• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Terjadinya Impairment

Dalam dokumen Akuntan Muda April 2011. pdf (Halaman 34-57)

Secara garis besar, tahapan terjadinya impairment dapat dirangkum sebagai berikut (Kieso et al., 2011):

Recoverable amount < carrying amount

Impairment

Nilai tertinggi antara : Nilai pakai vs nilai wajar

dikurangi biaya penjualan

Nilai asset – akumulasi depresiasi – akumulasi rugi penurunan nilai

Nilai pakai = Nilai sekarang dari taksiran arus kas yang diharapkan akan diterima atas penggunaan aset dan penghentian penggunaan aset pada akhir masa manfaatnya

terjadi karena

Akuntan Muda Halaman 34 1. Review kejadian atau keadaaan-keadaan yang

memungkinkan terjadinya impairment

2. Jika hasil review mengindikasikan adanya impairment, maka lakukan recoverability test (test untuk menentukan pakah impairment terjadi atau tidak). test ini dilakukan dengan cara menguji jika jumlah aliran aks masa depan yang diharapkan dari aset tetep kurang dari nilai tercatat, maka impairment talah tarjadi. 3. Asumsikan impairment terjadi, maka entitas akan

mengakui adanya impairment loss dimana nilai terbawa aset melebihi nilai wajar aset. Nilai wajar aset merupakan nilai pasar atau nilai sekarang dari aliran kas bersih masa depan yang diharapkan.

Sebagai contoh misalkan PT. Alou memiliki aset dengan nilai tercatat sebesar Rp600.000. karena adanya perubahan dalam penggunaan aset tersebut, perusahaan melakukan review apakah kemungkinan terjadi impairment. Aset memiliki kos awal sebesar Rp800.000 dan akumulasi depresiasi Rp200.000. PT. Alou mengekspektasikan future net cash flow

(undiscounted) dari penggunaan aset sebesar Rp650.000. Dari kondisi ini, maka apakah aset mengalami penurunan nilai (impairment)?

Asumsikan bahwa entitas telah melakukan review kejadian atau keadaaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya impairment dan hasil review mengindikasikan adanya impairment, maka tahap berikutnya adalah melakukan

Akuntan Muda Halaman 35 ekspektasi future net cash flow dari penggunaan aset sebesar Rp650.000 dan nilai tercatat sebesar Rp600.000. Dari situasi ini berarti tidak terjadi impairment karena recovarable amount

(dalam hal ini diwakili oleh nilai ekspektasi future net cash flow)

lebih besar dari pada nilai tercatatnya. Dengan demikian PT. Alou tidak akan mengakui adanya impairment loss.

Contoh lain untuk menggambarkan adanya impairment

dapat disimak sebagai berikut. Misalkan PT. Rama melakukan

impairment test untuk aset tetapnya. Aset tetapnya memiliki informasi value in used (nilai pakai) Rp200.000, nilai fair value

dikurangi biaya jual sebesar Rp190.000, dan carrying Amount

sebesar Rp250.000. Dari situasi ini untuk menentukan apakah terjadi impairment atau tidak, maka PT. Rama harus membandingkan recoverable amount dengan nilai terbawa. Impairment terjadi ketika Recoverable amount lebih kecil daripada carrying Amount.

Recoverable amount dalam kasus ini harus dipilih nilai terbesar antara 1) nilai fair value dikurangi biaya jual sebesar Rp190.000; 2) value in used (nilai pakai) Rp200.000. dari kedua informasi tersebut, maka yang menjadi Recoverable amount adalah value in used (nilai pakai) sebesar Rp200.000. Nilai terbawa aset sebesar Rp 250.000, sehingga Recoverable amount

lebih kecil daripada carrying Amount sebesar Rp250.000.000. dalam kasus ini, maka dapat dikatakan bahwa aset mengalami penurunan nilai (impairment).

Akuntan Muda Halaman 36

Gambar 2

Contoh Terjadinya Impairment

Setelah ditentukan bahwa aset mengalami penurunan nilai, maka konsekuensi dalam catatan akuntansi adalah PT. Rama harus mengakui adanya impairment loss sebesar selisih antara carrying Amount dengan recoverable amount-nya.

Recoverable amount < carrying amount

Rp200.000 < Rp.250.000 Impairment

Nilai tertinggi antara : Nilai pakai vs nilai wajar dikurangi biaya penjualan

Nilai asset – akumulasi depresiasi – akumulasi rugi penurunan nilai

Nilai tertinggi antara Rp 200.000 vs Rp190.000

terjadi karena

Akuntan Muda Halaman 37

Jurnal yang dibuat oleh PT. Rama untuk mengakui adanya

impairment loss:

Loss on Impairment ... Rp 50.000

Accumulated depreciation ...Rp50.000

Loss on impairment akan disajikan pada laporan laba rugi komprehensif pada bagian “other income and expense”. Perusahaan akan meng-kredit aset (yang terkait) atau ‘akumulasi depresiasi-aset’ untuk mengurangi carrying amount

dari aset untuk kasus impairment.

Impairment Loss = Carrying amount - Recoverable amount = 250.000 - Rp 200.000

Akuntan Muda Halaman 38 Setiap perusahaan tentunya

memiliki tujuan untuk mencapai profitabilitas yang baik. Profitabilitas dapat ditunjukkan dari angka laba

yang stabil dan meningkat dari tahun ke tahun serta aliran kas positif yang masuk ke dalam perusahaan. Profitabilitas tercermin dari informasi keuangan yang disampaikannya kepada publik. Berbagai skandal akuntansi dan keuangan yang terjadi beberapa tahun lalu telah berdampak pada krisis ekonomi global.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah seberapa penting informasi keuangan yang disampaikan oleh perusahaan. Apakah profitabilitas merupakan satu-satunya tolok ukur yang dapat dijadikan acuan untuk menilai kinerja perusahaan. Profitabilitas yang fokus pada nilai-nilai materil telah mengakibatkan sebagian perusahaan mengabaikan proses yang semestinya harus

Akuntan Muda Halaman 39 dilakukan dalam bisnis. Dari sisi manajemen, profitabilitas disiasati dengan berbagai cara, mulai dari cara yang legal melalui pemilihan kebijakan akuntansi yang menguntungkan hingga melibatkan tindakan fraud yang illegal. Bahkan perusahaan seringkali mengabaikan etika-etika dalam menjalankan proses bisnis yang seharusnya dilakukan untuk mencapai profitabilitas. Fokus pada profitabilitas yang bersifat finansial telah mengarahkan perusahaan untuk ‘menghalalkan’ berbagai cara dalam mencapainya. Persaingan pasar yang tidak sehat dan kerusakan lingkungan merupakan dampak yang ditimbulkan dari filsafat materialistis dalam mengejar profitabilitas.

Dari sudut pandang bisnis ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa etika dan bisnis merupakan suatu hal yang terpisah dan tidak dapat berjalan secara bersamaan. Namun pandangan ini perlu dikritisi lebih lanjut. Beberapa kesuksesan yang dialami oleh perusahaan-perusahaan besar semuanya berawal dari penerapan etika yang baik dalam proses bisnisnya apakah yang menyangkut proses produksi, perlakuan terhadap karyawan, pelanggan dan pemasok ataupun pesaing-pesaing mereka.

Akuntan Muda Halaman 40 Contoh yang dapat dikemukakan adalah Perusahaan Toyota yang menerapkan etika dalam proses produksi, kepada pelanggan dan supplier. Matsushita Electronics yang mampu bertahan hingga lebih dari satu abad karena prinsip etisnya dalam membangun karyawannya untuk tumbuh dan berkembang secara bersama-sama, memanusiakan setiap karyawannya dan peduli terhadap pelanggan. IBM yang peduli pada individu dan memberikan layanan yang terbaik dan tercepat kepada pelanggan, dan fokus kepada konsumen untuk membangun kepercayaan. Honda, Sony, dan Chrysler juga merupakan contoh perusahaan lainnya yang membangun serta mengembangkan perusahaannya dengan berdasarkan prinsip-prinsip etika yang baik dan benar. Dalam jangka pendek, menjalankan bisnis dengan etika seringkali akan menimbulkan biaya yang tinggi. Dalam jangka panjang, bisnis yang dilandasi oleh etika dan proses yang benar akan mampu menjamin keberlanjutan kegiatan perusahaan.

Informasi-informasi keuangan saat ini tidak lagi menjadi sumber utama yang dapat memenuhi kepentingan publik. Tuntutan

Akuntan Muda Halaman 41 publik atas penerapan prinsip-prinsip GCG terhadap proses bisnis yang dijalankan oleh perusahaan semakin meningkat. Angka-angka keuangan tidak lagi relevan untuk dijadikan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan jangka panjang. Isu mengenai kerusakan lingkungan, perubahan iklim dan sumber daya alam yang semakin menipis memiliki pengaruh yang signifikan dalam proses bisnis perusahaan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kegiatan bisnis telah membawa perubahan yang begitu besar dalam perekonomian, tetapi dampak eksternal yang ditimbulkannya terhadap lingkungan dan sosial kemasyarakatan juga besar. Proses bisnis yang dijalankan yang melibatkan aktivitas yang berhubungan dengan sosial, lingkungan dan tata kelola semakin dibutuhkan publik untuk menilai kinerja perusahaan secara menyeluruh dalam jangka panjang. Untuk memenuhi tuntutan tersebut sebagian perusahaan secara sukarela telah menyampaikan informasi-informasi non keuangan tersebut dalam laporan CSR atau sustainabilitas perusahaan. Ide pelaporan informasi mengenai lingkungan sebenarnya sudah dituangkan dalam publikasi yang berjudul Handbook of National Accounting: System for integrated Environmental and Economic Accounting (SEEA). Publikasi ini pertama kali diterbitkan oleh PBB

Akuntan Muda Halaman 42 pada saat workshop international yang diselenggarakan oleh

United Nation Environment Program (UNEP) dan Bank Dunia pada tahun 1993. Tujuan dari dipublikasikannya SEEA adalah untuk menyediakan rerangka penyajian informasi-informasi sumber daya lingkungan. Dengan adanya informasi tersebut analisis yang melibatkan keterkaitan antara lingkungan dan dan dampaknya terhadap ekonomi dapat ditelaah secara lebih menyeluruh. Setelah melalui diskusi yang panjang yang melibatkan berbagai lembaga, organisasi dan individu yang berkepentingan, pada tahun 2003, PBB melakukan resvisi terhadap SEEA.

Ide mengenai pelaporan informasi publik yang lebih komprehensif yang melibatkan informasi keuangan dan non-keuangan (sustainabilitas) kemudian semakin berkembang di forum-forum intenasional. Integrasi antara pelaporan keuangan dan sustainabilitas perusahaan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh profesi akuntansi di masa depan. Ide mengenai pelaporan publik yang lebih komprehensif telah diwacanakan sejak tahun 2004 dalam suatu proyek yang didirikan oleh Pangeran Charles (Prince of Wales). Proyek yang diberi nama

Akuntan Muda Halaman 43 mengembangkan suatu pendekatan baru dalam pelaporan akuntansi yang dapat memberikan konsekuensi keputusan jangka panjang. Pelaporan yang lebih lengkap dan komprehensif sangat diperlukan bagi pemangku kepantingan dalam menghadapi tantangan perekonomian global.

Perbedaan utama dari pelaporan keuangan dan non-keuangan adalah pada ketersediaan standar yang mengaturnya. Penyampaian informasi-informasi keuangan sudah diatur sedemikian rupa dengan standar seperti IFRS atau GAAP, yang diterima oleh masyarakat global. Meningkatnya kepentingan terhadap informasi non keuangan juga berimplikasi pada kebutuhan standarisasi atas pelaporan informasi tersebut. Standarisasi ini diperlukan agar nilai dari informasi yang disajikan meningkat dan dapat diperbandingkan berdasarkan periode pelaporan dan entitas pelapor.

Standar pelaporan informasi non keuangan yang ada sekarang ini belum berlaku secara global seperti halnya IFRS. Standar yang ada masih berupa inisiatif yang dilakukan oleh GRI. Inisiatif ini dilakukan oleh the Global Reporting Inisiatif (GRI) sejak tahun 2006. Organisasi nirlaba ini didanai oleh sponsorship dari lembaga internasional, proyek GCG, pemerintah dan komunitas

Akuntan Muda Halaman 44 internasional lainnya. GRI memiliki visi untuk mempromosikan pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan kinerja sosial sehingga dapat diterima secara luas seperti halnya pelaporan keuangan dan memberikan kontribusi penting bagi kesuksesan suatu organisasi. Untuk mencapi visi tersebut, upaya yang dilakukan oleh GRI adalah dengan menciptakan rerangka pelaporan sustainabilitas (GRI Sustainability Reporting Framework).

Rerangka pelaporan ini merupakan panduan yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam mengungkapkan informasi sustainabilitas mereka kepada publik. Proses pengembangan rerangka ini telah dilakukan secara sistematik melalui kegiatan diskusi dan dialog untuk mencapai consensus. Proses yang dilakukan secara terbuka dan inklusif ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan di lebih dari 60 negara di dunia. Pemangku kepentingan tersebut meliputi perusahaan, publik, akademisi, pekerja dan institusi professional.

Ide pelaporan informasi non keuangan berupa informasi sustainabilitas ini kemudian berkembang menjadi pelaporan integrasian. Integrasi antara informasi keuangan dan non keuangan akan memberikan gambaran yang lebih baik kepada

Akuntan Muda Halaman 45 pemangku kepentingan mengenai kinerja suatu perusahaan. Pada tanggal 11 September 2009, A4S bersama-sama dengan the GRI menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri oleh para investor, dewan standar, organisasi profesi akuntansi, perwakilan PBB dan perwakilan publik. Pertemuan ini menyepakati pentingnya pelaporan integrasian. Pertemuan ini juga merekomendasikan dibentuknya lembaga internasional yang berperan dalam mempromosikan pentingnya pelaporan integrasian.

Untuk mewujudkan ide tersebut, sejak bulan Agustus 2010 telah dibentuk organisasi internasional yang bertanggung jawab untuk menciptakan rerangka pelaporan integrasian yang dapat diterima secara global. Organisasi internasional tersebut adalah Komite Pelaporan Integrasian Internasional (International Integrated Reporting Committee, IIRC). Rerangka pelaporan yang dikembangkan oleh IIRC akan mengintegrasikan informasi keuangan, lingkungan, sosial dan tata kelola dalam format yang lebih jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan. Rerangka ini berperan penting dalam menjawab tantangan global berkaitan dengan ekonomi global dan sustainabilitas. Secara lebih lengkap, peran dan fungsi IIRC adalah:

Akuntan Muda Halaman 46 Meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pelaporan integrasian sehingga tercapai konsensus bersama diantara lembaga pemerintahan, otoritas pasar modal, perusahaan, investor, dewan standar akuntansi dan dewan standar lainnya dengan cara yang terbaik;

Mengembangkan rerangka pelaporan integrasian, yang meliputi ruang lingkup dan komponen-komponen penting yang terlibat.

Mengidentifikasikan area prioritas yang memerlukan upaya dan pengembangan lebih lanjut.

Mempertimbangkan apakah standar untuk pelaporan integrasian seharusnya diterapkan sebagai kewajiban (mandatory) atau bersifat sukarela (voluntary). IIRC juga memfasilitasi kolaborasi antara dewan standard dan upaya konvergensi atas standar-standar yang diperlukan dalam rangka menciptakan pelaporan integrasian;

Mempromosikan penerapan pelapoan integrasian terhadap regulator dan penyaji laporan keuangan yang berkepentingan.

Produk utama yang dikembangkan oleh IIRC yaitu rerangka pelaporan integrasian bertujuan untuk:

Akuntan Muda Halaman 47 Mendukung kebutuhan investor jangka panjang dalam pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi-informasi yang memiliki konsekuensi luas dan jangka panjang;

Merefleksikan hubungan antara lingkungan, sosial dan tata kelola dengan faktor-faktor keuangan dalam pengambilan keputusan yang berpengaruh terhadap kinerja dan kondisi dalam jangka panjang. Informasi seperti ini memberikan ketertautan yang lebih jelas antara nilai-nilai ekonomis dan sustainabilitas;

Menyediakan rerangka kerja yang diperlukan untuk faktor lingkungan dan sosial yang harus diperhitungkan secara sistematis dalam pelaporan dan pengambilan keputusan; Menyeimbangkan pengukuran kinerja dari hal-hal yang tidak semestinya yang hanya menekankan pada ukuran jangka pendek;

Menciptakan pelaporan yang lebih bernilai bagi manajemen dalam menjalankan kegiatan operasional bisnis sehari-hari. Pelaporan integrasian disebut juga dengan One Report. Konsep

One report merujuk laporan tunggal yang menggabungkan antara informasi keuangan dan informasi narasi yang tercantum

Akuntan Muda Halaman 48 di dalam laporan tahunan perusahaan dengan informasi non keuangan (yang meliputi permasalahan mengenai lingkungan, sosial dan tata kelola) yang dapat ditemui di dalam Laporan CSR ataupun Sustainabilitas Perusahaan. Penggabungan ini tidak hanya berarti membundel kedua laporan tersebut menjadi satu, tetapi yang lebih penting dari itu, laporan tunggal tersebut dapat menunjukkan hubungan timbal balik yang terjadi antara informasi keuangan dan non–keuangan.

Novo Nordic dan United Technology merupakan dua perusahaan yang telah mengintegrasikan informasi keuangan dan non keuangan dalam pelaporan tahunannya. Novo Nordic telah melakukan integrasi kedua informasi dalam pelaporan tahunannya sejak tahun 2003. Informasi keuangan disusun berdasarkan IFRS, sementara itu informasi non keuangan mengacu kepada standar yang dikeluarkan oleh The Global Reporting Inisiatif (GRI). Selain itu, Novo Nordic juga menggunakan KAP PWC yang menyediakan jasa assurance atas informasi non-keuangan yang disampaikan kepada publik. Pada tahun 2008, United Technology telah mengintegrasikan informasi keuangan dan non keuangan dalam pelaporan tahunannya. Laporan tahunan yang disampaikan tersebut memberikan

Akuntan Muda Halaman 49 gambaran yang lebih luas kepada pengguna mengenai hubungan antara angka-angka keuangan dengan pengukuran non-keuangan seperti penghematan konsumsi bahan bakar, penurunan insiden kecelakaan kerja, dan pengurangan emisi karbon, kebisingan dan nitrogen oxide.

(Arif Perdana)

Akuntan Muda Halaman 50 Ilmu pengetahuan makin lama

makin berkembang. Seiring dengan perkembangan tersebut, muncul pula jargon-jargon baru yang tidak kita kenal

Akuntan Muda Halaman 51 istilah teknis yang spesifik pada ilmu tertentu. Contoh jargon dalam bidang akuntansi (dalam Bahasa Inggris-nya) antara lain

audit, financial statements, accrual, dan net income.

Jargon sangat diperlukan agar para pembelajar dalam bidang terkait dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien. Misalnya ketika seorang pembelajar akuntansi menyebut 'net income' atau 'laba bersih' maka Anda paham bahwa yang dimaksud (i.e. laba bersih) adalah suatu angka yang dihasilkan dari perhitungan tertentu. Anda bisa membayangkan pendapatan (revenues)

dikurang biaya (expenses). Anda tahu bahwa biaya tersebut terbagi lagi atas kos barang terjual (cost of goods sold) dan biaya operasi. Anda tahu susunan dan format perhitungan agar sampai pada angka laba bersih. Anda tahu semua PSAK terkait yang mendasari perlakuan atas tiap aspek dan hal terkait laba bersih.

Sayangnya, kebanyakan jargon merupakan bahasa asing terutama Bahasa Inggris. Hal ini wajar karena perkembangan ilmu banyak terjadi di dunia barat. Masalah bagi kita adalah kemunculan jargon-jargon ini begitu cepat sehingga tidak banyak diakomodasi dalam kamus Bahasa Indonesia yang autoritatif. Kita sendirilah yang harus menentukan bagaimana

Akuntan Muda Halaman 52 mengadaptasinya ke dalam Bahasa Indonesia, terutama bila kita sedang menulis paper.

Ada beberapa cara untuk mengadaptasi jargon ke dalam Bahasa Indonesia. Pertama, kita bisa tetap menggunakan versi bahasa aslinya. Hal ini juga saya lakukan dalam paragraf sebelumnya, misalnya pada kata revenues, cost of goods sold, dan expenses.

Cara macam ini terutama bermanfaat ketika belum ada padanan yang disepakati bersama dalam Bahasa Indonesia. Namun demikian, cara macam ini membawa kesulitan tersendiri ketika ada banyak jargon dalam tulisan kita. Paper kita akan banyak memuat italics (huruf bercetak miring). Selain itu, tata bahasa kita sedikit banyak akan menjadi kacau.Ini terjadi karena Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (versi yang banyak digunakan) memiliki struktur dan tata bahasa yang berbeda. Hal ini menyebabkan penggunaan versi aslinya kurang disukai dalam mengadaptasi jargon asing ke dalam Bahasa Indonesia.

Akuntan Muda Halaman 53 Cara kedua adalah dengan mencarikan padanan kata jargon di dalam Bahasa Indonesia. Misalnya financial statements menjadi laporan keuangan, download menjadi unduh, dan sebagainya. Cara ini merupakan cara yang ideal. Sayangnya tidak banyak padanan yang bisa kita temukan dengan cara seperti ini.

Kelemahan cara pertama dan kedua membawa kita ke cara ketiga yaitu menyerap kata. Ini merupakan cara yang termudah mengingat bahan dasarnya (i.e. kata yang hendak diserap) sudah tersedia untuk diadaptasi. Kita tinggal menentukan asas yang akan kita gunakan dalam menyerap jargon tersebut.

Ada 2 asas yang bisa kita pilih dalam menyerap kata, yaitu asas bunyi dan asas eja. Asas bunyi menggunakan pengucapan suatu kata asing sebagai dasar penyerapannya ke dalam Bahasa Indonesia. Asas ini cukup populer dalam dunia akuntansi. Misalnya kata 'manajemen' yang diambil dari Bahasa Inggris, 'management'. Huruf 'j' dalam kata 'manajemen' muncul karena huruf 'g' dalam kata' management' tidak diucapkan sebagai 'g' melainkan 'j'.

Sementara itu, asas eja menggunakan bentuk tulis kata asing itu sendiri sebagai dasar menyerap kata ditambah dengan panduan

Akuntan Muda Halaman 54 Pedoman Umum Pembentukan Istilah atau PUPI (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1988). Kata 'management' akan diserap menjadi 'managemen'. Huruf 't' dalam kata

'management' dihilangkan sesuai pedoman PUPI yaitu gugus konsonan akhir -nt berubah menjadi -n ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

Kedua asas ini timbul karena ada perbedaan antara tulisan suatu kata asing dan pengucapannya (pronounciation). Asas bunyi mendasarkan penyerapan suatu kata pada pengucapannya dalam bahasa asli. Sementara asas eja mendasarkan penyerapan suatu kata pada tulisannya dalam bahasa asli. Tabel di halaman berikutnya menunjukkan beberapa contoh perbedaan tulisan dan pengucapan beberapa kata Bahasa Inggris.

Lalu, asas apa yang sebaiknya kita gunakan? Banyak orang mungkin menyukai menggunakan asas bunyi karena telah terbiasa dengan bentuk serapan kata-kata tertentu. Namun demikin, dalam jangka panjang, asas eja lebih menguntungkan

Akuntan Muda Halaman 55 untuk digunakan. Hal ini karena asas eja menjamin hasil serapan tiap orang akan sama.

Accrual ɘ 'krü ɘl

Accumulation ɘ ˌkyü m(y)ɘ 'lā shɘn

Discretionary dis 'kre shɘ ˌner ē

Management 'ma nij mɘnt

Merger mɘr jɘr

Myopia mī 'ō pē ɘ

Proposition ˌprä pɘ 'zi shɘn

Relevance 're lɘ vɘn(t)s

Sumber: Merriam-Webster's Collegiate Dictionary, Eleventh Edition

Jaminan ini muncul karena (i) setiap orang memiliki landasan penyerapan yang sama dan (ii) setiap orang memiliki panduan yang sama ketika menyerap kata asing yaitu PUPI. Landasan penyerapan dalam asas eja adalah bentuk tulisan dari suatu kata asing dan bentuk tulisan ini akan selalu sama di tiap kamus yang

Akuntan Muda Halaman 56 dirujuk oleh orang yang hendak menyerap suatu kata. Misalnya kata equity, merger, proposition, Anda buka kamus apapun bentuk tulisnya akan selalu sama. Sementara itu, PUPI memberikan panduan yang rinci mengenai bagaimana seharusnya kita menyerap kata sehingga, bila diikuti dengan teliti, hasil serapan kita akan sama dengan hasil serapan siapa saja yang juga menggunakan PUPI. Tabel berikut menunjukkan beberapa panduan yang ada dalam PUPI.

di muka dan konsonan menjadi

skandium

Dalam dokumen Akuntan Muda April 2011. pdf (Halaman 34-57)

Dokumen terkait