15 BAB II
KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Kerangka Teori
1. Konsep Perlindungan Hukum
Hukum pada dasarnya adalah sekumpulan peraturan-peraturan tertulis atau kaidah-kaidah dalam suatu masyarakat sebagai susunan sosial, keseluruhan tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama yang dapat dipaksakan pelaksanaannya dengan memberikan sanksi bila dilanggar. Tujuan pokok dari hukum yaitu untuk menciptakan suatu tatanan hidup dalam masyarakat yang tertib dan sejahtera, agar kepentingan manusia mendapatkan perlindungan.
Dengan adanya asas persamaan di depan hukum (equality before the law), pada dasarnya semua orang sama dihadapan hukum dan undang-undang, oleh karena itu ia berhak mendapat perlindungan hukum yang sesuai dengan asas hukum dan tanpa diskriminasi apapun.
Menurut Wasis Sp, hukum merupakan seperangkat peraturan tertulis atau tidak tertulis yang dibuat oleh pihak berwenang yang bersifat memaksa, mengatur dan mengandung sanksi bagi pelanggarnya.
Ditujukan pada perilaku manusia agar kehidupan setiap orang dan masyarakat terjamin ketertiban dan keamanannya.
Setiap warga negara berhak mendapat perlindungan hukum secara merata. Adapun perlindungan yang diberikan adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak- hak asasi manusia yang dimilikinya. Perlindungan hukum adalah segala
16 upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban, perlindungan hukum korban kejahatan sebagai bagian dari perlindungan masyarakat, dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti melalui pemberian retitusi, kompensasi, pelayanan medis dan bantuan hukum.1 Dengan demikian perlindungan hukum dapat dikatakan sebagai perlindungan yang diberikan kepada subjek hukum ke dalam bentuk perangkat hukum, baik bersifat preventif maupun represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.2
Menurut CST Kansil, perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun. Perlindungan hukum merupakan suatu gambaran dari fungsi hukum untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum, yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Menurut Fitzgerald, teori perlindungan hukum Salmond bahwa hukum bertujuan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat, karena dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi berbagai kepentingan pihak lain.
Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 tentang perlindungan Saksi dan
1 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Ui Press, Jakarta, 1984, hlm 133.
2 http://tesishukum.com. Diakses pada tanggal 19 Juli 2019, Pukul 12.05 WIB
17 Korban, juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perlindungan hukum adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau lembaga lainnya sesuai ketentuan undang-undang.
Sebagai negara hukum, setiap warga negara berhak atas pelayanan hukum berupa perlindungan hukum, termasuk korban kejahatan. Bukan hanya tersangka atau terdakwa saja yang dilindungi hak-haknya, tetapi korban juga wajib dilindungi.3 Pasal 3 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, menyatakan bahwa perlindungan saksi dan korban berdasarkan pada : a) Penghargaan atas harkat dan martabat manusia.
b) Rasa aman.
c) Keadilan.
d) Tidak diskriminatif.
e) Kepastian hukum.
Dalam menegakkan hukum, sudah seharusnya para aparat penegak hukum lebih mendalami pemahaman tentang hukum. Bukan hanya sekedar menegakkan peraturan perundang-undangan saja.
Dengan mendalami pemahaman tentang hukum, nantinya aparat penegak hukum akan mampu mengangkat nilai-nilai keadilan yang sesungguhnya, bukan hanya keadilan yang berdasarkan pada uraian
3 Bambang Waluyo, Viktimologi Perlindungan Korban & Saksi, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, h.
34.
18 kata-kata peraturan perundang-undangan saja. Yang menjadi tujuan utama dari kebutuhan hukum mengenai pemahaman hukum yaitu dengan menggali nilai-nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
2. Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
a. Pengertian Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga
Korban memiliki peranan yang penting dalam terjadinya suatu kejahatan. Pada kenyataannya dapat dikatakan bahwa tidak mungkin muncul kejahatan kalau tidak ada korban, yang dimaksud dengan korban dalam hal terjadinya suatu kejahatan adalah :
“Mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita”. (Arif, Gosita. 1993:41)
Dalam perkembangannya pengertian korban lebih luas lagi, tidak hanya mengenai korban kejahatan saja. Victimologi (victimology) tidak hanya mempelajari korban kejahatan (human act), tetapi juga termasuk korban warga masyarakat karena bencana alam (natural disasters). Korban juga diartikan :
“Korban (victims) adalah orang-orang yang baik secara individual maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian fisik atau mental, emosional atau gangguan substansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing negara, termasuk penyalahgunaan kekuasaan.” (Muladi, 2005:108)
19 Secara yuridis pengertian korban tertuang dalam Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Korban dan Saksi, yang menyatakan bahwa korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.
b. Perlindungan Hak Korban KDRT
Sesuai dengan perkembangan jaman, salah satu bentuk pembaharuan yang ada dalam Hukum Pidana Indonesia adalah pengaturan tentang hukum pidana prespektif dari keadilan restoratif yang berbeda dengan keadilan retributif dan keadilan restitutif. Yang dimaksud dengan keadilan restoratif (restorative justice) adalah pendekatan yang lebih menitik beratkan pada kondisi terciptanya keadilan dan keseimbangan bagi pelaku tindak pidana, korban dan masyarakat. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa perilaku kejahatan tidak hanya melanggar hukum tetapi juga melukai korban dan masyarakat. Peradilan pidana yang berfokus pada pemidanaan diubah menjadi proses dialog dan mediasi untuk menciptakan kesepakatan atas penyelesaian perkara pidana agar lebih adil dan seimbang bagi pihak pelaku dan korban.
Kita menyadari bahwa, KUHAP lebih mengutamakan hak-hak tersangka/terdakwa. Semestinya bukan hanya tersangka atau terdakwa saja yang perlu dilindungi hak-haknya, tetapi korban dan saksi juga harus mendapat pelayanan hukum berupa perlindungan hukum.
20 Sehingga wajar jika ada keseimbangan perlindungan antara korban dan/atau saksi. Namun demikian terdapat beberapa asas KUHAP yang dapat dijadikan landasan perlindungan korban, misalnya:
1) Perlakuan yang sama di depan hukum.
2) Asas cepat, sederhana, dan biaya ringan.
3) Peradilan yang bebas.
4) Peradilan terbuka untuk umum.
5) Ganti kerugian.
6) Keadilan dan kepastian hukum.4
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa perlindungan hukum dapat dibedakan dalam 2 (dua) pengertian yaitu :
1) Perlindungan yang bersifat yuridis yang meliputi perlindungan dalam bidang hukum publik dan bidang hukum keperdataan.
2) Perlindungan yang bersifat non yuridis yang meliputi bidang sosial, bidang kesehatan dan Pendidikan.
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT Pasal 1 angka 4, yang dimaksud dengan perlindungan adalah segala upaya yang ditunjukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan.
4 Bambang Waluyo, Op. Cit, h. 36.
21 Pasal 1 angka 5 UU PKDRT menjelaskan yang dimaksud dengan Perlindungan Sementara adalah perlindungan yang langsung diberikan oleh kepolisian dan/atau lembaga sosial atau pihak lain, sebelum dikeluarkannya penetapan perintah perlindungan.
Sedangkan Pasal 1 angka 3 UU PKDRT menyebutkan bahwa Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga.
Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, menyebutkan bahwa Perlindungan hak-hak korban telah diatur dalam Pasal 10 dan menyatakan bahwa korban berhak mendapatkan :
1) Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
2) Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.
3) Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban.
4) Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5) Pelayanan bimbingan rohani.
Selain itu, untuk mengetahui hak-hak korban dapat dilihat dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang
22 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Korban dan Saksi, yaitu sebagai berikut:
1) Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya.
2) Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan.
3) Memberikan keterangan tanpa tekanan.
4) Mendapat penerjemah.
5) Bebas dari pertanyaan yang menjerat.
6) Mendapat informasi mengenai perkembangan kasus.
7) Mendapat informasi mengenai putusan pengadilan.
8) Mendapat informasi dalam hal terpidanan dibebaskan.
9) Dirahasiakan identitasnya.
10) Mendapat identitas baru.
11) Mendapat tempat kediaman sementara.
12) Mendapat tempat kediaman baru.
13) Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan.
14) Mendapat nasihat hukum.
15) Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir.
16) Mendapat pendampingan.
23 Hak-hak sebagaimana dimaksud diatas, dilakukan diluar pengadilan dan dalam proses peradilan jika yang bersangkutan menjadi saksi, serta harus diberikan sejak tahap penyelidikan dimulai dan berakhir sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur dalam Undang- Undang No. 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Korban dan Saksi.
Apabila kita cermati ayat (2) dari pasal 5 tersebut, ternyata hak-hak yang dimaksud diberikan untuk/dalam kasus-kasus tertentu sesuai keputusan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, korban berhak mendapatkan :
1) Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
2) Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.
3) Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban.
4) Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5) Pelayanan bimbingan rohani.
24 Selain hak-hak yang tersebut diatas, terdapat pula beberapa hak yang disebutkan dalam Pasal 6 Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 jo Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, yaitu hak untuk mendapatkan bantuan medis dan bantuan rehabilitasi psiko-sosial bagi korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
Pasal 7 Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 jo Undang-Undang No. 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban mengatur bahwa korban melalui LPSK berhak mengajukan ke pengadilan berupa:
1) Hak atas kompensasi dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
2) Hak restitusi atau ganti kerugian yang menjadi tanggung jawab pelaku tindak pidana.
Perlindungan korban khususnya hak korban untuk memperoleh ganti rugi merupakan bagian integral dari hak asasi di bidang kesejahteraan dan jaminan sosial (sosial security). Hal ini pun mendapat pengakuan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yaitu Pasal 25 ayat (1) yang menyatakan :
Setiap orang berhak atas suatu standar kehidupan yang memadai untuk kesehatan dirinya serta keluarganya, termasuk makanan, pakaian, rumah, dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan hak atas keamanan pada masa menganggur, sakit, tidak mampu bekerja, menjanda, lanjut usia, atau kekurangan nafkah lainnya dalam keadaan diluar kekuasaannya.5
5 C. Maya Indah, Perlindungan Korban Suatu Prespektif Viktimoligi dan Kriminologi, Prenadamedia Group, Jakarta, 2016, h. 133.
25 c. Pemulihan Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Upaya untuk pemulihan korban KDRT adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari proses hukum. Hal ini menjadi perhatian khusus karena mengingat kekerasan dalam rumah tangga dapat menimbulkan penderitaan fisik dan psikis. Akibat dari bentuk perlakuan yang dialami oleh korban kekerasan dalam rumah tangga juga dapat menyebabkan trauma dan akan mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Dan hal ini sudah menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan penyedia layanan, baik layanan medis, psikologis, hukum dan rumah aman.
Pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga telah diatur dalam Pasal 39 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang menyatakan bahwa untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari :
1) Tenaga kesehatan.
2) Pekerja sosial.
3) Relawan pendamping.
4) Pembimbing rohani.
Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 Tentang Penyelenggaraan dan Kerja Sama Pemulihan
26 Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga, menyatakan bahwa dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1) Pemulihan korban adalah segala upaya untuk penguatan korban kekerasan dalam rumah tangga agar lebih berdaya, baik secara fisik maupun psikis.
2) Penyelenggaraan pemulihan adalah segala tindakan yang meliputi pelayanan dan pendampingan kepada korban kekerasan dalam rumah tangga.
3) Pendampingan adalah segala tindakan berupa konseling,terapi psikologis, advokasi, dan bimbingan rohani, guna penguatan diri korban kekerasan dalam rumah tangga.
4) Kerjasama adalah cara yang sistematis dan terpadu antar penyelenggara pemulihan dalam memberikan pelayanan untuk memulihkan korban kekerasan dalam rumah tangga.
5) Petugas penyelenggara pemulihan adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan/atau pembimbing rohani.
6) Menteri adalah Menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pemberdaya perempuan.6
Pada dasarnya upaya penyelenggaraan pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga bertujuan menjamin terlaksananya kemudahan pelayanan korban kekerasan dalam rumah tangga, menjamin efektivitas dan efisiensi bagi proses pemulihan korban
6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerja Sama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
27 kekerasan dalam rumah tangga dan terciptanya kerjasama dan koordinasi yang baik dalam pemulihan korban kekerasan dalam rumah tanggga anatara instansi, petugas pelaksana dan anatar lembaga terkait.
3. Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga a. Tindak Pidana
Pengertian tindak pidana yang dimuat di dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) oleh pembentuk undang-undang sering disebut dengan starfbaar feit, namun di dalam KUHP tidak terdapat penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri.7
Istilah “strafbaar feit” sendiri yang merupakan Bahasa Belanda tersebut terdiri atas tiga kata, yaitu straf yang berarti hukuman (pidana), baar yang berarti dapat (boleh), dan feit yang berarti tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan. Jadi istilah strafbaarfeit adalah peristiwa yang dapat dipidana atau perbuatan yang dapat dipidana.8
Beberapa pendapat pakar hukum mengenai strafbaar feit, antara lain sebagai berikut :
1) Simons, memberi Batasan pengertian strafbaar feit adalah suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan
7 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2015, h. 47.
8 I Made Widnyana, Asas-Asas Hukum Pidana, Fikahati Aneska, Jakarta, 2010, h. 32.
28 yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.9
2) Hamel mengatakan bahwa “strafbaar feit” adalah kelakuan orang (menselijke gedraging) yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat melawan hukum, yang patut dipidana (strafwaarding) dan dilakukan dengan kesalahan.10
3) Pompe berpendapat bahwa Strafbaarfeit dapat dirumuskan sebagai suatu pelanggaran norma yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan oleh pelaku.11
4) Prof. Moeljatno, S.H., menerjemahkan “strafbaar feit” dengan perbuatan pidana dan berpendapat bahwa pengertian tindak pidana yang menurut istilah beliau yakni perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.12
5) Teguh Prasetyo merumuskan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana.
Pengertuan perbuatan disini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) dan perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum).
9 P.A.F Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, h.
34.
10 Moeljatno, 1987. OP. Cit, h. 38.
11 Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung, 1984, h. 173-174.
12 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1987, h. 54.
29 Biasanya tindak pidana disinonimkan dengan delik, yang berasal dari Bahasa Latin yakni kata delictum. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum sebagai berikut:
“Delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana.”
Dalam Hukum Pidana diperlukan pemenuhan unsur-unsur tindak pidana sebagai acuan untuk mengukur kesalahan seseorang atau badan hukum (subjek hukum pidana). Setiap perbuatan harus memenuhi unsur tindak pidana (kejahatan dan pelanggaran) yang dasarnya terikat pada asas legalitas sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai berikut:
“Tiada suatu perbuatan pidana yang dapat dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana secara tertulis yang ada terdahulu dari pada perbuatan itu.”
Berdasarkan Pasal 1 KUHP tersebut dapat disimpulkan bahwa perbuatan yang pelakunya dapat dipidana/dihukum adalah perbuatan yang sudah disebutkan di dalam perundang-undangan sebelum perbuatan itu dilakukan. Berarti dalam menjatuhkan pidana, harus berpedoman pada undang-undang yang tertulis. Seseorang dapat dikenakan pidana apabila perbuatan yang dilakukan memenuhi unsur-unsur tindak pidana (strafbaarfeit).
Asas legalitas sebagai tiang penyangga hukum pidana, dengan Bahasa latin nullum crimen sine lege dan nulla poena sine lege. Asas legalitas dalam hukum pidana begitu penting untuk menentukan apakah suatu peraturan hukum pidana dapat diberlakukan terhadap tindak pidana
30 yang terjadi. Tujuan asas legalitas ini ialah untuk memperkuat kepastian hukum, dan untuk menciptakan keadilan serta kejujuran untuk terdakwa, mengefektifkan fungsi penjeraan dalam sanksi pidana, mencegah penyalahgunaan kekuasaaan, serta untuk memperkuat rule of law.
Menurut Lamintang, bahwa setiap tindak pidana dalam KUHP pada umumnya dapat dijabarkan unsur-unsurnya menjadi dua macam, yaitu unsur-unsur subjektif dan objektif. Yang dimaksud degan unsur
“subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk kedalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Sedangkan yang dimaksud dengan unsur “objektif” itu adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu keadaan-keadaan dimana tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.13
1) Unsur subjektif
a) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa).
b) Maksud pada suatu percobaan, seperti ditentukan dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP.
c) Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan- kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, dan sebagainya.
d) Merencanakan terlebih dahulu, seperti tercantum dalam Pasal 340 KUHP, yaitu pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu.
e) Perasaan takut seperti terdapat di dalam Pasal 308 KUHP.
13 Lamintang, 1984, Op. Cit. h. 183.
31 2) Unsur objektif
a) Sifat melanggar hukum.
b) Kualitas dari si pelaku
c) Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindakan sebagai penyebab dengan suatu kenyataan sebagai akibat.
b. Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Istilah tindak pidana juga digunakan didalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga untuk menyebut perbuatan yang melanggar larangan dalam undang-undang. Meskipun istilah tersebut sebenarnya kurang dikenal oleh kalangan umum, karena masyarakat terbiasa hanya menyebutkan “kekerasan dalam rumah tangga” (KDRT). Hal ini dikarenakan dalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga tidak menyebutkan kata
“tindak pidana” didepan “kekerasan dalam rumah tangga”.
Kekerasan dalam rumah tangga telah menjadi wacana tersendiri dalam keseharian. Kekerasan dapat menimpa siapa saja, namun dalam hal ini yang menjadi perhatian publik adalah kekerasan yang menimpa kaum perempuan (isteri). Untuk itu, perempuan sebagai korban utama dalam kekerasan dalam rumah tangga, mutlak memerlukan perlindungan hukum. Negara berpandangan bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, adalah segala bentuk pelanggaran hak
32 asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi.14
Tujuan dari dibentuknya Undang-Undang No. 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah untuk menghapus segala bentuk diskriminasi, dan berusaha menjamin perlindungan terhadap korban sebagai pihak yang lemah yang menerima perlakuan kekerasan dalam lingkup rumah tangga. Hal ini dinyatakan dalam Konsideran menimbang dari Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 yang berbunyi :
1) Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2) Bahwa segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga, merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus.
3) Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga, yang kebanyakan adalah perempuan, harus mendapat perlindungan dari negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan.
4) Bahwa dalam kenyataannya kasus kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi, sedangkan sistem hukum di Indonesia belum
14 Nursyahbani Katjasungkana, Pelanggaran Hak Asasi Manusia Terhadap Perempuan, Jurnal Perempuan Edisi No.9, November 1999, hlm. 34.
33 menjamin perlindungan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga.
5) Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Sebelum mengetahui apa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga, kita perlu tahu terlebih dahulu tentang apa yang dimaksud dengan kekerasan. Dalam bahasa Inggris, kekerasan diistilahkan dengan violence. Secara etimology, violence merupakan gabungan dari “vis” yang berarti daya atau kekuatan dan “latus” yang berasal dari kata “ferre” yang berarti membawa. Jadi violence adalah tindakan yang membawa kekuatan untuk melakukan paksaan atau tekanan fisik maupun nonfisik.15
Kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik atau kekerasan yang langsung dirasakan karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku dengan korbannya, namun kekerasan dapat juga berupa kekerasan non fisik yaitu berupa kekerasan yang tidak kasat mata atau tidak bisa langsung diketahui perilakunya, karena tidak terjadi sentuhan fisik antara pelaku dengan korbannya. Kekerasan dapat terjadi dimanapun dan kapanpun, seperti kekerasan yang terjadi dilingkup rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan kekerasan atau perbuatan
15 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum terhadap Anak dan Permpuan, PT. Refika Aditama, Bandung, 2012, h. 14.
34 tindak pidana yang dilakukan oleh anggota keluarga, yang oleh perbuatannya tersebut dilarang dan dapat diberi hukuman.
Pasal 1 angka 1 UU PKDRT menjelaskan bahwa Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat diartikan sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Menurut pendapat R. Sianturi arti kekerasan atau tindak kekerasan yaitu melakukan suatu tindak badaniah yang cukup berat sehingga menjadikan orang yang dikerasi itu kesakitan atau tidak berdaya.
Sedangkan Pasal 89 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merumuskan bahwa membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.
Sesuai dengan uraian diatas, maka yang dimaksud dengan tindak pidana kekerasan adalah perbuatan dengan penggunaan kekuatan fisik ataupun alat secara tidak sah dan melanggar hukum yang mengakibatkan seseorang pingsan, tidak berdaya lagi atau menyebabkan matinya seseorang.
Ruang lingkup rumah tangga pada awalnya diatur dalam Pasal 356 KUHP, yaitu: ibunya, bapaknya yang sah, istrinya atau anaknya.
35 Kemudian ruang lingkup rumah tangga juga diatur dalam pasal 2 UU PKDRT, yaitu :
1) Suami, isteri, dan anak.
2) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau
3) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan dapat terjadi terhadap siapapun. Namun, fokus penulis adalah membahas kekerasan yang terjadi terhadap perempuan, karena perempuan sering mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suaminya didalam lingkup rumah tangga.
Membentuk rumah tangga yang kekal dan abadi merupakan dasar Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, maka tujuan perkawinan dalam penjelasan undang-undang tersebut, bahwa suami isteri saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan material.
36 Segala macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan kejahatan terhadap martabat kemanusian serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus dimuka bumi ini. Sehubungan dengan uraian tersebut, menurut Pasal 5 UU PKDRT Kekerasan yang dilakukan oleh dan terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk yaitu :
1) Kekerasan fisik;
Kekerasan fisik ini diartikan sebagai perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat (Pasal 6 UU PKDRT). Kekerasan fisik ini dapat berupa penganiayaan, pembunuhan baik yang dilakukan dengan tangan kosong atau dengan alat bantu senjata, benda tajam atau benda tumpul yang mengakibatkan cacat, luka, serta hilngnya nyawa seseorang, baik disengaja maupun tidak disengaja (kelalaian), dilarang dan diancam dengan pidana penjara dengan denda.
2) Kekerasan psikis;
Menurut Pasal 5 huruf b UU PKDRT, setiap orang dilarang melakukan kekerasan psikis yaitu melakukan perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (Pasal 7 UU PKDRT). Hal
37 ini juga menyangkut kemerdekaan seseorang maupun kebebasan termasuk merampas kemerdekaan Hak Asasi Manusia (HAM).
3) Kekerasan seksual;
Menurut Pasal 5 huruf c UU PKDRT, setiap orang dilarang melakukan kekerasan seksual yaitu meliputi :
a) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.
b) Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersil dan/atau tujuan tertentu (Pasal 8 UU PKDRT).
4) Penelantaran rumah tangga.
Menurut Pasal 5 huruf d UU PKDRT, setiap orang dilarang melakukan penelantaran rumah tangga, yang sebagaimana diatur dalam Pasal 9 UU PKDRT, bahwa :
a) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
b) Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang
38 layak didalam atau di luar rumah tangga sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut.16
Sebagai upaya untuk mencegah dan menghapuskan tindak kekerasan dalam rumah tangga, maka setiap orang yang melakukan tindak kekerasan terhadap orang-orang yang ada dalam lingkup rumah tangga seperti dimaksudkan diatas, akan dikenakan sanksi sebagaimana ditentukan dalam Pasal 44 – Pasal 50 Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT, yaitu sebagai berikut :
1) Pelaku kekerasan fisik dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.000.000 (Lima belas juta rupiah). Dalam hal perbuatan dimaksud mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat, maka ancaman pidana 10 (Sepuluh) tahun penjara atau denda paling banyak Rp. 30.000.000 (Tiga puluh juta rupiah).
Apabila mengakibatkan matinya korban diancam hukuman maksimal 15 (Lima belas) tahun atau denda Rp. 45.000.000 (Empat puluh lima juta rupiah). Lain halnya apabila perbuatan tersebut menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, diancam dengan pidana paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000 (Lima juta rupiah). ( Pasal 44 UU PKDRT)
16 Kelompok Kerja Convention Watch, Hak Azasi Perempuan Instrumen Hukum unutk Mewujudkan Keadilan Gender, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007, h. 250-252.
39 2) Pelaku kekerasan psikis dapat dikenakan pidana penjara maksimal 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp. 9.000.000 (Sembilan juta rupiah). Apabila perbuatan tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda maksimal Rp.
3.000.000 (Tiga juta rupiah). (Pasal 45 UU PKDRT)
3) Bagi pelaku kekerasan seksual tidak luput dari ancaman hukuman penjara paling lama dua belas tahun dan maksimal denda Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah). Lain halnya apabila kekerasan seksual dilakukan dengan tujuan komersial dan atau tujuan tertentu, ancaman pidananya paling singkat empat tahun dan paling lama lima belas tahun atau denda minimal Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) dan denda maksimal Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Beda lagi dengan kekerasan seksual yang mengkibatkan korban mendapat luka yang tidak akan sembuh, gangguan pikiran atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama empat minggu terus menerus atau satu tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi, dipidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama dua puluh tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (Pasal 46 – Pasal 48 UU PKDRT)
40 4) Demikian juga bagi pelaku penelantaran rumah tangga juga akan dikenakan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). (Pasal 49 UU PKDRT)
Tindakan tersebut apabila tidak memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang yang ada dalam lingkup rumah tangganya. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang bekerja yang layak sehingga korban berada dibawah kendali pelaku.
4. Tindakan Penyidik dalam Perlindungan Hukum bagi Perempuan Korban KDRT menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga memberikan perhatian khusus terhadap perempuan. Hal ini terlihat pada bagian pertimbangan maupun penjelasannya.
- Pada bagian pertimbangan huruf c UU PKDRT menyatakan bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga, yang kebanyakan adalah perempuan, harus mendapat perlindungan dari negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan.
41 - Dalam penjelasan umum UU PKDRT dinyatakan bahwa, pembaharuan hukum yang berpihak pada kelompok rentan atau tersuburdinasi, khusunya perempuan, menjadi sangat diperlukan sehubungan dengan banyaknya kasus kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga.
Terdapat 2 macam perlindungan yang dapat dilakukan terhadap korban KDRT, yaitu perlindungan sementara dan perlindungan yang telah mendapat penetapan pengadilan. Perlindungan sementara adalah perlindungan yang langsung diberikan oleh kepolisian, lembaga sosial ataupun pihak lain sebelum dikeluarkannya penetapan dari pengadilan.
(vide Pasal 1 angka 5 dan 6 UU PKDRT)
Pemberian perlindungan sementara dan penetapan perlindungan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Korban dan setiap orang yang melihat, mendegar ataupun mengetahui adanya tindak pidana KDRT dapat melaporkan kepada kepolisian.
1) Korban berhak melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian baik di tempat korban berada maupun di tempat kejadian perkara. (Pasal 26 ayat (1) UU PKDRT)
2) Korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada
42 pihak kepolisian baik di tempat korban berada maupun ditempat kejadian perkara. (Pasal 26 ayat (2) UU PKDRT) 3) Dalam hal korban adalah seorang anak, laporan dapat
dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Pasal 27 UU PKDRT)
b. Setelah mengetahui atau menerima laporan tentang adanya KDRT, maka kepolisian wajib melakukan langkah tindakan sebagai berikut :
1) Memberikan keterangan kepada korban tentang hak korban untuk mendapat pelayanan dan pendampingan. (vide Pasal 18 UU PKDRT)
2) Kepolisian wajib segera melakukan penyelidikan setelah mengetahui atau menerima laporan tentang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. (Pasal 19 UU PKDRT)
3) Kepolisian segera menyampaikan kepada korban tentang :
Identitas petugas untuk pengenalan kepada korban;
Kekerasan dalam rumah tangga adalah kejahatan terhadap martabat kemanusiaan; dan
Kewajiban kepolisian untuk melindungi korban. (Pasal 20
UU PKDRT)
c. Apabila korban KDRT merasa ketakutan ataupun merasa terancam jiwanya oleh pelaku KDRT, maka korban ataupun keluarganya
43 dapat mengajukan perlindungan sementara kepada kepolisian atau lembaga sosial setempat. (vide Pasal 1 angka 5 UU PKDRT) d. Apabila permintaan perlindungan sementara disetujui, maka dalam
1x24 jam terhitung sejak menerima laporan adanya kekerasan dalam rumah tangga, Kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara terhadap korban. (vide Pasal 16 ayat (1) U PKDRT)
e. Perlindungan sementara oleh Kepolisian diberikan kepada korban paling lama 7 (tujuh) hari sejak korban diterima atau ditangani.
(Pasal 16 ayat (2) UU PKDRT)
f. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak pemberian perlindungan sebagaimana dimaksud ayat (1), Kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. (Pasal 16 ayat (3) UU PKDRT)
g. Dalam memberikan perlindungan sementara, Kepolisian dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping dan/atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban. (Pasal 17 UU PKDRT)
h. Permohonan penetapan perintah perlindungan disampaikan dalam bentuk lisan atau tulisan kepada pengadilan. Permohonan tersebut dapat diajukan oleh keluarga, teman korban, kepolisian, relawan pendamping atau pembimbing rohani atas persetujuan korban.
Namun dalam keadaan tertentu, permohonan dapat diajukan tanpa persetujuan korban. (vide Pasal 30 UU PKDRT)
44 i. Ketua pengadilan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya permohonan, wajib mengeluarkan surat penetapan.
(vide Pasal 28 UU PKDRT)
j. Perintah perlindungan dapat diberikan dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan permohonan yang harus diajukan 7 (tujuh) hari sebelum berakhir masa berlakunya penetapan perlindungan. (vide Pasal 32 UU PKDRT)
Dalam upaya melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, selain pihak kepolisian dan pengadilan yang memiliki peran lebih, ternyata beberapa pihak lain juga tidak kalah penting perannya.
Pihak-pihak tersebut mempunyai peran dalam memberikan perlindungan kepada korban dengan kewajiban-kewajiban tertentu, yaitu :
a. Keluarga
Keluarga berperan membantu membuat laporan kepada kepolisian ataupun membantu membuat surat permohonan untuk memperoleh surat perintah penetapan perlindungan dari pengadilan.
b. Advokat
Didalam praktek, advokat dikenal juga dengan istilah konsultan hukum. Dapat berarti seseorang yang melakukan atau memberikan nasihat dan pembelaan diri orang lain yang berkaitan dengan penyelesaian suatu kasus hukum. Dalam hal perlindungan terhadap korban, advokat berperan :
1) Memberikan konsultasi hukum.
45 2) Mendampingi korban dalam proses penanganan perkara, 3) Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
c. Lembaga Sosial
Lembaga sosial adalah organisasi sosial yang memiliki keperdulian terhadap masalah kekerasan, khususnya kekerasan dalam rumah tangga. peran lembaga sosial dalam memberikan perlindungan terhadap korban KDRT yaitu :
1) Memberikan pendampingan ataupun perlindungan langsung kepada korban KDRT sebelum ada penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
2) Apabila diminta oleh pihak kepolisian, dapat bekerjasama untuk memberikan perlindungan sementara.
d. Tenaga Kesehatan
Peranan tenaga kesehatan dalam memberikan perlindungan kepada korban antara lain :
1) Membantu kepolisian untuk mendampingi korban dalam rangka perlindungan.
2) Membantu pengadilan dalam hal memberikan keterangan tentang kondisi korban untuk kepentingan perlindungan
e. Pekerja Sosial
Peran pekerja sosial yaitu bekerjasama dengan kepolisian melakukan pendampingan. Memberikan masukan dan informasi kepada korban tentang hak-hak korban berkaitan dengan
46 perlindungan. Mendampingi korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternative.
f. Relawan Pendamping
Relawan pendamping adalah orang yang mempunyai keahlian untuk melakukan konseling, terapi dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri korban kekerasan. Peran relawan pendamping yaitu :
1) Mendampingi korban dalam proses perlindungan sementara oleh kepolisian.
2) Meminta persetujuan korban pada saat pengajuan permohonan untuk memperoleh surat perintah perlindungan.
3) Membantu memberi keterangan di pengadilan berkaitan dengan penetapan perintah perlindungan.
4) Melaporkan ke pengadilan apabila diduga telah terjadi pelanggaran terhadap penetapan perintah perlindungan.
g. Pembimbing Rohani
Pembimbing rohani berperan memberikan motivasi dan merawat mental korban agar tidak stres dan putus asa serta tetap semangat dengan cara memberikan pendampingan dan nasihat keagamaan.
Selain hal-hal tersebut diatas, UU PKDRT juga memberikan hak kepada korban setelah terbukti adanya tindak pidana KDRT tersebut dalam bentuk pemulihan korban. Pasal 43 UU PKDRT mengatur mengenai penyelenggaraan upaya pemulihan tersebut dan kerjasama yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2006 tentang
47 Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga. menurut PP tersebut tujuan dari upaya penyelenggaraan pemulihan korban KDRT pada dasarnya adalah untuk terselenggaranya kemudahan terhadap pelayanan korban, menjamin efektivitas dan efesiensi terhadap pemulihan korban serta terciptanya kerjasama dan koordinasi yang baik antar instansi dan lembaga terkait. Pemulihan korban merupakan upaya untuk penguatan bagi diri korban KDRT supaya lebih berdaya secara fisik maupun psikis. Pemulihan tersebut meliputi pelayanan dan pendampingan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping serta pembimbing rohani. (vide Pasal 1 angka 1 dan angka 5 PP No. 4 Tahun 2006)
5. Peran Polri menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia peran berarti perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berperan di masyarakat.17 Peran adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan kedudukannya. Peran menentukan apa yang harus diperbuat seseorang bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan masyarakat kepadanya.
17 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2005, hlm. 854.
48 Pengertian peran menurut Soerjono Soekanto (2002:243), yaitu peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.
Menurut Abu Ahmadi (1982) peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu yang berdasarkan status dan fungsi sosialnya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa peran adalah suatu perilaku yang diharapkan oleh banyak orang terhadap seseorang yang memiliki kedudukan tertentu. Berdasarkan hal- hal diatas dapat diartikan bahwa apabila dihubungkan dengan Kepolisian, peran tidak berarti sebagai hak dan kewajiban individu, melainkan merupakan tugas dan wewenang Kepolisian.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa peranan Polri tidak terlepas dari kedudukannya dalam sistem ketatanegaraan yang dianut.
Pada negara Demokrasi, fungsi Kepolisian dapat dikategorikan kedalam tiga fungsi yang menuntut sifat dan cara kerja yang berbeda satu sama lain, yakni: fungsi memerangi kejahatan (fighting crime), fungsi melindungi warga (protecting people), dan fungsi memelihara ketertiban umum (preservation law and order).
Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dalam negeri melalui upaya
49 penyelenggaraan fungsi kepolisian yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia berada di bawah Presiden. Kepolisian Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyatakan bahwa :
1) Kepolisian adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2) Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah pegawai negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.
3) Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berdasarkan undang- undang memiliki wewenang umum Kepolisian.
Tugas polisi berkaitan dengan aturan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang menyangkut penyelidikan dan penyidikan perkara yaitu :
1) Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menentukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana
50 guna menentukan dapat tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.
2) Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. (Pasal 1 ayat 1 KUHAP)
Dalam Pasal 4 Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki tujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Berdasarkan Pasal 13 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah :
1) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.
2) Menegakkan hukum.
3) Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Pasal 14, dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas :
51 1) Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli
terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.
2) Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dijalan.
3) Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan.
4) Turut serta dalam pembinaan hukum nasional.
5) Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.
6) Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.
7) Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang- undangan lainnya.
8) Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboraturium forensic dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian.
9) Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan keteriban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
10) Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang.
52 11) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan
kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian.
12) Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Pasal 15 dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14, Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang :
1) Menerima laporan dan/atau pengaduan.
2) Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum.
3) Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat.
4) Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
5) Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian.
6) Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan.
7) Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian.
8) Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang.
9) Mencari keterangan dan barang bukti.
10) Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional.
11) Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat.
53 12) Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat.
13) Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu.
Tugas Kepolisian berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 2002 Pasal 16 adalah :
1) Dalam rangka menyeleggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 di bidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk :
a) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dam penyitaan.
b) Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan.
c) Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan.
d) Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri.
e) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.
f) Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.
g) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara.
h) Mengadakan penghentian penyidikan.
i) Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum.
54 j) Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana.
k) Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum.
l) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
2) Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf l adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut ini :
a) Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum.
b) Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan.
c) Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkup jabatannya.
d) Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa.
e) Menghormati hak asasi manusia.
Secara garis besar tugas kepolisian disamping sebagai agen hukum (law enforcement agency), juga sebagai pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (order maintenance officer). Dalam bentuk yang lain, tugas kepolisian dipisah menjadi dua bagian yaitu dalam upaya preventif dan represif. Upaya preventif dilakukan dengan maksud
55 mencegah tejadinya kejahatan yang meresahkan masyarakat, sedangkan upaya represif dilakukan kepolisian melalui serangkaian tindakan penyidikan kasus kejahatan. Tujuannya agar pelaku kejahatan dapat diseret ke Pengadilan dan dijatuhi hukuman setimpal (jika terbukti).
Tindakan represif dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang goncang akibat dicabik-cabik perilaku para penjahat (restitutio in integrum).18
B. HASIL PENELITIAN
1. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Sat Reskrim Polres Semarang
Menurut Kanit PPA Polres Semarang, Unit PPA Polres Semarang dibentuk berdasarkan Peraturan Kapolri No. 10 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Perempuan dan Anak di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sebelum terbentuknya Unit PPA, di Polres Semarang sudah ada Unit yang khusus menangani korban, saksi dan tersangka wanita dan anak, yaitu Unit RPK (Ruang Pelayanan Khusus) dibawah fungsi Reskrim. Sebelum adanya RPK, wanita dan anak juga sudah mendapat perhatian khusus, yaitu dengan adanya Unit Rendawan (Remaja, pemuda dan wanita) yang berada dibawah naungan fungsi Binmas (Pembinaan masyarakat dan sekarang dinamakan Binamitra). Menurut seorang perwira polisi di Sat
18 M. Khoidin & Sadjijono, Mengenal Figur Polisi Kita, Laks Bang, Yogyakarta, hlm. 58.
56 Reskrim yang dulu pernah bertugas di Sat Binmas, menjelaskan bahwa Unit Rendawan tugasnya tidak seperti Unit PPA. Unit Rendawan lebih menitik beratkan pada pembinaan dan pendampingan. Apabila perkaranya harus diselesaikan secara hukum, maka Unit Rendawan akan mendampingi atau mengarahkan ke Reskrim. Unit Rendawan tidak memiliki ruangan khusus, tetapi masih bergabung satu ruangan dengan staf binmas lainnya. Unit tersebut mendapatkan ruangan khusus setelah berubah menjadi RPK pada tahun 1999.19
Hasil wawancara dengan Panit Idik Aipda Hendrik Pebrianto SH, diketahui bahwa wilayah hukum Polres Semarang meliputi wilayah Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Ibukota Provinsi Semarang terletak di kota Ungaran. Berbatasan dengan kota Semarang di Utara.
Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan di Timur. Kabupaten Boyolali di Timur dan Selatan serta Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal di Barat. Luas wilayah 1.447 km2 dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.027.489 orang (Prediksi penduduk berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2018 Badan Pusat Statistik Kabupaten Semarang). Polres Semarang membawahi 17 Kepolisian Sektor, yaitu Polsek Getasan, Polsek Tengaran, Polsek Susukan, Polsek Kaliwungu, Polsek Suruh, Polsek Pabelan, Polsek Tuntang, Polsek Banyubiru, Polsek Jambu, Polsek Sumowono, Polsek
19 Wawancara dengan AKP Herry Akhmadi, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.
57 Ambarawa, Polsek Bandungan, Polsek Bawen, Polsek Bringin, Polsek Bergas, Polsek Ungaran Barat, dan Polsek Ungaran Timur.
Personil Polres Semarang berjumlah 914 orang dengan komposisi laki-laki 840 orang dan perempuan 74 orang. Dari jumlah tersebut, 469 orang bertugas di Markas Polres di Ungaran, sedangkan yang 445 orang bertugas di polsek-polsek jajaran wilayah kabupaten Semarang. Jumlah personil masing-masing polsek berkisar antara 20 orang sampai dengan 40 orang.20
Unit PPA adalah unsur pelayanan dan pelaksana staf yang berkedudukan dibawah satuan Sat Reskrim Polres dan memiliki tugas utama untuk memberikan pelayanan dalam bentuk perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan dan penegakan hukum terhadap pelakunya. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak menyelenggarakan fungsi :
a. Penyelenggaraan pelayanan dan perlindungan hukum.
b. Penyelenggaraan dan penyidikan tindak pidana.
c. Penyelenggaraan kerja sama dan kordinasi dengan instansi terkait.
Unit PPA mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari Unsur pimpinan dan Unsur pembantu. Unsur pimpinan yaitu Kanit PPA sedangkan Unsur pembantu seperti Perwira Unit Penyidik (Panit Idik)
20 Wawancara dengan Aipda Hendrik Pebriyanto SH, pada hari Senin tanggal 5 Agustus 2019.
58 dan Perwira Unit Lindung (Panit Lindung), masing-masing Unsur memiliki tugas yang sudah termaktub dalam Peraturan KAPOLRI.
Tugas kepala Unit PPA tertuang pada Pasal 6 Peraturan KAPOLRI No. 10 Tahun 2007, yaitu :
a. Kanit PPA bertugas memimpin Unit PPA dalam penyelenggaraan perlindungan perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan.
Penegakan hukum terhadap pelakunya dilaksanakan di Ruang Pelayanan Khusus (RPK).
b. Kerjasama dan kordinasi dengan lembaga pemerintah, non pemerintah dan pihak lainnya dalam rangka perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan dan penegakan hukum terhadap pelakunya.
Pasal 7 Peraturan KAPOLRI No. 10 Tahun 2007 menjelaskan tentang tugas Panit Lindung, yaitu sebagai berikut :
a. Panit Lindung bertugas melaksanakan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan.
b. Dalam melaksanakan tugasnya Panit Lindng bertanggung jawab kepada Kanit PPA.
Sedangkan tugas Panit Idik tertuang dalam Pasal 8 Peraturan KAPOLRI No. 10 Tahun 2007, yaitu :
a. Panit Idik bertugas melaksanakan penyidikan dan penyelidikan pelaku kejahatan terhadap perempuan dan anak.
59 b. Dalam melaksanakan tugasnya Panit Idik bertanggung jawab kepada
Kanit PPA.
Adapun tugas pokok Unit PPA tertuang pada Pasal 6 ayat (3) Peraturan KAPOLRI No. 10 Tahun 2007, yang meliputi tindak pidana terhadap perempuan dan anak, yaitu :
a. Perdagangan orang (human trafficking).
b. Penyelundupan manusia (people smuggling).
c. Kekerasan (secara umum maupun dalam rumah tangga).
d. Susila (perkosaan, pelecehan, cabul).
e. Vice (perjudian dan prostitusi).
f. Adopsi ilegal.
g. Pornografi dan pornoaksi.
h. Money laundering dari hasil kejahatan tersebut diatas.
i. Masalah perlindungan anak (sebagai korban atau tersangka).
j. Perlindungan korban, saksi, keluarga dan teman.
k. Kasus-kasus lain dimana pelakunya adalah perempuan dan anak.
Unit PPA Polres Semarang menempati 2 ruangan masing-masing berukuran 3x4 meter. Satu ruangan berisi 3 buah meja kerja dan 1 buah almari besar. Sedangkan ruangan yang satunya berisi 1 buah meja kerja, 1 buah sofa panjang untuk tamu, 1 buah tempat tidur dan 1 set mainan untuk anak-anak. Ruang kerja Unit PPA tersebut berada dalam satu lingkungan di Satuan Reskrim. Kelengkapan kerja Inventaris antara lain
60 dua buah laptop, alat tulis dan kertas serta dua buah kendaraan bermotor roda dua. Saat ini Unit PPA diawaki oleh 6 personil Polri, yaitu :
a. AKP Herry Akhmadi, sebagai Kanit PPA yang juga merangkap sebagai Kanit Pidana Umum.
b. Aiptu Edi Pontjo, sebagai perwira Unit Lindung, yang bertugas melaksanakan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kejahatan dan penegakan hukum terhadap pelakunya.
c. Bripda Farah Naily, sebagai anggota Sub Unit Lindung.
d. Aipda Hendrik Pebriyanto SH, sebagai perwira Unit penyidikan yang bertugas melaksanakan penyelidikan dan penyidikan terhadap pelaku kejahatan terhadap perempuan dan anak-anak.
e. Briptu Endro Saputra, sebagai anggota Sub Unit Penyidikan.
f. Bripda Novia Make SH, sebagai anggota Sub Unit Penyidikan.
Ruang lingkup penugasan Unit PPA Polres Semarang tidak terbatas hanya di kota Ungaran saja. Wilayah tugas mereka meliputi seluruh wilayah Kabupaten Semarang. Sebenarnya wilayah hukum Polres Semarang sudah dibagi dalam 17 wilayah hukum Kepolisian Sektor. Namun sampai saat ini di wilayah hukum Polsek belum ada Unit atau sub Unit PPA. Perkara-perkara yang berkaitan dengan perempuan dan anak yang terjadi di wilayah hukum Polsek masih ditangani oleh Unit Reskrim yang ada di Polsek. Apabila perkaranya tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan/ ADR (Alternative Dispute Resolution), maka Polsek akan menghubungi Unit PPA Polres untuk membackup Polsek.
61 Menurut Bripda Novia Make SH, belum seluruh personil di Unit PPA mampu memberkas perkara. Demikian juga di Polsek-polsek, personil yang berkemampuan membuat berkas perkara masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan antara lain :
a. Personil yang sudah mampu memberkas perkara, ada yang terlibat masalah sehingga harus dikeluarkan dari jajaran Reskrim.
b. Personil yang cerdas dan memiliki kemampuan untuk memberkas perkara, pura-pura tidak mampu karena tidak ingin mendapatkan penugasan sebagai penyidik.
c. Personil yang cerdas dan memilliki kemampuan memberkas perkara, namun mental kepribadiannya diragukan untuk diberikan penugasan penyidikan.
Hasil pengecekan di Polsek Tuntang Kabupaten Semarang, ternyata pada tahun 2019 tidak ditemukan adanya perkara KDRT yang telah diproses sampai ke Pengadilan. Menurut salah seorang petugas dari Unit Reskrim, pada tahun 2018 terdapat laporan tentang KDRT. Namun perkara tersebut dapat diselesaikan secara ADR, sehingga tidak didatakan dan tidak dibuatkan laporan polisi. Menurut petugas tersebut, apabila perkaranya sulit didamaikan, maka diarahkan kepada korban untuk melapor ke Polres di Ungaran.
62 2. Beberapa Perkara KDRT yang Ditangani Unit Pelayanan
Perempuan dan Anak Sat Reskrim Polres Semarang
Data laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang ditangani Kepolisian Resort Semarang, dapat penulis uraikan sebagai berikut:
Tabel I
Jumlah Kasus KDRT Yang Ditangani Unit PPA Polres Semarang sejak tahun 2016 - 2018
No Tahun Jumlah Kasus KDRT
1 2016 11
2 2017 10
3 2018 11
TOTAL 32
Sumber data : Unit PPA Polres Semarang
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa, jumlah laporan perkara kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dan ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang sejak tahun 2016 sampai dengan tahun 2018 yaitu berjumlah 32 perkara.
Pada tahun 2016, jumlah kasus KDRT yang ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang tercatat sebanyak 11 (sebelas) laporan perkara.
Kemudian pada tahun 2017, perkara KDRT yang ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang mengalami penurunan menjadi 10 (sepuluh)
63 laporan perkara sedangkan pada tahun 2018 terjadi kenaikan menjadi 11 (sebelas) laporan perkara.
Dari tabel tersebut juga menunjukkan bahwa perkara KDRT yang dilaporkan oleh korban dan ditangani Unit PPA Polres Semarang pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2018 tidak mengalami kenaikan atau penurunan yang signifikan.
Tabel II
Penyelesaian Kasus KDRT Yang Ditangani Oleh Unit PPA Polres Semarang Sejak Tahun 2016 – 2018
No Tahun Jumlah Kasus KDRT
Diselesaikan Dengan ADR
Dilimpahkan Ke Kejaksaan
1 2016 11 10 1
2 2017 10 5 5
3 2018 11 3 8
Sumber data : Unit PPA Polres Semarang
Dari tabel diatas terlihat bahwa pada tahun 2016 dari 11 perkara yang ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang, 10 perkara diselesaikan dengan cara ADR (Alternative Dispute Resolution) dan 1 perkara dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Semarang. Sedangkan pada tahun 2017, dari 10 perkara yang ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang, ada 5 perkara yang diselesaikan melalui ADR, dan 5 perkara dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Semarang. Pada tahun 2018, dari 11 perkara yang ditangani oleh Unit PPA Polres Semarang,
64 ada 3 perkara yang diselesaikan melalui ADR, dan 8 perkara dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Semarang. Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa penyelesaian perkara kekerasan dalam rumah tangga di wilayah hukum Polres Semarang oleh Unit PPA, sebagian besar perkara diselesaikan melalui ADR, sebagai upaya lain penyelesaian perkara pidana, jika tidak diajukan ke Pengadilan. Selama 3 tahun sejak tahun 2016, perkara yang dilaporkan berjumlah 32 perkara. Diselesaikan melalui ADR (Alternative Dispute Resolution) 18 perkara dan dilimpahkan ke Kejaksaan 14 perkara. Menurut Kanit PPA Polres Semarang Bapak AKP Herry Akhmadi :
Unit PPA Polres Semarang lebih mengutamakan penyelesaian kasus KDRT melalui ADR (Alternative Dispute Resolution) dan apabila terpaksa baru diajukan ke Pengadilan melalui Kejaksaan. Untuk dapat terjadinya kesepakatan damai, biasanya korban dan pelaku dipertemukan, didorong agar mereka berperan aktif untuk saling memaafkan dan menjalin kembali hubungan yang retak. Selanjutnya dibuat surat kesepakatan yang antara lain berisi pernyataan dari pelaku, bahwa dimasa yang akan datang tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Penyelesaian perkara KDRT secara kekeluargaan melalui ADR (Alternative Dispute Resolution) adalah sesuai dengan salah satu tujuan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga yang diatur dalam