Ahmad Rohani (2004 : 1) menyatakan pengelolaan pembelajaran adalah suatu upaya untuk mengatur (mengelola dan mengendalikan) aktivitas pembelajaran berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran untuk mensukseskan tujuan pembelajaran agar tercapai secara lebih efektif, efisien, dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan, diakhiri dengan penilaian. Penilaian tersebut pada akhirnya akan dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi perbaikan pembelajaran lebih lanjut.
Pelaksanaan proses pembelajaran di kelas, guru perlu mempertim- bangkan situasi dan kondisi yang ada dan berusaha memoles setiap situasi yang muncul menjadi situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. (Abdul Majid, 2008 : 91).
Inovasi yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran tentunya tidak terlepas dari penyusunan RPP terlebih dahulu, dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik. Berdasarkan penjelasan tentang RPP tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran adalah pelaksanaan RPP yang telah disusun, yang diturunkan dari silabus dan kurikulum. Implementasi RPP juga memungkinkan untuk diterapkan dalam beberapa model pembela- jaran. Penerapan beberapa model pembelajaran dikelas oleh guru memiliki harapan bahwa guru dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan lebih efektif dan efisien sehingga tujuan dapat tercapai.
commit to user
15
c. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat
kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabakan. (Oemar Hamalik, 2007 : 253)
Abdul Majid (2008 : 185) menyatakan bahwa evaluasi merupakan pengukuran ketercapaian program pendidikan, perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan.
Beberapa pendapat di atas dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa evaluasi adalah perbuatan pertimbangan dengan cara melakukan pengukuran ketercapaian program pendidikan, perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan berdasarkan kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengukuran dalam evaluasi dapat dilakukan salah satunya adalah dengan penilaian. Penilaian terhadap proses pengajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri. Artinya, penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran. Penilaian proses bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan
commit to user
pengajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya. (Ahmad Rohani, 2004 : 168).
Tujuan penilaian secara lebih terperinci dikemukakan Abdul Majid (2008:187-188) sebagai berikut:
1) Penelusuran, yaitu menelusuri agar proses pembelajaran anak didik sesuai dengan rencana. Dimana guru mengumpulkan informasi sepanjang semester melalui berbagai bentuk penilaian agar memperoleh gambaran tentang pencapaian kompetensi oleh siswa. 2) Pengecekan, untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang
dialami anak didik dalam proses pembelajaran.
3) Pencarian, yaitu unutk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran.
4) Penyimpulan, yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai seluruh kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum.
Penilaian yang disusun secara berencana dan sistematis oleh guru tidak hanya memiliki tujuan yang jelas, namun juga memiliki fungsi yang dapat membantu kelancaran proses pembelajaran. Fungsi penilaian tersebut menurut Abdul Majid (2008:188-189), adalah:
1) Fungsi motivasi, penilaian yang dilakukan oleh guru harus mampu mendorong siswa untuk melakukan proses pembelajaran baik secara individu maupun kelompok.
commit to user
17
2) Fungsi belajar tuntas, penilaian di kelas harus diarahkan untuk memantau ketuntasan belajar siswa. Fungsi ini harus dapat menjawab apakah siswa sudah menguasai kemampuan yang diharapkan, siapa siswa yang belum menguasai kemampuan, dan tindakan apa yang harus dilakukan agar siswa menguasai kemmapuan tersebut.
3) Fungsi sebagai indikator efektifitas pengajaran, untuk melihatnya apabila sebagian besar atau semua siswa telah menguasai sebagian besar atau semua kemampuan yang diajarkan, maka dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar telah berhasil sesuai rencana.
4) Fungsi umpan balik, hasil penilaian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan umpan balik bagi siswa dan guru itu sendiri. Analisis hasil penilaian juga berguna bagi guru untuk melihat hal-hal apa yang perlu diperhatikan seara serius dalam proses belajar mengajar.
Proses penilaian dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Beberapa jenis penilaian yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun jawaban). Bentuk instrumen tes tertulis ini dapat berupa: a) pilihan Ganda, b) Benar-Salah, c) Menjodohkan, d) jawaban singkat, e) Uraian Obyektif, f) Uraian Bebas, g) Pertanyaan Lisan.
commit to user
2) Penilaian Kinerja
Merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks.
3) Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan atau berkas pilihan yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian. Contoh penialain portofolio adalah siswa diminta untuk membuat rancangan pengamatan (dibantu dengan lembar kerja dari guru) mengenai materi-materi selama satu semester yang akan diberlakukan eksperimentasi.
Ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat sebagai akibat adanya tindakan manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan, dimana kebutuhan manusia itu tidak terbatas sedang alat pemuas kebutuhan bersifat jarang dan dapat digunakan secara alternatif. (Sudarno, 2000 : 2)
Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus yang diterjemakhan oleh Modern English Press, (1985 : 2) mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai suatu studi tentang bagaimana orang dan masyarakat memilih, untuk menggunakan sumber-sumber alam produktif yang langka yang mempunyai kegunaan alternatif untuk memproduksi berbagai komoditi dan menyalurkannya untuk
commit to user
19
konsumsi, sekarang dan di masa mendatang, kepada bermacam-macam orang dan kelompok dalam masyarakat.
Kesimpulan dari beberapa definisi mengenai pembelajaran dan ekonomi di atas adalah pembelajaran ekonomi merupakan kegiatan belajar mengajar mengenai usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan serta berbagai masalah ekonomi lainnya dimana guru dan siswa saling berinteraksi.
commit to user
3. Hakekat Tentang Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah “penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu”. (Sutartinah Tirtonegoro, 2001 : 43)
Zainal Arifin (1990 : 2-3) mengemukakan prestasi belajar berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha..
Prestasi belajar, berdasarkan pengertian-pengertian di atas, merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu yang merupakan hasil usaha setelah diadakan evaluasi dalam proses belajar. Hasil perubahan, sebagai tujuan dari proses belajar dapat diketahui dengan diadakannya kegiatan evaluasi. Hasil dari kegiatan evaluasi salah satunya akan memberikan gambaran mengenai prestasi belajar yang mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan atau kecakapan).
Pelaksanaan penilaiannya dilakukan terhadap hasil belajar seluruh mata pelajaran yang diikuti oleh peserta didik, yang dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf yang diterimakan dalam bentuk buku laporan.
Prestasi belajar merupakan suatu hal yang penting untuk diselesaikan karena mempunyai beberapa fungsi utama. Menurut Zaenal Arifin (1990 : 3): a. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang
commit to user
21
b. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keinginan dan merupakan kebutuhan umum pada manusia termasuk kebutuhan peserta didik dalam suatu program.
c. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dan inovasi pendidikan. Asumsi bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari institusi pendidikan.
e. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan peserta didik).
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses pembelajar akan berdampak pula pada prestasi yang akan dicapai. Dalam kegiatan belajar tidak semua peserta didik mempunyai prestasi belajar yang sama. Ada peserta didik yang memiliki prestasi yang tinggi, prestasi sedang, ada juga yang mempunyai prestasi yang rendah. Tingkat tinggi rendahnya prestasi peserta didik tidak selamanya tergantung pada kemampuan dasar atau intelegensinya, namun banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Secara umum yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi:
commit to user
alam
lingkungan sosial
luar kurikulum
guru/ pengajar
instrumental sarana dan fasilitas
administrasi/ manajemen
Faktor kondisi fisik
Fisiologi kondisi panca indra
Dalam bakat
minat
Psikologi kecerdasan
Motivasi
Kemampuan kognitif
Gambar 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Sumber: Ngalim Purwanto (1990 : 107)
Skema di atas menerangkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik dapat berasal dari luar ataupun dalam. Faktor luar yang dimaksud adalah lingkungan dan instrumental. Dimana lingkungan yang mempengaruhi dapat berupa lingkungan alam dan ligkungan sosial. Sedangkan faktor dari luar yang kedua adalah faktor instrumental yang terdiri dari kurikulum, guru/pengajar, sarana dan fasilitas, administrasi/manajemen. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dari dalam terbagi menjadi faktor fisiologi dan faktor psikologi. Faktor fisiologi terdiri dari kondisi fisik siswa dan kondisi panca indra. Sedangkan faktor psikologi terdiri dari bakat, minat, kecerdasan, motivasi, serta kemampuan kognitif.
commit to user
23
4. Hakekat Tentang Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Sehingga dapat dikatakan bahwa media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. (Arif S. Sardiman, dkk., 2005 : 19)
Smaldino, et al. (2005 : 9) mengemukakan bahwa A medium (plural, media) is a means of communication and source of information. Derived from the latin word meaning “between” the term refers to anything that carries information between a source and a receiver.”
Pendapat tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut: media adalah alat komunikasi dan sumber informasi, diambil dari bahasa latin yang berarti antara, istilah ini mengacu kepada segala hal yang mengantarkan informasi dari sumber kepada penerima.
Sri Anitah (2008 : 2) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa pengajar, buku ajar dan lingkungan adalah media pembelajaran.
Media pembelajaran berdasarkan beberapa pendapat di atas adalah perangkat, alat komunikasi, atau sumber informasi berupa orang, bahan, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap.
commit to user
Membawa siswa ke benda/objek/peristiwa sebenarnya atau sebaliknya membawa benda / objek / peristiwa sebenarnya ke siswa, tidak selamanya mungkin dilakukan dalam proses pembelajaran. Diperlukan sumber lain atau media lain untuk menyampaikan pesan tersebut. Seperti gambar, model, bagan, film, dan media lainnya. (Arif S. Sardiman, dkk., 2005 : 4).
Kegunaan media pendidikan dalam proses belajar mengajar adalah:
a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, seperti objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan yang terlalu lambat atau cepat, kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu, objek yang terlalu kompleks ataupun konsep yang terlalu luas semisal gunung berapi, gempa bumi, dll.
c) Dapat mengatasi sifat pasif anak didik. Disini media berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar, memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan, memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
d) Mengatasi keunikan, kemampuan serta latar belakang siswa yang berbeda-beda. Sehingga media berguna untuk memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama. (Arif S. Sardiman, dkk., 2005 : 17-18)
commit to user
25
a. Klasifikasi Media
Klasifikasi media dapat dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dan bahan serta cara pembuatannya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2005 : 212) macamnya adalah :
1) Media auditif yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan audio.
2) Media visual yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan, seperti gambar diam (seperti foto, gambar, lukisan) dan gambar atau simbol yang bergerak (seperti film bisu atau kartun).
3) Media Multimedia yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Media ini dibedakan menjadi dua yaitu:
- Multimedia diam yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara, film rangkai suara, cetak suara. - Multimedia gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur
suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette.
Beberapa tipe media juga dikemukakan oleh Smaldino et al. (2005 : 9) yaitu: Text is alphanumeric characters that may be displayed in any format-book, poster, chalkboard, computer screen, and so on. Another medium commonly used in learning is audio. Audio includes anything you can hear-a person’s, voice, music, mechanical sounds (running car engine), noice, and so on. It may be live or recorded. Visual are regularly used to promote learning. They include diagrams on a poster, drawings on a chalkboard, photographs, and so on. Other types of media are motion media. These are media that show motion, including video tape, animation, and so on. One of material often not considered media are real
commit to user
objects and models. Manipulatives are three dimensional and can be touched and handled by studens. The sixth and final category of media is people, these may be teachers, students, or subject matter experts. People are critical to learning. Students learn from teachers, other students, and other adults.
Pendapat di atas dapat diterjemahkan bahwa naskah /teks, adalah karakter tulisan yang dapat digunakan dalam berbagai bentuk – buku, poster, papan tulis, layar komputer, dan lain-lain. Media lain yang biasa digunakan dalam pembelajaran adalah audio. Audio meliputi apapun yang dapat anda dengar – suara seseorang, musik, suara mesin (mesin mobil berdengung), kegaduhan, dan lain-lain. Audio tersebut dapat secara langsung atau direkam. Visual juga biasanya digunakan untuk menaikkan minat belajar. Visual meliputi bagan-bagan di poster, menggambar di papan tulis, foto-foto, grafik di dalam buku, kartun, dan lain sebagainya. Tipe media yang lain adalah gambar bergerak. Gambar bergerak adalah media yang memperlihatkan gerakan, meliputi videotape, animasi, dan lain-lain. Satu set dari bahan seringkali tidak mempertimbangkan media adalah objek nyata dan model. Manipulasi adalah tiga dimensi dan dapat disentuh dan dikendalikan oleh para siswa. Keenam dan kategori terakhir dari media adalah Manusia, mereka bisa saja seorang guru, siswa, atau bahan-bahan percobaan. Manusia bersifat sangat kritis dalam belajar. Siswa bisa belajar dari guru, siswa lainnya, dan remaja lainnya.
Berbagai macam media yang ada tentunya tidak semua media dapat diterapkan disetiap proses pembelajaran. Perlu adanya pemilihan
commit to user
27
media yang tepat dan sesuai bagi guru, siswa serta bahan ajar yang akan dibertikan. Dick dan Carey dalam Arif S. Sardiman, dkk., (2005 : 86) menyebutkan disamping kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, masih ada empat faktor lagi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media, yaitu:
1. Ketersediaan sumber setempat. Artinya, bila media yang bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada, harus dibeli atau dibuat sendiri.
2. Ketersediaan dana, tenaga, dan fasilitas untuk membeli atau mempro- duksi sendiri media tersebut.
3. Keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama. Artinya, media bisa digunakan di mana pun dengan peralatan yang ada disekitarnya dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.
4. Efektivitas biaya dalam jangka panjang.
b. Media Pembelajaran Multimedia
Smaldino, et al. (2005 : 141) menyatakan bahwa:
Multimedia system may consist of traditional media in combination or they may in-corporate the computer as a display device for text, pictures, graphics, sound, and video. The term multimedia goes back to the 1950s and describes early attempts to combine various still and motion media for heightened educational effect.
Pendapat di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut: multimedia sistem dapat terdiri dari media tradisional dalam kombinasi atau
commit to user
digabungkan dalam komputer sebagai gambar teks, gambar, grafik, suara dan video. Istilah multimedia kembali pada tahun 1950an dan dideskripsi- kan sebagai penerapan untuk mengkombinasikan berbagai media untuk mempengaruhi tingkat pendidikan.
Sri Anitah (2008 : 60) mengatakan bahwa multimedia digunakan untuk mendeskripsikan penggunaan berbagai media secara terpadu dalam menyajikan atau mengajarkan suatu topik mata pelajaran.
Azhar Arsyad (2010 : 170) berpendapat bahwa multimedia meru- pakan kombinasi lebih dari satu media, bias berupa kombinasi teks, grafik, animasi, suara, video. Perpaduan dua atau lebih dari jenis media tersebut ditekankan pada kendali komputer sebagai penggerak keseluruhan gabu- ngan media itu.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, multimedia dapat diartikan sebagai penggunaan berbagai media, baik media tradisional, gambar teks, gambar, grafik, suara dan video, yang dikombinasikan secara terpadu, dengan komputer sebagai penggerak seluruh gabungan media. untuk penyajian atau pembelajaran suatu topik pelajaran.
Penggunaan multimedia dalam pembelajaran memiliki keuntungan tersendiri, yaitu mampu diterapkan pada berbagai gaya pembelajaran. Begitu juga dengan gaya belajar peserta didik dapat terakomodasi seperti peserta didik yang auditori, visual, maupun kinestetik. Sehingga pebelajar dapat memilih media belajar yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
commit to user
29
Tujuan penggunaan multimedia dalam pendidikan adalah melibat- kan pebelajar dalam pengalaman multi sensori untuk meningkatkan proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran di masa lalu, pengalaman paling dominan adalah kata-kata tertulis dan lisan melalui teks dan ceramah. Saat ini dengan pemanfaatan multimedia dan berbagai sumber informasi dalam pembelajaran, serta penerapan berbagai metode pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar.
c. Buku Teks
Buku teks adalah media pembelajaran yang umumnya digunakan di sekolah-sekolah pada saat ini, yang menggunakan urutan kegiatan pembe-lajaran uraian, contoh, dan latihan. (Basuki Wibawa & Farida Mukti, 1992 : 5).
Smaldino et al. (2005 : 9) mengemukakan: The most commonly used médium is text. Text is alphanumeric characters that may be displayed in any format-book, poster, chalkboard, computer screen, and so on.
Pendapat di atas dapat diterjemahkan bahwa media yang sering di- gunakan adalah naskah/teks. Naskah /teks adalah karakter tulisan yang dapat digunakan dalam berbagai bentuk – buku, poster, papan tulis, layar komputer, dan lain-lain.
Pengertian lain mengenai buku teks dikemukakan oleh Tarigan (1985 : 13) adalah buku pelajaran dalam bidang tertentu yang disusun oleh
commit to user
para pakar dalam ilmu itu untuk maksud-maksud dan tujuan pembelajaran yang dilengkapi dengan sarana pembelajaran yang mudah dipahami oleh para pemakainya.
Azhar Arsyad (2010 : 29-30) mengatakan bahwa teknologi cetak merupakan cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis, contoh nya adalah teks, grafik, foto, visual.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang buku teks diatas, dapat dituliskan bahwa buku teks merupakan media pembelajaran yang lebih sering digunakan di sekolah, merupakan buku pelajaran yang disusun oleh para pakar ilmu dibidang tertentu, menggunakan urutan kegiatan pembelajaran uraian, contoh, dan latihan dan mudah dipahami oleh para pemakainya.
commit to user
31
4. Hakekat Tentang Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf Internasional sehingga diharapkan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.
(http://file.upi.edu/Direktori).
Irfan Marindra (http://fansmania.wordpress.com) menuliskan bahwa Sekolah Bertaraf Internasional adalah sekolah yang memenuhi seluruh standar nasional pendidikan serta mempunyai keunggulan yang merujuk pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa RSBI adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang memenuhi seluruh standar nasional pendidikan (SPN) Indonesia dan bertaraf internasional, yaitu diperkaya/di- kembangkan/diperluas/diperdalam dengan standar anggota OECD atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional.
Keberadaan RSBI ini memiliki dasar hukum yang semakin memperkuat keberadaannya di dunia pendidikan. Dasar hukum tersebut dituliskan dalam Buku Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (2007:3) yaitu UUSPN nomor
commit to user
20/2003 pasal 50 ayat 3, pemerintah dan atau pemerintah daerah menyeleng- garakan sekurang-kurangnya satu-satuan pendidikan dan semua jenjang pendi- dikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
Tujuan dari program rintisan sekolah bertaraf internasional adalah: Tujuan Umum:
a) Meningkatkan kualitas pendidikan nasional sesuai dengan amanat Tujuan Nasional dalam Pembukaan UUD 1945, pasal 31 UUD 1945, UU No.20 th. 2003 tentang SISDIKNAS, PP No.19 tahun 2005 tentang SNP (Standar Nasional Pendidikan), dan UU No.17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang menetapkan Tahapan Skala Prioritas Utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah ke-1