah harus memiliki tim khusus yang bertugas menerapkan teknik-teknik tertentu, kemudian melakukan perubahan

51Coni R. Setiawan dan Frieda Mangunsong, Keluarbiasaan Ganda, ( Jakarta : Kencana, 2010 ), h. 69-70

yang diperlukan sehingga teknik atau metode yang dipakai benar-benar sesuai dengan kemampuan dan metode belajar setiap murid.

Selain itu, sekolah juga harus menjadi patner bagi keluarga sang anak dalam menentukan atau mewujudkan target tertentu, sesuai dengan planing bersama. Dengan catatan, komunikasi harus tetap berjalan, perkembangan anak selalu dipantau, termasuk jika muncul permasalahan yang baru.

Hendaknya anak autis tidak dipisahkan dari teman-temannya, namun perlu diterapkan program untuk membangkitkan semangat dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Contohnya adalah sistem poin atau nilai, menggunakan permainan sebagai strategi pendidikan, dan latihan kecakapan sosial dengan cara membuat sebuah kelompok kecil agar sang anak belajar membaca peristiwa dan ungkapan orang lain. Sebaiknya bebrapa sekolah menetapkan jadwal untuk membantu guru dalam menjalin komunikasi dengan wali murid.

Disini, kami hendak mengatakan bahwa sekolah bisa bekerja sama dengan wali murid untuk memberikan penghargaan kepada anak atas perilakunya disekolah, sebagai bentuk kerjasama antara rumah dengan sekolah.52

Berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengantisipasi anak autis maka perlu adanya pendidikan anak baik pendidikan umum maupun pendidikan khusus yang harus

52Mahmud Khaifah dan Usamah Quthub, Menjadi Guru yang Dirindu ..., h.190

ditangani dengan benar, berbagai jenis makanan yang dikonsumsi oleh anak juga perlu diperhatikan lagi dan dibatasi, selain itu adanya peran penting sekolah karena sekolah juga harus jadi patner bagi keluarga karena sebagian waktu anak banyak dihabiskan disekolah.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Lapangan (Field Research). Sedangkan metode penelitian yang penulis gunakan adalah Deskriptif Kualitatif yaitu “penelitian yang

menggambarkan data sesuai apa adanya di lapangan”.53Sebagaimana dikemukakan Hadari Nawawi, metode Deskriptif Kualitatif, yaitu “suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya tanpa bermaksud mengkomparasikan atau membandingkan.

Dengan demikian penelitian ini berusaha menggambarkan apa adanya atau memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama islam pada anak autis di SLB Autis Bima Solok.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SLB Autis Bima Solok Penentuan lokasi penelitian ini peneliti ambil karena sekolah Autis ini swasta milik yayasan namun mampu mengukir prestasi sampai ketingkat provinsi seperti lomba menyanyi Islami, serta mewarnai lukisan kaligrafi dan lomba puisi lainnya, tak hanya itu dalam bidang akademik khususnya pada pembelajaran pendidikan Agama Islam anak autis ini pun mampu mendapatkan nilai yang sangat bagus.

Melalui observasi awal dan wawancara yang peneliti lakukan pada hari senin 25 Februari 2019 di SLB Autis Bima Solok, disini sarana dan prasarana masih sekolah masih belum lengkap, kurangnya infokus jadi guru hanya menggunakan papan tulis dalam proses belajar mengajar, namun itu

53Chalid Narbuko, AbuAhmadi, Metodologi Penelitian,(Jakarta :Bumi Aksara,2004), h.

61

semua tidak menghambat proses pembelajaran dan bahkan guru mampu mengkondisikan.

Tak hanya itu Penentuan lokasi penelitian ini peneliti ambil karena disini ada hal yang menarik untuk diteliti walaupun sekolah ini swasta bukan negeri tapi peneliti banyak mengambil nilai positif terutama dalam bidang pendidikan agama Islam. Anak autis disini belajar pendidikan agama Islam satu kali dalam seminggu, dan setiap hari jum’at sekolah mengadakan kultum dan pengajian Islami yang dibawakan lansung oleh anak-anak autis itu sendiri seperti Membaca Al-Qur’an, Membaca Iqra’, Asmaul Husna, tahfizd Juz 30, hafalan ayat-ayat pendek serta membaca do’a tertentu yang telah mereka hafal dan tak lupa pula dengan adzan yang dikumandangkan lansung oleh anak tersebut.

Kalau ditelaah secara mendalam guru yang mengajarkan pendidikan agama Islam bukanlah sosok yang ahli dalam bidang itu sendiri bukan seorang tamatan sarjana dengan jurusan pendidikan agama Islam dan juga bukan bidang khusus mengajar autis atau PLB, namun itu semua tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan anak yang mampu Membaca Al-Qur’an, Iqra’ dan hafalan saja namun juga mampu memahami materi yang disampaikan guru tersebut. Hal ini terlihat jelas karena ketika peneliti melakukan observasi, peneliti ikut masuk dalam kelas saat proses pembelajaran berlansung. Dalam memberikan pembelajaran pada anak autis guru merancang sedemikian rupa perangkat pembelajarannya seperti metode, kurikulum, materi, maupun evaluasi harus disesuaikan dengan

kemampuan mereka yang berbeda –beda dalam menerima pelajaran dan masing-masing komponen berjalan secara beriringan.

Murid disana secara keseluruhan berjumlah 36 orang, dengan guru yang berjumlah 6 orang semua guru tersebut bukan tergolong guru yang berkeahlian mengajar autis, tapi mampu menciptakan anak-anak yang berprestasi. Untuk mengetahui bagaimana seorang guru itu mampu menciptakan anak-anak autis yang berprestasi baik dari segi akademik maupun non akademik terutama dalam pembelajaran pendidikan agama Islam berdasarkan kenyataan teresbut maka penulis tertarik untuk mengambil dan melakukan penelitian ini di SLB Autis Bima Solok.

C. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian, jadi dia mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian. Ia berkewajiban secara sukarela menjadi tim penelitian walaupun bersifat informal, sebagai anggota tim dengan kebaikan dan sukarelanya, ia dapat memberikan pandangan tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat.54

Adapun informan dalam penelitian ini ada dua, yaitu :

1. Informan kunci, yaitu Guru yang mengajarkan Pendidikan Agama Islam di SLB Autis Bima Solok.

54Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,1995), cet.ke-5,h.3

2. Informan pendukung, yaitu Wali Kelas, siswa/siswi kelas IV dan orang tua Murid Kelas IV di SLB Autis Bima Solok.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua cara dalam teknik mengumpulkan data, yaitu :

1. Observasi

Observasi Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap gejala-gejala subjek yang diteliti.55 Dalam penelitian ini, observasi penulis gunakan bertujuan untuk mengamati subjek yang penulis teliti agar penulis mengetahui dan mendapatkan data yang penulis butuhkan.

Data-data yang penulis amati dan teliti adalah segala informasi dan gejala yang berkaitan dengan permasalahan tentang pembelajaran pendidikan agama islam pada anak autis di SLB Autis Bima Solok.

2. Wawancara

Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan secara lisan kepada informan. Dengan metode ini peneliti secara langsung dapat menanyakan segala sesuatu secara terbuka kepada informan dan dapat mengarahkan wawancara dengan

55Joko Subagio, Metodologi Penelitian dalam Teori dan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1997), h.63

memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terarah. Tujuan wawancara untuk mendapatkan informasi dan data secara langsung dari informan yang bersifat lisan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan terkait tentang pembelajaran pendidikan agama islam pada anak autis di SLB Autis Bima Solok.

3. Dokumentasi

Peneliti di dalam penelitian ini mengumpulkan data secara dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, surat kabar, majalah, prasasti, agenda dan sebagainya. Dokumentasi yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen. Dokumen ini yang berhubungan dengan bagaimana bentuk internalisasi nilai-nilai pendidikan agama Islam pada anak autis di SLB Autis Bima Solok.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis dan yang diperoleh dari hasil wawancara dan catatan lapangan.

Setelah data terkumpul penulis melakukan analisa terhadap data tersebut.

Teknik analisa data yang penulis gunakan adalah analisa kualitatif yang dilakukan terhadap data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara.

Proses ini dilakukan melalui editing, yaitu meneliti kembali data atau

catatan-catatan untuk dipersiapkan sebelum dituangkan ke dalam laporan penelitian dengan bahasa yang baik.56

Setelah data terkumpul, kemudian penulis mengolah data dengan menggunakan teknik analisa deskriptif analitik. Maksudnya data yang diperoleh tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif.

Proses analisa kualitatif tersebut dapat dijelaskan kedalam 3 langkah berikut :

1. Reduksi data ( data reduction )

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, abstraksi,dan transformasi data kasar yang diperoleh dilapangan. Pada proses reduksi data ini penuli akan menyeleksi data dari data hasil wawancara, observasi dan studi dokumentasi, dengan cara memfokuskan pada data yang lebih menarik, penting, berguna dan baru. Data yang tidak penting disingkirkan.

Berdasarkan pertimbangan berikut, maka data-data tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi berbagai kategori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian.

2. Penyajian data ( data display )

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplay data. Display data merupakan proses mendeskripsikan

56Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : PT Raja GrafindoPersada, 1997),h.129

kumpulan informasi secara sistematis dalam bentuk susunan yang jelas untuk membantu peneliti menganalisa hasil penelitian. Untuk memudahkan penyajian data ini peneliti membuat catatan lapangan dalam bentuk teks naratif untuk memudahkan penguasaan informasi atau data yang dimaksud.

3. Penarikan Kesimpulan dan verifikasi (conclution drawing and verifacation)

Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan kegiatan interpretasi, dengan maksud untuk menemukan makna dari data yang telah disajikan, misalnya dengan menghubung-hubungkan antara data satu dengan data yang lain.

Kesimpulan data dilakukan secara sementara, kemudian diverifikasi dengan cara mencari data yang lebih mendalam dengan mempelajari lagi hasil data yang telah terkumpul. Pengecekan informasi atau data dapat dilakukan oleh setiap peneliti selesai wawancara dengan responden.

Komponen-komponen analisis data (yang mencangkup reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan). Secara interaktif saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data. Atas dasar tersebut, karakter analisis data kualitatif disebut pula sebagai model interaktif.57

57Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta : Tiara Wacana,2006),h.22

Komponen analisis data kualitatif dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.3

Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan,( Bandung : Al-Fabeta, 2011),h.338.

F. Tringulasi Data

Teknik yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi data. Triangulasi data adalah pemeriksaan keabsahan data yang

Teknik yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi data. Triangulasi data adalah pemeriksaan keabsahan data yang

Dokumen terkait