BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN, ANALISIS

Teks penuh

(1)

16

BAB II

KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN, ANALISIS

A.

Kerangka Teori

1. Pengertian Perlindungan

Perlindungan adalah pemberian jaminan atas keamanan, ketentraman, kesejahteraan dan kedamaian dari pelindung atas segala bahaya yang

mengancam pihak yang dilindungi. Perlindungan hukum adalah hal perbuatan

melindungi menurut hukum.1

Perlindungan menurut peraturan perundang-undangan

a. Menurut Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

adalah Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup , tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

b. Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi

dan Korban adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.

c. Menurut PP No. 2 Tahun 2002 Tentang Tata Cara Perlindungan Korban

dan Saksi Pelanggaran HAM yang Berat adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat

1 Abintoro Prakoso, Pembaruan Sistem Peradilan Pidana Anak, Aswaja Pressindo,

(2)

17

keamanan untuk memberikan rasa aman baik fisik maupun mental, kepada korban dan saksi, dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun, yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan,

penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.

Perlindungan menurut para ahli diantaranya :

a. Menurut Satjipto Raharjo Perlindungan Hukum adalah memberikan

pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.2

b. Menurut Muktie A. Fadjar Perlindungan Hukum adalah penyempitan dari

arti perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkunganya. Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.3

2. Pengertian Anak Menurut Hukum

Anak yang berhadapan dengan hukum meliputi anak, anak korban dan anak saksi. Pengertian anak adalah anak yang berkonflik dengan hukum sebagai anak korban dimuat dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 angka 4, menjelaskan bahwa anak korban yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.4

2 Soetjipto Rahardjo, Permasalahan Hukum Di Indonesia, Alumni, Bandung, 1983, hlm.121. 3 Muktie, A.Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, 2005, hlm.74. 4 Abintoro Prakoso, Op. Cit., hlm.19.

(3)

18

Pengertian anak dalam kaitannya dengan perilaku delinkuensi anak, biasanya dilakukan dengan mendasarkan pada tingkatan usia, dalam arti tingkat usia berapakah seorang dapat dikategorikan sebagai anak. Anak memiliki karakteristik khusus (spesifik) dibandingkan dengan orang dewasa dan merupakan salah satu kelompok rentan yang haknya masih terabaikan, oleh karena itu hak-hak anak menjadi penting diprioritaskan.5

3. Perlindungan Hukum bagi Anak

Perlindungan anak adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental, dan sosial. Perlindungan anak merupakan perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat, dengan demikian perlindungan anak diusahakan dalam berbagai bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kegiatan perlindungan anak membawa akibat hukum, baik dalam kaitannya dengan hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Hukum merupakan jaminan bagi kegiatan perlindungan anak. Arif Gosita mengemukakan bahwa kepastian hukum perlu diusahakan demi kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan perlindungan anak.6

Perlindungan anak merupakan usaha dan kegiatan seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kedudukan dan peranan, yang menyadari betul pentingannya anak bagi nusa dan bangsa di kemudian hari.

5 Paulus Hadisuprapto, Delinkuensi Anak Pemahaman dan Penanggulangannya, Selaras,

Malang, 2010, hlm.11.

6 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak

(4)

19

Pelaksanaan perlindungan anak, harus memenuhi syarat antara lain: merupakan pengembangan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan anak, harus mempunyai landasan filsafat, etika, dan hukum, secara rasional positif, dapat dipertanggungjawabkan, bermanfaat untuk bersangkutan, mengutamakan prespektif kepentingan yang diatur bukan prespektif kepentingan yang mengatur, tidak bersifat aksidental dan komplimenter, tetapi harus dilakukan secara konsisten, mempunyai rencana operasional, memperhatikan unsur-unsur manajemen, melaksanakan respons keadilan yang restoratif (bersifat pemulihan) tidak merupakan wadah dan kesempatan orang mencari keuntungan pribadi/kelompok, anak diberi kesempatan untuk berpartisipasi sesuai situasi dan kondisinya.7

Dasar pelaksanaan perlindungan anak adalah:8

a. Dasar filosofis, pancasila dasar kegiatan dalam berbagai bidang kehidupan keluarga, bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa, serta dasar filosofis pelaksanaan perlindungan anak.

b. Dasar etis, pelaksanaan perlindungan anak harus sesuai dengan etika profesi yang berkaitan, untuk mencegah perilaku menyimpang dalam pelaksanaan kewenangan, kekuasaan, dan kekuatan dalam pelaksanaan perlindungan anak.

c. Dasar yuridis, pelaksanaan perlindungan anak harus didasarkan pada UUD 1945 dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku. Penerapan dasar yuridis ini harus secara integratif, yaitu penerapan terpadu menyangkut peraturan perundang-undangan dari berbagai bidang hukum yang berkaitan.

7 Ibid., hlm.37 8 Ibid., hlm.37

(5)

20

Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak (fundamental rights and freedoms of children) serta sebagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi, masalah perlindungan hukum bagi anak mencakup ruang lingkup yang sangat luas. Dari berbagai dokumen dan pertemuan internasional terlihat bahwa kebutuhan terhadap perlunya perlindungan hukum bagi anak dapat mencakup berbagai bidang/aspek, antara lain:9

1. Perlindungan terhadap hal-hak asasi dan kebebasan anak 2. Perlindungan anak dalam proses peradilan

3. Perlindungan kesejahteraan anak (dalam lingkungan keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial)

4. Perlindungan anak dalam masalah penahanan dan perampasan

kemerdekaan

5. Perlindungan anak dari segala bentuk eksploitasi (perbudakan, perdagangan anak, pelacuran, pornografi, perdagangan/penyalahgunaan obat-obatan, memperalat anak dalam melakukan kejahatan, dan sebagainya

6. Perlindungan terhadap anak-anak jalanan

7. Perlindungan anak dari akibat-akibat peperangan/konflik bersenjata 8. Perlindungan anak terhadap tindakan kekerasan

Menurut Arif Gosita perlindungan anak merupakan upaya-upaya yang mendukung terlaksananya hak-hak dan kewajiban. Seorang anak yang memperoleh dan mempertahankan hak untuk tumbuh dan berkembang dalam hidup secara berimbang dan positif, berarti mendapat perlakuan secara adil dan terhindar dari ancaman yang merugikan. Usaha-usaha perlindungan anak dapat

9 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum

(6)

21

merupakan suatu tindakan hukum yang mempunyai akibat hukum, sehingga menghindarkan anak dari tindakan orang tua yang sewenang-wenang.10

Melindungi anak adalah melindungi manusia, dan membangun manusia seutuhnya. Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia indonesia seutuhnya yang berbudi luhur. Mengabaikan perlindungan terhadap anak, berakibat dapat menimbulkan berbagai permasalhan sosial yang mengganggu penegakan hukum, ketertiban, keamanan, dan pembangunan nasional.

Dalam usaha perlindungan terhadap anak dapat dilakukan :11 a. Perlindungan secara langsung

Perlindungan secara langsung merupakan usaha yang langsung berkaitan dengan kepentingan anak antara lain pencegahan dari segala sesuatu yang dapat merugikan atau mengorbankan kepentingan anak disertai pengawasan supaya anak berkembang dengan baik dan penjagaan terhadap gangguan dari dalam dirinya dan luar dirinya.

b. Perlindungan tidak langsung.

Dalam hal ini yang ditangani bukanlah anak langsung, tetapi para partisipan lainnya dalam perlindungan anak. seperti para orang tua, petugas, pembina, dan lain sebagainya. Usaha-usaha perlindungan anak yang tidak langsung tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mencegah orang lain merugikan kepentingan anak melalui peraturan perundang-undangan.

2. Meningkatkan pengertian tentang hak dan kewajiban anak.

3. Pembinaan mental, fisik, sosial para partisipan lain, dalam rangka perlindungan anak.

10 Moch. Faisal Salam, Op. Cit, hlm.1. 11 Ibid, hlm.2-3.

(7)

22

4. Penindakan mereka yang menghalangi usaha perlindungan anak.

Penanganan kasus yang melibatkan anak-anak, juga harus dilakukan oleh pejabat khusus atau setidaknya mampu memahami kondisi anak. ini sesuai dengan ketentuan dalam hukum pidana dan kitab Undang-Undang hukum acara pidana. Menurut Prof. Dr. Barda N. Arief SH., Dosen Universitas Diponegoro menyatakan bahwa perlindungan bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi ana (fundamental rights and freedoms of children) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. jadi masalah perlindungan hukum bagi anak mencangkup ruang lingkup yang sangat luas. 12

Perlindungan anak bermanfaat bagi anak dan orang tuanya serta pemerintahnya, maka koordinasi kerjasama perlindungan anak perlu diadakan dalam rangka mencegah ketidakseimbangan kegiatan perlindungan anak secara keseluruhan. Abdul Hakim Garuda Nusantara, mengatakan bahwa masalah perlindungan hukum bagi anak-anak merupakan satu sisi pendekatan untuk melindungi anak-anak indonesia. Masalahnya tidak semata-mata bisa didekati secara yuridis, tapi perlu pendekatan lebih luas, yaitu ekonomi, sosial, dan budaya.13

Perlindungan anak berhubungan dengan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu :14

1. Luas lingkup perlindungan :

a) Perlindungan yang pokok meliputi antara lain : sandang, pangan, pemukiman, pendidikan, kesehatan, kesehatan, hukum.

b) Meliputi hal-hal yang jasmaniah dan rohaniah.

12 Ibid, hlm.3.

13 Maidin Gultom, Op.Cit, hlm.35. 14 Ibid, hlm.35-36.

(8)

23

c) Mengenai pula penggolongan keperluan yang primer dan sekunder yang berakibat pada prioritas pemenuhannya.

2. Jaminan pelaksanaan perlindungan :

a. Sewajarnya untuk mencapai hasil yang maksimal perlu ada jaminan terhadap pelaksanaan kegiatan perlindungan ini, yang dapat diketahui, dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perlindungan. b. Sebaiknya jaminan ini dituangkan dalam suatu peraturan tertulis baik

dalam bentuk Undang-Undang atau peraturan daerah, yang perumusannya sederhana tetapi dapat dipertanggungjawabkan serta disebarluaskan secara merata dalam masyarakat.

c. Pengaturan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi di Indonsia tanpa mengabaikan cara-cara perlindungan yang dilakukan negara lain, yang patut dipertimbangkan dan ditiru (peniruan yang kritis).

4. Kekerasan Terhadap Anak a. Pengertian Kekerasan

Kekerasan adalah suatu bentuk perbuatan yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik sehingga tergolong sebagai tindakan kriminal. Kekerasan biasanya terjadi ketika individu atau kelompok seringkali mengabaikan norma dan nilai dalam mencapai tujuannya. Kekerasan itu terjadi ketika seseorang bertindak dengan cara-cara yang tidak patut dan menggunakan kekuatan fisik yang melanggar hukum dan melukai diri sendiri, orang lain atau lingkungannya. Tindak kekerasan merupakan konsekuensi. Ia merupakan manifestasi dari jiwa dan hati yang kacau karena terganggu. Kegoncangan jiwa dan hati itu begitu kuat sehingga mengalahkan akal sehat. Dalam pengaruh seperti itu, individu betul-betul

(9)

24

dipengaruhi oleh nafsunya dan hanya memfokuskan pemikiran pada dirinya dan pelaku tidak mempedulikan keselamatan atau kesejahteraan orang lain.15

Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yang terbuka (over) atau tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan pada orang lain. Ada empat jenis kekerasan yang dapat diidentifikasi :16

a) Kekerasan terbuka yaitu kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian. b) Kekerasan tertutup yaitu kekerasan tersembunyi atau tidak dilakukan

langsung, seperti perilaku mengancam.

c) Kekerasan agresif yaitu kekerasan yang dilakukan bukan untuk

perlindungan tetapi untuk mendapatkan sesuatu, seperti penjarahan.

d) Kekerasan defensif yaitu kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan diri.

Galtung membedakan kekerasan menjadi dua, yaitu kekerasan personal dan kekerasan struktural. Sifat kekerasan personal adalah dinamis, midah diamati, memperhatikan fluktuasi yang hebat yang dapat menimbulkan perubahan. Sementara struktural sifatnya statis, memperlihatkan stabilitas tertentu yang sifatnya tidak tampak. Dalam masyarakat statis, kekerasan personal akan diperlihatkan, sementara kekerasan struktural dianggap wajar. Namun dalam masyarakat yang dinamis, kekerasan personal bisa dilihat sebagai hal yang berbahaya dan salah, sementara kekerasan struktural semakin nyata menampilkan dri.17

15 Abdurrahman Wahid, Islam Tanpa Kekerasan, LKS Yogyakarta, Yogyakarta, 1998, hlm.142. 16 Thomas Santoso, Teori-teori Kekerasan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002, hlm.11.

17 Marsana Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung Dalam Thomas

(10)

25

Galtung juga menguraikan enam dimensi dari kekerasan, yaitu sebagai berikut :18

a) Kekerasan fisik dan psikologis. Dalam kekerasan fisik, tubuh manusia disakiti secara jasmani bahkan sampai pada pembunuhan. Sedangkan kekerasan psikologis adalah tekanan yang dimaksudkan meredusir kemampuan mental atau otak.

b) Pengaruh positif dan negatif. Sistem orientasi imbalam (reward oriented) yang sebenarnya terdapat “pengendalian”, tidak bebas, kurang terbuka, dan cenderung manipulatif, meskipun memberikan kenikmatan.

c) Ada objek atau tidak. Dalam tindakan tertentu tetap ada ancaman kekerasan fisik dan psikologis, meskipun tidak memakan korban tetapi membatasi tindakan manusia.

d) Ada subjek atau tidak. Kekerasan disebut langsung atau personal jika tidak ada pelakunya, dan bila tidak ada pelakunya disebut struktural. Kekerasan tidak langsung sudah menjadi bagian struktur itu (strukturnya jelek) dan menampakan diri sebagai kekuasaan yang tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama.

e) Disengaja atau tidak. Bertitik berat pada akibat dan bukan tujuan, pemahaman yang hanya menekankan unsur sengaja atau tidak cukup melihat, mengatasi kekerasan struktural yang bekerja secara halus dan tidak disengaja. Dari sudut korban, sengaja atau tidak, kekerasan tetap kekerasan.

f) Yang tampak dan tersembunyi. Kekerasan yang tampak, nyata (manifest)

baik yang personal maupun yang struktural, dapat dilihat meski secara tidak langsung. Sedangkan kekerasan tersembunyi adalah sesuatu yang memang tidak kelihatan (latent), tetapi bisa dengan mudah meledak. Kekerasan tersembunyi akan terjadi jika situasi menjadi begitu tidak stabil sehingga tingkat realisasi aktual dapat menurun dengan mudah. Kekerasan

(11)

26

tersembunyi yang struktural terjadi ketika suatu struktur egalifer dapat dengan mudah diubah menjadi feodal, atau evolusi hasil dukungan militer yang hirarkis dapat berubah lagi menjadi struktur hirarkis setelah tantangan utama terlewati.

b. Bentuk-Bentuk Kekerasan

Menurut Martin R. Haskell dan Lewis Yablonsky mengemukakan adanya empat kategori yang mencakup hampir semua kekerasan, yakni :19

a) Kekerasan Legal kekerasan ini dapat berupa kekerasan yang didukung oleh hukum, misalnya tentara yang melakukan tugas dalam peperangan, maupun kekerasan yang dibenarkan secara legal, misalnya tindakan-tindakan tertentu untuk mempertahankan diri.

b) Kekerasan yang secara sosial memperoleh sanksi suatu faktor penting dalam menganalisa kekerasan adalah tingkat dukungan atau sanksi sosial terhadapnya. Misalnya tindakan kekerasan seorang suami atas perzinaan akan memperoleh dukungan sosial.

c) Kekerasan rasional beberapa tindakan kekerasan yang tidak legal akan tetapi tidak ada sanksi sosialnya adalah kejahatan yang dipandang rasional dalam konteks kejahatan. Misalnya pembunuhan dalam rangka suatu kejahatan terorganisasi.

d) Kekerasan yang tidak berperasaan (irrational violence) terjadi tanpa adanya provokasi terlebih dahulu, tanpa memeperhatikan motivasi tertentu dan pada umumnya korban tidak dikenal oleh pelakunya. Berdasarkan pernyataan ini, pada intinya suatu tindakan kekerasan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat tetapi juga dilakukan oleh aparat penegak negara yang diberikan wewenang untuk itu. Tempat terjadinya tindak kekerasan inipun

19 Mulyana W. Kusuma, Analisa Kriminologi Tentang Kejahatan-Kejahatan Kekerasan, Ghalia

(12)

27

sangat bervariasi tidak hanya pada tempat-tempat rawan tetapi juga di tempat umum seperti perkantoran, rumah sakit, lembaga pendidikan, bahkan sampai terjadi dalam lingkup rumah tangga atau keluarga.

Bentuk-bentuk kekerasan juga dapat digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu:20

a) Kekerasan fisik : pemukulan, pengeroyokan, penggunakan senjata untuk melukai, penyiksaan, penggunaan obat untuk menyakiti, penghancuran fisik, pembunuhan, dengan segala manifestasinya.

b) Kekerasan seksual/reproduksi : serangan atau upaya fisik untuk melukai pada alat seksual/reproduksi, ataupun serangan psikologis kegiatan merendahkan atau menghina yang diarahkan pada penghayatan seksual subjek. Misal manipulasi seksual pendidikan anak, pemaksaan hubungan seksual/pemerkosaan, sadisme dalam relasi seksual, mutilasi alat seksual, pemaksaan aborsi, penghamilan paksa, dan bentuk-bentuk lain.

c) Kekerasan psikologis : penyerangan harga diri, penghancuran motivasi, perendahan, kegiatan mempermalukan, upaya membuat kuat, teror dalam banyak manifestasinya. Misal makian kata-kata kasar, ancaman, penguntitan, penghinaan dan banyak bentuk kekerasan fisik/seksual yang berdampak psikologis (penelanjangan,pemerkosaan).

d) Kekerasan deprivasi : penelantaran kebutuhan dasar dalam berbagai bentuknya, seperti pengurungan, pembiaran tanpa makanan dan minuman, pembiaran orang sakit terus.

c. Pasal Tindak Pidana Kekerasan

Pasal mengenai tindak pidana kekerasan terhadap anak lebih spesifik di ataur didalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas

20 E. Kristi Poerwandari, Mengungkap Selubung Kekerasan Telaah Filsafat Manusia,

(13)

28

Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yaitu terdapat pada

Pasal 76C “setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak”

Pasal 76E “setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul”

Pasal 80 ayat (1) “setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah)”

Pasal 80 ayat (2) “dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”

Pasal 82 ayat (1) “setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”

Pasal 82 ayat (2) “dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”

5. Hak-Hak Anak

Masalah perlindungan hukum dan hak-haknya bagi anak-anak merupakan salah satu sisi pendekatan untuk melindungi anak-anak indonesia. Agar perlindungan hak-hak anak dapat dilakukan secara teratur, tertib dan

(14)

29

bertanggungjawab maka diperlakukan peraturan hukum yang selaras dengan perkembangan masyarakat indonesia yang dijiwai sepenuhnya oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Undang-Undang Perlindungan Anak menegaskan bahwa

pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus demi terlindunginya hak-hak anak. Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara. Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Anak menentukan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berdasarkan pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar konvensi hak-hak anak yang meliputi :21

1) Non diskriminasi

2) Kepentingan yang terbaik bagi anak, dimana yang dimaksud dengan asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, dan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama

3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, dimana yang dimaksud dengan asas hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua

21 Andika Wijaya dan Wida Peace Ananta, Darurat Kejahatan Seksual, Sinar Grafika, Jakarta,

(15)

30

4) Penghargaan terhadap pendapat anak, yaitu penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupanya.

Pada tanggal 20 november 1959 Idang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mensahkan Deklarasi tentang Hak-Hak anak. Dalam Mukadimah Deklarasi ini, tersirat bahwa umat manusia berkewajiban memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Deklarasi ini memuat 10 (sepuluh) asas tentang hak-hak anak, yaitu :22

1) Anak berhak menikmati semua hak-haknya sesuai ketentuan yang

terkandung dalam deklarasi ini. Setiap anak tanpa pengecualian harus dijamin hak-haknya tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik, kebangsaan, tingkatan sosial, kaya miskin, kelahiran atau status lain, baik yang ada pada dirinya maupun pada keluarganya.

2) Anak berhak memperoleh perlindungan khusus dan harus memperoleh kesempatan yang dijamin oleh hukum dan sarana lain, agar menjadikannya mampu untuk mengembangakn diri secara fisik, kejiwaan, moral, spiritual dan kemasyarakatan dalam situasi yang sehat, normal sesuai dengan kebebasan dan harkatnya. Penuangan tujuan itu kedalam hukum, kepentingan terbaik atas diri anak harus merupakan pertimbangan utama. 3) Anak sejak dilahirkan berhak akan nama dan kebangsaan.

4) Anak berhak dan harus dijamin secara kemasyarakatan untuk tumbuh kembang secara sehat. Untuk ini baik sebelum maupun setelah kelahirannya harus ada perawatan dan perlindungan khusu bagi anak dan ibunya. Anak

22 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak

(16)

31

berhak mendapat gizi yang cukup, perumahan, rekreasi dan pelayanan kesehatan.

5) Anak yang cacat fisik, mental dan lemah kedudukan sosialnya akibat keadaan tertentu harus memperoleh pendidikan, perawatan dan perlakuan khusus.

6) Agar kepribadian anak tumbuh secara maksimal dan harmonis, ia

memerlukan kasih sayang dan pengertian. Sedapat mungkin ia harus dibesarkan dibawah asuhan dan tanggungjawab orang tuanya sendiri, dan bagaimanapun harus diusahakan agar tetap berada dalam suasana yang penuh kasih sayang, sehat jasmani dan rohani. Anak dbawah usia lima tahun tidak dibenarkan terpisah dari ibunya. Masyarakat dan pemerintah yang berwenang berkewajiban memberikan perawatan khusus kepada anak yang tidak memiliki keluarga dan kepada anak yang tidak mampu. Diharapkan agar pemerintah atau pihak lain memberikan bantuan pembiayaan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga besar.

7) Anak berhak mendapatkan pendidikan wajib secara Cuma-Cuma

sekurang-kurangnya di tingkat sekolah dasar. Mereka harus mendapat perlindungan

yang dapat meningkatkan pengetahuan umumnya, dan yang

memungkinkan, atas dasar kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuanya, pendapat pribadinya, dan perasaan tanggungjawab moral dan sosialnya, sehingga mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Kepentingan anak haruslah dijadikan pedoman oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dan bimbingan anak yang bersangkutan: pertama-tama tanggung jawab tersebut terletak pada orang tua mereka. Anak harus mempunyai kesempatan yang leluasa untuk bermain dan berekreasi yang diarahkan untuk tujuan pendidikan, masyarakat dan pemerintah yang berwenang harus berusaha meningkatkan pelaksanaan hak ini.

(17)

32

8) Dalam keadaan apapun anak harus didahulukan dalam menerima

perlindungan dan pertolongan.

9) Anak harus dilindungi dari segala bentuk kealpaan, kekerasan,

penghisapan. Ia tidak boleh dijadikan subyek perdagangan. Anak tidak boleh bekerja sebelum usia tertentu, ia tidak boleh dilibatkan dalam pekerjaan yang dapat merugikan kesehatan atau pendidikannya, maupun yang dapat memepengaruhi perkembangan tubuh, jiwa dan akhlaknya. 10) Anak harus dilindungi dari perbuatanya yang mengarah kedalam bentuk

diskriminasi sosial, agama maupun bentuk-bentuk diskriminasi lainnya. Mereka harus dibesarkan di dalam semangat penuh pngertian, toleransi dan persahabtan antarbangsa, perdamaian serta persaudaraan semesta dengan penuh kesadaran bahwa tenaga bakatnya harus diabdikan kepada sesama manusia.

Menurut Van Boven hak-hak para korban adalah hak untuk tahu, hak atas keadilan, dan hak atas reparasi (pemulihan), yaitu hak yang menunjukkepada semua tipe pemulihan baik material maupun nonmaterial bagi para korban pelanggaran hak asasi manusia. Hak-hak tersebut telah terdapat dalam berbagai instrumen-instrumen hak asasi manusia yang berlaku dan juga terdapat dalam yurisprudensi komite-komite hak asasi manusia internasional maupun pengadilan regional hak asasi manusia.23

Beberapa faktor pendukung dalam usaha pengembangan hak-hak anak dalam peradilan pidana adalah :24

1) Dasar pemikiran yang mendukung Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945,

Garis-garis Besar Haluan Negara, ajaran agama, nilai-nilai sosial yang

23 Bambang Waluyo, Loc. Cit.,hlm.43.

(18)

33

positif mengenai anak, norma-norma (deklarasi hak-hak anak, Undang-Undang Kesejahteraan Anak).

2) Berkembangnya kesadaran bahwa permasalhan anak adalah permasalhan nasional yang harus ditangani sedini mungkin secara bersama-sama, intersektoral, interdisipliner, interdepartemental.

3) Penyuluhan, pembinaan, pendidikan dan pengajaran mengenai anak

termasuk pengembangan mata kuliah Hukum Perlindungan Anak, usaha-usaha perlindungan anak, meningkatkan perhatian terhadap kepentingan anak.

4) Pemerintah bersama-sama masyarakat memperluas usaha-usaha nyata

dalam menyediakan fasilitas bagi perlindungan anak.

6. Dasar Pertimbangan Hakim

Hakim yang menangani perkara pidana anak sedapat mungkin mengambil tindakan yang tidak memisahkan anak dari orangtuanya. Hakim seyogianya benar-benar teliti dan mengetahui segala latar belakang anak sebelum sidang

dilakukan. Dalam mengambil putusan, hakim harus benar-benar

memperhatikan kedewasaan emosional, mental, dan intelektual anak. Dihindarkan putusan hakim yang mengakibatkan penderitaan batin seumur hidup atau dendam pada anak, atas kesadaran bahwa putusan hakim bermotif perlindungan.25

Pokok Kekuasaan Kehakiman diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab IX Pasal 24 dan Pasal 25 serta di dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009. Undang-Undang Dasar 1945 menjamin adanya suatu Kekuasaan Kehakiman yang bebas. Hal ini tegas dicantumkan dalam Pasal 24 terutama dalam Penjelasan Pasal 24 ayat (1) dan penjelasan Pasal 1 ayat (1) UU No. 48

(19)

34

Tahun 2009, yaitu Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan Negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.

Hakim dalam memberikan putusan tidak hanya berdasarkan pada nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, hal ini dijelaskan dalam Pasal 28 ayat (1) UU No.48 Tahun 2009 yaitu: “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat”. Hakim oleh karena itu dalam memberikan putusan harus berdasar penafsiran hukum yang sesuai dengan rasa keadilan yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam masyarakat, juga faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor budaya, sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain. Dengan demikian seorang hakim dalam memberikan putusan dalam kasus yang sama dapat berbeda karena antara hakim yang satu dengan yang lainnya mempunyai cara pandang serta dasar pertimbangan yang berbeda pula. Dalam doktrin hukum pidana sesungguhnya ada yang dapat dijadikan pedoman sementara waktu sebelum KUHP Nasional diberlakukan. Pedoman tersebut dalam konsep KUHP baru Pasal 55 ayat (1), yaitu:

a. Kesalahan pembuat tindak pidana;

b. Motif dan tujuan melakukan tindak pidana; c. Sikap batin pembuat tindak pidana;

d. Apakah tindak pidana dilakukan berencana; e. Cara melakukan tindak pidana;

(20)

35

g. Riwayat hidup dan keadaan sosial dan ekonomi pembuat tindak pidana; h. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana;

i. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban; j. Pemaafan dari korban atau keluarganya;

k. Pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan.

Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat juga karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar itu harus ditegakkan. Melalui penegakan hukum inilah hukum menjadi kenyataan. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan, yaitu:26

1. Kepastian hukum (rechtssicherheit) 2. Kemanfaatan (Zweckmassigkeit) 3. Keadilan (Gerechtighkeit).

Menurut Mackenzie bahwa dalam mempertimbangan penjatuhan pidana, maka dikenal beberapa teori atau pendekatan, diantaranya adalah teori keseimbangan yang artinya keseimbangan disini adalah keseimbangan antara syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang kepentingan pihak-pihak yang tersangkut paut atau berkaitan dengan kepentingan masyarakat, kepentingan terdakwa dan kepentingan korban.27

26 Binsar Gultom, Pandangan Seorang Hakim, Penegakan Hukum Di Indonesia, Pustaka

Bangsa Press, Medan, 2006, hlm. 12.

(21)

36

Menurut Wiryono Kusumo, pertimbangan atau yang serin disebut juga considerans merupakan dasar putusan hakim atau argumentasi hakim dalam memutuskan suatu perkara. Jika argumen hukum itu tidak benar dan tidak sepantasnya (proper), maka orang kemudian dapat menilai bahwa putusan itu tidak benar dan tidak adil. Kemudian menurut Sudikno Mertokusumo, secara sederhana putusan hakim mencakup irah-irah dan kepala putusan, pertimbangan, dan amar. Dari cakupan itu, yang dipandang sebagai dasar putusan adalah pertimbangan. Alasan-alasan yang kuat dalam pertimbangan sebagai dasar putusan sang hakim menjadi objektif dan berwibawa.28

Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan dapat digunakan sebagai bahan analisis tentang orientasi yang dimiliki hakim dalam menjatuhkan putusan juga sangat penting untuk melihat bagaimana putusan yang dijatuhkan itu relevan dengan tujuan pemidanaan yang telah ditentukan. Dalam menjatuhkan pidana kepada terdakwa khusunya anak perlu ditangani secara khusus dalam rangka memberikan perlindungan dan kesejahteraan anak, mengingat sifat-sifat emosional anak masih belum stabil serta masih belum dapat membedakan perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Salah satu aspek yang terkait peranan hakim dalam peradilan pidana adalah terkait dengan jenis-jenis pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak.

B.

Hasil Penelitian

a. Dakwaan

Bahwa terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu tertentu dalam bulan Oktober tahun 2015 bertempat di kebun belakang

28 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2005,

(22)

37

Sekolahan sebelah selatan SD Negeri 01 Pondowan Kec.Tayu yang berada di desa Pondowan Kec.Tayu Kab.Pati atau setidaktidaknya disuatu tempat lain dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Pati, telah menempatkan, membiarkan,melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak hingga mengakibatkan luka berat , dimana perbuatan terdakwa tersebut dilakukan dengan cara antara lain sebagai berikut :

a) Bahwa berawal pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 wib ketika anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI bersama dengan teman – temannya yang lain yaitu anak YOHAN BUDI PRATAMA , anak IMAM MUSTOFA FAJAR MAULANA als TOPA , anak YUDHA NUGRAHA dan anak TOYIBUL UMAM als OIK sedang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolahannya dan saat itu anak korban sedang mengobrol bersama dengan teman – temannya dibelakang pagar sekolahan SDN N 01 Pondowan Kec.Tayu Kab.Pati telah melihat anak IMAM MUSTOFA FAJAR MAULANA als TOPA memanjat pohon durian di kebun belakang sekolahan sebelah selatan , kemudian anak korban menegur anak IMAM MUSTOFA FAJAR MAULANA als TOPA dengan mengatakan “ TOP…. ape ono gurune “ (TOP… Mau ada gurunya) tetapi anak IMAM MUSTOFA FAJAR MAULANA als TOPA tidak mendengar perkataan anak korban , kemudian selang beberapa saat kemudian anak korban mendengar ada suara orang jalan diantara semak – semak dan saat itu anak korban melihat anak IMAM MUSTOFA FAJAR MAULANA als TOPA sudah tueun dari pohon durian dan lari menuju ke jalan raya namun saat itu langsung terdakwa datang dan melepar kelapa muda sebesar kepala tangan (bluluk) kearah anak korban dan mengenai leher belakang/tengkuk anak korban sambil terdakwa mengatakan “ modar kowe “ (Mati kamu) , dan saat itu anak korban menjadi kaget/ takut dan langsung ikut lari berbaur dengan teman – temannya anak korban yang lain menuju ke halaman

(23)

38

sekolah dan saat itu anak korban melihat terdakwa masih mengejar sehingga aak korban dan teman – temannya yang lain pada lari berpencar namun saat itu anak korban terjatuh lagi didepan gerbang sekolah hingga kaki anak korban menjadi sakit lalu saat itu terdakwa langsung memegang /mencengkeram kaos anak korban sambil tangan kanannya mencekik leher anak korban sampai anak korban tidak bisa bernafas , lalu setelah itu terdakwa langsung menarik paksa anak korban menuju taman depan sekolahan sambil terdakwa menampar dengan tangan kanan terdakwa mengenai pelipis sebelah kanan , di pukul dengan tangan mengenai lengan sebelah kiri atas serta menampar kepala belakang anak korban berulang kali dan setelah itu terdakwa mendorong anak korban hingga anak korban terjatuh dan kepalanya membentur tembok taman . Bahwa saat itu terdakwa masih marah – marah kepada anak korban sambiol mengatakan “ kowe iku lakon, naming lakon asu, kowe iku murid – murid bajingan , asu , picek, kakeane , modar “ (kamu itu kelakuan , tetapi kelakuan anjing , kamu itumurid – murid bajingan , anjing , buta mata , kurang ajar ,mati) , lalu dijawab oleh anak korban dengan mengatakan “ aku ora mundut durene jenengan, teng tegal kulo mpun gadah” (saya tidak mengambil durian bapak , di kebun saya sendiri punya) namun terdakwa tetap memaki – maki anak korban sambil mengatakan “ taek ah “ (tai ah) dan setelah itu terdakwa meninggalkan anak korban menuju pulang kerumah , kemudian teman – teman anak korban menghampiri anak korban dan membujuk anak korban agar tidak menangis lagi lalu setelah itu anak korban dan teman – temannya mengikuti kegiatan ekstra kulikuler bola volley dihalaman sekolahan namun karena anak korban masih terasa sakit jadi tidak mengikuti kegianatan ekstra kulikuler bola voly untuk set yang pertama namun untuk set yag berikutnya anak korban sudah bisa mengikuti dan saat itu anak korban juga sempat menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada guru ekstar kulikuler.

(24)

39

b) Bahwa pada saat terdakwa melakukan perbuatan tersebut diatas kepada anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI masih berusia 12 (dua belas) tahun sebagaimana kutipan akta kelahiran nomor : 2797/20003 yang dibuat oleh kantor Catatan Sipil Kabupaten Pati yang menerangkan bahwa NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI lahir pada tanggal 07 Mei 2003 dan akibat perbuatan terdakwa tersebut maka anak korban menderita luka sebagaimana SURAT KETERANGAN HASIL PEMERIKSAAN nomor : 445/41711/2015 tanggal 20 Nopember yang dibuat dan ditanda tangani oleh dokter SUNARYO,Sp.S,M.Kes selaku dokter pada RSUD RAA SOEWONDO PATI dengan kesimpulan kelainan – cacat – luka – luka yang dialami oleh anak korban disebekan oleh benturan yang mengenai kepala (Terlampir dalam berkas perkara); Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Dakwaan primair pasal 76 C jo pasal 80 ayat (2) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dakwaan subsidair Pasal 76 C jo Pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

b. Fakta Persidangan

 Bahwa benar menurut pengakuan anak saksi yang bernama anak korban

NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI kekerasan fisik yang dilakukan terdakwa terhadap anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI tersebut terjadi pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2015 sekitar jam 16.00 wib di belakang SD Negeri 01 Pondowan Kec.Tayu Kab.Pati serta didalam lingkup (halaman) sekolahan.

(25)

40

 Bahwa benar menurut pengakuan anak korban NAUVAL HAIDAR bin

ACHMAD SANUSI , sebelumnya anak saksi terkena lemparan bluluk sebesar kepalan tangan orang dewasa dan mengenai kepala bagian belakang

 Bahwa benar menurut pengakuan anak saksi , anak saksi saat itu sempat

lari dan dikejar oleh terdakwa dan terjatuh sehingga terdakwa sempat memegannya lalu terdakwa memegangi kaki serta krah kaos depan anak saksi dan menyeretnya kedalam sekolahan

 Bahwa benar selain itu menurut keterangan anak saksi , kalau anak saksi

saat didalam lingkungan sekolahan sempat dipukuli pada bagian kepala.

 Bahwa benar menurut pengakuan anak saksi, kalau anak saksi terkena lemparan bluluk sebanyak sekali

SURAT : sesuai dengan ketentuan pasal 187 KUHAP huruf C visum et repertum No.445/4171/2015 yang dibuat dan ditanda tangani oleh dokter dr. SUNARYO,Sp.S,M.Kes selaku dokter pada RSUD RAA SOEWONDO PATI pada tanggal 20 Nopember 2015 dengan hasil pemeriksaan :

1) Keluhan Utama nyeri Kepala post cedera kepala sedabf (CKS); 2) Hasil CT Scan : Edema cerebi ;

3) Pemeriksaan : Kekuatan 5 5 5 5 Reflek Patologis + - Romberg test (+) KESIMPULAN

Kelainan – cacat – luka – luka yang tersebut diatas disebabkan oleh benturan yang mengenai kepala

(26)

41

Menimbang, bahwa selanjutnya penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana (requisitoir) tertanggal 03 MARET 2016 Nomor: Reg.Perk.PDM-04/ Pati/Ep.3/01/2016 yang pada pokoknya berisikan:

1. Menyatakan terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO tidak terbukti bersalah melanggar pasal 76 C jo pasal 80 ayat (2) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam dakwaan PRIMAIR 2. Membebaskan terdakwa dari dakwaan PRIMAIR 3. Menyatakan SUDIYANTO bin SUTRIMO bersalah melakukan tindak

pidana telah melakukan kekerasan terhadap anak sebagaimana diatur dalam pasal 76 C jo pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

4. Menjatuhkan pidana terhadap SUDIYANTO bin SUTRIMO dengan pidana penjara selama : 4 ( empat ) Bulan dengan perintah terdakwa agar segera ditahan dan denda sebesar Rp 1.000.000,- Subsider 1(satu) bulan Kurungan . 5. Menetapkan barang bukti berupa :

a. 1 (satu) buah kaos olah raga warna pink , bagian depan bertuliskan “ QATAR ALWAYS “ dan bagian belakang bertuliskan “ BARCA “

b. 1 (SATU) BUAH CELANA PENDEK WARNA HITAM Dikembalikan kepada anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI melalui saksi Dra.TITIK SUPRIYANI.

c. (dua) buah bluluk (buah kelapa kering) . Dirampas untuk dimusnahkan

6.Menetapkan SUDIYANTO bin SUTRIMO membayar biaya perkara masing sebesar Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah)

Menimbang, bahwa atas tuntutan pidana Penuntut Umum tersebut terdakwa mengajukan pembelaan secara lisan yang pada pokoknya menyatakan bahwa terdakwa merasa khilaf dan bersalah atas apa yang dilakukan, menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulanginya lagi, terdakwa sebagai tulang

(27)

42

punggung keluarga, punya tanggungan ayah yang kena penyakit struk, antara korban dan terdakwa telah saling meminta maaf untuk itu mohon kepada Majelis hakim memberikan hukuman yang seringanringannya kepada terdakwa, dan jika Majelis berpendapat lain mohon divonis dengan hukuman yang seadil-adilnya;

Menimbang, bahwa atas pembelaan terdakwa tersebut Penuntut Umum mengajukan Replik yang diajukan secara lisan yang menyatakan Tetap pada Tuntutannya dan atas Replik tersebut terdakwa mengajukan Duplik yang diajukan secara lisan yang pada pokoknya menyatakan tetap pada pembelaanya.

d. Pertimbangan

Menimbang , bahwa terdakwa telah didakwa dengan dakwaan Subsidaritas yaitu Primair melanggar pasal 76C jo 80 ayat (2) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak Subsidair pasal 76C jo 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak

Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan Primair terlebih dahulu yaitu melanggar pasal 80 ayat (2)Undang-undang RI No.23 Tahun 2002 dengan unsure-unsur sebagai berikut: 1. Setiap Orang;

2. “Dilarang menempatkan, membiarkan melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan, Terhadap Anak hingga mengakibatkan luka berat”.

(28)

43 Ad. Unsur “ Setiap Orang“

Pengertian Setiap Orang adalah menunjukan orang sebagai subyek pendukung hak dan kewajiban yang diduga melakukan suatu tindak pidana disidik dan dihadapkan dipersidangan;

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, serta alat bukti yang diajukan dalam persidangan bahwa terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO adalah subyek atau pelaku tindak pidana yang dimaksud telah sesuai dengan identitas terdakwa dalam persidangan;

Bahwa dalam persidangan terdakwa dapat menjawab pertanyaan dari Majelis dan Jaksa dengan baik, sehat lahir bathin dan tidak ditemukan adanya suatu alasan pemaaf yang dapat meniadakan hukuman bagi terdakwa sehingga Majelis berkeyakinan terdakwa bisa mempertanggung jawabkan perbuatanya dihadapan hukum;

Menimbang bahwa dengan pertimbangan diatas Majelis berpendapat bahwa unsur Setiap Orang telah terbukti;

Ad. Unsur “Dilarang menempatkan, membiarkan melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan, Terhadap Anak hingga mengakibatkan luka berat”

Menimbang, bahwa unsure ini bersifat Alternatif jika salah satu bagian unsure terbukti maka semua jalinan dalam unsure dinyatakan telah terbukti.

Menimbang, bahwa Pengertian Dilarang menempatkan, membiarkan melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan, Terhadap Anak hingga mengakibatkan luka berat “menurut yurisprudensi ialah perbuatan dengan sengaja yang menimbulkan rasa tidak enak, rasa sakit atau luka, atau perbuatan dengan sengaja merusak kesehatan seorang anak; Pengertian “Dengan Sengaja” adalah adanya niat si pelaku dengan

(29)

44

kesadarannya yang ditujukan terhadap seluruh kejahatan itu, artinya memang ada disengaja oleh si pelaku untuk melakukan sejak semula, selain itu pelaku menyadari dan mengetahui akibat dari perbuatannya yaitu bisa menyebabkan korban menjadi sakit atau luka;

Menimbang, bahwa unsur esensial dalam pasal ini adalah penganiayaan yang dilakukan mengakibatkan luka berat;

Menimbang, bahwa sebagaimana ketentuan pasal 90 KUHP dimana yang dimaksud luka berat yaitu:

 Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh

sama sekali , atau yang menimbulkan bahaya maut.

 Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau

pekerjaan pencarian

 Kehilangan salah satu panca indera

 Mendapat cacat berat (vermiking)

 Menderita sakit lumpuh

 Terganggunya daya pikir selama empat minggu

 Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.

Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan Bahwa pada saat terdakwa melakukan perbuatan tersebut diatas kepada anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI masih berusia 12 (dua belas) tahun sebagaimana kutipan akta kelahiran nomor : 2797/2003 yang dibuat oleh kantor Catatan Sipil Kabupaten Pati yang menerangkan bahwa NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI lahir pada tanggal 07 Mei 2003 dan akibat perbuatan terdakwa tersebut maka anak korban menderita luka sebagaimana SURAT KETERANGAN HASIL PEMERIKSAAN nomor : 445/41711/2015 tanggal 20 Nopember 2015 yang dibuat dan ditanda tangani oleh dokter SUNARYO,Sp.S,M.Kes selaku dokter pada RSUD RAA

(30)

45

SOEWONDO PATI dengan kesimpulan kelainan – cacat– luka – luka yang dialami oleh anak korban disebabkan oleh benturan yang mengenai kepala, dan setelah menjalani pemeriksaan dan perawatan di RSUD Suwondo Pati sudah sehat dan termasuk kategori ringan;

Menimbang, bahwa dengan pertimbangan dia atas Majelis berkeyakinan unsure ini tidak terbukti sehingga dalam hal ini dalam unsur kedua ini , bahwa anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI tidak termasuk dalam kategori luka berat sebagaimana pasal 90 KUHP sehingga unsure ini tidak dapat terpenuhi.

Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan Subsidair pasal 76 C jo pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan Unsur-unsur:

1. Setiap Orang;

2. “Dilarang menempatkan, membiarkan melakukan, menyuruh melakukan,

atau turut serta melakukan Kekerasan, Terhadap Anak hingga mengakibatkan lukat”

Menimbang, bahwa unsure “Setiap Orang” dalam dakwaan Primair telah dipertimbangkan dan terbukti maka secara mutatis mutandis diambil alih pertimbangannya dalam dakwaan subsidair sehingga Unsur Setiap Orang dalam dakwaan Subsidair dianggap telah terbukti

Menimbang, bahwa selanjutnya Unsur Dilarang menempatkan,

membiarkan melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan, Terhadap Anak hingga mengakibatkan luka”

(31)

46 MENGADILI

1. Menyatakan Terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO tersebut diatas, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pasal 76 C jo pasal 80 ayat (2) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam dakwaan PRIMAIR; 2. Membebaskan terdakwa oleh karena itu dari dakwaan PRIMAIR tersebut; 3. Menyatakan Terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO bersalah melakukan tindak pidana telah melakukan kekerasan terhadap anak sebagaimana diatur

dalam pasal 76 C jo pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang

perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;

4. Menjatuhkan pidana terhadap SUDIYANTO bin SUTRIMO dengan pidana penjara selama : 2 (dua) Bulan dan denda sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) Dengar ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1(satu) bulan.

5. Menetapkan barang bukti berupa :

a. 1 (satu) buah kaos olah raga warna pink , bagian depan bertuliskan “ QATAR ALWAYS “ dan bagian belakang bertuliskan “ BARCA “.

b. 1 (SATU) BUAH CELANA PENDEK WARNA HITAM Dikembalikan kepada anak korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI melalui saksi Dra.TITIK SUPRIYANI.

C. 2 (dua) buah bluluk (buah kelapa kering) . Dirampas untuk dimusnahkan;

6. Membebankan kepada terdakwa SUDIYANTO bin SUTRIMO membayar biaya perkara sebesar Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah

(32)

47

C.

Analisis

Pemidanaan bisa diartikan sebagai tahap penetapan sanksi dan juga tahap pemberian sanksi dalam hukum pidana. Kata “pidana” pada umumnya diartikan sebagai hukum, sedangkan “pemidanaan” diartikan sebagai penghukuman.

Pemidanaan sebagai suatu tindakan terhadap seorang penjahat, dapat dibenarkan secara normal bukan terutama karena pemidanaan itu mengandung konsekuensi-konsekuensi positif bagi si terpidana, korban, dan juga masyarakat. Karena itu teori ini disebut juga teori konsekuensialisme. Pidana dijatuhkan bukan karena telah berbuat jahat tetapi agar pelaku kejahatan tidak lagi berbuat jahat dan orang lain takut melakukan kejahatan serupa.

Pernyataan di atas, terlihat bahwa pemidanaan itu sama sekali bukan dimaksudkan sebagai upaya balas dendam melainkan sebagai upaya pembinaan bagi seorang pelaku kejahatan sekaligus sebagai upaya preventif terhadap terjadinya kejahatan serupa. Pemberian pidana atau pemidanaan dapat benar-benar terwujud apabila melihat beberapa tahap perencanaan sebagai berikut :

1. Pemberian pidana oleh pembuat undang-undang;

2. Pemberian pidana oleh badan yang berwenang;

3. Pemberian pidana oleh instansi pelaksana yang berwenang.

Didalam putusan hakim hanya menjatuhkan hukuman dengan Menyatakan SUDIYANTO bin SUTRIMO bersalah melakukan tindak pidana telah melakukan kekerasan terhadap anak sebagaimana diatur dalam pasal 76 C jo pasal 80 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tetapi mengapa hakim hanya menjauhi hukuman ringan kepada tersangka, sedangkan tersangka adalah seorang guru dan seharusnya bisa dihukum berat.

(33)

48

Kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa tersebut mencerminkan kualitas guru yang kurang profesional dalam bekerja, karena tidak mampu memisahkan antara pekerjaan dengan permasalahan pribadi yang dialaminya.

Siswa yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru di sekolahnya membawa dampak yang kurang baik, tidak hanya bagi siswa secara pribadi, namun juga bagi orang tua siswa. Bagi siswa, dampak yang ditimbulkan secara langsung adalah perasaan takut terhadap guru yang pernah melakukan tindak kekerasan terhadapnya. Perasaan takut yang timbul karena kekerasan yang pernah dialaminya, membawa dampak yang lebih luas yaitu berkurangnya motifasi siswa untuk belajar di sekolah.

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya bukan hanya sebatas membawa dampak buruk bagi siswa sebagai korbannya, namun juga akan menimbulkan respon dan dampak berbagai pihak, yaitu antara lain dari internal sekolahan dan keluarga siswa yang menjadi korban. Dampak yang ditimbulkan akibat kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya bagi orang tua korban akan hilangnya kepercayaan terhadap pihak sekolahan dan bagi korban akan mengakibatkan korban trauma terhadap kekerasan yang terjadi. Lingkungan sekolahan yang seharunya menjadi tempat belajar dan memberikan contoh yang baik menjadi tempat yang tidak nyaman dan memberikan rasa takut bagi siswa korban kekerasan.

Guru yang menjadi pelaku kekrasan terhadap siswanya hingga mengakibatkan korban terluka tidak sepatutnya dihukum dengan sangat rendah, karena masa depan anak sangatlah masih panjang. Dengan adanya perlakukan kekerasan tersebut membuat anak yang menjadi korban menjadi takut untuk melanjutkan sekolahnya, dan dengan pelaku yang hanya dijatuhi hukuman rendah membuat perlindungan bagi anak tidak ada. Karena dengan adanya hukuman segitu hanya guru yang di berikan perlindungan dikarenakan seorang

(34)

49

guru, tetapi siswa yang menjadi korban tidak mendapat keadilan yang seharunya didapatkan.

Hukuman merupakan efek jera bagi pelaku atas perbuatannya, tetapi jika hanya hukuman yang rendah bagi saya belum memberikan efek jera bagi pelaku. Dikarenakan perbuatanya yang sudah jelas terbukti melawan hukum dan membuat korban terluka seharusnya pelaku dihukum dengan setimpal.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur tentang hak-hak anak dimana hak anak dalam Undang-Undang ini diatur dalam Bab III bagian kesepuluh, pasal 52-66, yang meliputi:

a) Hak atas perlindungan

b) Hak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf

kehidupannya.

c) Hak atas suatu nama dan status kewarganegaraan. d) Bagi anak yang cacat fisik dan atau mental hak:

1. memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus. untuk menjamin kehidupannya sesuai dengan martabat kemanusiaan, 2. berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara.

3. Hak untuk beribadah menurut agamanya.

e) Hak untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, dididik, diarahkan, dan dibimbing.

f) Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.

g) Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

h) Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.

i) Hak untuk tidak dirampas kebebasannya secara melawan hukum.

Dengan adanya hak-hak bagi korban maka seharusnya hakim dalam mempertimbangkan tidak hanya memperhatikan hak-hak bagi pelaku saja

(35)

50

tetapi juga yang utama memperhatikan hak-hak korban yang seharunya mendapatkan perlindungan.

Unsur kekerasan yang terjadi ketika pelaku melempar kepala korban dengan batok kelapa, setelah korban terjatuh kemudian pelaku menarik dan membanting korban, hingga korban terpental. Dengan adanya bukti dari Rumah

Sakit SURAT KETERANGAN HASIL PEMERIKSAAN No :

445/41711/2015 tanggal 20 Nopember 2015 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr.SUNARYO, Sp.S.M.Kes selaku dokter pada RSUD RAA SOEWONDO PATI dengan hasil pemeriksaan:

1. Keluhan Utama nyeri Kepala post cedera kepala sedabf (CKS) 2. Hasil CT Scan : Edema cerebi

3. Pemeriksaan : Kekuatan 5 5 5 5 Reflek Patologis + - Romberg test (+) KESIMPULAN :

Kelainan – cacat – luka – luka yang tersebut diatas disebabkan oleh benturan yang mengenai kepala; dan adanya kutipan akta kelahiran nomor 2797/2003 yang dikeluarkan Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Pati dan ditandatangani oleh Kepala Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Pati

(36)

51

BAMBANG SUKANDAR, SH.,MM pada tanggal 05 Juni 2003 yang menerangkan bahwa saksi korban NAUFAL HAIDAR masih berusia 12 tahun yang lahir pada tanggal 07 Mei 2003.

Pembuktian di persidangan beguna pula untuk menetukan ataupun

menguatkan legal rasionee (pertimbangan) hukum hakim dalam memutus

suatu perkara yang diajukan padanya. Untuk memperkuat keyakinan hakim dalam persidangan, barang bukti dan keterangan saksi yang saling bersesuaian secara material sangat berguna untuk hal ini. Bahkan sering kali hakim dapat membebaskan seseorang berdasar barang bukti yang ada dalam proses persidangan (setelah melewati proses yang arif, bijaksana, teliti, dan cermat).

Untuk memperoleh legal rasionee (pertimbangan) hukum hakim dalam memutus perkara, maka dilakukan dengan cara musyawarah majelis hakim, dimana hakim secara bergantian menhgajukan pertanyaan terhadap terdakwa yang berkaitan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa. Setelah itu, majelis hakim mengemukakan pendapatnya secara berurutan dimulai dari yang termuda hingga yang tertua, disertai pertimbangan dan dasar hukumnya, dan yang terakhir diberikan oleh hakim ketua majelis (Pasal 182 ayat (5) KUHAP. Anak sangat rentan sekali sebagai korban tindak pidana kekerasan, mulai dari kekerasan yang dilakukan oleh teman-teman, orang tua, hingga guru yang bisa mengakibatkan merusak fisik atau lahiriah anak, gangguan kesehatan, dan bahkan bisa hilangnya nyawa anak. Dan sangat di sayangkan jika anak harus menjadi korban kekerasan, dimana anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan, perhatian, dan kehidupan selayaknya seorang anak. Akan banyak dampak yang ditimbulkan bagi seorang anak yang menjadi korban kekerasan, salah satunya adalah trauma yang mendalam, jika anak sudah mengalami trauma terhadap apa yang sudah dialaminya membuat tumbuh kembang anak terganggu dan bisa-bisa sang anak tidak akan berkembang. Dalam kasus yang

(37)

52

terjadi seharusnya hakim tidak hanya mementingkan pelaku saja tapi mementingkan bagaimana dampak bagi anak, bagaimana masa depan anak, kehidupan anak selanjutnya.

Didalam kasus yang terjadi pada putusan Nomor : 20/Pid.Sus/2016/PN Pti bahwa hakim dalam memberikan pertimbangan hukum bagi anak korban kekerasan masih diabaikan, dimana hakim kurang memperhatikan perlindungan bagi anak korban, yang dimana hakim seharunya memakai Pasal 76C jo Pasal 80 ayat (2) Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dikarenakan anak mengalami luka di kepala dan pelaku merupakan guru sharusnya bisa di hukum maksimal.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak melalui Pasal 2 ayat 3 dan 4 nya, jelas menentukan bahwa anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah kelahirannya. Anak berhak atas perlindungan-perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar. Disini menunjukan betapa undang-undang ingin melindungi hak-hak anak dari awal kejadian dan sepanjang proses pertumbuhannya hingga dewasa.

Hakim dalam memberikan pertimbangan dalam perkara Putusan No 20/PID.SUS/2016/PN Pti. Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana perlu dipertimbangkan adanya hal-hal yang dapat meringankan dan hal-hal yang dapat memberatkan hukuman yang akan dijatuhkan pada diri Terdakwa dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

Hal-hal yang memberatkan :

Perbuatan terdakwa membuat sakit korban NAUVAL HAIDAR bin ACHMAD SANUSI yang semestinya tidak seharusnya terjadi, karena

(38)

53

terdakwa sebagai seorang yang sudah dewasa seharusnya bisa berperilaku sabar, arif dan bijaksana dalam menghadapi perilaku/sikap anak- anak, yang masih memerlukan pendidikan yang lebih baik, dan faham terhadap masalah-masalah kemasyarakan, dan lingkungan social, sebagai orang tua/dewasa yang bijaksana, tidak harus bersikap kasar apalagi menyakiti secara fisik, terhadap anak tetangga lingkungan tempat tinggalnya sendiri, dan seharusnya lebih bersifat mendidik

Hal-hal yang meringankan :

a) Terdakwa belum pernah dihukum ;

b) Terdakwa berterus terang di persidangan dan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi ;

c) Antara terdakwa dan orang tua saksi korban sudah saling memaafkan ; d) Terdakwa sebagai PNS Kabupaten Pati yang masih aktif dan masih sangat

dibutuhkan tenaga dan pikirannya,terdakwa tulang punggung keluarga dan terdakwa punya tanggungan seorang ayah yang terkena sakit struk.

Terlihat di dalam pertimbangan diatas bahwa hakim lebih mementingkan pelaku daripada anak yang menjadi korban, bahwa hanya pelaku yang terlihat mendapatkan perlindungan, dimana seharunya anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan sebagaimana dilakukan. Banyak aspek belum tersampaiakan guna melindungi anak sebagai korban kekerasan.

Sebagai pertimbangan hakim, terdapat dalam Pasal 183 dan Pasal 184 KUHAP, menurut KUHAP harus ada alat bukti sah, alat bukti yang dimaksud adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan ketrangan terdakwa. Alat bukti inilah yang nantinya menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman pidana yang didasarkan kepada teori hasil penelitian yang saling berkaitan sehingga didapatkan hasil yang maksimal dan seimbang dalam teori dan praktek. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009

(39)

54

Tentang Kekuasaan Kehakiman juga menyatakan bahwa tentang dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan, yaitu dalam pasal 8 ayat (2) “dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pada sifat yang baik dan jahat pada terdakwa”.

Terdakwa jika sudah jelas terbukti secara sah melawan hukum seharusnya dijatuhi hukuman sesuai dengan apa yang didakwakan agar setimpal dengan perbuatanya. Hakim seharusnya dalam memberikan pertimbangan harus memperhatikan hal-hal korban, tidak hanya memperhatikan hal-hal yang lebih menguntungkan bagi terdakwa, sedangkan korban terabaikan. Hal-hal yang melindungi korban tidak begitu di perhatikan membuat korban tidak mendapatkan perlindungan. Pasal yang sudah ada dalam peraturan harus di gunakan sebagaimana mestinya, jika telah terbukti melawan hukum dan memenuhi segala unsur termasuk pasal pemberatan seharusnya terdakwa dijatuhi dengan hukuman tersebut.

Dalam usaha perlindungan terhadap anak dapat dilakukan :29 a. Perlindungan secara langsung

Perlindungan secara langsung merupakan usaha yang langsung berkaitan dengan kepentingan anak antara lain pencegahan dari segala sesuatu yang dapat merugikan atau mengorbankan kepentingan anak disertai pengawasan supaya anak berkembang dengan baik dan penjagaan terhadap gangguan dari dalam dirinya dan luar dirinya.

b. Perlindungan tidak langsung.

Dalam hal ini yang ditangani bukanlah anak langsung, tetapi para partisipan lainnya dalam perlindungan anak. seperti para orang tua, petugas, pembina, dan lain sebagainya. Usaha-usaha perlindungan anak yang tidak langsung tersebut adalah sebagai berikut :

(40)

55

1. Mencegah orang lain merugikan kepentingan anak melalui peraturan perundang-undangan.

2. Meningkatkan pengertian tentang hak dan kewajiban anak.

3. Pembinaan mental, fisik, sosial para partisipan lain, dalam rangka perlindungan anak.

4. Penindakan mereka yang menghalangi usaha perlindungan anak

Penulis menganalisis bahwa kasus yang terjadi pada perkara Nomor : 20/Pid.Sus/2016/PN Pti masih mengabaikan perlindungan bagi anak sebagai korban. Dimana hakim yang seharusnya memperhatikan aspek perlindungan bagi anak tetapi mengabaikannya. Tersangka merupakan seorang guru yang seharusnya di kenakan Pasal Pemberatan tetapi hakim tidak menggunakanya dan hanya memperhatikan tersangka sebagai guru sehingga sanksi yang seharusnya di jatuhkan kepada tersangka tidak sesuai dengan yang seharusnya dijatuhkan.

Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat juga karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum yang telah dilanggar itu harus ditegakkan. Melalui penegakan hukum inilah hukum menjadi kenyataan. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan, yaitu:30

1. Kepastian hukum (rechtssicherheit) 2. Kemanfaatan (Zweckmassigkeit) 3. Keadilan (Gerechtighkeit)

(41)

56

Dialam kasus yang terjadi hakim dalam menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa hanya melihat unsur kemanfaatan dikarenakan terdakawa merupakan seorang guru, tetapi unsur kepastian hukum yang seharusnya menjadi unsur utama hakim tidak menggunakan sebagai dasar untuk menjatuhkan hukuman pidana bagi pelaku.

Dengan putusan yang hanya menjatuhi hukuman terhadap tersangka selama 2 (dua) bulan, membuat anak korban tidak mendapatkan perlindungan, dimana bahwa tersangka yang seharusnya dijatuhi hukuman dengan berat atau maksimal tetapi dalam kenyataannya seperti itu. Sanksi yang diberikan kepada tersangaka sangat tidak seimbang dengan apa yang telah di perbuatkanya. Guru yang seharunya menjadi panutan tetapi melakukan hal seperti itu, maka sanksi yang di berikan juga seharunya setimpal perlakuannya.

Hakim dalam memberikan pertimbangan harus sesuai dengan fakta dari kasus yang terjadi. Faktor-faktor yang dialami korban seharusnya menjadikan pertimbangan bagi hakim untuk menjatuhkan hukuman bagi pelaku, korban harus mendapatkan perhatian yang khusus melihat apa yang sudah dilakukan oleh pelaku telah terbukti. Pelaku yang melakukan kekerasan terhadap anak harus di hukum sesuai dengan peraturan yang sudah ada. Sangat disayangkan jika pelaku di hukum dibawah minimal, dengan pelaku yang hanya dijatuhi hukuman di bawah minimal maka membuat anak sebagai korban tidak mendapatkan perlindungan hukum.

Apabila pelaku merupakan seorang guru dan telah terbukti secara melawan hukum melakukan kekerasan maka pasal pemberatan harus dikenakan sebagai dasar penjatuhan hukuman, tidaklah pantas seorang guru melakukan perbuatan kekerasan kepada muridnya, yang dimana guru seharusnya menjadi panutan, pendidik, orang tua, tetapi melakukan hal yang tidak pantas. Hakim jangan hanya memandang pelaku sebagai seorang guru sedangkan semua unsur

(42)

57

kekerasan telah terbukti dilakukannya maka hakim harus mempertimbangkan perbuatanya. Anak sebagai kroban lah yang seharusnya hakim lindungi dengan memeberikan hukuman bagi pelaku sesuai dengan peraturan yang telah jelas dalam Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Hakim masih mempertimbangkan dengan hanya melihat pelaku sebagai guru sehingga menguntungkan bagi pelaku.

Dengan banyak terjadinya kasus-kasus kekerasan dan peraktek-peraktek eksploitasi terhadap anak, menunjukkan kecenderungan bahwa di Indonesia masih rawan terjadinya pelanggaran hak-hak anak. Anak dalam meniti jenjang kehidupan dan menyongsong masa depannya telah dirugikan pihak lain bukan hanya dari segi fisik tapi juga dirugikan dari segi psikis. Ini semua adalah suatu petunjuk, bahwa walaupun secara formal telah banyak aturan hukum yang mengatur perlindungan anak yang tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan, tetapi realitas sosial masih menunjukkan bahwa aturan-aturan hukum tersebut belum optimal dalam hal perlindungan terhadap hak-hak anak. Pelaksanaan aturan-aturan hukum perlindungan anak masih sering dihadapkan pada masalah, bermunculannya perilaku menyimpang dari warga masyarakat berupa pelanggaran hak-hak anak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :