BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS. A. Kerangka Teori

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Kerangka Teori

1. Diversi

a. Pengertian Diversi

Mengutip pernyataan Jack E. Bynum dalam bukunya Deliquency a

sociological approach, memberikan pengertian Diversi yaitu Diversion is anatterpt to divert or channel out, youthful offenders from the juvenile justice system (Diversi adalah sebuah tindakan atau perlakuan untuk mengalihkan atau

menempatkan pelaku tindak pidana anak keluar dari sistem peradilan).14 Kata Diversi itu sendiri diambil dari Bahasa Inggris yang mempunyai arti penghindaran atau pengalihan, Diversi adalah pemberian kewenangan kepada Negara dalam hal ini adalah aparat hukum untuk melakukan tindakan-tindakan kebijakan dalam menangani suatu kasus yang dilakukan oleh anak dengan tidak menjalankan kasus tersebut dengan hukum formal. Diversi juga dapat diartikan sebagai salah satu usaha untuk menjauhkan suatu kasus dengan kriteria tertentu, dari proses peradilan pidana formal menjadi Nonformal yang dimaksutkan untuk menghindari efek negatif yang diakibatkan proses peradilan pidana formal tersebut. Dengan adanya Diversi diharapkan dapat memberikan kesempatan atau peluang bagi anak yang melakukan tindak pidana untuk menjadi sosok baru yang lebih baik dan

14

Beni Harmoni Harefa, Kapita Selekta Perlindungan Hukum Bagi Anak, CV Budi Utama, Yogyakarta, 2019, h. 149.

(2)

bersih dari catatan kejahatan dan yang pasti menghindarkan anak tersebut menjadi residivis. Pelaksanaan Diversi oleh aparat penegak hukum didasari oleh kewenangan aparat penegak hukum yang disebut discretion atau diskresi.15 Diskresi itu sendiri adalah pengambilan keputusan dan/ tindakan yang tujuannya demi memudahkan penyelenggaraan pemerintahan, kemudian mengisi kekosongan hukum, memberikan kepastian hukum, dan mampi mengatasi stagnasi pemerintahan untuk memberikan manfaat dan kepentingan umum dalam kondisi-kondisi tertentu.16

Sementara Diversi menurut Pasal 1 Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah “pengalihan penyelesaian perkara Anak dari porses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana”17

Menurut sejarah perkembangan hukum pidana kata Diversion pertama kali dikemukakan sebagai kosa kata pada laporan pelaksanaan peradilan anak yang disampaikan Presiden Komisi Pidana Anak (President’s Crime Commissions) Australia di Amerika Serikat pada Tahun 1990.18 Terdapat peraturan mengenai pengupayaan terjadinya Diversi untuk anak jika mengalami tindak pidana. Pertama ada di dalam Pasal 3 Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan,

Hakim anak wajib megupayakan Diversi dalam hal anak melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana dibawah 8 tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam

2000, h. 3

15

M. Hassan Wadong, Pengantar Advoksi dan Perlindungan Anak, Jakarta, Grasindo,

16

Harun, Hukum Administrasi Negara di Era Citizen Friendly. Muhammadiyah University Press, Surakarta, h. 110.

17

Debi Aris Siswantoro, Diversi Dan Restoratif Justice Dalam Penanganan

Kecelakaan Lalu Lintas Dengan Pelaku Anak Ang Menebabkan Korban Meninggal Dunia Berdasarkan Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Pada Anak, Penerbit Qiara Media, Yogyakarta, 2019, h. 41.

18

(3)

dengan pidana penjara 7 tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidaritas, kumulatif, alternative maupun kombinasi.

Dan yang kedua terdapat di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak juga telah dijelaskan bahwa terhadap perkara anak sebelum masuk proses peradilan, para penegak hukum, keluarga dan masyarakat wajib mengupayakan proses penyelesaian diluar jalur pengadilan, yakni melalui Diversi berdasarkan pendekatan keadilan restorative.

Menurut pendapat Peter C. Kratcoski, ada tiga jenis pelaksanaan program Diversi yang dapat dilaksanakan yaitu:

a) Pelaksanaan Kontrol secara sosial (social control orientation), yaitu aparat penegak hukum yang menyebabkan pelaku dalam tanggung jawab pengawasan atau pengamatan masyarakat, dengan ketaatan pada persetujuan atau peringatan yang diberikan. Pelaku tidak diharapkan adanya kesempatan kedua kali bagi pelaku oleh masyarakat.

b) Pelayanan sosial oleh masyarakat terhadap pelaku (social service

orientation), yaitu melaksanakan fungsi untuk mengawasi, mencampuri, memperbaiki dan menyediakan pelayanan pada pelaku dan keluarganya. Masyarakat dapat mencampuri keluarga pelaku untuk meberikan perbaikan atau pelayanan.

c) Menuju proses Restorative Justice atau perundingan (balanced oor

Restorative Justice orientation), yaitu melindungai masyarakat,

memberi kesempatan pelaku bertanggung jawab langsung kepada korban dan masyarakat dan membuat kesepakatan bersama antara korban pelaku dan masyarakat pelaksanaannya semua pihak yang

(4)

terkait dipertemukan untuk bersama-sama mencapai kesepakatan tidakan kepada pelaku.

b. Tujuan Diversi

Menurut Pasal 6 Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 terdapat 5 tujuan Diversi, yaitu :

a) mencapai perdamaian antara korban dan Anak; b) menyelesaikan perkara Anak di luar proses peradilan; c) menghindarkan Anak dari perampasan kemerdekaan d) mendorong masyarakat untuk berpartisipasi; dan e) menanamkan rasa tanggung jawab kepada Anak.

Dalam Undang-Undangtersebut telah di jelaskan tujuan dari Diversi itu sendiri yang intinya adalah untuk mencapai perdamaian antara korban dan pelaku yang dalam hal ini masih sebagai anak untuk menyelesaikan perkara tersebut di luar proses peradilan. Selain itu juga untuk memberikan kesempatan kedua bagi anak yang telah melakukan tindak pidana.

c. Syarat Diversi

1) Menurut Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Didalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 telah di jelaskan syarat syarat apa saja untuk memberlakukan Diversi. Syarat tersebut terdapat didalam Pasal Pasal 7 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut:

(5)

(2) Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan:

a) diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun; dan b) bukan merupakan pengulangan tindak pidana.

Dalam Pasal tersebut telah disebutkan bahwa syarat Diversi yang pertama adalah jika tindak pidana yang dilakukan oleh anak tersebut diancam dengan pidana penjara kurang dari 7 tahun, dan juga bukan merupakan pengulangan tindak pidana. Ketentuan pidana penjara kurang dari 7 (tujuh) tahun tersebut mengacu pada hukum pidana. Pengulangan tindak pidana yang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 adalah tindak pidana yang dilakukan oleh anak, baik sejenis atau tidak sejenis, dan juga tindak pidana yang diselesaikan melalui Diversi. Sesuai dengan ketentuan yang terdapat di dalam Pasal tersebut maka dengan kata lain seseorang anak yang dapat mendapatkan upaya Diversi adalah jika anak tersebut mendapat ancaman pidana kurang dari 7 (tujuh) tahun. Bila seorang anak mendapatkan ancaman pidana lebih dari 7 (tujuh) tahun maka seorang anak tersebut tidak akan mendapatkan pengupayaan Diversi.

2) Menurut Perma Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Dalam Sistem Peradilan Anak.

Di dalam Pasal 3 Perma tersebut berbunyi sebagai berikut : Pasal 3

Hakim Anak wajib mengupayakan Diversi dalam hal Anak didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang

(6)

diancam dengan pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidiaritas, alternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan).

Di dalam Perma tersebut telah di atur bahwa syarat Diversi bagi seorang anak yang melakukan tindak pidana adalah jika anak tersebut di tuntut dengan pidana 7 tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidaritas, alternative, kumulatif maupun kombinasi. Peraturan tersebut masih memungkinkan bagi seorang anak untuk mendapatkan upaya Diversi dari Negara.

Selain itu juga terdapat syarat lain yang telah tertulis di dalam Pasal 9 ayat (1) UU Sistem Peradilan Pidana Anak telah menyebutkan bahwa penyidik, penuntut hukum, dan Hakim dalam melakukan Diversi harus mempertimbangkan:

a) Kategori tindak pidana; b) Umur anak;

c) Hasil penelitian kemasyarakatan dari balai pemasyarakatan; d) Dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat.

2. Tindak Pidana

Perbuatan tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan yang bernama hukum. Tentunya jika ada larangan maka ada sanksi yang diterima oleh pelaku yang melanggar larangan tersebut. Sanksi tersebut adalah berupa pidana bagi siapa yang telah melanggar aturan tersebut. Tindak pidana merupakan istitlah yang di terjamhkan dari kata “strafbaarfeit”. Strafbaarfeit

(7)

terdiri dari tiga kata, yakni straf, baar, dan dari feit. Dari tujuh istilah yang digunakan sebagai terjemahan dari Strafbaarfeit itu, straf diterjemahkan dengan pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan dapat dan boleh. Sementara itu, untuk kata feit diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa

Strafbaarfeit adalah perbuatan yang dapat di pidana. 19 Maka sesuai tulisan di atas, pengertian tindak pidana itu sendiri adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang ada di Indonesia yang bersifat wajib dan mengikat. Larangan yang telah diatur tersebut disertai suatu ancaman atau sanksi bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Terdapat dua unsur dari tindak pidana yaitu unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur Objektif antara lain: perbuatan orang, akibat yang kelihatan dari perbuatan itu, mungkin ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan. Sedangkan unsur subjektif: orang yang mampu bertanggung jawab, adanya kesalahan. Perbuatan harus dilakukan dengan kesalahan, kesalahan ini dapat berhubungan dengan akibat dari perbuatan atau dengan keadaan mana perbuatan itu dilakukan (Pusdiklat Kejaksaan RI, 2009:18).

3. Restorative Justice

Konsep dari Restorative Justice merupakan penyelesaian tindakan pidana yang terjadi dilakukan dengan mempertemukan pihak korban dan pihak pelaku untuk bersama-sama duduk dalam sebuah pertemuan untuk bersama-sama berbicara. Di pertemuan antara korban dan pelaku tersebut mediator memberikan kesempatan pada pelaku untuk menjelaskan apa yang telah pelaku lakukan dan kenapa dia

19

Liza Agnesta Krisna, Hukum Perlindungan Anak: Panduan Memahami Anak yang

(8)

melakukan perbuatannya tersebut sehingga merugikan pihak korban. Setelah pelaku memaparkan penjelasanya tersebut, korban dapat memberikan tanggapannya atas apa yang telah di paparkan oleh pelaku. Didalam mediasi antara pihak korban dan pelaku hadir juga perwakilan dari masyarakat. Wakil dari masyarakat tersebut memberikan gambaran akan apa yang telah di lakukan oleh pelaku dan berharap pelaku dapat melakukan suatu tindakan yang dapat memulihkan nama baiknya. Peran dari wakil masyarakat tersebut adalah untuk memberikan pendapatnya dalam proses Restorative Justice dengan mengupayakan agar tatanan masyarakat yang telah terganggu karna adanya tindak pidana tersebut dapat kembali lagi dan juga mengembalikan korban dan pelaku dalam lingkungannya kembali dengan baik.

Restorative Justice adalah sebuah konsep yang menawarkan solusi terbaik bagi

kedua pihak untuk menyelesaikan kasus tindak pidana. Tujuan utama penyelesaian tersebut untuk memperbaiki kerusakan yang di timbulkan karna terjadinya tindak pidana tersebut dengan memperhatikan kedua belah pihak. Inti dari sebuah konsep Restorative Justice adalah agar pelaku, korban dan masyarakat bertindak guna menyembuhkan tindak pidana yang telah terjadi tersebut.

Peradilan pidana anak dengan keadilan restoratif bertujuan untuk:20

a. Mengupayakan perdamaian antara korban dan anak; b. Mengutamakan penyelesaian di luar proses peradilan; c. Menjauhkan anak dari pengaruh negatif proses peradilan; d. Menanamkan rasa tanggung jawab anak;

20

(9)

e. Mewujudkan kesejahteraan anak;

f. Menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan; g. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi;

h. Meningkatkan keterampilan hidup anak.

Pelaksanaan Diversi dan Restorative Justice memliki kesamaan dalam memberikan dukungan dalam suatu proses perlindungan terhadap anak yang melakukan pelanggaran hukum atau melakukan suatu tindak pidana. Diversi dan

Restorative Justice memiliki kesamaan prinsip yaitu untuk memberikan

kesempatan kepada anak pelaku tindak pidana untuk tidak di proses dengan tindak pidana dalam sistem peradilan formal dan memberikan kesempatan bagi pelaku yang dalam hal ini adalah seorang anak untuk menajalankan sebuah sanksi alternative yang tanpa pidana penjara. Hasil dengan diberlakukan Restorative

Justice ini adalah pelaku dalam hal ini adalah seorang anak dapat

mempertanggungjawabkan langsung kepada korban dalam bentuk ganti rugi lain selain pidana. Setelah disepakati oleh semua pihak maka pelaku wajib melaksanakan perjanjian tersebut dengan pengawasan dari masyarakat dan pihak yang berwenang. Dengan terjadinya kesepakatan tersebut maka korban dapat menerima ganti rugi atas apa yang telah menimpanya.

4. Anak

a. Pengertian Anak

Sampai saat ini belum ada kesesuaian pendapat diantara para ahli hukum sebagaimana tercantum dalam berbagai produk perundang-undangan di Indonesia mengenai pengertian Anak. Adanya berbagai pengertian

(10)

mengenai Anak ini dilandasi dari berbagai kepentingan yang melatarbelakangi pembentukan suatu peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anak adalah keturunan kedua, sedangkan dalam konsideran Undang-UndangNomor 23. Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dikatakan bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.21

Secara psikologi anak adalah periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam. tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah, kemudian berkembang setara dengan tahun tahun sekolah dasar, walaupun begitu istilah ini juga sering merujuk pada perkembangan mental seseorang walaupun usianya secara biologis dan kronologis seseorang sudah termasuk dewasa namun apabila perkembangan mentalnya ataukah urutan umurnya maka seseorang dapat saja diasosiasikan dengan istilah "anak".22

Pengertian anak menurut peraturan perundang-undangan dapat dilihat sebagai berikut :

a) Anak Menurut UU Nomor. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18

21

M. Nasir Djamil, Op.Cit. h. 8.

22

Wikipedia: Ensiklopedia Bebas. 2019. Anak di https://id.wikipedia.org/wiki/Anak

(11)

(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.23

b) Anak menurut Kitab Udang-Undang Hukum Perdata

Dijelaskan dalam Pasal 330 Kitab Undang-UndangHukum Perdata, mengatakan orang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin. Jadi anak adalah setiap orang yang belum berusia 21 tahun dan belum meniakah. Seandainya seorang anak telah menikah sebalum umur 21 tahun kemudian bercerai atau ditinggal mati oleh suaminya sebelum genap umur 21 tahun, maka ia tetap dianggap sebagai orang yang telah dewasa bukan anak-anak.24

c) Menurut Kitab Undang-UndangHukum Pidana

Undang-UndangHukum Pidana (KHUP). KUHP tidak secara eksplisit menyebutkan tentang kategori anak, akan tetapi dapat dijumpai dalam Pasal 45 dan 72 yang memakai batasan umur 16 tahun dan Pasal 283 yang memberi batasan 17 tahun.

d) Menurut Undang-UndangNomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Yang disebut anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin (Pasal 1 butir 2).25

e) Menurut Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

23

Undang-UndangNomor 23 tahun 2002 tentang Perlidungan Anak.

24

Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-UndangHukum Perdata, Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 2002, h. 90

25

(12)

Dijelaskan dalam (Pasal 1 Ayat (3) anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Dapat disimpulkan bahwa kategori anak dalam peraturan ini adalah anak yang berusia antara 12 sampai 18 tahun.

f) Menurut Pasal 1 butir 5 Undang-UndangNomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia adalah sebagai berikut :

"Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut demi kepentingannya".26

g) Undang-UndangNomor 3 Tahun 1997 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negaral Republik Indonesia Nomor 3668) tentang Pengadilan Anak. Undang-Undangini merupakan peraturan yang sebelumnya berlaku bagi tindak pidana yang dilakukan oleh anak. Karena terdapat beberapa hal yang tidak laqi relevan dengan keadaan yang terjadi di masa sekarang maka diperbarui dengan Undang-UndangNomor. 11 tahun 2012 yang telah disebutkan di atas. Dalam undang- undang ini tepatnya pada Pasal l ayat (1) menyebutkan bahwa anak. merupakan orang yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun. sampai sebelum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Ditentukan pula bahwa batas minimal anak adalah berumur 8 tahun.

26

(13)

h) Undang-UndangNomor 12 Tahun 1995 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3614) tentang Lembaga Permasyarakatan.

Dalam Pasal 1 angka 8 huruf a, b dan c Undang-Undangini disebutkan bahwa anak didik permasyarakatan baik anak pidana, anak. negara dan anak sipil untuk dapat dididik di Lapas Anak adalah. paling lama sampai berusia 18 (delapan belas) tahun.

i) Undang-UndangNomor 1 Tahun 1974 (Lembaran Negara Repub- lik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara. Republik Indonesia Nomor 3019) tentang Perkawinan. Dalam Pasal 47 ayat (1) dan Pasal 50 ayat (1) Undang-Undangini menyebutkan bahwa batasan untuk disebut anak adalah belum. mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

j) Undang-UndangNomor 8 Tahun 1981 (Lembaran Negara Repub- tik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara. Republik Indonesia Nomor 3209) tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Undang-Undangini tak secara eksplisit mengatur mengenai batas usia anak. Akan tetapi bila dilihat dalam Pasal 171 KUHAP menyebutkan bahwa batasan umur anak di sidang pengadilan yang boleh diperiksa tanpa sumpah diperqunakan batasan umur di bawah 15 (lima belas) tahun. Kemudian dalam Pasal 153

(14)

menyebutkan bahwa dalam hal-hal tertentu hakim dapat menentukan anak yang belum mencapai umur 17 (tujuh belas) tahun tak diperkenankan menghadiri sidang.

k) Undang-UndangNomor4Tahun 1979 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1979 Nomor 3143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3367). Dikatakan dalam Undang- Undangini anak adalah yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.

l) Undang-UndangNomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Dalam Pasal 1 sub 5 dikatakan bahwa anak adalah tiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut demi kepentingannya.

m) Peraturan Pemerintah Nomor. 2 Tahun 1988 tentang Tata Usaha Kesejahteraan Anak bagi Anak yang Mempunyai Masalah. Menurut peraturan ini, anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun atau belum kawin.

n) Kitab Undang-UndangHukum Perdata.

Berdasarkan ketentuan Pasal 330 Kitab Undanq-Undang Hukum Perdata maka anak adalah mereka yang belum mencapai umur genap 21 (dua puluh satu) tahun dan belum kawin.

o)

Perma Nomor 4 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sitem Peradilan Pidana Anak sesuai Perma Nomor 4 tahun

(15)

2014 tengtang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sitem Peradilan Pidana Anak

Dikatakan di dalam Pasal 2 yaitu “Diversi diberlakukan terhadap anak yang telah berumur 12 tahun tetapi belum berumur 18 tahun atau telah berumur 12 tahun meskipun pernah kawin tetapi belum berumur 18 tahun , yang diduga melakukan tindak pidana.”

Pengertian anak menurut menurut beberapa ahli yakni sebagai berikut :

Menurut Bisma Siregar, dalam bukunya menyatakan bahwa : dalam masyarakat yang sudah mempunyai hokum tertulis diterapkan batasan umur yaitu 16 tahun atau 18 tahun ataupun usia tertentu yang menurut perhitungan pada usia itulah si anak bukan lagi termasuk atau tergolong anak tetapi sudah dewasa.27

Menurut Sugiri sebagai mana yang dikutip dalam buku karya Maidi Gultom mengatakan bahwa : "selama di tubuhnya masih berjalan proses pertumbuhan dan perkembangan, anak itu masih menjadi anak dan baru menjadi dewasa bila proses perkembangan dan pertumbuhan itu selesai, jadi batas umur anak-anak adalah sama dengan permulaan menjadi dewasa, yaitu 18 (delapan belas) tahun untuk wanita dan 21 (dua puluh) tahun untuk laki-laki."28

Menurut Hilman Hadikusuma dalam buku yang sama merumuskannya dengan "Menarik batas antara sudah dewasa dengan belum dewasa, tidak perlu di permasalahkan karena pada kenyataannya walaupun orang belum dewasa namun ia telah dapat melakukan perbuatan hukum, misalnya anak yang belum dewasa

27

Bisma Siregar, Keadilan Hukum dalam Berbagai aspek Hukum Nasional, Jakarta : Rajawali, 1986, h. 105.

28

Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak, Cetakan Kedua, Bandung, P.T.Refika Aditama, 2010, h 32.

(16)

telah melakukan jual beli, berdagang, dam sebagainya, walaupun ia belum berenang kawin."29

Dari banyaknya pengertian dan batasan umur anak yang ditentukan oleh beberapa peraturan/Undang-Undangdan dikemukakan oleh ebberapa ahli dapat dikatakan sangat bervariasi, sehingga perlu untuk menentukan/ menyepakati berapa batasan umur anak secara jelas dan lugas agar kedepannya tidak terjadi permasalahan yang menyangkut batasan umur anak itu sendiri. Dalam lingkup Undang- Undangtentang Hak Asasi Manusia serta Undang-undnag tentang Perlindungan Anak sendiri ditetapkan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, dan belum pernah menikah.

b. Perlindungan Anak 1. Asas Perlindungan Anak

Asas hukum perlindungan anak dalam ketentuan-ketentuan hukum pidana pada dasarnya mengikuti ketentuan yang menjadi esensi utama dari ketentuan hukum pidana dan hukum acara pidana.30 Di dalam Undang-UndangNomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dikatakan bahwa terdiri atas asas perlindungan anak, asas kepentingan, asas hak untuk hidup, asas penghargaandan juga dalam konvensi hak anak. Secara aspek Filosofis, sesuai penetapan Diversi yaitu melihat hak hak anak untuk secara umum untuk memperoleh tujuan dari bekerjanya sistem peradilan pidana anak, pada dasarnya ditujukan untuk membangun sistem

29

Ibid., h. 30.

30

(17)

peradilan yang adil dan ramah terhadap anak (fair and humane). Oleh karena itu, Sistem Peradilan Anak dilaksanakan berdasarkan asas:

a) Asas Perlindungan

Dimaksud dengan perlindungan meliputi kegiatan yang bersifat langsung dan tidak langsung dari tindakan yang membahayakan anak secara fisik dan/atau psikis;

b) Asas Keadilan

Dimaksud keadilan adalah bahwa setiap penyelesaian perkara anak harus mencerminkan rasa keadilan bagi anak;

c) Asas Nondiskriminasi

Dimaksud dengan Nondiskriminasi adalah tidak adanya perlakuan yang berbeda didasarkan pada suku,agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, serta kondisi fisik dan/atau mental;

d) Asas Kepentingan Terbaik bagi Anak

Dimaksud dengan kepentingan terbaik bagi anak adalah segala pengambilan keputusan harus selalu mempertimbangkan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak;

e) Asas Penghargaan terhadap Pendapat Anak

Adalah asas penghormatan atas hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan, terutama jika menyangkut hal yang mempengaruhi kehidupan anak.

(18)

Adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua.

g) Asas Pembinaan dan Pembimbingan.

Pembinaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani anak baik di dalam maupun diluar proses peradilan pidana.

Pembimbingan adalah pemberian tuntunan untuk meingkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani klien kemasyarakatan;

h) Asas Poporsional

Adalah segala perlakuan terhadap anak harusmemperhatikan batas keperluan, umur dan kondisi anak;

i) Asas Perampasan Kemerdekaan

Merupakan upaya terakhir adalah asas yang pada dasarnya anak tidak dapat dirampas kemerdekaannya, kecuali terpaksa guna kepentingan penyelesaian perkara;

j) Asas Penghindaran Pembalasan

Adalah asas yang menjauhkan upaya pembalasan dalam proses peradilan pidana.

Ketentuan peradilan anak dengan adanya Undang-UndangNomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah MenjadiHukum Acara Pidana

(19)

Anak yang diposisikan dengan ketentuan asas lex spesialis de rogat lex

generalis.31

c. Perlindungan Hukum terhadap Anak

Perlindungan Anak adalah segala kegiatan anak untuk menjamin, melindungi anak dan hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartsipasi secara optimal sesuai harkatt dan martabat manusia serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.32

Mengenai perlindungan anak, Pasal 64 Undang – Undang Nomor 35 tahun 2014 Perlindungan Anak menyebutkan bahwa :

1. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 meliputi anak yang berhadapan dengan hukum dan anak korban tindak pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.

2. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui:

a. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak.

b. Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini. c. Penyediaan sarana dan prasarana khusus.

d. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak.

31

M. Hassan Wadong, Op.Cit. h. 63

32

(20)

e. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum.

f. Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga.

g. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi.

Sedangkan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak khususnya Pasal 3 yang berbunyi:

Setiap Anak dalam Proses Peradilan Pidana berhak:

a. Diperlakukan secara manusiawi dengan 7 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, penjelasan umum hlm 31. memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya.

b. Dipisahkan dari orang dewasa.

c. Memperoleh bantuan hukum dan bantuan lain secara efektif. d. Melakukan kegiatan rekreasional

e. Bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, serta merendahkan derajat harkat dan martabatnya.

f. Tidak dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup.

g. Tidak ditangkap, ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yang paling singkat.

h. Memperoleh keadilan di muka pengadilan Anak yang objektif, tidak memihak, dan dalam sidang yang tertutup untuk umum.

(21)

j. Memperoleh pendampingan orang tua/wali dan orang yang dipercaya oleh anak.

k. Memperoleh advokasi sosial l. Memperoleh kehidupan pribadi

m. Memperoleh aksesibilitas, terutama bagi anak cacat. n. Memperoleh pendidikan.

o. Memperoleh pelayanan kesehatan

p. Memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan

Tujuan diberikannya perlindungan hukum terhadap anak adalah karena sesuai dengan siapa yg melakukannya yaitu anak itu sendiri dimana proses yang akan dilalui anak tersebut akan mempengaruhi pola pikir, tanggapan dan perilaku kehidupan anak tersebut dimasa mendatang. Oleh karena itu dalam hal ini, Undang undang sudah mengatur sedemikian rupa mengenai bagaimana perlindungan yang diberikan demi menghormati Hak Asasi Anak.

5. Bentuk Surat Dakwaan

a. Tunggal

Dalam Surat Dakwaan ini hanya satu Tindak Pidana saja yang didakwakan, tidak terdapat dakwaan lain baik sebagai alternatif maupun sebagai pengganti. Contoh:

Dalam Surat Dakwaan hanya didakwakan Tindak Pidana pencurian (Pasal 362 KUHP).

(22)

Dalam bentuk ini dakwaan disusun atas beberapa lapisan yang satu mengecualikan dakwaan pada lapisan yang lain. Dakwaan alternatif dipergunakan karena belum didapat kepastian tentang Tindak Pidana mana yang akan dapat dibuktikan. Lapisan dakwaan tersebut dimaksudkan sebagai "jaring berlapis" guna mencegah lolosnya terdakwa dari dakwaan. Meskipun dakwaan berlapis, hanya satu dakwaan saja yang akan dibuktikan, bila salah satu dakwaan telah terbukti, maka lapisan dakwaan lainnya tidak perlu dibuktikan lagi.

Contoh:

Pencurian (Pasal 362 KUHP), atau penadahan (Pasal 480 KUHP). Pembuktian dakwaan tidak perlu dilakukan secara berurut sesuai lapisan dakwaan, tetapi langsung kepada lapisan dakwaan yang dipandang terbukti. c. Subsider

Bentuk dakwaan ini dipergunakan apabila satu Tindak Pidana menyentuh beberapa ketentuan pidana, tetapi belum dapat diyakini kepastian tentang kualifikasi dan ketentuan pidana yang lebih tepat dapat dibuktikan. Lapisan dakwaan disusun secara berurutan dimulai dari Tindak Pidana yang diancam dengan pidana terberat sampai pada Tindak Pidana yang diancam dengan pidana teringan dalam kelompok jenis Tindak Pidana yang sama.

Contoh:

Primer : Pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP);

Subsidair : Pembunuhan (Pasal 338 KUHP);

Lebih Subsidair : Penganiayaan berencana yang mengakibatkan matinya orang (Pasal 355 (2) KUHP);

(23)

Lebih Subsidair lagi : Penganiayaan berat yang mengakibatkan matinya orang (Pasal 354 ayat (2) KUHP); Lebih-lebih Subsidair lagi : Penganiayaan Wass yang mengakibatkan

matinya orang (Pasal 351 ayat (3) KUHP). Persamaannya dengan dakwaan alternatif ialah hanya satu dakwaan saja yang akan dibuktikan, sedangkan perbedaannya pada sistem penyusunan lapisan dakwaan dan pembuktiannya yang harus dilakukan secara berurutan dimulai dari lapisan pertama sampai kepada lapisan yang dipandang terbukti. Setiap lapisan yang tidak terbukti harus dinyatakan secara tegas disertai dengan tuntutan untuk dibebaskan dari dakwaan yang bersangkutan. d. Kumulatif

Bentuk ini digunakan bila kepada terdakwa didakwakan beberapa Tindak Pidana sikaligus dan Tin dak Pidana tersebut masing-masing berdiri sendiri

(Concursus Realis). Semua Tindak Pidana yang didakwakan harus

dibuktikan satu demi satu. Dakwaan yang tidak terbukti harus dinyatakan secara tegas disertai tuntutan untuk membebaskan terdakwa dari dakwaan yang bersangkutan. Persamaannya dengan dakwaan Subsidair, karena sama- sama terdiri dari beberapa lapisan dakwaan dan pembuktiannya dilakukan secara berurutan.

Contoh:

Kesatu : Pembunuhan (Pasal 338 KUHP);

Kedua : Pencurian dengan pemberatan (Pasal 363

KUHP);

(24)

e. Kombinasi/ Gabungan

Bentuk ini merupakan perkembangan baru dalam praktek sesuai perkembangan di bidang kriminalitas yang semakin variatif balk dalam bentuk/jenisnya maupun dalam modus operandi yang dipergunakan. Kombinasi/gabungan dakwaan tersebut terdiri dari dakwaan kumulatif dan dakwaan subsider.

Contoh: Kesatu:

Primer : Pembunuhan berencana (Pasal 340 KUHP); Subsider : Pembunuhan (Pasal 338 KUHP);

Lebih Subsider : Penganiayaan berencana yang mengakibatkan matinya orang (Pasal 355 ayat 2 KUHP).

Kedua: Perampokan/pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 ayat 3 dan 4 KUHP).

Ketiga: Perkosaan (Pasal 285 KUHP).33

B. Hasil Penelitian

Diversi adalah terobosan baru dalam sistem peradilan pidana anak yang merupakan hasil dari United Nation Standad Minimurules for the Administrator of Juvenela (The Beijing Rules,) dengan tujuan untuk menghindarkan anak dari efek samping peradilan yang cenderung diposisikan sebagai objek sehingga merugikan

33

Kejaksaan Agung Republik Indonesia, pembuatan surat dakwaan, Jakarta, 22 Nopember 1993.

(25)

4 8

anak untuk menyongsong masa depannya. Pada tahun 2000, setelah pertemuan para ahli PBB tentang “Children and Juveniles in Detection of Human Rigt Standards” di Vienna, seluruh negara dihimbau untuk mengimplementasikan The Beijing Rules, The Riyadh Guidelines and The United Nation Rules for The Protection of Juveniles Deprived of Their Liberty yang merupakan pedoman internasional tentang Diversi.34 Maka dari itu di tahun 2012 Indonesia mengeluarkan Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Peradilan Pidana Anak, yang mulai berlaku tahun 2014 untuk menggantikan Undang-UndangNomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak. Anak merupakan aset Negara yang harus di lindungi. Karna nya Mahkamah Agung merespon Undang-UndangSistem Peradilan Pidana Anak dengan sangat progresif. Ketua Mahkamah Agung RI Muhammad Hatta Ali saat itu menandatangani Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak bahkan sebelum Peraturan Pemerintah yang merupakan turunan dari UU SPPA dikeluarkan.

Dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 pengertian Diversi terdapat di dalam Pasal 1 yaitu “Musyawarah Diversi adalah musyawarah antara para pihak yang melibatkan Anak dan orang tua/Walinya, korban dan/atau orang tua/Walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial Profesional, perwakilan masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat lainnya) untuk mencapai kesepakatan Diversi melalui pendekatan Keadilan Restoratif.” Sedangkan pengertian Diversi menurut Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 terdapat di dalam Pasal 1 ayat 7 yang

34

R. Wiyono, Sistem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2016, h. 46.

(26)

49

berbunyi “ Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana”.

Kedua peraturan tersebut secara substansial telah mengatur secara tgas mengenai Diversi yang ditujukan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang sedang berhadapan dengan proses hukum dan di kemudian hari di harapkan anak bisa kembali ke dalam lingkungan hidupnya dan dapat bersosialisasi dengan wajar. Di dalam kedua peraturan tersebut yaitu antara Perma Nomor 4 tahun 2014 dan Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 terdapat disharmoni atau tidak kesusuaian yang mendasar antara hukum di Indonesia yang mengatur mengenai Diversi bagi anak. Antara lain peraturan yang mengatur mengenai:

a. Umur

1. Perma Nomor 4 Tahun 2014

Sesuai dengan Pasal 2 Diversi diberlakukan terhadap anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah berumur 12 (dua belas) tahun meskipun pernah kawin tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun.

2. Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012

Mengacu pada Pasal 1 Ayat 3 yang di sebut sebagai anah adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun.

Di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 disebutkan bahwa orang yang lebih dari 12 tahun dan kurang dari 18 tahun yang sudah pernah kawin tetap di anggap sebagai anak dan dapat memperolah proses Diversi,

(27)

50

sedangkan di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 tidak di jelaskan apakah seseorang yang berumur lebih dari 12 tahun dan kurang dari 18 tahun yang sudah pernah kawin tetap di anggap sebagai anak dan bisa mendapatkan proses Diversi atau tidak.

b. Ancaman Pidana

1. Perma Nomor 4 Tahun 2014

Di dalam Pasal 3 mengatakan bahwa Hakim Anak wajib mengupayakan Diversi dalam hal Anak didakwa melakukan tindak pidana yang diancam denga pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidiaritas, anternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan). 2. Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012

Pasal 7 ayat 2 mengatakan bahwa Diversi bisa dilaksanakan jika ancaman pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.

Perbedaan peraturan di atas terdapat di dalam ancaman pidana maksimal bagi seorang anak untuk mendapatkan upaya Diversi. Jika di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 seorang anak masih memungkinkan untuk mendapatkan upaya Diversi jika tuntutan pidana seorang anak tersebut di atas 7 tahun. Berbeda di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012, ancaman pidana seorang anak untuk mendapatkan upaya Diversi adalah maksimal 7 tahun, jika sudah lebih dari 7 tahun ancaman pidana nya tidak dapat dilakukan upaya Diversi.

(28)

51

c. Pihak yang dihadirkan 1. Perma Nomor 4 Tahun 2014

Dalam Pasal 4 ayat 2 tertulis pihak pihak yang harus dihadirkan dalam proses Diversi ini antara lain :

(a) Anak dan orang tua/Wali atau Pendampingnya (b) Korban dan/atau orang tua/Walinya

(c) Pembimbing Kemasayarakatan (d) Pekerja Sosial Profesional (e) Perwakilan masyarakat

(f) Pihak-pihak terkait lainnya yang dipandang perlu untuk dilibatkan dalam Musyawarah Diversi.

3. Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012

Sesuai dengan Pasal 8 ayat 1 yang mengatakan : Proses Diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan Anak dan orang tua/Walinya, korban dan/atau orang tua/Walinya, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Pekerja Sosial Profesional berdasarkan pendekatan Keadilan Restoratif.

Di kedua peraturan tersebut terdapat suatu perbedaan yaitu jika di dalam PERMA melibatkan pihak-pihak terkait yang dipandang perlu untuk dilibatkan dalam Musyawarah Diversi. Berbeda dengan apa yang terdapat di dalam Undang- undang. Dengan mengikutsertakan pihak-pihak lain yang dipandang perlu untuk dilibatkan maka proses Diversi tersebut dapat berjalan lebih baik dan menguntungkan kedua belah pihak.

(29)

52

Peraturan Proses Diversi Peradilan Anak yang terdapat di dalam Undang- UndangNomor 11 Tahun 2012:

1. Tingkat Penyidikan Pasal 26

(1) Penyidikan terhadap perkara Anak dilakukan oleh Penyidik yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

(2) Pemeriksaan terhadap Anak Korban atau Anak Saksi dilakukan oleh Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Syarat untuk dapat ditetapkan sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a) telah berpengalaman sebagai penyidik;

b) mempunyai minat, perhatian, dedikasi, dan memahami masalah Anak; dan

c) telah mengikuti pelatihan teknis tentang peradilan Anak.

(4) Dalam hal belum terdapat Penyidik yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tugas penyidikan dilaksanakan oleh penyidik yang melakukan tugas penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa.

(30)

53

(1) Dalam melakukan penyidikan terhadap perkara Anak, Penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari Pembimbing Kemasyarakatan setelah tindak pidana dilaporkan atau diadukan.

(2) Dalam hal dianggap perlu, Penyidik dapat meminta pertimbangan atau saran dari ahli pendidikan, psikolog, psikiater, tokoh agama, Pekerja Sosial Profesional atau Tenaga Kesejahteraan Sosial, dan tenaga ahli lainnya.

(3) Dalam hal melakukan pemeriksaan terhadap Anak Korban dan Anak Saksi, Penyidik wajib meminta laporan sosial dari Pekerja Sosial Profesional atau Tenaga Kesejahteraan Sosial setelah tindak pidana dilaporkan atau diadukan.

Pasal 28

Hasil Penelitian Kemasyarakatan wajib diserahkan oleh Bapas kepada Penyidik dalam waktu paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam setelah permintaan penyidik diterima.

Pasal 29

(1) Penyidik wajib mengupayakan Diversi dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari setelah penyidikan dimulai.

(2) Proses Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah dimulainya Diversi.

(31)

54

(3) Dalam hal proses Diversi berhasil mencapai kesepakatan, Penyidik menyampaikan berita acara Diversi beserta Kesepakatan Diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan.

(4) Dalam hal Diversi gagal, Penyidik wajib melanjutkan penyidikan dan melimpahkan perkara ke Penuntut Umum dengan melampirkan berita acara Diversi dan laporan penelitian kemasyarakatan.

2. Tingkat Penuntutan

Pasal 41

(1) Penuntutan terhadap perkara Anak dilakukan oleh Penuntut Umum yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Jaksa Agung atau pejabat lain yang ditunjuk oleh Jaksa Agung.

(2) Syarat untuk dapat ditetapkan sebagai Penuntut Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. telah berpengalaman sebagai penuntut umum;

b. mempunyai minat, perhatian, dedikasi, dan memahami masalah Anak; dan

c. telah mengikuti pelatihan teknis tentang peradilan Anak.

(3) Dalam hal belum terdapat Penuntut Umum yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tugas penuntutan dilaksanakan oleh penuntut umum yang melakukan tugas penuntutan bagi tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa.

(32)

55

Pasal 42

(1) Penuntut Umum wajib mengupayakan Diversi paling lama 7 (tujuh) hari setelah menerima berkas perkara dari Penyidik.

(2) Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari.

(3) Dalam hal proses Diversi berhasil mencapai kesepakatan, Penuntut Umum menyampaikan berita acara Diversi beserta kesepakatan Diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan.

(4) Dalam hal Diversi gagal, Penuntut Umum wajib menyampaikan berita acara Diversi dan melimpahkan perkara ke pengadilan dengan melampirkan laporan hasil penelitian kemasyarakatan.

3. Tingkat Pemeriksaan di Sidang Pengadilan

Pasal 52

(1) Ketua pengadilan wajib menetapkan Hakim atau majelis hakim untuk menangani perkara Anak paling lama 3 (tiga) hari setelah menerima berkas perkara dari Penuntut Umum.

(2) Hakim wajib mengupayakan Diversi paling lama 7 (tujuh) hari setelah ditetapkan oleh ketua pengadilan negeri sebagai Hakim.

(3) Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari.

(33)

56

(5) Dalam hal proses Diversi berhasil mencapai kesepakatan, Hakim menyampaikan berita acara Diversi beserta kesepakatan Diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan.

(6) Dalam hal Diversi tidak berhasil dilaksanakan, perkara dilanjutkan ke tahap persidangan.

Pasal 53

(1) Anak disidangkan dalam ruang sidang khusus Anak.

(2) Ruang tunggu sidang Anak dipisahkan dari ruang tunggu sidang orang dewasa.

(3) Waktu sidang Anak didahulukan dari waktu sidang orang dewasa.

Pasal 54

Hakim memeriksa perkara Anak dalam sidang yang dinyatakan tertutup untuk umum, kecuali pembacaan putusan.

Pasal 55

(1) Dalam sidang Anak, Hakim wajib memerintahkan orang tua/Wali atau pendamping, Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, dan Pembimbing Kemasyarakatan untuk mendampingi Anak.

(2) Dalam hal orang tua/Wali dan/atau pendamping tidak hadir, sidang tetap dilanjutkan dengan didampingi Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya dan/atau Pembimbing Kemasyarakatan.

(34)

57

(3) Dalam hal Hakim tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sidang Anak batal demi hukum.

Pasal 56

Setelah Hakim membuka persidangan dan menyatakan sidang tertutup untuk umum, Anak dipanggil masuk beserta orang tua/Wali, Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, dan Pembimbing Kemasyarakatan.

Pasal 57

(1) Setelah surat dakwaan dibacakan, Hakim memerintahkan Pembimbing Kemasyarakatan membacakan laporan hasil penelitian kemasyarakatan mengenai Anak yang bersangkutan tanpa kehadiran Anak, kecuali Hakim berpendapat lain.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi:

a. data pribadi Anak, keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial;

b. latar belakang dilakukannya tindak pidana;

c. keadaan korban dalam hal ada korban dalam tindak pidana terhadap tubuh atau nyawa;

d. hal lain yang dianggap perlu;

e. berita acara Diversi; dan

(35)

58

Pasal 58

(1) Pada saat memeriksa Anak Korban dan/atau Anak Saksi, Hakim dapat memerintahkan agar Anak dibawa keluar ruang sidang.

(2) Pada saat pemeriksaan Anak Korban dan/atau Anak Saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua/Wali, Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, dan Pembimbing Kemasyarakatan tetap hadir.

(3) Dalam hal Anak Korban dan/atau Anak Saksi tidak dapat hadir untuk memberikan keterangan di depan sidang pengadilan, Hakim dapat memerintahkan Anak Korban dan/atau Anak Saksi didengar keterangannya:

a. di luar sidang pengadilan melalui perekaman elektronik yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan di daerah hukum setempat dengan dihadiri oleh Penyidik atau Penuntut Umum dan Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya; atau

b. melalui pemeriksaan langsung jarak jauh dengan alat komunikasi audiovisual dengan didampingi oleh orang tua/Wali, Pembimbing Kemasyarakatan atau pendamping lainnya.

Pasal 59

Sidang Anak dilanjutkan setelah Anak diberitahukan mengenai keterangan yang telah diberikan oleh Anak Korban dan/atau Anak Saksi pada saat Anak berada di luar ruang sidang pengadilan.

(36)

59

Pasal 60

(1) Sebelum menjatuhkan putusan, Hakim memberikan kesempatan kepada orang tua/Wali dan/atau pendamping untuk mengemukakan hal yang bermanfaat bagi Anak. (2) Dalam hal tertentu Anak Korban diberi kesempatan oleh Hakim untuk menyampaikan pendapat tentang perkara yang bersangkutan.

(3) Hakim wajib mempertimbangkan laporan penelitian kemasyarakatan dari Pembimbing Kemasyarakatan sebelum menjatuhkan putusan perkara.

(4) Dalam hal laporan penelitian kemasyarakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipertimbangkan dalam putusan Hakim, putusan batal demi hukum.

Pasal 61

(1) Pembacaan putusan pengadilan dilakukan dalam sidang yang terbuka untuk umum dan dapat tidak dihadiri oleh Anak.

(2) Identitas Anak, Anak Korban, dan/atau Anak Saksi tetap harus dirahasiakan oleh media massa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dengan hanya menggunakan inisial tanpa gambar.

(37)

60

(1) Pengadilan wajib memberikan petikan putusan pada hari putusan diucapkan kepada Anak atau Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Penuntut Umum.

(2) Pengadilan wajib memberikan salinan putusan paling lama 5 (lima) hari sejak putusan diucapkan kepada Anak atau Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya, Pembimbing Kemasyarakatan, dan Penuntut Umum.

C. Analisis

Dengan adanya peraturan mengenai Diversi diharapkan dapat mencapai keadilan dan kebaikan antara kedua belah pihak. Tujuan penjatuhan sanksi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana memiliki sebuah tujuan. Tujuan tersebut dipengaruhi oleh filsafat yang dijadikan sebuah dasar ancaman dan penjatuhan pidana. Filsafat pemidanaan adalah suatu landasan filosifis yang bertujuan merumuskan ukuran keadilan jika terjadi suatu pelanggaran hukum pidana. Salah satu filsafat keadilan dalam hukum pidana adalah keadilan yang berbasis pada filsafat restorasi atau pemulihan yang juga disebut dengan Restorative Justice. Restorativ Justice mengedepankan keterlibatan langsung dari para korban dan pelaku. Korban diharapkan dapat terobati dan kembali lagi di kehidupannya secara normal, sedangkan pelaku dituntut untuk memikul tanggung jawab sebagai bagian dalam memperbaiki kesalahan yang terlah diperbuat. Di dalam Restorative Justice membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan kedua belah pihak untuk dapat merekonsiliasikan konflik yang terjadi.

(38)

61

Berdasarkan perbandingan antara Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 dan Perma Nomor 4 Tahun 2014 dikaitkan dengan filosofi pemidanaan bagi anak dapat dikaji sebagai berikut :

a. Jika dikaitkan dengan Perlindungan Hukum terhadap anak definisi seseorang dapat di katagorikan sebagai anak dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 lebih luas dan tepat. Karna di dalam Pasal 2 mengatakan bahwa seseorang yang berumur 12 tahun walaupun sudah pernah kawin tetapi belum berumur 18 tahun masih di anggap sebagai seorang anak. Ketentuan tersebut mengarah pada perlindungan hak anak, karna secara psikologis seseorang yang berumur dibawah 18 tahun belum mempunyai kesiapan mental yang sehat untuk membuat suatu keputusan untuk hidupnya sendiri maupun orang lain.

Perlindungan Anak itu sendiri bertujuan untuk menjamin, melindungi anak dan hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartsipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat manusia serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Anak adalah aset bangsa yang harus di jaga demi masa depan bangsa. Maka dari itu seorang anak yang sedang berhadapan dengan hukum harus mendapatkan perlindungan khusus demi masa depan yang lebih baik bagi anak tersebut. Perlindungan khusus bagi anak tersebut antara lain:

a. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak.

(39)

62

c. Penyediaan sarana dan prasarana khusus.

d. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak.

e. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum.

f. Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga.

g. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi.

Tujuan diberikannya perlindungan hukum terhadap anak adalah karena proses yang akan dilalui anak tersebut akan mempengaruhi pola pikir, tanggapan dan perilaku kehidupan anak tersebut dimasa mendatang. Oleh karena itu dalam hal ini, negara sudah mengatur sedemikian rupa mengenai bagaimana perlindungan yang diberikan demi menghormati Hak Asasi Anak.

b. Perma Nomor 4 Tahun 2014 lebih mengakomodasi Restorative Justice karna dalam peraturannya memperluas Diversi bagi anak yang diancam dengan tuntutan pidana penjara 7 tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidiaritas, anternatif, kumulatif dan kombinasi.

Peraturan tersebut terdapat di dalam Pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut : Hakim Anak wajib mengupayakan Diversi dalam hal Anak didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih dalam bentuk

(40)

63

surat dakwaan subsidiaritas, anternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan).

Dalam peraturan tersebut lebih membuka kemungkinan bagi seorang anak untuk mendapatkan upaya Diversi dalam dakwaan. Selain itu juga peraturan di dalam Perma lebih adil, dan lebih selaras dengan filosofi Pemidanaan Restorative Justice. Karena Restorative Justice itu sendiri memberikan kesempatan bagi pelaku untuk bertanggung jawab langsung kepada korban dan membuat kesepakatan antara pelaku dan korban sebagai ganti rugi atas apa yang telah pelaku perbuat. Selaras dengan tujuan dari Diversi untuk menyelesaikan masalah di luar proses peradilan dan memberikan kesempatan kedua bagi pelaku untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Konsep dari Restorative Justice merupakan suatu tujuan agar dilakukan konsep Diversi pada pengadilan pidana anak. Inti Restorative Justice adalah pembelajaran moral dan tanggung jawab bagi pelaku, partisipasi langsung dari masyarakat, rasa memaafkan bagi korban serta membuat perubahan yang semua itu adalah pedoman bagi proses restorasi dalam Restorative Justice.

Jika melihat dari kedua peraturan yang mengatur mengenai Diversi tersebut yaitu antara Perma Nomor 4 Tahun 2014 dan Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 penulis menyimpulkan peraturan yang terdapat di dalam Perma lebih selaras dengan tujuan Diversi itu sendiri yaitu penyelesaian tindak pidana anak di luar pengadilan dan juga dapat tercipta Restorative Justice. Peraturan di dalam Perma lebih mengatur secara detail apa saja dan bagaimana seharusnya Diversi itu berjalan. Perbedaan yang paling penting dan mendasar dalam ke dua peraturan

(41)

64

tersebut adalah syarat terjadinya upaya Diversi. Seperti yang telah tertulis di atas syarat Diversi menurut Perma Nomor 4 Tahun 2014 adalah jika Ancaman pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidiaritas, anternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan). Sedangkan syarat terjadinya Diversi di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 adalah jika ancaman pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.

Syarat terjadinya Diversi di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 lebih membuka kesempatan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana untuk mendapatkan upaya Diversi. Sedangkan syarat yang ada di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 mempersempit kesempatan anak untuk mendapatkan upaya Diversi karna ancaman maksimal seorang anak untuk mendapatkan upaya Diversi adalah 7 (tujuh) tahun.

Dengan demikian jika melihat perbedaan kedua peraturan tersebut dan mempertibangkan tujuan dari Diversi itu sendiri dan aspek keadilan Restorative

Justice maka peraturan yang terdapat di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014

Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Anak di rasa lebih baik dan tepat untuk di terapkan. Walaupun dalam hal ini peraturan di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014 di rasa lebih dan tepat tetapi peraturan yang terdapat di dalam Perma tersebut tidak mengikat kepolisian dan kejaksaan. Karna kedudukan Perma sebagai peraturan perundang-undangan di bawah undang- undang.

(42)

65

Merujuk pada Undang-UndangNomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, yang telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Pasal 8 ayat (1) UU 12/2011 mengatur: “Jenis peraturan perundang-undangan selain yang disebut dalam Pasal ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan…Mahkamah Agung…”. Rumusan ini senafas dengan Pasal 7 ayat (4) dan penjelasan Undang-UndangNomor 10 Tahun 2004. Selanjutnya, Pasal 8 ayat

(2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 menegaskan peraturan perundang- undangan tersebut diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.35

Dengan kata lain peraturan di dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2012 lebih di utamakan dalam proses Diversi yang berjalan ketimbang peraturan di dalam Perma Nomor 4 Tahun 2014.

35

Muhammad Yasin, S.H., M.H. Klinik: Kekuatan Hukum Produk-produk Hukum MA (Perma,

SEMA, Fatwa, SK KMA) di https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl6102/kekuatan-hukum-produk-produk- hukum-ma-perma--sema--fatwa--sk-kma/ (dikunjungi pada tanggal 15 Oktober 2020 pkl 14.00 WIB).

(43)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Hasil Penelitian