10 BAB II
A. Kerangka Teori
1. Tindak Pidana Perkosaan sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan a. Pengertian Tindak Pidana Perkosaan
Kejahatan atau tindak pidana merupakan masalah kemanusiaan dan juga merupakan permasalahan sosial, bahkan dinyatakan sebagai the oldest sosial problem (Benedict A. Alper, 1973 : 85). Pengertian tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal dengan istilah strafbaar feit dan dalam hukum pidana sering mempergunakan istilah delik, sedangkan pembuat undang-undang merumuskan suatu undang- undang mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau tindak pidana. Tindak pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar dalam ilmu hukum sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang kongkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari- hari dalam kehidupan masyarakat (Mariana Amiruddin, 2018 : 107).
Tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum, yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan. Orang yang melakukan perbuatan pidana akan mempertanggungjawabkan perbuatan dengan pidana apabila ia mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu melakukan perbuatan dilihat adanya norma masyarakat yang dilanggar. Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang memiliki unsur kesalahan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan
pidana, di mana penjatuhan pidana terhadap pelaku adalah demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.
(Lamintang, 2011 : 16). Perkosaan (rape) merupakan bagian dari tindakan kekerasan (violence), sedangkan kekerasan dapat berupa kekerasan secara fisik, mental, emosional dan hal-hal yang sangat menakutkan pada korban. Adanya unsur kekerasan tersebut merupakan unsur yang membedakan pemerkosaan.
Tindak pidana merupakan suatu pengertian dasar dalam hukum pidana, tindak pidana adalah pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah perbuatan atau kejahatan yang diartikan secara yuridis atau secara kriminologis. Pengertian unsur subjektif adalah unsur- unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus di lakukan(Lamintang, 2011: 193).
Perkosaan secara sosiologis adalah menggunakan paksaan terhadap perempuan untuk bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, selanjutnya mengatakan bahwa kelamin dari seorang wanita karena hubungan tidak wajar antara kedua bagian kelamin itu menimbulkan akibat luka pada wanita. Untuk persetubuhannya pada umumnya tidak perlu terjadi pertumpahan air mani, berhubung ketentuan dalam pasalnya tidak ditujukan kepada kehamilan, karena kehamilan tidak terletak dalam kekuasaan manusia seutuhnya (Bella Sandiata, 2018 : 118).
b. Unsur – unsur Tindak Pidana Perkosaan
Tindak pidana perkosaan diatur dalam Pasal 285 KUHP yang berbunyi barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling
lama 12 tahun. Tindak pidana perkosaan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP hanya mempunyai unsur – unsur objektif, masing- masing yakni :
1) Barangsiapa;
2) Dengan kekerasan atau;
3) Dengan ancaman akan memakai kekerasan;
4) Memaksa;
5) Seorang wanita;
6) Mengadakan hubungan kelamin di luar perkawinan;
7) Dengan dirinya
Perumusan undang – undang dalam Pasal 285 KUHP tidak mensyaratkan adanya unsur kesengajaan pada diri pelaku dalam melakukan perbuatan tersebut, namun dengan dicantumkannya unsur memaksa dalam rumusan ketentuan pidana tersebut sudah dapat dipastikan bahwa tindak pidana perkosaan yang tertera dalam Pasal 285 KUHP tersebut harus dilakukan dengan sengaja.
c. Jenis – jenis Tindak Pidana Perkosaan 1) Sadistic Rapes
Perkosaan sadistic, artinya, pada tipe ini seksualitas dan agresif berpadu dalam bentuk kekerasan yang merusak, pelaku tindak pidana perkosaan telah nampak menikmati kesenangan erotik bukan melalui hubungan seksnya, melainkan melalui serangan yang mengerikan atas alat kelamin dan tubuh korban.
2) Anger Rape
Anger Rape adalah penganiayaan seksual yang bercirikan seksualitas menjadi sarana untuk menyatakan dan melampiaskan perasaan geram dan marah yang tertahan. Di sini tubuh korban seakan-akan merupakan obyek terhadap siapa pelaku yang memproyeksikan pemecahan atas frustasi-frustasi, kelemahan- kelemahan, kesulitan dan kekecewaan hidupnya.
3) Domination Rape
Domination Rape adalah suatu perkosaan yang terjadi ketika pelaku mencoba untuk gigih atas kekuasaan dan superioritas terhadap korban. Tujuannya adalah penaklukan seksual, pelaku menyakiti korban, namun tetap memiliki keinginan berhubungan seksual.
4) Seductive Rape
Seductive Rape merupakan suatu perkosaan yang terjadi pada situasi-situasi yang merangsang, yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada mulanya korban memutuskan bahwa keintiman personal harus dibatasi tidak sampai sejauh kesenggamaan.
Pelaku pada umumnya mempunyai keyakinan membutuhkan paksaan, oleh karena tanpa itu tak mempunyai rasa bersalah yang menyangkut seks.
5) Victim Precipitatied Rape
Perkosaan ini adalah perkosaan yang terjadi dengan menempatkan korban sebagai pencetusnya.
6) Exploitaion Rape
Merupakan perkosaan yang menunjukkan bahwa pada setiap kesempatan melakukan hubungan seksual yang diperoleh oleh laki-laki dengan mengambil keuntungan yang berlawanan dengan posisi wanita yang tergantung padanya secara ekonomis dan sosial (Supomo Ari Sasongko, 2014 : 270).
Berdasarkan penjelasan sebelumnya laki-laki dan perempuan dapat menjadi korban dari kejahatan terhadap kemanusiaan, namun perempuan seringkali mengalami kekerasan-kekerasan terhadap kemanusiaan yang secara khusus dilakukan kepada dirinya karena ia seorang perempuan. Tindak pidana perkosaan disebutkan sebagai salah satu kekerasan seksual yang dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan disebabkan karena tindak pidana perkosaan merupakan suatu tindakan yang memaksa korbannya untuk melakukan sesuatu di luar keinginan korban. Tindakan pemaksaan
ini secara tidak langsung sudah merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia korban tersebut. Sesuai dengan Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (1993) yang menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah pelanggaran hak - hak asasi dan kebebasan fundamental perempuan, serta menghalangi atau meniadakan kemungkinan perempuan untuk menikmati hak-hak asasi dan kebebasan mereka.
Masyarakat menganggap bahwa tindak pidana perkosaan sebagai unsur pemaksaan harus diakhiri dengan lebam bekas aniaya, bagian tubuh yang berdarah atau bahkan kematian. Pola pikir masyarakat masih beranggapan bahwa hubungan seksual yang dipaksakan akan sah disebut sebagai tindak pidana perkosaan apabila ada tindakan fisik yang terlihat secara nyata dan membekas.
Pemahaman seperti ini yang seharusnya dapat dihindari karena sangat merugikan pihak korban, tindak pidana perkosaan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak hanya meninggalkan luka fisik namun juga meninggalkan luka secara psikis bagi korban – korbannya. Kerugian yang dialami oleh perempuan sebagai korban tindak pidana perkosaan merupakan kerugian terhadap martabatnya sebagai perempuan.
Trauma yang dialami oleh korban merupakan trauma berkepanjangan yang akan terus ada selama korban masih hidup.
Trauma yang dialami korban tindak pidana perkosaan merupakan trauma yang tidak dapat dihilangkan atau disembuhkan. Penanganan terhadap korban tindak pidana perkosaan dalam layanan psikologis atau konseling merupakan salah satu cara yang dapat meminimalisir trauma korban namun tetap tidak menghilangkan adanya trauma tersebut. Permasalahan lain adalah tidak semua korban mendapatkan akses untuk layanan psikologis dan konseling, hal ini yang kemudian menambah penderitaan korban ketika tidak mendapatkan perhatian khusus.
Metode penanganan terhadap perempuan korban tindak pidana perkosaan memiliki perbedaan dengan korban - korban lainnya.
Antara lain seperti, korban yang awalnya merasa tidak memerlukan bantuan dan lebih memilih untuk menyimpan rahasianya sendiri ketika di bujuk untuk melapor oleh orang terdekatnya akan merasa bahwa semua pihak menyudutkan korban. Korban cenderung lebih nyaman ketika bercerita mengenai kejadian yang dialaminya kepada sesama perempuan, namun respond dari petugas juga merupakan suatu hal penting karena korban merasa lebih sensitif. Salah satu peristiwa yang pernah dialami oleh anggota Komnas Perempuan adalah perasaan korban yang merasa tidak ada satupun orang yang mendukungnya, bahkan anggota Komnas tersebut dianggap memberikan tatapan sinis pada saat korban bercerita walaupun anggota Komnas tersebut tidak melakukannya.
Media pemberitaan merupakan salah satu pihak yang dapat secara tidak langsung turut serta memberikan ketidakadilan bagi korban. Kepentingan komersil media seringkali didahulukan dibandingkan dengan harus melindungi korban dan memperhatikan etika – etika jurnalistik. Salah satu peranan media dalam memberikan ketidakadilan terhadap korban adalah dengan mengungkapkan nama korban tanpa samaran atau inisial, tempat tinggal korban dan profesi korban. Selain itu, seringkali terjadi adanya penggiringan opini yang turut menyalahkan korban atas pakaian yang digunakan hingga detail – detail peristiwa yang digunakan sebagai sarana untuk menarik minat pembaca.
d. Tindak Pidana Perkosaan dalam Hukum Positif di Indonesia Tindak pidana perkosaan dapat terjadi kepada siapa saja, selain kepada perempuan dewasa dapat juga terjadi kepada anak – anak.
Pasal – pasal yang disebutkan dalam KUHP tersebut merupakan aturan hukum yang digunakan untuk kategori perempuan dewasa, sedangkan untuk anak – anak dapat menggunakan aturan hukum berdasarkan Undang – Undang No. 23 Tahun 2002 jo. Undang – Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Perempuan dewasa yang sudah terikat dalam perkawinan dapat menggunakan aturan hukum berdasarkan Undang – Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Aturan – aturan hukum tersebut akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :
1) Tindak Pidana Perkosaan berdasarkan Kitab Undang – Undang Hukum Pidana
Tindak pidana mengenai perkosaan diatur dalam Pasal 285- 288 KUHP yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1) Pasal 285 KUHP yang berbunyi “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.” mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain :
(1) Barang siapa, hal ini menunjukkan pada subjek kejahatan atau pelaku kejahatan, pelaku kejahatan pada umumnya adalah laki – laki namun tidak semua laki-laki dapat dituduh telah melakukan perbuatan pemerkosaan terhadap perempuan. Sehingga dapat disimpulkan laki – laki yang dimaksud adalah yang memenuhi unsur Pasal 285 KUHP;
dan
(2) Dengan kekerasaan atau ancama kekerasan, hal ini menunjukkan kekerasan merupakan suatu sarana untuk memaksa, suatu sarana yang mengakibatkan adanya perlawanan dari orang yang dipaksa dan membuatnya menjadi lemah.
2) Pasal 286 KUHP yang berbunyi “barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, sedang diketahuinya bahwa perempuan itu pingsan atau tidak berdaya, dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun.” mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain :
a) Bersetubuh dengan yang bukan istrinya (unsur objektif);
dan
b) Bahwa perempuan tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, pasal ini menuntut pelaku harus mengetahui atau menyadari bahwa perempuan tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya (unsur subjektif).
3) Pasal 287 KUHP yang berbunyi “barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, sedang diketahuinya atau patut disangkanya, bahwa unsur perempuan itu belum cukup 15 tahun kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa perempuan itu belum masanya untuk kawin, dihukum penjara selama-lamanya sembilan tahun.” mengandung beberapa unsur di dalamnya, antara lain :
(1) Bersetubuh dengan yang bukan istrinya (unsur objektif);
dan
(2) Bahwa perempuan tersebut belum berusia 15 tahun dan belum masanya untuk kawin (unsur subjektif).
4) Pasal 288 KUHP (1) yang berbunyi “barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang diketahuinya atau harus patut disangkanya, bahwa perempuan itu belum masanya buat dikawinkan, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun,
kalau perbuatan itu berakibat badan perempuan itu luka” (2)
“kalau perbuatan itu menyebabkan perempuan mendapat luka berat, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun” (3) “jika perbuatan itu menyebabkan perempuan itu mendapat luka berat, dijatuhkan penjara selama-lamanya delapan tahun.” Mengandung beberapa unsur, antara lain : (1) Bersetubuh dengan istrinya, yang belum masanya untuk
dikawinkan (unsur objektif); dan
(2) Perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat (unsur objektif).
2) Tindak Pidana Perkosaan berdasarkan Undang – Undang Perlindungan Anak
UUPA merupakan suatu aturan perundang – undangan yang dibuat khusus untuk melindungi anak. Kategori anak dalam undang – undang ini adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk di dalamnya anak yang masih berada dalam kandungan. Perlindungan yang diberikan oleh UUPA adalah jaminan untuk melindungi hak – hak anak agar dapat tetap hidup, tumbuh dan mendapat perlindungan dari kekerasan serta diskriminasi. Hak anak tidak terlepas dari Hak Asasi Manusia (HAM) oleh karena itu anak wajib dilindungi dan dipenuhi hak – haknya oleh orangtua, keluarga, masyarakat maupun pemerintah.
Aturan hukum mengenai tindak pidana perkosaan dalam UUPA dijelaskan dalam Pasal 76D sebagai berikut : setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Unsur yang terkandung dalam pasal tersebut antara lain : a) Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
Kekerasan adalah kekuatan fisik atau perbuatan fisik yang menyebabkan orang lain secara fisik tidak berdaya, tidak
mampu melakukan perlawanan atau pembelaan. Sedangkan yang dimaksud dengan ancaman kekerasan adalah serangkaian psikis yang menyebabkan orang menjadi ketakutan sehingga tidak mampu melakukan pembelaan atau perlawanan atau kekerasan yang belum diwujudkan tapi yang menyebabkan orang yang terkena tidak mempunyai pilihan selain mengikuti kehendak orang yang mengancam dengan kekerasan.
b) Memaksa anak untuk bersetubuh.
Persetubuhan yaitu peraduan antara anggota kemaluan laki- laki (penis) dan perempuan (vagina) yang dilakukan sebagai suatu hubungan badan untuk bereproduksi (Ardiyaningsih, 2016 : 87).
3) Tindak Pidana Perkosaan berdasarkan Undang – Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
Peraturan perundang – undangan mengenai tindak pidana perkosaan dalam rumah tangga di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Pasal 8 UU PKDRT menjelaskan bahwa kekerasan seksual dalam perkawinan yang dimaksud dalam Pasal 5 huruf c adalah pemaksaan hubungan seksual terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan tujuan komersial dan tujuan tertentu. Aturan tersebut masih sangat luas dikarenakan korban yang dimaksud dalam pasal tersebut adalah semua orang yang berada di rumah tersebut seperti anak, anak angkat, suami atau istri, mertua ipar dan pembantu rumah tangga, hal ini terlihat belum adanya spesifikasi korban dalam menentukan penjatuhan sanksi pidana. Spesifikasi korban merupakan suatu hal penting karena spesifikasi berhubungan dengan penjatuhan sanksi pidana pada pelaku yang bersangkutan.
Spesifikasi terhadap istri sebagai korban (marital rape) menurut teori nurture (konstruksi sosial masyarakat) yang menempatkan perempuan stratanya lebih rendah dari laki-laki sehingga posisi perempuan dalam perkawinan akan selalu ada di bawah posisi laki – laki. Pemaksaan hubungan seksual dalam rumah tangga juga dapat disebabkan oleh adanya budaya patriarki yang menyebabkan ketidaktahuan istri bahwa hal tersebut merupakan tindak pidana. Hubungan seksual antara suami dan istri di anggap sebagai kewajaran yang di lakukan berulang-ulang selama ikatan perkawinan terjadi sehingga tindak pidana perkosaan yang dilakukan oleh suami tersebut dianggap bukan sebagai suatu kejahatan. Beberapa ajaran agama dan budaya tertentu juga mengajarkan bahwa permintaan suami untuk melakukan hubungan seksual merupakan suatu kewajiban istri untuk dipenuhi.
Hubungan antara suami dan istri berbeda dengan ikatan antara majikan dan pembantu. Hubungan antara majikan dan pembantu merupakan suatu ikatan kerja, bukan merupakan ikatan perkawinan sehingga apabila pemaksaan hubungan terjadi maka perbuatan tersebut langsung dapat di klasifikasikan sebagai suatu perbuatan yang tidak wajar. Hubungan antara mertua dengan menantu atau dengan ipar juga bukan merupakan suatu ikatan perkawinan, sehingga masyarakat lebih mudah mengklasifikasikan apabila terjadi adanya pemaksaan hubungan.
pemaksaan hubungan yang terjadi kepada anak diatur secara spesifik dalam Undang – Undang Perlindungan Anak, sehingga ranah aturannya sudah di luar kapasitas UU PKDRT walaupun kategori “anak” tetap dicantumkan dalam lingkup rumah tangga.
2. Perlindungan Hukum terhadap Perempuan Korban Tindak Pidana Perkosaan
a. Pengertian Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum pada korban kejahatan secara memadai tidak saja merupakan isu nasional, tetapi juga internasional oleh karena itu masalah ini perlu memperoleh perhatian yang serius.
Perlindungan terhadap korban tindak pidana perkosaan membutuhkan partisipasi masyarakat yang berempati terhadap apa yang telah dialami oleh korban tersebut sehingga dapat memenuhi rasa kemanusiaan seperti yang disebutkan dalam Pancasila sila ke-2 yang berbunyi, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Menurut Setiono perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia (Setiono, 2004 : 3). Secara umum, perlindungan hukum dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
1) Perlindungan Hukum Preventif
Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu- rambu atau batasan-batasan dalam melakukan sutu kewajiban.
2) Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi tindak pidana atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Perlindungan hukum dapat diartikan perlindungan oleh hukum atau perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum.
Menurut Wahyu Sasongko dalam jurnalnya yang berjudul Ketentuan-ketentuan Pokok Hukum Perlindungan dijelaskan
beberapa cara memberikan perlindungan secara hukum, antara lain sebagai berikut :
1) Membuat peraturan (by giving regulation), yang bertujuan untuk:
a) Memberikan hak dan kewajiban;
b) Menjamin hak-hak para subyek hukum
2) Menegakkan peraturan (by the law enforcement) melalui:
a) Hukum administrasi Negara yang berfungsi untuk mencegah (preventif) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, dengan perijinan dan pengawasan.
b) Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang- undangan, dengan cara mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman;
c) Hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative, recovery), dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian. (Wahyu Sasongko, 2007: 31).
Hukum positif Indonesia memberikan pemahaman yang berbeda mengenai perlindungan hukum, pemahaman ini berdasarkan dengan bidang dan kebutuhannya masing – masing.
Aturan yang menjelaskan pengertian perlindungan hukum antara lain:
1) UU Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 1 Angka 8 menjelaskan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan undang - undang ini.
2) UU HAM dalam penjelasan Pasal 8 menjelaskan yang dimaksud dengan “perlindungan” adalah termasuk pembelaan hak asasi manusia.
3) UU PKDRT Pasal 1 Angka 4 menjelaskan perlindungan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan.
b. Pengertian Korban
UU Perlindungan Saksi dan Korban Pasal 1 Ayat (3) dijelaskan bahwa korban adalah orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana. Muladi dalam jurnalnya yang berjudul Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana menjelaskan korban adalah orang-orang yang baik secara individual maupun kolektif telah menderita kerugian, termasuk kerugian fisik maupun mental, emosional, ekonomi, atau gangguan substansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau komisi yang melanggar hukum pidana di masing-masing negara, termasuk penyalah-gunaan kekuasaan (Muladi, 1997 : 108).
Penderitaan atau kerugian yang dialami korban tersebut bervariasi dan tergantung kejahatan yang dideritanya, kerugian atau penderitaan materiil jika harta benda milik korban hilang, rusak, atau nilai kegunaannya berkurang atau lenyap sama sekali. Korban dapat dikatakan mengalami penderitaan fisik jika badannya mengalami sakit atau cacat akibat kejahatan yang dialaminya, yang paling parah adalah hilangnya kemerdekaan, korban bisa juga mengalami penderitaan berupa psikis jika atas kejahatan yang dideritanya mengalami gangguan psikis atau kejiwaan mulai dari tingkat ringan hingga berat (Rena Yulia, 2013 : 80).
c. Jenis – jenis Korban
Korban dalam suatu tindak pidana secara umum terbagi menjadi 2 (dua) yaitu korban secara langsung dan korban secara
tidak langsung. Korban secara langsung merupakan korban utama dalam suatu tindak pidana, contohnya adalah dalam suatu tindak pidana perkosaan korban utamanya merupakan korban yang merasakan pemaksaan hubungan seksual kepadanya. Korban secara tidak langsung merupakan korban sekunder sebagai collateral damage (tambahan) dari suatu tindak pidana, contohnya dalam suatu tindak pidana perkosaan korban sekunder adalah keluarga korban yang turut merasakan sakit hati atas peristiwa yang dialami korban.
Pelaku tersebut memiliki tanggung jawab besar atas dampak yang dialami oleh korban utama maupun korban sekunder.
Dalam buku G Widiartana yang berjudul Viktimologi Perspektif Korban dalam Penanggulangan Kejahatan, dijelaskan mengenai beberapa jenis korban yang masing-masing tergantung pada jenis perlakuan yang didapatkannya. Jenis-jenis korban tersebut antara lain
1) Berdasarkan jenis viktimisasinya dapat dibedakan antara lain : a) Korban yang mengalami kerugian ataupun penderitaan
akibat bencana alam atau peristiwa yang bukan diakibatkan manusia;
b) Korban yang diakibatkan karena adanya suatu tindak pidana yang telah dirumuskan dalam suatu perumusan undang- undang; dan
c) Korban yang diakibatkan penyalahgunaan kekuasaan atau kebijakan penguasa yang berpihak pada yang kuat.
2) Berdasarkan jumlah
a) Korban yang jumlahnya perseorangan akibat suatu peristiwa atau perbuatan;
b) Korban berkelompok yang secara bersama-sama dari suatu peristiwa atau perbuatan; dan
c) Korban masyarakat/negara jenis ini cakupannya lebih luas dibanding korban berkelompok yang dapat menyebabkan dampak serius.
3) Berdasarkan hubungannya dengan sasaran tindak pelaku.
a) Korban langsung adalah korban yang secara langsung menjadi sasaran atau obyek pelaku; dan
b) Korban tindak langsung adalah korban yang bukan secara langsung menjadi obyek pelaku namun mendapatkan dampak dari kejahatan pelaku, misalnya seorang laki-laki yang memiliki anak dan istri dibunuh mana anak dan istri tersebut dapat dikatakan korban tidak langsung.
4) Berdasarkan pada faktor biologis, sosial, dan psikologis mengkategorikan korban sebagai berikut:
a) The Young
Korban yang masih berusia muda atau anak-anak, golongan ini sangat mudah menjadi target kejahatan bukan saja karena bentuk fisiknya yang tidak kuat tetapi juga bulum matang kepribadian dan tidak ketahan moralitas.
b) The Female
Korban adalah perempuan, biasanya golongan ini menjadi korban kekerasan seksual dan kejahatan terhadap harta benda, mereka sering dijadikan target kejahatan karena dianggap fisiknya lebih lemah dibanting laki-laki.
c) The Old
Korban yang berusia lanjut, golongan ini sering dijadikan target kejahatan karena fisik dan juga mental yang sudah mengalami penurunan.
d) The Mentally Defective and The Mentally Deranged
Korban yang cacat dan gila, golongan iini merupakan korban potensiil dan korban yang sesungguhnya karena kondisi psikis mereka yang menjadi kendala.
e) Immigrants
Imigran sering menjadi korban kejahatan karena kesulitan yang mereka alami dalam menilai dan beradaptasi dengan budaya baru (G Widiartana, 2014 : 28-34).
3. Keadilan ditinjau dalam Perspektif Gender a. Pengertian Gender
Pemahaman mengenai gender dikemukakan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang bersifat kodrat sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan tuntutan budaya untuk dikonstruksikan, dipelajari dan disosialisasikan. Pembedaan itu sangat penting, karena selama ini sering kali kita sering salah mengartikan dan mencampur adukkan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrat dan tidak berubah dengan ciri- ciri manusia yang bersifat gender yang sebenarnya dapat berubah.
Nilai dan aturan bagi laki-laki dan perempuan di setiap masyarakat berbeda – beda, hal ini disesuaikan dengan nilai sosial budaya setempat dan seringkali berubah seiring dengan perkembangan budaya.. Adapun istilah seks mengacu kepada perbedaan secara bilogis dan anatomis antara laki-laki dan perempuan (Mosse, 2002: 25). Joan Scoot, memberikan arti gender sebagai “a constitutive element of social relationships based on perceived differences between the sexes, and…a primary way of signifying relationships of power.” yang dapat diartikan sebagai
suatu elemen sosial yang memberikan perbedaan antara jenis kelamin dan cara untuk membedakan suatu pemegang kendali dalam hubungan (Joan Scoot, 2004 : 18). Women’s Studies Encylopedia menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep cultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakter emosional antara laki-laki atau perempuan yang berkembang di dalam masyarakat (Anastasia Reni, 2009: 221). Gender bukanlah suatu ketetuan yang bersifat kodrati karena pemahaman mengenai gender itu sendiri merupakan bentuk perbedaan yang diciptakan oleh manusia.
Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Menurut Cixous gender dijelaskan sebagai the difference between man and woman is based on their appearence and behaviour atau yang diterjemahkan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari segi nilai dan tingkah laku, sedangkan menurut Kristeva dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang merujuk pada karakteristik yang membedakan antara laki-laki dan perempuan baik secara biologis, perilaku, mentalitas, dan social budaya, gender is a cultural consept to differentiate between man and woman based on their biologist, behaviour, mentality and social culture (Remiswal : 2012, 12).
Gender menyangkut perbedaan psikologis, sosial, dan budaya antara laki-laki dan perempuan (Remiswal:2013: 12). Menurut Lasswel, gender diartikan sebagai pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak sadar, bahwa seseorang dalam suatu jenis kelamin tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain, “the knowledge and awareness conscious or unconscious, that one belongs to one sex and not to other”(Remiswal,2013:12).
Berdasarkan Rancangan Undang – undang Kesetaraan Gender tahun 2013 gender merupakan pembedaan perempuan dan laki – laki yang merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya.
b. Teori - teori Gender
Remiswal menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Menggugah Partisipasi Gender Di Lingkungan Komunitas Lokal pada garis besarnya teori dalam gender terbagi menjadi 2 (dua) kelompok antara lain :
1) Aliran Nature
Secara etimologi nature diartikan sebagai suatu karakter yang melekat atau keadaan bawaan pada seseorang sebagai sifat dasarnya seorang manusia. Nature juga dapat diartikan sebagai faktor kepribadian tentang kekuatan biologis yang mengatur perkembangan manusia. Nature diartikan sebagai faktor kepribadian yang terkembang secara alami dan dipengaruhi oleh genetic. Pengkajian mengenai gender memberikan pemahaman bahwa nature diartikan sebagai teori atau argumen yang menyatakan bahwa perbedaan sifat antar gender tidak lepas dan bahkan ditentukan oleh perbedaan biologis.
Disebut sebagai teori nature karena perbedaan antara laki- laki dan perempuan adalah natural dan dari perbedaan alami tersebut timbul perbedaan bawaan berupa atribut maskulin dan feminim yang melekat pada laki-laki dan perempuan secara alami. Aliran nature melihat perbedaan antara laki – laki dan perempuan dari sisi biologis atau alami dari Tuhan yang menciptakan. Perbedaan biologis terlihat pada kondisi fisik laki – laki yang cenderung lebih kuat dan kekar dibandingkan perempuan dan kemampuan perempuan untuk mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui yang tentunya tidak dapat dilakukan oleh laki – laki. Peran antara laki – laki dan perempuan dalam teori nature tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat dipertukarkan.
2) Aliran Nurture
Secara etimologi nurture diartikan sebagai kegiatan perawatan atau pemeliharaan, pelatihan, serta akumulasi dari faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kebiasaan dan ciri-ciri yang nampak. Nurture diartikan sebagai suatu faktor kepribadian tentang kekuatan lingkungan yang mengatur perkembangan manusia. Nurture dapat berupa lingkungan keluarga, masyarakat bahkan faktor ekonomi dan budaya.
Pengkajian mengenai gender sebagai teori atau argumen yang menyatakan bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminim bukan ditentukan oleh perbedaan biologis, melainkan konstruk sosial dan pengaruh faktor budaya.
Teori nurture disebabkan karena faktor-faktor sosial dan budaya yang menciptakan perbedaan gender serta membentuk stereotype dari jenis kelamin tertentu. Berbeda dengan aliran nature, peran yang dikonstruksi oleh budaya masyarakat masih dapat dipertukarkan, seperti mencari nafkah, menjadi pimpinan, menyelesaikan urusan domestik serta urusan publik dan sebagainya, yang mana dapat dimainkan secara bergantian antara laki-laki dan perempuan. Aliran nurture melihat perbedaan antara laki – laki dan perempuan dari sisi non - biologis dan merupakan suatu ciptaan manusia. Perbedaan antara laki – laki dan perempuan yang merupakan konstruksi manusia adalah penggunaan warna pink atau merah untuk perempuan dan biru untuk laki – laki.
c. Jenis – jenis Ketidakadilan Gender
Berdasarkan website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, beberapa jenis ketidakadilan gender antara lain :
1) Stereotype atau Pelabelan Negatif
Semua bentuk ketidakadilan gender sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender
antara laki-laki dan perempuan. Stereotype sendiri berarti pemberian label atau cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah. Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya. Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain.
Pelabelan negatif juga dapat dilakukan atas dasar anggapan pada suatu gender dan seringkali pelabelan tersebut diberikan kepada perempuan. Stereotype tidak hanya terjadi dalam rumah tangga, tetapi juga terjadi ditempat kerja dan masyarakat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Perempuan seringkali dianggap cengeng, suka digoda, dan emosional. Perempuan juga dianggap tidak mampu memberikan nafkah utama dan lebih pantas dirumah.
2) Kekerasan (violence)
Violence artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri- ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya.
Perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Pembedaan karakter tersebut bukannya memberikan suatu keringanan terhadap perempuan justru melahirkan tindakan kekerasan. Anggapan bahwa perempuan itu lemah diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-
mena, berupa tindakan kekerasan. Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya di dalam rumah tangga, pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan, pelecehan seksual dan eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.
Kekerasan yang terkait gender disebut sebagai “gender related violence” atau kekerasan berbasis gender yang pada dasarnya disebabkan oleh kekuasaan. Bentuk kekerasan ini tidak selalu terjadi antara laki-laki terhadap perempuan akan tetapi antara perempuan dengan perempuan atau bahkan antara perempuan dan laki-laki. Kekerasan terhadap perempuan sering terjadi karena budaya dominasi laki-laki terhadap perempuan.
Kekerasan digunakan oleh laki-laki untuk memenangkan perbedaan pendapat, menyatakan rasa tidak puas, dan seringkali untuk menunjukkan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan.
3) Marjinalisasi
Marjinalisasi adalah terjadinya suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja di luar rumah (public sector), seringkali dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.
4) Subordinasi
Subordinasi adalah suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. Perempuan belum berani menempatkan perannya apabila disandingkan dengan laki – laki, hal ini disebabkan karena adanya stigma negatif pada perempuan sebagai pemegang keputusan.
5) Beban Ganda Beban ganda (double burden)
Beban ganda artinya adalah beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus seperti selain harus mengurus rumah, terkadang perempuan juga harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah publik, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestik.
d. Konsep Kesetaraan dan Keadilan dalam Perspektif Gender 1) Pengertian Kesetaraan Gender
Kesetaraan dapat diartikan bahwa perempuan dan laki-laki dapat menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkan secara penuh hak- hak asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang kehidupan.
Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Terwujudnya kesetaraan ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki sehingga dengan demikian antara perempuan dan laki-laki memilik akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta
memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
Memiliki akses berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenangan untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan sumber daya. Upaya pelaksanaan untuk mencapai kesetaraan gender selain harus ditentukan dalam peraturan perundang-undangan juga harus diwujudkan dengan pendekatan dalam perspektif gender khususnya dalam rangka meningkatkan kedudukan, peran, dan kualitas hidup perempuan dalam rangka kesetaraan gender.
2) Pengertian Keadilan Gender
Keadilan gender adalah suatu kondisi dan perlakuan yang adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan adanya keadilan gender berarti tidak ada lagi pembagiaan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi, dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Keadilan gender terjadi bila peluang yang diberikan baik bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengejar berbagai minat, karir, gaya hidup dan kebutuhan spesifik perempuan atau laki-laki. Keadilan gender dapat tercapai ketika upaya dan kebijakan khusus dibuat untuk memberikan peluang yang setara bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan seperti adanya Rancangan Undang- undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) tahun 2013 yang menjelaskan mengenai materi pokok berupa hak dan kewajiban untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Tindakan keadilan, kesetaraan gender dijelaskan dalam beberapa bidang di dalam RUU KKG, antara lain bidang kewarganegaraan, pendidikan, ketenagakerjaan, ekonomi, kesehatan, administrasi, perkawinan, hukum, politik, lingkungan, sosial dan budaya serta komunikasi.
Dengan demikian, semua perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk mengembangkan segenap keterampilan dan bakatnya.
B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Skematik Kerangka Pemikiran Tindak Pidana
Perkosaan (Pasal 285 KUHP)
Perlindungan Hukum Perempuan Korban Tindak
Pidana Perkosaan dalam Perspektif Gender
Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 jo. Undang – Undang Nomor 31
Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Undang – Undang Nomor 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam
Rumah Tangga
Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo.
Undang – Undang Nomor 16 Tahun
2017 tentang Perlindungan Anak
Hambatan Komnas Perempuan dalam Memberikan Perlindungan terhadap Perempuan Korban
Tindak Pidana Perkosaan
Keterangan :
Kerangka pemikiran diatas menjelaskan tentang pemikiran penulis dalam menganalisis terjadinya tindak pidana perkosaan dari sudut pandang korban tindak pidana perkosaan. Tindak pidana perkosaan itu sendiri diatur dalam Pasal 285 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana sedangkan untuk perlindungan terhadap korban (termasuk korban tindak pidana perkosaan) dijelaskan dalam dalam UU Perlindungan Saksi dan Korban dan perlindungan sebagai manusia yang tertera dalam Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
Tindak pidana perkosaan yang terjadi dalam rumah tangga diatur secara spesifik dalam Undang – undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo. Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2014 jo. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak yang kemudian berdasarkan UU diatas akan dikaji dan dianalisis lagi lebih dalam pemberian perlindungan dan pemenuhan keadilannya berdasarkan perspektif gender.
Berdasarkan perspektif gender, UU Perlindungan Saksi dan Korban harus mengacu kepada UU HAM, hal ini disebabkan Hak – hak perempuan tidak dapat terlepas kaitannya dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karena itu penulis akan mengkaji mengenai perlindungan hukum yang diberikan kepada perempuan korban tindak pidana perkosaan berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku di Indonesia ditinjau dalam perspektif gender dan hambatan yang dialami Komnas Perempuan dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan korban tindak pidana perkosaan.