Sedangkan fungsi manajemen umum dalam mengelola komponen internal adalah :
1. Mengorganisasikan dan menyusun staff: dalam mengorganisasikan, manajer membentuk struktur (unit dan jabatan yang diberi wewenang dan tanggung jawab) dan prosedur untuk mengkoordinasikan kegiatan dan mengambil tindakan.
2. Mengarahkan pegawai dan sistem manajemen kepegawaian: kapasitas organisasi terletak pada anggotanya, serta keahlian dan pengetahuan mereka. Sistem manajemen kepegawaian merekrut, menyeleksi, mensosialisasikan, melatih, memberi imbalan, memberi hukuman, dan mengeluarkan modal manusia organisasi, yang merupakan kapasitas organisasi untuk bertindak untuk mencapai tujuannya dan untuk merespon arahan khusus dari manajemen.
3. Mengontrol kinerja: berbagai sistem informasi manajemen – termasuk anggaran modal dan operasional, akuntansi, laporan, dan sistem statistik, penilaian kinerja, dan evaluasi produk – membantu manajemen dalam membuat keputusan dan dalam mengukur kemajuan kearah tujuan.
Dan fungsi manajemen umum dalam mengelola konstituensi eksternal adalah :
1. Berhubungan dengan unit ‘eksternal’ organisasi berkaitan dengan beberapa wewenang/otoritas umum.
2. Berhubungan dengan organisasi independen: badan-badan dari cabang lain atau tingkat-tingkat pemerintahan, kelompok kepentingan, dan usaha
swasta yang dapat mempengaruhi kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya.
4. Berhubungan dengan pers dan publik yang tindakannya atau persetujuannya atau kepatuhannya diperlukan.
Fungsi utama pertama adalah strategi. Ini mencakup masa depan organisasi, menetapkan tujuan dan prioritas, serta membuat rencana untuk mencapai tujuan dan prioritas tersebut. Hal umum bagi badan-badan untuk mengembangkan tujuan dan prioritas ketimbang mengasumsikan bahwa kebijakan berasal dari politisi. Politisi sekarang menuntut bahwa badan-badan dan pegawai negeri di bawah kontrol nominal mereka ikut terlibat dalam masalah-masalah strategi.
Fungsi utama kedua adalah mengelola komponen internal. Ini mencakup penyusunan staf, membentuk struktur dan sistem untuk membantu mencapai tujuan yang diidentifikasikan oleh strategi.
Fungsi ketiga melihat organisasi dalam konteks eksternalnya dan tugas mengelola konstituensi eksternal. Ada fokus eksternal yang lebih besar dalam manajemen publik baru melalui strategi dan mengelola konstituensi eksternal, daripada dalam kasus dengan model tradisional administrasi publik. Anonimitas layanan publik telah menurun, dan diterima dengan baik. Pegawai negeri sekarang lebih bebas berbicara di depan publik, untuk muncul dalam forum profesional, untuk menulis artikel di koran, dan secara umum menjadi figur publik yang layak.
Manajemen yang baik memerlukan pengendalian yang efektif.
commit to user
Pengendalian diperlukan untuk memastikan bahwa aktivitas atau kegiatan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Perencanaan dan pengendalian merupakan fungsi yang berpasangan, artinya pengendalian yang baik memerlukan perencanaan, sementara perencanaan yang baik memerlukan pengendalian.
Pengendalian menurut Soemarni (1993) adalah aktivitas untuk menemukan, mengkoreksi adanya penyimpangan-penyimpangan dari haisl yang telah dicapai dibandingkan dengan rencana kerja yang telah ditetapkan. Pada setiap tahap kegiatan organisasi perlu dilakukan pengendalian, sebab apabila terjadi penyimpangan akan lebih cepat diadakan tindakan koreksi. Sedangkan system pengendalian manajemen menurut Anthony (dalam Mahmudi, 2005) yaitu sebagai suatu proses untuk memastikan bahwa sumber daya diperoleh dan digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Dari pendapat tersebut pengendalian manajemen melibatkan proses pengambilan keputusan, membuat tindakan untuk melaksanakan keputusan dan membuat penilaian kinerja serta umpan balik yang akan membantu dalam pembuatan keputusan dan tindakan di masa yang akan datang.
Pengendalian itu meliputi kegiatan-kegiatan: a) Pengukuran, b) Membandingkan dengan standar, dan c) Memperbaiki penyimpangan. Melakukan pengukuran artinya mengukur hasil atau out put dari aktivitas yang dilakukan. Dari hasil ukuran yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar yang ada, atau rencana yang telah dibuat, atau dibandingkan dengan
aktivitas organisasi yang sejenis (TIM, 2004:14).
Pengendalian manajemen sektor publik merupakan suatu proses, dimana proses pengendalian manajemen ini tidak bisa dilakukan tanpa ada dukungan struktur pengendalian manajemen. Struktur pengendalian manajemen ini merupakan jaringan yang dimiliki oleh organisasi untuk wadah kegiatannya. Pengendalian manajemen ini meliputi beberapa aktivitas (Mahmudi, 2005) :
a. Perencanaan aktivitas yang akan dilakukan organisasi b. Pengkoordinasian aktivitas berbagai bagian organisasi c. Pengkomunikasian informasi ke seluruh bagian organisasi d. Evaluasi terhadap informasi
e. Pembuatan keputusan
f. Mempengaruhi orang-orang dalam organisasi untuk mengubah perilaku. Namun lebih lanjut pengendalian manajemen dalam hal ini adalah manajemen sektor publik itu melalui proses yang terdiri dari beberapa tahap berikut : a. Perumusan strategi b. Perencanaan strategi c. Pembuatan program d. Penganggaran e. Implementasi f. Pelaporan kinerja g. Evaluasi kinerja
commit to user
h. Umpan balik
Sistem pengendalian manajemen terdiri atas dua bagian yaitu struktur pengendalian manajemen dan proses pengendalian manajemen. Disamping kedua komponen tersebut komponen lain seperti lingkungan, paradigma dan kultur masyarakat merupakan sistem pendukung pengendalian manajemen. Struktur pengendalian manajemen diperlukan untuk men jamin agar proses pengendalian manajemen dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Secara ringkas, ada empat jenis perubahan yang merupakan program manajerial: pertama, perubahan fokus pada output; kedua, perubahan input administratif, seperti mempekerjakan staf dengan kontrak; ketiga, perubahan lingkup badan-badan pemerintah; dan keempat, mengubah hubungan akuntabilitas dengan kepemimpinan politik dan publik, karena manajer menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hasil.
a. Fokus pada output
Perubahan utama dalam program manajerial adalah bagi organisasi untuk fokus pada output, daripada input. Organisasi publik melakukan hal-hal: pemerintah sekarang ingin tahu apa yang mereka lakukan; seberapa baik mereka melakukannya; siapa yang bertugas dan bertanggung jawab atas hasil. Motto baru adalah pencapaian tujuan. Untuk melakukan hal ini, ada lima-langkah respon yang telah dikembangkan. Pertama, organisasi menentukan strategi keseluruhannya dan menetapkan tujuan, karena tanpa strategi maka tanpa arah. Kedua, program direncanakan untuk memenuhi tujuan yang ditentukan dalam strategi keseluruhan. Ketiga, struktur
organisasi dan anggarannya melalui program, yaitu kerja badan harus dibagi menjadi sub-sub ke dalam program spesifik, sub-program dan kegiatan, serta keseluruhan organisasi badan harus mencerminkan semua hal ini. Keempat, dan sebagai hasil langkah-langkah sebelumnya, maka perlu diukur kinerja pada semua tingkatan. Kinerja dalam pencapaian tujuan perlu diukur untuk menentukan apakah program dijalankan secara efisien. kinerja individu juga dapat diukur untuk diberi imbalan bagi orang yang bekerja baik dan sanksi bagi yang bekerja tidak baik. Kelima, perlu dievaluasi pencapaian tujuan tersebut. Evaluasi program pemerintah harus dilakukan untuk menentukan jika sumber daya digunakan dengan baik dengan cara yang efektif dan efisien.
b. Perubahan input
Ada sejumlah perubahan input, meski tidak sepenting fokus output, yang memiliki dampak signifikan pada manajemen sektor publik. Input meliputi sumber daya staf, penganggaran, teknologi dan lain-lain, yang semuanya ada dalam model administratif, tetapi mengalami perubahan detail dalam manajemen publik baru. Perubahan input bertujuan pada memperbaiki insentif dan kinerja. Ada beberapa perubahan staf yang dirancang agar lebih sesuai bagi staf dengan posisinya, untuk menilai kinerja mereka dan memberi imbalan kepada mereka menurut pembayaran merit (nilai tambah). Penekanan pada kinerja juga mengarah pada penunjukkan jangka pendek dan dapat memberhentikan staf yang dipekerjakan dengan kontrak atau diangkat ke tingkat tertinggi dari luar. Perubahan ini berasal dari
sektor swasta dimana fleksibilitas pengaturan staf dan penganggaran telah menjadi sumber kecemburuan bagi pimpinan pemerintah. Mereka didukung oleh pertimbangan teoritis dari ekonomi bahwa organisasi dan individu tidak akan berkinerja penuh kecuali jika ada sistem insentif yang tepat.
c. Mengurangi lingkup pemerintah
Memotong lingkup pemerintah dan birokrasi merupakan bagian lain dari program manajerial. Meluasnya privatisasi adalah bagian dari ini, tetapi bukan satu-satunya cara mengurangi lingkup pemerintah. Perampingan menjadi umum digunakan sebagai cara mengurangi biaya barang atau jasa yang tetap menjadi bagian pemerintah tetapi dengan sektor swasta yang menyediakannya. Kompetisi terhadap ketentuan melalui tender, kadang dalam pemerintah, dilihat sebagai mengurangi biaya dibandingkan dengan ketentuan birokratik.
d. Hubungan dengan politisi dan publik
Model administrasi tradisional dikritik karena konsep yang tidak memadai tentang hubungan antara birokrasi dan kepemimpinan politik. Dalam teori, model administratif membutuhkan pemisahan antara pihak yang memberi perintah dan pihak yang menjalankan perintah. Karakteristik utama model manajerial adalah bahwa tanggung jawab dipegang oleh manajer untuk pencapaian hasil. Ini berarti hubungan antara manajer dengan politisi, dan manajer dengan publik harus berubah. Dalam model tradisional, hubungan dengan kepemimpinan politik sangat sempit dan teknis, tuan dan pelayan,
pihak yang memberi perintah dan pihak yang menjalankan perintah. Dalam model manajemen publik, hubungan antara politisi dan manajer lebih cair dan lebih erat daripada sebelumnya. Ini bukan merupakan bentuk manajemen yang sempit dan teknokratik, karena masih ada wewenang politik.
Bahkan jika manajemen publik berbeda dari bentuk manajemen lainnya karena wewenang politik, masih tetap manajemen daripada administrasi. Manajer publik sekarang terlibat dalam masalah kebijakan, mereka juga terlibat dalam masalah politik, mereka lebih bertanggung jawab secara pribadi atas masalah dan akan membayar dengan kehilangan pekerjaan mereka jika terjadi kesalahan. Manajemen publik telah menjadi bentuk manajemen politik dan hubungan dengan pemimpin politik telah berubah. Mungkin, keahlian utama yang diperlukan manajer publik adalah bagaimana menjadi politisi birokratik yang dapat berinteraksi dengan politisi dan dengan pihak luar dengan cara yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan organisasi. Selain itu, ada penerimaan kebutuhan atas akuntabilitas langsung antara manajer dan publik, sebagai hasil tuntutan bagi ‘fokus pelanggan’ dan daya tanggap yang lebih besar terhadap kelompok dan individu di luar organisasi. Ini merupakan perbedaan lain dengan model tradisional.
Manajemen publik dipengaruhi oleh teori dan praktek manajemen swasta. Manajemen swasta membantu manajerialisme dalam hal memisahkan bagian-bagian sistem publik yang dianggap fundamental yang secara fakta
tidak. Sektor publik harus adil dan tidak memihak dalam berhubungan dengan pelanggan, tetapi ini tidak berarti bahwa pegawai negeri harus netral atau memiliki pekerjaan seumur hidup. Mungkin sulit untuk mengukur kinerja di sektor publik, tetapi ini bukan berarti bahwa tidak ada upaya yang dilakukan. Sifat politik sektor publik membuatnya berbeda dari sektor swasta, tetapi tidak berarti bahwa semua tindakan adalah politik, atau bahwa semua tindakan kebijakan harus dijalankan oleh politisi. Ini khususnya dalam kasus faktor input yang dijelaskan sebelumnya, seperti kondisi pengaturan staf yang murah hati yang sebelumnya dianggap perlu bagi pegawai negeri. Sulit untuk melihat bagaimana pelayanan jasa dirugikan dengan ketenagakerjaan dengan kontrak atau dasar paruh-waktu, atau jika staf dipakai di tingkat yang lebih tinggi dari pada nilai-dasar. Tetapi semua ini bertentangan dengan apa yang sebelumnya dianggap perlu bagi semua ketenagakerjaan publik. Jika banyak pekerjaan di sektor publik sama dengan sektor swasta, sulit untuk membenarkan praktek ketenagakerjaan yang tidak biasa. Manajemen Publik berkaitan dengan fungsi dan proses manajemen yang berlaku baik pada sektor publik (pemerintahan) maupun sektor diluar pemerintahan yang tidak bertujuan mencari untung (nonprofit sector). Dengan begitu, Manajemen Publik dapat pula disebut lebih spesifik sebagai Manajemen Pelayanan Publik. Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam bentuk barang dan jasa baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan.
2. Pelayanan Publik
Masyarakat atau publik berhak untuk mendapatkan pelayanan yang biasanya dikenal dengan pelayanan publik. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh instansi pemerintah hendaknya adalah pelayanan yang terbaik karena masyarakat telah memberikan dananya dalam bentuk pembayaran pajak, retribusi dan berbagai pungutan lainnya. Oleh karena itu peran pemerintah untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.
Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam penyelenggaraan pelayanan publik, aparatur pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. Penyelenggara pelayanan publik adalah instansi pemerintah yang meliputi :
a. Satuan kerja/satuan organisasi kementrian b. Departemen
c. Lembaga pemerintah non departemen
d. Kesekretariatan lembaga tertinggi dan tinggi Negara e. Badan usaha milik Negara (BUMN)
f. Badan Hukum Milik Negara (BHMN) g. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
h. Instansi pemerintah lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk dinas-dinas dan badan.
Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak dapat dilihat mata atau tidak dapat diraba yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen atau pelanggan. (Patminto, 2005)
Menurut Undang-undang Kepegawaian Nomor 43 Tahun 1999, Pegawai Negeri Sipil (PNS) selaku aparatur pemerintah memiliki kewajiban untuk bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. Selaku pelayan masyarakat, PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik atau prima kepada penerima pelayanan tanpa pandang bulu. Jadi PNS berkewajiban memberikan pelayanan atau melayani masyarakat, bukannya justru minta dilayani oleh masyarakat.
Asas pelayanan publik perlu sekali di perhatikan oleh instansi pemerintah dalam memberikan pelayanan. Adapun asas pelayanan publik itu meliputi :
a. Transparansi
Pemberian pelayanan public harus bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
b. Akuntabilitas
Pelayanan publik harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Kondisional
Pemberian pelayanan publik harus sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
d. Partisipatif
Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan public dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.
e. Tidak deskriminatif (kesamaan hak)
Pemberian pelayanan publik tidak boleh bersifat deskriminasi, dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, status social dan ekonomi.
f. Keseimbangan hak dan kewajiban
Pemberi dan penerima pelayanan public harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Pelayanan publik yang disediakan pada masyarakat hendaknya memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :
a. Kesederhanaan prosedur
Prosedur pelayanan hendaknya mudah dan tidak berbelit-belit. Prinsip apabila dapat dipersulit mengapa dipermudah harus ditinggalkan dan diganti dengan hendaknya dipermudah jangan dipersulit, bahagiakan masyarakat jangan ditakut-takuti.
b. Kejelasan
Kejelasan dalam hal persyaratan teknis dan administrative pelayanan publik, unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan, persoalan, sengketa, atau tuntutan dalam pelaksanan pelayanan publik, serta rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayarannya. Kejelasan ini penting bagi masyarakat untuk menghindari terjadinya berbagai penyimpangan yang merugikan masyarakat, misalnya praktik percaloan dan pungli (pungutan liar).
c. Kepastian waktu
Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Dalam hal ini harus ada kejelasan berapa lama proses pelayanan diselesaikan.
d. Akurasi produk pelayanan publik
Produk pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat harus akurat, benar, tepat dan sah.
e. Kelengkapan sarana dan prasarana
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi informasi dan komunikasi.
f. Keamanan
Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hokum. Tidak boleh terjadi intimidasi atau tekanan kepada masyarakat dalam pemberian pelayanan.
g. Tanggungjawab
Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraanpelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
h. Kemudahan akses
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informatika.
i. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan
Pemberi pelayanan harus bersikap, disiplin, sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan sepenuh hati (ikhlas).
j. Kenyamanan
Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi
dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parkir, toilet, tempat ibadah dan sebagainya.
Terdapat beberapa indikator kualitas pelayanan publik. Menurut A. Parasuraman dan kawan-kawan, terdapat 5 (lima) dimensi pokok yang berkaitan dengan kualitas jasa (service quality) (Parasuan, 1988), yakni (1) Bukti nyata (tangibles), meliputi fasilitas fisik, penampilan personal, dan sarana komunikasi, (2) Keandalan (realibility), meliputi kemampuan memberikan pelayanan dengan segera, akurat, dan memuaskan, (3) Daya tanggap (responsiveness), mencakup keinginan untuk cepat memberikan pelayanan kepada pelanggan (4) Jaminan (assurance) atas kecakapan, pengetahuan, kesopanan staf, sehingga dapat dipercaya oleh pelanggan, serta (5) Empati (empathy) yaitu mudah berkomunikasi secara personal dan khusus kepada pelanggan.
Pelayanan publik yang diberikan pada masyarakat hendaknya memiliki standar dan standar pelayanan publik adalah spesifikasi teknis yang sudah baku dan akan menjadi patokan dalam memberikan pelayanan. Standar pelayanan publik itu juga wajib ditaati oleh pemberi pelayanan maupun pengguna pelayanan. Standar pelayanan publik wajib dimiliki oleh penyelenggara layanan publik untuk menjamin diberikannya pelayanan yang berkualitas sehingga masyarakat pengguna pelayanan merasakan adanya nilai yang tinggi atas pelayanannya.
Standar pelayanan publik berfungsi untuk memberikan arah bertindak bagi institusi penyedia pelayanan publik. Standar tersebut akan
memudahkan instansi penyedia pelayanan untuk menentukan strategi dan prioritas. Bagi pemerintah sebagai otoritas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan publik, penetapan standar pelayanan untuk menjamin dilakukannya akuntabilitas pelayanan publik sangat penting. Cakupan standar pelayanan publik yang harus ditetapkan sekurang-kurangnya meliputi :
a. Prosedur pelayanan
Dalam hal ini ditetapkan standar prosedur pelayanan yang dibekukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk prosedur pengaduan. b. Waktu penyelesaian
Harus ditetapkan standar waktu penyelesaian pelayanan yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.
c. Biaya pelayanan
Harus ditetapkan standar biaya/tariff pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan. Hendaknya setiap kenaikan tarif/biaya pelayanan diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan.
d. Produk pelayanan
Harus ditetapkan standar produk (hasil) pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Dengan harga pelayanan yang telah dibayarkan oleh masyarakat, mereka akan
mendapatkan pelayanan berupa apa saja. Produk pelayanan ini harus distandarkan.
e. Sarana dan prasarana
Harus ditetapkan standar sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggara pelayanan publik.
f. Kompetensi petugas pemberi pelayanan
Perlu ditetapkan standar kompetensi petugas pemberi pelayanan berdasarkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan.
3. Komunitas Organisasi Masyarakat
Komunitas atau community dipandang sebagai aspek penting bagi good governance yang menjelaskan popularitas social capital. Social capital lebih mengacu pada apa yang dilakukan kelompok dari pada apa yang dimiliki orang-orang secara individu, walaupun kapasitas individu juga penting untuk berkontribusi bagi kelompok atau komunitas. Community berarti bahwa sekelompok orang-orang yang berinteraksi secara langsung, dilakukan secara intensif dan dengan berbagai cara. Orang-orang yang bekerja sama dalam komunitas ini biasanya masyarakat yang hidup berdampingan atau bertetangga di suatu kampung, kelompok-kelompok teman, profesional, jaringan bisnis, geng, dan atau kelompok-kelompok olahraga. Komunitas-komunitas merupakan bagian dari good governance sebab mereka bisa menangani masalah-masalah tertentu yang tidak bisa diatasi oleh individu yang bertindak sendirian atau oleh pasar dan pemerintah. Komunitas-komunitas bisa
memecahkan masalah ketika terjadi kegagalan pasar atau kegagalan negara mengatasi masalah serupa salah satunya adalah masalah perparkiran. Alasan mengapa komunitas mampu mengerjakan apa yang gagal dilakukan pemerintah dan pasar karena para anggota komunitas memiliki informasi yang penting tentang perilaku-perilaku, kapasitas-kapasitas dan kebutuhan-kebutuhan para anggotanya. Pemerintah khususnya Pemerintah Kota Surakarta tidak mampu menangani manajemen pelayanan perparkiran kota surakarta sendirian, sehingga memerlukan bantuan dari salah satu komunitas yaitu organisasi massa.
Organisasi massa atau disingkat ormas adalah suatu istilah yang digunakan di Indonesia untuk bentuk organisasi berbasis massa yang tidak bertujuan politis. Bentuk organisasi ini digunakan sebagai lawan dari istilah partai politik. Ormas dapat dibentuk berdasarkan beberapa kesamaan atau tujuan, misalnya: agama, pendidikan, sosial. Pasal 28 E (2) tentang kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan bersikap seusai hati nurani, (2) hak berserikat, berkumpul dan berpendapat. Pasal 28 F tentang hak berkomunikasi untuk mengembangkan pribadi & lingkungan. Berdasarkan Undang-undang R.I Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Definisi organisasi kemasyarakatan ditetapkan dalam Pasal 1: Yang dimaksud dengan Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warganegara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, untuk berperanserta dalam pembangunan dalam
rangka mencapai tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
5. Collaborative governance
Dalam pelayanan perparkiran digunakan teori kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat. Pengertian kolaborasi secara umum dibedakan menjadi