• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ciri-ciri kemandirian mengambil keputusan studi lanjut

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 35-129)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut

3. Ciri-ciri kemandirian mengambil keputusan studi lanjut

Berikut ciri-ciri kemandirian mengambil keputusan studi lanjut menurut Antonius (2002) :

a. Percaya diri

Individu yang mandiri dalam mengambil keputusan studi lanjutnya, tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda pilihan dengan orang lain. Individu tersebut juga merasa percaya diri ketika mengemukakan pendapatnya, walaupun nantinya berbeda dengan orang lain.

b. Mampu bekerja sendiri

Individu yang mandiri dalam mengambil keputusan studi lanjutnya, mampu mengerjakan tugas rutin yang dipertanggungjawabkan padanya, tanpa mencari pertolongan dari orang lain.

c. Tanggung jawab

Individu yang mandiri dalam mengambil keputusan studi lanjutnya, berani mengambil keputusan, dan berani mengambil resiko atau tanggung jawab dari keputusan yang sudah diambilnya.

d. Mampu mengatasi masalah

Individu yang mandiri dalam mengambil keputusan studi lanjutnya, mampu mengatasi berbagai masalah yang muncul dengan inisiatif sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

4. Faktor-faktor Kemandirian Siswa dalam Mengambil Keputusan Studi Lanjut

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian mengambil keputusan studi lanjut menurut (Soetjiningsih, 1995 & Mu’tadin 2002) , yang terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal, yaitu:

a. Faktor Internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri yang meliputi:

1) Intelegensi

Gunarsa (dalam Budiman, 2007) menyatakan bahwa individu dapat dikatakan mempunyai kecerdasan (intelegensi) yang baik jika siswa mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Contoh masalah yang mampu siswa selesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain yaitu masalah yang berkaitan dengan mengambil keputusan studi lanjutnya.

Secara umum intelegensi memegang peranan yang penting dalam kehidupan seseorang. Individu yang memiliki intelegensi yang rata-rata normal tentunya akan mudah melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Lain halnya individu dengan tingkat intelegensi yang rendah karena intelegensi mempengaruhi cara berpikir logis seseorang.

2) Usia

Smart (dalam Musdalifah, 2007) menyatakan kemandirian dapat dilihat sejak individu masih kecil, dan akan terus berkembang sehingga akhirnya akan menjadi sifat-sifat yang relatif menetap pada masa remaja. Bertambahnya usia seseorang maka secara otomatis terjadi perubahan fisik yang lebih kuat pada individu, sehingga akan memudahkan seseorang melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orang lain.

3) Jenis kelamin

Penelitian yang dilakukan oleh Fleming ( 2005) mengenai pengaruh usia dan jenis kelamin menunjukan bahwa isu mengenai kemandirian lebih sering muncul pada remaja pria.

Hal ini senada dengan yang di utarakan oleh Hoff (dalam Yusuf, 2001) bahwa laki-laki lebih mandiri dari pada perempuan.

Remaja pria lebih sering mengalami konflik dengan orangtua seputar kepatuhan terhadap nasihat orangtua seedangkan remaja putri dinilai lebih patuh terhadap nasihat orangtua.

b. Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri yang meliputi:

1) Kebudayaan

Budaya yang berbeda akan menyebabkan perbedaan norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam lingkungan masyarakat, sehingga sikap dan kebiasaan masyarakat tertentu akan berbeda dengan masyarakat yang lainnya (Sarwono, 2007).

2) Pola asuh orang tua

Pola pengasuhan keluarga seperti sikap orang tua, kebiasaan keluarga, dan pandangan keluarga akan mempengaruhi pembentukan kemandirian anak (Wijaya dalam Budiman, 2007). Keluarga yang membiasakan anak-anaknya diberi kesempatan untuk mandiri sejak dini, akan menumbuhkan kemandirian pada anak-anaknya dengan cara tidak bersikap terlalu protektif.

5. Aspek-aspek Kemandirian Siswa dalam Mengambil Keputusan Studi Lanjut

Berikut aspek-aspek kemandirian perilaku siswa dalam pemilihan studi lanjut menurut Steinberg (2002):

a. Kemampuan dalam mengambil keputusan (changes in decision making abilities).

Didalam kehidupan, setiap orang selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang memaksanya untuk mengambil keputusan.

Salah satu keputusan yang harus diambil oleh siswa yaitu tentang studi lanjutnya. Perwujudan kemandirian siswa dalam mengambil keputusan studi lanjutnya dapat dilihat dari kemampuannya dalam mempertimbangkan resiko di masa mendatang dari keputusan yang akan diambilnya. Siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya juga harus mampu memilih alternatif pemecahan masalah berdasarkan pertimbangan sendiri dan orang lain. Selain itu, siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya juga harus memiliki rasa tanggung jawab akan konsekuensi dari keputusan yang diambilnya. Siswa yang mandiri dalam mengambil keputusan studi lanjutnya juga harus mampu mengambil keputusan berdasarkan pada kemampuan diri sendiri tanpa harus ada bantuan dari orang lain.

b. Memiliki kekuatan terhadap pengaruh dari orang lain (changes in conformity and susceptibility to influence).

Aspek ini menjelaskan bahwa siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya adalah siswa yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan juga tidak mudah terpengaruh dengan situasi sosial yang ada di sekitarnya. Siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya juga tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orangtua dalam mengambil keputusan.

c. Memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan (self reliance in decision making).

Kepercayaan diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu mengerjakan sesuatu hal dengan baik. Perwujudan kemandirian siswa dalam mengambil keputusan studi lanjutnya, dapat dilihat dari kemampuannya untuk berani mengemukakan ide atau gagasan yang dia miliki. Siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya juga haruslah memiliki keberanian menentukan pilihan berdasarkan ide atau gagasan yang dimilikinya.

Selain itu, siswa yang mandiri dalam memutuskan studi lanjutnya juga memiliki keyakinan akan potensi yang dimilikinya dalam mengambil keputusan sehingga nantinya akan menghasilkan suatu keputusan yang baik. Selain siswa memiliki keyakinan akan potensi yang dimilikinya, siswa yang mandiri dalam mengambil keputusan

studi lanjutnya juga mampu mengatasi sendiri masalah yang muncul ketika memilih sekolah lanjutan tanpa harus bergantung dengan orang lain.

Ketiga aspek di atas merupakan indikator penting yang dapat melihat seberapa baik tingkat kemandirian remaja dalam mengambil keputusan studi lanjutnya. Remaja dalam hal ini yaitu siswa-siswi kelas VIII SMPN 2 Girimulyo yang sedang menghadapi persoalan terkait pilihan dan rencana studi lanjutannya.

B. Konsep Siswa SMP Sebagai Remaja 1. Pengertian

Siswa adalah individu yang belajar di institusi pendidikan, dan individu tersebut umumnya berada pada fase anak-anak hingga fase remaja dengan rentan usia 5-18 tahun. Di Indonesia, siswa harus melewati beberapa tahap pendidikan diantaranya Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Menurut Khan (2005) siswa adalah orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari beberapa tipe pendidikan. Siswa merupakan komponen terpenting dalam pendidikan, murid yang berada di suatu sekolah memiliki tujuan untuk mencari pengetahuan dan menerapkan pengetahuannya tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

Siswa yang menjadi subyek dalam penelitian ini yaitu siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada pada fase remaja awal.

Geldard K dan Geldard D (2010) menganggap remaja sebagai sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berada di antara tahap kanak-kanak dengan tahap dewasa. Remaja atau adolescence berasal dari kata Adolescere (kata benda dari Adolescentia) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence yang digunakan saat ini mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosi, sosial dan fisik (Hurlock, 1980). Hal ini dikuatkan oleh Piaget (dalam Hurlock, 1980) bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa lagi di bawah tingkat orangtua yang lebih tua, melainkan berada pada tingkat yang kurang lebih sama, berhubungan dengan masa puber, perubahan intelektual yang mencolok, transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja dalam mencapai integrasi dalam hubungan sosial.

Remaja merupakan individu yang sedang dalam proses tumbuh menjadi lebih dewasa, selama dalam masa remaja individu mengalami peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemandirian, otonomi, dan kematangan. Kematangan yang dialami oleh remaja dapat berupa kematangan secara fisik dan non fisik. Kematangan secara fisik dapat berupa pertumbuhan bagian tertentu pada tubuh dan perubahan bentuk, sedangkan kematangan secara non fisik dapat berupa cara berfikir dan mengalami kematangan secara emosi.

2. Tugas-tugas Perkembangan Remaja

Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1991) ada beberapa tugas perkembangan pada masa remaja yang terkait dengan kemandirian dan karier atau studi lanjutnya, yaitu:

a. Mencapai kemandirian dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya.

Salah satu tugas perkembangan yang harus dijalani oleh remaja yaitu mencapai kemandirian dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya. Mandiri disini artinya yaitu bahwa remaja haruslah mampu berfikir, melakukan dan memutuskan segala sesuatunya tanpa harus banyak bergantung pada orangtua dan orang lain disekitarnya. Salah satu bentuk kemandirian yang harus dilakukan oleh remaja yaitu siswa atau remaja mampu mandiri dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan studi lanjutnya.

b. Mempersiapkan karier ekonomi.

Tugas perkembangan yang harus di capai oleh remaja selain mencapai kemandirian, yaitu mampu mempersiapkan karier ekonomi. Tugas perkembangan ini berkaitan dengan kemampuan remaja dalam berpikir dan merencanakan karier atau studi lanjutnya, sesuai dengan apa yang menjadi minat dan bakatnya. Guna memberikan bantuan berupa saran dan arahan kepada para siswa, maka diperlukan adanya layanan bimbingan karier disekolah.

Layanan bimbingan karier diperlukan supaya siswa mampu

merencanakan dan memutuskan apa yang menjadi minatnya, sesuai dengan kemampuan dan bakat yang ia miliki.

C. Layanan Bimbingan Karier 1. Pengertian Bimbingan Karier

Winkel dan Hastuti (2012) mengartikan bimbingan karier sebagai bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki. Menurut Manhinru (1992) bimbingan karier adalah layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan dan waktu luang serta mengembangkan keterampilan-keterampilan mengambil keputusan sehingga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan kariernya.

Agar bimbingan karier di sekolah dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka beberapa pandangan tentang prinsip-prinsip bimbingan perlu diperhatikan oleh para pembimbing pada khususnya dan administrator sekolah pada umumnya, terutama dalam penyusunan program pelaksanaan layanan bimbingan karier di sekolah.

Secara umum prinsip-prinsip bimbingan karier di Sekolah menurut Winkel & Hastuti (2012), adalah sebagai berikut:

a. Seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya

dalam pencapaian kariernya secara tepat. Tidak ada perkecualian, baik itu yang kaya maupun yang miskin, dan faktor-faktor lainnya.

b. Setiap siswa harus memahami bahwa karier itu adalah sebagai suatu jalan hidup, dan pendidikan adalah sebagai persiapan dalam hidup.

c. Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadahi terhadap diri sendiri dan kaitannya dengan perkernbangan sosial pribadi dan perencanaan pendidikan karier.

d. Siswa secara keseluruhan hendaknya dibantu untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan antara pendidikannya dan kariernya.

e. Setiap siswa hendaknya memilih kesempatan untuk menguji konsep, berbagai peranan dan ketrampilannya guna mengembangkan nilai-nilai dan norma-nonna yang memiliki aplikasi bagi karier di masa depannya.

Dari beberapa prinsip yang terdapat dalam bimbingan karier tersebut dapat disimpulkan bahwa, bimbingan karier dalam pelaksanaannya memiliki pedoman yang umum dan jelas dalam memberikan pelayanan kepada siswanya dalam mendeteksi diri, memberikan layanan tentang

karakteristik dunia kerja dan juga studi lanjutan sehingga mampu menciptakan kemandirian siswa dalam menentukan arah pilih karier yang sesuai dengan keadaan dirinya, agar mampu mencapai kebahagiaan hidup dimasa depan kariernya.

2. Tujuan layanan Bimbingan Karier di Sekolah

Berikut beberapa tujuan dari bimbingan karir di Sekolah menurut Winkel

& Hastuti (2012):

a. Dapat memahami dan menilai dirinya sendiri, terutama yang berkaitan dengan potensi yang ada dalam dirinya mengenai kemampuan, minat, bakat, sikap dan cita- citanya yang darinya peserta didik dapat mengidentifikasi bidang studi dan karir yang sesuai dengan dirinya.

b. Peserta didik memperoleh pemahaman tentang berbagai hal terkait dengan dunia (karir-studi) yang akan dimasukinya.

c. Mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi yang ada dalam dirinya, mengetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan bagi suatu bidang tertentu, memahami hubungan usaha dirinya yang sekarang dengan masa depan.

d. Menemukan hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut.

3. Fungsi layanan Bimbingan Karier

Layanan bimbingan karier sangat penting bagi siswa karena mempunyai beberapa fungsi. Winkel & Hastuti (2012) menyebutkan fungsi bimbingan karier yaitu:

a. Fungsi persiapan

Layanan BK karier memberikan informasi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dapat didapatkan oleh siswa.

b. Fungsi pencegahan

Layanan BK karier dapat memberikan bantuan agar siswa tidak kesulitan di dalam memahami tentang bakat, minat, kemampuan dan tentang dirinya sendiri yang berkaitan dengan pekerjaan sehingga dapat mencegah siswa salah dalam menentukan langkah-langkah menemukan karier yang dikehendaki.

c. Fungsi penempatan dan penyaluran

Layanan BK karier akan membantu dalam penempatan para siswa pada bidang atau jenis pendidikan, latihan dan pekerjaan sehingga mereka dapat mengambil keputusan sendiri secara bijaksana.

d. Fungsi penyesuaian

Layanan BK karier akan membantu siswa dalam menyesuaikan diri dengan jenis-jenis pekerjaan yang ada di lingkungan sekitarnya.

e. Fungsi pengembangan

Layanan BK karier akan membantu siswa dalam mengembangkan seluruh pribadinya secara terarah dan mantap pada minat kerja.

32 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Bab III ini berisi uraian mengenai jenis penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, validitas dan reliabilitas dan teknik pengumpulan data.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif.

Pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika (Azwar, 2007). Dari kedalaman analisisnya, penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif deskriptif.

Penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan memberikan gambaran secara sistematik dan akurat fakta serta karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu (Azwar, 2007). Sejalan dengan pengertian tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kemandirian siswa kelas VIII SMPN 2 Girimulyo dalam mengambil keputusan studi lanjut. Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, akan diusulkan topik-topik bimbingan karier untuk mengembangkan kemandirian siswa dalam mengambil keputusan studi lanjut.

B. Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini yaitu siswa-siswi kelas VIII SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015. Alasan peneliti memilih kelas VIII sebagai subyek penelitian yaitu karena siswa-siswi kelas VIII akan segera masuk ke kelas IX yang nantinya sudah harus memilih sekolah lanjutannya. Adanya penelitian ini, diharapkan nantinya siswa-siswi dapat memiliki kemandirian yang lebih baik lagi dalam mengambil keputusan studi lanjut saat berada di kelas IX.

Jumlah kelas VIII di SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015 sebanyak dua kelas, yaitu kelas VIII A, dan VIII B. Ada dua alasan dipilihnya SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta sebagai tempat penelitian, yaitu: (1) SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta mudah dijangkau oleh peneliti, (2) siswa SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tergolong remaja yang berusia 13 sampai 15 tahun. Rincian jumlah siswa kelas VIII SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015 ada pada tabel 1.

Tabel 1

Rincian Jumlah Siswa Kelas VIII SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016

Kelas Jumlah

VIII A 26

VIII B 27

Total 53

C. Instrumen Penelitian

1. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuesioner Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2012). Item-item kuesioner ini disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut yang dikemukakan Steinberg (2002). Kuesioner terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama memuat tujuan kuesioner dan petunjuk kuesioner. Bagian kedua memuat pernyataan-pernyataan tentang Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut siswa kelas VIII SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian menggunakan empat opsi atau alternatif jawaban yaitu “Sangat Sesuai” (SS), “Sesuai” (S), “Kurang Sesuai” (KS) dan “Tidak Sesuai”

(TS).

2. Kisi-kisi Item Uji Coba

Kisi-kisi item berdasarkan aspek-aspek tingkat kemandirian siswa dalam mengambil keputusan studi lanjut, yang digunakan sebagai angket uji coba item dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2

Kisi-Kisi Kuesioner Uji Coba Deskripsi Tingkat Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut

Aspek Indikator Item

Favorable dengan situasi sosial yang ada di sekitarnya.

3. Pemberian Skor

Pemberian skor untuk setiap alternatif jawaban untuk masing-masing item pernyataan adalah sebagai berikut:

a. Untuk pernyataan yang bersifat favorable (pernyataan positif), alternatif jawaban SS (Sangat Sesuai) diberi skor 4, alternatif jawaban S (Sesuai) diberi skor 3, alternatif jawaban KS (Kurang Sesuai) diberi skor 2 dan alternatif jawaban TS (Tidak Sesuai) diberi skor 1.

b. Untuk masing-masing pernyataan unfavorable (pernyataan negatif), alternatif jawaban SS (Sangat Sesuai) diberi skor 1, alternatif jawaban S (Sesuai) diberi skor 2, alternatif jawaban KS (Kurang Sesuai) diberi skor 3 dan alternatif jawaban TS (Tidak Sesuai) diberi skor 4.

4. Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti kemampuan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur atau sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2007). Validitas yang diperiksa dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas isi merupakan validitas yang mengukur elevasi item kuesioner dengan indikator keperilakuan dan tujuan ukur (Azwar, 2007).

Validitas isi dan uji keterbacaan dilakukan melalui expert judgment, yaitu penilaian oleh ahli. Expert judgment dalam penelitian ini diperoleh dari Guru BK di SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta yaitu bapak Bambang, S.Pd., disini Guru BK memberikan penilaian mengenai isi dan struktur kalimat yang sesuai dengan kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD).

Formula yang digunakan dalam analisis konsistensi internal butir item adalah sebagai berikut:

}

r

xy = Koefisien korelasi antara skor item dengan skor total

xy= Jumlah perkalian antara skor item dengan skor total

x= Jumlah skor item

y= Jumlah skor total

n

= Jumlah subyek

Semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.25 dianggap memuaskan yang artinya item tersebut dapat dipahami dengan baik oleh subyek penelitian. Jika kurang dari 0.25 item diinterpretasikan sebagai item yang memiliki daya diskriminasi rendah yang artinya item tersebut tidak bisa dipahami dengan baik oleh subyek penelitian (Azwar:2007).

Pada penelitian ini, jumlah responden sebanyak 30 siswa. Pada penelitian ini, item dinyatakan valid jika koefisien korelasi > 0,25.

Sedangkan, jika koefisien korelasinya < 0,25, maka item yang bersangkutan tidak valid. Berdasarkan perhitungan statistik yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan komputer melalui program SPSS (Statistical Program for Social Science) versi 16.0, diperoleh 43 item yang memiliki korelasi 0.25 dan 7 item yang memiliki korelasi

0.25. Hasil penghitungan koefisien korelasi item instrument penelitian dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 teman sebaya dan orangtua dalam mengambil keputusan. situasi sosial yang ada di sekitarnya.

11, 18, 22,

berdasarkan ide atau gagasan yang dimilikinya

Yakin terhadap potensi yang dimiliki. 46, 45, 42, 41, 48

5. Reliabilitas Kuesioner

Reliabilitas suatu alat ukur adalah derajat keajegan alat yang bersangkutan dalam mengukur apa saja yang diukurnya (Furchan, 2011).

Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (Azwar, 2011). Pengujian reliabilitas instrument dilakukan dengan teknik belah dua. Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner penelitian ini menggunakan pendekatan koefisien Alpha Cronbach (

a

) dengan rumus sebagai berikut:

 

 

  

 2 1

12 2 22

s

x

s a s

Keterangan:

a

: Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach

2

s

1 dan

s

22 : Varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2

2

s

x : Varians skor skala

Setelah dihitung dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 16.0, diperoleh perhitungan reliabilitas seluruh instrumen menggunakan rumus koefisien alpha (α) yaitu 0,852. Setelah itu, hasil perhitungan dikonsultasikan ke kriteria Guilford yang dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Kriteria Guilford

Berdasarkan kriteria Guilford diketahui bahwa koefisiensi realibilitas kuesioner termasuk tinggi. Item kuesioner yang telah lolos uji validitas dan reliabilitas disusun kembali menjadi kuesioner yang digunakan untuk pengambilan data penelitian. Kisi-kisi kuesioner kemandirian emosional yang final dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5

Koefisien Korelasi Kualifikasi

0,91-1,00 Sangat Tinggi

0,71-0,90 Tinggi

0,41-0,70 Cukup Tinggi

0,21-0,40 Rendah

Negatif-0,20 Sangat Rendah

Kisi-Kisi Kuesioner Penelitian

Kemandirian Mengambil Keputusan Studi Lanjut Setelah Uji Coba

Aspek Indikator

No Item

Favorable (+) Unfavorable (-) Memiliki kemampuan

dari keputusan yang diambilnya 22, 25 27, 29 Memiliki kekuatan terhadap

pengaruh dari orang lain.

(changes in conformity and susceptibility to influence).

Tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orangtua dalam mengambil keputusan.

13, 23, 24 14, 19

Tidak mudah terpengaruh dengan

situasi sosial yang ada di sekitarnya. 10, 17, 21 18, 26 Memiliki kepercayaan diri

berdasarkan ide atau gagasan yang dimilikinya

31, 32 35, 37

Yakin terhadap potensi yang dimiliki. 38, 40, 41 42 Mampu mengatasi sendiri masalah

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Persiapan dan Pelaksanaan

a. Mempelajari buku-buku tentang kemandirian dalam mengambil keputusan studi lanjut.

b. Menyusun kuesioner tentang kemandirian dalam mengambil keputusan studi lanjut.dengan mengikuti beberapa langkah yaitu:

1) Menetapkan dan mendefinifikan variabel penelitian.

2) Menjabarkan variabel penelitian ke dalam aspek-aspek dan indikator-indikatornya.

3) Menyusun item-item pernyataan sesuai dengan aspek dan indikator yang telah dibuat.

4) Mendiskusikan alat dan mendapat persetujuan (dari Guru BK di Sekolah).

5) Bertemu dengan Kepala Sekolah dan guru BK SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta untuk meminta ijin mengadakan uji coba alat penelitian dan melaksanakan penelitian.

6) Melaksanakan uji coba penelitian di SMP N 2 Girimulyo Kulon Progo Yogyakarta pada kelas VIII A.

7) Pengumpulan data uji empirik terhadap validitas dan reliabilitas

7) Pengumpulan data uji empirik terhadap validitas dan reliabilitas

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 35-129)

Dokumen terkait