Tujuan analisis deskriptif ini adalah untuk memberi gambaran umum mengenai kondisi responden yang diteliti tentang komunikasi interpersonal, stres kerja, dan kepuasan kerjanya. Berdasarkan data yang diperoleh tampak pada tabel berikut :
Tabel 17 Statistik Deskriptif
Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk kepuasan kerja skor tertinggi adalah 258 dan terendah 173, dengan nilai rata-rata 200,37. Selanjutnya untuk komunikasi interpersonal skor tertinggi 152 dan skor terendah 77, dengan nilai rata-rata 124,89. Sedangkan stres kerja skor tertinggi 146 dan skor terendah 82, dengan nilai rata-rata 114,43.
Berdasarkan hasil di atas kemudian dilakukan kategorisasi responden secara normatif untuk memberi interpretasi terhadap skor skala. Kategorisasi ini didasarkan pada model distribusi normal. Menurut Azwar (2008) kategorisasi ini menempatkan responden ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Kategorisasi ini
commit to user
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Norma yang digunakan adalah sebagai berikut :
X < (µ - 1,0 ) : Rendah (µ - 1,0 ) X < (µ + 1,0 ) : Sedang (µ + 1,0 ) X : Tinggi Keterangan : X : skor skala µ : nilai rata-rata : stadar deviasi
Berdasarkan norma kategori diatas maka diperoleh hasil seperti tampak pada tabel berikut :
commit to user
Tabel 18
Kategori Responden Berdasarkan Skor Skala
Ketegorisasi Komposisi
Variabel
Kategori Skor Jumlah Prosentase
Rendah X < 186 12 12,8 % Sedang 186 X < 216 73 77,7 % Kepuasan Kerja Tinggi X 216 9 9,5 % Rendah X < 113 9 9,5 % Sedang 113 X < 137 76 81 % munikasi Interpersonal Tinggi X 137 9 9,5 % Rendah X < 102 13 13,8 % Sedang 102 X < 128 68 72,4 % Stres Kerja Tinggi X 128 13 13,8 %
Tabel di atas menunjukkan bahwa kepuasan kerja responden penelitian yang paling besar prosentasenya berada dalam kategori sedang, yaitu sebesar 77,7%. Komunikasi interpersonal responden yang paling besar juga berada pada kategori sedang, yaitu sebesar 81%. Demikian pula stres kerja responden penelitian yang paling besar berada pada kategori sedang, yaitu sebesar 72,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa keadaan responden penelitian untuk seluruh variabel penelitian berada pada kategori sedang.
D. Pembahasan
Analisis data telah membuktikan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara komunikasi interpersonal dan stres kerja dengan kepuasan kerja. Olah data penelitian menghasilkan nilai korelasi (r) sebesar 0,600 pada taraf
commit to user
signifikansi (p) 0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel komunikasi interpersonal dan stres kerja dapat dijadikan prediktor untuk memprediksi kepuasan kerja.
Hasil analisis antara masing-masing variabel bebas dengan variabel tergantung juga menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan. Korelasi antara variabel komunikasi interpersonal dan variabel kepuasan kerja sebesar 0,363 pada taraf signifikansi (p) 0,000, sedangkan korelasi antara variabel stres kerja dengan variabel kepuasan kerja sebesar -0,600 pada taraf signifikansi (p) 0,000.
Nursalam (2002) menyatakan bahwa komunikasi dalam praktik keperawatan profesional merupakan unsur utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan untuk mencapai hasil yang optimal. Purba (2003) jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka.
Melihat hasil penelitian yang menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan antara komunikasi interpersonal dengan kepuasan kerja, maka jelaslah bahwa komunikasi interpersonal memegang peranan penting bagi perawat dalam menjalankan tugas asuhan keperawatan. Adanya komunikasi interpersonal yang baik tidak saja akan menyebabkan perawat tahu sampai sejauhmana mereka berhasil menjalankan tugas, akan tetapi juga akan tahu bahwa dalam bekerja dapat diterima dengan baik oleh pasien.
commit to user
Kritikan-kritikan, pendapat-pendapat, dorongan-dorongan dari rekan sekerja membuat perawat menyadari apakah selama bekerja telah menjalankan tugas dengan benar. Umpan balik dari rekan sekerja akan sangat berarti untuk masukan bagi para perawat. Hal ini tidak akan terjadi bila tidak ada komunikasi interpersonal yang baik.
Demikian pula umpan balik dari pasien sangat dibutuhkan bagi perawat. Adanya komunikasi interpersonal yang baik akan menjadikan perawat mengetahui bahwa apakah selama menjalankan tugas dapat diterima dengan baik oleh pasien.
Pendapat, dorongan, serta sikap penerimaan yang baik dari pasien menjadi umpan balik yang sangat berarti bagi perawat, sehingga akan meningkatkan kepuasan kerja para perawat.
Menurut Oentoro, Zamralita dan Lianawati (2006) stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan yang terjadi karena adanya tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan dalam pekerjaan yang melebihi ambang kewajaran dan disertai kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Schuler dan Jackson (1979) berpendapat bahwa stres kerja merupakan suatu keadaan dimana faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan saling mempengaruhi dan mengubah keadaan fisik dan psikis karyawan.
Seperti diketahui, menghadapi pasien (orang sakit) pasti akan menyebabkan perawat dalam tekanan yang besar. Menghadapi pasien dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Bagaimanapun juga pasien pasti ingin mendapatkan pelayanan dan perhatian yang lebih. Belum lagi perawat harus menghadapi para dokter yang pastinya menuntut tidak adanya kesalahan dalam menjalankan tugas.
commit to user
Hal ini juga akan mengakibatkan adanya tekanan dalam diri perawat, yang pada akhirnya dapat menyebabkan stres kerja.
Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang sangat signifikan antara stres kerja dengan kepuasan kerja, dimana korelasinya bernilai negatif. Artinya, semakin rendah stres kerja akan menyebabkan semakin tinggi kepuasan kerja.
Merujuk hasil penelitian tersebut, maka adanya stres kerja yang tinggi akan menyebabkan kepuasan kerja yang rendah. Menurut Wilson dan Corlett (dalam Wulanyani dan Sudiajeng, 2006) secara umum ada tiga situasi yang dapat memicu timbulnya stres kerja, yaitu pekerja dihadapkan pada tuntutan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, pekerja yang mempunyai keterbatasan dalam mengatasi masalahnya, dan dukungan yang kurang dari kolega, penyelia, teman atau keluarga.
Adanya keterbatasan dalam hal kemampuan menyelesaikan tugas serta kemampuan mengatasi masalah, serta kurangnya dukungan dari rekan sekerja maupun keluarga akan menimbulkan stres kerja. Oleh karena itu perlu kiranya kondisi ini dikurangi atau bahkan dihilangkan agar stres kerja dapat dikurangi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan kerja.