Alur memegang peranan penting dalam cerita karena merupakan kerangka cerita. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Alur atau plot mempunyai tujuh tahapan yaitu eksposisi, inciting moment, rising action, complication,
klimaks, falling action dan denonement. Dalam Serat Prabangkara terdapat
lima episode penting yang dikisahkan oleh tokoh-tokoh sentralnya. Episode-episode tersebut terjalin dalam sebuah cerita yang baik dan menarik. Cerita diawali dari kisah Prabu Ondakara di Negara Indhu yang kehilangan putranya yang digadang-gadang menjadi raja yaitu Pangeran Adipati Prabangkara dan diakhiri dengan menikahnya Pangeran Adipati Prabangkara dengan Rara Apyu. Berdasarkan hasil analisis penelitian cerita, maka alur atau plot yang digunakan dalam Serat Prabangkara adalah alur maju. Selanjutnya, akan dipaparkan alur setiap episodenya.
Episode pertama dengan tokoh sentral Pangeran Adipati Prabangkara dan Rara Apyu dikisahkan dengan alur sebagai berikut:
a) Tahap Eksposisi I
Tahap eksposisi yaitu paparan awal cerita yang meliputi tahap pengenalan tentang kejadian, latar, topik, waktu, maupun tokoh-tokoh cerita. Pada tahap ini, pengarang mengawali cerita dengan memperkenalkan situasi negara Indhu dan rajanya yang bernama Prabu Ondakara. Diceritakan bahwa Negara Indhu adalah sebuah kerajaan yang besar. Negara-negara disekelilingnya pada tunduk kepadanya. Negara Indhu dipimpin oleh Prabu
Ondakara. Ia adalah seorang raja yang luhur, mempunyai anak berjumlah seratus dan juga mempunyai banyak istri. Dari sembilanpuluh Sembilan anaknya dilahirkan dari istri selir, dan satu anak laki-laki dan merupakan yang terakhir dilahirkan oleh istri permaisurinya. Anak terakhir itu bernama Pangeran Adipati Prabangkara, yang nantinya digadang-gadang menjadi raja. Pangeran Adipati Prabangkara disekolahkan bersama teman-temannya yang di situ berbaur antara anak laki-laki dan perempuan. Setelah sekian lama disekolah Pangeran Adipati Prabangkara pun beranjak dewasa. Ia mulai timbul rasa cinta kepada teman sekolahnya yang bernama Rara Apyu yang merupakan teman di sekolahnya. Setelah sekian lama mereka akrab akhirnya mereka sepakat untuk menjalin tali cinta.
b) Tahap Inciting Moment I
Tahap inciting moment I yaitu tahap pemunculan konflik atau peristiwa yang mulai adanya problem-problem untuk kemudian dikembangkan atau ditingkatkan. Setelah konflik tersebut dimunculkan, maka konflik akan berkembang pada tahap berikutnya. Peristiwa pada tahap ini ditandai ketika Prabu Ondakara merasa curiga kepada perilaku anaknya yaitu Pangeran Adipati Prabangkara yang telah lama meninggalkan tidak ikut dalam pertemuan jajaran pemerintahan di kerajaan.
Setelah mendengar informasi bahwa ternyata putra Sang Prabu tersebut sedang dirundung asmara dengan wanita anak penari kerajaan Indhu. Sang Prabu mulai galau, dan Ia menyuruh Patihnya untuk mengingatkan dan
commit to user
membimbing putranya tersebut agar tidak menikah dengan anak dari kalangan rakyat jelata.
c) Tahap Rising Action I
Tahap rising action I merupakan tahap peningkatan atau penanjakan konflik. Jika terjadi suatu penanjakan konflik secara terus-menerus, maka Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencekam dan menegangkan. Tahap penanjakan konflik ini ditandai oleh peristiwa ketika Prabu Ondakara hendak menjodohkan anaknya dengan putri raja atau keluarga raja. Lalu kabar tersebut disampaikan oleh Geniraga yang merupakan kakak dari Rara Apyu, sehingga hal tersebut membuat sedih Rara Apyu. Dengan segala kegalauannya tersebut, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah pada malam hari.
d) Tahap Complication I
Tahap complication I adalah tahap dimana konflik yang semakin ruwet. Keruwetan yang terjadi karena pertentangan-pertentangan, benturan-benturan, masalah dan tokoh mengarah ke klimaks semakin tidak dapat dihindari. Tahap ini ditengarai ketika setelah mengetahui anaknya sudah tidak ada dirumah, lalu Ki Jurutaman segera melaporkan hal tersebut kepada Pangeran Adipati Prabangkara. Hal itu semakin menambah kebingungan Sang Pangeran. Lalu Ia memutuskan untuk menyiapkan segala kebutuhan untuk pergi mencari Rara Apyu.
Kepergian Sang Pangeran mulai dirasakan oleh pembantu kerajaan karena melihat kamarnya dalam keadaan kosong. Penbantu tersebut lalu
melaporkan kepada Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu Ondakara dan permaisuri segera mengecek kamar Pangeran Adipati Prabangkara. Setelah mencari putranya ternyata tidak ketemu, lalu mereka menemukan surat yang memang sengaja ditinggalkan oleh Pangeran Adipati Prabangkara untuk orang tuanya. Isi surat tersebut adalah ungkapan rasa perlawan Pangeran Adipati Prabangkara terhadap keinginan ayahnya yang menginginkan putranya menikah dengan anak raja. Lalu Pangeran Adipati Prabangkara memilih meninggalkan keluarga serta tugas negara, dan lebih memilih mencari kepergian kekasihnya Rara Apyu. Setelah membaca surat tersebut, Prabu Ondakara tidak kuasa menahan tetesan air mata. Setelah mengetahui bahwa Pangeran Adipati Prabangkara ternyata benar-benar pergi dari kerajaan, lalu Sang Prameswari menangis seketika, kemudian pingsan. Lalu Sang Prabu dengan cepat mengambil inisiatif untuk turut mencari kepergian putranya. Dengan demikian suasana kerajaan menjadi tidak kondusif karena ditinggal oleh Sang Raja.
e) Tahap Klimaks I
Tahap klimaks merupakan konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang diakui atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Dengan kata lain klimaks merupakan puncak konflik dari keseluruhan cerita. Klimaks I ini ditandai ketika Pangeran Adipati Prabangkara mencari Rara Apyu. Setelah beberapa waktu tapi belum bisa menemukannya. Lalu Ia menggukan ilmu penciuman untuk mencari Rara Apyu. Setelah sesampai di pinggir sendang Pangeran Adipati Prabangkara menemukan Rara
commit to user
Apyu. Kemudian tanpa sepengetahuan Rara Apyu, dipeluklah oleh Pangeran Adipati Prabangkara dari belakang. Rara Apyu sangat terkejut namun bercampur rasa haru dan senang. Mereka lalu saling perpelukan. Itulah kontak fisik pertama selama mereka menjalin kasih.
f) Tahap Falling Action I
Tahap falling action yaitu konflik yang dibangun itu menurun karena telah mencapai klimaks. Emosi memuncak telah berkurang, konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Tahap falling
action I ditandai pada saat Pangeran Adipati Prabangkara dan Rara Apyu mulai
berduaan di tepi sendang. Mereka masih diselimuti rasa kangen dan haru. Dalam pembicaraannya mereka merencanakan untuk tidak kembali ke kerajaan, namun tetap hidup bersama dan bisa menikah. Maka mereka melanjutkan perjalanan ke suatu desa untuk mencari orang yang dapat menikahkannya.
Episode kedua, dengan tokoh sentral Pangeran Adipati Prabangkara, Rara Apyu, dan Ki Umbul Pedakbrama yang dikisahkan dengan plot sebagai berikut:
a) Tahap Inciting Moment II
Setelah tahap Inciting Moment II di atas, maka cerita bergerak lagi. Yaitu setelah penyelesaian lalu cerita mengalami pergerakan dengan mulai adanya konflik dan problem-problem yang kemudian akan ditingkatkan. Hal ini ditandai ketika Ki Umbul Pedakbrama mendapat informasi bahwa ada orang yang membeli lima buah mentimun dengan satu keping uang emas,
yaitu Pangeran Adipati Prabangkara. Hal tersebut membuat penasaran Ki Umbul Pedakbrama, sehingga Ia mencoba menyambut kedatangan Pangeran Adipati Prabangkara di tepi sungai batas desa.
b) Tahap Rising Action II
Tahap Rising Action II, yaitu penanjakan konflik ditandai ketika Ki Umbul Pedakbrama telah mengira bahwa Pangeran Adipati Prabangkara adalah orang yang ingin kawin lari, serta uang yang dimiliki Pangeran Adipati Prabangkara adalah uang hasil curian. Maka Ki Pedakbrama berkeinginan untuk menangkapnya dan menyerahkannya kepada kerajaan. c) Tahap Complication II
Tahap complication II atau tahap dimana konflik yang semakin ruwet. Pada tahap ini ditengarai ketika Rara Apyu setelah berfikir bahwa dirinya mesara bersalah terhadap kehidupan Pangeran Adipati Prabangkara, lalu karena tekanan batin yang sangat dalam akhirnya tiba-tiba Ia meninggal. Kemudian setelah mengetahui bahwa Rara Apyu meninggal, Pangeran Adipati Prabangkara sangat terkejut dan terpukul hingga dirinya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Mengetahui hal tersebut, istri Ki Umbul Pedakbrama pun menangis tidak karuan. Namun Ki Pedakbrama justru senang, bahkan melarang istrinya untuk menangis dan Ia berkata bahwa kedua tamunya tersebut telah mati dan semua uangnya telah dititipkan kepadanya. Pangeran Adipati Prabangkara dan Rara Apyu yang masih dalam pingsan, lalu dipocong dan dihanyutkan ke sungai oleh Ki Umbul Pedakbrama. Hal itu dilakukan agar Pangeran Adipati Prabangkara menjadi benar-benar mati.