Pengumpulan data yang berhubungan dengan terapi lingkungan Contoh data :
Bangsal yang terlalu padat
Gagal menjaga prifasi psaien, fasilitas kamar mandi kurang Pasien tidak bebas memilih teman sekamar
Dinding yang dicat putih menyebabkan silau Situasi yang dingin dan bersaing
Kurang dukungan orientasi
Kekuatan otoritas, mencegah pasien terlibat dalam pengambilan keputusan 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakjelasan intelektual B/D ketidakmampuan memberi dukungan orientasi 3. INTERVENSI DAN PELAKSANAAN
Tujuan :
Jangka panjang : Memberi dukungan orientasi yang diperlukan Jangka pendek : Pasien dan staf menyumbang dukungan orientasi Punya administrasi untuk menyediakan dana
Kriteria hasil : Jam dinding, kalender dipasang
Papan pengumuman aktifitas dapat dilihat dengan jelas Peta untuk menunjuk arah ada
Tindakan dan pelaksanaan : a. Fisik
Pemikiran dalam pengembangan terapi lingkungan : partisipasi dalam desain lingkungan b. Intelektual
Perawat dapat bertanya pada ahli interior tentang : warna, tekstur, cahaya, grafik dan sebagainya.
Partisipsai aktif pasien, mendorong interaksi dan meningkatkan harga diri, misalnya : mencat, mengatur perabot, membersihkan lingkungan.
c. Sosial
Meningkatkan interaksi, komunikasi dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan Untuk komunikasi efektif perlu keterbukaan, reaksi dan umpan balik
Pemecahan konflik perlu konfrontasi yang prinsipnya perlu pimpinan netral. d. Emosional
Mengembangkan situasi harmonis, kerjasama dan kekompakan kelompok agar tercipta iklim yang mendukung keterlibatan dan spontanitas.
Faktor yang menentukan kekompakan kelompok diantaranya : Menerima satu dengan yang lain
Adanya kebersamaan tujuan e. Spiritual
Memaksimalkan arti dari pengalaman pengobatan, mengembangkan rasa damai, meningkatkan hubungan manusia alam, kreatifitas sehingga perlu peningkatan kualitas spiritual dari lingkungan.
4. EVALUASI
Apa tujuan sudah tercapai ?
Modifikasi agar cara kerja lebih efektif
APLIKASI TERAPI LINGKUNGAN PADA PASIEN GANGGUAN PERILAKU DAN INTERVENSI KEPERAWATANNYA No Gangguan perilaku dan diskripsi Tujuan Bentuk terapi lingkungan Intervensi
1. Destruktif perilaku merusak secara fisik yang merupakan respon dari bermacam- macam perasaan, seperti ketakutan atau kemarahan Mengontrol atau melakukan pembatasan terhadap respon perilaku yang maladaptive Containment (isolasi dan pengekangan) Gunakan komunikasi terapeutik
Dorongan pasien untuk identifikasi perilaku yang melatarbelakangi validasi untuk membantu pasien mengenal, mengetahui perasaannya
Memberikan perhatian perlindungan pada pasien dan orang lain.
2. Disorganisasi penyimpangan perilaku yang tidak sesuai pada psikotik, yang mungkin disebabkan oleh peningkatan kecemasan atau dis fungsi organil Menurunkan derajad penyimpangan perilaku melalui proses terapeutik Edukasi dan validasi Terangkan pasien dengan komunikasi dan sikap yang terapeutik
Bantu pasien menurunkan derajat perilaku yang maladaptif Beri perhatian dan dukungan
Empati dan kesediaan memberi dukungan Tingkatkan hubungan dan interaksi Hargai pasien
3. Disforia
Respon perilaku maladaptif seperti menarik diri lingkungan, perilaku obsesi atau hiperreligi Merubah perilaku maladaptif menjadi adaptif Edukasi support struktur Pertahankan hubungan terapeutik
Berikan perhatian dan edukasi Damping pasien beraktivitas. 4. Dependency
Ketidakmampuan pasien mengidentifiksai dan menemukan kebutuhannya sendiri, meskipun sebenarnya mampu mengerjakannya Meningkatkan kemampuan pasien dalam identifikasi kebutuhan
Meningkatkan kemandirian Structure positif involument Pertahankan hubungan terapeutik Identifiksai perilaku psien
Libatkan pasien dalam aktifitas yang terstruktur
Ajarkan dan dorong pasien untuk menerapkan perilaku mandiri yang adaptif. EVALUASI
1. Apa yang dimaksud dengan terapi lingkungan ? 2. Apa tujuan dilakukannya terapi lingkungan ?
3. Komponen apa saja yang perlu diperhatikan dalam terapi lingkungan ? BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KRISIS A. DEFINISI KRISIS
Dalam kehidupan, manusia harus mengatasi masalah terus menerus untuk menjaga keseimbangan atau balance antara stress dan mekanisme koping. Jika tidak seimbang maka akan bisa terjadi kondisi KRISIS. Krisis merupakan bagian dari kehidupan yang dapat terjadi dalam bentuk yang berbeda-beda, dengan penyebab yang berbeda, dan bisa eksternal/internal.
Krisis : konflik/masalah/gangguan internal yang merupakan hasil dari keadaan stressful/adanya ancaman terhadap self. Krisis : suatu kondisi individu tak mampu mengatasi masalah dengan cara penanganan (koping) yang biasa dipakai. Krisis : ketidakseimbangan psikologis yang merupakan hasil dari peristiwa menegangkan/mengancam integritas diri. B. PERIODE TERJADINYA KRISIS
Pra krisis Krisis Post krisis 1. Persepsi ancaman/bahaya 2. Sisi disorganisasi 3. Penyelesaian 4. Ketidakseimbangan PRAKRISIS :
Individu dapat berfungsi dengan baik dalam memenuhi kebutuhan KRISIS :
Individu mengalami ancaman / bahaya disorganisasi dan ketidakseimbangan
Individu mencoba menangani krisis dengan berbagai cara yang dimiliki atau dengan bantuan orang lain. POST KRISIS :
Penyelesaian krisis dapat menghasilkan : 1. Sama dengan sebelum krisis
Hasil pemecahan masalah efektif 2. Lebih baik daripada sebelum krisis
Individu menemukan sumber dan cara penanganan yang baru 3. Lebih rendah dari sebelum krisis.
Ke maladaftif --- terjadi depresi, curiga. C. TIPE KRISIS
1. Krisis perkembangan (Maturasi)
Sigmun Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi 5 fase yaitu : fase oral, fase anal, fase laten dan fase pubertas. Sedangkan Erik Erikson membagi menjadi 8 fase : masa bayi, masa kanak-kanak, masa pra sekolah, masa remaja, masa dewasa muda, masa dewasa pertengahan dan masa dewasa lanjut.
Dalam teori yang mereka kemukakan menekankan bahwa perkembangan tersebut merupakan satu rentang yang setiap tahap mempunyai tugas dan masalah yang harus diselesaikan untuk menuju kematangan pribadi individu. Keberhasilan seseorang menyelesaikan masalah pada fase-fase tersebut akan mempengaruhi individu mengatasi stress yang terjadi dalam hidupnya. Krisis maturasi terjadi dalam satu periode transisi yang dapat mengganggu keseimbangan psikologis seperti pada masa pubertas, masa
erkawinan, menjadi orang tua, menaupause, lanjut usia. Krisis maturasi membutuhkan perubahan peran yang memadai, sumber-sumber interpersonal dan penerimaan orang lain terhadap peran baru.
2. Krisis situasi
Krisis situasi terjadi apabila keseimbangan psikologis terganggu akibat suatu kejadian yang spesifik seperti : kehilangan, kehamilan yang tidak diinginkan, atau penyakit akut, kehilangan orang yang dicimtai, kegagalan.
Krisis situasi terjadi jika peristiwa eksternal tertentu menimbulkan ketidakseimbangan yang berupa : a. Dapat diduga
Peristiwa kehidupan : mulai sekolah, gagal sekolah
Hubungan dalam keluarga : bertambah anggota keluarga, perpisahan, perceraian Diri sendiri : putus pacar, dll.
b. Tidak dapat diduga
Peristiwa yang sangat traumatic dan tidak pernah diduga/diharapkan. Contoh : kematian orang yang dicintai, PHK, diperkosa, dipenjara.
3. Krisis sosial
Disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak diharapkan sertra menyebabkan kehilangan ganda dan sejumlah perubahan
dilingkungannya sepertiu gunung meletus, kebakaran, banjir, perang. Krisis ini tidak dialami oleh semua orang seperti halnya krisis maturasi.