BAB II
KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Kerangka Teori
1. Teori Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum bagi anak korban kejahatan kesusilaan dapat mencakup bentuk perlindungan :1
a. Abstrak (tidak langsung)
Perlindungan yang abstrak pada dasarnya merupakan bentuk perlindungan yang hanya bisa dinikmati atau dirasakan secara emosional (psikis), seperti rasa puas (kepuasan).
b. Kongkret (langsung)
Perlindungan yang kongkret pada dasarnya merupakan bentuk perlindungan yang dapat dinikmati secara nyata, seperti pemberian
yang berupa atau bersifat materi maupun nonmateri.
Pemberian yang bersifat materi dapat berupa pemberian kompensasi atau restitusi, pembebasan beaya hidup atau pendidikan.
Pemberian perlindungan yang bersifat nonmateri dapat berupa pembebasan dari ancaman, dari pemberitaan yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Perlindungan anak, dalam peraturan perundang-undangan saat ini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang kemudian diperbaharui dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35
1 Sri Endah Wahyuningsih , Perlindungan Hukum terhadap Anak Sebagai Korban Tindak Pidana Kesusilaan Dalam Hukum Pidana Positif Saat Ini, Jurnal Pembaharuan Hukum, Volume III No. 2 Mei - Agustus 2016, halaman 173
Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pada hakekatnya UU No 23/2002 Jo UU No 35/2014 berbasis pada pertimbangan perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia, anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya, anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita- cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan, bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi2. Dengan kata lain perlindungan anak pada hakekatnya adalah pemberian jaminan terhadap pemenuhan hak- haknya serta perlindungan dari perlakuan diskriminasi.
Pada pengertian perlindungan anak yang terumuskan dalam UU No 23/2002 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.3 Sementara itu pengertian anak ialah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Nampak bahwa batasan pengertian perlindungan anak pada hakekatnya berisi perlindungan dan jaminan pemenuhan hak kepada anak berupa perlindungan dari ancaman atau perlakuan kekerasan dan diskriminasi.
2 Konsideran, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
3 Pasal 1, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pengertian kekerasan secara yuridis, dirumuskan dalam Pasal 1 angka 15 UU No 35 Tahun 2014 sebagai berikut kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Dalam batasan atau pengertian ini nampak bahwa kekerasan diindikasikan dari akibat yang timbul dan dialami oleh anak, diperkuat oleh diksi dengan cara melawan hukum.
Sementara itu pengertian atau batasan tentang diskriminasi belum terumuskan secara jelas baik dalam UU No 23 Tahun 2002 maupun UU No 35 Tahun 2014.
Pada pengertian lainnya tentang hak anak dirumuskan sebagai bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh Orang Tua, Keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, dan pemerintah daerah.4
Dengan demikian batasan atau pengertian perlindungan anak menurut UU No 23/2002 Jo UU No35/2014 pada hakekatnya merumuskan diksi anak yaitu seseorang yang belum berumur 18 tahun dan atau masih dalam kandungan. Haknya berupa hak yang sama persis dengan hak asasi manusia, penjaminan dan perlindungan hak tersebut oleh orang tua, keluarga, masyarakat, Negara, pemerintah dan pemerintah daerah.
Perlindungan yang dimaksud adalah dalam pemenuhan dan penjaminan hak anak serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Asas perlindungan anak, meliputi Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi:
a. non diskriminasi;
b. kepentingan yang terbaik bagi anak;
4 Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
c. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan d. penghargaan terhadap pendapat anak.
Diskriminasi dalam pengertian yuridis disebutkan pada Pasal 1 ayat (3) UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan bahwa diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengecualian yang langsung ataupun tidak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat, pengurangan, penyimpangan atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya. Batasan diskriminasi dalam UU HAM ini menegaskan bahwa pembedaan perlakuan atas manusia berbasis pada agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa dan keyakinan politik merupakan tindakan diskriminasi yang terkategori melawan hukum.
Adapun tujuan perlindungan anak adalah untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Dengan rumusan ini, maka nampak jelas bahwa hak anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai usia anak menjadi alasan kuat perlunya jaminan pemenuhan hak anak dan perlindungan dari kekerasan serta diskriminasi.
Aturan atau norma yang ditetapkan dalam perlindungan anak meliputi:
a) Hak dan Kewajiban Anak b) Kewajiban dan Tanggung Jawab
Berisi pengaturan pihak-pihak yang berkewajiban dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Secara umum pihak tersebut adalah Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua. Secara khusus diatur peran dari Negara dan pemerintah, masyarakat, orang tua dan keluarga.
c) Kedudukan anak
Kedudukan anak berisi rumusan yang mengatur tentang identitas anak dan anak yang dilahirkan dari perkawinan campuran.
d) Kuasa Asuh e) Perwalian
f) Pengasuhan dan Pengangkatan Anak
Aturan yang dirumuskan dalam bab ini menegaskan tentang pengasuhan anak dan pengangkatan anak.
g) Penyelenggaraan Perlindungan
Bab ini mengatur tentang hak anak berupa agama, kesehatan, pendidikan, sosial dan perlindungan khusus.
h) Peran Masyarakat
i) Komisi Perlindungan Anak Indonesia j) Ketentuan Pidana
k) Ketentuan Peralihan l) Ketentuan Penutup
Sementara itu beberapa bagian dan atau pasal yang dirubah dalam aturan UU No 35/2014 berisi pertimbangan sebagai berikut:
a) Walaupun instrumen hukum telah dimiliki, dalam perjalanannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak belum dapat berjalan secara
efektif karena masih adanya tumpang tindih antar peraturan perundang-undangan sektoral terkait dengan definisi Anak. Di sisi lain, maraknya kejahatan terhadap Anak di Masyarakat, salah satunya adalah kejahatan seksual, memerlukan peningkatan komitmen dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat serta semua pemangku kepentingan yang terkait dengan penyelenggaraan Perlindungan Anak.
b) Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga mempertegas tentang perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap Anak, untuk memberikan efek jera, serta mendorong adanya langkah konkret untuk memulihkan kembali fisik, psikis dan sosial Anak korban dan/atau Anak pelaku kejahatan. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi Anak korban dan/atau Anak pelaku kejahatan di kemudian hari tidak menjadi pelaku kejahatan yang sama.
Berdasarkan pertimbangan perubahan UU No 23/2002 ke UU No35/2014 berisi pokok perkembangan baik di masyarakat maupun peraturan perundang-undangan terkait dengan anak dapat disimpulkan bahwa masih adanya tumpang tindih PUU dan perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda kepada pelaku kejahatan terhadap anak.
Perlindungan hukum bagi anak korban kejahatan seksual dalam bentuk abstrak antara lain diatur dalam KUHP. Perumusan tindak pidana kesusilaan dalam KUHP yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menjerat pelaku baik perbuatan persetubuhan atau pencabulan diatur dalam Bab XIV Pasal 287, Pasal 289, Pasal 290, Pasal 292, Pasal 293, Pasal 294, Pasal 295, dan Pasal 296 KUHP. Terhadap pelaku diancam dengan pidana penjara antara 9 bulan sampai dengan 7 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.15.000.00 (lima belas ribu rupiah).5
5 Sri Endah Wahyuningsih, Ibid.
Pasal 287 KUHP terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.”
Pasal 290 KUHP terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
“Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:
1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;
2. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin:
3. Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.”
Pasal 292 KUHP terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.”
Pasal 293 KUHP terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu.
3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing- masing sembilan bulan dan dua belas bulan.
Pasal 294 KUHP terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
2) Diancam dengan pidana yang sama:
1. Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya,
2. pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pendidikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.”
Pasal 295 terformulasi yuridisnya sebagai berikut : 1) Diancam:
1. dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain;
2. dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang tersebut dalam butir 1 di atas, yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain.
2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.
Pasal 296 terformulasi yuridisnya sebagai berikut :
“Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan bul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.”
Selain itu juga terdapat dalam ketentuan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan formulasi yuridisnya :
1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Sedangkan menurut ketentuan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan formulasi yuridis sebagai berikut :
(1) Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Tindak pidana pencabulan anak diatur dalam pasal yang terumuskan pada UU No 35/2014 sebagai berikut:
1. Pasal 76 E
Formulasi yuridis pasal ini sebagai berikut:
“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul”
2. Pasal 82
Pasal 82 UU No 35/2014 berisi dua ayat dengan formulasi yuridis sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).”
2. Teori Penegakan Hukum6
Penegakan Hukum (law enforcement) dalam arti luas mencakup kegiatan untuk melaksanakan dan menerapkan hukum serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum, baik melalui prosedur peradilan ataupun melalui prosedur arbitrase dan mekanisme penyelesaian seng-keta lainnya (alternative desputes or conflicts resolution). Bahkan, dalam pengertian yang lebih luas lagi, kegiatan penegakan
hukum mencakup pula segala aktifitas yang dimaksudkan agar hukum sebagai perangkat kaedah normatif yang mengatur dan mengikat para subjek hukum dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara benar-benar ditaati dan sungguh-sungguh dijalankan sebagaimana mestinya. Dalam arti sempit, penegakan hukum itu menyangkut kegiatan penindakan terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan, khususnya, yang lebih sempit lagi, melalui proses peradilan pidana yang melibatkan peran aparat kepolisian, kejaksaan, advokat atau pengacara, dan badan-badan peradilan.
Karena itu, dalam arti sempit, aktor-aktor utama yang peranannya sangat menonjol dalam proses penegakan hukum itu adalah polisi, jaksa, pengacara dan hakim. Para penegak hukum ini dapat dilihat pertama-tama sebagai orang atau unsur manusia dengan kualitas, kualifikasi, dan kultur kerjanya masing-masing. Dalam pengertian demikian persoalan penegakan hukum tergantung aktor, pelaku, pejabat atau aparat penegak hukum itu sendiri. Kedua, penegak hukum dapat pula dilihat sebagai institusi, badan atau organisasi dengan kualitas birokrasinya sendiri-sendiri.
Dalam kaitan itu kita melihat penegakan hukum dari kacamata kelembagaan yang
6 Jimly Asshiddiqie, 2006, Pembangunan Hukum dan Penegakan Hukum di Indonesia, Seminar “Menyoal Moral Penegak Hukum” dalam rangka Lustrum XI Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, halaman 14-15
pada kenyataannya, belum terinstitusionalisasikan secara rasional dan impersonal (institutionalized). Namun, kedua perspektif tersebut perlu dipahami secara komprehensif dengan melihat pula keterkaitannya satu sama lain serta keterkaitannya dengan berbagai faktor dan elemen yang terkait dengan hukum itu sendiri sebagai suatu sistem yang rasional.
Profesi hukum perlu ditata kembali dan ditingkatkan mutu dan kesejahteraannya. Para profesional hukum itu antara lain meliputi (i) legislator (politisi) , (ii) perancang hukum (legal drafter), (iii) konsultan hukum, (iv) advokat, (v) notaris, (vi) pejabat pembuat akta tanah, (vii) polisi, (viii) jaksa, (ix) panitera, (x) hakim, dan (xi) arbiter atau wasit. Untuk meningkatkan kualitas profesionalisme masing-masing profesi tersebut, diperlukan sistem sertifikasi nasional dan standarisasi, termasuk berkenaan dengan sistem kesejahteraannya. Di samping itu juga diperlukan program pendidikan dan pelatihan terpadu yang dapat terus menerus membina sikap mental, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan profesional aparat hukum tersebut.
Agenda pengembangan kualitas profesional di kalangan profesi hukum ini perlu dipisahkan dari program pembinaan pegawai administrasi di lingkungan lembaga-lembaga hukum tersebut, seperti di pengadilan ataupun di lembaga perwakilan rakyat. Dengan demikian, orientasi peningkatan mutu aparat hukum ini dapat benar-benar dikembangkan secara terarah dan berkesinambungan. Di samping itu, pembinaan kualitas profesional aparat hukum ini dapat pula dilakukan melalui peningkatan keberdayaan organisasi profesinya masing-masing, seperti Ikatan Hakim Indonesia, Ikatan Notaris Indonesia, dan sebagainya. Dengan demikian, kualitas hakim dapat ditingkatkan melalui peranan Mahkamah Agung di satu pihak dan melalui peranan Ikatan Hakim Indonesia di lain pihak.
Di samping itu, agenda penegakan hukum juga memerlukan kepemimpinan dalam semua tingkatan yang memenuhi dua syarat. Pertama, kepemimpinan diharapkan dapat menjadi penggerak yang efektif untuk tindakan-tindakan penegakan hukum yang pasti. Kedua, kepemimpinan tersebut diharapkan dapat menjadi teladan bagi lingkungan yang dipimpinnya masing-masing mengenai integritas kepribadian orang yang taat aturan.
Salah satu aspek penting dalam rangka penegakan hukum adalah proses pembudayaan, pemasyarakatan, dan pendidikan hukum (law sosialization and law education). Tanpa didukung oleh kesadaran, pengetahuan dan pemahaman oleh para
subjek hukum dalam masyarakat, nonsens suatu norma hukum dapat diharapkan tegak dan ditaati. Karena itu, agenda pembudayaan, pemasyarakatan dan pendidikan hukum ini perlu dikembangkan tersendiri dalam rangka perwujudan ide negara hukum di masa depan. Beberapa faktor yang terkait dengan soal ini adalah (a) pembangunan dan pengelolaan sistem dan infra struktur informasi hukum yang berbasis teknologi informasi (information technology); (b) peningkatan Upaya Publikasi, Komunikasi dan Sosialisasi Hukum; (c) pengembangan pendidikan dan pelatihan hukum; dan (d) pemasyarakatan citra dan keteladanan-keteladanan di bidang hukum.
Dalam rangka komunikasi hukum, perlu dipikirkan kembali kebutuhan adanya media digital dan elektronika, baik radio, televisi maupun jaringan internet dan media lainnya yang dimiliki dan dikelola khusus oleh pemerintah. Mengenai televisi dan radio dapat dikatakan bahwa televisi dan radio swasta sudah sangat banyak dan karena itu, kemungkinan terjadinya dominasi arus informasi sepihak dari pemerintah seperti terjadi selama masa Orde Baru tidak mungkin lagi terjadi. Karena itu, sumber informasi dari masyarakat dan dari pemodal sudah tersedia sangat banyak dan beragam. Namun, arus informasi dari pemerintah kepada masyarakat, khususnya
berkenaan dengan pendidikan dan pemasyarakatan hukum terasa sangat kurang.
Untuk itu, pembangunan media khusus tersebut dirasakan sangat diperlukan.
Kebijakan semacam ini perlu dipertimbangkan termasuk mengenai kemungkinan memperkuat kedudukan TVRI dan RRI sebagai media pendidikan hukum seperti yang dimaksud.
3. Tindak Pidana Kekerasan Seksual
Hukum materiil terkait kekerasan seksual secara umum diatur dalam Bab XIV Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait kejahatan terhadap kesusilaan.
Selain itu sudah ada pula Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), yang didalamnya diterapkan ancaman sanksi pidana yang cukup berat terhadap pelaku kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga.
Khusus kekerasan seksual terhadap anak juga sudah ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pasal 1 ayat (16) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa kekerasan merupakan setiap perbuatan yang dilakukan terhadap anak yang dapat mengakibatkan terjadinya kesengsaraan serta penderitaan secara fisik, seksual atau penelantaran, yang masuk dalam dalam ancaman untuk dilakukannya tindak kekerasan, pemaksaan atau perampasan melawan hukum.
Norma hukum tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak meliputi :
1. Pasal 76D dengan formulasi yuridisnya :
“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”
2. Pasal 76E dengan formulasi yuridisnya :
“Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.”
3. Pasal 76I dengan formulasi yuridisnya :
“Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak.”
Adapun sanksi pidana terhadap perbuatan tersebut dirumuskan sebagai berikut :
1. Pasal 81 yang merumuskan sanksi pidana sebagai berikut :
(1) Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
2. Pasal 82 dengan rumusan yuridisnya :
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
3. Pasal 88 dengan rumusan yuridisnya :
“Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 I, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).”
4. Tindak Pidana Kekerasan Terhadap Anak
Kejahatan kekerasan kepada Anak secara yuridis dinormakan dalam UU Republik Indonesia No 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Pengertian yuridis mengenai Korban dirumuskan dalam Pasal 1 angka 4 sebagai orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, kerugian ekonomi, dan atau kerugian sosial yang diakibatkan Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Sementara itu, norma definisi anak dirumuskan dalam Pasal 1 angka 5 UU No 12 tahun 2022 sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Ruang lingkup kedua pengertian tersebut, yaitu korban dan anak, secara konsisten bersesuaian dengan norma yuridis dalam UU terkait korban maupun anak.
Tujuan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual ( TPKS) adalah : a. Mencegah segala bentuk kekerasan seksual
b. Menangani, melindungi, dan memulihkan Korban
c. Melaksanakan penegakan hukum dan merehabilitasi pelaku d. Mewujudkan lingkungan tanpa kekerasan seksual
e. Menjamin ketidakberulangan kekerasan seksual
Sehubungan dengan kajian penelitian ini, maka tujuan di atas yang relevan untuk dipaparkan adalah menangani, melindungi, dan memulihkan Korban.
Asas yang menjadi landasan UU TPKS adalah : a. Penghargaan atas harkat dan martabat manusia
b. Nondiskriminasi
c. Kepentingan terbaik bagi Korban d. Keadilan
e. Kemanfaatan f. Kepastian hukum
Berdasarkan landasan ini maka kepentingan terbaik bagi Korban dijelaskan bahwa semua tindakan yang menyangkut Korban yang dilakukan oleh lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif, dan Masyarakat harus menjadi pertimbangan utama. Perspektif ini menggambarkan bahwa sudut pandang Korban menjadi prioritas utama,sebagai bahan yang harus diperhatikan oleh lembaga maupun institusi dan masyarakat dalam penyelenggaraan kepentingan terbaik bagi korban.
Kualifikasi TPKS yang berhubungan dengan anak terumuskan dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c dengan rumusan yuridisnya :
“Selain Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tindak Pidana Kekerasan Seksual juga meliputi:
a. Perkosaan;
b. Perbuatan cabul;
c. Persetubuhan terhadap Anak, perbuatan cabul terhadap Anak, dan/ atau eksploitasi seksual terhadap Anak;
d. Perbuatan melanggar kesusilaan yang bertentangan dengan kehendak Korban;
e. Pornografi yang melibatkan Anak atau pornografi yang secara eksplisit memuat kekerasan dan eksploitasi seksual;
f. Pemaksaan pelacuran;
g. Tindak pidana perdagangan orang yang ditujukan untuk eksploitasi seksual;
h. Kekerasan seksual dalam lingkup rumah tangga;
i. Tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya merupakan Tindak Pidana Kekerasan Seksual; dan
j. Tindak pidana lain yang dinyatakan secara tegas sebagai Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.”
Berdasarkan rumusan tersebut maka persetubuhan dengan anak termasuk dalam TPKS. Adapun sanksi pidana yang dirumuskan dalam tindak pidana persetubuhan dengan anak menurut UU TPKS diatur dalam Pasal 6 huruf c “pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp300.000.000,- (tiga ratus juta
rupiah). Selain itu, Pasal 15 UU TPKS mengatur pemberatan pidana dalam kondisi persetubuhan dengan anak di lingkup keluarga sebagai berikut :
Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 8 sampai dengan Pasal 14 ditambah 1/3 (satu per tiga), jika:
a. Dilakukan dalam lingkup Keluarga;
b. Bilakukan oleh tenaga kesehatan, tenaga medis, pendidik, tenaga kependidikan, atau tenaga profesional lain yang mendapatkan mandat untuk melakukan Penanganan, Pelindungan, dan Pemulihan;
c. Dilakukan oleh pegawai, pengurus, atau petugas terhadap orang yang dipercayakan atau diserahkan padanya untuk dijaga;
d. Dilakukan oleh pejabat publik, pemberi kerja, atasan, atau pengurus terhadap orang yang dipekerjakan atau bekerja dengannya;
e. Dilakukan lebih dari I (satu) kali atau dilakukan terhadap lebih dari 1 (satu) orang;
f. Dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan bersekutu;
g. Dilakukan terhadap Anak;
h. Dilakukan terhadap Penyandang Disabilitas;
i. Dilakukan terhadap perempuan hamil;
j. Dilakukan terhadap seseorang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya;
k. Dilakukan terhadap seseorang dalam keadaan darurat, keadaan bahaya, situasi konflik, bencana, atau perang;
l. Dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik;
m. Korban mengalami luka berat, berdampak psikologis berat, atau penyakit menular;
n. Mengakibatkan terhentinya dan/ atau rusaknya fungsi reproduksi; dan/ atau o. Mengakibatkan Korban meninggal dunia.”
Hak Korban TPKS diatur dalam bab V bagian kedua meliputi Pasal 66 sampai dengan Pasal 70. Pada intinya hak korban mencakup hak atas penanganan, hak atas perlindungan dan hak atas pemulihan. Khusus pada norma hak atas pelindungan terhadap korban diatur dalam Pasal 69 UU TPKS dengan rumusan yuridisnya :
“Hak Korban atas Pelindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (1) huruf b meliputi:
a. Penyediaan informasi mengenai hak dan fasilitas Pelindungan;
b. Penyediaan akses terhadap informasi penyelenggaraan Pelindungan;
c. Pelindungan dari ancaman atau kekerasan pelaku dan pihak lain serta berulangnya kekerasan;
d. Pelindungan atas kerahasiaan identitas;
e. Pelindungan dari sikap dan perilaku aparat penegak hukum yang merendahkan Korban;
f. Pelindungan dari kehilangan pekerjaan, mutasi pekerjaan, pendidikan, atau akses politik; dan
g. Pelindungan Korban dan/ atau pelapor dari tuntutan pidana atau gugatan perdata atas Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang telah dilaporkan.”
Norma pelindungan korban ini merupakan substansi baru bagi korban tindak pidana dengan prinsip dasar penghormatan terhadap hak asasi manusia dan mencegah reviktimatisasi.
Pelaku kejahatan seksual terhadap anak dikualifikasikan sebagai graviora delicta atau kejahatan serius yang kejam. Karena anak sangat rentan menjadi korban kejahatan dan oleh sebab itu harus diberikan perlindungan.7 Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah kebiri kimia dan pemasangan chip bagi pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2020 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak mengatur ketentuan bahwa tindakan Kebiri Kimia adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain, yang dilakukan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertai rehabilitasi.
Sementara itu, Pelaku Tindak Pidana Persetubuhan kepada Anak dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan Seksual Memaksa Anak Melakukan Persetubuhan Dengannya atau dengan Orang Lain, yang selanjutnya disebut Pelaku Persetubuhan adalah terpidana atau orang yang telah selesai menjalani pidana pokok atas tindak pidana persetubuhan kepada Anak dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Nampaknya substansi hukum dalam aturan hukum positif saat ini telah menyediakan norma pemberatan pidana bagi pelaku tindak pidana kekerasan
7 https://www.hukumonline.com/klinik/a/alasan-hukum-yang-membenarkan-pemasangan-ichip-i-dan-kebiri- kimia-lt5ee9fda7d210d diakses 22 Juni 2022
seksual terhadap anak sedemikian rupa sehingga kejahatan serius terhadap anak mampu dicegah melalui efek jera kepada calon pelaku di kemudian hari.
B. Hasil Penelitian
Kasus tindak pidana “dengan sengaja melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya” berdasarkan pada putusan Nomor 12/Pid.Sus/2018/PN Tmg.
Putusan Majelis Hakim tersebut secara detail terperinci dalam keterangan di bawah ini.
1. Kasus Posisi
Terdakwa dituduh telah menyetubuhi anak korban yang merupakan anak kandung Terdakwa. Dalam kasus ini, umur korban pada saat kejadian masih berusia 13 tahun 11 bulan.
Perbuatan terdakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak korban melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Modus yang dilakukan oleh terdakwa adalah di kamar saksi korban, terdakwa terangsang melihat tubuh saksi korban. Saat itu saksi korban menolak dan berusaha menghindar. Namun terdakwa memukul kaki kanan saksi korban agar tidak bisa pergi dan terdakwa langsung menindih tubuh saksi korban dan pada akhirnya terjadi persetubuhan.
Ringkasan putusan hukum tersebut, terskema dalam tabel berikut ini:
Tabel 1. Putusan Kasus Pidana PersetubuhanTerhadap Anak Keterangan Kasus Putusan Nomor: 12/Pid.Sus/2018/PN Tmg.
Nama lengkap Terdakwa R bin S Tempat tanggal
lahir/Umur
Temanggung, 2 Juni 1977 Tempat tinggal Kab. Temanggung, Jawa Tengah Pekerjaan Buruh Harian Lepas
Kasus posisi Ayah kandung korban telah melakukan persetubuhan dengan anak kandungnya sendiri yang dilakukan beberapa kali. Pertama, sekitar bulan Juni 2017 bertempat di kamar korban ( serumah dengan pelaku). Kejadian tersebut ditolak oleh korban
Keterangan Kasus Putusan Nomor: 12/Pid.Sus/2018/PN Tmg.
namun karena tidak berdaya oleh kekuatan pelaku maka terjadilah kejahatan persetubuhan. Kedua, masih di bulan yang sama pelaku yang sedang menonton televisi bersama dengan korban di ruang tengah. Pelaku berhasrat menyetubuhi korban.
Awalnya melalui rayuan dan ajakan namun korban tetap menolak. Korban sempat menghindar pergi ke dalam kamarnya. Namun pelaku mengejar korban hingga terjadi persetubuhan yang kedua. Ketiga, keesokan harinya sekitar pukul 06.00 wib pelaku berhasrat kembali melakukan persetubuhan dengan korban. Karena merasa ditolak oleh korban maka pelaku langsung menampar korban. Oleh karena korban masih anak dan tak berdaya maka korban hanya bisa menangis ketika kejahatan itu terjadi lagi.
Bulan November 2017 korban mengeluh sakit perut kepada pelaku, saat itu pelaku curiga kalau korban hamil. Terbersit ada niatan untuk menggugurkan bayi ke dukun bayi. Namun seiring berjalannnya waktu, kehamilan korban tidak dapat ditutupi.
Ibu kandung korban melaporkan ke Polres Temanggung atas peristiwa tersebut.
Barang bukti Visum Et Repertum dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Temanggung Nomor : 01/249215/VRH/XI/2017/RSU pada tanggal 15 Nopember 2017 dengan kesimpulan “Tampak robekan pada selaput dara arah jam tujuh, kesan luka lama, tampak kehamilan dengan TFU setinggi pusar dan DJJ 140x/menit dan tampak cairan warna keputihan curiga infeksi jamur”
Dakwaan Terdakwa R bin S didakwa oleh Penuntut Umum dengan Dakwaan alternatif yaitu :
Dakwaan kesatu, melanggar pasal 76 D jo pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik
Keterangan Kasus Putusan Nomor: 12/Pid.Sus/2018/PN Tmg.
Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.
Alternatif dakwaan Kedua melanggar Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.
Tuntutan 1. Terdakwa melanggar Pasal 76 D jo pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang sebagaimana yang kami dakwakan dalam dakwaan Kesatu.
2. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 15 (Lima Belas) tahun dan Denda Rp.
5.000.000,- (lima juta rupiah) subsidiair 6 (enam) bulan kurungan.
3. Membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah)
Putusan 1. Terdakwa R bin S terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “
Keterangan Kasus Putusan Nomor: 12/Pid.Sus/2018/PN Tmg.
dengan sengaja melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya”.
2. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dan denda sebesar Rp 10.000.000,00 ( sepuluh juta rupiah ) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka harus diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan
5. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah)
a. Fakta Persidangan
Korban dalam statusnya anak kandung pelaku terbukti di pengadilan.
Kronologis kejadian tindak pidana persetubuhan dengan anak korban berlangsung tiga kali, tempat kejadian perkara di rumah pelaku dan korban (serumah karena anak kandung).
Bulan November 2017 akibat kejahatan pelaku tersebut korban persetubuhan hamil dengan bukti hasil pemeriksaan VISUM ET REVERTUM Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Temanggung N0 : 01/249215/VRH/XI/2017/RSU pada tanggal 15 Nopember 2017 yang diperoleh Hasil Pemeriksaan bahwa :
1. Pasien datang dalam keadaan sadar
2. Tampak robekan pada selaput dara arah jam tujuh, kesan luka lama 3. Tampak cairan warna keputihan curiga infeksi jamur
4. Pemeriksaan kehamilan : - TFU setinggi Pusar - DJJ 140x/menit
Sehingga diperoleh Kesimpulan “Tampak robekan pada selaput dara arah jam tujuh, kesan luka lama, tampak kehamilan dengan TFU setinggi pusar dan DJJ 140x/menit dan tampak cairan warna keputihan curiga infeksi jamur”
b. Dakwaan
Penuntut Umum mendakwa pelaku dengan dakwaan alternatif:
Perbuatan Terdakwa diatur dan diancam pidana :
Kesatu, terdakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak korban melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 76 D jo pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
ATAU
Dakwaan Kedua Perbuatan terdakwa R Bin S melanggar norma yang diatur dan diancam pidana dalam pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang- Undang.
Dakwaan alternatif berarti bahwa alternatif dalam Surat Dakwaan terdapat beberapa dakwaan yang disusun secara berlapis, lapisan yang satu merupakan alternatif dan bersifat mengecualikan dakwaan pada lapisan lainnya. Bentuk dakwaan ini digunakan bila belum didapat kepastian tentang Tindak Pidana mana yang paling tepat dapat
dibuktikan. Meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan, tetapi hanya satu dakwaan saja yang akan dibuktikan.8 Keterangan tersebut mengindikasikan bahwa Penuntut Umum belum dapat memastikan tindak pidana yang dilakukan terdakwa secara tepat. Pertama, melanggar pasal 76 D jo pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Formulasi yuridis Pasal 76 D Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 adalah “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.” Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 menyebutkan “ Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”
Dakwaan yang kedua, Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 menyebutkan “Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.”
Fakta tersebut menunjukan bahwa surat dakwaan Penuntut Umum hanya bersandar kepada Pasal 76 D Jo Pasal 81 ayat (1) dialternatifkan dengan Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014.
b. Tuntutan
8 Surat Edaran Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: SE-004/J.A/11/1993 tentang Pembuatan Surat Dakwaan
Terdakwa dituntut oleh penuntut umum, setelah melalui proses persidangan sebagai berikut :
1. Menyatakan terdakwa R Bin Stelah terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana “melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak korban melakukan persetubuhan dengannya” melanggar Pasal 76 D jo pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang- Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang sebagaimana yang kami dakwakan dalam dakwaan Kesatu.
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 15 (Lima Belas) tahun dan Denda Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) subsidiair 6 (enam) bulan kurungan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.
3. Menetapkan agar terdakwa supaya dibebani untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah)
Tuntutan ini mengindikasikan bahwa Penuntut Umum setelah mencermati fakta persidangan, berkeyakinan dengan tuntutannya yaitu sesuai dengan alternative dakwaan kesatu yaitu terdakwa bersalah sebagaimana diatur dalam Pasal 76 D Jo Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana telah
diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014. Pasal tersebut secara tegas mengatur norma tentang tindak pidana persetubuhan terhadap anak.
Sanksi pidana yang dituntut oleh Jaksa terhadap terdakwa adalah 15 tahun penjara ( sanksi penjara maksimal sebagaimana dalam pasal a quo) dan denda 5 juta rupiah.
c. Putusan
Majelis hakim dalam perkara a quo, memutuskan bahwa:
i. Menyatakan Terdakwa R bin S terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “ dengan sengaja melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya”.
ii. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dan denda sebesar Rp 10.000.000,00 ( sepuluh juta rupiah ) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka harus diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan.
iii. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
iv. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan
v. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah)
Putusan Majelis Hakim tersebut, menunjukan bahwa sanksi pidana yang dituntut oleh Jaksa lebih berat dilihat dari sanksi denda terhadap pelaku. Jaksa menuntut denda 5 Juta Rupiah sedangkan putusan Majelis Hakim sebesar denda 10 juta rupiah. Dalam hal pidana penjara terjadi kesamaan antara tuntutan Jaksa dengan putusan Majelis Hakim yaitu 15 Tahun penjara.
2. Dasar Pertimbangan Majelis Hakim
Dalam memutuskan perkara a quo berdasarkan pada faktor-faktor sebagai berikut:
a) Hal-hal yang memberatkan:
Perbuatan Terdakwa telah merusak masa depan korban yang masih anak- anak;
Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat;
Terdakwa adalah bapak kandung dari saksi korban yang seharusnya
bertanggung jawab dan berkewajiban menjaga anak yang belum dewasa ; b) Hal-hal yang meringankan:
Terdakwa mengakui terus terang ;
Terdakwa menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Pertimbangan Majelis Hakim cukup unik bahwa disebutkan “ bapak kandung dari korban seharusnya bertanggung jawab dan menjaga anaknya” namun dalam putusan pertimbangan tersebut tidak dijadikan landasan hukum untuk memidana pelaku dengan pidana pemberatan.
C. Analisis
Penulis menganalisis perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual dalam rumah tangga sebagaimana studi pada perkara a quo mengikuti alur pikir : perlindungan hukum terhadap anak korban sebagaimana diatur dalam substansi hukum dalam UU Perlindungan Anak, UU Perlindungan Saksi dan Korban. Perlindungan hukum terhadap anak korban berdasarkan UU Perlindungan Anak diatur bahwa :
1) Pemberian jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta perlindungan dari perlakuan diskriminasi.
2) Hak anak berupa hak yang sama dengan hak asasi manusia, penjaminan dan perlindungan hak tersebut oleh orang tua, keluarga, masyarakat, Negara, pemerintah dan pemerintah daerah. Perlindungan yang dimaksud adalah dalam pemenuhan dan penjaminan hak anak serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Berdasarkan kedua norma di atas maka dapat dipahami bahwa perlindungan hukum terhadap anak melalui dua kata kunci yaitu perlindungan hak asasi anak (sama dengan hak asasi manusia) dan perlindungan dari tindakan diskriminasi. Dengan kata lain dapat diterangkan bahwa prinsip perlindungan hukum terhadap anak adalah melindungi anak berbasis pada hak asasinya dan perlindungan terhadap ancaman perlakuan diskriminasi.
Norma yuridis diskriminasi adalah adanya perbedaan perlakuan karena warna kulit, suku, agama, jenis kelamin dan sebagainya bawaan dari lahir yang manusia tidak kuasa untuk mengubahnya.
Adapun perspektif UU Perlindungan Saksi dan Korban menerangkan bahwa anak korban tindak pidana harus dilindungi dengan beberapa aspek tekniknya meliputi :
1) Norma definisi korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.
2) Anak secara hukum didefinisikan orang yang belum berusia 18 tahun. Sehingga pengertian anak korban adalah orang yang berusia kurang dari 18 tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.
3) Perlindungan abstrak terhadap korban tindak pidana diatur sebagai berikut :
a. Asas perlindungan terhadap korban berprinsip penghargaan atas harkat dan martabat manusia, rasa aman, keadilan, tidak diskriminatif dan kepastian hukum.
b. Perlindungan korban bertujuan memberikan rasa aman kepada Korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana.
4) Hak korban meliputi: pertama,memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya. Kedua, ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan. Ketiga, memberikan keterangan tanpa tekanan. Keempat, mendapat penerjemah. Kelima, bebas dari pertanyaan yang menjerat. Keenam, mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus. Ketujuh, mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan.
Kedelapan, mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan. Kesembilan, mendapat identitas baru. Kesepuluh, mendapatkan tempat kediaman baru. Kesebelas, memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan. Keduabelas, mendapat nasihat hukum. Ketiga belas memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir.
Berdasarkan ketigabelas hak korban yang dijamin oleh UU Perlindungan Saksi dan Korban dapat ditarik benang merahnya bahwa korban sepenuhnya dijamin hak asasinya baik di dalam maupun di dalam proses peradilan pidana. Hal ini berarti bahwa anak korban tindak pidana mendapatkan perlindungan hukum secara abstrak melalui substansi hukum yang diatur dalam UU Perlindungan Saksi dan Korban.
Pendalaman analisis terhadap studi kasus anak korban tindak pidana persetubuhan oleh pelaku ayah kandungnya, yang penulis ketengahkan sehubungan dengan perlindungan hukum anak korban adalah :
Pertama, fakta tekstual dalam norma hukum yang didakwakan kepada pelaku tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak korban berdasarkan pada Pasal 76 D Jo Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan
Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014. Hemat peneliti, Pasal 76 D berisi norma hukum sebagai berikut :
1. Subjek Norma : Setiap Orang
2. Operator Norma : Larangan dengan adanya diksi “dilarang”
3. Objek Norma : Melakukan persetubuhan
4. Kondisi Norma : mengancam, memaksa, melakukan kekerasan
Analisis norma dalam Pasal dakwaan Penuntut Umum kesatu yaitu Pasal 76 D UU Perlindungan Anak menguraikan tentang norma larangan yang diatur dalam pasal tersebut.
Pasal ini ditujukan kepada setiap orang. Objek norma nya berupa melakukan persetubuhan.
Pengertian persetubuhan menurut R. Soesilo, mengacu pada Arrest Hooge Raad tanggal 5 Februari 1912 yaitu “peraduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota laki-laki harus masuk ke dalam anggota perempuan sehingga mengeluarkan air mani.”
Peneliti mengasumsikan bahwa pengertian persetubuhan sudah sesuai dengan fakta persidangan kasus a quo sehingga Majelis Hakim berkeyakinan dengan putusan perkara tersebut. Jika mengacu kepada norma pidana dalam Pasal 76 D UU Perlindungan Anak tersebut maka bentuk perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual meliputi :
a. Pidana penjara bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak yaitu paling singkat 5 tahun sampai dengan maksimal 15 tahun.
b. Pidana denda maksimal 5 milyar rupiah.
Perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual terhadap anak ini terkualifikasi perlindungan hukum bersifat abstrak karena bentuk perlindungan tersebut tidak langsung diterima oleh korban.
Kedua, konstruksi sistematis Pasal 76 D berhubungan dengan Pasal 81 UU Perlindungan Anak. Hal ini dapat digambarkan melalui frasa “Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D”. Dengan demikian, Pasal 81 ayat (1) UU Perlindungan Anak merupakan pasal turunan dari pasal induknya yaitu Pasal 76D UU Perlindungan Anak.
Menurut penulis, jika Pasal Dakwaan Jaksa pada alternatif pertama sudah sesuai dengan hukum pembuktian selama di persidangan maka bentuk perlindungan hukum terhadap anak korban kekerasan seksual dalam rumah tangga dalam putusan Majelis Hakim Nomor Perkara 12/Pid.Sus/2018/PNTmg merupakan perlindungan hukum yang bersifat abstrak. Baik dalam rumusan undang-undang (legal substance) belum terumuskan bentuk perlindungan secara kongkret (nyata yang langsung diperoleh oleh korban) maupun dalam bentuk penegakan hukumnya yaitu putusan Majelis Hakim. Prinsip perlindungan korban kekerasan seksual dengan istilah Restitutio in integrum atau prinsip pemulihan dalam keadaan semula. Prinsip tersebut bermakna bahwa perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual semestinya lengkap dan komprehensip sesuai dengan kebutuhan korban.
Kebutuhan itu baik bersifat meteriil maupun non materiil. Teknisnya dapat berupa perlindungan medis, psikologis maupun sosial.
Jika merujuk kepada putusan Majelis Hakim yang menghukum terdakwa atau pelaku kekerasan seksual terhadap anak korban dengan denda 10 Juta Rupiah dan pidana penjara 15 tahun, maka menurut penulis hal tersebut merupakan bentuk perlindungan hukum terhadap korban secara abstrak atau tidak langsung karena secara psikologis korban hanya merasa jauh dari ancaman semula (pelaku di penjara). Sedangkan bentuk perlindungan secara kongkret berupa restitusi atau ganti kerugian terhadap masa depan korban belum terumuskan dalam putusan majelis hakim tersebut. Selain itu, catatan lain dari perkara a quo adalah Jaksa
Penuntut Umum tidak mengalternatifkan dengan Pasal 81 ayat (3) UU Perlindungan anak yang menyediakan sanksi hukum pemberatan pidana kepada pelaku.
Menurut hemat penulis kasus a quo, menerangkan beberapa hal terkait dengan catatan kritis terhadap putusan Majelis Hakim:
1. Pemidanaan pelaku (ayah kandung) tindak pidana persetubuhan dengan anak korban (anak kandung) seharusnya ada pemberatan pidana. Dakwaan Penuntut Umum adalah 15 tahun penjara yang merupakan pidana maksimal dalam pasal dakwaan kesatu.
Dengan demikian seharusnya ditambah dengan pemberatan pidana sepertiga dari pidana maksimalnya yaitu 20 tahun. Kasus a quo, Majelis Hakim hanya memvonis pelaku sama dengan tuntutan Jaksa yaitu 15 tahun penjara. Substansi hukum positif sekarang ini pelaku dalam kasus a quo, dapat dipidana lebih berat yaitu legalitas kebiri kimia. Prinsip kejahatan serius yang korbannya perlu dilindungi seperti kasus a quo masuk akal jika pelaku dihukum berat agar terjadi pencegahan umum kepada
calon pelaku. Menurut penulis hukuman kepada pelaku dalam kasus a quo masih belum sesuai dengan legal substance dalam sanksi pidana (saat ini) terhadap pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak korban yang masih anak kandungnya sendiri.
2. Hukum acara dalam persidangan kasus a quo, Jaksa menghadirkan saksi korban demi didengar kesaksiannya tanpa disumpah. Hemat penulis, hal ini merupakan ancaman tersendiri bagi korban karena belum pulihnya psikologis akibat tindak pidana yang dihadapinya. Sehingga alangkah baiknya jika keterangan saksi korban cukup sebagai alat bukti di luar persidangan sesuai dengan hak korban.
3. Pengumpulan alat bukti dan keterangan dalam pembuktian di sidang peradilan pidana maka anak korban perlu upaya pendekatan empati dari penyidik dengan tujuan korban trauma dan memicu reviktimisasi.
4. UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual memberikan payung hukum terhadap perlindungan korban tindak pidana kekerasan seksual secara lengkap dan komprehensif. Salah satu perlindungan hukum terhadap korban adalah proses penanganan dan korban kekerasan seksual yang meninjau dari aspek psikis, fisik dan kepentingan terbaik bagi anak korban tindak pidana. Namun dalam pengamatan penulis, keputusan Majelis Hakim dalam kasus a quo, hanya sebagian memberikan perlindungan terhadap korban tindak pidana yaitu perlindungan hukum secara abstrak.
Hal itu, disebabkan belum diakomodasinya kepentingan penanganan dan pemulihan korban melalui sarana medis, psikologi maupun sosial.
Dalam kasus tersebut, penulis kontra terhadap putusan Majelis Hakim karena tidak secara eksplisit diterapkannya pidana penjara karena pemberatan. Semestinya, latar belakang pelaku yang merupakan ayah kandung korban sudah cukup mengidentifikasi adanya pemberatan pidana. Jika skema pemberatan pidana dijalankan maka pelaku akan dihukum berdasarkan Pasal 81 ayat (3) UU Perlindungan Anak. Secara keseluruhan pelaku seharusnya mendapatkan pemberatan yang dirumuskan dalam pertimbangan majelis hakim. Hal ini sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap korban meskipun hanya bersifat abstrak (tidak langsung) untuk membuktikan bahwa implikasi Pasal 81 Ayat (3) UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak terpenuhi oleh pertimbangan Hakim.