• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji Normalitas Data Persamaan Regresi KP dan KO

Gambar 4.4

Hasil Uji Normalitas Data Persamaan Regresi KP, KO dan PDA

commit to user

Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan jika tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik dapat sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping menggunakan uji grafik, dilengkapi juga dengan uji statistik. Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik

Kolmogorov-Smirnov (K-S). Pada tabel 4.21 dibawah ini merupakan hasil uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov untuk persamaan regresi pertama adalah 0.659 dan tidak signifikan pada 0.778. Sedangkan nilai

Kolmogorov-Smirnov untuk persamaan regresi kedua adalah 0.836 dan tidak signifikan pada 0.487. Jadi, dapat disimpulkan bahwa data residual kedua persamaan regresi berdistribusi secara normal.

Tabel 4.21

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Model Keterangan Unstandardized Residual

Pers. Regresi 1 Kolmogorov-Smirnov Z .659

Asymp. Sig. (2-tailed) .778

Pers. Regresi 2 Kolmogorov-Smirnov Z .836

Asymp. Sig. (2-tailed) .487

4. Uji Hipotesis

a. Uji Hipotesis Satu

Tabel 4.22

Analisis pengaruh positif antara komitmen profesional (KP) terhadap komitmen organisasi (KO)

Variabel Dependen Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t hitung Sig B Std. Error Beta Konstanta Komitmen Profesional (KP) 17.538 0.463 7.033 0.115 0.512 2.494 4.041 0.016 0.000*** Variabel dependen R square Adjusted R square F hitung Sig. F

: Komitmen Organisasi (KO) : 0.262

: 0.246 : 16.329 : 0.000

Sumber: lampiran hasil olah data SPSS

Keterangan : *** (signifikan pada tingkat signifikansi 1%)

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif antara komitmen profesional (KP) terhadap komitmen organisasi (KO). Berdasarkan analisis tabel 4.22 besarnya nilai konstanta positif, yang berarti jika variabel komitmen profesional sama dengan nol maka komitmen organisasi masih ada kecenderungan peningkatan. Besarnya koefisien regresi dari variabel independen komitmen profesional menunjukkan nilai positif sebesar 0.512, memberikan indikasi bahwa komitmen profesional berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. Dengan kata lain apabila komitmen profesional naik maka akan mengakibatkan meningkatnya komitmen

commit to user

organisasi dengan anggapan faktor-faktor lainnya konstan. Adapun hasil analisis model pengaruh antara komitmen profesional (KP) terhadap komitmen organisasi (KO) dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

KO = 17.538 + 0.512 KP

Nilai t merupakan uji kecocokan model pengaruh secara individu dari variabel komitmen profesional (KP) terhadap komitmen organisasi (KO). Suatu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen dilihat dari nilai signifikansi nilai t. Nilai itu dikatakan signifikan jika tingkat signifikansi < 0.05. Nilai t variabel komitmen profesional (KP) sebesar 4.041 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p-value < 0.05), sehingga H0 ditolak artinya komitmen profesional berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi. Sedangkan dari uji ANOVA atau F test didapat nilai F hitung sebesar 16.329 dengan probabilitas 0.000. Karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0.05, maka dapat dinyatakan bahwa komitmen profesional (KP) dapat digunakan untuk memprediksi komitmen organisasi (KO). Hipotesis pertama untuk pengaruh positif antara komitmen profesional terhadap komitmen organisasi secara langsung terbukti sebagaimana hasil penelitian Paino et al (2011).

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Kalbers dan Forgaty (1995) serta Restuningdiah (2009) yang menunjukkan bahwa

terdapat pengaruh komitmen profesional dan komitmen organisasi. Hasil ini memberikan makna bahwa auditor perlu memiliki idealisme dalam menjalankan profesinya sehingga auditor yang memiliki dorongan untuk menjadi idealis akan berpengaruh pula terhadap rasa ikut memiliki dalam organisasi. Seorang auditor yang memiliki komitmen pada profesinya akan memiliki loyalitas pada organisasinya.

Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.262 sedangkan R square

yang telah disesuaikan (adjusted R square) sebesar 0.246. Ini artinya bahwa 24.6% variabel komitmen organisasi dapat dijelaskan oleh variabel komitmen profesional. Sedangkan 75.4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam model penelitian ini.

b. Uji Hipotesis Dua dan Tiga

Tabel 4.23

Analisis regresi pengaruh komitmen profesional (KP) dan komitmen organisasi (KO) pada perilaku disfungsional audit (PDA)

Variabel Dependen Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t hitung Sig B Std. Error Beta Konstanta Komitmen Profesional (KP) Komitmen Organisasi (KO) -12.212 0.174 0.288 6.620 0.118 0.130 0.224 0.335 -1.848 1.482 2.211 0.071 0.145 0.032** Variabel dependen R square Adjusted R square F hitung Sig. F

: Perilaku Disfungsional Audit (PDA) : 0.239

: 0.205 : 7.074 : 0.002

Sumber: lampiran hasil olah data SPSS

commit to user

Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh negatif antara komitmen organisasi (KO) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA). Berdasarkan analisis tabel 4.23 besarnya nilai konstanta negatif, yang berarti jika variabel komitmen organisasi sama dengan nol maka perilaku disfungsional audit masih ada kecenderungan penurunan. Besarnya koefisien regresi dari variabel independen komitmen organisasi menunjukkan nilai positif sebesar 0.335, memberikan indikasi bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap perilaku disfungsional audit. Dengan kata lain apabila komitmen organisasi naik maka akan mengakibatkan meningkatnya perilaku disfungsional audit dengan anggapan faktor-faktor lainnya konstan. Adapun hasil analisis model pengaruh antara komitmen organisasi (KO) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA) dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

PDA = -12.212 + 0.335 KO

Nilai t merupakan uji kecocokan model pengaruh secara individu dari variabel komitmen organisasi (KO) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA). Suatu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen dilihat dari nilai signifikansi nilai t. Nilai itu dikatakan signifikan jika tingkat signifikansi < 0.05. Nilai t variabel komitmen organisasi (KO) sebesar 2.211 dengan tingkat signifikansi 0.032 (p-value < 0.05), sehingga H0 ditolak artinya komitmen organisasi berpengaruh

secara signifikan terhadap perilaku disfungsional audit. Sedangkan dari uji ANOVA atau F test didapat nilai F hitung sebesar 7.074 dengan probabilitas 0.002. Karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0.05, maka dapat dinyatakan bahwa komitmen organisasi (KO) dapat digunakan untuk memprediksi perilaku disfungsional audit (PDA). Hipotesis kedua untuk pengaruh negatif antara komitmen organisasi terhadap perilaku disfungsional audit secara langsung tidak terbukti karena hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat pengaruh positif antara komitmen organisasi terhadap perilaku disfungsional audit secara langsung. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Paino et al. (2011) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara komitmen organisasi terhadap perilaku disfungsional audit.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Maryanti (2005) yang menunjukkan bahwa hubungan komitmen organisasi dengan perilaku disfungsional audit menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku disfungsional audit tidak dianggap sebagai perilaku yang disfungsional yang merugikan melainkan dianggap sebagai alat untuk menunjukkan komitmen seorang auditor pada organisasinya serta sebagai alat yang potensial untuk mendapatkan promosi.

Selain itu teory Mowday, Porter dan Dubin (1974) dalam Donnelly

commit to user

komitmen lebih tinggi akan menunjukkan loyalitas yang besar kepada perusahaan dimana mereka bekerja dibanding karyawan yang memiliki komitmen yang lebih rendah, sehingga terdapat kecenderungan bahwa auditor yang memiliki komitmen yang tinggi pada KAP akan menerima saran-saran yang diberikan oleh atasan meskipun atasan dapat mendorong terjadinya perilaku disfungsi audit seperti misalnya penghentian prematur atas prosedur audit.

Hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh negatif antara komitmen profesional (KP) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA). Berdasarkan analisis tabel 4.23 besarnya nilai konstanta negatif, yang berarti jika variabel komitmen profesional sama dengan nol maka perilaku disfungsional audit masih ada kecenderungan penurunan. Besarnya koefisien regresi dari variabel independen komitmen organisasi menunjukkan nilai positif sebesar 0.224, memberikan indikasi bahwa komitmen profesional berpengaruh positif terhadap perilaku disfungsional audit. Dengan kata lain apabila komitmen profesional naik maka akan mengakibatkan meningkatnya perilaku disfungsional audit dengan anggapan faktor-faktor lainnya konstan. Adapun hasil analisis model pengaruh antara komitmen profesional (KP) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA) dapat ditulis dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

Nilai t merupakan uji kecocokan model pengaruh secara individu dari variabel komitmen profesional (KP) terhadap perilaku disfungsional audit (PDA). Suatu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen dilihat dari nilai signifikansi nilai t. Nilai itu dikatakan signifikan jika tingkat signifikansi < 0.05. Nilai t variabel komitmen profesional (KP) sebesar 1.482 dengan tingkat signifikansi 0.145 (p-value > 0.05), sehingga H0 diterima artinya komitmen profesional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku disfungsional audit. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa komitmen profesional (KP) tidak dapat digunakan untuk memprediksi perilaku disfungsional audit (PDA). Hipotesis ketiga untuk pengaruh negatif antara komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit secara langsung tidak terbukti. Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Paino

et al. (2011) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Malone dan Robert (1996), Otley dan Pierce (1996) yang menyatakan bahwa komitmen profesional tidak berpengaruh signifikan terhadap bentuk perilaku disfungsional audit. Selain itu penelitian Nugroho (2008) dan Wahyudi et al. (2011) menghasilkan komitmen profesional tidak memiliki pengaruh terhadap penghentian prematur atas prosedur audit yang merupakan salah

commit to user

satu bentuk perilaku disfungsional audit dikarenakan masa kerja auditor belum terlalu lama.

Komitmen profesional telah dianggap sebagai variabel penting untuk mempelajari efek dari komitmen organisasi terhadap perilaku disfungsional audit sebagaimana yang dipelajari oleh Aranya et al. (1982), Kalbers dan Fogarty (1995) dan Otley dan Pierce (1996), yang semuanya menunjukkan bahwa komitmen profesional dan komitmen organisasi mungkin tidak independen satu sama lain serta komitmen organisasi merupakan fungsi dari komitmen profesional.

Hasil yang tidak signifikan ini dikarenakan sampel yang digunakan peneliti merupakan auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik. Tingkat komitmen profesional auditor yang bekerja di KAP lebih tinggi dibandingkan dengan yang bekerja pada organisasi non-profesi yaitu auditor internal dan akuntan pendidik. Hal ini sesuai dengan pendapat Aranya dan Ferris (1984) yang menyatakan tinggi rendahnya komitmen profesional auditor dipengaruhi oleh organisasi dimana dia bekerja. Auditor yang bekerja pada organisasi profesi memiliki komitmen profesional yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor yang bekerja pada organisasi non-profesi. Jadi, hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa meningkatkan komitmen organisasi akan mempengaruhi rendahnya tingkat perilaku disfungsional audit, tetapi tidak dengan komitmen profesional.Sehingga, studi ini mengidentifikasi

komitmen organisasi sebagai pengaruh penting terhadap perilaku disfungsional audit.

Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.239 sedangkan R square

yang telah disesuaikan (adjusted R square) sebesar 0.205. Ini artinya bahwa 20.5% variabel perilaku disfungsional audit dapat dijelaskan oleh variabel komitmen organisasi dan komitmen profesional. Sedangkan 79.5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam model penelitian ini.

c. Uji Hipotesis Empat

Pada tabel 4.22 sebelumnya telah ditampilkan hasil analisis persamaan regresi 1 yang menghasilkan standardize koefisien komitmen profesional sebesar 0.512 dan signifikan pada 0.000 yang berarti bahwa komitmen profesional mempengaruhi komitmen organisasi. Nilai koefisien standardized beta 0.512 merupakan nilai path atau jalur p2.

Sedangkan pada tabel 4.23 menunjukkan hasil persamaan regresi 2 dengan nilai standardized beta untuk komitmen profesional 0.224 dengan tingkat signifikansi 0.145 (diatas 0.05) menunjukkan bahwa status komitmen profesional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku disfungsional audit. Sedangkan nilai standardized beta variabel komitmen organisasi sebesar 0.335 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.032 (dibawah 0.05) menunjukkan bahwa komitmen organisasi

commit to user

berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku disfungsional audit di dalam persamaan ini. Nilai standardized beta komitmen profesional 0.224 merupakan nilai jalur p1 dan nilai standardized beta komitmen organisasi 0.335 merupakan nilai jalur p3.

Dari hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit harus melalui komitmen organisasi, sehingga komitmen organisasi memediasi pengaruh komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit. Hal ini menguatkan posisi atau kedudukan variabel komitmen organisasi sebagai variabel pemediasi sebagaimana dalam acuan jurnal utama Paino et al (2011), sehingga hipotesis empat didukung.

Penghitungan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung dalam penelitian ini menggunakan metode analisis jalur yang menggunakan nilai standardized beta dari masing-masing varibel. Berikut disajikan gambar untuk masing-masing nilai koefisien jalur.

Keterangan : *** (signifikan pada tingkat signifikansi 1%) ** (signifikan pada tingkat signifikansi 5%) ts (tidak signifikan)

Gambar 4.5 Hasil Uji Path Analysis

p1= 0.224ts p3 = 0.335** p2 = 0.512*** PDA KP KO

Penghitungan hasil analisis jalur diatas adalah:

Total pengaruh komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit sebagai berikut:

Pengaruh langsung KP ke PDA (p1) = 0.224ts

Pengaruh tidak langsung KP ke KO ke PDA (p2 x p3) = 0.172** Total pengaruh langsung dan tidak langsung (p1 + (p2 x p3)) = 0.396

Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa besarnya pengaruh langsung komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit adalah sebesar 0.224, tetapi pengaruh langsung ini tidak signifikan. Besarnya pengaruh tidak langsung komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit melalui komitmen organisasi harus mengalikan koefisien tidak langsungnya yaitu 0.512 x 0.335 = 0.172, dimana p2 dan p3 signifikan. Oleh karena koefisien hubungan langsung tidak signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa komitmen profesional (KP) tidak berpengaruh secara langsung terhadap perilaku disfungsional audit (PDA), tetapi memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perilaku disfungsional audit yaitu dari KP ke KO (sebagai intervening) kemudian ke PDA. Untuk itu hipotesis empat dalam penelitian ini didukung. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Paino et al. (2011) bahwa terdapat pengaruh tidak langsung komitmen profesional terhadap perilaku disfungsional audit melalui komitmen organisasi.

commit to user

76

Dokumen terkait