• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Kasus dan Penanganannya a. Contoh Kasus

B. HASIL PENELITIAN

3. Contoh Kasus dan Penanganannya a. Contoh Kasus

Dari data perkara KDRT di Unit PPA Polsek Semarang, penulis meneliti perkara KDRT yang dialami korban Nia Notavia yang terjadi pada tahun 2016 dan perkara KDRT yang dialami Nur Syamsiyah yang terjadi pada tahun 2017.

Korban Nia Notavia, umur 21 tahun, pekerjaan karyawan pabrik garmen, alamat dusun sruwen RT 07/RW 04 Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Pada tanggal 16 Januari 2016, Nia Notavia dianiaya oleh suaminya yang bernama Ery Setyawan. Perkara tersebut baru dilaporkan ke Polres Semarang pada tanggal 20 Januari 2016 dengan laporan polisi No Pol:

70 LP/B/13/I/2016/Jateng/Res SMG. Korban mengalami memar dan benjol dikepala serta luka akibat benda tajam ditangan sebelah kiri.

Hasil wawancara dengan yang bersangkutan didapat keterangan sebagai berikut :

“Benar bahwa pada awal tahun 2016 korban melaporkan suaminya ke Polres Semarang karena suaminya telah melakukan kekerasan kepadanya. Pada awalnya korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Bergas dan selanjutnya diteruskan ke Polres Semarang. Di Polsek korban dibawa ke Puskesmas untuk diobati dan dimintakan visum di Puskesmas. Korban mengataan bahwa pada saat itu sebelum dia melapor, sebenarnya sudah beberapa kali dipukul oleh suaminya, namun dia tidak melapor dengan harapan suaminya dapat berubah. Saat ini dia masih sendirian setelah bercerai dengan Ery Setyawan. Setahu dia, waktu itu suaminya dimasukkan ke sel di Polres Semarang dan perkaranya diproses, namun tidak sampai disidang pengadilan karena berdamai. Walaupun berdamai, korban tidak ingin kembali lagi kepada Ery Setyawan karena ringan tangan dan suka mabuk.”24

Wawancara lebih lanjut dengan penyidik Bripda Putriana Megasari di Polres Semarang didapat informasi sebagai berikut :

“Bahwa pelaku KDRT yang berinisial ES dengan korban Nia Notavia telah dilakukannya penyidikan sampai selesai. Namun kemudian mereka melakukan perdamaian dengan mencabut

24 Wawancara dengan Ibu Nia Notavia, hari Minggu tanggal 29 September 2019.

71 laporannya. Saat itu tersangka ES sempat ditahan beberapa minggu.”25

Selanjutnya perkara KDRT yang mnimpa Nur Syamsiyah.

Hasil wawancara dengan korban, diperoleh informasi sebagai berikut :

“Pada waktu itu saya mau mengambil mesin jahit dirumah, karena kami sudah pisah rumah dalam proses perceraian. Tetapi ketika mau keluar rumah, tiba-tiba suami memukul kepala saya dari belakang dan mendorong badan saya ke tembok sehingga terasa sakit.”26

Setelah mengalami kekerasan dari suaminya, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Ambarawa, namun oleh Polsek diarahkan untuk melapor ke Unit PPA Polres Semarang di Ungaran. Korban kemudian membuat laporan ke Polres Semarang dan dibuatkan laporan polisi dengan nomor LP/B/35/IV/2017/Jateng/Res SMG tanggal13 April 2017. Pada hari itu juga korban diantar oleh penyidik Unit PPA ke RSUD Ungaran untuk diperiksa kesehatannya dan dimintakan Visum et repertum. pada hari berikutnya dilakukan pemeriksaan terhadap korban.

Hasil wawancara dengan Bripda Novia Make SH, dijelaskan bahwa perkara atas nama tersangka Slamet Raharjo (suami korban Nur Syamsiyah) telah dilimpahkan ke Kejaksaan karena korban tidak

25 Wawancara dengan Ibu Bripda Putriana Megasari, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.

26 Wawancara dengan Ibu Samsiyah, pada hari Minggu tanggal 6 Oktober 2019.

72 mau berdamai dan menginginkan berpisah dengan pelaku (suaminya).27

b. Penanganan Kasus

Untuk mengetahui penanganan kasus-kasus KDRT oleh Unit PPA Polres Semarang, penulis telah melakukan pengamatan dan wawancara dengan Bapak Aipda Hendrik Pebrianto SH selaku Kepala Unit Penyidikan, didapat penjelasan sebagai berikut :

1) Korban KDRT ataupun keluarganya dapat melaporkan dan akan dibuatkan laporan polisi di Unit PPA.

2) Terhadap korban perempuan akan dilayani ataupun diperiksa oleh penyidik Polisi wanita. Ditangani secara khusus dengan merahasiakan identitas korban.

3) Korban diantar ke RSUD Ungaran untk diobati dan dimintakan Visum et repertum. Selanjutnya diperiksa sebagai saksi korban.

4) Penyidik segera memanggil para saksi baik yang mendengar, melihat ataupun mengetahui peristiwanya dan menyita barang bukti lainnya.

5) Menghubungi Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemda Kab.

Semarang untuk koordinasi, apabila :

a) Korban perlu perawatan lanjutan/ opname di rumah sakit.

Realisasinya beberapa korban yang telah dirawat di RSUD

27 Wawancara dengan Ibu Bripda Novia Make, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.

73 Ungaran pembayarannya dilakukan oleh Bapermas Pemda Kabupaten Semarang.

b) Korban perlu perlindungan sementara. Sampai saat ini, belum pernah ada korban yang mau dilindungi sementara, mereka lebih memilih untuk diantar ke keluarganya atau saudaranya.

Sehingga penyidik Unit PPA Polres Semarang juga belum pernah meminta surat perintah perlindungan ke Pengadilan.

6) Setelah bukti permulaan sudah cukup dan lengkap, penyidik melakukan :

a) Penangkapan/ pemanggilan terhadap tersangka.

b) Memeriksa tersangka.

c) Melakukan penahanan atau wajib lapor apabila tidak ditahan.

d) Memberkas perkara dan mengirimkan ke Jaksa Penuntut Umum.

e) Apabila berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Jaksa maka tersangka dan barang bukti dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Ungaran.

f) Selanjutnya penyidik akan menerbitkan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) untuk disampaikan kepada korban selama proses penyidikan.

g) Terhadap perkara KDRT, Unit PPA Polres Semarang mengutamakan untuk penyelesaian melalui ADR (Alternative Dispute Resolution). Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan

74 penghapusan KDRT yaitu memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera (Pasal 4 UU PKDRT).

h) Dalam tahapan ADR, keinginan korban lebih diperhatikan.

Dibuat surat kesepakatan dan ditandatangani diatas materai serta dicap RT RW setempat. Selanjutnya laporan dicabut dan pelaku diwajibkan untuk wajib lapor selama waktu tertentu.

“Sebagai upaya pencegahan, Unit PPA Polres Semarang pada setiap kesempatan selalu melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait KDRT.”28

Dari pengamatan penulis terdapat beberapa kendala yang dialami Unit PPA Polres Semarang dalam menangani perkara KDRT, antara lain :

1) Wilayah hukum Kabupaten Semarang yang relatif cukup luas, sedangkan Polsek jajaran Polres Semarang belum ada unit khusus yang menangani perkara KDRT. Sehingga banyak kasus-kasus KDRT yang terjadi di Kecamatan terpencil tidak tertangani dengan baik.29

2) Jumlah personil Unit PPA Polres Semarang yang kurang memadai, sedangkan tugasnya tidak hanya di Kota Ungaran saja, tetapi meliputi seluruh WILAYAH Kabupaten Semarang.

28 Wawancara dengan Kanit PPA Polres Semarang AKP Herry Akhmadi, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.

29 Wawancara dengan Bapak Nadhirrin Kepala Desa Tuntang, pada hari hari Senin tanggal 12 Agustus 2019.

75 3) Personil yang bertugas di Unit PPA Polres Semarang sering bergantian atau bertukar tempat tugas, sehingga kurang menguntungkan dari segi profesionalnya.

4) Sarana penunjang kerja kurang memadai, antara lain :

a) Belum ada inventaris kendaraan roda empat (mobil). Padahal jangkauan tugasnya relatif cukup jauh karena luasnya wilayah tugas.

b) Hanya terdapat dua kendaraan bermotor roda dua (sepeda motor), sedangkan personilnya ada 6 (enam) orang.

5) Hanya memiliki 2 (dua) ruangan kerja untuk menampung 6 (enam) orang personil dan pelayanan terhadap korban KDRT.

Sedangkan kelengkapan ruangan juga tidak memadai untuk menunjang kinerja personil.

6) Sarana yang disiapkan untuk merawat sementara korban KDRT terlihat seperti seadanya saja, yang mana tempat tidur, mainan bola, kursi tamu dan meja kerja serta almari dokumen ditempatkan diruangan yang relative sempit.

C. ANALISIS

1. Tindakan Kepolisian Dalam Rangka Perlindungan Hukum menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

76 Tindakan Kepolisian dalam perlindungan hukum terhadap korban KDRT berpedoman pada peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT. Menurut undang-undang tersebut, Kepolisian wajib melakukan segala upaya yang ditunjukkan untuk memberikan rasa aman kepada korban. Tujuan diundangkannya undang-undang KDRT antara lain :

a. Untuk mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

b. Untuk melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga.

c. Untuk menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

d. Untuk memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. (vide Pasal 4 UU PKDRT)

Bentuk kekerasan menurut UU PKDRT meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga. (vide Pasal 5 UU PKDRT)

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa kehadiran UU PKDRT adalah untuk menyelamatkan korban kekerasan dalam rumah tangga dan melindungi korban dari segi hukum. Sedangkan bagi aparat hukum dan pihak terkait, UU PKDRT menjadi landasan yang kuat dalam penanganan korban KDRT.

Dalam proses penyelesaian kasus KDRT, Kepolisian memiliki peran sentral. Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004, aparat kepolisian wajib melakukan perlindungan hukum terhadap korban KDRT antara lain :

77 a. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan kekerasan dalam rumah tangga, kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban. Perlindungan sementara tersebut diberikan paling lama 7 (tujuh) hari sejak korban ditangani dan dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak pemberian perlindungan sementara wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan setempat. (vide Pasal 16 UU PKDRT) b. Dalam memberikan perlindungan sementara kepada korban, kepolisian dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping dan/ atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban. (Pasal 17 UU PKDRT)

c. Kepolisian wajib memberikan keterangan kepada korban tentang hak korban untuk mendapatkan pelayanan dan pendampingan.

(Pasal 18 UU PKDRT)

d. Kepolisian wajib segera melakukan penyelidikan setelah mengetahui atau menerima laporan tentang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. (Pasal 19 UU PKDRT)

e. Kepolisian segera menyampaikan kepada korban tentang identitas petugas, bahwa KDRT adalah kejahatan terhadap martabat kemanusiaan dan kewajiban kepolisian untuk melindungi korban.

(vide Pasal 20 UU PKDRT)

f. Mengutamakan penyelesaian perkara melalui ADR (Alternative Dispute Resolution) sesuai dengan Pasal 4 huruf (d) UU PKDRT,

78 yaitu memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga selain mengatur tentang perlindungan hukum juga mengatur tentang hak-hak korban KDRT antara lain, perlindungan dari keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, pelayanan kesehatan, penanganan khusus, pendampingan pekerja sosial, bantuan hukum dan pelayanan bimbingan rohani. (vide Pasal 10 UU PKDRT)

2. Implementasi

Bahwa Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga telah ditargetkan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan dengan upaya menghapus tindakan KDRT terhadap korban perempuan. Upaya tersebut antara lain dengan menyatakan bahwa KDRT bukan hanya sebatas tindakan kekerasan terhadap seorang perempuan, tetapi juga merupakan kejahatan yang menodai harkat dan martabat manusia.

Dengan adanya UU PKDRT, maka negara mendapatkan legitimasi bahwa KDRT tidak lagi bisa dianggap sebagai otoritas wilayah privat yang tidak bisa diganggu gugat, tetapi juga menjadi wilayah publik. Hal ini berarti bahwa apabila terjadi KDRT, maka warga masyarakat berserta aparat penegak hukum boleh turut campur

79 tangan untuk menghentikan. Bahkan wajib untuk turut campur tangan untuk menghentikannya. Hal ini diatur dalam Pasal 15 UU PKDRT yang berisi kewajiban bagi setiap orang yang mendengar, melihat atau mengetahui terjadinya KDRT untuk melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk mencegh berlangsungnya tindak pidana, memberikan perlindungan kepada korban, memberikan pertolongan darurat dan membantu proses pengajuan permohonan perlindungan.

Undang-undang juga mewajibkan agar aparat kepolisian bertindak respek dan cepat menangani setiap perkara KDRT dalam hal penerimaan laporan, pertologan terhadap korban, perlindungan terhadap korban, proses penyidikan terhadap tersangka ataupun proses mediasi, yakni ADR (Alternative Dispute Resolution). Lembaga kepolisian yang diberi wewenang paling depan untuk menangani perkara KDRT tersebut telah menindak lanjuti dengan menerbitkan Peraturan Kapolri No.10 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit PPA yang bertugas untuk memberikan pelayanan, perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Implementasi oleh Unit PPA Polres Semarang dalam melakukan tindakan perlindungan hukum terhadap korban KDRT menurut Panit Lindung Aiptu Edi Ponco sebagai berikut :

a. Setelah mendapat laporan atau telah mengetahui terjadinya KDRT, Unit PPA Polres Semarang dalam waktu 1x24 jam segera

80 melakukan perlindungan sementara pada korban. Apabila korban menghendaki maka perlindungan sementara tersebut akan diberikan maksimum 7 hari sejak korban ditangani. Bentuk perlindungan sementara yang diberikan yaitu memberikan tempat sementara di Kantor Polres agar tidak mendapat ancaman dari pelaku. Setelah dilakukan pemeriksaan, korban akan diantar ke rumah orang tuanya atau tempat yang dia kehendaki, namun apabila korban masih merasa takut dan menghendaki adanya perlindungan dari kepolisian maka Unit PPA akan Koordinasi dengan P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Pemda Kabupaten Semarang. Hal tersebut juga disampaikan oleh Aiptu Edi Ponco, Perwira Perlindungan Unit PPA Polres Semarang yaitu :

“Apabila ada korban KDRT yang ingin tetap dilindungi sementara kami akan koordinasi dengan Bapermas (Badan Pemberdayaan Masyarakat) atau P2TP2A Pemda Kabupaten Semarang, namun faktanya dalam 3 tahun ini tidak ada yang meminta untuk perlindungan sementara.”30

b. Apabila korban memerlukan pendamping atau pihak lain, Unit PPA Polres Semarang juga akan menghubungi pihak yang diperlukan tersebut melalui Bapermas Kabupaten Semarang. Pihak lain tersebut misalnya pekerja sosial, tenaga kesehatan, atau pembimbing rohani.

Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Bripda Farah Naily yaitu :

30 Wawancara dengan Bapak Aiptu Edi Ponco, pada hari Senin tanggal 9 Desember 2019.

81

“Apabila Korban memerlukan pihak lain, seperti pekerja sosial, tenaga kesehatan ataupun pembimbing rohani kami berkoordinasi dengan Bapermas Kabupaten Semarang dan hal ini sudah sering kami lakukan.”31

c. Untuk keperluan Visum et Repertum ataupun perawatan korban di Rumah Sakit, Unit PPA langsung mengantar korban ke RSUD Ungaran dan selanjutnya untuk biayanya akan ditanggulangi oleh Bapermas Pemda Semarang.

d. Berkaitan dengan kewajiban menjelaskan mengenai hak-hak korban, Unit PPA Polres Semarang selalu melaksanakannya. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Bripda Novia Make SH sebagai berikut :

“Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap korban, penyidik selalu menjelaskan tentang hak-hak korban, yaitu hak untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian ataupun pihak lain. Selain itu identitas korban juga dirahasiakan.”32

e. Setelah menerima laporan adanya KDRT, Unit PPA Polres Semarang langsung menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan sehingga didapatkan kesimpulan tentang dapat atau tidaknya perkara tersebut dilakukan penyidikan.

f. Penyidik Unit PPA Polres Semarang Selalu menyampaikan pada Korban KDRT mengenai identitas petugas yang memeriksanya,

31 Wawancara dengan Ibu Bripda Farah Naily, pada hari Senin tanggal 9 Desember 2019.

32 Wawancara dengan Ibu Bripda Novia Make SH, pada hari Senin tanggal 9 Desember 2019.

82 juga pengertian bahwa KDRT merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kewajiban kepolisian untuk melindungi korban.

g. Penyelesaian perkara melalui ADR (Alternative Dispute Resolution), menurut penulis bukanlah tindakan perlindungan hukum terhadap korban. Korban melapor ke Kepolisian tentunya sudah melalui pertimbangan yang cukup matang untuk memberi pelajaran kepada pelaku (suami) melalui proses hukum hingga dijalaninya hukuman di lembaga pemasyarakatan.

Hak-hak korban berdasarkan Pasal 10 UU PKDRT didalam prakteknya sudah diterapkan oleh Unit PPA Polres Semarang, kecuali hak untuk mendapat perlindungan dari pengadilan setempat. Hak-hak tersebut antara lain :

a. Hak untuk mendapatkan pengamanan dan perlindungan dari kepolisian dan pihak lain apabila diperlukan.

b. Hak layanan kesehatan yang mana korban akan mendapatkan pengobatan dan perawatan dari RSUD Ungaran dengan pengawalan dan penjagaan dari petugas kepolisian sekaligus dimintakan Visum et Repertum. sedangkan biayanya ditanggulangi oleh Bapermas.

c. Identitas korban selalu dirahasiakan dan korban mendapatkan penanganan secara khusus.

d. Apabila korban memerlukan penasihat hukum ataupun pihak lain maka Unit PPA Polres Semarang akan berusaha memenuhinya melalui berkoordinasi dengan Bapermas (Badan Pemberdayaan Masyarakat) Pemkab Semarang.

83 Tindakan Unit PPA Polres Semarang dalam perlindungan hukum bagi perempuan korban tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga sudah terlaksana dengan baik, walaupun terdapat beberapa kendala, antara lain :

a. Sebagian besar warga masyarakat belum mengetahui adanya Undang-Undang PKDRT. Mereka masih menganggap bahwa masalah KDRT adalah urusan pribadi rumah tangga yang tidak perlu turut campur tangan. Kalaupun ada hubungan keluarga mungkin hanya sebatas menasihati saja dan tidak ingin terlibat dalam urusan hukum.33

b. Wilayah hukum Polres Semarang yang relatif cukup luas dengan jumlah personil Unit PPA yang hanya 6 (enam) orang ditunjang dengan sarana dan prasarana kerja yang seadanya menjadikan kinerja yang kurang maksimal.

c. Kepolisian sektor sebagai penanggungjawab keamanan diwilayah hukum kecamatan tidak memiliki petugas PPA, sehingga seolah-olah boleh untuk tidak mengurus permasalahan KDRT karena sudah ada yang mengurusi yaitu Unit PPA yang ada di Mapolres Semarang.

d. Terdapat beberapa ketentuan Undang-Undang PKDRT yang belum diterapkan secara maksimal oleh Unit PPA Polres Semarang, misalnya :

33 Wawancara dengan Bapak Nadhirrin Kepala Desa Tuntang, pada hari Senin tanggal 12 Agustus 2019.

84 1) Kewajiban hukum bagi kepolisian untuk meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan negeri setempat. Hal ini sesuai dengan pernyataan petugas Unit PPA Polres Semarang yakni :

“Dalam menangani perkara KDRT, kami belum pernah meminta surat penetapan perintah perlindungan dari Pengadilan Negeri Ungaran.”34

2) Kewajiban untuk memenuhi hak-hak korban yang bertempat tinggal jauh dari ibu kota Kabupaten Semarang, yaitu hak pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis, hak pelayanan bimbingan rohani dan hak-hak lainnya.

34 Wawancara dengan Ibu Bripda Farah Naily, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.

Dokumen terkait