KAMI membuat lubangan sedalam 25 cm di setiap titik yang telah dipatok, seperti yang diminta ayah Fahmi sebelum berangkat kerja.
(Gb.27) Membuat lubangan (atas), (Gb.28) rsihkan bambu (bawah)
S dat karya, ayah Fahmi mengomentari hasil pekerjaan kami. Lubangan yang sudah dibuat ternyata kurang dalam. Ayah Fahmi mengambil potongan sebilah bambu, menaruhnya di salah satu lubang yang lebih dalam, dan menandainya dengan pensil. Kemudian menyuruh kami menambah kedalaman lubang-lubang yang lain sesuai dengan ukuran yang dibuat. Ayah Fahmi memangkas potongan bambu di salah satu ujungnya—sebagai tempat perletakan balok, sambil membersihkan ranting-ranting bambu. pasir dan semen di kandang ian kami membuat adukan semen untuk pengecoran
Membe (sumber: dok. pribadi)
epulang dari pa
Menyuruh Fahmi dan Syam mengambil bebeknya. Kemud
pondasi. Satu per satu, tiang-tiang didirikan dengan ’skur’ dari pepan sebagai penopangnya.
(Gb.29) Membuat adukan semen (sumber: dok. pribadi)
(Gb.30) Mendirikan kolom (sumber: dok. pribadi)
commit to user
Adukan semen masih tersisa. Ayah Fahmi menggunakannya untuk membuat pondasi di selokan, sebagai penopang ‘jembatan’ nantinya. Ayah Fahmi masukan, agar tidak mengganggu pekerja
ubuknya khusus untuk tempat kerja.
an, ruang santainya di teras rumah. G
***
17 Oktober 2009
(Gb.35) Memotong bambu di kebun milik kakek Amri (sumber: dok. pribadi)
(Gb.31) Pengecoran pondasi kolom (atas) (Gb.32) Kolom-kolom yang sudah berdiri (kiri) (Gb.33) Membuat pondasi selokan (bawah) (sumber: dok. pribadi)
(Gb.34) Sketsa respon gagasan ayah Fahmi (sumber: sketsa pribadi)
commit to user
MEMOTONG lima batang bambu di kebun milik kakek Amri untuk bahan usuk.
Bambu dipilih yang sudah ’tua’. Kami membawanya ke rumah Fahmi. Setelah ayah Fahmi datang, kami melanjutkan membuat pondasi selokan. Pasir diambil dari kandang bebek yang berada di sawahnya. Kericaknya meminta ke pak Junto—tetangga yang berada di depan rumahnya. Sebelum dipasang dibuat cetakan dari papan. Agar lurus, dipasang tali rafia. Batu kali diletakkan terlebih dahulu ke dalam lubang. Kemudian diberi adukan semen, pasir dan kricak yang sudah dicampur dengan air.
gai penguat kolom bambu, karena dirasa l di papan dicabut dan diluruskan embali, karena masih dapat digunakan untuk keperluan selajutnya. Seperti
g.
mah terlihat tanaman dalam pot yang terbuat dari kaleng bekas. etapi belum tertata rapi. Adik dan keponakan Fahmi biasa bermain di tempat Melepas ‘skur’ yang dipasang seba
paku yang menempe sudah kuat. Paku-
k
misalnya ketika pemasangan ren Di halaman ru
T
itu. Tempatnya teduh ternaungi daun dan ranting pepohonan.
(Gb.36) Nuri—teman yang mengunjungi saya—ketika di depan rumah Ansori (sumber: dok. pribadi)
18 Oktober 2009
(Gb.37) Pohon klengkeng di depan rumah Ansori
Rumah Ansori.
SAYA, Nuri dan Ansori ngobrol di halaman rumah. Di bawah naungan pohon rindang beralaskan tanah.
“banyak masalah air di sini, mungkin bisa jadi bahan penelitianmu”, kata Ansori.
commit to user
Ansori adalah kakak tingkat yang juga penduduk asli Kalibening. Ketika pertama kali masuk kuliah di jurusan Arsitektur UNS, ia ingin memberikan sesuatu (arsitektural) untuk desanya. Di Kalibening etan (timur-pen), masalah yang nampak adalah ketika turun hujan. Genangan air hujan tak kunjung surut. Selain tidak adanya saluran khusus, juga kontur tanahnya yang lebih rendah dari Kalibening kulon (barat-pen).
Sirkulasi di desa ini terbentuk secara alami. Jalan-jalan kecil di antara rumah- rumah penduduk sudah dipaving. “Seharusnya ketika jalan dipaving aluran drainase di bawahnya. Sehingga saluran- kuti jalan yang sudah terbentuk secara alami ini”, kata nsori. Namun ide ini muncul setelah pav ai dibuat.
sanya ini selesai dibangun, tetapi tidak jalan. Rencananya,
dibuatkan sekalian s d
A
rainasenya mengi
ing seles
“itulah sebenarnya masalahnya selama ini”, kata Ansori menanggapi pernyataan saya soal keterlibatan masyarakat dalam perancangan
bangu ri menceritakan pembangunan tandon air di de [pem nan]. Anso
ang sudah setahun y
pembuatan tandon itu akan mengalirkan air dari belik Luweng menggunakan genset. Air ditampung di tandon air yang berada di Balai Desa, disalurkan ke tandon-tandon kecil, kemudian disebar ke rumah-rumah penduduk.
“Kalau masalah air (bersih), di Kalibening etan ini tidak ada masalah, sudah lebih dari cukup”, ungkapnya.
***
20 Oktober 2009
(Gb.38) Rumah Mas Ridho—kakak Ansori (sumber: dok. pribadi)
Rumah Mas Ridho [kakak Ansori]
agi har P ru
i, sambil menikmati teh hangat dan gorengan, kami bertiga ngobrol di ang tamu.
a pondok dan asyarakat tidak ada jarak. Kadang ngaji di pondok ini, besok di pondok lain, tidak masalah.
Masyarakat Kalibening sangat susah disatukan. Setiap orang punya kemauan sendiri-sendiri. Sekarangpun demikian. Mungkin perkembangan jaman juga
urut mempengaruhi. Kalau dulu bisa menyatu, antar t
commit to user
Apalagi ketika jamannya mas Ridho. Karang taruna yang diisi oleh pemuda esa. Tapi sayang, a menikah dan ada pula yang bekerja, lambat laun mulai surut.
Mulai ada lagi perkumpulan pemuda ketika jamannya Ansori waktu masih SMA. Dimulai dari lingkungan RT-nya, kemudian pemuda di RT-RT lain ikut membentuk. Tetapi juga mengalami penurunan minat pemuda ketika ditinggal para penggeraknya, sama seperti sebelumnya.
Meskipun hanya di tiap RT, namun cukup menggembirakan, tidak seperti sekarang ini.
***
bisa mencakup satu d karena para penggerakny
23 Oktober 2009
(Gb.39) Membuat ‘galar’ (tikar dari bambu)
engan parang, dibelah dan dirapikan bekas otongannya.
(sumber: dok. pribadi)
Sebagian bambu yang kami bawa dari kebun kakek Amri, dibuat galar (tikar dari bambu). Bambu di’cacah’ d
p
Selesai dijemur, galar dipasangkan di atas panggung dan dipaku.
(Gb.40) Memasang ‘galar’ (sumber: dok. pribadi)
***
“Kata Ansori pembangunan tandon air di Kalibening yang telah selesai kurang lebih satu tahun ini tidak jalan? Tanyaku mencoba mencari penjelasan. “yo,sajen’e kurang”,
commit to user
Menurut Amri, tidak berjalannya tandon air di Kalibening yang telah selesai kurang lebih satu tahun ini karena kerusakan genset meski berulang kali diperbaiki.
Amri pernah mememikirkan tentang sesuatu yang kira-kira bisa diterapkan di desanya. Sebelum pembangunan, Amri mengusulkan menggunakan pompa hidrolik seperti yang pernah dilihatnya di daerah Merbabu. Tetapi tidak ada tanggapan.
Baru-baru ini pemerintah desa sudah mengukur jalan. Rencananya akan dibuat selokan.
Amri pernah sekolah pertanian di Bogor. Untuk menerapkan di desanya, ia masih mengalami kendala. Selain karena keterbatasan lahan, juga belum ada cukup modal. ”Sebenarnya—untuk pertanian organik—tidak ada lahan yang
, ungkapnya.
***
erhubungan potensi-potensi di desanya. Yakni home industry [industri rumah tangga]. Di Kalibening ada banyak industri rumah tangga.
***
... Oktober 2009
Menurut Ajib, pembangunan rental pengetikan sudah sampai pada pemasangan usuk dan reng. Tinggal pemasangan genteng.
***
benar-benar murni, hampir kebanyakan adalah campuran”
30 Oktober 2009
Setiba di Salatiga, tepatnya di desa Ledok, bertemu As’ad. Saya diajak ke rumah temannya. Ketika ngobrol tentang tugas akhir saya yang b
dengan masyarakat, ada tanggapan dari As’ad tentang masyarakat Kalibening—khususnya tentang
(Gb.41) Gang di depan rumah Fahmi (sumber: sketsa pribadi)