commit to user
mampu melaksanakan dengan benar. Banyaknya jumlah anak yang sudah tuntas menjadikan bukti bahwa penerapan cooking class efektif untuk meningkatkan keterampilan menyimak anak.
Hasil pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pratindakan dan siklus I.
berikut adalah diagram perbandingan hasil tes pra tindakan, siklus I dan siklsus II.
Gambar 4.10 Grafik Perbandingan Hasil Tes Pratindakan, Siklus I dan Siklus II
Gambar 4.10 menunjukkan bahwa sebelum diberikan tindakan diperoleh data sebanyak 5 dari 16 anak tuntas, kemudian pada siklus I didapatkan hasil sebanyak 8 dari 16 anak tuntas, dan pada siklsus II didapatkan data sebanyak 13 dari 16 anak tuntas. Hal ini dapat dibuktikan saat anak mampu melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru tanpa bergantung pada bantuan guru atau teman lain. Selain itu sudah hampir semua anak mampu mengatasi kesuliatan yang dihadapinya sendiri. Anak antusias terhadap kegiatan pembelajaran dan merasa senang dengan kegiatan yang dijalani. Hasil yang didapat pada siklus II telah melampaui target capaian yang diharapkan, maka penelitian dihentikan pada siklus II dan tidak dilanjutkan. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa keterampilan menyimak anak dapat meningkat setelah diterapkannya cooking class.
0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
50.00%
60.00%
70.00%
80.00%
90.00%
Pratindakan Siklus I Siklus II
Tuntas Belum tuntas
commit to user
commit to user
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menstimulasi keterampilan menyimak anak usia 5-6 tahun TK MTA Polokarto Tahun Ajaran 2018/2019 melalui cooking class. Indikator penelitian yaitu menjawab pertanyaan, menceritakan kembali dan melaksanakan perintah berurutan. Ketiga indikator tersebut diambil dari pendapat Adelmann (2012), Asmawati (2014) & Mudarwan (2015) Penelitian dilakukan selama 2 siklus terdiri dari 2 pertemuan setiap siklus. Tahap penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebesar 81,25% atau sebanyak 13 anak tuntas pada ketiga indikator. Indikator melaksanakan perintah berurutan merupakan indikator dengan ketuntasan tertinggi, kemudian menjawab pertanyaan dan yang terakhir menceritakan kembali.
Sebanyak 3 anak atau sebesar 18,75% belum tuntas dengan rincian 2 anak tidak tuntas pada indikator melaksanakan perintah berurutan, 3 anak belum tuntas pada indikator menjawab pertanyaan dan menceritakan kembali serta 2 anak tidak tuntas pada semua indikator. Hasil pengamanatan menunjukkan bahwa anak tidak memiliki fokus pada pembelajaran. Anak sering tidak tertarik pada pembelajaran, bermain sendiri di kelas, mengelilingi kelas atau mengajak guru berbincang. Satu lagi anak tergolong pendiam dan jarang menjawab pertanyaan guru atau berbincang dengan guru. Anak tidak melakukan aktivitas yang mengganggu namun tidak fokus pada pembelajaran.
Guru kelas terkadang juga merasa kesulitan menangani kedua anak tersebut namun tetap memberikan bimbingan pada kedua anak.
Penerapan cooking class dimulai dengan penjelasan pada kegiatan yang akan dilaksanakan. Kemudian menunjukkan alat dan bahan yang akan digunakan. Lalu menyebutkan langkah pembuatan satu persatu dan menunjukkan hasil akhir makanan yang sudah dipersiapkan. Setelah selesai membuat makanan guru mengajak anak untuk mengulas kembali kegiatan dan memberikan beberapa pertanyaan terkait kegitan yang telah dilaksanakan.
commit to user
commit to user
Susunan kegiatan tersebut didasari oleh pendapat Giles & Wellhousen (2005) yaitu menunjukkan alat, bahan dan resep yang akan digunakan pada anak;
membacakan resep serta melaksanakan kegiatan berdasarkan resep yang dibacakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menangkap informasi yang disampaikan oleh guru, sedangkan ketika melaksanakan kegiatan berdasarkan resep menstimulus keterampilan melaksanakan perintah berurutan. Anak dibiasakan untuk melakukan sesuai dengan urutan yang benar.
Jika anak melakukan tidak sesuai dengan urutan maka hasil juga tidak akan sesuai yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Einon (2002) yang menyatakan bahwa melalui memasak anak belajar mengikuti perintah sederhana dan melaksanakan sampai selesai.
Langkah selanjutnya sesuai dengan pendapat Burnett (2018) yaitu melakukan tanya jawab bersama anak tentang kegiatan yang dilaksanakan serta bercerita mengenai kegiatan memasak yang dilakukan. Tahap ini membantu menstimulus anak untuk menjawab pertanyaan serta bercerita terkait kegiatan yang telah dilakukan. Pertanyaan yang diberikan adalah materi pembelajaran yang telah disampaikan guru baik sebelum memasak maupun ketika memasak.
Tanya jawab dilakukan setelah kegiatan memasak selesai agar anak tidak lupa terhadap materi yang telah diberikan.
Indikator menjawab pertanyaan dapat dilakukan dengan mudah jika anak mengetahui dan memahami materi yang telah disampaikan oleh guru selama kegiatan pembelajaran. Agar memahami materi yang disampaikan oleh guru anak perlu berkonsentrasi pada kegiatan pembelajaran. Anak dapat berkonsentrasi jika tertarik pada kegiatan tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutirna (2013) menjelaskan bahwa rentang waktu kemampuan fokus perhatian pada anak usia dini khususnya usia 4-5 tahun yaitu berkisar antara 12-14 menit terhadap objek yang menurut anak menarik. Salah satu kegiatan yang mampu menarik anak adalah cooking class.
Anak akan lebih mudah mengingat jika melakukan sesuatu. Kegiatan cooking class memberi kesempatan pada anak membuat sendiri makanan dengan bahan yang telah disiapkan dan dapat memakannya. Kegiatan yang
commit to user
commit to user
santai dan melibatkan anak tepat untuk dilaksanakan agar memudahkan anak bercerita. Ridwan (2015) menegaskan bahwa memasak adalah kegiatan yang menyenangkan. Anak belajar mengenai bahan, alat, langkah kegiatan, bekerja sama serta bertanggung jawab selama cooking class. Jika anak merasa senang maka lebih mudah untuk anak bercerita. Guru dapat membantu anak yang kesulitan dengan memancing beberapa kata dan anak melanjutkan lagi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, cooking class juga dapat mengembangkan beberapa bidang perkembangan seperti motorik halus.
Prititasari (2010) menjabarkan anak-anak akan lebih antusias memakan makanan yang mereka buat atau ciptakan sendiri. Anak-anak ingin diberi kesempatan untuk ikut terlibat menyiapkan bahan-bahan, mengolah, hingga menjajikannya di meja makan. Selain itu biarkan juga anak ikut membersihkan, menyiangi, atau memotong sayuran. Ketika memasak banyak aktivitas yang membutuhkan keterampilan anak dalam menggunakan jari-jarinya seperti memotong, meremas, membentuk, dan lainnya. Cooking class melatih jari-jari anak agar dapat digunakan dengan baik.
Indikator menyebutkan lambang bilangan anak mengucapkan bilangan selama membuat makanan sesuai dengan takaran, seperti tiga sendok makan, lima buah roti yang akan dihitung dari bilangan satu. Coughlin (2008) berpendapat bahwa melalui memasak anak belajar menghitung dan mengukur seperti ketika menuang dua sendok makan gula pasir pada mangkok. Anak mempelajari arti dari angka yang anak hitung. Anak juga belajar untuk membagi seperti memotong kue menjadi tiga dengan kemampuan anak sendiri.
Perkembangan sosial emosional dikembangkan ketika anak harus bertanggung jawab dengan bahan makanan yang dimiliki serta hasil yang diterima. Anak bertanggung jawab jika hasil tidak sesuai dengan orang lain dan menerima hasil karya sendiri. Anak juga bertanggung jawab pada kebersihan lingkungan meja dan tempat duduk anak. Anak akan membuang sampah dan membersikan jika ada yang berceceran. Pengembangan aspek prososial, anak belajar berbagi bahan yang disediakan guru untuk digunakan bersama. Guru menyediakan satu wadah meses untuk digunakan 5 anak, untuk itu anak tidak
commit to user
commit to user
boleh egois agar anak lain juga mendapatkan bahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Amaros & Rohita (2018) yang menyatakan bahwa memasak meningkatkan kemampuan sosial emosional anak seperti rasa tanggung jawab, mengatur diri sendiri dan memiliki perilaku prososial. Anak bertanggung jawab atas tindakan dan perilaku sendiri selama kegiatan berlangsung.
Stimulasi keterampilan menyimak melalui penerapan cooking class yang dilakukan disusun dan dilaksanakan dengan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, santai dan menarik untuk meningkatkan indikator menjawab pertanyaan dan menceritakan kembali. Membuat makanan seperti bola-bola coklat, bekal dan donat dilaksanakan berdasarkan langkah-langkah yang harus dilalui dengan urutan yang benar untuk menstimulasi indikator melaksanakan perintah berurutan. Data- data hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini menunjukkan kesimpulan bahwa penerapan cooking class dapat meningkatkan keterampilan menyimak anak usia 5-6 tahun di TK MTA Polokarto tahun ajaran 2018/2019.