LANDASAN TEORI A. Kajian Teori
6. Contextual Teaching And Learning (CTL)
a. Pengertian Contextual Teaching And Learning (CTL)
Contextual Teaching And Learninng (CTL) merupakan suatu pembelajaran yang holistic. Tujuannya untuk memotivasi peserta didik supaya memahami makna materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kebudayaan). Dengan demikian, peserta didik memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lainnya.
Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan suatu konsep belajar di mana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, buka transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah suatu strategi yang memenuhi
45
prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. (Widiasworo, 2017:190)
Jadi, pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dan situasi dunia nyata peserta didik serta mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme (contructivism), Tanya jawab (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). (Widiasworo, 2017:191-192)
b. Konsep Contextual Teaching And Learning
Menurut Nurhadi dalam bukunya Rusman (2013:189) Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching And Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membantu hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari,
46
mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat kongkret (terkait dalam kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian pembelajaran tidak sekadar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses. (Rusman, 2013:190)
Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru.
Oleh sebab itu, melalui model pembelajaran kontekstual, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditetapkan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari degi fisik). Akan tetapi, secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat). (Rusman, 2012:191)
47
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain/skenario pembelajaranya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagi berikut :
1) Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang akan dimilikinya.
2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan
3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan
4) Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelomppok, berdiskusi, Tanya jawab, dan lain sebagainya.
5) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.
6) Membiasakan anak untuk melaksanakan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
48
7) Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa. (Rusman, 2013:191-192)
c. Karakteristik Contextual Teaching And Learning (CTL)
Karakteristik pembelajaran Contextual Teaching And Learning adalah sebagai berikut:
1) Kerja sama
2) Saling menunjang
3) Menyenangkan, tidak membosankan
4) Belajar dengan bergairah
5) Pembelajaran terintegrasi
6) Menggunakan berbagai sumber
7) Peserta didik aktif
8) Sharing dengan teman
9) Peserta didik kritis, guru kreatif
10)Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja peserta didik, peta-peta, gambar-gambar, artikel, humor, dan lain-lain.
11)Laporan kepada orang tua tidak hanya raport, tetapi juga hasil karya peserta didik, laporan hasil praktikum, karangan peserta didik, dan lain-lain. (Widasworo, 2017:192)
49
d. Prinsip Contextual Teaching And Learning (CTL)
Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual antara lain: (Rusman, 2013:193-198)
1) Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk dambil dan diingat. Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman yang nyata. Batasan konstruktivisme diatas memberikan penekanan bahwa konsep bukanlah tidak penting sebagai bagian integral dari pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh siswa, akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang dimiliki siswa itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap siswa untuk diaktualisasikan dalam kondisi nyata. Oleh karena itu, dalam CTL strategi untuk membelajarkan siswa menghubungkan antara setiap konsep dengan kenyataan merupakan unsur yang diutamakan dibandingkan dengan penekanan terhadap seberapa banyak pengetahuan yang harus diingatoleh siswa. (Rusman, 2013:193)
50 2) Menemukan (Inquiry)
Menemukan, merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan-kempuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri. Kegiatan pembelajaran yang mengaruh pada upaya menemukan, telah lama diperkenalkan pula dalam pembelajaran inquiry and discovery (mencari dan menemukan). Tentu saja unsur menemukan dari kedua pembelajaran yang membantu siswa baik secara individu maupun kelompok belajar untuk menemukan sendiri sesuai dengan pengalaman masing-masing. (Rusman, 2013:194)
3) Bertanya (Questioning)
Unsur lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. Pengetahaun yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena itu, bertanya merupakan strategi utama dalam CTL, Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi ileh guru, kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. Seperti pada tahapan sebelumnya, berkembangnya kemampuan dan keinginan untuk bertanya sangat
51
dipengaruhi oleh suasana pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Dalam implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, tugas bagi guru adalah membimbing siswa melalui pertanyaan yang diajukan untuk mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang dipelajari dalam kaitan dengan kehidupan nyata. (Rusman, 2013:195)
Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan banyak ditemukan unsure-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru mauoun oleh siswa. oleh karena itu, cukup beralasan jika dengan pengembangan bertanya produktivitas pembelajaran akan lebih tinggi karena dengan bertanya, maka dapat menggali imformasi, baik administrasi maupun akademik (Rusman, 2013:195).
a) Mengecek pemahaman siswa
b) Membangkitkan respon siswa
c) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
d) Mengetahui hal-hal yang diketahui siswa
52
f) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
g) Menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa
h) Masyarakat belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Seperti yang disaranka dalam learning community, bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini anak dibiasakan untuk saling memberi dan menerima, sifat ketergantungan yang positif dalam learning community dikembangkan (Rusman, 2013:196).
Kebiasaan penerapan dan mengembangkan masyarakat belajar dalam CTL, sangat dimungkinkan dan dibuka dengan luas memanfaatkan masyarakat belajar lain diluar kelas. Setiap siswa semestinya dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melaluli pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar didalam kelas, akan tetapi sumber manusia lain diluar kelas (keluarga dan asyarakat). Ketika kita dan siswa dibiasakan untuk memberikan pengalaman yang luas kepada orang lain, maka saat itu pula kita atau siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari komunitas lain. (Rusman, 2013:196)
53 4) Pemodelan (Modelling)
Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang di,iliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanaan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru (Rusman, 2013:197)
5) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa aja yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan kata lain refleksi adalah berfikir ke belakang tentang apa apa yang sudah dilakukan dimasa lalu, siswa mengedepankan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning to be) (Rusman, 2013:197)
Melalui model CTL, pengalaman belajar bukan hanya terjdai dan dimiliki ketika seseorang siswa berada didalam kelas,
54
akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut keluar dari kelas, yaitu pada saat ia ditntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi sehari-hari. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pada dunia nyata yang dihadapinya akan mudah diaktualisasikan manakala pengalaman belajar itu telah terinternalisasi dalam setiap jiwa siswa dan disinilah pentingnya menerapkan unsur refleksi pada setiap kesempatan pembelajaran (Rusman, 2013:197)
6) Penilaian Sebenarnya (Authentic Assaesment)
Tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan penilaian. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualita sproses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Dengan terkumpulnya data dan informasi yang lengkap sebagai perwujudan dari penerapan penilaian, maka akan semakin akurat pula pemahaman guru terhadap proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa (Rusman, 2013:197)
55
Guru dengan cermat akan mengetahui kemajuan, kemunduran dan kesulitan siswa dalam belajar, dan dengan itu pula guru akan memiliki kemudahan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses bimbingan belajar dalam langkah selanjutnya. Mengingat gambaran tentang kemajuan belajar siswa diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka nilai tidak hanya dilakukan diakhir program pembelajaran, akan tetapi secara integral dilakukan selama proses program pembelajaran itu terjadi. Dengan cara tersebut, guru secara nyata akan mengetahui tingkat kemampuan siswa yang sebenarnya (Rusman, 2013:198).
e. Langkah-langkah pembelajaran CTL
Adapun lagkah-langkah dalam pembelajaran contextual teaching and learning, yaitu:
1) Kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
56 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7) Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara (Riyanto, 2012: 168169)
f. Kelebihan dan kekurangan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Beberapa kelebihan dari Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah sebagai berikut :
1) Pembelajaran kontekstual dapat menekankan aktivitas berpikir peserta didik secara penuh, baik fisik maupun mental.
2) Pembelajaran kontekstual dapat menjadikan peserta didik belajar bukan dengan mengahafal, melainkan proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
3) Kelas dalam kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, melainkan sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan mereka dilapangan
4) Materi pelajaran ditentukan oleh peserta didik sendiri, bukan hasil pemberian dari orang lain.
Adapun kekurangannya, yaitu penerapan pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang kompleks dan sulit dilaksanakan dalam konteks pembelajaran. Selain itu, juga
57
membutuhkan waktu yang lama Shoimin dalam Widiasworo (2017:194).