• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONCLUSION AND RECOMMENDATION

Dalam dokumen 20120730112852.Ringkasan Eksekutif Pemetaan (Halaman 36-40)

DEWAN NASIONAL PERUBAHAN IKLIM

CONCLUSION AND RECOMMENDATION

EX EC U TI VE S U MM AR Y

KESIMPULAN DAN SARAN

Kegiatan Pemetaan Kerentanan Daerah Provinsi Serta Inventarisasi Kebijakan Dan Kelembagaan Dalam Rangka Antisipasi Dampak Perubahan Iklim memberikan beberapa temuan sebagai berikut:

CONCLUSION AND RECOMMENDATION

Activity on Provincial Vulnerability Mapping and Policy Inventory to Anticipate Climate Change Impacts resulted in several findings:

1. Dasar Perumusan Kebijakan

- Ketersediaan Data yang dibutuhkan: Dalam kegiatan pemetaan kerentanan, ketersediaan data klimatologis relatif belum memadai untuk melakukan pemetaan yang lebih rinci dari level provinsi. Sedangkan dari hasil kegiatan inventarisasi kebijakan diketahui bahwa data atau informasi kerentanan tidak banyak tersedia di instansi pemerintah daerah, malah pada beberapa topik, tersedia di Perguruan Tinggi dan LSM internasional. Dan kegiatan identifikasi kelembagaan MRV semakin menegaskan bahwa data atau informasi yang dihasilkan oleh pemerintah daerah masih jauh dari harapan karena teknis pembuatan laporan bukan merupakan agenda utama aparatur pemerintah daerah. Oleh karena itu, perlu terobosan kebijakan yang besar untuk memperbaiki sistem penyediaan data dan pelaporan di daerah provinsi.

- Ketepatan Metode: Dalam konteks perumusan kebijakan adaptasi, pemetaan kerentanan sebaiknya menggunakan pendekatan indeks kewilayahan untuk memudahkan perlakuan kebijakan yang berbeda berdasarkan spesifikasi kerentanan wilayahnya. Studi kasus Pemetaan Kerentanan di Sulawesi Selatan dan Gorontalo telah menunjukkan ketersediaan informasi yang memadai bagi pengambil keputusan dalam menyiapkan kebijakan di masing-masing wilayah kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi. Sedangkan dari hasil kegiatan inventarisasi kebijakan diketahui bahwa hampir semua kebijakan adaptasi di daerah provinsi belum dilahirkan dari studi kerentanan ataupun perhitungan biaya adaptasi yang terukur. Dan berdasarkan kajian kelembagaan MRV diketahui bahwa standarisasi untuk teknik pengukuran yang sama tidak mudah

1. Policy Formulation Bases

- Data Availability: In vulnerability mapping, availability of climatology data is still poor and inadequate to create more detail mapping on provincial level. Based on policy inventory, majority of regional agencies do not have data or information on vulnerability. Information on several topics on vulnerability can be found at local university or international NGO. Based on analysis on MRV institutional, data or information provided by regional governments is poor and far from expectation as creating standarized reporting technical is not their main agenda. The regional government needs breakthrough policy to improve reporting and data availability mechanism.

- Method Accuracy: In formulating adaptation policy, vulnerability mapping should use regional index approach in order to create policy suitable for each region vulnerability level. Case study on vulnerability mapping in South Sulawesi and Gorontalo indicated the two provinces have adequate information to formulate adaptation policy for each regency/city. Based on policy inventory, the study found out that adaptation policy on provincial level was not formulated based on the region vulnerability or measured adaptation budget. Based on MRV institutional, the study found out that provincial governments have not agreed on similar measurement technical since they depend on central government standard. The study did not record local governments iniciative to propose certain measurement standard.

Pemetaan Kerentanan di Daerah Provinsi Serta Inventarisasi Kebijakan dan Kelembagaan Dalam Rangka Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

DEWAN NASIONAL PERUBAHAN IKLIM

RI N GKA SA N E KS EKU TI F EX EC U TI VE S U MM AR Y

disepakati di level provinsi karena daerah umumnya tergantung pada nasional, belum ada catatan inisiatif daerah untuk mengajukan teknik perhitungan tertentu.

2. Kesenjangan Kebijakan Daerah

- Regulatory framework: Dalam tataran peraturan perundang - undangan, kebijakan pengendalian perubahan iklim belum disusun secara sistemik dalam kerangka kerja jangka panjang atau tatanan norma tertentu. Kebijakan yang ada masih bersifat responsif terhadap isu perubahan iklim yang dinamis, peraturan di level UU dan PP serta di level Peraturan Menteri untuk kebutuhan juklak dan juknis masih sangat sedikit. Kebutuhan terhadap regulatory framework mulai dirasakan terutama dalam rangka mensinergikan kebijakan setiap sektor dan sebagai landasan bagi daerah untuk memprioritaskan agenda kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

2. Regional Regulation Gap

- Regulatory Framework: In legislations, policy on climate change management has not been drawn up systematically in long-term regulatory framework or special norm order. The regulation being implemented only act responsive to dynamic climate change while technical regulation in legislation and ministry regulation is still limited. The need for regulatory framework is urgent to align various regulations from different sectors and transform it as bases for regional government to prioritize climate change mitigation and adaptation policy in their agenda.

- RAD PE GRK: Di level provinsi, Pemerintah Daerah telah menyusun berbagai kebijakan inovatif untuk menunjukkan komitmennya terhadap perubahan iklim. Namun, belum sampai kepada satuan yang terukur, terutama untuk kebijakan mitigasi. Oleh karena itu, dibutuhkan pengklusteran kontribusi tiap sektor di setiap provinsi terhadap penurunan emisi. Pengklusteran yang jelas akan memberikan gambaran kebutuhan penganggaran dana APBN untuk setiap sektor terkait maupun kebutuhan bantuan dan pendanaan dalam rangka menarik pembiayaan dari komunitas internasional. Semua hal tersebut dapat dituangkan dalam bentuk Peraturan Gubernur tentang Rencana Aksi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK).

- RAD PE GRK: On provincial level, regional governments have set up innovative policy to show their committment on climate change. But their policy does not touch measurable unit. Therefore, the local governments need to cluster every sector’s contribution to emission reduction. Clustering will provide clear picture on budget allocation for each sector or for activity to attract funding from international community. All details can be included in Governor’s Regulation on Green House Gas Emission Reduction Act (RAD-GRK).

- Adaptasi lintas wilayah: Di level provinsi, kebijakan adaptasi sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim dalam skala besar yang bersifat lintas wilayah kabupaten/kota di dalam wilayah provinsi dan/atau antar daerah provinsi. Namun, Pemerintah Provinsi juga diharapkan mampu mendorong

- Cross-region Adaptation: On provincial level, adaptation policy for large scale of area is needed to anticipate climate change impact which might hit cross-regency/city within one province. In additon, provincial government is expected to create strong coordination between all regional government under its territory

Pemetaan Kerentanan di Daerah Provinsi Serta Inventarisasi Kebijakan dan Kelembagaan Dalam Rangka Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

DEWAN NASIONAL PERUBAHAN IKLIM

RI N GKA SA N E KS EKU TI F EX EC U TI VE S U MM AR Y

kerjasama daerah kabupaten/kota di bawahnya dan menciptakan iklim yang kondusif bagi masyarakat dan swasta untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan adaptasi atau mitigasi perubahan iklim.

to create condusive vibe for society and private sectors to participate in climate change mitigation or adaptation program.

- Optimalisasi organ daerah: Dalam pengelolaan kegiatan yang terkait dengan perubahan iklim, beberapa daerah telah membentuk satuan unit tertentu yang bertugas dalam hal penyelenggaraan kegiatan mitigasi dan adaptasi. Model tersebut belum teruji efisiensi dan efektifitasnya karena baru saja lahir. Namun demikian, Pemerintah Provinsi dapat menempuh cara lainnya, yaitu dengan menambahkan fungsi “pelayanan perubahan iklim” pada struktur organisasi SKPD yang sudah ada, dan menempatkan fungsi koordinasi pada salah satu instansi yang kompeten sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Penambahan fungsi tersebut disesuaikan dengan ruang lingkup kerja mitigasi maupun adaptasi pada masing-masing sektor sesuai dengan kebutuhan daerahnya.

- Optimalize Regional Agency: In managing activity related to climate change, few regions have formed working unit to implement climate change mitigation and adaptation. The model has not been tested yet for its effectiveness as it is new.

Nevertheless, provincial government can add “climate change service” unit in its organization structure and place coordinating unit to adjust to upcoming changes. Adding new unit can be adjusted with mitigation and adaptation working scope according to each sector’s need.

3. Kelembagaan Perubahan Iklim di Daerah - Revitalisasi laporan: Dalam upaya

menerapkan sistem MRV, Pemerintah Provinsi masih memiliki berbagai kelemahan untuk dapat mengimplementasikan sistem tersebut

secara cepat. Oleh karena itu, dalam jangka pendek, utilisasi dari sumber daya kelembagaan yang ada merupakan langkah yang lebih tepat, terutama dalam aspek pengukuran dan pelaporan. Produk-produk laporan yang sudah ada dapat dimanfaatkan untuk menambahkan materi laporan yang terkait dengan mitigasi dan adaptasi tergantung dari masing-masing sektor tersebut.

3. Regional Climate Change Institutional - Report Revitalization: In effort to

implement MRV system, provincial government still have several disadvantages which might affect the system’s implementation. In short term, maximum utilization of agency resources is considered as the right step, especially for reporting and measurement aspects. Existing products from report can be utililzed to add reporting material related to climate change mitigation and adaptation program.

- Keterlibatan masyarakat: Dalam konteks verifikasi, dan juga termasuk pengukuran dan pelaporan, apabila dibutuhkan, perlu adanya perluasan wilayah kerja para pelaksana dalam kurun waktu tertentu, yaitu membuka akses kepada konsultan independen untuk turut serta dalam proses verifikasi kegiatan mitigasi dan adaptasi, baik

- Society Participation: In verification context, include measurement and reporting, if necesarry, the local government must widen its working area for certain period of time and open access for independent consultant to participate in mitigation and adaptation program verification. The independent consultant can come

Pemetaan Kerentanan di Daerah Provinsi Serta Inventarisasi Kebijakan dan Kelembagaan Dalam Rangka Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

DEWAN NASIONAL PERUBAHAN IKLIM

RI N GKA SA N E KS EKU TI F EX EC U TI VE S U MM AR Y

yang berasal dari asosiasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, maupun perguruan tinggi. Prinsipnya adalah standar kompetensinya dapat dipenuhi.

from academic world, members of working association and NGO.

- Standarisasi Kompetensi: Dalam melaksanakan pengukuran dan pelaporan, SDM harus mendapatkan sertifikat atau pengakuan dari organisasi yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal penguasaan teknik dan metode penghitungan emisi yang dirinci per sektor. SDM yang sudah tersedia, juga dapat ditingkatkan kapasitasnya dalam hal pengukuran dan pelaporan dengan dukungan perangkat insentif yang menjanjikan sebagai suatu jabatan fungsional.

- Competence Standardization: In measurement and reporting, human resources involved must obtained sertificate or acknowledgment from related organization in terms of mastering measurement technical for emission. Local government can also upgrade capability of available human resources by implementing reward and incentive system.

- Legal basis MRV: Konsep institusi MRV, sebaiknya memisahkan fungsi M, R dan V dengan tetap mengacu pada kriteria dan standar dari Pemerintah. MR dapat ditempatkan pada satuan unit kerja masing-masing dinas; V sebaiknya terpusat pada satu unit tertentu. Ketentuan dan tata cara pengukuran dan pelaporan sebaiknya dirumuskan dan ditetapkan oleh kementerian teknis atau melalui Peraturan Menteri bersama atau Peraturan Presiden, apabila menyangkut urusan lintas sektor.

- MRV Legal Bases: In MRV institutional concept, it is adviced for local governments to separate MR from V functions. MR can be placed in one working unit while V should be placed in specific working unit. Procedures on measurement and reporting should be formulated and implemented by technical ministry through Join Ministry Regulation or Presidential Regulation.

Dalam dokumen 20120730112852.Ringkasan Eksekutif Pemetaan (Halaman 36-40)

Dokumen terkait