• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan batu bata adalah tanah lempung yang diambil dari sawah di sekitar tempat industri batu bata. Syarat tanah yang digunakan untuk bahan baku batu bata tidak terlalu sulit dibandingkan dengan bahan baku genting atupun kerajinan keramik. Jika genting dan keramik memerlukan tanah dengan kadar lempung yang tinggi namun kalau batu bata bisa menggunakan tanah dengan kadar lempung yang rendah dan ssedikit berpasir. Bahan baku pembuatan batu bata di daerah penelitian sangat mudah didapat apalagi pada musin kemarau dimana sawah tidak ditanami.

Sebagai bahan tambahan atau campuran pembuatan batu bata digunakan abu sisa pembakaran batu bata ataupun abu sisa pembakaran dari industri lain yang dibeli oleh para produsen batu bata. Bahan tersebut sifatnya hanya sebagai bahan tambahan dan tidak mutlak harus ada. Abu sifatnya hanya sebagai tambahan dan tidak mutlak harus ada, karena walau tanpa bahan campuran tersebut tanah di daerah penelitian sudah dapat dibuat batu bata, hanya saja dengan tambahan abu tersebut akan mempermudah saat proses mencetak batu bata.

Gambar 4. Abu sebagai bahan campuran Sumber : Dokumentasi Pribadi

Abu biasanya diperoleh setelah proses pembakaran batu bata, sedangkan kompos hanya ada setelah musim panen. Ketersediaan air yang cukup juga menjadi salah satu syarat penting dalam proses pembuatan batu bata. Air sanagt dibutuhkan saat proses membuat adonan batu bata. Para pengrajin biasanya memanfaatkan air sungai atau saluran irigasi sawah.

Adapun kegunaan abu campuran dalam penduatan batu bata adalah agar batu bata yang sudah dicetak tidak mudah pecah ketika dikeringkan dengan cara dijemur pada terik sinar matahari, agar pada waktu batu bata dicetak tidak lengket dengan dasar tanah tempat mencetak batu bata sehingga lebih muda dalam proses pengangkatan batu bata, selain itu abu juga berfungsi supaya bata yang sudah dibakar warnanya menjadi lebih merah sehingga dapat menarik minat pembeli. Dan yang terakhir adalah untuk mengurangi resiko kebakaran pada saat proses pembakaran karena abu dapat mencegah api supaya tidak mudah menjalar ketempat yang lain.

3. Bahan Bakar

Bahan bakar yang digunakan untuk membakar batu bata di daerah penelitian yaitu menggunakan merang atau sekam. Merang atau sekam diperoleh dari perusahaan penggilingan padi yang letaknya agak jauh dari lokasi industri batu bata. Pada musim panen padi sekam lebih mudah didapat dan harganya relatif murah, sedangkan pada musim tanam sekam agak sulit didapat dan harganya relatif mahal.

Sebelum industri batu bata berkembang pada mulanya produsen batu bata di daerah penelitian membeli sekam di penggilingan padi setempat. Seiring berkembangnya industri batu bata menyebabkan permintaan terhadap bahan bakar semakin meningkat sehingga mereka harus mendatangkan dari luar daerah. Berdasarkan informasi dari produsen batu bata harga 1 truk sekam Rp. 1.600.000,00 sedangkan kalau diluar musim panen harganya mencapai Rp. 1.800.000,00/truk.

commit to user

c. Proses Pembuatan Batu Bata

Proses pembuatan batu bata pada umumnya hampir sama di setiap daerah. Begitu juga proses pembuatan batu bata di daerah penelitian. Adapun proses pembuatan batu bata di Desa panggisari secara garis besar adalah sebagai berikut :

1. Meluluh

Meluluh adalah proses awal pembuatan batu bata yaitu dengan cara mengolah tanah yang sudah dicampur dengan air kemudian diaduk bolak balik dan diinjak-injak sehingga menjadi jenangan atau luluan. Hampir semua produsen batu bata mencampurkan abu kedalam jenangan batu bata. Hal ini dikarenakan agar lebih mudah mengolah dan tidak lengket dengan dasar tanah.

2. Mencetak

Mencetak yaitu membuat bentuk batu bata dengan cetakan yang dibuat dari papan kayu diatas tanah yang rata yang sudah disiapkan dengan bentuk dan ukuran yang sama. Proses pencetakan dilakukan ditempat terbuka yang langsung terkena sinar matahari sehingga batu bata cepat kering. Hampir semua industri batu bata di Desa Panggisari menggunakan ukuran panjang 20 cm, lebar 10 cm, dan tinggi 5 cm.

Gambar 5. Bahan bakar merang/sekam Sumber : Dokumentasi Pribadi

3. Pengeringan

Proses pengeringan batu bata sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi cuaca. Saat musim kemarau proses pengeringan akan menjadi lebih cepat. Proses pengeringan batu bata ini harus sempurna tujuannya agar batu bata tidak pecah pada saat dibakar.

4. Melingga

Melingga adalah proses menyusun batu bata mentah di tempat pembakaran dengan bentuk susunan tertentu. Susunan batu bata ditata sedemikian rupa sehingga berfungsi menjadi sebuah tungku pembaharan.

5. Membakar

Setelah disusun menjadi lingga selanjutnya adalah proses pembakaran dengan merang/sekam. Adapun bahan bakar mrambut digunakan tergantung dari

Gambar 6. Proses mencatak batu bata

Gambar 7. Proses pengeringan batu bata Sumber : Dokumentasi Pribadi

commit to user

jumlah batu bata yang akan dibakar. Semakin banyak batu bata yang akan dibakar maka semakin banyak juga sekam yang dibutuhkan.

6. Membongkar linggan

Membongkar linggan dikerjakan setelah batu bata matang. Hal ini dilakukan dengan cara membersihkan abu sekam sisa pembakaran ke tempat tertentu agar bisa digunakan lagi untuk campuran. Setelah itu batu bata yang sudah matang ditata dan dihitung untuk siap dijual.

Gambar 8. Batu bata yang sedang dibakar Sumber : Dokumentasi Pribadi

7. Karakteristik Responden

Di dalam penelitian ini menggunakan 20 orang responden, sedangkan subyek dari penelitian ini adalah produsen/penghasil batu bata yang ada di Desa Panggisari Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara tahun 2011.

a. Jenis Kelamin Produsen Batu Bata

Dari hasil penelitian di lapangan, didapatkan data melalui wawancara bahwa dari 20 orang responden berdasarkan jenis kelaminnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 10. Jenis Kelamin Responden Produsen Batu Bata di Desa Panggisari tahun 2011

Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) (%)

Laki-laki 17 85

Perempuan 3 15

Jumlah 20 100

Sumber : Data Primer tahun 2011

Dari tabel di atas menunjukan bahwa jumlah responden yang lebih banyak adalah laki-laki, yaitu sejumlah 17 orang atau 85% dan perempuan sebanyak 3 orang yaitu sejumlah 3 orang atau 15% dari semua responden yang didapat di lapangan. Responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah laki-laki karena secara umum mereka mempunyai tanggung jawab untuk mencari nafkah. Dan harus bekerja dimana salah satunya adalah sebagai pengrajin batu bata.

commit to user

Dokumen terkait