Tahap persiapan merupakan tahap dimana siswa dibekali keterampilan sesuai dengan program keahlian masing-masing berdasrkan kompetensi atau keahliannya. Dalam pelaksanaan teaching factory di SMK N 5 Surakarta Program Teknik Otomotif yaitu perakitan kendaraan roda dua dan perakitan kendaraan roda empat, guru teaching factory terlebih dahulu mendapat pelatihan perakitan untuk menguasai materi tentang perakitan kendaraan roda dua atau perakitan kendaraan roda empat. Guru melakukan pelatihan di PT KANZEN Indonesia di karawang, dalam pelaksanaan teaching factory di SMK N 5 Surakarta bekerjasama dengan PT KANZEN Indonesia yaitu perakitan kendaraan roda dua. Sedangkan untuk perakitan kendaraan roda empat di SMK N 5 Surakarta belum bisa dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya, dikarenakan masih ada beberapa faktor yang menghambat atau menjadi kendala dalam pelaksanaan perakitan kendaraan roda empat tersebut.
Guru setelah menguasai materi pelatihan perakitan kendaraan roda dua di PT. KANZEN Indonesia, selanjutnya membimbing peserta didik SMK N 5 Surakarta program Teknik Otomotif untuk melakukan perakitan kendaraan roda dua. Hal itu senada dengan pernyataan informan 4 wawancara pada tanggal 20 juni 2012 dan pernyataan informan 7 pada wawancara pada tanggal 6 Agustus 2012 yang menyatakan bahwa sebelum kegiatan teaching factory dilaksanakan, guru dibimbing terlebih dahulu untuk menguasai materi-materi tentang perakitan kendaraan roda dua atau roda empat, setelah selesai melakukan pelatihan guru menyampaikan materi perakitan kendaraan roda dua atau roda empat kepada siswa SMK N 5 Surakarta.
Dalam pelaksanaan awal teaching factory yaitu perakitan kendaraan roda dua guru masih di dampingi oleh pihak konsultan dan asesor dari PT. KANZEN Motor Indonesia untuk melakukan pembimbingan. Setelah guru atau pembimbing menguasai sepenuhnya materi tentang perakitan kendaraan roda dua, konsultan dan asesor dari pihak PT. KANZEN Motor Indonesia tidak lagi mendampingi guru dalam pembimbingan melakukan perakitan kendaraan roda dua.
commit to user
Pelaksanaan teaching factory harus didasari bahwa peserta teaching
factory telah menguasai program keahlian sesuai program diklat masing-masing.
Maka pelaksanaan teaching factory di SMK N 5 Surakarta dilaksanakan oleh peserta yang telah mendapatkan pembelajaran program keahlian yaitu kelas XII .
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal yang melibatkan komponen belajar mengajar yaitu guru, siswa, tujuan, bahan, metode, media dan evaluasi. Apabila PBM berjalan dengan baik maka akan diperoleh hasil yang maksimal dan dapat menunjang kesiapan siswa untuk berkompetisi di dunia kerja. Oleh karena itu harus ada koordinasi yang baik antar komponen-komponen tersebut.
SMK N 5 Surakarta dalam kegiatan PBM juga mengadakan sinkronisasi kurikulum dengan DUDI, sinkronisasi ini mencakup tentang ketentuan-ketentuan kompetensi yang harus dipelajari di sekolah dan yang harus dipelajari di dunia usaha/industri, sehingga lebih diarahkan dalam upaya pencapain belajar. Tujuan diadakannya sinkronisasi kurikulum ini adalah untuk mengetahui perkembangan dan tuntutan dunia kerja. Hal tersebut senada dengan pernyataan informan 1 pada wawancara tanggal 14 juni 2012 dan informan 4 pada wawancara tanggal 20 juni 2012 bahwa PBM di SMK N 5 Surakarta terutama progam teknik otomotif selalu
searching dengan bengkel-bengkel, mekanik-mekanik dan dunia usaha atau dunia
industri untuk mengetahui kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja atau dunia industri. Upaya sinkronisasi juga harus sesuai dengan profil kompetensi tamatan untuk masing-masing tamatan. Dengan adanya teaching factory, merupakan salah satu upaya SMK N 5 Surakarta untuk memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja yang harus dikuasai oleh siswa.
Sebelum PBM berlangsung pihak SMK N 5 Surakarta membuat perencanaan dan persiapan Proses Belajar Mengajar. Adapun perencanaan dan persiapan tersebut meliputi kegiatan:
1) Menjelang tahun pelajaran baru wakil kepala sekolah bidang kurikulum bersama stafnya menyusun dan mensosialisasikan kalender pendidikan untuk kegiatan guru satu semester dan satu tahun.
commit to user
2) Setiap guru menyusun rencana PBM dan membuat satuan acara pembelajaran yang harus disyahkan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum.
Dengan perencanaan dan persiapan proses belajar mengajar yang baik dan matang, diharapkan dapat mendukung kelancaran PBM di SMK N 5 Surakarta, dan diperoleh hasil belajar yang maksimal bagi siswa.
Penentuan bahan dan materi yang tepat akan berpengaruh pada pencapain tujuan PBM. Penetapan tujuan tujuan harus mengacu pada kompetensi yang akan dicapai setelah peserta didik menyelesaikan suatu pembelajaran. Tujuan PBM meliputi 3 ranah yaitu, ranah kognitif, afektif, psikomotorik. Ranah kognitif mengacu pada peningkatan pengetauan, ingatan, dan kemampuan intelektual siswa. Ranah afektif mengacu pada perubahan sikap, nilai, perasaan, dan minat, sedangkan ranah psikomotorik mengacu pada peningkatan keterampilan.
Metode yang digunakan dalam PBM di SMK N 5 Surakarta selalu menggunakan sistem yang bervariasi dan selalu dikembangkan sendiri oleh setiap guru pengampu mata diklat. Disamping itu penentuan metode harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Menurut informan 1 pada wawancara tanggal 14 juni 2012 dan informan 3 wawancara pada tanggal 10 juni 2012 yang menyatakan bahwa metode pembelajaran yang dilakukan di SMK N 5 Surakarta bervariasi sesuai dengan mata diklat atau mata pelajaran yang akan di sampaikan, adakalanya menggunakan metode diskusi, ceramah, praktek yang semua itu bertujuan agar materi-materi yang disampaikan lebih di mengerti oleh siswa. Hal senada juga diperkuat oleh informan 4 pada wawancara tanggal 20 juni 2012 yang menyatakan. bahwa metode belajar yang digunakan oleh guru di SMK N 5 Surakarta memang bervariasi sesuai dengan mata pelajaran yang mereka ajarkan.
Evaluasi yang dilaksanakan oleh pihak SMK N 5 Surakarta meliputi evaluasi formatif yang diadakan setiap selesai materi bab atau sub bab, evaluasi sumatif yang dilaksanakan setiap akhir semester dan ujian akhir nasional. Sedangkan untuk evaluasi penguasaan kompetensi melalui adanya ujian kompetensi.
commit to user
Siswa yang disertakan dalam program teaching factory adalah siswa SMK N 5 Surakarta yang telah dianggap cukup memiliki keterampilan dasar untuk dapat diikutkan dalam lini produksi yaitu siswa kelas XII. Dalam pelaksanaan pembimbingan perakitan kendaraan roda dua tidak dilakukan satu kelas sekaligus melainkan melalui beberapa tahap :
1) Mula-mula guru mengambil dua siswa tiap kelas. Sedangkan di program Teknik Otomotif kelas XII terbagi menjadi tiga kelas, sehingga jumlah awal siswa yang melakukan pelatihan perakitan kendaraan roda dua adalah enam orang. Enam siswa tersebut melakukan pelatihan terlebih dahulu dengan tujuan enam siswa ini yang nantinya akan menjadi tim ahli di masing-masing kelas. Secara tidak langsung enam siswa ini adalah siswa yang berprestasi di masing-masing kelasnya.
2) Kemudian guru membentuk kelompok di setiap masing-masing kelas. Setiap kelompok berjumlah kurang lebih lima hingga sepuluh orang. Dalam melakukan pelatihan perakitan kendaraan roda dua, setiap kelompok akan dibimbing oleh tim ahli yang berasal dari kelasnya masing-masing dengan didampingi guru sebagai konsultan dan asesor.
b. Pelaksanaan Teaching Factory di SMK N 5 Surakarta
Pada tahap ini siswa program teknik otomotif kelas XII SMK N 5 Surakarta mulai melakukan kegiatan teaching factory yaitu perakitan kendaraan roda dua atau roda empat. Disini siswa mempraktekkan keterampilan dasar yang terdapat dalam program praktek dasar kejuruan yang sudah dibekalkan dari sekolah untuk disesuaikan dengan aktivitas kerja di teaching factory yang hampir sama dengan kondisi dunia kerja yang sebenarnya.
Waktu pelaksanaan teaching fatory untuk program teknik otomotif di SMK N 5 Surakarta dilaksanakan setelah siswa memasuki tingkatan kelas XII, pada semester gasal dan genap. Pelaksanaan perakitan kendaraan ada dalam mata pelajaran Mulok. Mula-mula guru mengambil enam siswa. Sedangkan di program Teknik Otomotif kelas XII terbagi menjadi tiga kelas, dan setiap kelas guru
commit to user
mengambil dua orang siswa yang paling berprestasi untuk melakukan pelatihan perakitan kendaraan roda dua atau roda empat, dengan tujuan enam siswa ini yang nantinya akan menjadi tim ahli di masing-masing kelas.
Pembimbingan pelatihan ini dilakukan sebagai pengganti praktek kerja industri. Enam siswa tersebut tidak melaksanakan praktek kerja industri di dunia kerja, melainkan melaksanakan pelatihan assembling kendaraan roda dua atau roda empat, sedangkan siswa kelas XI yang lain melakukan praktek kerja industri di dunia kerja atau dunia industri. Waktu pelaksanaan pelatihan assembling sama dengan waktu pelaksanaan praktek kerja industri yang dilaksanakan siswa kelas XI lainnya.
Pada saat siswa sudah kelas XII, terdapat mata pelajaran Mulok yang materinya berisi tentang pelaksanaan perakitan kendaraan roda dua atau roda empat. Dalam pelaksanaannya siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok berjumlah lima sampai sepuluh orang. Pada saat pelaksanaan pembimbingan perakitan kendaraan roda dua atau roda empat guru dibantu oleh tim ahli yang telah dibentuk yaitu siswa yang telah melakukan pelatihan perakitan.
Materi dalam pelaksanaan teaching factory disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan, yaitu semua yang berkaitan tentang perakitan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat. Sebelum siswa melakukan pekerjaan (assembling), terlebih dahulu dilakukan pertemuan awal sebagai pendalaman materi yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
Kesiapan siswa SMK N 5 Surakarta dalam memasuki dunia kerja ditinjau dari pelaksanaan teaching factory, siswa SMK N 5 Surakarta telah memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja. Terutama dengan pelaksanaan
teaching factory diharapkan siswa mempunyai kesiapan untuk memasuki dunia
kerja, karena selama praktek di teaching factory siswa SMK N 5 Surakarta sudah bisa mengetahui tentang lingkungan kerja yang sebenarnya. Materi-materi serta peraturan yang ada di teaching factory disesuaikan dengan kondisi dunia kerja
commit to user
yang sebenarnya. Sehingga setelah lulus siswa sudah terbiasa dengan keadaan lingkungan kerja yang sebenarnya.
Pelaksanaan teaching factory di bagi menjadi tiga tahap yaitu : proses produksi, proses pemasaran atau hasil produksi, dan evaluasi.
1) Proses Produksi
Pada tahap proses produksi ini adalah perakitan kendaraan roda dua yaitu perakitan sepeda motor Kanzen AURIGA-ESEMKA dan PESONA-ESEMKA. Proses produksi kendaraan roda dua ini segala spare part disuplay dari pihak PT. KANZEN Motor Indonesia. Sedangkan proses perakitannya dilakukan oleh siswa-siswa SMK N 5 Surakarta.
Sebelum melaksanakan perakitan, pihak dari SMK N 5 Surakarta mengajukan proposal ke PT. KANZEN Motor Indonesia untuk mendapatkan
spare part dari sepeda motor AURIGA-ESEMKA dan PESONA-ESEMKA.
Setelah proposal disetujui dan spare part telah dikirim, proses perakitan kendaraan roda dua tersebut baru bisa dilakukan.
Pertama kali pelaksanaan praktek perakitan siswa tidak langsung melakukan perakitan dari komponen-komponen terurai menjadi sebuah kendaraan utuh. Disini siswa diberikan pelatihan dan pendalaman materi tentang pekerjaan yang akan dilakukan. Mula-mula siswa melepas komponen-komponen kendaraan yang sudah jadi dan mengidentifikasinya. Setelah itu siswa melakukan ketahapan berikutnya yaitu, melakukan perakitan dengan petunjuk yang ada sesuai dengan SOP pelaksanaan perakitan.
Pelaksanaan teaching factory di SMK N 5 Surakarta di Program Teknik Otomotif keadaan dan peraturan yang digunakan disesuaikan dengan keadaan dunia kerja yang sesungguhnya. Sehingga siswa dituntut layaknya sebagai seorang tenaga kerja yang sesungguhnya.
Posisi siswa disini adalah sebagai mekanik, yang tugasnya melaksanakan kegiatan berupa perawatan, perbaikan, penggantian atau pembuatan produk berdasarkan pesanan konsumen. Dalam pelaksanaannya siswa tidak dibiarkan
commit to user
berjalan sendiri, tapi masih didampingi oleh guru. Adapun skema pelaksanaan proses produksi adalah :
a) Order dari konsumen diadministrasikan oleh bagian administrasi dan diserahkan kepada bagian ketua. Hasil dari ketua dikalkulasi harga diserahkan kembali ke ketua program. Ketua program menyetujui dan mengesahkan hasil perencanaan setelah mendapat persetujuan dari konsultan dan fasilitator. b) Hasil perencanaan diserahkan kepada guru sesuai pesanan. Tugas lain dari
ketua program adalah menerima hasil penilaian pekerjaan dari guru dan juga membuat laporan hasil pekerjaan yang akan diserahkan kepada konsultan. c) Guru membagi tugas kepada kepala regu untuk mengerjakan pesanan sesuai
dengan jumlah siswa dan bagian masing – masing. Pada proses ini guru memberikan target waktu penyelesaian pekerjaan.
d) Kepala regu menganalisa pesanan dan memberikan tugas pekerjaan kepada siswa. Selama dalam proses produksi ini kepala regu setiap saat mengecek hasil pekerjaan dan melaporkan hasil pekerjaan kepada guru.
2) Proses Pemasaran atau Hasil produksi
Pemasaran adalah suatu proses social dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain (Kotler, 1997).
Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.
Setelah perakitan kendaraan roda dua AURIGA-ESEMKA atau PESONA-ESEMKA telah selesai. Kendaraan roda dua tersebut siap dipasarkan setelah melalui beberapa tahap uji kelayakan yang akan dilakukan oleh guru dan konsultan dari pihak PT.KANZEN Motor Indonesia. Apabila produk perakitan
commit to user
kendaraan roda dua tersebut lulus uji kelayakan, produk tersebut telah siap untuk dipasarkan. Adapun pemasaran hasil produksi melalui beberapa tahap yaitu: a) Produk barang yang sudah jadi dicek ulang oleh guru. Kesesuaian produk
barang pesanan dan standar mutu produk harus disetujui oleh konsultan sebelum proses pemasaran.
b) Bagian administrasi mendata kuantitas produk barang
c) Bagian pemasaran menjual produk barang kepada konsumen sesuai kesepakatan yang telah disetujui bersama. Apabila dalam bentuk pesanan maka bagian pemasaran menanyakan mutu dan jumlah barang kepada pemesan dan dibuat laporan. Produk barang yang dibuat tanpa ada pesanan maka bagian pemasaran bertugas menjual produk barang itu kepada konsumen d) Setiap hasil penjualan harus dilaporkan kepada ketua program melalui bagian
administrasi.
3) Evaluasi dan Penilaian
Evaluasi pada dasarnya proses untuk menentukan tujuan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan - tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa. Proses evaluasi dilakukan setelah siswa selesai melakukan perakitan kendaraan roda dua. Evaluasi atau penilaian dilakukan dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan berdasarkan kompetensi pekerjaan. Adapun proses evaluasi yang dilakukan di SMK N 5 Surakarta melalui beberapa tahapan sebagai berukut : a) Setiap hasil pekerjaan yang telah dicek kualitasnya diserahkan kepada ketua
program untuk diperiksa kualitasnya kepada konsultan. b) Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh siswa dinilai oleh guru.
c) Tahapan penilaian ini guru bertindak sebagai asesor bagi siswa. Penilaian guru diserahkan kepada bagian administrasi dan dilanjutkan ketua program.
commit to user
d) Penilaian yang diberikan kepada siswa adalah penilaian dalam bentuk lembar penilaian kompetensi yang harus diisi setelah pekerjaan dan standar kompetensi atau keahlian selesai. Dalam penilaian, lembar penilaian kompetensi dibawa oleh siswa dan diberikan kepada asesor setiap melakukan penilaian.
e) Pengumuman nilai dilakukan setiap akhir pekerjaan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan, dalam melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa meliputi beberapa aspek yaitu, pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja siswa saat melaksanakan pekerjaan.
2. Kontribusi Pelaksanaan Teaching Factory dalam Mempersiapkan Lulusan Memasuki Dunia Kerja Siswa SMK N 5 Surakarta
a. Pengetahuan
Dengan adanya teaching factory di SMK N 5 Surakarta yaitu perakitan kendaraan roda dua dan service kendaraan roda dua, membuat siswa mempunyai pengetahuan secara langsung tentang pekerjaan-pekerjaan di dunia kerja/industri secara nyata.
Menurut pendapat informan 5 dan informan 6 wawancara pada tanggal 7 juni 2012 menyatakan bahwa kegiatan teaching factory di SMK N 5 Surakarta dapat menambah pengetahuan siswa dan dapat dijadikan bekal siswa setelah lulus nanti. Hal senada juga diperkuat oleh informan 2 wawancara pada tanggal 14 juni 2012 yang menyatakan bahwa di teaching factory dilakukan pembinaan skill dan kompetensi yang pendekatannya sudah ke dunia industri. Ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa tentang dunia kerja.
b. Kemampuan
Dengan adanya teaching factory yaitu perakitan kendaraan roda dua dan
service kendaraan roda dua, menambah kemampuan siswa untuk melaksanakan
commit to user
dua dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan 2 wawancara pada tanggal 14 juni 2012 dan informan 4 wawancara pada tanggal 20 juni 2012 yang menyatakan bahwa kegiatan siswa dalam kegiatan perakitan dimulai dari komponen-komponen terurai menjadi sebuah kendaraan roda dua atau roda empat. jadi mulai kegiatan perakitan pertama kali sampai nanti proses pemeriksaan akhir, yaitu uji kelayakan produk siswa dilibatkan dengan didampingi guru. Hal senada juga di perkuat dengan pernyataan informan 7 wawancara pada tanggal 14 juli 2012 yang menyatakan bahwa awal siswa tidak langsung merakit dari komponen-komponen menjadi sebuah kendaraan melainkan dari kendaraan yang sudah jadi dilepas dan di identifikasi , kemudian dirangkai kembali menjadi sebuah kendaraan, baik itu sepeda motor atau mobil.
Dengan adanya teaching factory yaitu kegiatan assembling dapat menambah kemampuan siswa yang sebelumnya belum bisa merakit kendaraan menjadi bisa dan mampu merakit kendaraan baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Hanya di kegitan teaching factory ini siswa mendapatkan kemampuan merakit kendaraan roda dua atau roda empat.
c. Minat dan Kesukaan
Minat adalah kemauan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan kesukaan adalah sesuatu yang dirasakan dalam diri seseorang yang timbul dari diri pribadi tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Setelah siswa melaksanakan teaching factory, maka dengan sendirinya mereka akan mengetahui minat dan kesukaan dari pekerjaan itu. Dengan demikian pekerjaan di teaching
factory dapat diselesaikan dengan baik, karena minat dan kesukaan dari dalam diri
siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat informan 5 dan informan 6 wawancara pada tanggal 7 juni 2012 Yang menyatakan bahwa mereka sangat senang dengan adanya kegiatan perakitan yang dapat memberikan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja.